Asyiknya Bermain Layang-layang


Waktu sore hari di setiap hari libur di akhir pekan adalah waktu paling berharga. Ini karena saat-saat seperti itu setiap harinya,  aku justru berkonstrasi penuh pada pekerjaan di kantor.

Nah, waktu berharga kali ini aku isi dengan bermain layang-layang. Permainan seperti itu sangat akrab denganku semasa kecil, tapi tidak untuk sebagian anak sekarang, termasuk anak-anakku.

Hari pertama Minggu (10/3), sang kakak yang badannya bongsor ikut menemani adiknya. Ternyata mereka berebutan. Biasalah sang adik menangis saat kakaknya ingin memainkan. Tugas saya adalah meminta mereka berbagi. Eh maksudnya bekerja sama menerbangkan layangan, yang bagi keduanya terbukti tidak gampang.

foto

Sang Kakak bercanda, menempelkan layang-layang di mukanya.

Kerjasama pun berhasil, asyik bukan.

Esok hari, Senin (11/3), usai pulang sekolah,dan saya masih libur, si bungsu kembali mengajak bermain layang-layang. Kali ini, sang kakak tak bisa ikut karena ada kesibukan bersama kawan-kawannya.

Lokasi pun dipindah, tak lagi di lahan terbuka yang hendak dijadikan perumahan, tapi di sport club, sekitar komplek perumahan tempat kami tinggal.

Ternyata hampir selama satu jam, angin tak cukup untuk menerbangkan layangan. Hanya karena aku telah terbiasa menerbangkan layang-layang, layangan kami bisa berada di atas langit berlama-lama.

Namun layangan itu tak tenang, terombang-ambing mencari angin. Hampir sejam itu pula aku mempertahankan posisi layang-layang dengan cara menyendat-nyendat hingga taruk ulur layangan. Si bungsu mencoba mengambil alih, namun setiap kali tali layangan ia pegang, saat itu pula layangan menurun dan aku kembali mengambil alih.

Ada dua orang bocah yang coba menerbangkan layangan. Mereka rupanya putus asa, pulang duluan. Tak lama setelah itu, mungkin menjelang pergantian dari siang hari menuju malam, angin mulai bertiup kencang. Layangan yang tadinya labil, kini stabil. Saya segera menyerahkan kendali pada si bungsu. Ia senang bukan main.

Hingga setengah jam si bungsu mengendalikan layangan. Saya beranjak meninggalkannya untuk mengamati dari kejauhan. Anak saya pun jadi pusat perhatian beberapa orang yang berkunjung ke lapangan terbuka di sport club itu.

Hanya karena menjelang Maghrib, saya terpaksa menghentikan keasyikan si bungsu dengan layang-layangnya. Ia tidak protes. Kami pun beranjak diikuti bocah-bocah lain, beberapa diantaranya disertai orangtuanya masing-masing.

Tampak wajah puas terpancar dari si bungsu. Hanya saja, untuk bisa mengajaknya bermain layang-layang lagi membutuhkan waktu seminggu. Itupun jika kami tak ada acara.

“Main layangan lagi masih lama ya Pah…” Si bungsu berucap dengan nada sedikit kecewa.

Tak mudah menerbangkan layangan tanpa angin ya dek.

2 Komentar

Filed under anak, Uncategorized

Commuterline di Malam Hari Raya Nyepi


20130313-003044.jpg

Di loket kereta Stasiun Tanah Abang, Selasa (12/3) malam, masih terpasang tulisan jadwal Commuterline (CL) pukul 21.10 jurusan Bogor. Padahal waktu menunjukkan pukul 21.15.
Ketika petugas loket ditanya apakah jadwal itu bener. Ia buru-buru melihat jam dan membalikkan jadwal baru Commuterline jadi 21.57, itu merupakan jadwal CL terakhir dari Stasiun Tanah Abang. Cara itu seolah-olah CL Bogor 21.10 sudah berangkat.
Saya sih tak terpengaruh karena masih ada kereta jurusan Depok pukul 21.25. Meski jadwalnya tak dipampang, saya yakin CL itu tak dibatalkan. Biasanya pembatalan CL terjadi karena cuaca buruk, seperti hujan deras di Bogor dan sekitarnya. Atau karena ada gangguan parah seperti rel patah, gangguan sinyal dan sebagainya.
Benar saja, CL Depok itu sudah menunggu di jalur 5, sedang jalur 6 CL jurusan Serpong. Nah, CL jurusan Bogor berada di seberang alias jalur 3. Untuk saling berpindah dari dua jalur pertama ke jalur tiga atau sebaliknya harus naik tangga melalui lobi stasiun.
Salah satu teman pulang yang rumahnya Bojonggede terpaksa harus menyebrang lagi ke jalur tiga karena ternyata kereta Bogor yang seharusnya berangkat pukul 21.10 tadi belum berangkat, alias kereta telat.
Ya,.. apa boleh buat, sang teman memilih langsung naik jurusan Bogor supaya tak menunggu lagi jika naik CL Depok. Seperti diketahui, setelah Stasiun Depok, masih ada tiga stasiun sebelum mencapai Bogor. Yakni stasiun Citayam, Bojonggede, dan Cilebut.
“Lebih baik terlambat daripada harus menunggu kereta terakhir,” katanya. Kami pun merelakan ia pindah kereta.
CL Depok akhirnya berangkat duluan tepat pukul 21.25, Cl Bogor yang seharusnya 21.10 melaju di belakangnya. Untunglah malam itu malam liburan Hari Raya Nyepi sehingga kedua Commuterline dalam kondisi longgar. Semua penumpang bisa duduk dengan nyaman. Pemandangan seperti itu sangat langka pada jam kantoran setiap harinya.
Hanya saja CL 1093 yang kami naiki ternyata mengeluarkan suara berisik, seperti ada bagian kereta yang hampir lepas.
Mau tahu suaranya: klontang…klontang…klontang.
Seperti naik mobil omprengan butut yang dipaksakan jalan. Untung AC-nya dingin…

2 Komentar

Filed under sketsa

Tuhan Memberi Saya Ipad dengan Cara yang Unik


Tulisan ini saya bikin karena masih ada pertanyaan via twitter tentang bagaimana rahasia saya mendapatkan hadiah Ipad dari @dennyJA-WORLD. @novie_DKLovers adalah nama terakhir yang menanyakan soal itu. Ia ingin tahu berapa kali saya promot sehingga bisa memperoleh Ipad 3.

Ini merupakan pertanyaan kelima setelah saya menerima hadiah gadget produksi Apple itu lebih dari enam bulan lalu. Tiga pertanyaan pertama terjadi sekitar satu bulan setelah saya menjadi satu dari tiga pemenang kategori yang saya ikuti. Satu bulan setelah itu saya kembali memperoleh pertanyaan serupa.

Baiklah. Saya ingin mengawali tulisan ini dari impian saya mempunyai Ipad. Saya katakan sebagai mimpi karena harganya terlampau mahal, selain sebenarnya barang itu bukan kebutuhan mendesak.

Adalah istri saya mengawali mimpi saya mempunyai Ipad. Ia membeli Ipad 3 64 gb setelah memperoleh uang dari kerja kerasnya mengerjakan sebuah proyek tahun lalu.

Sejak itu, Ipad menjadi daya tarik luar biasa dalam keseharian di rumah. Ipad membuat gadget lain, apalagi PC, seperti jauh tertinggal dalam kecanggihannya. Anak-anak saya apalagi, game gratisan yang bisa diunduh melalui Ipad membuat gadget tersebut seolah jadi tak pernah beristirahat untuk disentuh, terutama saat liburan.

Tapi bagi saya daya tarik utama adalah program instagram(share foto instan) yang menampilkan gambar-gambar yang kuat via Ipad. Sejak itu saya bercita-cita ingin memiliki Ipad, entah bagaimana caranya.

Sebenarnya banyak cara untuk memperoleh barang tersebut, antara lain dengan ikut perlombaan yang belakangan hadiahnya berupa Ipad. Ada juga yang membeli barang yang harganya lebih mahal, lalu hadiah tambahannya Ipad.

Cara apapun yang dilakukan, kesungguhan dan perhitungan rasional tetap diperlukan. Atas dasar itu, saya memilih menabung agar mimpi memperoleh Ipad terwujud.

Namun setelah dihitung-hitung, membutuhkan waktu lama bagi saya untuk bisa membeli Ipad. Selain itu, saya merasa sayang mengumpulkan uang hanya demi Ipad, sementara dua anak saya juga membutuhkan dana besar untuk sekolah, yang satu masuk SD, satu lagi masuk SMA.

Maka saya putuskan untuk menunda mimpi memperoleh Ipad dan beralih untuk membeli Samsung yang juga bisa digunakan untuk mengikuti Instagram via android. Bayangkan jika menuruti mimpi membeli Ipad seperti punya istri, saya harus punya uang Rp 8 juta atau sedikitnya Rp 5 juta-an (Ipad termurah), sedang Samsung cukup dengan Rp 2 juta, seperti yang dimiliki anak saya. Tak perlu menunggu lama.

Sambil mencari uang tambahan agar bisa membeli Samsung, iseng-iseng saya menjawab pertanyaan @dennyJA-WORLD yang mengimingi-imingi hadiah Ipad 3. Ketika itu, pertanyaannya apakah di Indonsia sudah bebas dari diskriminasi. Maka saya pun dua kali menjawab. Salah satunya “Indonesia Tanpa Diskriminasi” makin jauh dari asa karena lemahnya kepemimpinan nasional. (baca lengkap di sini: http://puisi-esai.com/2012/10/09/pemenang-lomba-komentar-indonesia-tanpa-diskriminasi/).

Saya tak punya pikiran bakal jadi pemenang ketika menjawab pertanyaan itu. Alasannya, selain terlalu gampang, saya terlanjur kurang percaya dengan model-model perlombaan, karena pada banyak kasus, masalah non teknis sering menjadi pertimbangan utama untuk bisa memenangkannya.

Satu lagi, meski sudah lama memiliki akun twitter, ketika menjawab pertanyaan dengan hastag #ITD itu saya baru aktif lagi ngetwit dua bulan dengan follower tak sampai 50-orang. Jadi lupakan Ipad 3 via @dennyJA-WORLD.

Namun suatu siang, ketika saya membuka twitter dan mengklik @connect (hubungan), di sana tertulis @wito_karyono keluar sebagai pemenang “Indonesia Tanpa Diskriminasi” dan berhak memperoleh Ipad 3. Saya tadinya tak percaya. Saya juga tak tahu jika hari itu adalah pengumuman lomba seperti yang sudah dijanjikan.

Saya mulai percaya ketika memperoleh DM dari @dennyJA-WORLD supaya mencantumkan alamat rumah atau datang sendiri mengambil hadiah. Karena lokasi saya di Bodetabek, pihak @dennyJA-WORLD menyarankan agar mengambil hadiah langsung ke kantornya di kawasan Cempaka Putih.

Setelah menghubungi @rezayunanto salah satu pejabat di LSI milik DennyJA, barulah saya percaya bahwa sebentar lagi saya akan mempunyai Ipad. Saya segera mengabari istri, ia ikut bergembira menerima kabar tersebut.

Lalu saya bertemu mas Reza yang menjelaskan bahwa jawaban saya terpilih sebagai pemenang karena dianggap tepat dengan misi @dennyJA-WORLD menuju Indonesia Tanpa Diskriminasi. Menurutnya, dari 10.000 jawaban dengan hastaq ITD, sebenarnya banyak jawaban yang bagus. Namun yang ia butuhkan adalah jawaban tepat, tidak ekstrem, juga tidak menggurui.

Saya termasuk satu dari tiga pemenang yang tinggal di kawasan Jabotabek. Bahkan pemenang-pemenang lomba jenis lain, seperti lomba avatar ITD, umumnya berasal dari luar Jabodetabek sehingga hadiahnya harus dikirim via paket kiriman.

Lokasi pemenang, termasuk latar belakang pemenang, yang beragam membuktikan bahwa pihak @dennyJA-WORLD mengabaikan masalah-masalah nonteknis dalam menentukan pemenang. Lomba ITD telah mematahkan bayangan saya tentang adanya panitia lomba yang tidak fair dalam menentukan pemenang.

Saya bersyukur akhirnya punya Ipad. Agaknya, Tuhan memberikan barang impian itu dengan cara unik.

Maka, jika Anda punya mimpi kejarlah. Jangan lupa berusaha keras dalam mengejar mimpi itu. Mungkin saja kerja kerasmu tak membuahkan hasil saat itu juga, tapi dengan cara yang lain.***

NB: Jika berkenan follow saya di @Wito_karyono, saya pasti membalasnya (follback). Jangan lupa follow juga @dennyJA-WORLD mungkin bermanfaat.

4 Komentar

Filed under sketsa

Balada Seorang Penimbun BBM


Barang bukti BBM yang ditimbun (Tribunnews)

Wawan tampak sibuk sepekan ini. Dengan jerigennya, ia bolak-balik ke SPBU membeli premium alias bensin. Namun hanya sebagian kecil yang dibawa ke kios bensin ecerannya untuk dijual lagi.

Warsini, Emaknya, sempat bingung. Ia ingin menanyakan dikemanakan bensin-bensin yang dibelinya itu, namun selalu lupa menyampaikan saat berjumpa sang anak.

Setiap kali sampai di rumah selalu terdengar siulan Wawan. Itu pertanda ia bersuka cita. Biasanya karena ia sedang memperoleh uang cukup banyak. Dugaan Warsini tak meleset. Dalam tiga hari ini, Wawan selalu menyodorkan uang Rp 20.000 kepadanya.

“Nih, buat tambahan belanja besok pagi, Mak. Ntar uang jajan Soleh dan Jejen biar Wawan yang ngasih.”

Warsini menerimanya dengan suka hati. Dalam sehari ia butuh uang sekitar Rp 20.000 untuk keperluan dapur di rumah. Uang sebanyak itu umumnya untuk membeli sayur mayur dan lauk pauk seadanya seperti telor, tempe, ikan asin, dan kerupuk. Untuk beras ia membelinya mingguan. Uang tambahan belanjaan dari Wawan tentu sangat membantunya.

Adapun uang belanja keseharian Warsini diperoleh dari pekerjaannya sebagai tukang cuci dan setrika di sebuah keluarga yang tinggal di komplek perumahan. Warsini tinggal di rumah kontrakan belakang komplek perumahan. Ia punya tiga anak dan si sulung Wawan tak lulus SMK. Anak itu sengaja minta berhenti untuk mencari nafkah demi membantu sang ibu dalam menyekolahkan dua adiknya.

Keseharian Wawan sebagai tukang ojek yang melayani warga perumahan. Namun pekerjaan ngojeknya otomatis berhenti tatkala ia memperoleh obyekan lain, yang penghasilannya lebih besar. Apakah memborong BBM termasuk obyekannya kali ini? Pertanyaan itu masih menggayut di kepala Warsini.

Andai suaminya belum meninggal dunia, Wawan pasti tak perlu berhenti sekolah. Ia tak perlu memikirkan biaya untuk adik-adiknya. Namun takdir berkata lain. Ayah Wawan yang bekerja di sebagai tukang bangunan meninggal dalam sebuah kecelakaan kerja.

Saat itu ia kerja lembur karena bangunan bertingkat atau tower yang dikerjakannya harus selesai bertepatan dengan hari ulang tahun sang pemiliknya. Karena dikerjakan terburu-buru, ada yang lalai dalam pengerjaannya hingga ayah Wawan terjatuh dari bangunan tower itu dan meninggal dunia.

Sayangnya, ayah Wawan memiliki bos yang kurang perhatian. Ia meninggal tanpa diberi santunan yang layak. Seseorang yang mengaku teman ayahnya Wawan sempat datang ke rumah dan mempengaruhi Warsini untuk menggugat bos pemilik tower yang juga seorang anggota partai.

Warsini menurutinya dengan menandatangani sejumlah pernyataan. Harapannya, ia memperoleh uang besar seperti yang dijanjikan teman ayah Wawan tadi. Ia memang butuh uang banyak setelah ditinggal suaminya.

Namun setelah semua berkas ditandatangani, Warsini tak pernah mendengar kelanjutan gugatan suaminya. Selentingan kabar terdengar bahwa orang yang mengaku kawan almarhum suaminya itu sudah kena sogok pihak perusahaan sehingga memilih melupakan Warsini dan keluarganya.

Warsini, apalagi Wawan, tak tahu harus berbuat apa. Nasib pilu orang kecil pun lewat begitu saja.

***

“Emak kenal nggak dengan Pak Djayusman yang rumahnya bertingkat di ujung komplek.”

“Nggak kenal tapi tahu. Jadi bapak itu yang nyuruh kamu memborong bensin.”

“Bukan Mak. Dia hanya ngajak ngobrol tentang rencana kenaikan harga BBM yang selisihnya hingga Rp 1.500. Dari tadinya Rp 4.500 per liter jadi Rp 6.000 per liter. Ia tahu kalau Wawan, selain ngojek, juga jualan bensin eceran.”

“Maksudnya?”

“Ya itu tadi. Pak Djayus bilang itu peluang bisnis. Kalau biasanya kita cuma untung Rp 500 per liter. Bila kita punya bensin banyak dengan harga sekarang, lalu dijual lagi April nanti saat sudah naik, untung kita bisa empat kali lipat dari sekarang, yakni Rp 1.500 plus Rp 500.”

“Trus Pak Djayus modali kamu untuk borong bensin?”

“Ah Emak, bawaannya nuduh melulu…”

“Trus gimana dong. Emang nggak ngerti cerita kamu…”

“Justru Pak Djayus bilang, biar untungnya gede, Wawan nggak boleh ikut-ikutan bisnis seperti itu karena melanggar hukum dan merugikan orang lain. Bila ketahuan bisa dipenjara.”

Kening Warsini kian berkerut. Ia tambah puyeng mendengarnya. “Ah, sudahlah cerita yang lain saja…”

“Denger dulu Mak. Ceritanya belum selesai…” Wawan memotong. Ia ingin melanjutkan cerita hingga emaknya mengerti.”

Warsini mengangguk. Ia paham cerita itu memang belum selesai. Warsini hanya tak sabar dan ingin cepat tahu siapa yang modali Wawan untuk memborong bensin.

“Begini Mak. Setelah ngobrol dengan Pak Djayus, secara tak sengaka Wawan bertemu Yadi “Gepeng”, yang dulu pernah ngojek sambil jadi polisi cepek di depan perumahan. Inget kan mak?”

“Ya..ya..inget..inget…Si Gepeng yang kawin dengan janda anak satu itu kan? Tapi terus ditinggal pergi bininya karena ketahuan selingkuh. Kemana dia sekarang ya?…” Warsini tampak bersemangat. Ia seolah tergingat sesuatu yang menggembirakan.

“Begitulah Mak. Wawan bertemu dia di SPBU waktu ngisi bensin. Keren dia sekarang Mak! Bajunya rapih, wangi, bawa mobil sedan lagi…”

“Wah, wah, terus bagaimana…” Warsini tak sabar.

“Begitulah, Mak. Karena dia tahu Wawan jual bensin eceran, dia ngajak ngobrol lama di restoran dekat SPBU. Katanya dia sekarang bisnis spare part sepeda motor. Sudah punya tiga toko tapi bukan atas nama dirinya. Bininya yang dulu tak pernah balik. Sekarang ia mengaku masih jomblo hahaha….”

“Hahaha, dia memang kemana-mana ngaku jomblo” Warsini ikut tertawa ngakak. Rasanya senang sekali mendengar kisah pilu orang lain. Hahaha…

Sebelum melanjutkan cerita, Wawan menyeruput kopi kesukaannya. Emaknya menanti dengan sabar. Cerita tentang Yadi Gepeng dianggap lebih menarik dibanding teka-teki siapa yang memodali anaknya memborong BBM. Meski ia yakin, kali ini keduanya pasti terkait.

“Nah, seperti juga Pak Djayus, Gepeng menceritakan peluang bisnis bensin saat harga nanti naik. Katanya, pada dua kali kenaikan harga BBM semasa pemerintahan SBY, ia bisa untung jutaan rupiah.”

Wawan melirik emaknya yang tengah menerawang. Otak Warsini memang tengah menebak-nebak arah cerita anaknya. Sebenarnya ia mulai menangkap arah cerita Wawan, namun tak berani menebak. Ia takut salah seperti dugaan terhadap Pak Djayus sebelumnya.

“Kalau Emak tadi menebak bahwa Gepenglah yang memodali Wawan memborong bensin, pasti Emak bener. Sudah seminggu ini Wawan dimodali membeli bensin dan ditimbun di sebuah gudang yang disewa Gepeng. Setiap liter bensin, Wawan diberi upah Rp 500. Kalau dihitung-hitung Wawan sudah borong bensin 1.000 literan mah ada. Lumayan kan Mak?”

Warsini mengangguk. Tapi kali ini cuma basa-basi. Justru setelah cerita Wawan selesai, dan ketebak siapa pemodal yang membiayai anaknya, Warsini tak tahu harus berkomentar apa.

Ia ingin mengingatkan anaknya bahwa itu tengah terlibat persekongkolan jahat, menimbun BBM. Tapi ia merasa sudah kecipratan untung.

“Lagipula orang yang korupsi besar-besaran saja dibiarin, masa orang kecil nggak boleh punya kesempatan,” pikir Warsini.

Namun sejak itu, hati Warsini menjadi waswas. Uang pemberian Wawan pun tak lagi ia belanjakan dan disimpan. Siapa tahu ada orang yang kembali meminta uang itu.

***

Sejak itu, Warsini menutup mulutnya rapat-rapat jika ditanya tetangga tentang kegiatan Wawan. Apalagi kini Warsini lebih sering menunggu kios bensin eceran milik anaknya. Soleh dan Jejen, kadang-kadang ikut membantunya.

Suatu hari, Wawan tidak pulang. Warsini resah. Ia tanya ke sana kemari, meski tetap menyimpan rahasia tentang kegiatan anaknya belakangan ini. Seperti dugaannya, ternyata Wawan mendekam di kantor polisi justru karena kegiatan yang ia rahasiakannya.

Ya, Wawan menjadi tersangka penimbunan BBM yang kini tengah menjadi sorotan pemerintah karena banyak pihak yang menolak kebijakan itu.

Yang paling ditakutkan masyarakat adalah dampak dari kenaikan harga BBM, dimana harga-harga akan ikut meroket. Termasuk bakal munculnya spekulasi penimbunan BBM. Masyarakat miskin akan bertembah melarat. Mengapa harus kenaikan BBM? Tak adakah kebijakan lain yang tak menyengsarakan rakyat banyak?

Pemerintah selalu beralasan subsidi BBM menjadi penyebabnya. Tahun ini subsidi BBM itu mencapai Rp 275,15 triliun atau melonjak 30,8 persen dari alokasi sebelumnya, sebesar 208,85 triliun di APBN 2012. Pemerintah juga selalu bilang harga BBM di Indonesia paling murah dibanding dengan harga BBM di negeri tetangga.

Warsini dan rakyat kebanyakan tentu saja tak paham dengan alasan seperti itu. Mereka hanya tahu bahwa hidup di zaman Presiden Suharto lebih enak dibanding zaman Presiden SBY. Saat itu harga-harga murah. Usaha juga gampang dibanding sekarang. Kenapa pemerintahan sekarang tak mau belajar dari kekurangan pemerintahan sebelumnya?

Setelah menunggu, Warsini akhirnya diperkenankan bertemu dengan Wawan. Mereka berpelukan. Wawan terpaksa menenangkan emaknya yang menangis. “Tenang mak, tenang…jangan menangis.”

Menurut Wawan, ia dianggap terlibat melakukan kejahatan penimbunan BBM. Polisi sudah mengamankan ribuan tong BBM dari gudang milik Gepeng sebagai barang bukti. Masalahnya, polisi kini kesulitan menangkap Gepeng yang dianggap sebagai otak penimbunan BBM.

Sebelum pulang, Warsini kembali menangis. Padahal Wawan sudah berbisik bahwa Gepeng pasti akan membebaskannya. Gepeng bilang ia sudah berpengalaman membebaskan kaki tangannya karena sudah kenal dengan komandan para polisi itu.

“Nanti kalau berita soal BBM sudah reda, pasti Wawan akan dibebaskan,” bisiknya.

Warsini tetap menangis karena ia tak paham dengan apa yang dikatakan anaknya. “Orang bersalah ya ditangkap dan dipenjara. Wawan sudah bersalah karena mengambil untung dari bagian yang bukan haknya. Lalu mengapa bisa dibebaskan?”

Sebelum pulang Warsini menitipkan amplop pada Wawan. Ia sempat bertanya apa isinya. Warsini hanya bilang bahwa isi amplop itu siapa tahu bisa membantu membebaskan Wawan dari penjara.

Wawan membuka amplop ketika emaknya sudah pergi. Seperti dugaan sebelumnya, amplop itu berisi uang sekian ratus ribu, sama dengan jumlah uang pemberian Wawan dari bisnis penimbunan BBM. Dalam amplop itu disertakan pula sebuah kertas bertuliskan:

Berikan uang ini kepada polisi. Katakan pada mereka bahwa kita tak memakan uang hasil kejahatan itu. Mudah-mudahan polisi mengerti dan kamu dibebaskan…

2 Komentar

Filed under cerpen

Ironi Kenaikan Tarif Commuter Line


KRL anjlok, pasca kenaikan tarif commuter line (tribunnews)

Musibah beruntun menyertai kenaikan tarif KRL Commuter Line (CL) sejak Senin (1/10) hingga Jumat (11/10) hari ini. Kicauan penumpang CL via @KRLmania menduga musibah itu terkait kebijakan kenaikan tarif CL yang tak diridhoi penumpang, bahkan Sang Maha Pencipta.

Memang, terlalu mengada-ada membawa nama Allah hanya dalam urusan kenaikan tarif KRL.  Namun musibah beruntun justru sejak kenaikan tarif CL seperti sebuah peringatan kepada pihak pengelola yakni PT KAI Commuterline  Jabodetabek  (PT KCJ) bahwa ada yang salah dalam layanan mereka terhadap konsumennya.
Soal kebijakan kenaikan tarif CL yang tak dibarengi dengan peningkatan pelayanan, misalnya, bukankah itu kebijakan yang tak mendidik? Kebijakan yang menempatkan KCJ berada jauh lebih tinggi dari konsumen yang dilayaninya.

Angka kenaikan tarif CL sebesar rata-rata Rp 2.000 atau sekitar 33 persen dari tarif awal bukanlah jumlah yang kecil. Kenaikan itu mestinya dibarengi dengan peningkatan kenyamanan penumpangnya.
Faktanya CL selalu penuh sesak, AC tak berfungsi, gangguan sinyal masih terjadi, kereta mogok terulang lagi, belum lagi ketidakjujuran  petugas loket di sejumlah stasiun yang memberikan uang kembalian kepada penumpang tidak sesuai dengan jumlah seharusnya. Korban biasanya penumpang yang terburu-buru atau penumpang yang jarang menggunakan fasilitas KRL.

Adapun musibah beruntun sejak kenaikat tarif CL dimulai dengan kejadian luar biasa berupa kereta anjlok saat memasuki Stasin Cilebut, Bogor, pada 4 Oktober lalu. Kejadian serupa terjadi dua tahun lalu, Kamis 6 Mei, 2010.
Humas PT KAI Daerah Operasi I Jabodetabek Mateta Rijalulhaq menyebut bahwa penyebab kereta anjlok di Cilebut adalah karena rel gompal, yakni rel retak di sekitar sambungan.

Ia membantah bahwa musibah itu karena PT KAI tak melakukan perawatan. Alasannya, karena beberapa KRL di depannya melintas lancar-lancar saja. Beruntung tak ada korban jiwa, meski gangguan perjalanan akibat kereta anjlok terasa hingga dua hari lebih.

Yang pasti, setelah musibah kereta anjlok di Cilebut, gangguan sinyal dan kereta mogok terjadi beruntun (lihat tabel). Lalu kereta anjlok juga terjadi di Stasiun Sudimara sehingga menganggu perjalanan penumpang KRL Jalur Jakarta-Serpong.
“Kayaknya dari kemarin banyak ganguan ya. Mungkin banyak yg gak rido tarif naik tuh @CommuterLine. Harusnya syukuran dulu sama penumpang sebelum tarif naik.” Demikian kicau Monika Kristyana, penumpang CL via @KRLmania.

Kenaikan tarif CL sendiri telah menimbulkan masalah baru bagi penumpang kereta ekonomi dan penumpang jarak pendek. Mereka terpaksa beralih kereta dan membuat KRL ekonomi makin tidak nyaman.
Karena penuh sesak penumpang jarak pendek/ekonomi memaksakan diri naik ke CL dan giliran penumpang CL yang tak nyaman. Bahkan pada saat-saat tertentu, para penumpang KRL ekonomi memenuhi CL dengan memaksa membuka jendela dan pintu seperti KRL ekonomi. Dimana kenyamanan naik CL dengan tarif yang sudah dinaikkan?
CL berAC Panas
Dari berbagai keluhan pengguna CL, keluhan AC tak berfungsi adalah keluhan paling banyak. Keluhan itu kian bikin sesak karena tak berkurang meski tarif sudah dinaikkan.
Sejumlah pelanggan CL umumnya sudah tahu jenis kereta yang AC-nya mati. Untuk kereta Tanah-Abang-Bogor yang kerap saya naiki, kereta ber AC panas itu biasanya adalah kereta bergaris warna hijau. Namun, penumpang sering tak punya pilihan karena kereta berikutnya masih jauh, bahkan belum jelas posisinya.

Akibatnya bisa dibayangkan, naik CL tanpa AC jauh lebih menyiksa dibanding kereta api ekonomi. Apalagi dengan kondisi penumpang penuh sesak dan kereta terpaksa berhenti di tengah jalan yang jauh dari stasiun karena ada masalah.

Dalam kondisi seperti itu sejumlah penumpang membuka jendela secara paksa. Namun itu saja tak cukup karena tak semua jendela CL bisa dibuka dengan mudah. Sirkulasi udara tak lancar, kereta berubah jadi panas dan pengab.  Dengan demikian bisa dipahami jika muncul berita penumpang CL pingsan dalam kondisi itu.
Maka langkah prioritas yang harus dilakukan PT KCJ adalah memperbaiki AC rusak pada setiap CL. Langkah ini harus dilakukan ada atau tidak kenaikan tarif.  Jika AC-nya tidak bisa diperbaiki ya kereta jangan dioperasikan. Jika AC tak bisa memperbaiki dengan alasan kereta impor ya impor pula ahlinya.

Jika masalah CL berAC panas saja tak bisa dicarikan solusinya, maka jangan salahkan  konsumen yang meragukan bahwa PT KCJ sedang berusaha meningkatkan pelayanan lainnya. Sebaliknya badai keluhan akan terus datang bergelombang.

Dan itu akan menjadi kenyataan ironis dibandingkan target PT KCJ yang ingin mencapai zore complaint seperti dilansir pada situsnya hari ini.

Lalu apa enaknya mengelola perusahaan yang selalu dimaki penumpangnya?
“Perbaikan layanan KRL memang tidak bisa secepat membalikan telapak tangan. Tapi 12 hari berturut-turut gangguan KRL sudah jadi bukti janji- janji operator CL hanya manis di bibir” Demikian Admin @KRLmania dalam salah satu tweetnya.

DAFTAR MUSIBAH BERUNTUN COMMUTER LINE
12 OKTOBER: CL Mogok sebelum Stasiun Manggarai
11 OKTOBER: KRD  anjlok di Sudimara, jalur Jkt-Serpong terganggu.
10 OKTOBER: KRL ekonomi terakhir Jakarta-Bogor mogok
10 OKTOBER: KRL mogok di Depok Lama, penumpang dipindah
9 OKTOBER: Gangguan sinyal  Stasiun Pasar Minggu-Manggarai
9 OKTOBER: Stasiun Cilebut-Bojonggede Longsor, kecepatan dikurangi
9 OKTOBER: Gangguan sinyal Bogor-Cilebut
4 OKTOBER: CL Anjlok perjalanan terganggu 2 hari.

Tinggalkan Sebuah Komentar

Filed under sketsa

PSK Galau di Bulan Penuh Rahmat (21)


Ringkasan Sebelumnya: Jaka akhirnya menemukan Ramon dan Arni di kapal pesiar itu melalui anak buah kapal yang sudah disuapnya. Ternyata aksi suap menyuapnya tak terlalu mempan. Sebaliknya Jaka terperangkap dalam skenario yang dimainkan Jarot. Selengkapnya…

 

Sebelum tiba di Marina Bay, Singapura, Ramon, Arni dan kakaknya Jarot minta diturunkan di sekitar Batam. Mereka lalu diantar dengan motor boat ke Palabuhan Sekupang.

Kapten kapal telah mengizinkan Jarot mudik ke rumah orangtuanya. Ia tahu persis selama ini kesempatan itu tak pernah diambil Jarot. Ia sempat heran ada orang Indonesia punya semangat kerja sedemikian hebat seperti wakilnya itu.

Meski demikian, kapal pesiar akan singgah lama di Marina Bay, menunggu kembalinya Jarot.

Dari pelabuhan Sekupang, mereka meluncur menuju bandara Hang Nadim. Di bandara itu semua tiket pesawat ke kota-kota di Jawa ternyata sudah ludes. Musim mudik Lebaran menyebabkan banyak orang berpergian, termasuk menggunakan pesawat terbang.

Namun tak lama kemudian seseorang menghampiri dengan menawarkan tiket pesawat tujuan Jakarta, termasuk Surabaya. Tentu saja harganya jauh lebih mahal dibanding harga resmi. Ramon segera menyanggupinya. Setelah memperoleh tiket dari si calo, Ramon minta izin mengambil uang di ATM untuk jaga-jaga.

Dari Batam mereka memilih terbang ke Surabaya. Ramon ingin menunjukkan apartemen tempat tinggalnya kepada Jarot dan Arni. Ramon hendak menunjukkan bahwa secara materi ia siap menghidupi Arni sampai akhir hayatnya.

Jarot dan Arni setuju. Penerbangan ke Surabaya merupakan penerbangan terdekat menuju kampung halamannya di Ngawi, Jawa Timur. Lebih dari itu, mereka memang ingin tahu dari dekat keseharian Ramon selama ini.

Apartemen yang ditinggali Ramon cukup mewah. Berlokasi di pusat kota Surabaya, isi apartemen itu cukup lengkap. Hanya saja penataannya agak berantakan. Ingin sekali Arni segera menatanya dan membayangkan apartemen yang juga akan menjadi miliknya itu menjadi rapih.

Namun Arni segera menepis bayangannya. Ia belum bisa menghapus kekhawatiran akan kemunculan Jaka dan membuatnya kembali menjadi orang buruan. Ia masih khawatir Jaka selamat dari sekoci yang ditumpanginya di Perairan Sumatera.

Setelah buka puasa bersama dan ngobrol seperlunya, mereka sepakat meluncur ke Ngawi mengendarai mobil BMW merah milik Ramon. Setelah dicek kondisi mobil, lalu dipanasi mesinnya, mereka bertiga menembus malam menuju kampung halaman Arni.

Di sebuah mal terdekat, di pinggiran Surabaya, mereka mampir untuk belanja pakaian muslim dan kelengkapan shalat. Ini karena besok paginya mereka akan menjalani shalat ied. Gema takbir sudah terdengar sepanjang perjalanan.

Di tengah kepadatan pengunjung, Arni dan Jarot berkesempatan membelikan oleh-oleh buat orangtua dan Raihan, anaknya. Ramon yang teringat Ustadz Mahfudz segera melakukan aksi serupa seperti Jarot dan Arni. Ia bahkan membelikan seperangkat alat shalat untuk istri dan para santri di tempat pengajian guru agamanya.

Bagasi mobil yang tadinya kosong langsung penuh, termasuk bangku belakang, yang tinggal menyisakan satu tempat kosong untuk Arni.

***

Ustadz Mahfudz dan istri terkejut menyaksikan Ramon berada di depan rumahnya. Kehadiran Ramon seperti mengulangi kehadiran sebelumnya yang datang malam-malam.

Bedanya, kala itu, ia sendirian. Kini bersama dua orang kawan dan sejumlah paket oleh-oleh. Suasana haru tak terhindarkan. Ramon memperkenalkan Jarot sebagai calon kakak iparnya kepada Ustadz Mahfudz. Arni yang sudah dikenal sang Ustadz mendengarnya dengan takzim.

Karena tak punya waktu lama, Ramon pamit seraya mengundang Ustadz Mahfudz untuk hadir pada acara pernikahan yang tanggalnya akan diberitahukan kemudian. Ustadz Mahfudz sempat bertanya tentang status Arni yang sudah cerai atau belum dengan suaminya. Ramon jadi ingat Jarpul. Namun bayangan akan nasib pria itu gelap.

Mereka bertiga kemudian pamit. Ustadz Mahfudz berjanji akan datang ke pernikahan Ramon dan Arni. Mobil BMW kembali melesat, namun kemudian merambat dalam antrean arus mudik Lebaran.

Sampai kampung halaman Jarot dan Arni di Ngawi tengah malam. Suasana sudah senyap. Sebagian besar penduduknya sudah terlelap. Tinggal suara takbir yang tetap terdengar nyaring.

Suara itu begitu khas karena datangnya dua kali setahun. Yakni hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya idul Adha. Terlebih bagi Jarot. Ada kerinduan begitu dalam mendengar suara yang diakrabi semasa kecil itu. Sudah lama ia tak mendengarnya setelah sekian tahun selalu berada di atas perairan.

Orangtua Jarot menangis seraya memeluk Jarot yang hampir tak dikenalinya. Jarot yang gagah berani selama berada di atas kapal, tak kuasa menahan air mata. Ia bersujud di kaki bapak ibunya untuk meminta maaf.

Arni ikut menangis. Ramon berusaha tegar meski hatinya juga ingin menangis menahan keharuan di depan matanya.

Setelah melepas rindu, bapak dan ibu Jarot menyuruh anak-anak dan calon menantunya istirahat. Mereka harus menunaikan shalat ied di masjid desa keesokan paginya.

Karena lelah, ketiganya langsung tertidur. Namun baru beberapa jam tertidur, Ramon dibangunkan oleh suara telepon yang ternyata dari Jamila. Ramon terkejut dan segera minta maaf karena hampir melupakannya.

Ia segera memberi tahu posisinya sekaligus soal nasib Jaka.Suami Jaka sekarang sedang berada di tengah laut dengan sebuah sekoci. Menurut prediksi Jarot, calon kakak iparnya, Jaka tak mungkin selamat sampai daratan.

Jamila sempat kaget dengan informasi itu, namun segera bisa mengendalikan diri. Ia tampaknya lebih baik hidup tanpa Jaka daripada sebaliknya.

Tak lupa, Ramon juga memberitahukan rencana pernikahan dengan Arni. Jamila ikut bergembira mendengarnya. Hanya saja ia menyatakan tak bisa datang karena harus mempersiapkan diri menghadapi berbagai pertanyaan seputar Jaka. Terutama dari jaringan bisnis, termasuk kepolisian setempat.

“Maaf ya nggak bisa datang, padahal aku juga pengen nikah lagi loh, hahaha…” Jamila mengakhiri pembicaraan sambil tertawa. Ramon menganggapnya bercanda. (Bersambung)

Tinggalkan Sebuah Komentar

Filed under novel

PSK Galau di Bulan Penuh Rahmat (19)


Ringkasan sebelumnya: Jaka terkecoh. Kapal pesiar beranjak dari Kepulauan Seribu ke Marina May, Singapura, tanpa ia mengetahui apakah Ramon dan Arni ada di kapal itu atau tidak. Selengkapnya…

 

Jaka yakin Ramon dan Arni sudah berada di dalam kapal pesiar yang mereka tumpangi. Tapi lewat pintu mana, ia benar-benar tidak paham. Nalurinya berkata ada orang kuat di atas kapal yang tengah melindungi buruannya.

“Pasti ada orang penting yang melindungi si Ramon itu. Tapi apa kepentingannya? Apa pula hubungannya?” gumam Jaka. Gofar yang mendengar gumaman itu mengangguk-angguk.

Gofar ikut berpikir keras tentang misteri yang dipikirkan bosnya. Namun ia tak menemukan jawaban masuk akal. Betapa tidak, kapal pesiar itu hanya ditumpangi orang-orang khusus dengan tujuan tertentu. Ramon dan Arni jauh dari kategori itu.

Gofar jadi membandingkan dengan diri sendiri yang juga tak termasuk dalam kategori khusus tersebut. Ia baru pertama masuk kapal pesiar mewah. Jaka mengajaknya karena ia membutuhkan perlindungan dan orang kepercayaan yang bisa disuruh-suruh . Sekarang apa yang bisa ia lakukan untuk Jaka?

“Sekarang kita cari tahu dimana Ramon dan Arni bersembunyi. Kamu ajak ngobrol semua pegawai kapal. Bila perlu pakai ini?” Ramon menugasi Gofar seraya mengerakan ibu jari dan jari lainnya, isyarat menggunakan uang untuk menyuap.

“Siap bos, tapi…”

“Tapi apa?”

“Aku kan nggak iso bahasa Inggris, bos,” jawab Gofar tersipu.

“Yang sudah, kamu cari yang mukanya orang Jawa. Yang lain urusanku.”

“Siap bos.” Gofar hanya bisa bilang itu.

Ia tak mungkin mengatakan tidak berani, apalagi tidak mau meski sebenarnya ia minder berada di kapal itu. Ia melihat dan mendengar sendiri, semua pegawai kapal bercakap menggunakan bahasa Inggris atau bahasa asing yang tak ia mengerti.

“Duh Gusti, lebih baik disuruh membunuh 100 orang daripada harus berbicara pakai bahasa Inggris.”

Ramon dan Jaka menyebar. Mereka mulai kasak-kusuk. Jaka cukup lancar ngobrol dengan banyak orang di kapal itu. Sebaliknya Gofar tampak tersiksa. Ia terpaksa menggunakan bahasa isyarat, bahasa tarzan, dan ia malu sekali karena merasa sedang ditertawakan setiap memperagakan maksudnya.

Ingin rasanya Gofar mengakhiri tugas maha berat itu.

***

Ramon dan Arni kini benar-benar berada di lokasi aman. Jarot menempatkan keduanya di sebuah ruangan yang tak mungkin terjangkau para penumpang di kapal pesiar itu.

Sebaliknya ia bisa mengawasi Jaka dan Gofar baik melalui layar CCTV yang dipasang di tempat-tempat tertentu, atau melalui anak buahnya yang tersebar di segala penjuru kapal.

“Pak, salah satu penumpang yang kita awasi mengamuk. Dia sempat memukul salah satu teman kita.” Jarot menerima laporan anak buahnya alat komunikasi khusus antar awak kapal.

“Memang apa sebabnya?,” tanya Jarot.

“Kurang tahu persis, Pak. Dia selalu mengajak ngobrol pakai bahasa isyarat. Kayak orang bisu, padahal tidak.”

“Kok bisa?”

“Kurang tahu persis, Pak. Justru saat kami tanya maksudnya dia malah marah dan memukul teman kita.”

“Lalu apa reaksi teman kita.”

“Tidak membalas, Pak. Teman kita mengira sedang menghadapi orang stres. Orang stres kok bisa masuk ke kapal ini ya pak? Maaf kalau saya sok ingin tahu….”

“Nggak masalah. Ya sudah, terus awasi gerak-geriknya. Jika bikin onar lagi lumpuhkan saja.”

Jarot memperkirakan orang yang dikira stres itu adalah Gofar. Saat pertama kali melihatnya, pria berbadan besar dan berwajah sangar tak menunjukkan kelainan. Hanya saja, Jarot mengakui bahwa pria itu terlihat nervous. Ia seperti seorang yang tersesat di sebuah tempat yang tak pernah ia kunjungi.

Jarot menduga pendidikan Gofar tak setinggi Jaka. Masalahnya tak ada larangan orang berpendidikan rendah masuk kapal pesiar itu asal semua syarat terpenuhi.

Tak lama kemudian, anak buah Jarot lainnya menyampaikan lagi via alat komunikasi khusus.

“Ya, ada perkembangan apa?”

“Siap Pak. Ini, orang yang kita awasi mau menyogok saya asal mau ngasih tahu persembuyian adik Bapak?”

“Terus kamu mau?”

“Ya tidak Pak?”

“Bagus!”

“Emang dia mau ngasih uang kamu berapa?”

“Rp 200 juta, Pak”

“Kamu nggak tertarik? Kan lumayan tuh..”

“Sumpah tidak tertarik, Pak. Saya tak mau ambil risiko.”

“Hahaha…bagus”

“Siap, Pak”

“Sekarang kamu datangi lagi orang itu. Kamu bilang minta Rp 500 juta untuk informasi yang ia butuhkan.”

“Tapi, Pak”

“Biar meyakinkan, jika ia mau, uangnya jangan kamu terima dulu. Tegaskan uang akan kamu terima setelah informasi yang kamu sampaikan terbukti.”

“Tapi, Pak”

“Ini perintah”

“Siaapp, Paakk!”

Tinggalkan Sebuah Komentar

Filed under novel

PSK Galau di Bulan Penuh Rahmat (18)


Ringkasan sebelumnya: Bruno, sopir yang mengantar Ramon dan Arni, tertangkap orang-orang suruhan Jaka. Ia pun akhirnya bercerita kemana kedua penumpangnya pergi setelah mengalami siksaan. Selengkapnya…

 

Namanya perburuan biasanya orang yang diburu makin menjauhi orang yang memburunya. Ini sebaliknya, buruan itu secara tak terduga malah menghampiri orang yang memburunya.

Begitulah, Ramon dan Arni kini sedang menuju kapal pesiar yang juga ditumpangi Jaka dan Gofar. Kedua manusia berbeda jenis kelamin itu bukan hendak menyerahkan diri, mereka justru hendak bersembunyi karena di kapal pesiar ada, Jarot, kakak Arni.

Jaka dan Gofar tentu saja tak bisa langsung gembira. Kapal pesiar mewah tersebut bukan wilayah kekuasaannya. Status Jaka di kapal itu sama seperti penumpang pada umumnya. Ia tak punya keistimewaan seperti selama ini dinikmati di daratan, di Surabaya dan Jakarta.

Adapun kehadiran Jaka dan Gofar di kapal itu karena undangan salah seorang pejabat penting di Jakarta. Pejabat tersebut meminta Jaka datang untuk menindaklanjuti rencana pendirian sebuah tempat hiburan malam paling mewah di ibukota.

Jaka ikut berperan atas karier pejabat tersebut. “Persahabatan” mereka sudah berlangsung lama saat sang pejabat berkarier di Surabaya. Karenanya, sang pejabat ingin melanjutkan persahabatan dalam sebuah bisnis tempat hiburan malam. Jaringan wanita malam yang dimiliki Jaka berpeluang untuk membesarkan bisnis itu.

Masalahnya, selain dengan Jaka, sang pejabat itu juga punya kongsi bisnis dengan seorang pengusaha Singapura. Jaka sudah mendengar nama besar pengusaha itu. Karenannya ia tak menyia-nyiakan kesempatan bertemu dengan si pengusaha di kapal pesiar yang akan berkunjung ke negeri Singa itu.

Ternyata selain kongsi bisnis, Jaka memperoleh pekerjaan tambahan baru. Pekerjaan itu adalah menangkap Ramon dan calon bininya. Jika itu terjadi di daratan, pasti mereka tak akan pusing karena punya banyak orang yang bisa diperintahkan menangkapnya.

Tapi ini di kapal milik orang asing. Keduanya harus berpikir keras bagaimana buruannya tetap bisa diamankan hingga dua tujuan di kapal pesiar itu tercapai semuanya.

***

Kapal pesiar itu seperti sebuah hotel bintang berjalan. Bukan hanya fasilitasnya lengkap, namun keamanannya sangat terjamin.

Selain memiliki kamar-kamar mewah, kapal itu juga dilengkapi kolam renang, tempat sauna, tempat karaoke, gym, lapangan golf mini, hingga kasino. Fasilitas terakhir itu ternyata banyak diminati orang-orang Asia, termasuk Indonesia.

 

Para penumpang kapal pesiar tersebut dipastikan dari kalangan berduit, karena tarifnya tidak murah. Mereka orang-orang eklusif. Biasanya dari kalangan pengusaha, pejabat yang sedang berkuasa, anaknya pejabat dan pengusaha sukses, atau mantan pejabat yang sudah kaya raya.

Sebelum masuk ke kapal, semua penumpang diperiksa. Tak dilarang membawa senjata api, namun selama di kapal pesiar, senjata itu harus dititipkan. Demikian halnya dengan senjata api milik Jaka dan Gofar.

Kapal itu dipimpin seorang kapten kapal asal Amerika Serikat. Sang kapten memiliki banyak deputi yang membawahi sejumlah area yang biasa dilewati. Jarot adalah salah satu deputi untuk wilayah Asia Tenggara. Dialah satu-satunya orang Asia Tenggara yang berhasil mencapai jabatan tertinggi di sebuah kapal pesiar.

Jalan panjang telah ditempuh Jarot untuk mencapai jabatan itu. Ia memulai dari bawah sebagai anak buah kapal yang bertugas semacam cleaning service. Namun keseriuan bekerja dan kejujuran membuat kehadirannya makin dipercaya.

Jarot juga orang yang mau belajar. Kemampuan menguasai sejumlah bahasa membuat pangkatnya terus meroket.

Banyak kawan-kawan seangkatannya iri sekaligus kagum. Mereka iri karena Jarot semakin dipercaya atasannya, namun sekaligus juga kagum karena ia merupakan sosok pekerja tak kenal lelah.

Jarot rela tak pernah pulang selama beberapa kali Lebaran karena harus terus berlayar dari satu negara ke negara lainnya. Ia tak mengeluh rumah tangganya berantakan karena terlalu mementingkan pekerjaan.

Setelah menjadi atasan, banyak anak buah kian mengangguminya. Ia merupakan sosok atasan yang paling respek dengan nasib anak buahnya. Mungkin karena Jarot memulai karier dari bawah sehingga selalu punya empati pada orang-orang di bawahnya.

Jarot mengangkat telepon dari Yati, adiknya.

“Mas, Jaka ternyata ada di kapal pesiar tempat mas Jarot kerja. Jadi gimana nih, Mas?”

“Ah, yang bener kamu Yat.”

“Bener mas. Aku juga gak nyangka. Mas Jarot ngomong saja sama Mas Ramon ya?” Yati lalu memberikan handphonenya ke Ramon.

“Maaf Mas. Ganggu terus….” Ramon buru-buru mengawali pembicaraan dengan calon kakak iparnya itu.

“Kamu yakin orang jahat yang memburu kalian ada di sini.”

“Bener mas. Informasinya A1.” Ramon serius seraya menjelaskan darimana informasi itu. Yakni, dari Jamila, istri Jaka yang disia-siakan,

“Nama lengkapnya siapa? Nanti saya periksa,” tanya Jaka seraya meluncur ke ruang data yang tak jauh dari ruang kerjanya.

“Nama aslinya Sujoko, namun biasa dipanggil Jaka. Kelahiran Surabaya. Satunya lagi Gofar, anak buah Jaka.”

Percakapan terhenti sejenak karena Jarot sedang mengetik nama itu di ruang data. Hap, nama itu benar-benar muncul.

“Wah bener mereka ada di sini. Mereka akan ikut ke Marina Bay. Dari sana mungkin kembali ke Jakarta atau Surabaya menggunakan pesawat.” Jarot menelepon kembali Ramon, membenarkan temuannya.

***

Kini Jarot harus berpikir keras, bagaimana agar adiknya bisa sampai ke kapal bukan hanya dengan selamat, tapi tak diketahui Jaka. Ia juga berpikir bagaimana akan memperlakukan kedua orang yang akan melukai adiknya itu. Mereka juga penumpang yang harus ia dilindungi.

Jarot lalu menelepon anak buahnya yang sedang membawa motor boat yang ditumpangi Ramon dan Arni . Ia memberikan sejumlah petunjuk yang langsung dijawab dengan siap oleh sang anak buah tersebut.

Kapal motor yang ditumpangi Ramon dan Arni berbelok kearah pulau, tak jadi menuju ke kapal pesiar yang sudah terlihat dari kejauhan. Ramon dan Arni pasrah. Mereka yakin pilihan itu adalah pilihan terbaik demi keselamatannya.

Jarot memprediksi, Jaka dan Gofar sedang mengawasi penumpang yang keluar masuk ke kapal itu. Dengan demikian jika Ramon dan Arni datang menggunakan pintu biasa, kehadirannya di kapal itu akan diketahui.

Sebagai sosok yang telah menguasai seluk beluk kapal sekaligus menguasai trik-trik mengecoh pembuat onar di kapal, tak terlalu sulit bagi Jarot untuk mengamankan kehadiran adiknya di kapal itu.

Ramon dan Arni di tempatkan di sebuah cottage di pulau itu untuk sementara. Saat kapal akan meninggalkan pulau, Jarot membuat upacara dadakan. Tentu saja setelah ia melapor kepada kapten kapal tentang maksud dan tujuan diadakannya upacara itu.

Sejumlah petugas kapal dan cottage di pulau itu dikerahkan. Sebagian penumpang kapal, apalagi Jaka dan Gofar diperkirakan menyaksikan upacara tersebut. Nah, saat itulah, anak buah Jarot membawa Ramon dan Arni menggunakan sekoci menuju sebuah pintu darurat di kapal pesiar itu.

Skenario itu sukses 100 persen. Jaka dan Gofar hanya bisa saling berpandangan. Kemana gerangan dua mahluk yang sedang diburunya, sementara kapal pesiar mulai berlayar meninggalkan pulau? (Bersambung)

Tinggalkan Sebuah Komentar

Filed under novel

PSK Galau di Bulan Penuh Rahmat (16)


Ringkasan sebelumnya: Perjalanan terlama Ramon menuju Bandara Soekarno-Hatta justru saat melintasi Jakarta yang super macet. Namun begitu sampai bandara mereka langsung harus balik kanan karena orang suruhan Jaka sudah ada di sana.Selengkapnya…

 

Marzuki menelepon Gofar saat sebuah mobil yang diawasinya dari tadi tak jadi menurunkan penumpang di lobi terminal keberangkatan Bandara Soekarno-Hatta. Ia menduga di dalam mobil itu adalah Ramon, buruannya.

“Kamu yakin mobil itu ditumpangi Ramon si kurang ajar itu.” Gofar minta ketegasan Marzuki, anak buahnya.

“Yakin 100 persen, bos. Dari semua mobil yang kita awasi, baru mobil itu yang tak menurunkan penumpang. Saya yakin sekali karena nomor mobilnya, AE. Nomor mobil Madiun, Jawa Timur.”

“Kalau begitu kejaaar!!. Kerahkan semua. Eh, tinggalin satu orang dibandara. Siapa tahu balik lagi.” Gofar memerintahkan Marzuki yang ditemani tiga kawannya untuk mengejar mobil yang diduga berisi Ramon.

Mobil yang akan ditumpangi Marzuki sudah nongkrong di depan lobi bandara sejak tadi. Strategi itu dilakukan agar gampang mengejar buruan.

Padahal tak jauh dari mobil itu ada rambu larangan parkir. Namun entah bagaimana caranya, Marzuki dan kawan-kawan bisa dengan bebas melanggar aturan itu.

Bisa saja mereka mengaku sebagai anggota polisi yang tengah menyamar. Potongan mereka yang berambut cepak dan bertubuh tegap cukup meyakinkan para sekuriti bandara.

Jika tak percaya juga, maka jurus pamungkas pun akan mereka keluarkan. Apalagi kalau bukan fulus. Siapa sih yang tak doyan uang? Geng Jaka tak segan-segan mengeluarkan uang dalam jumlah berapa pun asal tujuan mereka tercapai.

“Aturan kan dibuat untuk dilanggar.” Demikian Gofar pernah bilang pada Marzuki. Gofar mengutip apa yang pernah didengar dari bosnya, Jaka. Lalu Jaka mengutip siapa? Mungkin Jaka akan bilang mengutip para pendekar hukum, entah siapa

Maka Honda CRV yang ditumpangi Marzuki dan kawan-kawan melesat memburu Toyota Kijang kapsul tahun 2000-an yang ditumpangi Ramon dan kawan-kawan.

Dengan kecepatan lebih baik, dari kejauhan, Marzuki dan kawan-kawan melihat mobil yang diburunya. Mobil itu ternyata mengambil jalur menuju Ancol.

“Loh, kok belok ke Ancol, emang mau kemana mereka ya?” Kawan Marzuki yang mengemudikan mobil membayangkan Ancol identik dengan taman impian, dunia fantasi atau biasa disebut dufan.

“Udah ikuti saja. Kemanapun mereka kabur, tugas kita adalah menangkapnya hidup-hidup!”

“Siap, bos!!!”

***

Ramon panik. Matanya terus mengawasi mobil-mobil yang melaju di belakang kendaraan yang ditumpanginya.

Ia tak tahu kendaraan jenis apa yang kini tengah mengejarnya. Yang pasti, ia yakin mobil itu lebih bagus dari mobil Bruno.

Ramon hanya mengandalkan firasat bahwa salah satu mobil di belakangnya, cepat atau lambat, pasti menyusul. Jika itu terjadi, habislah riwayatnya. Tak ada lagi mimpi indah bersama Arni.

Ramon merasa pelariannya saat itu merupakan pelarian terakhir. Ia membayangkan ruang geraknya sudah habis.

Ia membayangkan, kalau saja ia nekat turun di bandara, pasti dengan mudah akan ditangkap orang-orangnya Ramon. Apalagi ia belum memegang tiket pesawat, masih belum tahu jam penerbangan ke Papua, masih tanya ini-itu, pokoknya masih menunggu.

Posisi seperti itu sangat tidak menguntungkan bagi dirinya sebagai orang buruan.

Biasanya, jika hendak berpergian menggunakan pesawat, ada staf yang mengurusnya. Namun Ramon tak mungkin mengontak staf tersebut karena yang bersangkutan lebih berpihak pada Jaka yang menggajinya.

Sekali lagi, Ramon merasa tak punya pilihan. Ia harus menghadapi apa yang tak pernah dibayangkan dalam hidupnya; diburu bak seorang buronan paling membahayakan.

Bruno ikut panik. Namun tingkatanya masih jauh di bawah Ramon. Ia hanya kena dampak dari situasi yang dihadapi penumpangnya.

Paling panik adalah Arni. Wanita itu seperti sedang berada dalam sebuah film laga yang pernah ditontonnya, tapi film apa, ia tak ingat?

Selama menjadi PSK di Jakarta, Arni tak pernah sempat menonton bioskop 21. Soalnya, saat film itu diputar, ia harus siap-siap bekerja melayani tamunya.

Paling banter, Arni hanya menonton film-film laga VCD bajakan. Itupun tak pernah ditonton sampai habis, karena pasti ketiduran hingga VCD yang diputarnya tak ada gambarnya lagi alias habis.

Saat berpacaran dengan Jarpul ia pernah diajak nonton film laga di layar tancap sebuah acara hajatan. Kala itu film laga yang ditontonnya adalah film mandarin.

Arni tak pernah tahu judulnya. Yang ia ingat, film laga itu banyak adegan kejar-kejaran mobil seperti yang kini tengah dialaminya.

Di tengah kepanikan, tiba-tiba ia ingat seseorang. Ia pun mengeluarkan handphonennya dan menelepon orang tersebut.

“Mas Jarot, ini mas Jarot bukan. Ini Yati. Marniyati,”

“Ada apa Yat?” Raut wajah Arni seketika berubah gembira mendengar jawaban itu.

“Mmaas, maassss Jarot, sekarang dimanaaa?”

“Loh memang ada apa to Yat. Mas kan sudah bilang pulangnya nanti, kalau udah deket lebaran.” Jarot menangkap kepanikan dalam kalimat Yati.

“Yati tahu mas. Mas Jarot dimana? Yati sekarang sedang di jalan tol, sedang dikejar penjahat?”

Jalan tol, dikejar penjahat? Jarot tampaknya belum nyambung dengan apa yang disampaikan adiknya. Di pikirannya, Yati sekarang sedang berada di kampung halaman.

Ia telah membekali uang cukup banyak pada pertemuan tak terduga sebelumnya. Karena itu ia juga melarang adiknya kembali ke Jakarta. Paling tidak sampai ia pulang kampung.

Jadi mana mungkin sekarang adiknya sudah di Jakarta? Apakah Yati tak mau menuruti larangan dia sebagai kakak kandungnya? Apa yang kau cari Yati?

Namun setelah Yati menjelaskan alasan mengapa ia berada di Jakarta, Jarot akhirnya bisa mengerti. Ia pun langsung memerintahkan agar sang adik meluncur ke Marina Ancol.

Jarot akan memerintahkan anak buahnya menjemput Yati dan Ramon menggunakan motor boat.

Jarot bilang, kapal pesiar tempatnya bekerja masih bersandar di kawasan Kepulauan Seribu. Hari itu merupakan hari terakhir. Jadi kebetulan Yati mengontaknya.

Ada secuil kelegaan di hati Yati, juga Ramon, bahwa mereka ternyata masih diberi alternatif untuk selamat dari kejaran Jaka dan kawan-kawannya.

Tapi bagaimana mereka bisa selamat sampai Marina Ancol sedang orang-orang Jaka sekarang membuntutinya? (Bersambung)

Tinggalkan Sebuah Komentar

Filed under novel

PSK Galau di Bulan Penuh Rahmat (15)


Ringkasan sebelumnya: Ramon menikmati perjalanan ke Jakarta bersama Arni. Ia ingin cepat terbang ke Papua, via Bandara Soekarno-Hatta, untuk menghindari Jaka yang hendak membunuhnya. Selengkapnya…

 

Mobil yang ditumpangi Ramon masuk jalan tol Cikampek. Masih sepi. Mereka mampir ke rest area pertama untuk melakukan makan sahur sekaligus shalat subuh.

Setelah itu mereka melakukan perjalanan lagi dengan kecepatan yang sama. Sampai di wilayah Bekasi, lalu lintas sudah padat. Perjalanan pun tersendat.

Saat itu, berduyun-duyun kendaraan menuju Jakarta. Arah sebaliknya sepi.

Ah Jakarta, pikir Ramon, makin hari bukannya kian nyaman. Beberapa kali ganti gubernur, ganti presiden, tak pernah ada penyelesaian soal lalu lintasnya. Sudah tahu panjang jalan segitu-gitu saja, jumlah kendaraan tak dibatasi, angkutan umumnya tak diperbaiki.

Akibatnya, pembangunan jalan tol yang semula dimaksudkan untuk melancarkan arus lalu lintas, hasilnya sami mawon. Pada jam sibuk, terutama pagi dan sore hari, hampir semua jalan tol macet-cet. Malah kadang-kadang kemacetan di jalan tol lebih parah dibanding jalan non tol.

Padahal masuk jalan tol tak murah tarifnya. Pengelola cuek saja memunguti uang ongkos tol, tak peduli dengan situasi yang terjadi. Macet tak macet ongkosnya sama saja.

Ah, mestinya ibukota dipindah saja. Jakarta sudah tak cocok lagi menyandang itu. Tapi tampaknya tak pernah ada rencana serius ke arah itu, seperti halnya tak pernah ada langkah serius untuk mengatasi kemacetan lalu lintas yang kini menjebak Ramon dan Arni.

“Mas…” Suara itu membuyarkan lamunan Ramon. Suara yang terdengar aneh, karena baru kali ini Arni memanggil Mas, bukan Mon seperti biasanya.

“Iya din. Dindaku sayang…” Ramon menjawab dengan panggilan tak biasanya pula.

“Jakarta mestinya dipindah saja kali ya?”

Halah, cara berpikirnya kok sama sih? Tapi Ramon senang mendengarnya.

“Dipindah kemana kira-kira ya din”

“Dipindah jauh, biar nggak macet kayak gini. Biar keramaian juga merata. Nggak hanya di Jawa”

“Oh, maksudnya digeser ke luar Pulau Jawa?”

Arni mengangguk. “Tapi jangan ke Papua?”

“Loh, kenapa?”

“Kita kan bersembunyi di sana”

“Oh iya, ya. Kamu pinter banget, dindaku sayang.” Ramon mencubit pipi Arni, gemes.

Ramon kemudian mengajak ngobrol Bruno. Ia bertanya apakah sopirnya itu pernah membawa mobil di Jakarta. Bruno bilang pernah. Ia pernah bekerja menjadi sopir seorang pengusaha.

“Pengusaha apa Brun?”

“Pengusaha panti, mas”

“Panti asuhan? Emang ada”

“Bukan, mas”

“Lalu apa?”

“Panti pijat, mas”

“Halah, yang bener”

“Masa bohong, kan bulan puasa”

“Oh iya, ya…”

“Kamu pernah nyobain, Brun,” Arni nimbrung, menggodanya.

Nyobain apa, mbak?”

“Ya dipijatlah. Dipijat dipanti pijat punya bosmu?”

“Ah, ya nggaklah, mbak”

“Nggak cuma sekali ya?”

Hahaha..Burno tak kuasa menahan tawa.

“Bisa aja si mbak ini,” katanya.

“Emang panti pijat apaan sih?” Ramon menimpali.

“Panti pijat tradisional.”

“Apanya yang tradisional.”

“Nggak tahu”

“Tukang pijatnya?”

“Nggak tahu”

“Gaya pijatannya”

“Nggak tahu”

“Atau otot yang dipijatnya.”

“Ya, ya, ya Mungkin itu…”

“Kamu pasti pikirannya mesum ya.”

“Yang bener sih ya memang itu.”

“Apaan sih”

“Ya itu tadi. Panti pijat mesum”

Ramon dan Arni saling berpandangan. Mereka seolah memperoleh pengakuan dari seorang anak kecil yang baru mau mengatakan sesuatu yang berusaha disembunyikannya.

Sempat Ramon menanyakan apakah Bruno hafal jalan lain ke Bandara Soekarno-Hatta selain melalui jalan tol. Misalnya, melalui Jalan Tol Lingkar luar, kemudian keluar Serpong, dan masuk tol lagi.

Bruno menggeleng kepala. Saat jadi sopir pengusaha panti pijat tadi, katanya, jalan tol lingkar luar atau dikenal dengan Jakarta Outer Ring Road (JORR) belum jadi.

***

Ramon dan Arni kehabisan obrolan ketika mobil yang dikendarainya hampir sampai Bandara. Sebuah SMS kemudian masuk. Ramon buru-buru membukanya karena SMS itu dari Jamila.

“Hati-hati, orang-orang Jaka sudah ada yang di bandara Soekarno-Hatta.”

Jantung Ramon langsung berdegub. Ternyata usaha pelariannya benar-benar belum aman.

Arni menanyakan apa isi SMS itu. Ramon pun berterus terang bahwa orang-orang Jaka ada di Bandara.

Ramon segera memerintahkan Bruno untuk memperlambat laju mobilnya. Ramon segera menutup kaca jendela, mengenakan topi dan kaca mata, agar wajahnya tak dikenali dari luar. Arni ia perintahkan merunduk.

Karena terlalu perlahan, laju mobil yang dikendarai Bruno sempat diklakson mobil di belakangnya karena dianggap menganggu. Atas perintah Ramon, Bruno menambah kecepatan mobilnya. Baru setelah tiba di depan lobi bandara laju mobil kembali diperlambat.

Tiba di depan lobi terminal keberangkatan bandara, semua penumpang turun dari mobil yang mengantarnya. Sebaliknya, Ramon memerintahkan Bruno untuk jalan terus.

“Brun, Cabut, cabut. Jalan terus. Kita tinggalkan bandara,” perintahnya.

Meski tak tahu dengan situasi yang dihadapinya Bruno menuruti perintah Ramon.

“Emang ada apa sih, Mas.”

“Aku tadi melihat orangnya Jaka. Kita tidak aman jika nekat turun di Bandara sekarang!”

“Terus gimana dong

“Kita kabur dulu, jauhi mereka.”

“Jalan teruuusss Brun!,” perintah Ramon lagi. Badannya berbalik mengawasi deretan mobil di belakangnya. Ia khawatir orang-orang Jaka tahu, dia tak jadi turun di bandara dan kini mengejarnya. (Bersambung)

Tinggalkan Sebuah Komentar

Filed under novel

Mudik atau Jadi Anak Durhaka


Banyaknya pembatasan terkait cuti Lebaran membuat Marwan tersulut emosinya. Peraturan-peraturan baru itu dianggap bakal menghambat rencana mudik Lebaran yang sudah diagendakan sejak lama.

“Emang dikiranya mudik Lebaran itu enak. Tidak! Kalau disuruh memilih, saya tak mau mengambil cuti saat Lebaran.” Marwan berkata berapi-api dalam sebuah rapat dengan salah satu pimpinannya.

Mudik Lebaran itu, urai Marwan, banyak nggak enaknya. Di perjalanan bisa makan waktu belasan jam karena macet, ongkos pun jauh lebih mahal. Belum biaya-biaya lain seperti membeli oleh-oleh, menyiapkan uang buat orang-orang di kampung dan masih banyak lagi.

“Kalau yang banyak uang sih nggak masalah. Tapi yang penghasilannya pas- pasan seperti saya, uang THR bisa-bisa tak tersisa, bahkan tidak cukup,” urai Marwan lagi.

Lalu mengapa banyak orang nekat mudik dengan kondisi tak menyenangkan seperti itu? Marwan pun menjelaskan sesuai apa yang dialami dan dirasakannya.

Bahwa ia terpaksa mudik pulang kampung setiap Lebaran karena masih punya orangtua yang harus dikunjungi. Semua anak yang merantau tentu ingin menengok bapak-ibunya. Sebaliknya, semua orangtua juga ingin melihat anaknya berkumpul. Setahun sekali apa salahnya?

Setiap tahun sebagian besar karyawan di kantor tempat Marwan bekerja mengajukan cuti Lebaran. Ini membuat pihak pimpinan pusing. Apalagi sebagian dari mereka selain mengajukan cuti reguler, ada juga yang mengajukan cuti besar karena memang sudah berhak.

Jika diizinkan semua, maka kegiatan operasional perusahaan pers itu akan terganggu. Ya, mesti para pembaca dan pengecer cenderung tak membutuhkan koran selama Lebaran, menyajikan berita terbaik mutlak harus tetap dilakukan.

Pihak pimpinan lalu bikin peraturan-peraturan baru bahwa yang tahun lalu cuti Lebaran, tahun ini tidak boleh melakukannya lagi.  Lalu karyawan yang sudah mengambil cuti dalam rentang waktu sebelum tiga bulan juga tak boleh mengambil cuti Lebaran.

Misal, karyawan yang mengambil cuti bulan Juni dan Juli saat libur sekolah otomatis kesempatan cuti lebarannya hangus. Ini karena Lebaran tahun ini jatuh bulan Agustus.

Marwan lalu membandingkan antara cuti Lebaran dan cuti Natal. Jika cuti Lebaran selalu ada pembatasan, mengapa cuti Natal tidak. Ini dianggapnya tak adil.  “Kalau mau adil yang pembatasan itu diberlakukan saat cuti Natal,” ucapnya.

Hanya saja soal perbandingan itu tak ia ungkapkan di depan rapat dengan pimpinan. Perbandingan tersebut hanya ia ungkapkan antar sesama teman.

Menurut Marwan, kebutuhan cuti Lebaran tak bisa dipukulratakan kepada semua karyawan. Sebab, orang-orang seperti dirinya tak mungkin mau ditukar cutinya menjadi cuti Natal. Demikian sebaliknya, yang terikat dengan cuti Natal tak mungkin mau ditukar dengan cuti Lebaran.

“Jadi kesimpulannya apa?” Seorang teman Marwan tak sabar.

“Jadi sesimpulannya, orang mau mudik tak bisa dibatasi secara kaku. Tak bisa dilarang. Peraturan bahwa yang sudah mudik tahun lalu, tak boleh lagi mudik tahun ini harus dicabut. Atau paling tidak, menjadi pertimbangan terakhir setelah peraturan lainnya tak bisa diterapkan.”

Kalau saja Marwan tak diingatkan kawannya bahwa saat ini bulan puasa, ia mungkin masih menguraikan alasan ketidaksetujuan adanya pembatasan cuti Lebaran.

Lagi pula, pada praktiknya, peraturan itu sebenarnya tak terlalu kaku-kaku amat. Buktinya hampir setiap tahun Marwan bisa mudik Lebaran meski kadang- kadang cuma dua-tiga hari, hanya sekadar bersua dengan kedua orangtuanya.

Jadi mengapa ia begitu emosi? Marwan juga tidak tahu.

***

Sesungguhnya Marwan sedang kesal dengan adik bungsunya, Mirna, yang tak pernah mudik selama lima Lebaran terakhir. Padahal ia tahu persis, ibunya yang sudah sepuh sangat merindukan Mirna.

Mirna tinggal di Melbourne, Australia karena diboyong suaminya yang pernah bekerja di Indonesia dan sekantor dengan Mirna. Kepada ibu dan dirinya, Mirna yang kemudian memilih jadi ibu rumah tangga, selalu berjanji akan mudik setiap tahun.

Namun kenyataannya, beberapa hari sebelum hari H Lebaran, ia menelepon untuk minta maaf karena tak jadi mudik.

Alasannya ada-ada saja, kalau nggak anaknya sakit, mertuanya sakit, atau suami dapat tugas mendadak ke luar negeri. Karena alasan yang hampir selalu bisa ditebak, Marwan kadang-kadang jadi berprasangka jelek bahwa sang adik sudah tak mencintai ibu yang melahirkannya.

“Kalau memang nggak bisa mudik bilang saja sekarang sehingga kami tidak berharap.” ucap Marwan kepada Mirna via telepon. Tapi Mirna tetap keukeuh bahwa kali ini ia pasti mudik paling tidak dua hingga tiga hari sebelum hari Lebaran.

Selain Mirna, Marwan masih punya satu adik lagi bernama Murti. Beda umur dia dengan Murti lima tahun, sedang dengan Mirna tujuh tahun.

Sejak bapak meninggal dunia, Marwan sering tampil sebagai penggantinya. Karena itu dialah yang paling mendesak agar Mirna pulang pada Lebaran ini.

“Mumpung ibu masih bisa berkumpul dengan kita. Ntar kalau sudah meninggal dunia dan tak menyaksikan di hari akhirnya, kamu pasti akan menyesal seumur hidup.”

Kalimat itu sangat jitu untuk meluluhkan hati adiknya. Dua tahun terakhir Marwan selalu mengatakan itu, Mirna sampai nangis-nangis dan berjanji akan pulang kampung di Hari Lebaran. Nyatanya ia tak pernah menepati janji. Ibu dan Murti bisa memahaminya, tapi ia tidak!

Dibanding Mirna, Murti jauh sekali kepeduliannya terhadap ibu. Marwan bahkan sering iri karena Murti lebih sering punya kesempatan pulang menengok ibu dibanding dirinya.

Karier Murti boleh dibilang paling sukses diantara mereka bertiga. Ia kini bekerja sebagai salah seorang manajer di sebuah hotel berbintang di Sanur, Bali. Hanya saja kehidupan rumah tangganya tak selancar kariernya. Ia masing single.

Kendala Mirna yang selalu terhambat kesibukan suami, anak, dan mertua seolah kian menguatkan alasan bahwa menjadi single saat ini lebih baik. Paling tidak untuk kepentingan ibu.

Antara simpati dan prihatin bercampur menjadi satu di hati Marwan mendengar pembenaran Murti seperti itu. Meski demikian, Marwan selalu berdoa agar adiknya segera diberi jodoh, diberi suami yang pengertian.

***

Empat hari sebelum hari Lebaran, Marwan bersiap melakukan perjalanan mudik. Mobilnya sudah diservis, juga dispooring dan balancing. Kondisi AC mobil meski masih dingin, sudah dicek ke tukang servis AC langganan. Pokoknya tinggal jalan.

Marwan sengaja memiliki H-4, kadang-kadang H-5, karena padatnya arus lalu lintas mudik biasanya terjadi sejak H-3. Itu pengalaman bertahun-tahun yang sudah teruji.

Tapi pada perjalanan mudik kali ini, hatinya tidak tenang. Ia belum tenang karena belum mendapat kepastian apakah Mirna jadi mudik atau tidak. Ia tak ingin memperoleh telepon dari sang adik dan mendengar permohonan maafnya karena tak jadi pulang.

Kali ini Marwan sendiri yang ingin memastikannya. Tapi beberapa kali menelepon tak diangkat Mirna. Marwan jadi kesal.

“Mungkin dik Mirna nggak pulang karena dia masih takut melakukan perjalanan dengan pesawat. Mas tahu sendiri, adikmu itu paling trauma dengan penerbangan.” Istri Marwan mencoba mengingatkan.

“Ya tapi kan telepon tetap harus dijawab. SMS juga bisa dilakukan.” Marwan menjawab dengan nada tinggi.

Ia berusaha menelepon lagi Mirna tetap tak ada jawaban. Ia juga mengirim sejumlah SMS, tapi belum juga menerima balasan.

Mirna memang trauma dengan angkutan udara. Kala melakukan penerbangan pertama, tugas dari kantornya, ia mengalami perjalanan buruk. Pasawat yang ditumpanginya mengalami masalah mesin sehingga harus mendarat darurat.

Sebulan kemudian salah seorang sahabatnya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan pesawat. Sejak itu, Mirna selalu terbayang-bayang dengan kecelakaan pesawat. Ia pun benar-benar ketakutan jika harus melakukan penerbangan.

***

Marwan benar-benar melupakan Mirna begitu tiba di kota kelahirannya, Magetan. Memasuki pintu gerbang kota itu seolah memasuki gerbang rumahnya. Aroma udaranya khas, beda sekali dengan ibu kota Jakarta.

Sepanjang jalan di kota itu tak banyak berubah meski sudah ditinggal lebih dari sepuluh tahunan. Perkembangan kota-kota kecil di Jawa memang cenderung stagnan, beda sekali dengan Jakarta dan sekitarnya.

Justru karena tidak berubah itu, marwan jadi masa mudanya. Saat masih sekolah dasar hingga SMP, misalnya, ia sering melintasi jalanan dengan sepada ontel. Setelah SMA dan punya pacar, ia jadi gengsi naik sepeda ontel. Ia memilih menggunakan sepeda motor yang sudah dimodifikasi.

Tak terasa tibalah Marwan dan keluarga di depan pintu sebuah rumah besar berhalaman luas, tempat ia dilahirkannya. Ibu dan Murti yang sudah di rumah menyambut dengan gembira. Tak lama kemudian, ya ampun, Mirna, suami, dan anak bungsunya muncul dari kebun belakang.

Marwan terpana melihatnya. Ia benar-benar tak menyangka ternyata adik bungsunya sudah ada di rumah.

“Kenapa mas, kaget ya?” Mirna menggoda.

“Ah enggak, enggak. Gimana kamu sehat, Bon” Marwan berusaha menutupi kekagetannya. Di rumah, ia selalu memanggil adik bungsunya itu sebagai si Bontot.

“Alhamdullilah sehat. Tapi Brad nggak bisa ikut karena ia ujian kenaikan tingkat sebagai drummer.” Brad adalah anak sulung pasangan Mirna dan David, suaminnya.

“Oh, begitu ya.”

“Acaranya nggak bisa digeser. Sebab habis itu, Brad juga ikut lomba gebuk drummer antarsekolah.” David menimpali dengan bahasa Indonesia yang masih belepotan.

Marwan mengangguk-angguk senang. Lebih senang menyaksikan rona wajah ibunya yang tampak bersinar-sinar karena bahagia. Ia  bahagia karena baru kali itu semua anak cucunya berkumpul.

Marwan sebenarnya ingin menanyakan kabar Mirna selama di perjalanan. Namun ia tak tega karena takut salah menduga lagi. Marwan tak ingin kebahagiaan tengah dirasakan bersama rusak karena cerita penerbangan yang tak disukai adik bungsunya.

***
Pada hari ketiga Marwan pamit pulang dulu ke Jakarta karena ada urusan kantor. Sebelum pulang, ia mengantar anak istrinya ke rumah mertua, di Cilacap, Jawa Tengah.

Setelah sepekan, Marwan kembali menjemput anak istri untuk dibawa kembali ke Jakarta karena hari libur sudah selesai. Ia kemudian menelepon Murti untuk menanyakan keadaan rumah.

Murti pun bilang bahwa ia sudah kembali ke Bali untuk bekerja seperti sedia kala. Sedang Mirna dan anak bungsunya masih berada di rumah ibu.

“Mirna masih kangen ibu ya.”

“Mungkin juga. Tapi ada yang lebih dari itu.”

“Apa itu?”

“Mirna masih trauma naik pesawat. Perjalanan mudik kemarin tidak nyaman, membuatnya kembali trauma. Jadi David terpaksa pulang dulu sendirian.”

Marwan terdiam. Ada perasaan kasihan sekaligus bersalah karena selalu memaksa adiknya pulang, meski ia tahu sang adik trauma naik pesawat.

“Jadi gimana?”

“Ya, dia nunggu.”

“Nunggu gimana?”

“Ya nunggu sampai traumanya berkurang. Atau sampai kangen pada Brad tak tertahankan.”

Marwan diam lagi. Ia lalu mengambil handphone dan memeriksa pesan SMS yang tak jadi dikirim ke Mirna.

“Mas, sudah dulu ya. Nanti Murti kabari lagi. Atau mas telepon langsung Mirna saja.”

“Oh iya..iya. Asalammualaikum”

Marwan lalu membaca pesan SMS yang untungnya tak jadi dikirim kepada Mirna. Isinya: Mudik atau kamu menjadi anak durhaka.

Meski SMS tak jadi dikirimkan,  Marwan benar-benar merasa bersalah karena telah memaksakan kehendak pada Mirna, bahkan menganggap yang tidak-tidak.

Tinggalkan Sebuah Komentar

Filed under cerpen

PSK Galau di Bulan Penuh Rahmat (14)


Ringkasan sebelumnya: Ramon dan Jamila punya perasaan senasib. Yakni menjadi korban perilaku tak wajar Jaka. Kala Ramon di bawah ancaman pembunuhan oleh Jaka yang notabene suaminya, Jamila justru membantu Ramon. Selengkapnya…

 

Ramon mempersilahkan sopir mobil carteran yang disewanya memilih perjalanan ke Jakarta melalui jalur utara atau selatan. Ia sendiri tak hafal, lebih nyaman mana melakukan perjalanan darat di kedua jalur itu.

Selama ini ia lebih banyak menggunakan angkutan umum, terutama kereta api ekskutif dan pesawat terbang, jika harus melakukan perjalanan Surabaya-Jakarta.

Ramon kini hanya ingin menikmati pelarian bersama pujaan hatinya, Arni. Wanita yang tampak begitu cantik itu tertidur lelap dipangkuannya. Sementara tangan mereka masih berpegangan erat sejak berada di mobil.

Sopir bernama Bruno, beberapa kali melirik ke belakang melalui kaca. Ia mungkin tengah menebak-nebak apakah pasangan yang tengah dibawanya itu pasangan suami-istri atau bukan.

Jika melihat usianya, yang tak muda lagi, pasangan Ramon dan Arni pastilah pasangan suami-istri. Tapi jika dilihat dari kemesraan yang ditunjukkan, keduanya seperti orang sedang berpacaran.

Bruno membandingkan dengan dirinya sendiri yang tak lagi mesra dengan istri begitu mereka dikarunai seorang anak.

Sebaliknya, Ramon dan Arni sempat tertawa geli mendengar sopir itu mengaku bernama Bruno. Nama tersebut dianggap terlalu keren untuk seorang sopir yang nada bicaranya medok banget.

“Mungkin nama aslinya Baruno kali ya?,” bisik Ramon. Arni mengangguk dan tertawa mendengarnya.

Arni sempat bertanya, sebenarnya mereka mau kemana? Ramon lalu menyebut hendak ke daerah aman, yakni Papua, dimana ia sudah mengontak paman Narkim yang jadi perwira polisi di sana.

Ramon balik bertanya, tepatnya menagih janji, apakah Arni bersedia menjadi istrinya? Bersedia bersusah payah mencari tempat persembunyian dengannya? Arni mengangguk pelan namun mempererat genggamannya pada tangan Ramon. Jawaban itu sudah lebih dari cukup.

Andai saja mobil itu dilengkapi tape recorder, Ramon akan minta Bruno menyetel lagu-lagu cinta. Sayangnya mobil itu tanpa musik dan AC.

Tapi tetap saja Ramon merasakan suasana paling indah dalam hidupnya karena cintanya tak bertepuk sebelah tangan, karena lamarannya diterima dengan tulus oleh Arni.

Ia lalu membiarkan Arni menyandarkan kepala di pundaknya. Bahkan saat kekasih hatinya itu tertidur lelap karena kelelahan, ia segera memindahkan kepala Arni ke pangkuannya.

Lama sekali Ramon memandangi wajah Arni. Ah, betapa ia melihat wajah itu bukan hanya cantik, tapi juga menawan. Ada kepasrahan di balik rona wajah Arni. Ada juga sepintas kemiripan dengan wajah almarhumah ibunya.

Ramon lalu mengingat masa-masa berkenalan dengan Arni. Sejak awal ia sudah tertarik dengan aura penampilannya. Ia pun tak pernah menganggap Arni sebagai pelacur.

Ia merasa, ketika itu, Arni sedang terpaksa menjalani sandiwara sebagai seorang PSK. Sama seperti dirinya yang sedang menjalani peran apa saja agar hidupnya sukses dan kaya raya.

Sayangnya Ramon tak pernah berani menyatakan perasaannya. Arni pernah bilang, hanya pria sungguhan dan berpenghasilan cukuplah yang bisa menghentikan dia dari kesehariannya sebagai seorang PSK.

Ketika itu Ramon merasa modalnya hanya kesungguhan dan itu pasti tak akan cukup untuk membahagiakan Arni.

Lalu setelah punya uang cukup banyak, maka nama Arni kembali diingatnya. Allah kemudian mempertemukan mereka kembali. Ramon tersenyum bahagia mengenangnya. Setelah ia tak ingat lagi karena ikut tertidur lelap.

Ramon kembali terjaga setelah Bruno membangunkannya dengan sopan. Saat itu mobil Bruno sedang berada di SPBU karena tangki bensinnya sudah kosong.

Meski dengan mata masih berat, Ramon terbangun. Arni juga ikut menggeliat. Ia kaget karena hari sudah gelap. Ia menanyakan apakah sudah adzan Maghrib atau belum. Bruno menjawab baru saja adzan Maghrib berkumandang.

“Wah waktunya buka puasa. Kita batalin dulu puasanya.” Ramon berbisik pada Arni yang masih setengah sadar.

Ramon kemudian keluar dari mobil dan kembali dengan membawa minuman kemasan plus lontong dan gorengan yang banyak dijual di sekitar SPBU tersebut. Makanan itu diberikan kepada Ramon dan Arni.

Setelah itu Ramon mengajak ketiganya shalat Maghrib. Karena tak membawa mukena, Ramon mencari tahu kemungkinan ada mukena pinjaman di mushola sekitar SPBU, ternyata ada. Mereka kemudian shalat berjamaah.

Setelah dari SPBU, Ramon mengajak mampir ke sebuah restoran terdekat untuk makan malam. Ketika melewati toko pakaian, mereka juga berhenti dan membeli sejumlah baju sebagai ganti selama dalam perjalanan.

Bruno tampak senang menerimanya. Saat waktu shalat Isa tiba mereka mampir ke sebuah masjid. Ganti baju, shalat, dan kembali melakukan perjalanan yang masih panjang.

***

Ramon terbangun lagi tatkala menerima telepon dari Jamila yang mengabarkan bahwa orang-orang Jaka tengah mengikutinya. Kabar itu membuat ia tak bisa tidur lagi.

Ramon ingin segera tiba di Jayapura, ibukota Papua. Di sana ia dan Arni akan hidup bahagia. Ia yakin dengan jaminan keamanan dari pamannya.

Jamila mengirimnya SMS bahwa polisi Sidoarjo kini sedang mengusut aksi pengerusakan di rumah Ustadz Mahfudz. Sang ustadz juga sudah memberi keterangan tentang siapa pelaku pengerusakan itu kepada pihak kepolisian.

Ramon senang mendengarnya, namun ia ragu dengan hasilnya. Sepanjang pergaulannya dengan Jaka ia tahu betul siapa saja perwira yang kenal Jaka. Pria itu pandai sekali menjalin hubungan terutama dengan polisi-polisi yang diyakini akan bersinar kariernya.

Justru karena mengingat itu Ramon khawatir persembunyiannya di Papua, lambat laun akan ketahuan juga. Bagaimanapun, di lingkungan kepolisian, kepangkatan sangat menentukan. Jalur komando menjadi patokan utama.

Artinya, jika pamannya hanya berpangkat komisaris alias mayor, maka ia akan tunduk dengan polisi yang berpangkat di atasnya. Dan Jaka bisa menggunakan kawan-kawannya di kepolisian untuk mencari keberadaan di Papua.

“Ya Allah, hanya Engkaulah tempat kami berlindung. Jika itu kehendakMu kami akan tunduk,” doa Ramon dalam hati.

***

Arni terbangun. Ia bertanya saat itu sampai dimana. Ramon menyebut daerah Subang. Dari tadi ia memang mengintip dari kaca, daerah-daerah mana saja yang sedang dilaluinya. Mereka sedang melewati jalur pantai utara.

“Kamu capek banget ya sayang.”

Arni mengangguk. Ia lalu berbisik bahwa ia barusan bermimpi.

“Mimpi? Mimpi apa sayang?”

“Aku mimpi tentang anaku, Raihan.”

“Wah kamu kangen ya?”

“Banget!,” kata Arni sambil menganggukan kepalanya.

“Aku kok jadi kangen juga sama Raihan ya?.” Ramon mencoba serius, meski tetap terdengar basa-basi.

“Justru di mimpi itu aku dan kamu, kita yang bertemu Raihan.”

“Oh ya. Terus gimana?”

“Terus Raihan memanggilku mama-mama. Dan bertanya siapa disampingku?”

“Terus kamu jawab apa?”

“Aku belum menjawab, ketika Raihan membisikkan sesuatu di telingku”

“Raihan bilang apa?” Ramon makin penasaran.

“ Dia bilang itu papa ya. Itu papa Raihan ya”

Hahaha…

Ramon tertawa tak henti-hentinya. Ia begitu bahagia mendengar cerita itu. Sejenak keduanya lupa dengan kondisinya yang masih terancam. (Bersambung)

Tinggalkan Sebuah Komentar

Filed under novel

PSK Galau di Bulan Penuh Rahmat (13)


Ringkasan Sebelumnya: Sambil menunggu Arni, Ramon pergi ke warnet. Jamila, istri Jaka, ternyata banyak mengirimi email. Mereka lalu ngobrol, dan Jamila memberi saran agar pelarian Ramon aman dari kejaran Jaka.Selengkapnya…

Sebenarnya bagaimana hubungan Jamila dengan Jaka dan Ramon? Yang pasti hubungan dengan Jaka sebagai suaminya sudah lama tak harmonis, sedang dengan Ramon hubungan pekerjaan semata.

Tadinya, Jamila sangat membenci Ramon. Bukan saja karena telah merebut perhatian suaminya, tetapi karena Ramon lebih dipercaya mengelola keuangan sebagian besar bisnis milik Jaka dibanding Jamila.

Ramon tadinya tak peduli dengan perasaan yang dialami Jamila. Yang penting karier dan penghasilannya terus meningkat. Cita-citanya sejak kecil memang bukan mau jadi apa tapi ingin kaya raya.

Ia tak punya spesifikasi cita-cita seperti mau jadi dokter, pilot, guru atau pengusaha.

“Menjadi profesi apapun toh tujuan akhirnya jadi kaya.” Begitu prinsip hidup Ramon ketika itu.

Setelah lebih dari lima tahun bekerja bersama Jaka, Ramon pun memiliki segalanya. Ia punya tabungan di tiga buah bank berbeda. Ramon juga tinggal di sebuah apartemen mewah dan memiliki sebuah mobil BMW warna merah, warna kesukaannya.

Tadinya ia akan membeli sebuah rumah di kawasan elit di Surabaya, tapi buat apa? Toh, ia masih sendiri. Hidupnya banyak dihabiskan di tempat kerja. Mungkin nanti jika sudah berkeluarga. Tapi sama siapa?

Ketika segalanya sudah dimiliki, kesepian pun justru mulai menggerayanginya. Ramon merasa terasing dengan dirinya sendiri. Ia mulai takut tua. Merasa sangat nista. Takut mati. Buat apa punya banyak harta, jika kita tak punya siapa-siapa. Lagipula harta tak bisa dibawa mati, bukan?

Sejak itu, Ramon mulai berpikir untuk mempelajari agama lebih mendalam. Punya keluarga kecil, istri dan dua anak. Ia merasa harus mengakhiri sandiwara hidup yang diperaninya dengan sukses, namun sukses semu. Ia ingin lepas dari Jaka, ingin mengabadikan diri pada keluarga dan agama yang dipeluknya.

Kemudian diam-diam Ramon membagi kewenangan pekerjaannya kepada Jamila. Semula kebaikannya sempat dicurigai wanita itu. Namun karena dilakukan secara tulus, akhirnya Jamila pun sadar. Mereka selanjutnya bersahabat. Ternyata keduanya punya perasaan yang sama, yakni menjadi korban ketidakwajaran perilaku Jaka.

***

Merasa kian dekat dengan Jamila, Ramon membuat pengakuan bahwa selama ini ia dianggap bukan saja sebagai orang kepercayaan Jaka, tetapi selingkuhannya. Ia minta maaf dan minta Jamila tak marah.

Jamila memang tak marah. Ia justru mengaku sudah menebak cerita itu. Jamila juga cerita bahwa ia baru tahu bahwa Jaka cenderung gay dibanding pria sejati setelah beberapa bulan menikah.

“Setiap ada pria tampan, aku lihat mata suamiku jelalatan. Tapi sebaliknya jika ada wanita cantik, reaksinya biasa-biasa saja.”

Sebaliknya Ramon menegaskan bahwa ia sebenarnya bukan gay, bukan pula bencong. Ia pria tulen. Namun diakui bahwa ia termasuk pria pemalu, beda banget perangainya dibanding Jaka.

Dan Jaka kini telah menguasai hidupnya. Ramon tak boleh punya kekasih selain dia, apalagi istri. Pernah ada seorang wanita yang menyukai Ramon, wanita itu langsung diancam dan tak pernah muncul lagi. Gay apalagi, tak ada yang berani mendekati Ramon karena mereka tahu urusannya bakal berat.

Dari literatur yang dipelajari, Ramon jadi percaya bahwa Jaka benar-benar gay sejati. Ini karena ia memiliki sikap posesif berlebihan sebagaimana dimiliki seorang gay umumnya.

Kisah meninggalnya perancang busana kaliber dunia, Gianni Versace 1997 lalu seolah menjadi cermin yang menakutkan bagi Ramon. Saat itu Versace dihabisi mantan pasangannya Andrew Cunnan dengan tangannya sendiri. Gay pelacur papan atas itu tak menerima cintanya diputus Versace.

Jaka akhirnya tahu bahwa ia mulai dekat dengan Jamila. Jaka sempat marah, namun tetap membiarkannya. Ini mengherankan. Mungkin Jaka berpikir keduanya tak mungkin berani menjalin hubungan intim.

Baik Jamila maupun Ramon memang tak punya pikiran kea rah situ. Mereka punya tujuan yang sama, bagaimana bisa lepas dari cengkraman kekuasaan seorang Jaka.

Yang bikin Jaka tak terima adalah karena Ramon sering menghilang, terutama di akhir pekan. Saat itu Ramon memang harus belajar ilmu agama ke tempat Ustadz Mahfudz. Pengawasan terhadap Ramon pun selanjutnya diperketat.

Menurut Jamila, Jaka sebenarnya sudah tahu jika Ramon pergi ke Sidoarjo, tempat Ustadz Mahfudz. Kabarnya Jaka sempat cemburu mengetahui hal itu. Namun entah mengapa ia kurang berani menghadapi Ustadz Mahfudz.

Konon, Jaka gemetar saat hendak memasuki wilayah tempat tinggal Ustadz Mahfudz. Entar benar atau tidak cerita itu, Ramon dan Jamila tak kuat menahan tawa mendengarnya.

“Berarti Jaka mengakui bahwa ia memang iblis. Atau jangan-jangan ia iblis yang menjelma sebagai seorang Jaka. Iblis kan takutnya hanya sama Tuhan. Takut sama manusia yang dilindungi Allah…”

“Ya bener…bener! Hanya Tuhan yang ditakuti iblis seperti Jaka. Hahaha…Hahaha….”

Jamila mengaku juga sempat memperoleh perlakuan serupa dari Jaka. Sebagai istri, bertahun-tahun Jamila tak pernah lagi memperoleh nafkah batin dari Jaka. Tapi saat ia dekat dengan seorang pria, Jaka langsung cemburu dan membuat pria itu mundur menjauhinya.

Perasaan senasib membuat keduanya kian dekat. Saat nyawa Ramon terancam, Jamila berusaha menyelamatkannya sebisa mungkin.

Kebetulan Jamila punya mata-mata di lingkaran kekuasaan Jaka. Jadi info gerak-gerik suaminya bisa terpantau dengan lancar.

***

Dering telepon berbunyi. Jamila meneleponnya.

“Syukurlah nomormu belum ganti. Sori aku meneleponmu karena penting.” Jamila mengatakan tujuannya menelepon Ramon.

“Aku yang minta dipersori. Baru saja kami ketiduran. Jadi belum sempat mengganti nomornya. Lagipula aku memang menunggu perkembangan info dari kamu.”

“Info yang aku dengar, orang-orangnya Jaka sudah mendatangi rumah Ustadz Mahfudz. Mereka kini memburumu.”

“Wah, gawat. Lalu bagaimana nasib Ustadz Mahfudz? Apakah mereka melukainya?”

“Aku tak tahu persis. Yang aku dengar, kebetulan Ustadzmu itu sedang pergi sama istrinya. Jadi mereka aman.”

Ramon bersyukur seraya mengucap Alhamdulillah mendengar Ustadz Mahfudz selamat. Kini ia berkonsentrasi agar perjalanannya cepat sampai ke Bandara Soekarno-Hatta dan segera terbang ke Papua.

Pamannya, Narkim, menjadi perwira polisi di sana. Beliau telah memberi jaminan keselamatan selama berada di wilayah kekuasaannya.

“Jalannya lebih dipercepat mas. Nanti ongkosnya saya tambah.” Ramon memberi perintah pada sopir di depannya. Mobil pun melesat yang tadinya 60 km per jam menjadi 100 km per jam, bahkan lebih saat jalanan sepi. (bersambung)

Tinggalkan Sebuah Komentar

Filed under novel

PSK Galau di Bulan Penuh Rahmat (12)


Ringkasan sebelumnya: Perjalanan Arni menuju tempat persembunyian Ramon tak lancar. Mobil yang dicarternya menyengol sepeda motor. Ramon memerintahkan Arni untuk mengantar pengendara sepeda motor itu ke rumah sakit dan menjamin seluruh biayanya. Selengkapnya…

Sambil menunggu kedatangan Arni yang masih lama, Ramon minta izin untuk ke warnet. Ustadz Mahfud mengizinkan, bahkan memerintahkan salah satu stafnya mengantar Ramon ke lokasi warnet yang paling baik.

Seperti di Jakarta dan Surabaya, di Sidoarjo juga sudah menjamur usaha warnet dan bisnis game online. Kemajuan tehnologi internet tampaknya tak bisa dihindari oleh manusia dimanapun berada.

Saat membuka alamat email dan facebooknya secara bersamaan, ternyata banyak pesan yang masuk via inboxnya. Ada yang penting, agak penting hingga email sampah. Ada juga yang ngirim gambar esek-esek, hobil lama saat Ramon belum benar-benar insyaf.

Salah satu email yang pertama ia buka adalah kiriman dari Jamila, istri Jaka. Email dari perempuan yang disia-siakan suaminya itu bahkan datang beruntun. Mungkin karena tak bisa mengontak dirinya, informasi dari Jamila seputar perkembangan usaha dan kegiatan suaminya, disampaikan via email.

Seperti pernah disinggung sebelumnya, Jaka menikahi Jamila bukan atas dasar cinta, tapi karena punya kepentingan politis. Yakni agar perkembangan bisnis yang membutuhkan backing kuat, lancar karena pengaruh kekuasaan mertuanya. Saat itu, orangtua Jamila adalah seorang perwira tinggi yang berpengaruh di Surabaya dan sekitarnya.

Sebaliknya, Jamila sebenarnya tak cinta-cinta amat pada suaminya. Ia terkesan pada Jaka karena penampilannya yang keren dan high class. Di kalangan teman-teman pergaulannya yang gemar dugem, Jaka dikenal sebagai pria tajir.

Namun kini Ramon seperti kacang yang lupa kulitnya. Ia melupakan peran mertuanya yang sudah tak berkuasa dan sakit-sakitan. Jangankan menghormati, membesuk pun tak dilakukannya saat sang mertua dirawat di rumah sakit. Itu yang membuat Jamila sakit hati.

Ia tahu bahwa suaminya tak sungguh-sungguh mencintai dirinya. Ia mungkin juga tahu bahwa suaminya sesungguhnya seorang gay. Dan pasangan intimnya tak lain adalah Ramon.

Satu pesan baru masuk inbox facebooknya. Pesan itu dari Jamila.

“Ini Jamila, jalur chatnya buka bentar saja Mon”.

Ramon lalu menglik kamar chatting di sisi bawah kanan halaman facebooknya. Tak lama kemudian muncul sapaan dari Jamila.

“Ramooon, kamu kemana aja.”

“Nggak kemana-mana, cuma di sekitar Jawa, kok.”

“Jawa? Sekarang posisinya dimana?”

“Masih di Jawa”

“Halah, GJ kamu!”

“Apaan GJ?”

“Gaakkk Jelaaasss”

“Hahaha…”

“Eh, ngobrolnya pakai telepon saja yuk. Takut ketahuan Jaka. Ia kan masih berteman dengan kita. Berapa nomormu?”

“Aku saja yang nelepon kamu, Mil. Masih hapal kok nomornya.”

Keduanya offline. Dilanjutkan ngobrolnya via telepon selular.

Jamila bilang ia kerap ditelepon Jaka untuk mengetahui keberadaan Ramon. Sempat yang bersangkutan tak percaya jika Jamila tak mengetahuinya. Jaka akhirnya tak pernah menelepon lagi karena ia yakin Jamila memang benar-benar tak tahu.

Tapi kemarin, Jaka mengirim kabar Jamila via BBM bahwa Ramon kabur lagi.

“Kayaknya ia marah banget. Dia bilang akan membunuhmu jika menemukannya.”

“Aku tahu. Makanya aku mau kabur ke sebuah tempat di luar Pulau Jawa. Maaf aku tak bisa memberi tahumu lokasinya ya Mil?”

“Nggak masalah, aku paham kok. Saranku, jangan terbang melalui Bandara Juanda di sana banyak berkeliaran mata-matanya Jaka.”

“Oh begitu ya. Terus lewat mana?”

“Kamu langsung cari penerbangan dari Jakarta. Cari penerbangan yang langsung ke kota tujuanmu. Di sana kan banyak pilihannya. Jangan yang transit lagi di Surabaya.” Jamila seakan tahu bahwa Ramon akan pergi ke daerah Indonesia bagian Timur.

“Terimakasih sekali infonya Mil. Aku akan ikuti saranmu. Aku akan terus mengonakmu. Tapi nomor HPnya ntar gonta-ganti. Jangan kaget ya. Biar aman”

“Okelah. Hati-hati di perjalanan. Mudah-mudahan lancar dan selamat,” ucap Jamila.

Saat hendak menutup telepon, Jamila mengangkat lagi karena mendengar Jaka menanyakan sesuatu.

“Ya, ada yang kurang, Mon?”

“Sori Mil, nasib Jarpul gimana? ”

“Jarpul? Ooohh yang kamu tipu itu ya. Peduli amat sih?”

“Aku sebenarnya kasihan saat meninggalkannya dalam kondisi diborgol,” ucap Ramon lirih. Ia tak mungkin mengungkapkan bahwa pria itu sebenarnya adalah suami Arni, wanita yang akan dipersuntingnya.

“Paling dihabisin!”

“Apa, dibunuh?”

“Kamu ini apa-apaan sih. Kaya nggak kenal pacarmu saja!”

“Iya…suamimu emang RT”

“Apaan RT”

“Rajaaa Tegaaaa…”

“Hahaha…dasar  GJ”

Telepon pun ditutup. Pembicaraan berakhir. Rasa sesal dan khawatir bercambur jadi satu di hati Ramon.

***

Begitu Arni muncul, Ramon segera menghambur dan memeluknya dengan perasaan sukacita. Ia memeluk Arni seolah memeluk istri yang sudah lama tak dijumpainya.

Sebelum mengajak Arni untuk diperkenalkan dengan Ustadz Mahfudz, Ramon terlibat pembicaraan dengan sopir mobil carteran yang mengantar Arni.

Ramon menawari untuk mengantarnya ke Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Tadinya sang sopir menolak karena terlalu jauh dan ia belum minta izin sama istri di rumah. Namun ketika disodori ongkos yang besar dan dijanjikan dibelikan pakaian pengganti, sopir itu segera mengiyakan.

Arni sendiri bengong mendengarkan pembicaraan Ramon dengan si sopir. Ia tadinya membayangkan akan bisa istirahat sambil melepas kangen dengan Ramon di Sidoarjo. Ia juga sempat membayangkan duduk di sebelah Ramon mengucapkan ikrar janji dalam sebuah pernikahan siri.

“Kita nggak punya banyak waktu sayang. Kita harus tancap ke Jakarta. Kita akan terbang ke tempat aman,” ujar Ramon kepada Arni yang masih bengong.

Lalu Ramon memperkenalkannya Arni kepada Ustadz Mahfudz. Sang ustadz bersama istrinya, menerima Arni dengan ramah. Mereka terlibat basa-basi sebentar. Setelah itu Ramon pamit akan langsung membawa Arni ke Jakarta. Lalu terbang ke sebuah tempat yang mudah-mudahan tak bisa dilacak.

Ustadz Mahfudz terkejut dan sempat mencegahnya. Namun tampaknya percuma. Ia hanya bisa mengiringi doa agar dua manusia yang sudah bertaubat itu diberi keselamatan Allah subhanahu wa ta’ala.

Insya Allah suatu hari saya akan kemari lagi Ustadz. Bersama calon istri saya ini.”

Air mata tampak menetes di pipi istri Ustadz Mahfudz saat mengantar kepergian Ramon dan Arni. Sebagai wanita ia punya firasat bahwa perjalanan pasangan itu tak akan mudah. (bersambung)

Tinggalkan Sebuah Komentar

Filed under novel

PSK Galau di Bulan Penuh Rahmat (11)


Ringkasan sebelumnya: Ramon kabur ke rumah seorang guru agama bernama Ustadz Mahfudz..Di sana ia menanti kedatangan Arni, Kepada sang ustadz mereka minta dinikahkan secara siri. Selengkapnya…

 

Arni merasa tenang melakukan perjalanan malam dengan Munir, teman SMP-nya. Ia bertemu pria yang mengaku sudah dua kali menikah dan semuanya gagal itu secara tak sengaja, di terminal Ngawi, Jawa Timur.

Kala itu Arni membutuhkan seorang sopir sekaligus kendaraan yang akan mengantarnya ke Sidoarjo, tempat Ramon menanti kedatangannya. Berapapun biaya akan ia bayar. Ramonlah yang menanggung semua ongkosnya.

Ternyata ia dipertemukan dengan Munir. Pria itu tadinya hendak menggoda Arni karena malam-malam, sendirian pula, datang di terminal yang sudah mulai sepi.

“Walah, koyoke aku kenal. Ya….Yati ya. Marniyati yang dulu rambutnya di kepang loro kan,”

Mungkin karena malam hari, Arni tak bisa langsung mengenali Munir. Sebaliknya, Munir langsung hafal karena ada tahi lalat di dagu Yati.

“Petal ya. Munir Petal…” kata Arni. Rambut Munir dulu memang pernah petal karena cukuran sembrono bapaknya. Sejak itu ia sering dipanggil si Petal.

Munir mengangguk. Tegur sapa pun terjadi hingga Munir sepakat untuk mengantar Yati ke Sidoarjo malam itu juga.

Karena teman lama, Munir mempersilahkan Yati membayarnya berapa saja. Tapi ia yakin Yati takkan membayarnya kecil. Apalagi kawannya itu sempat menyebut angka Rp 500.000 sementara bensin dan makan ia yang bayar.

Wow, uang Rp 500.000 jelas bukan jumlah yang kecil. Uang sebesar itu adalah perolehan dia selama 4-5 hari menjadi sopir di wilayah kota kecil seperti Ngawi.

Melesatlah mereka menembus dinginnya malam. Di SPBU terdekat mobil angkutan omprengan yang dikemudikan Munir diisi bensin hingga penuh.

Arni sendiri membelikan lima bungkus rokok, dua botol minuman berenergi dan sejumlah makanan kecil untuk bekal di perjalanan, biar nggak ngantuk.

Saat belanja makanan, Arni sempat menelepon Ramon. Sang arjuna bilang agar ia berhati-hati di jalan. Arni juga disuruh bilang ke Munir agar tak ngebut dalam mengemudikan mobilnya.

“Santai saja, yang penting kamu nyampai dengan selamat”

***

Selama perjalanan Arni alias Yati dan Munir ngobrol tentang masa lalu. Munir mengaku pernah ke Jakarta namun dengan profesi yang sama sebagai sopir mikrolet.

Ia akhirnya pulang kampung karena menjadi sopir angkutan umum di Jakarta kian tak nyaman. Armadanya semakin banyak, sedang jalanannya tambah macet.

“Padahal ongkos hidup makin mahal. Pokoknya tekorlah,” ucapnya.

Di Jakarta ia sempat menikah lagi, namun karena penghasilannya tak menentu, sang istri meninggalkannya.

Sedang di kampung halaman, istri Munir sudah menikah lagi setelah ia menceraikannya.

“Ya beginilah saya sekarang. Seperti bujangan lagi. Selama bulan puasa, saya memilih keluar malam pakai mobil omprengan.” Munir mengungkapkan sambil menunjukkan mobil tua yang mereka tumpangi.

Munir mengaku sudah mendengar Arni juga bekerja di Jakarta. Ia bertanya pada Arni bekerja di restoran mana?

Arni pun menyebut restoran A, seperti yang sering ia katakan selama ini. Namun ia berusaha mengalihkan pembicaraan ke masa-masa sekolah. Arni takut ketahuan bahwa di Jakarta sebenarnya ia menjadi PSK.

Untung Munir tak ngotot menggali informasi tentang dirinya selama di Jakarta. Ia seperti paham bahwa teman SMP-nya itu tak suka membicarakan soal Jakarta.

***

Meski kendaraan yang ditumpangi Arni sudah jalan santai, ada saja rintangan yang harus dilaluinya. Di sekitar wilayah Nganjuk, mobilnya bersenggolan dengan sepeda motor yang dikemudikan seorang pria tua.

Saat itu Munir hendak kabur meninggalkan pengemudi sepeda motor yang tergeletak di jalan, tapi Arni mencegahnya. Meski tak ada orang, ia tak tega meninggalkan korban sendirian.

Munir pun terpaksa memundurkan mobilnya. Ia berpikir, kalau saja tak dilarang Yati, ia akan memilih kabur. Tabrak lari seperti itu lazim dilakukan para sopir angkutan umum seperti dirinya. Apalagi dalam kondisi sepi seperti malam itu.

“Nir, tolongin dong bapaknya. Tarik motornya ke pinggir.” Teriakan Yati membuyarkan lamunannya. Ia segera turun ikut menolong korban kecelakaan.

Setelah tanya ini-itu, Arni menelepon Ramon untuk mengabarkan musibah yang dialaminya. Ramon segera memberikan perintah untuk membawa pengemudi sepeda motor itu ke rumah sakit terdekat.

“Pastikan juga agar dia tak mengalami kesulitan biaya rumah sakit.”

Dengan berat hati, Munir pun mengikuti semua perintah Yati. Malam itu perjalanan yang mestinya ditempuh sekitar empat jam takkan mungkin tercapai. Ramon mengatakan tak masalah dengan keterlambatan keduanya.

Di rumah sakit, Yati dan Munir harus menunggu lama hingga keesokan harinya. Keduanya sempat tertidur di ruang tunggu. Mereka menunggu kedatangan dokter, sekaligus keluarga hingga siang hari.

Karena keluarga yang ditunggu tak juga muncul, Yati memutuskan untuk meninggalkan Munir di rumah sakit itu. Ia mencari mobil carteran baru.

Munir sempat keberatan. Ia tak sudi seolah dijadikan jaminan atas kecelakaan yang disebabkan kelalaian si pengemudi sepeda motor itu, bukan dirinya.

Namun begitu ia dibekali uang cukup banyak, jauh melebihi ongkos kirim yang dijanjikan, Munir langsung diam.

Selama 5 tahun terakhir tak pernah rasanya ia memegang uang kontan hingga Rp 10 juta. Ya meski sebagian dari uang yang diberikan Yati itu dipesankan untuk diberikan kepada pengemudi sepeda motor yang ditabraknya.

Ah, rasanya wanita itu bukan Yati yang ia kenal selama ini. Yati yang dulu sangat sederhana. Yati yang dulu tidak seroyal seperti yang dialaminya malam itu. Yati yang dulu tak semisterius seperti sekarang.

“Darimana ia punya uang sebanyak itu, coba?”

Yati bilang ia punya bos yang kaya raya. Bos itu melamar agar ia menjadi istrinya. “Semudah itukah? Kaya dongeng saja,” kata Munir dalam hati.

Yati ternyata juga sempat heran dengan apa yang baru dilakukannya. Saat pertama kali menjadi PSK perasaan itu sempat dialaminya. Yakni sama-sama begitu royal dengan uang.

Namun jika saat itu uangnya cenderung digunakan untuk kebutuhan diri sendiri, saat ini untuk orang lain. Untuk membantu orang-orang kecil yang membutuhkan.

Uang memang jadi penentu segalanya sehingga banyak orang mati-matian mendapatkannya. Namun banyak orang tak sadar, sebagian uang yang diperoleh semestinya disisihkan untuk sesama yang memerlukannya. Zakat.

Yati pun seperti mengalami titik balik kehidupan. Dari gelap menuju terang meski munculnya perlahan-lahan. Entah sampai kapan. (bersambung

Tinggalkan Sebuah Komentar

Filed under novel

PSK Galau di Bulan Penuh Rahmat (10)


Ringkasan sebelumnya: Arni akhirnya menghabiskan bulan Ramadhan di kampung halamannya. Ia girang tatkala menerima telepon dari Ramon. Arni pun dengan senang hati menyusul ke tempat persembunyiannya. Selengkapnya…

 

Saat harus melarikan diri lagi, Ramon sudah siap dengan risiko paling buruk. Risiko itu adalah nyawanya akan benar-benar dihabisi Jaka dan kawan-kawannya.

Karena itu, Ramon tak boleh sembrono. Ia harus lebih berhati-hati dalam pelariannya kali ini.

Masalahnya, hanya dengan sebuah handphone milik Jarpul, apa yang ia bisa lakukan untuk mengamankan pelariannya?

Otak Ramon langsung bekerja dan bikin keputusan. Keputusan pertama adalah menelepon Arni dan meminta ia menyusul sambil membawa kartu ATM yang dititipkannya.

Langkah berikutnya adalah menjual handphone milik Jarpul dan menggantinya dengan handphone yang harganya lebih murah. Tentu saja dengan membeli nomor kartu seluler yang baru untuk mempersulit pelacakan.

Sebenarnya ia sempat menenteng pistol milik Jarpul. Namun karena tak ada isinya, selain dianggap berbahaya jika nekat membawanya, Ramon langsung membuangnya ke sebuah sungai yang ia sempat dilewati.

“Maafkan hambamu ya Alloh terpaksa berbuat seperti ini.” Ramon memejamkan mata sambil berdoa. Ia membayangkan Jarpul sedang menderita karena sendirian di dalam kamar. Menderita sebagai pecundang dengan tangan diborgol.

Tapi Ramon tak punya pilihan. Jika itu tak dilakukannya, dialah yang akan diborgol hingga mungkin disiksa sampai modar. Ramon jelas sedang berhadapan dengan orang-orang berhati iblis.

Astagfirulloh…

Lalu uang hasil penukaran handphone ia gunakan untuk menuju rumah ustadz Mahfudz. Siapa beliau?

Yang bersangkutan adalah seorang guru agama. Sosok yang menuntun Ramon ke jalan Alloh. Sosok yang membuat Ramon berkeputusan bulat untuk meninggalkan Jaka dengan segala kenikmatan duniawi yang pernah dirasakannya.

Lokasi rumah ustadz Mahfudz di Sidoarjo, kota pinggiran Surabaya yang belakangan terkenal dengan lumpur Lapindonya. Ustadz Mahfudz menyebut bencana lumpur Lapindo sebagai peringatan Alloh akan kelalaian manusia menjaga alam yang dititipkannya.

Sayang, manusia cenderung tak sadar. Kasus Lapindo itu bukannya menyadarkan pihak yang berwenang, namun malah melarikannya kearah berbagai kepentingan yang tak berguna bagi rakyat banyak.

Ramon mengenal Ustdaz Mahfudz setelah diberitahu salah satu stafnya. Ketika itu ia mengutarakan ingin belajar agama. Ingin menyirami rohaninya yang kering kerontang.

Keinginan itu sempat ditertawakan. Setelah mengetahui keseriusan Ramon, staf itu pun merekomendasikan nama Ustadz Mahfudz.

Nah, saat bertemu pertama kali dengan sang ustadz, Ramon sempat minder bahkan takut karena kehidupannya begitu berlumpur dosa. Namun Ustadz Mahfud tak menganggapnya seperti itu.

Beliau menyebut Ramon sama seperti manusia lainnya, Manusia yang sedang khilaf. “Yang namanya khilaf yang harus diingatkan. Diluruskan,” katanya lembut.

Begitulah, kesan pertama bertemu Ustadz Mahfudz menuntunnya untuk kembali pada keesokan harinya.

Ramon tak mengeluh ketika harus menunggu hingga berjam-jam karena kesibukan sang ustadz. Saat pertama kalinya bertemu Ustadz Mahfudz pun ia sudah menunggu hingga lima jam.

Ini karena sebelumnya ia sempat ditanya ini-itu oleh stafnya. Konon, jika masalahnya berat, Ustadz Mahfudz sendiri yang turun tangan. Jika ringan, cukup dengan stafnya. Nah, masalah Ramon dianggap masalah super berat.

Setela merasa nyaman dengan ustadz Mahfudz, suatu hari Ramon menumpahkan segala isi hati yang selama ini terpendam. Terpendam sangat dalam. Sang ustadz mendengarnya dengan penuh kesabaran.

Ustadz Mahfudz bahkan membiarkan Ramon menangis, setelah puas menumpahkan uneg-unegnya. “Menangis tak identik dengan manusia lemah. Alloh tak melarang umatnya menangis,” tuturnya.

Ia lalu menyebut sosok sahabat Nabi Muhamad, Umar bin Khattab yang dikenal sangat tegar dan ditakuti lawan-lawannya. Ternyata ia suka menangis. Terutama jika sudah berdiri shalat menghadap Alloh atau saat berdzikir menyebut asma-Nya.

Terkait persoalannya dengan Jaka, ustadz Mahfudz sempat menyarankan agar mengadukannya ke polisi. Namun Ramon geleng kepala karena ia tahu sejauh mana Jaka sudah berhasil menancapkan jarinya di tubuh kepolisian.

Artinya percuma saja karena polisi pasti akan dikendalikannya. Begitulah kondisi negeri ini. Mau tak mau Ramon merasa harus menerimanya.

“Yang penting, saya sekarang merasa plong ustadz. Saya jadi tak merasa takut dengan siapapun. Yang saya takutkan hanya Alloh.”

“Alhamdulillah…” kata ustadz Mahfudz.

Merasa apa yang dilakukannya di rumah ustadz Mahfudz mulai tercium Jaka, Ramon akhirnya memilih kabur. Ia tak ingin ustadz yang baik hati itu terlibat dengan kasusnya. Ia tak ingin Jaka melukai sang ustadz.

Ramon kabur tanpa memberi tahu ustadz Mahfudz.

***
Asallamualaikum….

Wa allaikum salam….

Istri ustadz Mahfudz yang menjawab salam Ramon karena suaminya sedang berdzikir.

“Masya Alloh, ini Ramon ya. Tadi kami sempat ngerasani kamu. Darimana saja sih?.” Nada gembira tampak sekali pada istri ustadz Mahfudz.

Ramon berbasa-basi bahwa ia tak kemana-mana. Ia hanya terbebani banyak urusan pekerjaan yang harus diselesaikan

Setelah menunggu sebentar, Ustadz Mahfudz keluar dari mushola kecil di rumahnya. “Alhamdullilah kamu Ramon ya, sudah lama tak memberi kabar?” Ramon mengangguk.

“Sepertinya ada yang penting sekali, malam-malam datang ke sini?”

Maka berceritalah Ramon tentang petualangan yang telah dilakoni dan maksud kedatangannya. Sang ustadz mengangguk-angguk dan bersedia menampung Ramon untuk sementara waktu.

“Tenang saja di sini Insya Alloh aman.”

“Tapi ustadz, ada satu lagi?”

“Satu lagi, apa itu?”

“Calon istri saya, Arni namanya juga sedang dalam perjalanan menyusul ke sini?

“Calon istri, maksudnya?”

Ramon sadar bahwa selama ini ia memang belum bercerita soal Arni kepada Ustadz Mahfud. Maka berceritalah ia tentang siapa Arni dan bagaimana ia mengajaknya untuk menikah.

“Intinya saya ingin meresmikan status hubungan kami sebelum membawanya berkelana.”

“Maksudnya nikah siri?”

Ramon mengangguk sambil tersenyum penuh harap.

Ustadz Mahfudz tak segera mengiyakan karena ia tahu hal itu tidak mudah.

“Yang penting siapa tadi?. Ya..ya..Arni calon istrimu tiba ke sini dengan selamat. Kasihan malam-malam masih di jalan…” (Bersambung)

Tinggalkan Sebuah Komentar

Filed under novel

PSK Galau di Bulan Penuh Rahmat (9)


Ringkasan sebelumnya: Bodyguard yang mengambil celana dalam Arni itu ternyata bernama Jarpul, suaminya. Ramon berhasil mengelabui pria yang tengah memendam rindu kepada Arni yang juga calon istrinya itu. Selengkapnya…

Arni memastikan akan menghabiskan bulan Ramadhan di kampung halaman. Kakaknya, Jarot, telah mewanti-wanti agar ia tak kembali melacur. Uang pemberiannya lebih dari cukup untuk keperluan hidup hingga Lebaran.

Lagipula lebih banyak waktu sia-sia jika ngotot mencari mangsa di Jakarta pada bulan-bulan seperti itu. Ramon telah terlebih dahulu melarangnya. Ramon meminta Arni agar bertaubat dan lebih fokus menjalankan ajaran agama di bulan penuh rahmat itu.

Ah, lagi-lagi Ramon…

Entah mengapa Arni jadi kembali teringat pria yang tiba-tiba mengajaknya menikah, meski ia sudah mengenalnya cukup lama. Ramon kini tak jelas nasibnya, namun ia yakin pria itu selamat dan akan meneleponnya kembali.

Selama di kampung halaman, Arni rajin ke mushola untuk salat berjamaah. Ia juga rajin mendengarkan pengajian dan tauziah yang kerap diadakan di kampungnya selama bulan Ramadhan

Para tetangga sempat bertanya-tanya mengapa Yati pulang lebih awal, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Apakah restoran tempatnya bekerja bangkrut atau Yati yang mengundurkan diri?

Yati pun berterus terang bahwa kali ini ia sedang cuti di luar tanggungan alias tak digaji. Cuti itu diajukan setelah ia bertemu Jarot. Untuk meyakinkan bahwa ia telah bertemu sang kakak, Arni alias Yati menunjukkan foto sang kakak di handphonennya.

“Wah, tambah ganteng yo”

“Tambah resik kulite, tambah mriyayeni”

“Tambah keren lah pokoke.”

“Yeee, ket mbiyen kan wis keren. Dari dulu emang sudah ganteng.”

Hahaha…

Yati membiarkan para tetangganya mengomentari foto Jarot dan menertawakannya.

“Kapan pulangnya mas Jarot? Anake wis piro, sudah berapa?” Seorang tetangga melontarkan dua pertanyaan sekaligus dalam bahasa Indonesia campur Jawa.

“Katanya sih pulang Lebaran ini. Anake siji, tapi digowo bojone, wong Filipina,” jawab Yati, ikutan berbahasa campur-campur.

“Kok iso koyok ngono, Yat?”

“Wah, saya nggak ngerti. Katanya mas Jarot ia sudah pisah sama istrinya, sudah cerai. Tapi cerai baik-baik.”

“Wah jadi duren dong. Duda keren.”

Hahaha….

Para wanita tetangga itu tertawa lagi. Mereka seolah punya peluang untuk mengisi kekosongan pasangan yang tengah dialami Jarot.

***

Dari para tetangga tersebut Arni juga memperoleh kabar bahwa Jarpul sebenarnya sempat pulang dan mencarinya tahun lalu. Bahkan pria itu sempat bertemu Raihan namun tak berani mendekatinya.

“Suamimu rindu kamu Yat, tapi nyalinya ciut. Dasar lelaki pengecut.” Begitu komentar tetangga yang menceritakannya dalam bahasa Indonesia.

Jarpul memang memberikan kesan negatif kepada warga di kampungnya. Bukan saja karena ia kabur meninggalkan Yati dan anaknya, terutama karena ia kabur bersama janda kaya yang sangai dimusuhi warga.

“Kalau ke sini jitak aja jidatnya. Jangan mau memberinya maaf.”

“Kalau kamu menerimanya Yat. Kami akan melaporkan kepada Pak RT, Pak RW, Pak Lurah bila perlu ke Komnas HAM , biar kalian diusir dari kampung ini.”

Yati tersenyum mendengar ancaman setengah bercanda itu. Ia mengangguk seolah setuju padahal ogah menanggapinya.

Sebenarnya ia sudah memaafkan apa yang pernah dilakukan Jarpul terhadapnya. Tapi maaf yang dimaksud bukan berarti ia bakal menerimanya kembali.

Ia memaafkan justru karena Yati tak mungkin menerima kehadirannya kembali. Ia sudah ikhlas hidup tanpa suami seperti Jarpul.

Apalagi sekarang ia punya Ramon.

***

Keesokan harinya, ketika menyiapkan makanan buka puasa, Arni terkejut sekaligus senang menerima telepon dari Ramon. Ia bilang kangen sekali, demikian sebaliknya.

Tapi Ramon sadar, saat itu bukan waktunya kangen-kangenan. Saat itu ia butuh uang, butuh kehadiran Arni disampingnya.

Setelah menyuruh Arni mencatat nomor PIN kedua kartu ATM yang dititipkannya, Ramon meminta Arni mengambil uang secukupnya. Uang itu nanti buat ongkos sang pujaan hati menemuinya.

Tugas itu cukup berat bagi Arni. Bukan karena ia tak mau menemui Ramon, tapi karena ia tak terbiasa mengambil uang melalui ATM. Selama ini ia membawa uang secara cash alias kontan. Maklum para tamunya juga memberi uang secara kontan bukan via ATM.

Untungnya Arni punya akal, dengan alasan takut ketahuan orang lain jika mengambil uang di ATM, ia mengusulkan untuk menggunakan uang pemberian kakaknya dulu. Usul itu langsung disetujui Ramon. Malam itu Arni diam-diam pergi ke terminal dan mencarter mobil yang akan mengantarnya ke tempat persembunyian Ramon.

Arni membayangkan, babak baru kini sedang dimulai. Ia menjalaninya penuh optimis.

“Ya Alloh jika ini jalan yang kau berikan untukku, berilah kekuatan kepada kami berdua…” (bersambung)

Tulisan juga bisa di lihat di sini

Tinggalkan Sebuah Komentar

Filed under novel

PSK Galau di Bulan Penuh Rahmat (8)


Ringkasan sebelumnya: Ramon nyaris dipaksa melayani nafsu menyimpang Jaka. Ia berontak mengingat saat itu bulan puasa. Telepon dari seseorang menyelamatkan Ramon dari perbuatan nista Jaka. Selengkapnya…

 

Pria berbadan kekar yang sedang menjaga Ramon agar tak kabur akhirnya menunjukkan mukanya. Sambil menyelipkan pistol di pinggang, pria itu mendekati Ramon dan tersenyum.

Ramon menerka, lelaki itu mencoba ramah dengannya karena tengah membutuhkan sesuatu. Tapi sesuatu itu seperti apa, Ramon tak mengetahuinya.

“Sobat, kamu lapar tidak?” tanyanya penuh basa-basi.

Ramon tak segera menjawab karena pertanyaan itu dianggap aneh dan tidak pas.

“Kalau lapar nanti akan saya belikan makanan, asal….”

“Asal tahu saja bung, ini kan bulan puasa. Haram menawari makanan kepada orang tengah berpuasa…” Ramon menjawab setengah berteriak.

Pria yang ternyata memiliki tatto bertuliskan huruf Yati di tangannya tampak terkejut seraya berucap “Astagfirullah. Maaf, maaf sekali. Saya lupa…”

Sepertinya ia benar-benar lupa. Pikirannya tertuju pada sesuatu yang ingin diketahuinya. Sesuatu itu hanya Ramon yang tahu.

“Saya bisa saja memborgol kembali tanganmu. Tapi saya rasa tak perlu,” katanya lagi. Matanya mengarah pada borgol yang disembunyikan Ramon namun masih tersembul di saku celananya.

Giliran Ramon tersentak karena pria itu seperti sudah membaca usahanya untuk kabur. Diam-diam ia menganggumi kejelian pria lumayan tampan itu di hadapannya. Pantas saja Jaka merekrut sebagai salah satu pengawalnya.

“Kenalkan nama Jarpul. Kamu tak perlu memperkenalkannya karena saya sudah tahu siapa kamu,” kata pria itu seraya menyodorkan tangannya penuh percaya diri.

Ramon tak punya alasan untuk menolak ajakan perkenalan dari pria bernama Jarpul itu. Ia seperti pernah mendengar namanya. Ramon berusaha mengingatnya kembali, dimana ia mengenal nama Jarpul.

Oh ya, Arnilah yang pernah menyebut nama itu. Ah, jangan-jangan pria ini…

“Kok malah bengong. Ada yang salah dengan saya?”

“Oh, tidak. Senang berkenalan dengan Anda. Jadi saya harus memanggil bagaimana kepada Anda?”

“Cukup dengan Jarpul atau Pul saja.”

 

***

Tanpa ditanya Jarpul menceritakan asal mula nama Jarpul. Nama asli pembelian orangtuanya adalah Sukirman. Namun oleh kawan-kawan sepermainannya ia kemudian dipanggil dengan Jarpul yang artinya jarang pulang.

Nama itu disematkan karena ia memang suka begadang. Ia tak betah di rumah karena orangtuanya sering bertengkar dan kerap memarahinya.

“Nama itu saya pergunakan terus sampai sekarang karena lebih pas dengan dunia yang saya geluti. Lucu ya.”

Ramon tersenyum seolah menyetujui cerita Jarpul yang dianggapnya lucu, padahal katrok.

“Saya menikah di usia muda. Tapi saya tinggalkan istri saya begitu saja karena kecantol wanita lain. Istri saya itu bernama Yati.”

Jarpul diam sejenak seperti hendak mencari kata-kata dan merangkaikannya secara pas.

“Terus terang saya menikah muda karena ‘kecelakaan’. Saya menghamili Yati sebelum dia menjadi istri. Setelah menikah saya bingung karena tak punya pekerjaan tetap. Saya malu pada mertua dan tetangga. Begitu kecantol janda kaya raya, saya menganggap masa depan saya untuk sementara bersama janda itu.”

“Sekarang saya mengakui bahwa saya telah melakukan kesalahan. Saya khilaf. Saya jadi ingat anak saya yang juga saya tinggalkan begitu saja. Dia sekarang sedang lucu-lucunya.”

Nada penyesalan tampak pada pengakuan Jarpul. Tapi penyesalan dimanapun datangnya belakangan. Mengembalikan sesuatu yang hancur menjadi baik kembali tak cukup dengan penyesalan

“Emang hubungannya apa denga saya, bung?”

Mendengar pertanyaan itu, mata Jarpul tampak berbinar. Ia memang menunggu sejak lama pertanyaan seperti itu.

“Nah itu dia sobat. Kamu tahu nggak aku telah mengambil celana dalam wanita di kamarmu tempo hari. Nah, CD itu mengingatkan pada istriku. Aku seperti mengenalnya.”

Ramon mulai menebak arah cerita Jarpul, namun ia memilih diam karena takut menyimpulkan. “Jadi tolong beritahu saya siapa pemilik celana dalam itu?”

Ramon bisa saja langsung menjawab bahwa Arnilah pemilik CD itu. Namun ia masih ragu apakah pria di hadapannya itu benar-benar suami calon istrinya atau bukan. Lagi pula, ia tak ingin Arni kembali kepada suaminya.

“Nama lengkap istri saya Marniyati dan biasa dipanggil Yati. Saya masih mencintainya. Saya masih mengingatnya karena itu saya abadikan nama dia menjadi tattoo di sini.” Jarpul berkata lagi menunjukkan tattonya.

“Tapi nama pemilik celana itu Arni, lengkapnya Arniyatun. Dia seorang pelacur, tak mungkin pelacur menjadi istrinya mas Jarpul.” Ramon akhirnya memberikan jawaban palsu.

Jarpul tampak kecewa dengan jawaban itu. Tak lama kemudian ia membenarkannya. “Ya istri saya tak mungkin jadi pelacur. Ia bekerja di sebuah restoran di Jakarta. Tapi mengapa celana itu mirip dengan istri saya ya?”

“Mungkin karena mas Jarpul begitu rindu pada istri. Sehingga seolah-olah sudah dekat dengan Yati begitu berada di Jakarta.”

“Ah, benar juga ya. Saya memang ingin bertemu dengannya, ingin meminta maaf.”

Tiba-tiba Ramon seperti memperoleh celah untuk menguasai Jarpul yang sedang memendam rindu mendalam pada istrinya. Ia kemudian mengusulkan untuk ikut mencari Marniyati, istri Jarpul.

Pria bodyguard itu tampak setuju. Ia menyerahkan handphonenya karena Ramon membutuhkan untuk menelepon Arni sekaligus menanyakan posisi Marniyati.

Setelah memijat sebuah sejumlah nomor, Ramon berpura-pura berbicara dengan Arni. Kemudian dia menutupnya sambil berbisik pada Jarpul bahwa Arni mengenal Marniyati dan akan mengontaknya.

Lima menit kemudian Ramon mengontak Arni lagi dan pura-pura tengah berbicara dengan Marniyati. Sebentar kemudian ia berbisik pada Jarpul bahwa istrinya mau berbicara dengannya asal dia dalam kondisi butuh pertolongan, bukan sebagai jagoan.

Ramon mengusulkan agar Jarpul berpura-pura sedang diborgol dan dialah penodongnya. Namanya berpura-pura, Ramon mempersilahkan pistol milik Jarpul dikosongkan amunisinya.

Jarpul setuju dan percaya 100 persen dengan sandiwara yang dimainkan Ramon. Seolah kondisi seperti itulah yang diinginkan istrinya.

Saat itu ia memang akan rela melakukan apapun asal Yati memaafkannya. Maka ia pun menyodorkan salah satu tangannya untuk diborgol ke besi ranjang kamar tidur.

Setelah posisi yang diinginkan lengkap, Ramon kembali menelepon Yati khayalan sambil menenteng pistol tanpa pelor. Jarpul pasrah dengan kondisi sebagai tawanan.

Setelah basa-basi menelepon Yati, Ramon minta izin untuk berbicara di luar kamar karena sinyalnya buruk. Jarpul tentu saja tak mungkin menghalanginya.

Setelah berada di luar ruangan, Ramon tersenyum dan langsung kabur. “Hahaha…Boduguard kok melankolis.”

Di dalam kamar, Jarpul gelisah menunggu. Semenit, lima menit, 15 menit ia masih bersabar. Tapi setelah setengah jam Ramon tak muncul juga, Jarpul mulai merasa kena tipu.

“Bangsaaatttt!!!” Teriakan itu keluar setelah ia yakin benar-benar tertipu. (bersambung)

kisah-kisah lain di sini

Tinggalkan Sebuah Komentar

Filed under novel

PSK Galau di Bulan Penuh Rahmat (6)


Ringkasan sebelumnya: Persembunyian Ramon akhirnya diketahui Jaka. Melalui orang kepercayaannya, Gofar, Ramon dijemput paksa. Ia menduga, ibu kos terlibat atas bocornya persembunyian di kamar Arni. Selengkapnya…

Kita tak bisa memilih apakah ingin dilahirkan oleh orangtua yang baik atau orangtua galak. Oleh keluarga miskin atau keluarga kaya.

Kita juga tak bisa memilih apakah ingin menjadi manusia berwajah cantik, tampan atau jelek. Menjadi pria perkasa, wanita anggun, atau setengah-setengah alias banci.

Sebab jika setiap manusia bisa memilih, maka semuanya akan memilih jadi anak orang kaya, jadi wanita cantik, dan pria ganteng. Nah, jika itu semua terjadi maka hidup jadi monoton, membosankan.

Padahal takkan pernah ada orang kaya jika tak ada orang miskin, tak ada lagi manusia tampan jika tak ada pembandingnya yang jelek. Buat apa kehidupan jika semuanya seragam.

“Jadi kamu jangan pernah mengeluh dengan keadaanmu. Hidup harus disyukuri.” Begitu nasihat terakhir ibu Ramon sebelum dia meninggal dunia karena sakit.

Nasihat itu kembali dikenang Ramon saat dirinya merasa kesepian karena disekap di sebuah tempat oleh Jaka dan kawan-kawannya. Saat disekap, tangannya diborgol, mulutnya dibekap lakban.

Ramon sudah menebak, begitu persembunyiannya diketahui Gofar, ia segera akan diserahkan kepada Jaka, bosnya. Tentu saja Jaka marah sekali saat kembali melihat Ramon.

Pria berpenampilan lembut namun berjiwa sadis itu sempat menampar wajahnya. Jaka lantas menegaskan bahwa ancaman akan membunuh Ramon adalah bukan main-main.

Ramon yakin ancaman itu pasti dilakukannya. Hanya saja, belum sekarang. Kenapa? Karena Ramon masih dibutuhkan Jaka, bukan hanya sebagai orang yang tahu sejumlah rahasianya, tapi juga sebagai pemuas nafsu seksnya.

“Tapi nak, meski kamu tak bisa memilih dimana kamu harus dilahirkan, kamu tak boleh putus asa. Kamu tetap bisa mengubah dunia, paling tidak mengubah dunia di sekitarmu.” Begitu pesan ibunya lagi,

“Semua manusia di bumi ini punya keunikan masing-masing. Punya kelebihan diantara kekurangannya. Jadi, percayalah pada kemampuan dirinya sendiri.”

Petuah-petuah almarhumah ibu Ramon itu selalu dikenangnya berulang-ulang. Sebab, petuah itulah yang selalu menguatkan Ramon dalam menjalani hidup yang keras.

***

Ramon Rahardjo demikianlah ibu-bapak memberi namanya. Ramon diambil dalam bahasa Jerman yang artinya melindungi. Rahardjo adalah nama ayahnya.

Tadinya mereka juga hendak memberi nama Sheldon yang punya arti serupa dengan Ramon. Namun nama yang diambil dalam bahasa Inggris itu dianggap terlalu kebarat-baratan.

Dengan demikian nama Ramon diharapkan bisa melindungi keluarga, paling tidak dirinya sendiri. Sebab, saat masih bayi, Ramon sering sakit-sakitan. Nama itu diharapkan bisa menguatkannya.

Sayang ketika Ramon beranjak remaja, Rahardjo menikah lagi. Ibu marah tapi tak berdaya karena selama ini ia terlalu bergantung pada ayah sebagai pencari nafkah.

Ayah sendiri kemudian memilih tinggal bersama istri mudanya. Ibu makin merana, kemudian meninggal dunia karena sakit kanker rahim yang dideritanya sejak lama.

Ramon sempat tinggal bersama ayah dan ibu tirinya namun tak bertahan lama. Setelah itu ia memilih tawaran membantu pamannya, Nabil, di sebuah salon kecantikan. Nabil adalah adik paling bontot dari pihak ibu Ramon.

Menurut ibu, Nabil memiliki sifat seperti perempuan sejak kecil. Berada di lingkungan keluarga tujuh bersaudara yang semuanya perempuan menyebabkan sifat kewanitaan Nabil semakin kuat.

Nabil pun tumbuh sebagai seorang waria. Usaha salon kemudian ia tekuni setelah dewasa. Hingga kini, paman Nabil belum menikah. Ia tak menyukai wanita demikian juga sebaliknya, banyak wanita menghindar jika dijodohkan dengan Nabil.

Bersama paman Nabilah Ramon kemudian banyak belajar kehidupan. Belajar memotong dan menata rambut, belajar mode, belajar kecantikan, termasuk mempelajari bagaimana agar pelanggan bisa nyaman. Mengubah perilaku menjadi kebanci-bancian adalah salah satu pelajaran yang ia terapkan dengan baik.

Pada suatu malam ketika ia sendirian berada di salon, tiba-tiba paman Nabil datang dan mencumbunya. Ramon kaget dan secara spontan mendorong pamannya hingga terjengkang.

Giliran sang paman terkejut dengan penolakan Ramon. Hanya saja lelaki berumur 4O tahunan tak putus asa. Ia segera bangkit dan kembali memburu Ramon untuk mencumbunya.

Percobaan perkosaan oleh paman Nabil malam itu berhasil digagalkan. Namun akibatnya sang paman marah luar biasa. Ia mengancam akan mengusir Ramon.

Ancaman itu tentu saja membuat Ramon tak berkutik. Ia tak tahu harus singgah dimana lagi jika paman Nabil mengusirnya. Paman dan tante Ramon lainnya sebagian besar tinggal jauh di luar ibu kota, bahkan luar pulau.

Maka begitu paman Nabil memaksa melayani nafsu seksualnya, Ramon tak berdaya. Ia memutuskan meninggalkan paman Nabil setelah merasa punya uang cukup dan menguasai ilmu persalonan.

Di kawasan Tangerang ia nekat menyewa sebuah tempat dan menjadikannya sebuah salon. Ternyata tak mudah merintis usaha salon. Bisnis itu kemudian berkembang ketika ia pindah ke kawasan Mangga Besar.

Lalu Ramon pun merasakan benar-benar sukses setelah diajak oleh Jaka untuk mengelola usaha serupa di Surabaya. Hingga kini Ramon tak tahu bagaimana Jaka mengetahui bahwa dia bakal patnernya.

Selentingan yang berkembang, jaringan Jaka di dunia salon, bahkan dunia hitam memang luas, dari Surabaya hingga Jakarta. Lalu ia mendengar kabar tentang kemampuan Ramon dan langsung datang ke RR Salon untuk dipotong rambutnya.

Setelah ngobrol santai, tanya ini-itu, Jaka kemudian kembali keesokan harinya. Ia menawarkan menjadi patner bisnis dengan janji keuntungan luar biasa. Tentu saja Ramon tak perlu mengeluarkan dana sedikitpun. Semua ditanggung Jaka karena ia hanya membutuhkan keahlian Ramon.

Ternyata Ramon benar, usaha salon itu berkembang pesat. Dua tahun kemudian, Ramon ditarik Jaka agar berkosentrasi mengelola keuangan sekaligus mengawasi operasional semua salon yang ada. Itu adalah promosi luar biasa.

Dengan posisi itu, Ramon jadi lebih sering bertemu Jaka, bahkan menemaninya di sejumlah pertemuan penting.

Tragisnya sejak itu Ramon mengetahui siapa Jaka sesungguhnya. Sejak itu, Jaka seperti menjelma sebagai paman Nabil. Memaksa Ramon bercinta dengannya.

Beda dengan paman Nabil yang jomblo, Jaka sebenarnya punya anak-istri. Keduanya sama-sama memperkosa Ramon, bedanya Jaka lebih keji. Ia merasa sebagai kekasih sekaligus orang yang berkuasa penuh atas kehidupan Ramon.

Selain harus tunduk dengan permintaannya, Jaka juga tak mau melepas Ramon begitu saja dari cengkramannya.

Dengan kekuasaan uang dan jaringan pengaruhnya, Ramon dibuatnya tak bisa sembarangan kabur. Buktinya, pelarian ke tempat kos Arni merupakan kali keduanya. Dan ia kembali bisa ditemukan Jaka.

Maka mengingat Jaka adalah mengingat kengerian yang bakal dihadapinya. Ia yakin setelah menyekapan itu, ia akan ada penyiksaan yang lebih kejam. Ramon membayangkan kegetiran hidupnya belum akan berakhir.

Dalam kegetiran ia kembali teringat Arni. Perempuan itu mirip dengan ibunya, terutama dari sorot mata dan kepasrahan dalam menjalani hidup.

Bersyukur Ramon masih bisa bertemu dan telah menyatakan keinginan untuk menikahinya. Tapi apakah ia akan kembali bertemu Arni dan menjalani hidup sebagai keluarga sakinah bersamanya, Ramon tidak tahu.

Ramon hanya bisa berdoa, “Ya Alloh di bulan penuh Rahmat ini hanya satu permintaanku. Beri keselamatan dan rezeki melimpah buat calon istriku, Arni.” (bersambung)

Tulisan ini juga diposting di sini

Tinggalkan Sebuah Komentar

Filed under novel

PSK Galau di Bulan Penuh Rahmat (5)


Ringkasan sebelumnya: Arni akhirnya tergoda menerima tawaran untuk menservis tamu asing di sebuah kapal pesiar yang bersandar di Kepulauan Seribu. Tawaran itu ia terima setelah uang pemberian Ramon menipis sementara kabar pria itu tak pernah lagi ia terima. Diluar dugaan ia bertemu Jarot, kakak kandungnya di kapal pesiar tersebut. Selengkapnya…

Ramon gelisah. Hari itu tiba-tiba ia memperoleh telepon dari beberapa nomor tak dikenal. Sejak berada di tempat kos Arni, telepon serupa sudah diterima. Tapi ia tak menanggapi.

Arni sempat bingung mengapa ia tak mempedulikan semua telepon yang masuk di handphonenya. Ramon menjelaskan bahwa telepon itu mungkin saja merupakan bagian dari teror Jaka dan kroco-kroconya. Jaka adalah teman bisnis, bos, sekaligus orang yang sedang mencarinya.

Arni tak berusaha menyelidiki siapa para peneror yang dimaksud. Ia juga tak berusaha bertanya lebih jauh siapa Jaka. Ia merasa tak berhak untuk tahu lebih jauh masalah yang dihadapi Ramon.

Meski begitu, Arni jadi ikut gelisah begitu hanphone milik Ramon bergetar berkali-kali dan sang pemilik membiarkannya.

Ia membayangkan sebenarnya Ramon bisa saja mengangkat handphonenya dan mengatakannya salah sambung. Tapi pikiran itu mungkin terlalu sederhana. Justru jika Ramon mengangkat dan menjawabnya, maka sang penelepon bisa menebak siapa pemilik suara itu.

Justru karena menangkap kegelisahan Arni, Ramon punya alasan untuk menyuruhnya jalan-jalan ke mal dengan memberikan bekal uang secukupnya. Dan Ramon ikut senang bila hari itu Arni sudah janjian bertemu Machicha alias Icha.

Ya Icha bukan wanita asing dalam kehidupan Ramon. Bukan wanita yang perlu dicurigai. Sebelum berkenalan dengan Arni ia sudah terlebih dahulu berteman dengan wanita berambut setengah keriting itu.

Kala itu, Ramon menganggap rambut itu cocok dengan penampilan Icha yang seksi. Dibanding Arni, penampilan Icha memang lebih seksi. Rambutnya yang setengah keriting membuatnya mengingatkan penampilan seksi wanita negro blasteran di film-film Holywood.

Tapi suatu hari Icha merasa bosan dengan penampilan rambutnya. Ia minta Ramon merebounding rambut Icha. Ramon sempat menolak, tapi karena kliennya ngotot ia terpaksa melakukannya. Beberapa hari kemudian, Icha muncul lagi dan meminta rambutnya dikembalikan ke aslinya.

Kata dia, banyak pelanggannya protes dengan perubahan penampilan rambutnya. Para pelanggan bilang rambut baru Icha terlihat aneh dipandang, kampungan, bahkan mengurangi keseksiannya.

Icha sempat protes dengan penilaian sepihak itu. Namun karena hidupnya tergantung para pelanggan yang diservisnya, Icha pun manut.

“Rambut saja dibatasi hak-hak asasinya, kasihan bener deh echie.”

“Ya enggak begitulah cien. Yang bener orang krejong (kerja) selalu begindaanng (begitu). Echie bilang yeiy nggak usah merekah (marah), Santai aja cien.”

Setelah rambut Icha dikembalikan seperti aslinya, pelanggan pun kembali berdatangan. Ia berterimakasih pada Ramon dan mencium pipinya.

Endaaanng dapet cumi. Ntar hamidah gimana loh,” canda Ramon yang berarti ‘enak dapat ciuman, nanti kalau hamil gimana loh’.

Gaya kebanci-bancian Ramon tak membuat Icha terganggu. Justru sebaliknya ia merasa aman. Ia pun kerap datang ke RR Salon bukan sekadar untuk potong rambut, tapi juga curhat.

Selanjutnya Icha pun setuju saat Ramon menawarkan mencarikan pelanggan. Diantara kaum wanita, sebagian besar PSK, salon milik Ramon juga kerap didatangi kamu pria.

Karena lokasinya di daerah mesum, beberapa tamu pria sering minta dicarikan perempuan yang bisa diajak bercinta. Sebagai bagian dari kelengkapan servis, Ramon pun berusaha memenuhi permintaan pelanggannya. Icha pernah beberapa kali menjadi klien tamunya Ramon.

Suatu hari, saat mereka berdua, Icha mencoba merayu Ramon. Ia memeluknya dari belakang, menggesek-gesekan dadanya ke punggung pria itu, sementara bisikan menggoda juga ditiupkan ke telinga Ramon.

Sejenak Ramon sepertinya menikmati aksi horny Icha. Namun secara mengejutkan ia melepas pelukan Icha. Ia mohon Icha tak melakukannya lagi. Alasannya, hubungan mereka saat itu adalah klien, hubungan kerja.

Katanya, hubungan seperti itu tak boleh melibatkan emosi, apalagi seks. Sebab Ramon dilarang cemburu saat Icha melayani para tamunya.

Argumentasi itu sangat masuk akal. Sejak itu Icha tak pernah melakukannya lagi. Ia menganggap Ramon benar-benar banci. Maka begitu mendengar dari Arni bahwa Ramon telah melamar kawannya itu, Icha hanya tertawa dalam hati.

***

Takkala satu dari dua handhonenya berbunyi, Ramon segera mengangkat. Telepon itu pasti dari Arni karena ia sengaja memberikan nomor khusus.

Arni minta izin untuk membawa Icha ke kamar kosnya. Kata Arni, Icha kangen pada Ramon. Tentu saja Ramon tak mungkin menolaknya.

Arni bilang ia akan datang setelah buka puasa. Tapi Ramon mengusulkan agar buka puasa bersama di kamar kos Arni. Lalu ia pun memesan sejumlah makanan plus pizza kegemarannya. Ia siap mengganti uang yang dihabiskan untuk belanja Arni dan Icha.

Selama menanti kedatangan Arni dan Icha, tiba-tiba pintu kamar kosnya diketuk. Ramon mengira Arni sudah tiba dengan membawa belanjaan dan makanan pesanannya.

Ramon juga membayangkan wajah Icha tersenyum disamping Arni. Tapi ia menganggap senyum Arni labih manis dibanding Icha.

“Siapa ya?”

“Ini Ibu…Ibu kos”

Ramon terkejut sebentar karena tebakannya salah. Namun ia segera membukakan pintu karena ibu kos juga bukan orang lain. Mungkin ia akan mengabarkan beberapa info penting meski itu baru pertama kalinya dilakukan ibu kos.

Begitu pintu terbuka, Ramon tersentak karena dihadapannya bukan hanya berdiri Ibu kos yang ketakutan, tapi dua pria perkasa. Salah satu pria itu telah dikenalnya. Tanpa banyak bicara, Gofar, pria yang telah dikenalnya, menyeruak masuk kamar dan mencengkram leher bajunya.

“Hai banci, wani-wanine kon kabur. Sampai ujung dunia pun kon ndelik pasti ketangkap,” gertak Gofar dengan logat Surabayanya.

Pria sangar itu merupakan sosok paling ditakuti Ramon setelah Jaka. Gofar adalah tangan kanan Jaka. Ia akan melakukan apa saja yang diperintahkan bosnya, bahkan dengan cara lebih sadis melebihi tugas yang harus dilakukannya.

Mengingat kelakuan Gofar, Ramon pun tak memberikan perlawanan

Saat Gofar mencengkramnya, kawan Gofar mengacak-acak kamar kos Arni. Mungkin untuk mencari tahu barang penting yang disembunyikan Ramon.

Pria yang berusia lebih muda dari Gofar itu kemudian membawa dua handphone dan tas berisi dompet milik Ramon. Anehnya ia juga menyelipkan sebuah celana dalam milik Arni setelah mencium baunya.

Gendeng. Opo’o kon nggowo katoke lonte.

Iseng ae bos. Ambune aku koyok kenal.”

“Halah, iso-iso ae. Mangkane ta ojo nang Dolly* ben dino. Wis ayo cepet lungo.”

Mereka kemudian menggiring Ramon seolah petugas Densus 88 yang sedang mambawa teroris buruannya.

Sebelum pergi, Ramon sempat melirik ibu kos yang ternyata sedang tersenyum mengiring kepergiannya. Bukankah tadi ia ketakutan dan seharusnya tetap dengan wajah yang sama? Ramon jadi curiga ibu kos itu sedang bersandiwara.

Wanita bertubuh gemuk itu mungkin telah disuap Gofar untuk menunjukkan persembunyian dirinya. Jumlah uang suap jauh lebih besar dari uang tutup mulut yang pernah diberikannya.

Ia jelas merupakan wanita berbahaya dan Ramon jadi mengkhawatirkan keselamatan Arni.

*) Dolly adalah lokalisasi terbesar di Surabaya.

Tulisan juga diposting di sini

Tinggalkan Sebuah Komentar

Filed under novel

PSK Galau di Bulan Penuh Rahmat (3)


Ringkasan sebelumnya: Arni curhat pada Icha, sesama PSK, tentang ajakan menikah dari Ramon. Arni menunjukkan uang dan dua kartu ATM sebagai tanda ke seriusannya. Icha memberikan lampu hijau. Tapi Ramon ternyata menghilang, dibawa pergi paksa seseorang.  Selengkapnya…

Wanita itu selalu bicara dengan hatinya. Apalagi jika dihadapkan pada dua pria. Begitulah Arni melakukannya saat membandingkan antara Jarpul, suaminya, dengan Ramon, sahabatnya.

Sepintas orang menganggap Jarpulah yang akan didukung Arni karena ia suaminya. Faktanya, Jarpul tak pernah memposisikan sebagai suami. Ia minggat justru setelah Arni melahirkan anak keturunannya, yang kemudian diberi nama Raihan.

Parahnya ia minggat dengan seorang wanita nakal yang dikenal keluarga Arni. Kenyataan itu sungguh menyakitkan. Mempermalukan keluarga.

Sebenarnya orangtua Arni sudah memperingatkan agar tak berpacaran dengan Jarpul. Tapi Arni tak peduli. Ia sudah termakan rayuannya. Jarpul memang perayu ulung, playboy kampung.

Dia kakak kelas Arni saat SMA. Jarpul juga dikenal sebagai jagoan berkelahi di sekolah. Karena itu banyak disegani para siswa dan jadi idola para siswi. Arni termasuk siswi yang mengangguminya.

Tatkala Arni hamil karena perbuatan Jarpul, bapak ibunya segera menikahkan mereka. Tujuanya tentu saja menutupi aib, meski aib itu tetap saja dapat dibaca warga.

Keputusan itu dianggap lebih baik jika dibandingkan harus menghadapi pergunjingan soal Arni hamil tapi tak ketahuan bapaknya. Orang-orang desa akan mengkaitkannya macam-macam, ya dihamili jinlah, dihamili bapaknyalah, pokoknya serem.

Arni sempat menyesal karena telah menikah dengan Jarpul. Tapi penyesalan tak ada gunanya karena semuanya sudah terjadi, nasi sudah jadi bubur. Dan kini, lakinya itu tak ketahuan rimbanya.

Tapi kalaupun ketahuan posisinya, belum tentu Jarpul kembali untuk menunjukkan tanggung jawabnya. Bahkan mungkin malah malu dengan dirinya sendiri.

“Jadi biarin saja. Biar mampus saja. Mudah-mudahan sudah mati.” Arni bergumam sendiri saking kesalnya pada Jarpul.

Tatkala Arni ingin benar-benar menghapus si bedebah Jarpul itu dari lembaran hidupnya, tiba-tiba sadar bahwa ia sedang menjalani ibadah puasa. Sedang berada di tengah bulan Ramadhan, bulan penuh rahmat.

“Astagfirulloh,” ucapnya. Arni pun segera mendoakan agar Jarpul bahagia dengan wanita pilihannya.

Sebaliknya Ramon. Arni pun tersenyum membayangkannya. Dia bukan apa-apanya. Ramon juga bukan pria gagah seperti halnya Jarpul. Toh Arni yakin bahwa Ramon orang baik, jauh lebih baik dari Jagur. Ramon juga pria bertanggung jawab, jauh sekali bedanya dibanding Jagur.

Singkatnya, Ramon adalah sosok pria yang pantas untuk selalu dipikirkan dibanding Jagur. Sosok pria yang pantas merenda masa depan dengannya. Apalagi pria itu sudah menyampaikan keinginan untuk menjadikan Arni sebagai istrinya. Arni menyesal mengapa ia tak segera mengiyakannya.

Jika ia menjawab ya dari awal, mungkin Ramon tak akan menghilang seperti sekarang. Mungkin takkan sempat dibawa paksa oleh Jaka, teman bisnis sekaligus kekasih gelapnya. Jika Arni menjawab ya, mungkin mereka sudah berada jauh di luar pulau Jawa dan hidup berbahagia.

Ah, penyesalah selalu datang terlambat. Ramon kini tak tahu keberadaannya. Nomor handphonenya tak lagi bisa dikontak. SMS ke nomor milik Ramon pun tak pernah nyampai.

Meski begitu Arni selalu mendoakannya. Meminta Alloh menjaga keselamatannya. Arni yakin suatu saat Alloh akan mempertemukan kembali dirinya dengan Ramon, entah sampai kapan

***

Baiklah, Arni akan menceritakan bagaimana awalnya ia berkenalan dengan Ramon.

Sebagai penjaja cinta di ibukota, lima tahun lalu, Arni butuh menjaga penampilan. Bukan hanya merawat bodi dan memilih pakaian yang dikenakan, tapi juga menata rambut.

Dari beberapa salon yang telah dicoba, Arni kemudian tertambat di Salon Ashoy yang dikelola Ramon. Ia merasa cocok dengan cara pria itu memberi pilihan potongan rambut dengan model wajah dan tubuhnya.

Macicha atau Icha adalah teman sesama PSK yang terlebih dahulu mengenal Ramon dan memperkenalkan kepadanya. Lalu Arni ingat sapaan pertama Ramon kepadanya. “Rambutan yeiy bagus, yang punyanya apalagi,” katanya seraya menyentuh rambut Arni, seperti tak sabar untuk merapihkannya.

Arni tertawa dalam hati. Ia jadi ingat dengan beberapa sinetron yang pernah ia tonton dimana salah satunya memerankan sebagai tokoh bencong. Tokoh itu sekarang seperti sedang dimainkan Ramon.

Semakin lama mengenal Ramon, Arni baru tahu, bahwa dalam diri seperti ada dua hormon yang sama kuatnya. Yakni Hormon pria di satu sisi, dan hormon wanita di sisi lain. Hormon wanita itu menonjol saat ia berhadapan dengan pelanggan.

Tapi begitu sendirian, dan Arni kerap menemaninya, sisi pria Ramon jadi tampak. Misalnya, tiba-tiba saja ia menanyakan kapan Arni berhenti bekerja sebagai PSK. Ketika itu Arni menjawab sekenanya, yakni bila ada lelaki kaya raya dan bertanggung jawab yang mau mengawininya.

Jawaban itu membuat Ramon terdiam sejenak. “Kalau tukang potong rambut seperti aku nggak masuk kategori ya? Mustahil membuatmu insyaf?,” tanya serius.

Setelah tertawa mendengar pertanyaan yang dianggapnya aneh itu, Arni kemudian berkata” “Udah ah Mon, kita kan teman. Gini-gini aku masih punya siami loh.”

Sejak itu Ramon tak pernah menyinggung-nyinggung soal itu lagi. Bahkan tak lama kemudian ia menutup usaha salonnya dan pergi tanpa memberi kabar pada pelanggannya, termasuk Icha dan Arni.

Lima tahun kemudian, Ramon muncul lagi dan tak menunjukkan sisi kebanciannya. Arni tak terkejut. Tapi ia mengingat-ingat apakah sisi perempuan Ramon sempat muncul saat lima hari terakhir bersamanya.

Oh ya ya, Arni ingat. Kala menerima telepon dari seseorang, Ramon berteriak seperti menghadapi pelanggan salonnya. Tapi tak lama kemudian dia serius dan marah. “Emang gilingan (gila) tuh manusia. Jijay murkijay (jijik) deh echie.”

Ah Ramon-Ramon. Arnie tertawa sendiri, namun kemudian mukanya berkabut, sedih, karena memikirkan nasibnya kini.

***

Suatu malam, Arni tak bisa tidur memikirkan Ramon. Ia membolak balik dua buah kartu ATM yang dititipkan Ramon kepadanya.

Ia membayangkan dua kartu ATM atas nama Ramon Rahardjo itu berisi uang ratusan juta rupiah. Dan ia diberi hak untuk membelanjakannya.

Tapi Arni tak melakukannya. Ia menganggap uang itu adalah uang untuk masa depan anak-anaknya. Untuk masa depan Raihan dan adik-adiknya yang terlahir setelah ia resmi menjadi istri Ramon.

Setiap pagi Arni membayangkan akan disibukan untuk menyiapkan sekolah Raihan dan adik-adiknya. Ia akan bergantian dengan Ramon untuk mengantar anak-anak mereka ke sekolah dan menjemputnya saat pulang sekolah.

Lalu malam harinya ia akan mendongeng untuk mengantar anak-anaknya ke paraduan.

Anak-anak yang sehat dan lucu itu akan memanggil dirinya mama, dan memanggil papa kepada Ramon. Mereka tinggal di sebuah rumah mungil. Ramon punya beberapa usaha salon dan sejumlah karyawan tentunya. Arni ikut mengelola salah satu salon yang berlokasi tak jauh dari rumah.

Pada satu malam salah anaknya yang paling kecil tak bisa tidur meski Arni sudah mendongeng beberapa kali. Arni lalu bertanya mengapa si bungsu tak bisa tidur?

Laper ma, echie ingin makarena (makan)” katanya.

Jawaban itu membuat Arni tersentak dan segera bangun dari tidurnya. Rupanya ia baru saja bermimpi telah berumah tangga dengan Ramon yang memberinya sepasang anak, adik-adik Raihan, anak pertamanya.

Salah satu anaknya, mirip dengan Ramon, termasuk kelakuannya. Arni segera beristighfar. Ia melihat jam dinding, ternyata waktu imsak masih lama, masih terlalu malam untuk makan sahur.

Karena tak bisa tidur lagi. Arni memilih mengambil air wudlu dan melakukan shalat tahajud seperti diajarkan Ramon saat terakhir dengannya. (bersambung)

Tulisan ini juga diposting di sini

Tinggalkan Sebuah Komentar

Filed under novel

Tahun Terakhir Seorang Kepala Sekolah


Subarkah sedang menjalani tahun terakhirnya menjadi kepala sekolah. Ia sudah membuat kesepakatan dengan pemilik yayasan yang mengelola sekolah itu bahwa ia tak mau memperpanjang lagi jabatannya.

Cukup sudah waktu 15 tahun menjadi kepala sekolah. Ia tak boleh serakah, guru-guru di bawahnya juga ingin mencicipi jabatan yang didudukinya. Sekolah itu juga perlu regenerasi untuk menyegarkan suasana.

“Sudah saatnya saya mundur. Menjadi pendidik tak harus menjadi guru, apalagi kepala sekolah. Menjadi pendidik bisa dimana saja, bisa melalui apa saja.” Begitu Subarkah berkata saat menyampaikan keinginannya untuk meletakkan jabatan sebagai kepala sekolah.

Usia Barkah, demikian ia biasa disapa, sebenarnya baru 50 tahun. Belum usia pensiun jika ia bekerja di lingkungan pegawai negeri sipil. Apalagi di sekolah swasta, sekolah menengah Islam terpadu (SMPIT) Al Ikhlas. Pemilik Yayasanlah yang paling menentukan kapan ia bisa pensiun atau tidak.

Dengan prestasinya yang dianggap luar biasa, pemilik yayasan sempat menolak keinginan Barkah untuk pensiun. Alasannya, pihak Yayasan masih membutuhkan tenaganya. Namun karena sikapnya tak bisa ditawar, Yayasan akhirnya mengusulkan jabatan baru untuk Barkah sebagai Ketua Dewan Pengawas SMPIT. Tapi Barkah tetap menolaknya.

Barkah memang berperan besar mengharumkan nama sekolah itu bukan sekadar dari segi prestasi, tapi juga imej di mata masyarakat. Setahun setelah menjadi kepala sekolah, SMPIT Al Ikhlas selalu masuk dua besar sekolah dengan rata-rata nilai ujian nasional (UN) tertinggi.

Lebih dari itu, SMPIT yang dipimpin Barkah dianggap sebagai sekolah mahal nan merakyat. Betapa tidak, sekolah itu bukan hanya menampung siswa berasal dari keluarga menengah atas, tapi juga keluarga tak mampu.

Lulusan sekolah dasar terbaik di negeri ini bisa masuk SMP itu secara gratis. Tentu melalui seleksi ketat seperti siswa lainnya.

 

Ide menampung siswa pintar dari keluarga tak mampu itu awalnya ditentang keras pihak yayasan. Namun Barkah berhasil meyakinkan bahwa anak pintar tersebut justru akan menguntungkan pihak sekolah.

“Toh jumlah mereka kan tidak banyak, tidak sampai 1 persen dari jumlah siswa secara keseluruhan. Jika ternyata sekolah ini dirugikan karena keberadaan mereka, saya siap digantung. ” Barkah serius menyampaikan argumentasinya.

Istilah digantung yang punya makna lebih dari sekadar meletakan jabatan, ternyata cukup memberi keyakinan luar biasa kepada pihak yayasan. Barkah jelas tidak main-main dengan pilihannya.

Beberapa tahun kemudian terbukti sudah, anak-anak pintar dari keluarga miskin, memang pintar dari sononya. Satu dari mereka selalu masuk tiga besar terbaik di sekolah.

Nah, atas usul Barkah pula, siswa miskin terbaik itu memperoleh beasiswa untuk melanjutkan sekolah ke tingkat SMU. Hasilnya benar-benar tak mengecewakan. Siswa-siswa itu makin berkibar bahkan ada yang juara olimpiade tingkat internasional.

Nama SMPIT Al Ikhlas pun ikut terkenal. Dan itu terjadi beberapa kali. Lalu dari mulut ke mulut, nama Subarkah pun ikut harum. Beberapa sekolah swasta sempat menawari Barkah untuk menjadi kepala sekolah di tempatnya dengan iming-iming gaji dan fasilitas lebih baik. Barkah geleng kepala.

Bukannya ia tak tertarik dengan iming-iming itu. Sebagai manusia, Barkah juga ingin punya banyak uang dan kaya raya. Tapi Barkah tak mau mengulangnya dari awal. Ia juga tak yakin bisa melaksanakan ide-idenya di tempat yang baru.

***

Sejak kecil Barkah sudah hidup mandiri. Posisinya sebagai anak yatim-piatu dan sempat tinggal di sebuah asrama anak yatim membentuk kepribadian yang selalu prihatin sekaligus pantang menyerah. Keberpihakan pada orang miskin, sungguh tak tertandingi.

Barkah mengerti betul betapa susahnya menjadi orang miskin di negeri ini. Betapa menderitanya hidup tanpa orangtua kandung, tanpa kemudahan fasilitas di sekitarnya. Tapi takdir tak bisa ditolak.

Ia bersyukur termasuk orang yang beruntung, diberi otak pintar di tengah kemiskinannya. Meski tidak mudah, Barkah kecil yang selalu menjadi juara kelas sejak sekolah dasar, memperoleh beasiswa untuk melanjutkan ke perguruan tinggi.

Karena bercita-cita sebagai pendidik, ia pun masuk ke institut keguruan negeri atau dulu bernama IKIP. Barkah lulus dengan predikat Cum Laude.

Seorang guru besar di tempatnya kuliah, menawari menjadi dosen, namun Barkah menolak. Alasannya ia ingin bekerja di kota kelahirannya. Seperti gayung bersambut, Barkah diterima bekerja di SMPIT Al Ikhlas yang ketika itu baru dibuka.

Di sekolah itu Barkah muda diberi kesempatan menuntut ilmu ke jenjang S2. Setelah lulus, ia langsung ditawari menjadi wakil kepala sekolah. Setahun kemudian, ia pun merasakan menjadi orang nomor satu di sekolah itu.

Berbagai kebijakan terobosan dilakukan Barkah seperti menyekolahkan para guru dengan jumlah lebih banyak, mendatangkan narasumber ke sekolah, termasuk menampung siswa dari keluarga tak mampu.

Kepada siswa kelas tiga, ia pun memberlakukan bimbingan tes khusus menghadapi UN. Polanya dengan memberikan mata pelajaran dengan cara berbeda sesuai dengan kemampuan siswa.

Setiap bulan berdasar hasil bimbingan tes, siswa dibagi ke dalam kelompok A, B, dan C. Para siswa itu dibuat berlomba untuk masuk kelompok mana sesuai dengan kemampuannya. Hasilnya cukup efektif, hasil rata-rata UN SMPIT itu selalu lebih tinggi dari sekolah lainnya.

Sekolah itu juga selalu mengumumkan satu siswa terbaik setiap level setiap tahunnya. Siswa terbaik itu tentu saja memperoleh piala, piagam, dan tabungan. Semua orang ingin menjadi terbaik, sekolah harus memberi penghargaan kepada siapapun yang melakukannya,

Tahun lalu ada dua siswa terbaik kelas satu yang nilainya nyaris sama. Hanya beda nol koma, Ipang sedikit lebih baik dibanding Hisyam. Namun, sebelum memutuskan siapa yang akan diumumkan sebagai siswa kelas satu terbaik, Barkah memperoleh telepon dari pemilik Yayasan.

Sempat berdebat, akhirnya Barkah pun mengangguk-angguk seperti tak kuasa menahan keinginan pemilik Yayasan. Apa yang diinginkan pemilik Yayasan kemudian dikomunikasikan kepada guru lainnya. Semuanya pasrah.

Bagaimanapun kekuasaan kadang-kadang sulit dilawan. Lagi pula Ipang dan Hisyam toh sama-sama pintar. Bedanya Hisyam lebih beruntung dibanding Ipang karena dia anak dari pemilik yayasan.

***

Tahun ini keduanya mencapai hasil yang sama lagi. Ipang terutama menang di mata pelajaran matematika, Hisyam pada pelajaran bahasa Inggris. Sedang bahasa Arab jago kedua-duanya.

Pemilik Yayasan sudah menelepon Barkah. Para guru sudah ia diberitahu tentang keinginan pemilik yayasan. Tapi para guru kali ini menyerahkan keputusan siapa yang pantas menjadi siswa terbaik kepada Barkah.

Malam sebelum mengambil keputusan, Barkah melakukan solat istikharah. Besok paginya ia pun mengumumkan Ipang sebagai siswa terbaik.

Begitu kembali ke kantornya, pemilik Yayasan sudah menunggu dengan wajah kesal.

Semua guru SMPIT kemudian dipanggil. Mereka dikumpulkan di ruang meeting dan melakukan rapat mendadak.

Seperti sudah diduga, pemilik Yayasan menanyakan alasan mengapa Ipang terpilih sebagai siswa terbaik bukan Hisyam anaknya.

Lalu dengan tenang Barkah pun menjawab. “Kali ini saya memilih Ipang karena dia memang pantas mendapatkannya. Selain itu karena dia anak yatim piatu.”

Semua terdiam mendengar jawaban itu. Seperti belum bisa menerima alasan Barkah, pemilik yayasan kemudian melemparkan apa yang diputuskan kepala sekolah kepada para guru. Ia seperti sedang melakukan uji materi dengan meminta para guru menentukan pilihan, mendukung keputusan Barkah atau tidak, yang berarti berpihak pada dirinya.

“Yang mendukung boleh berdiri, dan yang tidak mendukung boleh tetap duduk.” Begitu perintahnya.

Diluar dugaan, semua guru berdiri. Pemilik Yayasan terpana dengan apa yang dilihatnya. Anehnya, ia pun ikut berdiri.

“Kalau begitu saya juga mendukung keputusan kalian. Selamat untuk semuanya,” ucap pemilik Yayasan. Tepuk tangan pun meledak.

Mereka kembali saling bersalaman, berangkulan, setelah pemilik yayasan meninggalkan ruangan.

***

Saat waktunya pamit, melepas jabatan dan pensiun sesuai kesepakatan, pemilik yayasan tak lagi berusaha menahan kepergiannya.

Sebaliknya, para guru dan siswa mengantarnya dengan tangis. Mereka benar-benar kehilangan sosok teladan, pemberani, yang mungkin takkan mereka temui beberapa tahun ke depan.

“Pasti akan banyak orang hebat yang lebih dari saya di sekolah ini. Percayalah…,” ucap Barkah kepada para guru dan siswa yang mengerubunginya sebelum masuk mobil untuk meninggalkan sekolah.

Dari jendela mobil, Barkah melambaikan tangan dan senyum penuh kemenangan.

—-

Sawangan 23 Juli 2012

Selamat menjalankan ibadah puasa.

Catatan: nama tokoh dan sekolah hanya fiktif belaka. Mohon maaf jika ada kesamaan.

4 Komentar

Filed under cerpen

Suami Pilihan Bapak


Pemakaman desa itu tampak ramai menjelang datangnya bulan suci Ramadhan. Seperti yang lainnya, Yunita dan Yusuf juga hendak memanjatkan doa untuk orangtua mereka yang telah tiada.

Selain memanjatkan doa, para pengunjung umumnya membersihkan makam keluarga. Makam orangtua Yusuf sendiri sudah bersih karena secara rutin selalu dirawat seseorang yang sengaja diberi upah oleh Yusuf.

Kedua orangtua Yusuf sudah meninggal dunia. Sedang kedua orangtua Yunita masih utuh meski sudah sepuh.

Nah, selain berdoa di makam kedua orangtua Yusuf, pasangan dengan dua anak itu juga selalu menyempatkan mampir ke makam bulik Maryam. Ketika masih hidup, almarhumah adalah tetangga keluarga Yusuf.

Lebih jauh dari itu, bulik Maryam nyaris jadi mertua Yunita.  Haikal, anak lelaki wanita itu pernah berpacaran dengan Yunita saat keduanya masih SMA. Hanya karena tak jodoh saja, Yunita urung menjadi bagian dari keluarga bulik Maryam.

Yunita bersyukur, suaminya ternyata tak mempermasalahkan posisinya sebagai mantan calon menantu bulik Maryam. Ia sama sekali tak khawatir akan munculnya kemungkinan CLBK (cinta lama bersemi kembali) antara istrinya dengan Haikal jika tak menjaga jarak dengan bulik Maryam.

“Justru karena dia orangtua Haikal, kamu harus bisa menjaga silaturahmi. Apalagi dia juga tetanggaku. Aku kenal siapa mereka,” kata Yusuf disertai senyum khasnya.

Beberapa tahun terakhir sebelum meninggal dunia, bulik Maryam memang kian membutuhkan bantuan. Tiga anaknya jarang ada yang pulang. Yusuf kerap tampil dan kerap memperlakukan bulik Maryam seperti orangtuanya sendiri.

Anak pertama bulik Maryam, Kinanti, diboyong suaminya yang warga negara Kanada. Ia baru sekali pulang selama 15 tahun bermukim di sana. Kinara, anak kedua, ikut suami yang anggota TNI bertugas di Papua. Baru lima tahun, belum sekalipun pulang kampung.

Sedang si bungsu Haikal tinggal di Jakarta, namun juga jarang menengok ibunya entah karena alasan apa.

Bulik Maryam sempat ikut Haikal di Jakarta, namun tak betah dan memilih pulang ke desa, meski akhirnya seperti wanita tua sebatang kara.

Yunita tak mau berprasangka buruk bahwa dialah penyebab jarangnya Haikal pulang kampung menengok ibunya. Ia merasa telah berpisah secara baik-baik dengan Haikal.

***

Haikal adalah cinta pertama dalam kehidupan asmara Yunita. Sosok Haikal yang ganteng, pintar, dan dari keluarga berada, telah menyedot perhatian banyak kaum hawa sejak remaja.

Yunita tentu saja bukan kekasih pertama Haikal. Namun dialah sosok wanita paling lama bertahan dalam kehidupan pemuda yang jago sepak bola itu.

Hubungan cinta Yunita dan Haikal mengalami pasang surut, putus nyambung. Penyebabnya lebih karena Haikal diam-diam kerap mendua, selingkuh. Yunita pun langsung minta putus begitu mengetahui apa yang dilakukan Haikal.

Anehnya, begitu putus dengan kekasih barunya, Haikal selalu kembali pada Yunita. Ia minta maaf, merengek, dan bersumpah takkan mengulanginya lagi. Lebih aneh lagi, Yunita selalu memaafkan dan menerima kembali kehadiran Haikal.

Tadinya ibu Yunita bangga anaknya memperoleh kekasih yang secara fisik tak mengecewakan. Namun begitu melihat anaknya kerap disakiti, kebanggaan punya bakal menantu seperti Haikal pun memudar.

Ia pun sempat meminta Yunita untuk berpikir ulang meneruskan hubungan dengan pemuda itu.

Bapak Yunita malah menjadi orang pertama yang sejak awal tak setuju ia berpacaran dengan Haikal. Alasan bapak terkait bobot, bibit, dan bebet. “Haikal memang ganteng dan pintar. Tapi pengetahuan agamanya kurang.” Begitu ayahnya bilang.

Alasan ketidaksetujuan ayah bertambah tatkala Haikal kerap gonta-ganti pacar. Ayah berkata kelakuan Haikal menurun dari ayahnya yang memilih tinggal bersama istri muda. Singkatnya, bapak juga akan jadi penentang pertama bila hubungan Yunita dengan Haikal ditingkatkan kearah lebih serius.

Tapi karena sudah terlanjur cinta, nasehat bapak dan ibunya hanya didengar beberapa saat. Masuk telinga kiri, keluar telinga kanan. Begitu bertemu Haikal yang belakangan kerap pergi ke Jakarta setelah lulus SMA, Yunita pun benar-benar tak berdaya, tenggelam dalam rayuannya. Itukah yang dinamakan cinta itu buta?

Ibunya pernah bertanya tentang kemungkinan Haikal telah merenggut keperawanannya sehingga sang anak menjadi pasrah. Yunita tak mengiyakan tak juga membantahnya. Yunita hanya mengaku tak siap putus cinta dengan Haikal.

Tatkala bapaknya menyodorkan nama Yusuf sebagai menantu pilihan, Yunita marah. Ia bahkan melakukan perlawanan dengan cara semakin mendekatkan diri pada Haikal.

Siapa Yusuf? Pemuda itu adalah kakak kelasnya di SMA. Ia anak pemuka agama di desa. Banyak warga, termasuk ayahnya menghormati ayah Yusuf.

Penampilan Yusuf memang tak mengecewakan. Tapi Yunita sama sekali tak tertarik kepadanya. Apalagi dibandingkan Haikal, di mata Yunita, Yusuf tak ada apa-apanya.

Karena itu tatkala pemuda yang kini memiliki usaha toko sekaligus bengkel sepada motor itu kerap main ke rumahnya, Yunita jadi kian terancam. Ia pun setuju dengan usulan Haikal untuk melakukan kawin lari.

***

Yunita ternyata dibawa Haikal ke Jakarta dan mengontrak di sebuah rumah petak. Haikal menjanjikan akan mencari penghulu untuk mengesahkan posisi mereka sebagai pasangan suami istri.

Namun penghulu yang dimaksud tak pernah datang. Yang terjadi, Haikal kerap pergi meninggalkan Yunita. Alasannya, ia mencari uang untuk menafkahi pelarian mereka. Bagaimana Haikal mencari uang, Yunita tak pernah diberi tahu.

Suatu hari, Haikal malah tak pulang hingga malam. Beberapa kali nomor handphonenya dikontak tapi tak diangkat. Yunita kian kesepian. Selama tinggal di rumah kontrakan, ia tak pernah bergaul dengan tetangga karena malu. Ia malu dengan statusnya yang tak jelas.

Karena itu bisa dibayangkan betapa menderitanya Yunita saat Haikal tak juga datang pada malam kedua. Pada malam ketiga Yunita pun menyerah, ia menelepon bapaknya dan minta dijemput. Begitu bapaknya muncul pada keesokan harinya, Yunita menangis sejadi-jadinya disertai permohonan maaf.

Hingga beberapa bulan kemudian, Haikal tak pernah terdengar kabarnya. Bulik Maryam juga tak pernah memberitahukan posisi anaknya. Selentingan kabar, pria yang dicintai Yunita itu mendekam dalam penjara karena tersangkut kasus narkoba.

Posisi Haikal seperti itu kian memperkuat keinginan bapaknya untuk menjodohkan Yunita dengan Yusuf. Yunita pasrah. Ia berpikir mungkin takdirnya harus berjodoh dengan pria yang tak pernah dicintainya itu.

Setahun hingga dua tahun pertama, Yunita merasa tersiksa menjalani hidup bersama Yusuf. Apalagi pada tahun kedua, bisnis yang dikelola sang suami bangkrut. Yunita pun jadi kembali teringat Haikal, dimana ia akan menjalani dengan setia dalam suka dan duka.

Nyatanya Haikal tak pernah muncul. Mungkin ia memang dipenjara dan terlibat perdagangan narkoba. Sebaliknya, Yusuf menjalani kebangkrutan dengan tabah. Ia mungkin tahu selama ini istrinya menjalani perannya secara semu. Tapi ia tak marah. Apalagi diperut Yunita terdapat jabang bayi, calon keturunannya. Ia makin menyayangi istrinya.

Perlahan tapi pasti Yunita menerima kehadiran sang suami dengan ikhlas tatkala mereka dikarunai dua anak lelaki yang ganteng. Hati Yunita berkata: ia memang tak pernah mencintai Yusuf. Tapi pria itu kini menjadi suami dan ayah kebanggaan anak-anaknya. Untuk kali pertama ia merasa, bersama Yusuf ternyata lebih aman dibanding jika ia bersama Haikal.

Sejak itu perekonomian pasangan Yusuf-Yunita terus berkambang. Yusuf bahkan sempat menjadi kepala desa satu periode karena periode berikutnya ia tak mau dicalonkan lagi. Setahun lalu, mereka juga sudah menunaikan ibadah haji,

***

Setelah menabur bunga dan berdoa di pusara makam kedua orangtua Yusuf, mereka beralih ke makam bulik Maryam. Dua anak mereka, bersama pasangannya masing-masing ikut serta.

Saat berdoa, tiba-tiba Yunita teringat Haikal. Pada lebaran tahun lalu, secara tak teruga, mereka berjumpa di makam itu. Haikal terkejut, apalagi Yunita. Ia terkejut karena wajah dan penampilan Haikal jauh berubah dengan apa yang pernah ia kenal.

Meski menggunakan topi, Yunita yakin kepala Haikal botak, tapi bukan karena keturunan. Tubuhnya kurus, kulitnya keriput, seperti habis terkena penyakit parah. Haikal tampak minder tatkala bersalaman dengan suaminya yang menyapa duluan dengan ramah.

Haikal bahkan buru-buru pamit seperti orang ketakutan kala menghadapi suaminya. “Kasihan dia (Haikal). Kayaknya ia menjalani hidup yang salah. Mudah-mudahan Tuhan memberinya jalan yang terang,” kata Yusuf. Yunita tak merasa tersindir dengan ucapan itu.

Ia malah kaget tatkala Yusuf mengetahui bahwa dirinya sedang melamun. “Tak apa-apa kok sesekali melamun. Anggaplah sebagai kaca spion agar kita menatap jalan ke depan dengan lebih berhati-hati,” tuturnya lembut.

Dalam perjalanan pulang dari pemakaman desa, diam-diam tangan Yunita meraih tangan Yusuf dan menggenggamnya erat-erat. Sang suami tampak kaget, namun tak menolak. Mereka pulang dengan saling bergenggam tangan seperti orang berpacaran.

Baru kali ini Yuni merasa benar-benar mencintai suami pilihan bapaknya.

 

————————-

Sawangan, 22 Juli 2012

Selamat menjalanlan ibadah puasa hari kedua

8 Komentar

Filed under cerpen

Perjuangan Seorang Pelamar Kerja


Samson baru tahu bahwa perjuangan hidup sesungguhnya adalah justru tatkala ia menjadi sarjana, mencari pekerjaan dengan modal ijazahnya itu. Dan hampir setahun ia masih berstatus sarjana pengangguran.

Seperti banyak sarjana lainnya, ia mengadu nasib dengan kesarjanaanya itu di Jakarta. Ternyata, tanpa pengalaman, uang, dan koneksi, ijazah yang diperolehnya selama lima tahun belajar di bangku kuliah itu hampir tak ada harganya.

Padahal Samson tak pernah minta digaji terlalu tinggi, apalagi minta fasilitas. Ia tahu diri. Yang penting diterima dulu. Yang penting statusnya sebagai pengangguran berakhir dulu. Nyatanya tetap saja tak banyak perusahaan yang mendengar aspirasinya karena sebagian besar dari mereka tak merespon lamarannya.

Singkatnya, dari puluhan lamaran pekerjaan yang telah ia bikin, baik melalui online ataupun via pos, hanya beberapa lamaran saja yang mendapat balasan. Perusahaan-perusahaan itu telah melakukan tes tertulis dan wawancara terhadapnya. Kemudian ada yang menganggapnya belum berhasil alias gagal, ada pula yang tak memberikan konfirmasi akan hasilnya.

Bahkan, saking inginnya memperoleh pekerjaan, Samson malah tertipu sejumlah uang. Kala itu sebenarnya Samson sudah curiga dengan motif wawancara plus minta sejumlah uang terhadap para pelamarnya. Meski uang tersebut diumpamakan sebagai deposit atau uang jaga-jaga, tetap saja dirasakan tak masuk akal.

Orang mencari pekerjaan kan untuk memperoleh uang, bukan untuk mengeluarkan uang.

Nyatanya Samson tetap mengikuti arus, sementara pekerjaan dan uang yang dijanjikan akan kembali, tak pernah diperolehnya.

Herkules, kakaknya, memang tak pernah keberatan menampung di rumah kontrakannya. Namun kakak iparnya, Karmila, tampak mulai tak nyaman dengan keberadaannya. Lagian sudah terlalu lama ia tinggal bersama keluarga sang kakak tanpa memperoleh kejelasan akan statusnya sebagai pelamar kerja.

Karena suntuk, Samson kerap keluar dari rumah tanpa tujuan. Untuk menghemat uang, ia memilih jalan kemanapun kaki melangkah dibanding menggunakan angkutan umum. Selama jalan-jalan, tak ada dana untuk jajan. Samson hanya berbekal air putih yang ia bawa dari rumah.

“Harus diakui, kadang-kadang saya putus asa menghadapi kenyataan ini. Tapi saya harus kuat. Percuma ayah dan ibu memberi nama saya Samson.” Begitulah Samson menuliskan perasaan dalam blognya. Namun tulisan itu kemudian ia hapus tatkala rasa putus asa kembali menyelimutinya.

Saat melintasi kawasan Cililitan, yang penuh dengan pedagang kaki lima, Samson tertarik mendekati sebuah kerumunan orang. Kerumunan itu ternyata berisi orang-orang yang sedang memandangi tiga formasi papan catur. Dengan membayar Rp 1.000, sang pemilik formasi catur menjanjikan melipatkan menjadi 10.000 jika bisa mengalahkannya.

Permainan itu jelas berbau judi, tapi karena merasa sering bermain catur, Samson terusik untuk menjajalnya. Ia yakin bisa mengalahkan sang pemilik papan catur itu.

Ternyata benar, dua dari tiga papan catur berhasil ia menangkan. Uang disakunya bertambah Rp 20.000. “Ah, ternyata betapa mudahnya mencari uang,” pikir Samson. Ia pun menjajal papan ketiga dan kalah.

Samson merasa keikutsertaannya sudah cukup. Ia tak mau tergoda. Namun ketika hendak pamit, pemilik catur dan orang-orang sekitarnya marah. Samson harus terus mengikuti permainan hingga pemilik papan caturlah yang menentukan kapan ia boleh pergi.

Samson mulai menangkap firasat bahwa ia sedang terperangkap pada kelompok penipuan jalanan. Ia mulai membaca bahwa sebagian orang yang ada pada kerumunan itu adalah berkawan karena terbukti mereka kompak menahannya pergi.

Tatkala ia mengembalikan uang yang baru diperolehnya, asal ia diperbolehkan pergi, pemilik papan catur malah marah. Samson dituduh telah menyembunyikan sejumlah uang kemenangan alias hendak menipu.

Pemilik papan catur itu pun memaksa Samson mengeluarkan dompet dan hendak merebutnya. Saat Samson berusaha mempertahankan dompet itu, seseorang menepuk bahunya. “Mas, kalau mau selamat jangan sok jadi jagoan di sini.” Ucapan itu membuat keberanian Samson luruh.

Ia pun membiarkan pemilik papan catur memeriksa dompetnya. Ketika handphonenya berbunyi, lagi-lagi Samson tak berdaya saat diminta menyerahkan alat komunikasinya itu. Ia pun tak diberi kesempatan melihat siapa yang sedang meneleponnya.

Pemilik papan catur itu memeriksa satu per satu lipatan dompet milik Samson. Seolah ia tahu ada uang yang sengaja disembunyikan Samson. Dandiantara uang Rp 75.000 yang terlihat dalam dompet itu, ada uang Rp 3.00.000 yang sengaja diselipkan di salah satu lipatan dompet.

Setelah yakin tak ada lagi uang tersisa, pemilik papan catur itu menyerahkan kembali dompet dan uang Rp 25.000 kepada Samson. Dengan enteng orang itu lalu berkata. “Nih dompetmu. Dan uang itu untuk mengganti harga handphonemu.”

Seperti anak kecil yang baru menerima kembalian uang, Samson dipaksa pergi seolah tak perlu lagi ada yang dipermasalahkan.

Sepanjang perjalanan, pikiran Samson jadi kosong. Ia terus berjalan pulang tanpa tak tahu harus berkata apa dengan peristiwa yang baru dialaminya. Ia juga tak tahu harus melakukan apa, mengadu kepada siapa, selain menyalahkan diri sendiri.

***

Samson lalu mampir ke sebuah masjid pertama yang ditemuinya. Ia mengambil air wudlu untuk shalat dzuhur sekalian beristirahat di masjid sambil menunggu shalat ashar.

Selama menunggu, pikirannya tidak fokus. Orang-orang yang datang ke masjid mengiranya Samson sedang berdzikir. Padahal sedang melamun.

Ia merasa penipuan itu telah menyempurnakan kegagalannya. Gagal mendapatkan pekerjaan, gagal menghadapi penipuan, dan mungkin gagal juga sebagai seorang lelaki.

Nadia, wanita yang selama ini menguatkan perjuangannya ke Jakarta, dianggap sebentar lagi akan menjadi masa lalu. Orangtua Nadia mengizinkan ia mempersunting anaknya asal punya pekerjaan. Namun syarat itu kini tak bisa ia penuhi. Samson pun pasrah bila Nadia akhirnya memilih pria pilihan orangtuanya.

Setelah shalat ashar, ia menghampiri kotak amal dan memasukan uang Rp 20.000 ke dalamya. Sisa uang Rp 5.000 rencananya akan ia gunakan sebagai ongkos naik angkot menuju rumah kakaknya yang masih cukup jauh.

Tapi baru beberapa langkah meninggalkan masjid ia melihat pengemis tua sedang berteduh. Tanpa berpikir panjang, ia menyerahkan uang terakhirnya kepada pengemis itu. Ia merasa pengemis itu lebih berhak menerima uangnya dibanding para penipu.

Anehnya, setelah itu Samson merasa perasaanya menjadi enteng. Ia merasa lebih ikhlas. Pulang jalan kaki pun seolah menjadi lebih ringan.

Perasaan itu kembali terasa berat tatkala hampir tiba di rumah kontrakan kakaknya. Samson bingung apa yang hendak ia katakan kepada kakaknya. Ia yakin sang kakak akan tetap melarangnya pulang kampung dan meminta tak putus asa. Tapi ia sudah patah arang.

Begitu sampai di depan rumah, kedua kakak seperti tengah menunggu. Wajah mereka tampak lebih cerah dari biasanya. “Waduh-waduh, dari mana saja kamu ini Son,” kata sang kakak.

Samson tak menjawab. Ia tahu bahwa itu pertanyaan basa-basi. Dan Samson belum siap menjelaskan apa yang baru dialaminya.

“Tadi ada orang yang menelepon ke rumah untuk mengabarkan bahwa kamu diterima bekerja di perusahaan itu. Orang tersebut bilang sudah menelepon handphone mu tapi tak diangkat. Kakak juga meneleponnya tapi gak kamu jawab. Emang dimana handphonemu?.” Sang kakak memberikan informasi beruntun.

“Aa…aa…ann..annu…kaaak.” Tiba-tiba Samson menjadi gagap. Ia benar-benar tak siap menerima kabar menggembirakan dari kakaknya sekaligus kabar buruk yang mesti disampaikannya.

Setelah berhasil menenangkan diri, Samson pun menjelaskan kronologi peristiwa penipuan dan perampasan handphone itu kepada kakaknya. Setelah itu ia minta izin untuk menelepon perusahaan yang telah mengabari dirinya diterima bekerja. Sang kakak tentu saja mengizinkannya dengan suka cita.

Setelah memperoleh kabar kebenaran bahwa ia akhirnya diterima bekerja, Samson minta izin untuk shalat magrib di masjid yang ada di sekitar rumah kontrakan kakaknya. Hal itu sebelumnya tak pernah ia lakukan.

Sang kakak seperti paham maksudnya, tak lupa ia menitipkan uang kepada adiknya. “Masukkan ke kotak amal dan bersyukurlah…”

Sawangan, 21 Juli 2012

Marhaban ya Ramadhan, selamat menjalankan ibadah puasa

6 Komentar

Filed under cerpen

Mendapat Istri Soleha


Jodoh memang di tangan Tuhan. Namun untuk menemukan jodoh ada kisahnya masing-masing.  Ada yang mudah, berliku, bikin haru, bahkan lucu.

Kisah pencarian jodoh yang lucu dan bikin terharu itulah yang dilakoni tiga jurnalis muda lulusan sebuah universitas di Surabaya, yakni Dayat, Cahya, dan Johan. Mereka sama-sama bekerja di sebuah perusahaan pers di Jakarta. Kebetulan mereka juga ngekos di tempat yang sama.

Bekerja, bekerja, dan bekerja adalah tujuan utama mereka di Jakarta. Semangat muda mereka benar-benar dimanfaatkan untuk kemajuan perusahaan sekaligus kepentingan karier mereka masing-masing.

Dalam perjalanan waktu, kisah asmara ketiganya tak bisa terabaikan. Dayat menjadi orang pertama yang menyatakan sudah punya pasangan. Tak jauh- jauh memang, cewek yang berhasil digaet Dayat adalah kawan satu kantor. Maya namanya.

Dayat adalah jurnalis bidang ekonomi sementara Maya karyawati bagian iklan. Demi memperoleh target iklan, keduanya sering dipertemukan dalam acara serupa. Benih-benih cinta pun muncul. Lalu mereka jadian.

Begitu mudahkah? Ternyata tidak. Setelah menaklukan pasangannya, Dayat ternyata harus juga menundukkan hati kedua orangtua Maya. Calon mertua wanita tampaknya tak masalah. Yang jadi soal serius adalah sang calon mertua pria.

Rupanya ayah Maya tak setuju anaknya memperoleh suami seorang jurnalis. Katanya, jurnalis tak bisa jadi kaya. Dayat tersinggung dengan ucapan itu. Tapi ia tak berdaya. “Mungkin saja anggapannya benar,” ucap Dayat di hadapan Johan, Cahya, dan kawan-kawan kos lainnya.

Suatu hari ia berkunjung ke rumah sang kekasih. Usai mengetuk pintu beberapa kali, Dayat kemudian mengintip kondisi rumah melalui kaca jendela. Saat bersamaan ayah Maya juga menyibak korden untuk mengetahui siapa tamunya.

Seolah permainan “Ciluk baaa,” Dayat bertatapan muka dengan calon mertua yang membencinya. Ia sempat mundur saking kagetnya. Jantungnya segera berdegub kencang. Begitupun ayah Maya. Keterkejutan tampak dialami sang calon mertua.

Pria yang sebagian rambutnya sudah beruban itu lantas masuk ke rumah. Ia menyuruh Maya yang membukakan pintu. Ayah Maya tampaknya tak sudi melanjutkan tatap muka dengan calon menantunya.

Hari itu serasa neraka buat Dayat.

***

Cahya ingin mengikuti jejak Dayat. Salah satu cewek yang dia incar adalah Naning, dari bagian resepsionis.

Berbagai cara ia tempuh untuk memperoleh simpatinya. Misalnya, setelah kembali dari Surabaya, Cahya secara khusus membelikan oleh-oleh untuk Naning.

Wanita itu tampak senang-senang saja. Ia memang cukup ramah, mungkin sesuai dengan tuntutan pekerjaannya.

Masalahnya, saingan Cahya cukup banyak. Jurnalis muda lainnya juga berlomba memperoleh tempat di hati Naning. Seperti juga Cahya, masing- masing memiliki berbagai jurus pedekate.

Namun secara mengejutkan, Naning akhirnya menempelkan undangan pernikahan dengan Kiko, salah satu nama jurnalis yang tak pernah diduga bakal menjadi pemenangnya. Bagaimana Kiko dan Naning jadian? Hampir semua pesaingnya tak tahu dan tak memahaminya.

Mungkin hanya malaikat dan Kiko-Naning sendiri yang tahu. Banyak yang patah hati, termasuk Cahya. Namun mereka segera melupakannya, karena dunia toh tak sedaun kelor. Jumlah wanita juga lebih banyak daripada pria.

***

Bagaimana dengan Johan? Dibanding Dayat dan Cahya, ia memang paling pendiam. Ia tak gampang mengumbar kisah sekitar cewek yang diimpikannya.

Johan beralasan belum keburu ingin punya pasangan karena masih punya tanggungan. Yakni dua adik yang harus dibiayai sekolahnya.

Meski tak agresif, ternyata ada juga cewek di kantornya yang menyukai Johan. Suatu kali, Johan malah sempat diadili teman-teman satu kosnya karena dianggap menelantarkan wanita.

Ceritanya, Siska si cewek itu, menanyakan keberadaan Johan kepada Dayat, Cahya, dan teman satu kosnya. Siska bilang sudah janjian.

“Kalau sudah janjian ditepati dong. Hargailah wanita. Ibumu juga wanita.”  Begitu salah seorang kawan mengadilinya.

Johan mengakui telah janjian dengan Siska. Namun penyebab utama ia mengingkari janji tak pernah diungkapkannya. Ia memilih menerima  hujatan kawan-kawannya dan berjanji untuk minta maaf kepada Siska.

Kejadian sesungguhnya adalah karena Johan kesal, lebih tepat cemburu kepada Siska. Saat itu, Johan sudah menunggunya di suatu tempat di kantornya. Ternyata Siska tak muncul-muncul juga. Lalu Johan melihat Siska malah bercanda mesra dengan Dewata, yang dikenal sebagai mantan cowoknya. Dengan hati panas, Johan lalu pergi. Telepon dan SMS dari Siska dicuekinnya. Teramat sepele memang.

Esok harinya, dengan senang hati Siska memaafkan Johan. Mereka lalu jalan bareng, nonton bioskop, ngobrol sana ngobrol sini, ketawa-ketiwi. Beda dengan Siska yang terbuka, Johan berusaha menutupi hubungan tersebut dari pengetahuan teman-temannya.

Rupanya perbedaan sikap itulah yang membuat hubungan mereka renggang sendiri tanpa sempat memunculkan komitmen. Johan menganggap Siska terlalu agresif. Sebaliknya, Siska menganggap Johan sebagai pria peragu.

Mungkin karena sudah dua kali gagal, Siska lalu pindah kantor. Kebetulan ia diterima menjadi PNS di sebuah departemen basah yang kini memunculkan nama Gayus Tambunan.

Kawan-kawan kembali menyalahkan Johan yang telah menyia-nyiakannya.

Kebetulan Cahya juga ngepos di departemen tersebut. Ia jadi kerap bertemu dengan Siska. Karena satu kos, Cahya pun menyampaikan salam Siska kepada Johan.

Cahya bilang sebenarnya Siska masih menyukai Johan dan bersedia untuk CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali). Tapi Johan meminta Cahya menyampaikan permohonan maafnya. Johan bilang belum siap mencari pasangan lagi, entah sampai kapan.

***

Dayat sendiri akhirnya berhasil meluluhkan hati sang mertua. Dayat-Maya pun menikah. Cahya dan Johan menjadi orang pertama yang datang ke acara resepsi pernikahannya.

Siapa bakal menyusul Dayat? Cahya dan Johan rupanya tak berani taruhan. Mereka menyatakan jodoh tak bisa dipertaruhkan, jodoh ada ditangan Tuhan.

Ternyata Dayat memperoleh tawaran pekerjaan lebih baik. Ia pindah ke rumah mertua indah. Sedang Johan dan Cahya memutuskan mencari tempat kos yang baru.

Suatu hari, tanpa di sengaja, Johan bertemu Cahya di Jalan Sabang. Ketika itu keduanya sama-sama menggandeng pasangan. Namun yang bikin Johan terkejut, ternyata cewek yang digandeng Cahya adalah Siska. Apakah mereka jadian? Pertanyaan itu langsung menggelayut di pikiran Johan.

Karena takut mengejutkan, Johan memilih menyelinap di pertokoan agar tak diketahui Cahya dan Siska. Susan, cewek yang tengah dipacari Johan bingung. Ia baru ngeh setelah dikasih tahu Johan tentang latar belakang menghindari pasangan pria-wanita di seberangnya.

Pada titik tertentu Cahya ingin menyampaikan sesuatu yang dianggapnya sangat penting kepada Johan. Cahya mengaku tak mudah untuk menyampaikannya.

Setelah menangkap maksudnya, Johan mengusulkan agar hal penting itu disampaikan di tempat yang rileks. Johan juga mengusulkan agar mengundang Dayat sebagai saksinya, biar lebih santai. Cahya setuju.

Mereka lalu janjian di sebuah restoran di Taman Ismail Marzuki (TIM). Sebelumnya, Johan telah memberi tahu Dayat bahwa sesuatu yang penting itu adalah tentang Siska. Mungkin Cahya berat menyampaikan bahwa ia akhirnya harus berpacaran dengan Siska, yang dikesankan sebagai “bekasnya” Johan.

“Dia mungkin hendak memberikan suprise. Jadi seolah-olah kita nanti kaget sekali.” Dayat mengangguk-angguk mendengarkan pesan dari Johan.

Ternyata apa yang mereka perkirakan benar adanya. Cahya menyampaikan sudah jadian dengan Siska. Seperti dalam skenario awal, Johan dan Dayat pura-pura terkejut.

Mereka pun mengakhiri acara dengan makan-makan yang enak-enak. Semua dibayari Cahya yang tampak sedang berbahagia.

Sedang Johan dan Dayat tersenyum-senyum dibuatnya.

***

Jodoh memang di tangan Tuhan.  Johan kemudian pindah kerja seperti Dayat. Di sana ia menemukan jodohnya .

Karier Dayat sendiri melesat. Ia jadi bos dan kaya . Dayat berhasil mematahkan anggapan miring mertuanya, meski sang mertua meninggal dunia tanpa melihat hasil jerih payahnya.

Bagaimana dengan Cahya? Ia menikah paling akhir dan bukan dengan Siska. Cahya menikah dengan seorang istri yang soleha, sabar, dan setia. Ya, istri sangat setia karena dengan sabar dan ikhlas merawat Cahya yang sejak tiga tahun lalu menderita penyakit stroke sehingga tak bisa beraktivitas seperti sedia kala.

Tinggalkan Sebuah Komentar

Filed under cerpen

Bodohnya Aku Berpacaran dengan Preman


Kita mungkin pernah merasakan yang namanya pengalaman bodoh. Pengalaman seperti itulah yang aku rasakan dalam perjalanan pulang kampung setelah 13 tahun tak melakukannya.

Dari Stasiun Gambir aku mudik menggunakan Kereta Api Ekskutif Bima. Suamiku hanya bisa mengantar sampai stasiun, karena keesokan harinya, ia harus terbang ke Malaysia dalam rangka tugas kantor.

Aku memandang dua anakku yang tertidur pulas. Si bungsu yang masih TK tidur bersebelahan dengan pengasuhnya. Sedang si sulung yang sudah kelas V SD terlelap disampingku sambil memeluk bantal kecil dengan sarung bertuliskan PT KA.

Sebelumnya, sepanjang perjalanan mereka terus bercanda. Pengalaman naik kereta memang bukan yang pertama bagi mereka. Suamiku pernah mengajak dua bocah itu menikmati perjalanan kereta ekskutif dalam sebuah liburan ke Bandung.

Namun tetap saja perjalanan menggunakan kereta merupakan pengalaman sensasional bagi anak-anak seusia mereka. Apalagi kali ini akan lebih lama. Pengalaman pertama anak-anak mengunjungi kampung halaman leluhurnya.

Mungkin Anda bertanya, kenapa aku begitu lama tak pulang kampung? Bukankah jarak Madiun-Jakarta tak terlalu jauh? Bukankan setiap tahun ada hari Lebaran dimana orang Jakarta akan berbondong mudik, pulang kampong?

Lagi pula perjalanan menggunakan pesawat ke Solo atau Surabaya pun banyak? Anda mungkin sudah menebak, pastilah aku tak kesulitan dengan ongkos pulang kampung. Lalu kenapa?

Ceritanya memang panjang.

***

Sekitar 13 tahun lalu sebelum ke Jakarta, aku berpacaran dengan Firman, kakak kelasku di SMA. Orangnya nekat, dikenal sebagai jagoan sekolah.

Banyak cewek yang kagum padanya. Begitupun aku. Berada disampingnya sangat nyaman karena nggak ada kawan yang menganggu.

Dari sekian siswi, ternyata akulah yang paling disukai. Suatu hari ia nekat apel ke rumahku. Aku tentu senang menerimanya, tapi tidak dengan orangtuaku.

Bapak dan ibuku mencium aroma tak baik pada diri Firman. Ketika hal itu disampaikan kepadaku, aku jelas membelanya. Akupun sering bertengkar dengan bapak ibuku tentang Firman.

Firman lulus duluan. Setelah gagal memasuki tes perguruan tinggi negeri (PTN) dan AKABRI, ia menganggur dan ikut bimbingan tes lagi. Selama mengisi waktu kosong ia jadi kerap nongkrong di terminal bus, lalu menjelma menjadi salah satu preman di sana.

Orangtuaku kian membenci pacarku itu. Sebaliknya aku malah kian lengket. Aku bahkan rela menyerahkan mahkota keperawanku kepadanya. Sejak itu, nilai pelajaran sekolahku menurun. Sama seperti Firman, aku juga tak lolos tes masuk perguruan tinggi negeri.

Bapak dan ibu menawariku masuk perguruan tinggi swasta. Tapi aku menolak, semangat belajarku sudah pudar. Agar tak mengecewakannya aku bilang akan ikut tes masuk PTN lagi tahun depan. Untuk itu, aku kembali ikut bimbingan tes.

Saat itulah aku jadi punya alasan untuk selalu berdekatan dengan Firman. Aku pun jadi merasa ketergantungan kepadanya. Dalam pikiranku sepertinya tak ada lelaki lain selain doi.

Lebih baik aku mati saja jika dilarang bertemu Firman. Jadi apapun yang ia minta aku menyerahkannya tanpa bertanya. Uang untuk membayar bimbingan tes, misalnya, aku serahkan begitu saja saat ia meminjam dan tak mengembalikannya.

Pernah perhiasan ibuku aku curi dan diberikan kepadanya hanya untuk memberikan tambahan modal membeli sepeda motor bekas. Sepeda motor itu rencananya akan disewakan sebagai motor untuk ngojek, lalu janjinya, uang sewa akan diserahkan padaku.

Orangtuaku panik. Dengan berbagai cara, mereka berusaha memisahkan hubungan asmaraku dengan Firman. Setelah memperoleh saran dan doa-doa dari orang pintar, aku pun diungsikan di rumah pamanku di Jakarta.

Ada dua paman yang merupakan adik ibu di Jakarta. Orangtuaku memilih menitipkan kepada paman yang berprofesi sebagai anggota polisi. Alasannya, tentu saja, untuk menghadang Firman jika nekat menyusulnya.

Hari-hari tanpa Firman sungguh sangat menyiksa. Diam-diam aku tetap menelepon dan memberitahu posisiku di Jakarta. Harapannya agar dia menyusulku di Jakarta. Ternyata harapanku tinggal harapan. Firman tak berani ke Jakarta

Mungkin dia memang tak berani ke Jakata karena pamanku. Ia mengaku pernah ke Jakarta dan tak betah dengan kekejam ibukota. Firman memang hanya preman kamung, jago kandang.

***

Kini, dalam perjalanan pulang kampung setelah 13 tahun, wajah dan kenangan bersama Firman muncul lagi.

Tapi bukan kenangan rindu melainkan kenangan menakutkan. “Aku takut mantan kekasih itu kembali memaksaku tunduk. Aku tak mau kembali ke masa lalu.” Kataku dalam hati.

Agar sukses melupakan Firman, orangtuaku mengikuti pesan orang pintar bahwa aku tak boleh bertemu pacarku, minimal selama 10 tahun.

Setiap kali lebaran, bapak dan ibu merelakan diri mengunjungiku ke Jakarta bukan sebaliknya.

Lalu akupun dijodohkan dengan suamiku sekarang. Beda usia kami 10 tahun dan ia tak mempermasalahkan masa laluku. Ternyata tak selamanya perjodohan itu mengecewakan.

Tatkala ayahku meninggal dunia, aku tetap tak dibolehkan pulang kampung. Aku sangat sedih. Ketakutan dengan masa laluku masih membekas pada ibuku sehingga ia ikhlas aku tak pulang. Lagi-lagi cukup suami yang mewakiliku pulang kampung.

Kini, bersamaan rencana 100 hari selamatan meninggalnya ayahku, keinginan pulang kampung tak bisa dicegah. Apalagi saat itu kedua anaku sedang liburan. Suamiku memberi izin. Ia yakin aku pulang aman tanpa diganggu mantan kekasihku.

***

Anak-anak sudah bangun dan tampak ceria menyaksikan pemandangan pagi di luar kereta memasuki perbatasan daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Perjalanan kereta yang aku tumpangi rupanya agak terlambat, namun aku tak peduli.

Dari Stasiun KA Madiun aku mencarter mobil menuju rumah orangtua tanpa ditawar. Sang sopir tampak suka cita, mungkin dipikirannya jarang-jarang ada calon penumpang seperti aku yang tak menawar.

Sepanjang perjalanan kedua anakku terus berceloteh. Akupun menjelaskan nama-nama tempat yang dilalui, termasuk cerita masa mudaku di tempat itu. Tak seperti Jakarta yang berkembang pesat, kota tempat kelahiranku tak banyak berubah.

Tiba-tiba, menjelang terminal bus Maospati, mobil yang aku carter bannya gembes. Sialnya mereka tak membawa ban serep. Ketika ada tukang ojek menghampiri, akupun segera memutuskan naik ojek setelah membayar ongkos mobil.

Kami lalu beralih menggunakan dua sepeda motor pengojek, juga tanpa menawar. Tukang ojek bertubuh kurus dan menggunakan helm, lalu bertanya mau diantar kemana. Akupun menyebut nama desa dan nama orangtuaku.

Begitu sampai di tempat tujuan, tukang ojek yang mengantarku ternyata tak mau dibayar. Ia lalu mengajak rekannya segera kembali ke arah terminal. Aku sempat terbengong sebelum akhirnya melupakannya karena terhanyut dengan sambutan ibu, saudara, dan tetangga yang heboh. Kebetulan mereka sedang sibuk di rumah mempersiapkan selamatan 100 hari kematian bakakku.

Mereka tampak terharu melihatku. Mereka memuj bahwa dengan kerudung, aku tampak anggun, awet muda dan makin cantik. Sebagian dari mereka tak mau jauh dariku mungkin ingin tahu ceritaku selama 13 tahun di Jakarta.

Saat itulah salah seorang tetanggaku berbisik bahwa tukang ojek yang tadi mengantarku adalah Firman, mantan kekasihnya. Akupun mengangguk-angguk sambil berkata dalam hati pantas tak mau menerima ongkos darinya.

“Dia sekarang sudah sakit-sakitan dan sebatangkara karena ditinggal istrinya. Dia sudah bukan preman lagi. Pasti si Firman itu takkan lagi berani menganggumu.” Seseorang berbisik lagi seolah sebuah kesimpulan.

“Dia sekarang minder lihat kamu,” imbuh si pembisik tadi.

Sejak seminggu berada di kampung halaman, aku memang tak pernah lagi melihat Firman. Padahal mataku berusaha mencari sosoknya saat beberapa kali melewati terminal.

Konon, sejak kedatanganku, Firman tak pernah datang lagi ke terminal, entah kemana. Mungkin ia benar-benar minder.

Tinggalkan Sebuah Komentar

Filed under cerpen

Anak Berbakti, Bapak Meninggal dengan Tenang


Yuni tertegun menyaksikan Narko, adiknya, telah berdiri di depan pintu sambil menggandeng mesra seorang wanita ayu. Rambut dan pakaian keduanya tampak agak basah terkena tempias air hujan pada payung yang mereka gunakan.

Sejenak mereka saling berpandangan. Begitu Narko menyapa duluan dengan menyebut namanya, Yuni segera tersadar bahwa ia harus segera mempersilahkan masuk tamu yang juga adik kandungnya.

“Eh, iya, aduh…Ayo silakah masuk. Mbak nggak nyangka akan kedatangan tamu hujan-hujan begini,” kata Yuni terbata-bata.

“Kenapa kamu nggak nelepon mbak dulu sih? Oh ya, kalian tadi naik apa ke sini?” Yuni berkata lagi, basa-basi.

Yuni segera mengambilkan handuk kecil dan memberikan kepada Narko. Handuk itu untuk mengelap lengan, wajah, dan rambut yang agak basah. Tak lupa Yuni memanggil Mbok Sinem, pembantu rumah tangga, agar membuatkan teh panas bagi tamunya.

Dari kejauhan Mbok Sinem melirik Narko, pria ganteng yang pernah diasuhnya saat masih anak-anak. Mbok Sinem adalah sosok pembantu rumah tangga turun-temurun. Setelah bekerja pada orangtua Wahyuni-Sunarko, kini ia meneruskan pengabdian pada Yuni.

Narko sendiri segera mencari sosok yang akrab di telinganya. Mata mereka lalu bertemu. Keduanya tersenyum.

“Mbok, apa kabar. Sehat kan Mbok?” Narko menyapanya tatkala perempuan yang hampir seluruh rambutnya beruban itu menghidangkan dua gelas teh hangat di atas meja.

“Kabar baik Mas. Mas Narko sendiri bagaimana? Itu calonnya ya?” Mbok Sinem tersenyum sambil melirik perempuan muda berambut lurus sebahu di sebelah Narko.

“Betul Mbok. Ini calon istri saya. Cantik kan Mbok?”

Mbok Sinem tersenyum lagi dan mengangguk. Saat ia hendak kembali ke dapur, Yuni menggandeng tangan Mbok Sinem untuk mendampinginya mengobrol. “Narko kan bukan tamu…” kilah Yuni.

Tantri, calon istri Narko ikut tersenyum. Ia mencoba memahami pemandangan yang ada di depannya, meski dengan perasaan aneh menyaksikan seorang pembantu rumah tangga ikut serta dalam sebuah sebuah diskusi rencana pernikahan yang dianggapnya serius.

Mbok Sinem duduk disamping Yuni. Meski demikian ia tetap memposisikan sebagai orang lain yang tak punya hak bicara dalam pertemuan itu.

Berceritalah Narko tentang maksud kedatangannya. Tantri, anak sulung dari empat bersaudara itu akan menjadi istrinya. Ayah Narko, yang juga ayah Yuni, sudah melakulan lamaran kepada orangtua Tantri. Tanggal pernikahan mereka bahkan sudah ditentukan.

“Jadi Narko ke sini sengaja untuk memberitahu rencana pernikahan saya dan Tantri. Narko juga menyampaikan salam dari bapak. Bapak minta maaf tak memberitahu mbak soal rencana pernikahan ini jauh hari…”

Yuni diam sejenak. Ia tak tahu harus berkomentar apa. Meski bapak kandung, ia sudah lama melupakannya. Bapak dianggap punya peran penting atas kematian ibunya. Lebih dari itu, ia punya pengalaman traumatis juga mengingat sosok sang bapak.

Meski benci pada bapak, tak punya alasan bagi Yuni untuk membencinya adiknya juga. “Mbak nggak apa apa kok. Mbak malah senang mendengarnya. Mbak juga sudah lama memaafkan bapak”

“Kalau begitu mbak bisa datangkan kan ke pernikahan Narko?”

Yuni mengangguk. Narko tampak puas, mukanya langsung berseri-seri. Selebihnya, Yuni cenderung mengalihkan pembicaraan menjadi seputar Tantri daripada membahas Narko yang berarti membahas dirinya sendiri.

Yuni seolah sedang mengukur sejauh mana wanita yang kelihatan baik itu akan cocok dengan Narko? Bagaimana pula jika kelak akhirnya ia tahu latar belakang keluarga Narko?

Tantri tentu berbeda dengan Budiman, suami Yuni. Budiman adalah teman Yuni semasa kecil. Dia tahu betul siapa Yuni dan bagaimana latar belakang keluarganya.

Justru Budiman pulalah yang menguatkan agar dia datang ke resepsi pernikahan Narko.

“Bukankah kamu sudah memaafkan. Tak baiklah membenci seumur hidup ayah kandung sendiri sebesar apapun kesalahannya.” Budiman berkata lembut sambil mengelus pundaknya. Yuni tersenyum, lalu memeluk suaminya. Air mata tak terasa membasahi pipinya. Antara sedih dan bahagia seolah menjadi satu.

***

Resepsi pernikahan Narko dan Tantri diselenggarakan di aula sebuah gedung kantor pemerintahan. Tamunya cukup banyak. Umumnya dari keluarga mempelai putri sebagai penyelenggara perkawinan.

Di atas altar pernikahan, Yuni bangga melihat adiknya tampak gagah dan ganteng bak putra seorang raja dengan pakaian adat Jawanya. Tantri yang bertubuh mungil pun tampak cantik dan anggun. Sebelah kiri mereka berdiri orangtua Tantri yang mengesankan sebagai pasangan orangtua yang bijak.

Yuni berusaha tak melihat pasangan orangtua sebelah kanan yang kelak akan disalaminya terakhir. Pasangan itu adalah bapaknya yang berdampingan dengan seorang wanita muda seusia dirinya. Narko pernah bilang, bahwa bapaknya telah menikah lagi untuk ketiga kalinya. Istri kedua bapak tak tahan dan memilih minta cerai,

Almarhumah Ibu adalah istri pertama bapak. Meski kerap mendengar bapak selingkuh, ia tak pernah minta diceraikan. Ia hanya tak mau serumah lagi dengan bapak setelah memergokinya hendak memperkosa anaknya sendiri, Yuni.

Perbuatan itu tak termaafkan bagi Ibu. Ia mengancam pulang kampung dengan membawa serta anak-anak. Bapak kemudian mengalah meninggalkan rumah namun dengan membawa Narko yang masih balita. Ibu yang hanya lulusan SMP tak berdaya mempertahankannya. Ia hanya bisa menangis sepanjang hari.

Penderitaan yang bertumpuk-tumpuk itulah yang membuat ibu sakit dan beberapa tahun kemudian meninggal dunia.

Mengingat itu, Yuni jadi sakit hati lagi. Ia tak sudi melihat bapaknya saat bersalaman di resepsi pernikahan. Padahal sang bapak berusaha tersenyum dan ingin menyapa, meski tertahan dalam tenggorokannya.

***

Beberapa tahun kemudian, Yuni mendapat kabar dari Narko bahwa bapak ditinggalkan begitu saja istri ketiganya. Wanita yang usianya berbeda 20 tahun dari sang bapak membawa serta sejumlah uang dan sejumlah barang berharga.

Yuni menerima kabar itu sebagai hal biasa. Ia merasa wajar saja bapaknya menerima perlakuan itu karena ia memilih pendamping hidup hanya karena kecantikan fisiknya, bukan hatinya.

Narko yang telah dikarunai seorang anak selanjutnya mengabarkan bahwa bapak dirawat di rumah sakit. Yuni juga menganggapnya kabar itu biasa. Ia sama sekali tak tertarik menjenguknya meski Narko memberikan sinyal bahwa sakit bapak semakin parah.

Yuni kembali ingat betapa bapak juga tak pernah lagi menengok ibu yang sakit kala itu. Bahkan bapak tak muncul saat ibu dikuburkan. Narko hanya diam manakala Yuni pernah bilang. “Bapak macam apa orang seperti itu!” Ia terlalu kecil untuk bisa memahami peristiwa yang membuat sakit hati sang kakak.

Suatu hari, Yuni kembali dikejutkan kehadiran Narko dan Tantri yang tiba-tiba telah berdiri di depan pintu sambil menggandeng anak mereka. Rambut dan pakaian ketiganya tampak agak basah terkena tempias air hujan pada payung yang mereka gunakan.

Kali ini keduanya memelas saat mengabarkan kondisi sakit bapak. Kata dokter, sakit bapak tak bisa lagi disembuhkan. Hanya keajaiban yang bisa menolongnya.

“Pak kyai mengatakan bahwa hanya mbak yang bisa menolong Bapak. Selama sakit, bapak memang selalu menanyakan Mbak.” Narko menyampaikan itu dengan suara pelan, takut menyinggung perasaan kakaknya.

Kakaknya terdiam. Budiman kemudian mengajak Yuni ke kamar, mungkin untuk mendiskusikan masalah itu. Setelah 15 menit mereka keluar dan menyatakan siap pergi untuk menjenguk bapak. “Pengaruh suami Yuni memang luar biasa. Tak salah namanya Budiman,” kata Narko dalam hati. Ia tak percaya sang kakak akhirnya mau menjenguk bapak.

Seperti telah diduga, bapak tampak bahagia bertemu Yuni, meski tak terucap dalam kata-kata. Sebaliknya Yuni menangis sambil berucap bahwa dia dan almarhumah ibu sudah memaafkan bapaknya.

Sejak itu, dengan alasan kondisi fisiknya membaik, bapak minta dipulangkan dari rumah sakit. Ia merasa sudah lega dan tak ingin lagi merepotkan siapapun. Dokter tak bisa mencegahnya.

Sampai di rumah bapak minta dibaringkan di ruang tamu dengan alasan ruangannya lebih lega. Sebelum pulang, Yuni dan Budiman pamit dan berpesan untuk mengabari jika terjadi apa-apa dengan Bapak.

Belum sehari di rumah, Narko menelepon Yuni dengan suara tertahan. Ia mengabarkan bapak meninggal dunia. Yuni dan Budiman segera berkemas untuk kembali ke rumah Bapak.

Di pekarangan rumah bapak sudah banyak orang berkumpul. Mereka memandangi Yuni yang masuk ke rumah sambil dipapah Budiman. Terdengar suara berbisik. “Anak berbakti sudah datang. Bapaknya meninggal dengan tenang…”

Bapak memang seperti ingin menebus kesalahan masa lalunya. Di akhir hayat, bapak benar-benar tak mau merepotkan siapapun. Ia meninggal dengan tenang…

Tinggalkan Sebuah Komentar

Filed under cerpen

Tiga Perempuan yang Menangis


Kinara masih tujuh tahun. Tapi ia sudah bisa membedakan mana teman baik, mana pula yang jahat. Mana cowok ganteng, mana yang jelek. Kelak, katanya, Kinara ingin punya pacar ganteng sekaligus baik seperti Vincent, kakasih baru kakaknya.

Ya Vincent belum lama jadian dengan Kamila, sang kakak. Nara, panggilan Kinara, ikut senang. Dukungan sang mama membuat semua menjadi bahagia. Mila dan Vincent pun menjadi pasangan ideal di mata Nara.

“Kak Mila cocok banget deh sama kak Vincent. Kaya Romeo and Juliet.” Nara mengatakan dengan serius. Mila senang mendengarnya. Kisah Romeo and Juliet yang pernah diceritakan Mila kepada adiknya ternyata masih diingat.

“Kalau sudah besar nanti, Nara juga ingin seperti kakak. Doa kan ya?” Mila mengangguk sambil tersenyum.

“Ya pastilah, Ra. Tanpa kamu minta pun kakak selalu mendoakan semoga Nara jadi anak yang sukses dan bahagia. Jadi orang berguna bagi orangtua, bangsa, dan negara. Juga bagi kakak,” katanya sambil tertawa. Nara ikut tertawa.

***

Perkenalan Vincent dengan Mila terjadi di salon yang dikelola mamanya. Mila kala itu membantu sang mama di salon karena libur sekolah. Lalu Vincent muncul untuk memangkas rambutnya yang mulai panjang. Pria berkulit putih dan berkumis tipis itu, baru pertama berkunjung ke salon mamanya.

 

Mila langsung terkesan dengan wajah ganteng Vincent. Pria itu juga sempat meliriknya dan tersenyum. Sayangnya, ia hanya memberikan jawaban singkat saat sang mama berusaha mengakrabkan diri dengan bertanya asal-usulnya.

Di luar dugaan, sebulan kemudian Vincent datang lagi. Katanya, ia merasa cocok dengan potongan mamanya. Setelah merasa jadi pelanggan, ia pun mulai memberanikan diri menanyakan Mila. Begitu dijawab bahwa Mila adalah anak sang pemilik salon, Vincent mengaku sudah menduga.

Begitulah, kami akhirnya tahu siapa Vincent. Ia adalah mahasiswa baru di sebuah universitas di kota dimana kami bermukim. Ia tinggal di rumah pamannya, tak jauh dari salon yang dikelola mama Mila.

Kesan baik yang ditunjukkan Vincent membuat mamanya memberikan lampu hijau untuk berkenalan lebih jauh dengan Mila. Tak lama kemudian, mereka pun berpacaran. Nara menjadi pendukung utamanya.

Ini karena selain ganteng, Vincent juga pintar mengambil hati Nara. Ia kerap membelikan es krim, coklat, dan mainan buat Nara.

“Wah nanti kak Mila dan Vincent jadi suami-istri ya? Terus punya bayi. Terus manggil Nara bibinya dong. Lucu juga ya…” Nara berceloteh. Mila, Vincent, dan mamanya lagi-lagi tertawa. Seolah apa yang dikatakan Nara akan menjadi benar adanya.

***

Sejak berpacaran, Vincent jadi kerap datang ke rumah Nara. Tak sampai menginap memang, tapi pemuda itu sudah seperti anggota keluarga. Keluar masuk tak perlu lagi permisi.

Suatu hari Nara pergi ke sekolah dengan naik ojek. Mamanya mengaku sedang sakit sehingga tak bisa mengantar Nara dan libur ke salon. Sedang Mila berangkat ke sekolah lebih pagi karena jarak sekolahnya dari rumah lebih jauh.

Tapi di sekolah ternyata Nara hanya masuk setengah hari karena gurunya harus mengadakan rapat.  Karena tahu sang mama sakit, Nara pun pulang sendiri dengan berjalan kaki.

Sampai di halaman rumah ia melihat sepeda motor Vincent. Ia senang karena pria itu pasti membawakan sesuatu untuk dirinya.

Nara masuk ke rumah secara perlahan dengan maksud ingin mengagetkan Vincent. Ternyata pria yang dicarinya tak ada di ruang tamu. Nara langsung berpikir bahwa kemungkinan Vincent di kamar mandi atau di dapur untuk memperbaiki sesuatu yang rusak. Ternyata tak ada juga.

Setelah semua ruangan yang dicari tak ada, otak Nara langsung mengarah ke lantai atas, di mana kamar dia, Mila, serta kamar mamanya saling berada.

Ternyata benar. Di tangga Nara melihat baju mamanya ada yang tercecer hingga depan kamar. Kamar sang mama ketika itu tak terkunci. Nara lalu mengintipnya  secara perlahan.

Begitu melihat apa yang terjadi di dalam kamar, jantung Nara langsung berdegup kencang. Wajahnya pucat. Sambil menahan tangis, Nara berlari masuk ke dalam kamarnya.

Di kamar, air mata Nara mengalir deras. Ia tak tahu harus berbuat apa. Ia tak bisa memahami apa yang baru saja terjadi. Seolah segalanya tiba-tiba gelap. Yang baik jadi jahat. Yang selama ini dihormatinya tiba-tiba menjadi paling dibencinya.

Ia merasa mamanya bukan hanya telah berbohong, tapi terlalu tega menyakiti dia dan kakaknya.

Dari dalam kamarnya, Nara tahu kapan Vincent pulang. Kapan pula mamanya kaget begitu mendengar keterangan gurunya bahwa Nara sudah pulang.

Lebih kaget lagi begitu mengetahui Nara sudah berada di kamarnya dengan mata sembab. Ada kepanikan di wajah sang mama, meski ia berusaha untuk menutupinya.

“Cerita dong sama mama, mengapa Nara menangis. Please…” Nara Cuma diam.

“Tadi kak Vincent ke sini nanyain Nara…” Sang mama menyelidik soal kemungkinan sang anak tahu apa yang dilakukan Vincent di kamarnya. Tapi Nara tetap diam seribu bahasa.

Mamanya kian bingung. “Tadi Vincent cuma titip sepeda motor aja, lalu diambil lagi sambil menanyakan Nara dan kak Mila.” Sang mama tampak terpaksa berbohong untuk menutupi kebohongan pertama yang sudah dibikinnya.

***

Mama Nara putus asa menghadapi sikap anaknya. Biasanya dalam kondisi seperti itu ia masih tenang karena masih ada Mila. Jika ada masalah dengan dirinya, Nara memang selalu curhat dengan Mila.

Tapi masalahnya kali ini agak berbeda. Sang mama takut curhat Nara kali ini terkait skandal yang dibuatnya dengan Vincent. Kalau itu yang terjadi, ia merasa menjadi ibu paling bodoh di dunia. Bahkan, tak pantas menjadi ibu dari Mila dan Nara. Ia dihantui perbuatannya sendiri. Takut sekali.

Maka begitu Mila pulang dari sekolah, ia memeluknya dan menangis. Mila tampak bingung. Lebih bingung lagi tatkala, Nara juga keluar dari kamar menghambur ke pelukannya sambil menangis.

Setelah puas menangis ketiga perempuan itu duduk bersama. Mila mendengarkan unek-unek sang mama dan adiknya. Kala itu sang mama mengaku khilaf dan berjanji tak akan mengulangi perbuatan nistanya. Ia pun pasrah atas hukuman yang akan diberikan kedua anaknya.

Di luar dugaan, Mila tampak tenang, bahkan memaafkan mamanya. Nara juga ikut-ikutan. Syaratnya, sang mama dan mereka bertiga tak akan menerima kahadiran Vincent lagi. Bahkan akan melaporkan ke polisi jika memaksanya.

“Dia itu memang pria brengsek, Ma. Mila sudah menyelidikinya. Cewek yang dikencaninya banyak, termasuk tante-tante…” ungkap Mila dengan bibir bergetar menahan marah.

Sang mama lega mendengarnya. Namun ia merasa kasihan sekaligus sangat malu kepada Mila. Juga Nara!

4 Komentar

Filed under cerpen

Anakku Saksi Mata Kasus Pembunuhan


Halim terkejut melihat anak lelakinya, Jevan, muncul dengan kepala gundul. Kaila, adik Jevan bahkan langsung menertawakan kepala gundul kakaknya.

“Tau tuh tukang cukur main papras rambut aku saja.” Keluhan itu langsung meluncur dari mulut Jevan. Ia seolah tahu, papanya akan melontarkan pertanyaan beruntun tentang rambutnya: kenapa? kok bisa? harusnya?

Jangankan papanya, Jevan sendiri bingung dengan kejadian bodoh yang dialaminya. Ia kesal kepada tukang cukur, tapi tak berdaya. Seolah nasi telah menjadi bubur. Meski kesal, Jevan tak mungkin meminta rambutnya yang telah dipotong dikembalikan.

Pertanyaan beruntun kemudian datang dari mamanya di rumah. Dengan disisakan rambut kurang satu centimeter, kata sang mama, Jevan jadi tampak kian bundar mendukung tubuhnya yang gemuk.

Sebelum berkepala gundul, hampir semua isi rumah mendorong agar Jevan memotong rambutnya yang sudah panjang dan cenderung kriting. Kata papa-mamanya, rambut Jevan sebenarnya bagus. Sayangnya ia malas merawat. Keramas kalau pas ingat. Akhirnya rambut yang seharusnya bagus itu jadi tampak gimbal. Kayak gembel!.

“Masa rambut gimbal tidurnya di kamar ber-AC. Nggak cocok kale.” Papanya menyindir.

Saking gemesnya, mama Jevan pernah memaksa untuk mengeramasi rambutnya. Tapi itu hanya terjadi sekali saja. Setelah itu Jevan menolak mamanya melakukan hal serupa. Alasannya ia sudah dewasa, sudah disunat.

Hanya karena gurunya ikut menegur rambut Jevan yang tak terurus, akhirnya ia menuruti ajakan papanya untuk potong rambut.

Kali ini Jevan diajak potong rambut bukan pada tukang cukur langganan mereka. Alasannya pada saat bersamaan Kaila harus ke mini market untuk menukar kupon berhadiah yang sudah dikumpulkannya. Minimarket itu persis disamping kios tukang cukur.

Maka setelah memesan potongan yang diinginkan, bukan potongan gundul, Halim dan Kaila meninggalkan Jevan ke minimarket sebelah. Di mini market itu ternyata Kaila bukan hanya menukar kupon, tapi juga memilih-milih makanan dan minuman kesukaannya.

Eh, pas hendak membayar, komputer onlinenya mati sehingga harus dicatat kodenya satu persatu.

Saat antre membayar itulah Jevan muncul dengan kepala Gundul. Halim terkejut. Adiknya yang berbeda tujuh tahun dari Jevan langsung berteriak “Kepala kakak botak kaya Hadi hahaha….”

Hadi adalah teman main Kaila yang kerap diledekin Jevan dengan sebutan Hadi botak meski kepalanya tidak botak. Rupanya ia seperti kena hukum karma?

“Kepala gundul kan sama dengan kepala botak ya, Pa?” Jevan tersenyum seperti membenarkan perkataan adiknya.

***

Satu kali di akhir pekan, Halim mengantar kedua anaknya les. Istrinya kebetulan sedang ada pekerjaan tambahan di kantornya. Usai les, seperti biasanya, mereka jalan-jalan dan makan di mal.

Nah, saat makan di sebuah restoran cepat saji yang ada di mal, serombongan polisi datang mengiringi komandan mereka berpangkat Komisaris Besar, pangkat setingkat Kapolres. Halim menduga ada peresmian penting di mal tersebut.

Salah seorang polisi tiba-tiba menatap Jevan dengan serius. Jevan tampak terkejut dan segera tertunduk. Untungnya polisi itu segera berlalu. Namun peristiwa yang berlangsung sekitar satu menit itu mengusik keingin tahuan Halim.

Di rumah Jevan memenuhi janji untuk bercerita terkait tatapan polisi tadi. Ternyata Jevan mengungkapkan cerita yang mengejutkan bahwa ia menjadi saksi mata pembunuhan seorang pengedar narkoba.

Kala itu, Jevan sedang mencari Edo, teman sekolahnya, di sebuah gedung mangkrak sekitar 500 meter dari SMP negeri, tempat mereka bersekolah.

Ia hendak meminta flash disk yang dipinjam sang teman. Dalam flash disk tersebut ada data tugas sekolah yang belum dikoreksi dan harus dikumpulkan esok harinya. Jevan pun terpaksa memberanikan diri mencari sang kawan di gedung angker yang belum pernah dimasukinya itu.

Lalu ia berpapasan dengan seorang pria berambut cepak, bertubuh kekar, dan mengenakan jaket kulit hitam. Setelah bertanya ini dan itu, lelaki itu melarang Jevan meneruskan tujuannya. Pria itu seperti bisa menyimpulkan bahwa Jevan masih polos, bukanlah orang yang dicarinya.

Jevan akhirnya menuruti larangan itu karena takut. Namun ia tidak pulang karena harus mendapatkan flash disk pentingnya. Ia menyelinap masuk gedung melalui jalan lain.

Dengan mengendap-endap ia melihat bayang-bayang dua pria sedang berbincang-bincang. Salah satunya, pria berambut cepak yang tadi mengusirnya. Jevan berkosentrasi mendengarkan perbincangan keduanya.

Lalu si pria bertubuh kekar itu tampak marah besar. Sejurus kemudian ia mengeluarkan pistol dan menembak lelaki kurus di hadapannya. Pistol itu tampak kedap suara. Namun Jevan melihat korban penembakan berteriak dan tersungkur. “Jantung Jevan terasa berhenti sejenak , lalu berdegub kencang menyaksikan pemandangan itu.”

Esoknya Jevan membaca berita di koran lokal bahwa mayat di gedung angker itu adalah seorang pengedar narkoba. Lalu disebutkan, diduga korban dibunuh oleh sesama pengedar narkoba terkait urusan perebutan daerah kekuasaan.

Teman Jevan, Edo, membenarkan hal itu. Ia menyebut korban pembunuhan adalah alumni di sekolah mereka yang salah memilih teman. Edo bersyukur hari itu tak jadi datang menemui korban karena sepeda motor yang dinaikinya kempis, kena paku di jalan.

Halim terbengong mendegar cerita Jevan. Ia seolah tak percaya pengalaman mengerikan itu harus disaksikan anak sulungnya.

“Lalu apa hubungannya dengan polisi yang membikin kamu takut di mal tadi?” Halim bertanya serius sambil menatap lekat-lekat wajah anaknya yang mulai berjerawat kecil di dahinya.

“Masalahnya, wajah pria tadi persis dengan wajah polisi itu, Pa!” tegas Jevan.

“Hah! Serius kamu.”

“Seriuslah, Pa. Tahi lalat di pipinya sama persis. Pandangan matanya juga. Jevan berani sumpah!”

Halim bingung. Kepalanya tiba-tiba terasa berat karena disesaki banyak tanda tanya. Seorang polisi menembak pengedar narkoba sudah biasa jadi berita. Polisi menjadi beking peredaran narkoba juga bukan isapan jempol semata di negeri ini. Tapi tentu harus ada alasannya? Harus ada motifnya? Bukankah pengedar narkoba yang jadi korban pembunuhan itu juga punya keluarga?

Halim merasa apa yang dialami anaknya seperti kisah dalam sebuah film yang pernah disaksikannya, tapi entah film apa?

“Waktu bertemu polisi itu rambutku kan gimbal. Untungnya kepala aku sekarang gundul ya Pa. Jadi polisi itu tak mengenaliku lagi ,” duga Jevan sambil mengusap-usap rambut gundulnya.

Halim tertawa dalam hati.

***

Halim menceritakan kembali apa yang dikisahkan anaknya kepada sang istri. Mulanya sang istri serius. Namun begitu semua kisah dirampungkan, dan Halim menyebut sebuah film, ia tertawa ngakak.

“Papa…, itu kan kisah film Witness yang kita saksikan beberapa malam lalu.”

Ya, film yang dibuat sekitar tahun 1985 itu dan diputar ulang di saluran televisi berlangganan. Halim jadi inget, film itu dibintangi salah satu aktor idolanya, Harrison Ford.

Dalam film itu sang aktor menjadi polisi putih bernama John Book yang harus melindungi seorang bocah sekaligus saksi mata pembunuhan yang dilakukan polisi hitam, rekan sekantornya. Ironisnya, polisi hitam itu dilindungi atasannya langsung.

Seperti biasa, Book akhirnya berhasil membongkar persekongkolan polisi jahat dengan geng narkoba itu. Nah, usai nonton film, Halim sempat melontarkan tanya kepada istrinya; masih adakah polisi putih seperti detektif John Book di negeri ini?

Istrinya memberikan jawaban menggantung. “Mungkin ada, tapi Mama nggak tahu siapa?.”

“Ah, sudahlah. Begitulah jadinya jika terlalu banyak nonton film detektif.” Kata sang istri, lalu ngeloyor pergi ke kamar tidur.

Di depan laptop, Halim tercenung lama. Antara mimpi dan kenyataan seperti berbeda tipis.

Benarkan apa yang telah diceritakan Jevan tadi siang? Mengapa polisi bersih di negeri ini selalu menunjuk contoh yang sudah meninggal dunia seperti Jendral Hoegeng dan Jendral Kunarto?

Ia lalu menutup laptopnya dan menyudahi fiksi yang sedang dibuatnya dengan dua alinea.

“Jika apa yang diceritakan Jevan benar, semoga keluarga korban pembunuhan diberikan ketabahan, semoga polisi yang melakukannya segera bertobat, dan kasusnya terungkap.”

“Jika ternyata salah atau mimpi belaka, semoga pembaca bisa memakluminya.”

Tinggalkan Sebuah Komentar

Filed under cerpen

Misteri Miranda (5): Bibit, Bobot, Bebet


Siapa Miranda sebenarnya? Ia dilahirkan di sebuah kota di Jawa Timur. Ayahnya seorang pengusaha. Sangat sibuk.  Sedang ibunya tak bekerja alias ibu rumah tangga .

Wajah cantik Miranda adalah warisan dari ibunya, Sarita, yang konon pernah menjadi  bunga Desa, primadona di sekolah. Wajah sang ayah, Subandi, biasa saja. Ia juga tidak pintar tapi berasal dari keluarga kaya raya. Keluarga pedagang sukses.

Kesuksesan sang ayah sebenarnya sudah membuat Bandi punya nilai lebih di mata lawan jenisnya.  Betapa tidak, Bandi selalu berpakaian necis dan wangi.  Saat pemuda sepantarannya masih menggunakan sepeda ontel dan sepeda motor, ia telah membawa mobil kemana-mana.

Untungnya bakat bisnis keluarga menurun pada Bandi. Di tangan ayah Miranda itu, usaha keluarga kian maju.  Nama Bandi pun kian tenar. Gaungnya menembus hingga tingkat provinsi. Lalu karena aktivitasnya di organisasi pengusaha, ketenaran ayah Miranda pun mulai terendus ke tingkat nasional.

Akibatnya sang ayah kian sibuk. Ia pun menyerahkan kendali bisnis kepada adik perempuannya,  Astini. Masalahnya, Astini sejak awal tak menyukai Sarita, ibu Miranda. Ia membenci kakak iparnya itu justru karena tahu siapa Sarita.

Mereka pernah satu sekolah saat SMA. Kala itu Sarita menjadi primadona sekolah karena kecantikan dan kemolekan tubuhnya. Seperti bunga yang sedang mekar, banyak lelaki yang bersaing untuk memperoleh cintanya. Rupanya Sarita menikmati posisi sebagai primadona. Ia bergonta-ganti pacar. Dan itu yang membuat Astini membencinya. Benci sampai sekarang!

Di mata Astini, Sarita bukan wanita primadona tapi wanita murahan.  “Bahkan dia itu sebenarnya pereks (perempuan eksperimen)…” ucap Astini kepada ibunya kala tahu Sarita akan menjadi kakak iparnya.

“Waktu sekolah dulu dia juga pernah melakukan aborsi. Pokoknya Asti nggak setuju punya saudara seperti dia!,” kata Asti lagi setengah berteriak. Rencana pernikahan Subandi-Sarita sempat tertunda karena itu.

Subandi sebenarnya tahu siapa Sarita. Namun ia sudah terlanjur cinta. Kala menjadi primadona sekolah, Bandi yang menjadi kakak kelasnya, tak ikut-ikutan latah memburu cinta Sarita. Ia justru menikmati posisi sebagai siswa keren yang dirubungi banyak siswi.

Baik Sarita maupun Subandi sebenarnya mencium aroma kelebihan masing-masing. Hanya karena terbentur ego mereka sendiri, perjodohan kedua lawan jenis di tingkat SMA saat itu menjadi imposible alias tak mungkin.

Secara tak terduga, keduanya kembali di terima di Universitas negeri yang sama. Tentu saja Subandi duluan, lalu disusul Sarita. Sebagai teman SMA dan berasal dari daerah yang sama, intensitas pertemuan keduanya tak terhindarkan. Sejak itulah benih-benih asmara muncul. Witing tresno jalaran soko kulino.

Penolakan Astini terhadap Sarita, bahkan akhirnya bisa dipatahkan manakala sang ayah yang saat itu berbaring di rumah sakit mendesak Subandi segera melamar Sarita. Bagi sang ayah, semua orang punya masa lalu. Artinya jika pun benar apa yang dikatakan Astini tentang Sarita, itu pun masa lalu.

“Yang paling penting kamu dan calonmu saling mengenal. Ada kecocokan, punya chemistry. Tak ada manusia yang sempurna,” ucap sang ayah.

Mendengar itu, Astini memilih diam. Ia ingin membantahnya, tapi tak tega. Ayah-ibunya memang sangat ingin menimang cucu, menginginkan salah satu anaknya segera menikah. Mengharapkan dia juga tak mungkin, karena ia belum punya pasangan yang cocok.

Di mata Astini, Sarita tetaplah bukan wanita baik-baik. Jika menikah harus menimang-nimang unsur bobot, bibit dan bebet, Sarita tak memenuhi syarat itu. Sarita berasal dari keluarga tak jelas. Keluarga broken home.

“Mungkin itupulalah yang membuat ia enteng melakoni petualangan cinta dengan kecantikannya?” Astini membuat kesimpulan dalam hatinya.

Lalu lahirlah Miranda. Sebuah nama pemberian sang kakek yang berarti luar biasa.

Semuanya bahagia. Astini pun sejenak melupakan permusuhan dengan Sarita karena kini punya keponakan yang cantik dan lucu. Ketika itu penyakit  kakek Miranda tak kunjung sembuh. Tak lama kemudian ia meninggal dunia namun dengan wajah yang puas. Puas karena sudah punya cucu. Generasi ketiga keturunannya.

Kebencian Astini kepada Sarita kembali muncul tatkala ia menikah dan juga punya anak.  Entah mengapa Sarita dianggap sebagai pesaing yang bisa mengancamnya. Mungkin mengancam terkait pembagian harta warisan yang juga akan dinikmati kakak iparnya.

Terhadap  Miranda, Astini tak menunjukkan kebencian itu. Ia kerap menelepon untuk menanyakan kabarnya.  Namun, dari cara pandang ketika mereka bertemu, Miranda merasa bahwa tante Asti tak menyukai ibunya.

Ketidaksukaan itu kian tampak tatkala ayah Miranda menyerahkan sebagian operasional bisnis keluarga kepada Astini. Subandi sendiri lebih banyak menjalin lobi sekaligus membuka jaringan bisnis di ibukota.

***

Kerap ditinggal suami dalam waktu yang lama, Sarita berkonsetrasi membesarkan Miranda. Setahun dua tahun ia menikmatinya. Toh, apa pun tersedia. Uang kiriman dari suaminya lebih dari cukup.

Namun perjalanan hidup manusia tak pernah ada yang mengetahuinya. Sarita secara tak sengaja bertemu Dino, mantan pacarnya di sebuah mal. Mulanya hanya saling menyapa. Kemudian saling bertanya kesibukan masing-masing. Di akhir pertemuan, mereka lalu saling tukar menukar nomor PIN blackberry.

Saling menyapa dan menggoda berlanjut melalui BBM. Tentu saja untuk menjaga rahasia, Sarita memberikan nomor khusus kepada mantan pacarnya. Ia percaya bahwa sang mantan kini berstatus duda seperti pengakuannya. Ia sangat tersanjung bahwa sang mantan masih mencintainya dan menyebut dirinya sebagai cinta pertama.

Begitulah selanjutnya mereka saling mengisi kekosongan. Miranda yang masih kecil sempat protes dengan kehadiran pria lain selain ayahnya. Sarita berusaha meyakinkan bahwa Dino hanyalah teman biasa. Cuma bekas teman sekolah. Tak lebih dari itu. “Bohong dikit pada anak, apa salahnya?” pikir Sarita.

Kecukupan harta saja agaknya tak cukup bagi Sarita. Batinnya kesepian. Berkurangnya perhatian suami, dan kebencian yang kembali dimunculkan adik iparnya menjadi alasan bagi Sarita untuk mencari pelarian. Pelarian itu tak lain dengan memunculkan CLBK alias cinta lama bersemi kembali bersama Dino.

Awalnya hubungan CLBK itu hanya diketahui mereka berdua. Miranda pun tak boleh mengetahuinya. Sayangnya, serapat-rapatnya menyimpan bau busuk perselingkuhan, lama-lama tercium juga. Parahnya yang mencium gelagat itu adalah Astini. Miranda yang masih kecil tak membenarkan adanya pria lain dalam kehidupan ibunya.

“Namanya om Dino. Kata ibu dia hanya teman biasa. Cuma bekas teman sekolah. Tak lebih dari itu.” Miranda mengulang apa yang dikatakan ibunya tentang Dino.

Pengakuan Miranda sungguh menganggetkan Astini. Ia tahu betul siapa Dino. Waktu muda pria itu ganteng dan pinter. Ia pernah menaksirnya dan tak memperoleh tanggapan. Karena itu ia sangat marah kepada Astini.

Ia yakin Astini sedang melakukan perselingkuhan. Sedang mengkhianati cinta dan kepercayaan kakaknya.

Sayangnya sang kakak yang sedang sibuk tak mau diganggu. Ia malah tetap membela istrinya dan menuduh Astini mengada-ada. Iri sesama kaum wanita yang tak ada habis-habisnya.

Astini tak kehilangan akal. Kali ini ia lebih bersemangat membongkar perselingkuhan kakak iparnya. Sebab, niat itu bukan sebatas karena kebencian kepada Sarita, lebih dari itu guna menyelamatkan kehormatan kakaknya. Bukankan niat yang terakhir itu mulia?

Ia lalu menyewa seseorang untuk memata-matai Sarita. Lebih dari itu ia juga mengontak kawan-kawan lama tentang keberadaan Dino. Demi memperoleh informasi itu, Astini rela mengeluarkan dana seberapapun besarnya.

Begitu info dan bukti-bukti foto diperoleh, Astini puas. Ia cukup menyerahkan bukti-bukti itu manakala sang kakak pulang dari Jakarta. Bayangannya, Subandi langsung naik pitam, lantas mengusir Sarita dan menceraikannya.

“Yess!” Tiba-tiba Astini mengepalkan tangannya, seolah memperoleh undian yang lama diinginkannya. (bersambung)

Tinggalkan Sebuah Komentar

Filed under novel

Misteri Miranda (4): Jadi HL di Koran


Kadang kala dalam hidup ini, apa yang kita rencanakan tak sesuai dengan harapan, apa yang kita harapkan tak sesuai dengan kenyataan. Bahkan untuk hal sepele sekalipun.

Saya, Sony Agus Mahendraputra (SAM) mengalaminya. Hari itu saya hanya ingin segera sampai ke rumah. Nyatanya di tengah perjalanan saya ditelepon seorang anggota polisi yang mengabarkan bahwa dompetnya tertinggal.

Saya sadar telah mengeluarkan dompet untuk menunjukkan KTP saat diperiksa polisi. Lalu saya lupa mengembalikan ke saku celana. Dengan berat hati, Saya pun terpaksa kembali ke kantor polisi untuk mengambil dompet itu.

“Sialaaan!!!”

Dalam kondisi seperti itu, semestinya saya berterimakasih pada polisi bukan mengumpatnya. Dalam dompet itu memang tak banyak uangnya, tapi bila surat-surat penting yang hilang bikin repot mengurusnya. Saya menyalahkan diri sendiri yang merasa bodoh hari itu.

Begitu bertemu polisi yang memberikannya dompet, Saya pun baru bisa berucap terimakasih.

Lalu setengah tergesa saya mencari tukang ojek agar segera sampai rumah.

Ketertutupan sejumlah teman usai diperiksa Kapolsek Nusa Indah benar-benar telah membuat saya curiga. Menyiksa hati tahu. Saya khawatir menjadi tertuduh hanya karena keterangan tetangganya.

“Oke Rp 20.000 tapi nggak pakai lama,” ucap saya saat memberikan uang yang diinginkan si tukang ojek tanpa menawarnya.

Tukang ojek itu pun tampak girang. Dengan cekatan ia mengenakan helm dan langsung melesat membelah kebisingan lalu lalang kendaraan. Tapi baru seperempat perjalanan tiba-tiba, gubrak! Motor tukang ojek yang saya tumpangi oleng, lalu terjatuh. Ternyata motor yang saya tumpangi, kena paku dan langsung bocor.

Saat jatuh, saya memang tak terluka. Namun saya sangat kesal, seolah tukang ojek itu membuat saya sial kedua kalinya.

“Tukang ojek payah!”  Ucap saya seraya melempar helm dan mencegat angkot yang kebetulan melintas. Tukang ojek itu tampak marah diperlakukan tak senonoh. Namun ia tak berdaya karena sudah mengantungi uang namun tak memuaskan penumpangnya.

Dengan perasaan dongkol dan capek sepanjang jalan, saya akhirnya sampai rumah. Tapi begitu masuk halaman saya dikejutkan dengan kehadiran seorang wanita muda.

“Selamat siang Pak Sony. Saya Sinta dari harian Buser Pos. Saya minta waktu untuk mewawancarai bapak,” ucapnya.

Sony tak segera menjawab. Pikirannya masih kacau.  Ia bahkan tak menangkap jelas apa yang diucapkan tamunya. Yang ia lihat bahwa wanita muda dihadapannya begitu cantik dan segar.  Ia pamit sebentar untuk mandi dan ganti baju, biar pantas menghadapi tamunya.

“Silahkan tunggu. Mau minum Apa?.”

“Air putih saja,” jawab Sinta.

Sony masuk ke rumah dan menyuruh pembantunya membuatkan minuman. Saat Sony mandi, Sinta menunggu seraya menyelidiki keadaan di sekeliling ruang tamu rumah Sony. Kelak dalam tulisan, kondisi rumah itu cukup penting untuk didiskripsikan.

Betapapun, ia adalah wakil pembaca yang harus bisa menghadirkan suasana seolah pembacanya terlibat dalam berita yang akan ia tulis nantinya.

***

“Baiklah pasti terkait dengan terbunuhnya Miranda, Ya?” Saya mengawali cerita seolah tahu benar apa yang diinginkan tamu cantik di hadapannya. “Tapi sebelum wawancara, saya mau tanya adek ini benar-benar wartawati?”

Tanpa menjawab Sinta pun mengeluarkan ID Card, bahkan kartu nama dari sakunya.

Sambil melihat-lihat kartu nama di hadapannya. Sony berucap lagi.

“Bukan-bukan itu maksud saya. Saya percaya dik Sinta wartawati. Maksud saya, berapa umurnya. Kok masih kaya anak SMA?”

“Umur saya 22 tahun, Pak,” Sinta menjawab sambil tersipu.

“Pantesan! Berarti belum lulus kuliah ya.” Sony setengah berteriak seolah tebakannya tepat.

“Sudah, Pak. Malah sudah setahun lalu.”

“Wow, kok bisa?”

Sinta lalu menjelaskan bahwa ia masuk SD terlalu muda, 5,5 tahun. Kemudian SD pun ditempuhnya lima tahun, SMP dua tahun, SMA dua tahun, dan jadi sarjana dalam tempo 3,5 tahun.

Ia sempat bekerja di sebuah kantor lawyer, tapi tak betah dan kini menjadi wartawati sejak beberapa bulan lalu.

Sony mengangguk-angguk. Sebenarnya ia hendak bertanya lagi, mengapa tak masuk jadi wartawan televisi atau presenter televisi karena wajah Sinta yang enak dipandang sangat mendukung. Wajah fotogenik.

Namun rencana itu tertahan karena Sinta tak mau menjadi obyek wawancara. “Sekarang gantian bapak dong yang saya wawancarai,” ucapnya.

Maka wawancara pun berlangsung lancar. Entah mengapa Sony merasa enjoy diwawancarai Sinta karena seperti ngobrol dengan anaknya.

***
Mengapa wartawan seperti Sinta baru muncul padahal berita tentang terbunuhnya janda Miranda sudah agak basi, karena telah berjalan tiga hari? Dalam wawancara dengan Sinta terjawab sudah.

Sinta mengakui bahwa ia dan wartawan lain telah kelewatan berita heboh itu. Katanya hal itu terjadi tak sengaja. Saat kasus Miranda muncul, wartawan bersama Kanitserse Nusa Indah meluncur ke sebuah lokasi penggerebekan penampungan TKW ilegal.

Saat itu media massa sibuk memblow up lokasi penampungan yang menghebohkan. Sebab menurut pengakuan TKW, mereka akan diberangkatkan ke luar negeri secara ilegal. Di sana mereka dijanjikan bekerja di rumah makan. Tapi, rekan mereka ada yang pernah dijadikan perempuan seks komersial (PSK).

Pengelola penampungan TKW itu pun dicurigai terlibat dalam jaringan perdagangan manusia atau traficking.

“Tapi walaupun telat, berita terbunuhnya Miranda tak akan basi, Pak. Mengapa? Karena kasus ini sangat kuat, melibatkan janda muda yang cantik, misterius, dan unik,” paparnya.

Saya dibuat mengangguk-angguk lagi dengan uraian Sinta. Ia jadi paham mengapa ketika itu Kapolsek Nusa Indah yang langsung menginterograsinya bukan bagian reserse.

Hari itu ia seolah lupa dengan keinginan awal menemui tetangga guna menanyakan mengapa mereka jadi tertutup usai diperiksa polisi? Juga soal posisi dirinya terkait kasus itu di mata tetangganya.

Sony bahkan bisa tidur nyenyak usai wawancara itu. Fisiknya memang letih sekali, namun ketenangan pikirannya untuk sementara telah membantu membuatnya bisa istirahat lebih baik.

***

Esoknya barulah ia terkejut dengan judul HL harian Buser  Pos yang sengaja ia beli dari loper koran di depan rumahnya. Judul koran itu berbunyi: SAM Dibalik Terbunuhnya Janda Muda?

SAM adalah inisialnya. Sedang tuduhan ia ada dibalik kasus pembunuhan Miranda berasal dari informasi sumber di kepolisian dan hasil wawancara ibu-ibu di perumahan Bukit Jahe.

Dalam berita di koran itu Sony memang membantahnya. Ia kesal dengan penjudulan yang seolah memvonisnya. Anehnya ia tak kesal dengan Sinta yang mewawancarainya. Sebaliknya ia kesal dengan tuduhan ibu-ibu dan sumber polisi yang ia yakini berasal dari keterangan para tetangganya yang juga bernama Agus.

Sony pun merasa di fitnah.

Dalam kegeraman tertahan, ia bersiap mendatangi tetangganya satu persatu untuk mengkonfirmasi fitnah tersebut. (bersambung)

Tinggalkan Sebuah Komentar

Filed under novel

Misteri Miranda (3): Skenario Ala M Nazarudin


Tatkala Agus Batubara, Agus Suhendar, Agus Maruto, Agus Malaikano, Sony Agus Mahendraputra, dan Agus doang digelandang ke kantor polisi, para istri mereka di rumah sangat waswas.

Mereka waswas karena selama ini merasa menjadi orang baik-baik, menjadi orang yang tak pernah berurusan dengan hukum, apalagi menyangkut kasus pembunuhan.

Para istri Agus itu saling kontak saat ditinggal para suami mereka ke kantor polisi. Mereka sepakat untuk berkumpul di rumah istri Agus Maruto. Tuan rumah pun lalu mempersiapkan hidangan berupa minuman dan makanan ringan.

Meski waswas, para istri itu yakin bahwa suami mereka tak bersalah. Keyakinan tersebut makin menguat setelah mereka berkumpul mendiskusikannya, tentu dengan ngemil makanan yang disajikan tuan rumah.

Dalam pertemuan itu seolah muncul kesimpulan yang sama. Bahwa suami mereka tak mungkin menjadi pelakunya jika dilihat dari lokasi pembunuhan si janda Miranda. Mereka yakin suami mereka tetap berada dalam pantauan ketika kejadian pembunuhan itu berlangsung.

Maka kesalahan itu pun kembali ditimpakan kepada Miranda. “Perempuan nggak jelas sih. Sejak awal kita kan nggak pernah yakin dia itu orang baik-baik!” Istri Agus Batubara mengawali pembicaraan.

“Kalau dia perempuan baik-baik, nggak mungkinkan ia pindah dari sini. Perumahan ini kan berisi orang-orang nggak punya masalah,” timpal istri Agus Maruto. “Tapi siapa ya kira-kira yang tega membunuhnya ya?”

“Iya, saha nya? (siapa ya?) Yang jelas bukan suami-suami kitalah,” Istri Agus Suhendar ikut bertanya dengan logat sundanya.

Yang lain seperti mengiyakan. Namun di kepala mereka tetap mengantung tanda tanya besar. Mengapa ditemukan tulisan AGUS di rumah Miranda? Mengapa nama itu ditulis besar-besar di dinding kamar jika tak ada kaitannya.

Para istri Agus pun mulai berpikir bahwa peristiwa itu mungkin saja bukan kebetulan.

****

Sebenarnya para ibu ogah mengurusi siapa orang dibalik kasuh terbunuhnya Miranda. Sejak meninggalkan perumahan Bukit Jahe dan mencari rumah kontrakan baru, para ibu itu merasa sudah putus hubungan.

Mereka enggan mengungkit-ungkit lagi karena janda cantik tersebut cenderung merugikan mereka, membuatnya cemburu.

Namun karena suami mereka kini dilibatkan, mereka pun terpaksa mengingat-ingatnya lagi. Mereka juga seolah-olah harus bersiap diri, siapa tahu giliran mereka dimintai keterangan oleh polisi.

“Bagimana dengan Pak Sony?” Tiba-tiba pertanyaan itu seperti cahaya yang muncul dalam kegelapan.

“Aha, ya Pak Sony. Istrinya kan nggak pernah berkumpul dengan kita. Jadi peluang ia terkait dengan kasus si Janda itu yang paling besar dibanding suami-suami kita.” Istri Agus doang yang sedari tadi hanya sebagai pendengar, tiba-tiba bersuara  nyaring.

Ketika itu pun Istri Sony sedang tak berkumpul bersama mereka. Kabarnya, wanita karier tersebut sedang mendapat tugas ke luar negeri. Kalau nggak salah ke Bangkok, Thailand. Maka mereka pun seolah semakin leluasa untuk memperbicangkanya, menggosipkannya.

Maida, istri Sony, selama ini memang menjadi salah satu sumber gosip. Bahkan sebelum Miranda hadir di antara kehidupan mereka, wanita yang tak kalah cantiknya dari Miranda itu kerap berada di urutan pertama sumber gosip dibanding beberapa keluarga lain yang kehidupannya tidak harmonis.

Pasangan Sony-Maida boleh dibilang merupakan pasangan sukses. Hanya saja karier Maida tampaknya lebih bagus dibanding suaminya. Kendati demikian, tak terdengar sekalipun mereka bertengkar. Keduanya tampak rukun, akur-akur saja. Dan justru itulah yang membuat iri pasangan lain sehingga berusaha selalu memunculkan gosip tentang mereka.

“Tapi kan Pak Sony itu tak pernah dipanggil dengan nama Agus, “ ucap istri Agus Malaikano agak sanksi.

“Iya sih. Masalahnya, kita kan juga nggak tahu persis. Siapa tahu kepada Miranda, ia memperkenalkan diri sebagai Agus. Ya, maksudnya biar nggak ketahuan istrinya dan kita-kita . Orang mau nyeleweng kan temannya Setan, banyak akalnya.” Jawab istri Agus Maruto seperti sudah mendapat jalan keluar.

“Dia kan tetangga paling dekat dengan rumah Miranda.”

“Saya juga pernah tahu Pak Sony bertamu ke rumah si Janda itu suatu pagi. Pura-puranya sih memperbaiki kran air, karena saya lihat sedang menenteng peralatan dan sempat saya Tanya katanya memperbaiki kran rusak.”

“Kenapa nggak manggil tukang ledeng saja. Kan tinggal telepon.”

“Saya juga sering lihat si janda itu mampir ke rumah Pak Sony. Mungkin lagi gatel kali.”

Dari berbagai fakta, dugaan, hingga karangan tersebut terbangunlah sebuah cerita. Bahwa keputusan Miranda pindah kemungkinan besar karena Sony Agus Mahendraputra. Alasannya kedua mahluk beda jenis itu kesepian. Miranda seorang janda cantik, Agus seorang pria beranak yang masih tampak gagah.

Lalu mereka terlibat affair. Mengapa tidak! Miranda hamil dan Sony seperti kesamber gledek disiang bolong. Sony minta Miranda menggugurkan kandungannya. Tapi di luar dugaan janda itu menolak. Ia berjanji akan membesarkannya ada atau tidak ada bapak kandungnya. Sony kian bingung.

Miranda mungkin jatuh cinta pada Sony. Sebaliknya pria itu sebenarnya hanya merindukan kehangatan lain. Ini karena sang istri, Maida, ia rasakan mulai tampak egois di tempat tidur karena merasa lebih sukses. Meski begitu Sony sama sekali tak berniat berpoligami. Ia takut Maida.

Kehamilan Miranda benar-benar membuat Sony kalang kabut.

Untungnya pasangan selingkuh selanjutnya memperoleh kata sepakat. Yakni sepakat agar Miranda keluar dari lingkungan perumahan Bukit Jahe sebelum kehamilannya menjadi besar. Agus tentu saja memberikan modal yang cukup dan berjanji mengirimi nafkah bulanan.

Keputusan itu tampaknya jitu. Meski ternyata hanya sementara waktu.

“Wow cerita yang luar biasa. Saya terhanyut sekali.” Kata Istri Agus Malaikano dengan wajah berbinar.

Yang lainnya secara beruntung ikut menyampaikan komentarnya atas scenario tersebut.

“Nanti kalau saya ikut diperiksa polisi, cerita ini pasti yang akan saya sampaikan.”

“Saya setuju. Ceritanya sinetron banget.”

“Kalau menurut saya sih cerita itu malah lebih mirip skenario kaburnya Bendaharawan Umum Partai Demokrat M Nazaruddin. Kalau nggak salah ada yang bilang ia disuruh kabur ke luar negeri untuk menutupi aib partai tersebut agar tak terungkap semuanya ke permukaan.”

“Wah bisa saja. Makin seru euy”

Hahaha….Tawa para ibu pun meledak.

“Padahal si Nazar itu ganteng kaya Pak Sony. Bapak-bapak ganteng lagi apes kali ya.”

Gerrr…tertawa lagi..

“Lalu bagaimana caranya Pak Sony membunuh janda itu?,” tanya istri Agus doang dengan nada agak keras.

Para ibu tiba-tiba langsung terdiam.

Mereka seolah sedang berpikir keras untuk membangun cerita baru yang masuk akal tentang Pak Sony sebagai pembunuh Miranda.

Saat para ibu itu berpikir keras. Sony Agus Mahendraputra dalam perjalanan pulang ke rumah dari kantor polisi. (bersambung)

Tinggalkan Sebuah Komentar

Filed under novel

Misteri Miranda (2): Enam Agus di Kantor Polisi


Markas Polisi Sektor (Mapolsek) Nusa Indah terasa sesak oleh kehadiran kami, enam orang bertetangga bernama Agus. Kondisi kantor polisi itu rasanya tak pantas dibanding banyaknya perumahan menengah-atas di sekitarnya.

Awalnya kami sempat protes digelandang paksa ke kantor polisi seperti seorang pesakitan. Dugaan sebagai pelaku pembunuhan Miranda hanya karena kami punya nama Agus sungguh terlalu dipaksakan, bikin repot saja.

Untungnya kami saling mengenal.  Perasaan sebagai orang bersalah jadi tak terasa. Ketegangan yang muncul saat meninggalkan rumah menuju kantor polisi perlahan sirna. Bahkan, muncul kemudian perasaan bahwa kami sedang melakukan kunjungan wisata ke kantor polisi. Aha..

Sampai di tujuan kami diminta duduk berjajar di ruang pelayanan polsek itu. Ternyata kursi yang tersedia tak cukup sehingga seorang anggota polisi berpangkat briptu terlihat jadi sibuk mangangkat kursi dari ruangan lain ke ruangan pemeriksaan dimana kami berada. “Siap Ndan, kursi sudah cukup,” kata polisi sok sibuk tersebut, lalu meninggalkan kami.

Saat itu kami jadi teringat kisah Briptu Norman Kamaru yang mendadak ngetop karena kepergok menyanyi lagu India berjudul Chaiya-Chaiya. Jika saja tak jadi ngetop mungkin nasibnya sama dengan polisi yang sibuk tadi. Dan sayang kini malah meninggalkan profesi yang sudah membesarkan namanya itu, menjadi selebritis.

“Kalian semua bernama Agus?,” tanya polisi berpangkat Ajun Komisaris (dulu berpangkat kapten) yang tadi disapa Ndan atau Komandan oleh bawahannya. Ia berdiri di hadapan kami.

“Betul, pak. Makanya jangan pernah memanggil Agus saat kami berkumpul.” Agus Maruto, yang berusia paling tua diantara kami, mencoba menjelaskan .

“Memang kenapa?”

“Ya kami bisa diam semua. Bisa juga berdiri semua menghampiri yang memanggil.”

“Bedanya apa?”

“Bedanya siapa dulu yang memanggil. Kalau wanita cantik pasti kami menoleh semua. Tapi kalau polisi yang manggil…”

“Ah, sudahlah,” kata perwira polisi bernama Marsudi itu sesuai tertera di dadanya. Ia seperti sudah menebak arah pembicaraan dan tak mau ikut terbawa arus candaan bapak-bapak yang akan diperiksanya.

Kami menahan tawa. Puas rasanya bisa ngerjain polisi.

“Baiklah. Bapak-bapak akan diperiksa satu persatu di ruangan saya.”  Marsudi serius. Tampaknya dia adalah Kapolsek Nusa Indah.

“Saya punya usul Pak. Panggilah nama kami secara lengkap, biar tidak tertukar,” ucap Agus Batubara dengan logat Sumatera Utaranya.

“Nama bapak siapa? “

“Agus Batubara, Pak.”

“Kalau begitu bapak diperiksa pertama. Ikutlah saya.”

Agus Batubara bengong. Kawan-kawannya tertawa cekikikan. Ia jadi menyesal telah mengajukan usulan.

“Sudah masuk sana Lay. Anggap saja sedang di Lapo Tuak.” Agus Suhendar yang asal Sunda  menggodanya.

“Ah kau Sunda, jangan begitulah.” Agus Batubara menyeringai, sebelum masuk ke ruangan kapolsek. Lalu menutup pintu rapat-rapat.

Tak lama kemudian terdengar suara khas Agus Batubara yang meledak-ledak saat bicara. Namun kosa katanya tak teramat jelas. Kami pun menebak-nebak bahwa polisi sedang memaksa dia berbicara jujur. Dan si Agus “Batak” itu bersumpah selalu jujur dalam setiap tutur katanya.

Saya sendiri ingin rasanya menempelkan kuping di daun pintu untuk mendengarkan hasil pemeriksaan Agus Batubara di ruangan kapolsek. Tapi keinginan itu tak mungkin terwujud. Rasanya, tak pantas sama sekali melakukan itu karena mereka sedang di kantor polisi bukan kantor RW.

Begitulah. Setengah jam kemudian Agus Batubara keluar dan menyuruh Agus Suhendar masuk ruangan kapolsek, untuk diperiksa. Kami segera menghampirinya dan berusaha mengorek cerita dari Agus Batubara tentang apa saja yang dipertanyakan dalam pemeriksaan itu.

Di luar dugaan si Lay bungkam. Agus Batubara mengaku telah diperintahkan untuk langsung pulang, dan dilarang mengumbar hasil pemeriksaan. Alasannya. karena hasil pemeriksaan sudah masuk BAP atawa Berita Acara Pemeriksaan. Sudah masuk ranah hukum yang akan dibuktikan di pengadilan. Karena itu harus dirahasiakan.

Perilaku yang sama juga ditunjukkan Agus Suhendar, Agus Maruto, Agus Malaikano dan Agus doang usai menjalani pemeriksaan.

Saat saya diperiksa. Kapolsek Marsudi bertanya, mengapa saya menyembunyikan nama Agus” Ia lalu menunjuk fotokopian KTP saya di tangannya. Di sana nama saya memang Sony A Mahendraputra.

“Wah, panjang ceritanya. Dan itu sama sekali tak terkait dengan Miranda.” Ucapku seperti menebak arah pembicaraan sang kapolsek.

“Coba jelaskan cerita versi pendeknya” AKP Marsudi tak mau kalah.

Saya pun menceritakan sekaligus menegaskan bahwa nama Agus memang terkait dengan bulan Agustus, bulan kelahiran saya. Karena sepupu saya yang usianya lebih tua juga ada yang bernama Agus, tepatnya, Agusman, maka orangtua saya menyertakan nama Sony sekaligus nama panggilan. Sedang Mahendra nama bapak saya.

Lalu saya juga diminta menceritakan awal perkenalan dengan Miranda. “Kepada Miranda tentu saya pun memperkenalkan diri sebagai Sony. Saya kira sampai sekarang dia tak pernah tahu bahwa saya juga bisa dipanggil Agus.”  Dengan kalimat itu saya yakin AKP Marsudi bisa menyimpulkan bahwa saya bukan pelakunya.

Saya juga bercerita sering ke rumah Miranda namun dengan maksud memberi pertolongan untuk memperbaiki kran air yang rusak atau genteng yang bocor. Tidak lebih dari itu.

Kapolsek Marsudi tampak tenang mendengarnya. Ia lalu meminta saya menceritakan siapa kira-kira dari lima teman saya yang sudah diperiksa terdahulu yang patut dicurigai terkait terbunuhnya Miranda. Pertanyaan itu seperti menjebak. Dan saya bilang tidak tahu.

“Saya akui bahwa saya mengenal mereka semua. Saya juga mendengar dari Miranda bahwa ada diantara mereka yang agresif mendekatinya. Tapi sumpah Pak, saya tak tahu apa ada diantara mereka tersangkut kasus pembunuhan itu.”

Hingga akhir pemeriksaan saya merasa tak ada yang perlu ditutupi. Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa saya, Sony A Mahendraputra, tak terlibat.

Demikian juga dengan kawan-kawannya. Tapi mengapa teman-teman menjadi sangat tertutup begitu?  Lalu apa yang mereka katakan tentang saya kepada polisi?

Tiba-tiba saya jadi curiga. Jangan-jangan mereka menuduh sayalah pembunuhnya. “Tapi masa sih? Tega amat!”

Perasaan saya jadi berkecamuk. Gusar, gundah, dan marah bercampur aduk menemani perjalanan pulang ke rumah.

Saya ingin segera sampai ke rumah dan menemui para bapak bernama agus itu untuk menegaskan: Apakah mereka menuduh saya terlibat kasus ini? (Bersambung).

 

 

2 Komentar

Filed under novel

Misteri Miranda (1): Tetangga Baruku


Suasana berubah setelah kehadiran Miranda. Tetangga baruku itu seorang janda muda dan cantik pula. Usia sekitar 30-tahunan. Anaknya satu dan masih  sekolah di tingkat Taman Kanak-kanak (TK).

Sejak kedatangannya, Miranda menjadi bahan gosip ibu-ibu. Meski perilakunya ramah dan kerap mengantar makanan kepada tetangga terdekat, statusnya sebagai janda muda tetap dipandang negatif. Status lain sebagai jago masak dan siap membantu ibu-ibu di perumahan setiap kali ada acara, tak memberinya nilai tambah.

Steoritif sebagai negatif sekitar janda di negeri ini, memang sangat menyulitkan posisinya.

Beda halnya dengan kaum bapak. Kahadiran Miranda seolah menjadi angin segar bagi keseharian mereka. Para bapak kian bergairah dalam menjalani kehidupan sosial. Kegiatan ronda pun menjadi lebih hidup. Yang biasanya membolos, tiba-tiba muncul, bahkan sampai dini hari.

“Eh siapa tahu malam-malam Miranda bangun dan minta tolong kita untuk membetulkan aliran listrik yang tiba-tiba mati,” pikir bapak-bapak itu

Bayangan itu memang pernah menjadi kenyataan. Agus Maruto, adalah tetangga kami yang bernasib baik karena mengaku sempat masuk ke kamar Miranda untuk memperbaiki lampu listriknya yang mati.

“Ah, betapa romantisnya kamar si jande itu.” Agus Maruto berkata sambil memejamkan matanya.

“Juga bau tubuhnya dalam balutan baju tidur. Kalau saja aye belum punya bini,”imbuh Agus Maruto, pikiran kian menerawang.

Cerita Agus Maruto itu menyebar dari mulut ke mulut. Para bapak lain tentu saja ingin memperoleh pengalaman serupa, bahkan lebih dibanding Agus Maruto. Dalam pandangan mereka, kehadiran lelaki tetap dibutuhkan oleh seorang perempuan yang kebetulan single parent seperti Miranda.

Diam-diam para bapak bersaing untuk memperoleh simpati  Miranda. Sebagian dari mereka mungkin ingin lebih. Mengenal lebih jauh, dan kalau perlu, ah, mengencaninya.

Para bapak itu seolah sudah lupa dengan istri di rumah, yang mungkin bisa menghancurkan masa depannya bila memergoki suaminya macam-macam dengan si janda itu.

Memangnya bapak-bapak itu berani?

***

Ada yang unik di komplek perumahan Bukit Jahe, dimana Miranda sekarang mengontrak rumah.

Para tamu yang datang ke perumahan itu sering dibuat bingung. Bukan karena alamatnya yang nggak jelas, namun karena di perumahan tersebut banyak penghuni bernama Agus.

Nama Agus, yang biasanya disematkan orangtua mereka karena lahir di bulan Agustus, memang merupakan salah satu nama pasaran di negeri ini. Selain karena menyangkut bulan, ternyata adapula nama Agus bukan karena faktor bulan Agustus, melainkan karena bapaknya kagum pada seseorang bernama Agus.

Selain Agus Maruto, ada Agus Batubara, Agus Sehendar, Agus Malaikano, dan Agus doang alias tak punya nama panjang.

Saya sendiri bernama Sony Agus Mahendraputra dan kerap dipanggil Sony. Saya juga sering menyingkat nama menjadi Sony A Mahendraputra sehingga banyak yang tak tahu bahwa saya termasuk kelompok nama yang ombyokan tadi.

Terus terang saya termasuk bapak yang pernah membayangkan bisa dekat dengan Miranda. Saya juga ingin bisa mengalami seperti apa yang dialami Agus Maruto.

Miranda yang satu ini mungkin cantiknya bisa dibandingkan dengan sosok pegawai Citibank yang menghebohkan, Malinda Dee. Cuma cantiknya lebih alami, bukan cantik hasil operasi seperti pegawai bank itu.

Singkat cerita, saya pun bisa dekat dengan Miranda. Seperti juga Agus Maruto, awalnya Miranda minta tolong dibetulin kran airnya yang mampet. Karena kejadiannya pagi hari dan saya menjadi satu-satunya bapak yang masih di rumah, maka jadilah saya lelaki beruntung.

Setelah itu, banyak peristiwa yang membuat kami dekat. Faktor saya lebih banyak di rumah pada pagi hingga siang hari menjadi salah satu penyebabnya. Pada saat itu, istri saya sudah berangkat kerja dan anak-anak sudah sekolah.

Dari cerita Miranda saya jadi tahu, para tetangga yang agresif mendekatinya, mengodanya.

***

Pada satu hari, Miranda memutuskan pindah rumah. Ia mungkin tak tahan dengan berbagai gosip yang menekannya.

Ironisnya tak ada satupun dari kami yang mengetahui kepindahannya. Ia pindahan pagi hari dan kebetulan saya sedang tugas keluar kota. Selama berhubungan jarak jauh, Miranda sama sekali tak mengisyaratkan akan pindahan.

Kepindahan janda satu anak itu tentu saya disyukuri kaum ibu, tapi tidak oleh para bapak. Mereka sangat kehilangan dan saling menyalahkan karena tak ada satupun yang mengetahui pindah kemana. Mereka hanya bisa menebak-nebak penyebab kepindahannya.

Lalu perlahan-lahan sosok Miranda pun seperti dilupakan. Tapi kemudian, mencuat lagi secara heboh setelah secara tiba-tiba sejumlah polisi datang dan mencari nama-nama Agus di perumahan kami.

Terbukti polisi juga kebingungan karena banyaknya penghuni bernama Agus. Kata seorang polisi, Agus dicari terkait dengan terbunuhnya seorang wanita cantik bernama Miranda.

Ia terbunuh bersama anak di sebuah rumah kontrakan. Nah, pada dinding tembok tertulis nama A.G.U.S besar-besar.

Mungkinkan itu Agus diantara kami? Atau Cuma kebetulan barangkali.

“Lagipula nama saya bukan Agus tapi Sony, Pak!”

Polisi tampak tak peduli. Mereka tetap membawa saya dan nama Agus lainnya ke kantor polisi. Polisi menegaskan bahwa mereka bekerja bukan atas dasar kebetulan! Nah, Lo. (bersambung)

Tinggalkan Sebuah Komentar

Filed under novel

Mimpi Suami-Istri Stres


JIKA ada kesempatan terlahir kembali ke bumi, kira-kira mau jadi apa ya? Somad menjawab sendiri pertanyaannya. “Aku mau jadi Pangeran Cendana aja, kalau mama mau jadi apa, hayoo?”

Nining, sang istri tampaknya tak siap menjawab pertanyaan suaminya. Tapi karena ditodong untuk segera menjawab, ia pun bilang sekenanya. “Kalau mama pengen dilahirkan kembali sebagai peragawati,” ucapnya.

Jawaban itu rupanya membuat Somad menjadi kagum. Matanya terkesiap dan memandang wajah dan tubuh Nining cukup lama, seolah-olah dengan jawaban itu istrinya langsung berubah menjadi seorang peragawati.

Pasangan suami-istri yang sudah tak muda lagi itu lalu merebahkan diri sambil menatap langit bertabur bintang. Tak seperti biasanya, langit pada malam itu begitu cerahnya. Tanpa banyak bicara, Somad dan Nining tenggelam dalam angan-angannya masing-masing.

Dengan mobil sport Porsche Carrera, Somad datang ke sebuah arena balap di Sirkuit Sentul. Sejumlah orang tergopoh-gopoh menyambutnya. Beberapa gadis cantik tak henti-hentinya melempar senyum ke arah sang pangeran.

Habis dari Sentul, Somad sudah ditunggu untuk menghadiri meeting di sebuah gedung pencakar langit di Jalan Thamrin. Dalam meeting tersebut, ia cukup setor muka, mengangguk-angguk, lalu pergi. Para karyawati cantik dan wangi mengantar dengan ramah kepergian Somad.

Malam harinya, Somad menghadiri ke sebuah party di hotel bintang lima di kawasan Senayan. Acara hura-hura kelompok terbatas itu dihadiri sejumlah artis papan atas. Begitu Somad datang, lagi-lagi ia dikerubuti wanita-wanita cantik dan seksi. Pada akhir acara ia mencomot salah satu diantara mereka untuk menemaninya bermalam.

Apa yang diangankan Somad, malam itu tercapai semuanya. Dari satu acara ke acara lainnya, ia selalu dikerumuni wanita cantik.  Namun tak ada satu pun wanita cantik yang bertahan lama mendampingi Somad. Semua mundur teratur, tentu saja setelah Somad memberikan imbalan lumayan.

Meski sudah tak muda lagi, cap sebagai pangeran Cendana pun terus melekat pada Somad. Belum ada yang bisa menggantikannya meski Somad sudah punya anak dan keponakan yang sudah remaja. Dan ia merasa bangga dengan julukan itu.

***

Beda dengan suaminya yang begitu mudah melakoni angan-angan sebagai Pangeran Cendana, Nining justru sebaliknya. Ia berusaha menjadi seorang model yang memiliki tubuh tinggi dan ramping, kaki panjang, sementara kulit dan rambut selalu terawat. Tapi selalu gagal.

Bayangannya selalu kembali ke gumpalan daging di perut dan lengan, kulit wajah yang mulai mengeriput, atau rambut yang mulai beruban. Nining memang sudah ibu-ibu.

Namun setelah dipaksakan akhirnya Nining berhasil menjadi peragawati, meski peragawati tahun 1980-an. Di waktu mudanya, peragawati tersebut pernah menjalani hubungan mesra dengan si Pangeran Cendana.

Nining menjadi tak nyaman memerani peragawati tersebut. Sekuat tenaga ia melepas dari bayangan itu dan berhasil.

Pada angan-angan berikutnya, Nining berhasil menjadi seorang peragawati paling top saat ini. Wajahnya sering menghias majalah dan televisi. Ia pun kerap menjadi buruan wartawan infotainment. Nining menikmati ketenaran tersebut.

Dalam satu acara di sebuah hotel bintang lima di Sanur, Bali, Nining tiba-tiba menjadi kesal. Acara yang tak kunjung dimulai tersebut ternyata sedang menunggu kehadiran si Pangeran Cendana.

“Lu lagi, lu lagi,” pikir Nining seraya membayangkan wajah si Pangeran Cendana yang sudah tidak muda lagi itu.

Kehebohan panitia acara selanjutnya menyeruak yang menandakan bahwa si pangeran yang dinanti sudah tiba. Tapi kehebohan kali ini terasa tidak lazim. Heboh kali ini menyerupai kepanikan. Rupanya, sebelum tiba di ruangan pertemuan, si Pangeran Cendana itu terjatuh dan pingsan.

Beberapa detik kemudian, sang pangeran siuman. Kali ini dengan tingkah aneh, dan memanggil-manggil nama Nining. Para pengunjung pun menjadi bingung, lama-lama merasa aneh. Nama Nining tak ada dalam daftar pertemuan para peserta terhormat itu.

Sebaliknya, Nining langsung tersentak saat namanya dipanggil- panggil panitia. Ia segera berdiri. Panitia sempat bingung karena saat itu Nining memerankan seseorang peragawati papan atas yang mereka kenal bukan bernama itu.

Namun karena ogah berlama- lama melihat pangeran cendana meracau, orang-orang membiarkan Nining mendekatinya.

“Ya ampuuun, Papa mengapa ada di sini. Mengapa bisa begini…,” kata Nining yang mengetahui suaminya sedang berteriak-teriak ketakutan.

Nining pun memeluk suaminya. Keduanya menumpahkan air mata yang lama tertahan. Orang-orang yang mengerumuni kedua pasangan suami-istri itu mencoba menghibur.

“Sudahlah, ini cobaan. Tuhan tak akan memberi cobaan yang melebihi kemampuan yang menerimanya,” ucap salah seorang yang tampak dituakan.

Malam itu keluarga Somad-Nining habis kena musibah. Kebakaran karena korsleiting listrik telah menjadikan rumah mereka hangus dan rata dengan tanah. Ketika itu Somad dan Nining sedang jalan-jalan. Tak ada secuil pun barang berharga bisa diselamatkan.

Warga sekitar sebenarnya sudah minta keduanya mengungsi sementara. Tapi malam-malam mereka kembali ke rumahnya sambil tidur rebahan diantara puing-puing kebakaran dan beratapkan langit.

“Rupanya mereka kesambar setan, jadi Pangeran Cendana pula,” kata seorang warga sambil geleng-geleng kepala.

Tinggalkan Sebuah Komentar

Filed under cerpen

Surat Perampok untuk Sang Presiden


Rumah Jornanda, mantan aktivis yang kini menjadi salah satu sosok penting di lingkaran dalam Presiden disatroni perampok. Ia, istri, dan dua anaknya disekap. Pembantu rumah tangga dan tukang kebun juga dibikin tak berkutik oleh kawanan perampok berjumlah tiga orang.

Tentu saja Jornanda tak tahu persis wajah para penjahat karena mereka menggunakan penutup kepala. Apalagi listrik di rumahnya sengaja mereka padamkan. Lalu, dalam tempo cepat, kawanan perampok itu sudah berada di kamar dan menodongkan senjata api ke arahnya. Perampok lain tampak membawa celurit yang diarahkan ke istrinya.

Tanpa suara dan sudah direncanakan, mereka langsung mengikat Jornanda dan istri. Tak lama kemudian, dua anak mereka yang sudah remaja diseret ke dalam kamar dengan kondisi sudah terikat dan mulut tertutup lakban.

Terdengar suara istri Jornanda yang mempersilahkan perampok mengambil apa saja asal tak melukai anak-anaknya. Namun perampok segera menutup mulut istri dengan lakban.

Jornanda sempat bingung karena perampok tak menanyakan simpanan harta benda berharga. Juga tak menanyakan lokasi tempat menaruh lima buah kunci mobil yang masing-masing harganya di atas Rp 300 jutaan.

Setelah mereka dilumpuhkan, kawanan perampok ke luar dari kamar dan masuk kamar lainnya. Mereka seperti mencari sesuatu. Setelah itu senyap. Jornanda, istri, dan anaknya berusaha melepaskan diri. Namun tak berhasil.

Enam jam kemudian, sekitar pukul 05.00 barulah mereka bisa bebas, setelah Santoso, sopir Jornanda tiba di rumah. Sang sopir terkejut saat tuannya dalam kondisi terikat dan disekap. Hendak bertanya, tapi Jornanda keburu mencari telepon dan mengecek barang apa saja yang hilang. Takjub, ia merasa semuanya masih lengkap.

Ia lantas menelepon seorang perwira polisi dan menceritakan apa yang baru dialaminya. Tak sampai setengah jam, perwira polisi berpangkat komisaris besar (kombes) itu datang dengan sejumlah anak buahnya.

Dari laporan istri dan anaknya, kawanan perampok itu ternyata hanya membawa tiga buah jam rolex koleksi Jornanda. Jumlah seluruh jam koleksinya ada lebih 10 buah. Selain itu tiga buah tas merek Louis Vuitton, koleksi istrinya, juga raib dibawa perampok.

“Aneh, biar tas itu mahal, buat apa mereka mengambilnya. Emangnya bisa dijual lagi. Siapa yang beli,” ucap istri Jornanda dengan nada ragu.

Jornanda mempersilahkan anak buah perwira polisi itu melakukan oleh tempat kejadian perkara (TKP) untuk menandai sidik jari dan mencari jejak-jejak penjahat.

“Apa sebelum ini ada yang mencurigakan, Mas,” kata si perwira polisi pada Jornanda dengan sikap hormat.

“Saya kira nggak ada,” jawabnya seraya memanggil Santoso dan meneruskan pertanyaan perwira polisi itu.

Santoso pun menggeleng kepala. “Saya juga nggak pernah lihat yang aneh- aneh, Pak.”

Seorang polisi berpangkat sersan mayor lalu tergopoh-gopoh mendekati bosnya. Ia lalu memberikan sebuah kertas berisi tulisan kepada sang perwira polisi.

Setelah menerima kertas itu, perwira polisi lalu menyimaknya dengan seksama. Keningnya berkerut tanda isi surat itu serius. Tak lama kemudian ia memberikannya kepada Jornanda.

“Ini tampaknya pesan dari perampok. Mungkin penting buat Mas,” katanya.

Jornanda lalu menerima dan membacanya.

Buat YTH Tuan Presiden.

Kami para perampok, khususnya saya, tersinggung berat dengan penggunaan istilah rampok yang Tuan Presiden gunakan belum lama ini.

Saya tahu persis yang dimaksud Tuan Presiden tentang rampok uang negara adalah korupsi. Tapi mengapa harus memaksakan diri dengan istilah rampok yang jelas berbeda segalanya. Orang merampok seperti saya biasanya dilakukan terpaksa. Orang seperti saya tak punya pekerjaan formal, tak bisa korupsi. Apanya yang dikorupsi?

Maunya sih kami tak menggunakan kekerasan setiap beraksi. Maunya sih kami mencuri dan lancar. Kalau tertangkap mencuri, pasal yang dikenakan pasal 362 dengan ancaman hukuman paling lama lima tahun.

Namun karena sasaran kerap melawan terpaksa deh kami menggunakan kekerasan. Jika tertangkap dikenai dengan pasal mencuri dengan kekerasan alias merampok, yakni 365 dengan hukuman maksimal 9 tahun penjara. Lebih berat. Parahnya, jika kepergok, sebelum di penjara kami digebuki hingga berdarah-darah. Banyak juga yang tewas.

Sedang korupsi biasanya justru dilakukan pegawai formal dan pejabat negara. Jumlah uang yang dikemplang juga jauh lebih gede dibanding kami. Sebaliknya meski sudah ada UU Tipikor dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun, faktanya hukuman para koruptor jauh lebih ringan dibanding kami. Bahkan banyak yang dibebaskan di tingkat pengadilan. Banyak yang kabur dan tak pernah tertangkap. Benar-benar tak adil!

Jadi, daripada menggunakan istilah rampok bagi koruptor. Mengapa Tuan Presiden tak fokus saja menjerat koruptor dengan hukuman berat. Bila perlu hukuman mati!.

Sumpah, saya perampok yang tak sudi dibandingkan dengan koruptor.

Itu saja dulu Tuan Presiden.

Mohon jadi perhatian

NB: Tolong sampaikan surat ini kepada Presidenmu ya. Awas, jangan sampai tidak!

“Ah, ini sih lebay. Gak usah ditanggapi!. Fokus saja pada penyelidikan untuk mengetahui siapa mereka dan apa motifnya. Dan ingat, jangan sampai info ini keluar. Jika ada wartawan yang tahu, kasih amplop saja,” ucap Jornanda.

“Siap mas!” jawab perwira polisi.

Mereka pun berpisah.

Hari-hari berikutnya. Jornanda berusaha meyakinkan anak- istrinya untuk melupakan kejadian itu. Tapi ternyata tak mudah. Perampokan itu telah menciptakan trauma di keluarga Jornanda.

Tentang surat itu. Jornanda tetap menganggapnya sebagai berlebihan. lebay, tak masuk akal. Apa urusannya perampok dengan omongan presiden? Mereka bukan politisi, bukan juga pengamat politik.

“Atau jangan-jangan mereka politisi yang menyamar sebagai perampok,” ucap sang istri.

“Kayaknya nggak mungkin deh. Mama tahu sendiri, mereka sangat profesional. Kalau poltisi nggak seperti itu.”

“Atau jangan-jangan mereka teroris yang dendam sama Presiden. Teroris kan banyak yang mencari uang dengan cara merampok,” kata sang istri lagi.

“Itu juga nggak masuk akal. Lagian ngapain ngurusi istilah rampok. Ah, sudahlah ma. Mungkin mereka cuma iseng.”

Sepekan kemudian, polisi belum juga menemukan jejak kawanan perampok yang menggucang rumah Jornanda. Untungnya polisi berhasil meredam kasus itu sehingga tak sampai muncul di media massa. Itu cukup membantu Jornanda dan keluarga dalam memulihkan hari-harinya.

***

Suatu malam, tiba-tiba kawanan perampok itu muncul lagi. Mereka sangat marah karena tahu surat mereka tak sampai Presiden. Salah seorang perampok, tampak sebagai pimpinanya, sempat memberikan bogem ke arah muka Jornanda. Mereka menyampaikan ancaman serius.

Malam itu pun kawanan perampok benar-benar mengambil sejumlah harta berharga milik keluarga Jornanda. Uang simpanan dolar dan rupiah, perhiasan emas, dua laptop, dua ipad, empat blackbarry, mereka sikat. Mereka juga kembali meninggalkan surat serupa untuk disampaikan kepada Presiden.

Mereka berjanji kembali dan membunuhnya jika surat itu tak sampai ke tangan orang nomor satu di negeri ini.

Setelah terbebas dari sekapan, Jornanda kembali menelepon perwira polisi kenalannya. Sang perwira kaget dan tampak malu. Ia kembali berjanji untuk mengusutnya.

Kali ini Jornanda tak mau meremehkannya. Ia benar-benat takut perampok itu muncul dan menghabisi keluarganya.

Ia buru-buru berangkat ke kantor dan membawa surat sang perampok. Oleh kolega sesama orang dekat presiden, surat itu dibaca. Seperti dirinya, sang kolega menganggapnya lebay. Hanya saja setelah didesak Jornanda, akhirnya sang kolega percaya bahwa surat tersebut bisa mengancam keselamatan keluarga sohibnya.

Namun untuk memberikan apalagi meyakinkan Presiden tentang surat itu tentu tak mudah. Mereka juga harus tahu situasi kondisi kejiwaan sang presiden.

Masalahnya sebelum surat itu sampai dibaca Presiden, esok harinya, surat perampok ternyata sudah muncul di sejumlah media massa. Jornanda tak sempat mengusutnya karena surat itu telah membuat situasi negara menjadi sangat gaduh.

Para pengamat politik menyampaikan berbagai ulasan dan pandangannya. Mereka menganggap surat itu merupakan refleksi rakyat kecil yang mengingatkan presiden agar tak gampang mengumbar istilah bermakna ganda. Politisi juga ikut mengomentari bahwa surat itu dikirim lawan politik sebagai sebuah pembunuhan karakter.

Istana Presiden guncang.

Presiden lalu menanyakan berita itu kepada orang-orang di lingkaran dalamnya. Jornanda lalu menunjukkan surat yang dimaksud. Presiden tampak kesal. Ia lalu memanggil Mensesneg, Menhukpolkam, Panglima TNI, Kapolri, dan tentu saja para penasehatnya .

Nyaris saja Presiden menyampaikan pidato untuk menanggapi surat perampok tersebut. Untungnya bisa dicegah. Jika Presiden menanggapi surat itu pasti hanya menambah runyam situasi. Sebab istilah rampok uang negara saja sudah diartikan jauh dan meleset.

Misal, sebelum membersihkan perampok uang negara, Presiden diminta membersihkan dulu rampok di Istana. Bahkan ada spanduk berisi tulisan bahwa Presidenlah bosnya perampok.

“Sudahlah masyarakat kita toh gampang lupa,” kata seorang penasehat senior Presiden.

Tak lama kemudian muncul berita-berita hot seperti penangkapan gembong teroris, pengungkapan selingkuh pejabat, juga penangkapan artis narkoba.

Berita tentang surat perampok kepada Presiden pun perlahan hilang dan dilupakan. Jornanda sudah mengungsikan anak dan istrinya ke tempat yang dirahasiakan. Hidup mereka jadi lebih aman.

Sebuah tajuk media massa mengakhiri tulisan dengan sebuah kalimat. “Masyarakat kita memang gampang lupa, tapi bukan berarti mereka telah memaafkannya.”

Tinggalkan Sebuah Komentar

Filed under Uncategorized

Dia Wanita Hiperseks, Aku Tak Percaya


Minul tidaklah terlalu cantik, namun bodinya asyik. Ia diperkenalkan kepadaku sebagai sosok yang baik, sopan, dan rajin sembahyang.

Kala itu kami sama-sama sebagai karyawan baru di kantor konsultan hukum di Surabaya. Saya 23 tahun dan baru lulus S1, sedang Minul 20 tahunan. Yang lainnya sudah senior dan berkeluarga.

Jika aku masuk melalui tes dan menyingkirkan sejumlah saingan, tidak demikian dengan Minul. Gadis lulusan SMK itu sebelumnya sudah bekerja dengan posisi yang sama di sebuah kota kecil di Jawa Timur. Ia dibawa pindah kerja ke Surabaya oleh seniorku bernama Limbang.

Bramanto, bosku, mempercayainya karena yang membawa adalah karyawan sendiri, tepatnya kawan sendiri karena ternyata mereka pernah satu kampus. Karyawan lain juga tak menaruh curiga. Kami menjalani pekerjaan secara profesional dan kekeluargaan pada kasus-kasus tertentu.

Terbukti, Minul cukup terampil dalam bekerja. Ia benar-benar sudah terlatih untuk pekerjaan administratif sebagai seorang sekretaris kantor. Aku merasakan otak Minul tidak buruk-buruk amat. Ia bisa mengikuti perbincangan kawan-kawannya yang sebagian besar lulusan sarjana. “Kalau ada kesempatan, saya yakin Minul juga bisa mencapai S1.” Bisikku dalam hati.

Karena di kantor itu hanya aku dan Minul yang masih single alias bujangan, kami menjadi cepat akrab. Kami biasa jalan bersama, terutama saat makan siang ataupun sesekali nonton bioskop pada akhir pekan.

Anehnya, setiap hendak nonton bioskop, Limbang selalu ikut. Aku tak curiga dan berpikiran positif, mungkin Limbang butuh hiburan karena pria yang telah memiliki dua anak itu hidup sendiri di Surabaya.

Anak-istrinya di tinggal di kota lain. Istrinya kebetulan seorang pegawai negeri sipil yang katanya tak bisa begitu mudah ikut suami pindah kerja. Alibi yang bisa dipahami.

Kami pun sering nonton film di bioskp bertiga, bahkan berempat: tiga pria dan satu wanita bernama Minul. Aneh ya?

***

Beberapa bulan kemudian, aku memperoleh tugas khusus ke Kota Malang. Aku harus tinggal di kota itu untuk beberapa bulan, tentu saja semua dibiayai pihak kantor. Tanpa banyak tanya, aku menyatakan siap dan senang memperoleh tantangan baru.

Meski demikian komunikasi dengan Minul via BBM dan SMS terus berjalan. Bahkan gadis itu sempat berkunjung ke tempat kosku di Malang. Aku sempat bingung memperlakukannya sebelum akhirnya muncul bosku Bramanto menyusulnya.

Alasannya, ia khawatir ada apa-apa dengan Minul. Saat itu aku sudah mencium gelagat tak enak. Emangnya ada apa dengan si bos sampai segitu khawatirnya sama Minul? Yang pasti sejak itu Minul tak pernah menghubungiku lagi. BBM dan SMS pun tak dibalas.

Suatu hari di akhir pekan aku kembali ke Surabaya. Akupun memilih menginap di kantor karena aku tak punya lagi tempat kos di Kota Pahlawan itu. Lalu tiba-tiba Limbang muncul. Seperti ada sesuatu sangat penting, ia menyeretku seraya berbisik bahwa ada masalah yang perlu diceritakan. Karena nggak ada orang, aku pun dengan polos minta Limbang bercerita tanpa perlu bisik-bisik.

Ternyata Limbang bercerita tentang Minul yang katanya telah berpindah pasangan alias selingkuh. Limbang bilang bahwa sejak awal ia sengaja mengajak Minul ke Surabaya dengan iming-iming penghasilan lebih besar dan masa depan lebih baik.

Namun dibalik itu ia menuntut imbalan bisa bercinta dengannya. Ternyata memperoleh sambutan. Limbang bahkan menyebut Minul seorang wanita hiperseks. Ia terpaksa menceritakan skandal tersebut karena Minul sudah mengkhianatinya. Selingkuh dengan Bramanto.

Antara percaya dan tak percaya, aku tercenung mendengar cerita itu. Betapa tidak, apa yang ku lihat dan ku yakini selama ini, ternyata hanya sandiwara belaka. Aku merasa terlalu hijau. Tadinya, aku merasa semua temanku di kantor adalah orang-orang baik. Ternyata aku salah.

Bagaimana Limbang bisa tahu Minul jatuh kepelukan atasannya? Ia bilang justru Minulah yang berterus terang kepadanya.

Saat itu, Limbang sedang menikmati nasi bungkus yang dibelikan office boy kantor. Lalu Minul datang dan memberi pengakuan yang menyebalkan.

Minul bilang tak bisa menolaknya karena saat itu Limbang pulang kampung, sementara ia hanya berdua dengan Bramanto di kantor. Semula Minul hanya diajak makan bareng, lama ke lamaan ngamar bareng.

Mendengar itu Bambang mengaku langsung muntah dan tak nafsu makan. Ia juga tak lagi bernafsu pada Minul.

Aku tetap tak tahu apa yang mesti aku komentari tentang cerita itu? Limbang juga tampaknya tak butuh komentarku.

“Pantas saja Limbang selalu ngikut kalau aku ngajak Minul nonton film. Ia mungkin takut pacar gelapnya itu jatuh ke tanganku. Dasar bandot!” Aku mengumpat dalam hati. “Sekarang, tahu rasa loe. Minul jatuh juga ke bandot lainnya…”

Tapi benarkah Minul hiperseks? Sungguh tak mudah mempercayainya. Namun pengalaman jalan bersama Minul, seolah membenarkannya. Misalnya, ia santai saja menyentuh tanganku kala aku minta diajarin membuat sebuah laporan. Ia juga tak malu tatkala bagian sensitif atasnya menyentuh punggungku kala baik sepeda motor.

Saat berkunjung ke tempat kosku, ia juga tak segan menunjukkan perutnya yang mulus kala menggosokan balsem yang aku belikan setelah mengaku sakit perut. “Ah, aku saja yang tak menangkap sinyal-sinyal itu.” Diam-diam aku seperti menyesal dengan keluguanku sendiri.

“Tapi benarkah ia hiperseks?” Karena penilaian itu meluncur dari orang yang sakit hati, aku tetap tak mempercayainya.

***

Sejak skandal cinta segitiga itu terungkap, situasi bekerja di kantorku jadi kacau. Minul mengundurkan diri meski tetap berhubungan dengan Bramanto. Limbang memilih pulang kampung, kembali kepelukan sang istri.

Aku sendiri tetap bekerja sambil melirik sana-sini siapa tahu ada peluang pekerjaan yang lebih baik. Aku sebenarnya ingin bertemu Minul untuk mempertanyakan kebenaran itu. Namun tampaknya bosku tak berkenan.

Dalam kesendirian, aku membayangkan skandal cerita di kantorku itu mirip kasus caddy Rani Juliani yang terlibat cinta segitiga dengan pria berkeluarga, yakni Ketua KPK Antasari Azhar dan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran, Almarhum Nasruddin Zulkarnain.

Untunglah Bramanto bukan Antasari Azhar, Limbang bukan Nasruddin (almarhum) sehingga tak ada pertumpahan darah dan rekayasa. Mereka hanya tak bisa lagi bekerja bersama, bahkan berteman. Sedang nasib Minul mirip nasib Rani. Ia menghilang. Kabar yang aku terima ia pulang kampung dengan janin di perutnya.

Aku pernah main ke rumah Minul di kampungnya. Karena itu sempat muncul dipikiranku untuk menengok kondisinya saat ini. Tapi untuk apa? “Ah, Minul-Minul malang nian nasibmu” Kataku sambil mendoakan agar ia dipertemukan dengan jodoh yang baik.

Tinggalkan Sebuah Komentar

Filed under cerpen

Delia dan Mr S yang Menyeramkan


Masa paling mengkhawatirkan dari seorang anak perempuan adalah saat ia menginjak remaja. Delia masih berusia lima tahun. Namun Fatimah sudah mulai membayangkan bagaimana ia dan suaminya bisa mengawal masa-masa kritis anak semata wayangnya itu.

Dan seperti bocah seusianya, Delia masih suka bermain. Satu hal yang membuat Fatimah waswas belakangan ini adalah kegemaran Delia akan cerita-cerita horor. Fatimah khawatir hal itu akan mempengaruhi perkembangan psikologisnya.

Betapa tidak, pada satu malam Fatimah menyaksikan Delia mengigau sambil menyebut sosok menakutkan yang dipanggil dengan sebutan Mr S. Untungnya tak berlangsung lama, setelah kejadian itu Delia tidur lagi.

Besoknya, Fatimah menanyakan siapa yang dimaksud Mr S. Ternyata Mr S yang dimaksud adalah Mister Setan. Fatimah tersenyum geli mendengarnya dan diam-diam menyukai istilah itu. Rasanya penyebutan Mr S lebih tepat buat anak-anak, mengurangi kesan seram.

Karena khawatir, Fatimah segera membatasi peluang Delia memperoleh cerita-cerita horor. Salah satunya melarang dia membeli VCD berisi film hantu yang belakangan sudah tayang di bioskop dan bajakannya banyak dijual diberbagai tempat.

Tapi tampaknya cara seperti itu tak terlalu efektif. Pengaruh teman-teman sepermainan Delia lebih menentukan. Meski demikian Fatimah terus mengawasi perkembangan Delia baik secara langsung atau melalui Aniah, asisten rumah tangga yang mengasuh Delia dua tahun terakhir.

“Wajahnya serem banget dan bisa menghilang. Delia dan temen-temen ketakutan…“ Delia menceritakan mimpinya bertemu Mr S semalam.

Lain hari ia bercerita tentang Mr P alias Pocong. Meski jenis hantu yang satu ini dikenal lamban gerakannya, tapi sosok wajahnya tak kalah menakutkan.

“Mr P itu tiba-tiba mengejar kita yang lagi bermain di lapangan malam-malam. Untungnya larinya nggak kenceng. Pas kita kabur, Mr P tertinggal jauh, lalu menghilang. Mungkin pulang kali ya Ma…” kata Delia serius.

Setan paling menyeramkan di kalangan teman-teman sepermainan Delia adalah Mr K. Fatimah sempat meluruskan penyebutannya menjadi Mrs K dengan alasan Kuntilanak adalah setan perempuan.

Hantu ini digambarkan sebagai sosok wanita berambut panjang dan berbaju putih kombrang. Ciri khas lainnya adalah punggungnya berlubang.

Delia sempat bertanya mengapa punggung Mrs K berlubang? Fatimah bingung menjawabnya. Ia takut mengira-ngira. Fatimah takut menimbulkan pertanyaan baru jika salah menjelaskannya.

Yang pasti Kuntilanak dipercaya tinggal di sebuah pohon tertentu. Biasanya pohon berdaun lebat seperti pohon asem.

Di sekitar tempat tinggal Delia, tak ada pohon seperti itu. Namun tiba-tiba berkembang cerita bahwa ada kuntilanak tinggal di sebuah pohon kelapa, tak jauh dari rumah Delia.

***

Begitulah pohon kelapa itu tiba-tiba menjadi bahan cerita horor di kalangan warga komplek perumahan dimana Delia tinggal. Pohon itu ditanam suami Fatimah, Wawan.

Kala itu Wawan bingung menanam dua bibit pohon kelapa yang dibawa dari rumah mertuanya usai mudik Lebaran. Halaman rumahnya sempit. Tak mungkin menjadi tempat bertumbuhnya pohon kelapa.

Satu pohon lalu ditanam di lereng tanah kosong di belakang rumah , satu laginya di sebuah lahan kosong tak jauh dari rumah. Dalam perkembangannya, pohon kelapa di belakang mati tertimbun longsor saat musim hujan. Sedang satu lagi berdiri kokoh meski tak segera berbuah hingga usia lima tahunan.

Dengan alasan khawatir jadi sarang nyamuk dan ular, lahan kosong itu disulap warga menjadi lapangan bulutangkis. Pos keamanan pun didirikan. Pohon kelapa dengan buah yang banyak, tinggi, dan lebat, menjadi ciri khas keberadaan lapangan tersebut.

Usai bermain bulu tangkis, pada akhir pekan, seringkali warga memetik kelapa dan meminumnya langsung. Sungguh sebuah pemandangan yang teramat sulit ditemukan di sekitar Ibukota belakangan ini.

Semua warga tahu, Wawan yang menanam pohon kelapa itu. Namun Wawan menyatakan bahwa pohon itu sudah milik umum. Siapapun yang berminat dipersilahkan memetiknya buahnya.

Didik, seorang warga yang rumahnya paling dekat dengan pohon kelapa itu, pernah minta izin untuk menebangnya karena takut kejatuhan buah kelapa. Wawan mempersilahkan. Entah mengapa ide itu tak segera terwujud.

Lalu munculah cerita bahwa pohon kelapa itu telah menjadi rumah Kuntilanak. Adalah Namira, anak Didik dan teman Delia , yang pertama mengaku melihat penampakan Kuntilanak turun dari pohon kelapa. Kuntilanak lalu bermain ayunan yang berdiri persis di bawah pohon kelapa.

Setelah cerita kuntilanak itu berkembang, ayah Namira segera mengerahkan sejumlah warga kampung yang dibayar untuk merobohkannya

Sejak itu lapangan bulutangkis menjadi terang benderang. Namun cerita kuntilanak belum sepenuhnya hilang. Konon Mrs K masih kerap muncul bermain ayunan pada malam hari.

***

Cerita kuntilanak perlahan menghilang dari pembicaraan warga, menyusul muncul cerita tragis tentang Bunga, putri salah satu warga komplek perumahan . Bunga yang masih duduk dibangku SMP dilaporkan telah dibawa lari pria yang baru dikenalnya melalui jaringan facebook.

Kasus itu sempat ditangani polisi, dan baru terungkap sepekan kemudian.

Tak mudah mencari tahu sebabnya karena keluarga Bunga tergolong keluarga tertutup.

Namun dari kasak-kusuk yang berkembang, apa yang dilakukan Bunga sebenarnya merupakan wujud pemberontakan seorang anak yang merasa dikekang orangtuanya .

Masih menurut kabar burung tadi, orangtua Bunga mendidik anak-anaknya secara otoriter. Tak boleh ada internet di rumah karena mereka menganggap jaringan maya seperti itu lebih banyak dampak negatifnya .

Belajar, belajar, dan belajar adalah kewajiban yang tak bisa ditolak Bunga dan dua adiknya. Bahkan demi meningkatkan kemampuan belajar, orangtua Delia mendatangkan guru-guru les ke rumah.

Diduga hal itu membuat Bunga bosan dan merasa terkekang. Akhirnya melakukan pemberontakan. Pemberontakan kecil dimulai dengan pembuatan akun facebook secara diam-diam dengan bantuan temannya. Selanjutnya Bunga kian berani berbohong; izin belajar di rumah teman padahal di rumah itu ia lebih banyak bermain internet.

Puncaknya ia bertemu dengan pria yang baru dikenalnya melalui facebook. Masalahnya pria itu bukan pria baik. Bunga menjadi salah satu korbannya. Ia disekap. Hartanya dipreteli. Juga dinodai. Sejak itu, Bunga dan keluarganya jadi trauma. Mereka kian menutup diri.

Dari kasus Bunga, Fatimah dan suaminya berkesimpulan tak mudah mendidik anak zaman sekarang. Namun mereka ingin mengambil pelajaran berharga dalam menyiapkan Delia menjadi remaja.

***

Sekali lagi, Delia belumlah remaja. Tahun depan ia baru didaftarkan masuk sekolah dasar. Karena setiap hari melihat papa dan mamanya berada di depan internet dan berfacebook ria, Fatimah akhirnya mengabulkan permohonan Delia untuk dibuatkan akun facebook.

Agar bisa mengawasi, Aniah juga dibuatkan akun facebook sendiri.

Sejauh ini Fatimah belum menyaksikan pengaruh negatif internet terhadap Delia. Sebaliknya anaknya jadi bisa lebih cepat mengenal huruf dan membaca. Facebook juga menjadi sarana hiburan anaknya di rumah. Salah satu teman chating adalah bunda atau gurunya.

Saudara dan tetangganya Fatimah pernah menyarankan agar Delia dibikinkan adik sehingga ada kawan berinteraksi, tak kesepian. Fatimah setuju 100 persen. Masalahnya mereka sudah berusaha, mungkin Tuhan belum memberinya.

Belakangan Aniah memberi laporan bahwa Delia mulai gemar mencari-cari gambar-gambar aneh. Fatimah lalu melacaknya. Ternyata laporan asistennya benar. Delia mencari gambar-gambar Mr S dan sejenisnya melalui google. Bahkan ada salah satu situs dewasa yang sempat dibuka anak tunggalnya itu.

Fatimah segera melaporkan hasil pelacakannya kepada sang suami.

“Yang sudah, besok dibilangin saja. Jangan dimarahin ya Ma…” Begitu pesan Wawan yang malam itu sudah izin tak pulang ke rumah karena ada pekerjaan yang harus dilemburnya di kantor.

Sebelum tidur, Fatimah memandangi wajah anaknya yang sudah lelap duluan. Ia geleng kapala, lalu tersenyum bahagia.

Namun dalam tidurnya , Fatimah mengalami mimpi buruk. Ia berhadapan dengan Delia yang dalam mimpi itu sudah menjadi remaja. Wajahnya cantik dan segar. Delia minta izin untuk bermalam minggu bersama seorang pemuda ganteng bak bintang film.

Karena belum mengenal pemuda yang akan membawa Delia, Fatimah tak mengizinkannya. Delia mengiba minta diizinkan sekali saja. Ia berjanji tak akan pulang hingga larut malam.

Dengan berat hati akhirnya Fatimah mengizinkan. Namun begitu Delia beranjak meninggalkan halaman rumah, jantung Fatimah tiba-tiba berdegub kencang. Ia merasa ada yang tak beres dengan pemuda yang pergi bersama anaknya.

Ia lalu berlari sambil berteriak mencegahnya. Anehnya teriakan Fatimah hanya tertahan dalam hati. Teriakannya baru keluar tatkala pemuda itu menengok dan tersenyum ke arahnya. Ya ampun…pemuda itu ternyata bertaring.

“Tidaaakk…tidaakkk….tolonggg….tolonggg….jangaaann…” Fatimah berteriak-teriak panik dan sangat ketakutan.

Di sela ketakutannya, Fatimah mendengar suara memanggil. “Maaa..mamaaaa, bangun maaa, banguunnn…”

Fatimah terkejut mendengar suara itu. Lebih terkejut lagi melihat Delia kecil duduk tertegun di hadapannya.

Fatimah segera memeluk buah hatinya itu. Ia merasa lega karena Delia belumlah remaja seperti dalam mimpinya.

Tak lama kemudian Delia menggeliat dan berbisik di telinganya. “Mama mimpi bertemu Mr S ya?”

Fatimah memandang Delia sambil mengangguk, tersenyum. Lalu mereka berpelukan lagi. Kali ini Fatimah merasa tangan Delia memeluknya lebih erat.

Saat itu Delia memang merasa sedang melindungi mamanya dari gangguan Mr S.

Tinggalkan Sebuah Komentar

Filed under cerpen

Cinta Berat Sama Mama, Kasihan Deh Papa


Dini bukan cewek pertama yang aku taksir. Tapi baru kali ini aku sangat gundah memikirkannya. Sangat ingin memacarinya. Ia adalah siswi SMA kelas III IPA2 sementara aku kelas III IPA1.

Hari-hari selama di sekolah membuatku tak lagi tenang. Jam pelajaran menjadi terasa panjang. Sebaliknya jam istirahat merupakan saat-saat yang sangat kunantikan sekaligus menegangkan.

Mulanya aku diam-diam menaksir gadis berambut sebahu itu. Aku malu jika hal tersebut ketahuan orang lain. Namun lama-lama semua teman mengetahuinya. Dan aku pun tak lagi peduli dengan hal itu.

Aku hanya ingin Dini mengetahui bahwa aku menyukainya. Bahwa aku suka dengan senyumnya, dengan tawanya, dengan lirikannya, mungkin juga dengan marahnya. Aku ingin Dini tahu bahwa aku siap melakukan apapun untuk membahagiakannya.

Bersama seorang teman, aku pernah mengunjungi  rumahnya. Aku pura-pura  meminjam catatan pelajaran matematika dimana aku lupa menyalinnya di sekolah.

Di luar dugaan, Dini mau meminjamkannya meski dengan catatan harus dikembalikan esok harinya.  Aku tentu memenuhi janji itu, yakni mengembalikan buku tepat waktunya.

Episode itu berlangsung teramat singkat. Padahal seharusnya aku bisa mempermainkan waktu lebih panjang.  Aku sangat menyukai Dini tapi tak mau perasaanku mudah ditebak.

“Ah, Dini andai saja dikau mengetahui perasaanku.”

Seorang kawan yang tergolong cowok playboy di sekolah mengata-ngataiku sebagai cowok polos, Katanya, saat Dini memperbolehkan bukunya dipinjam, itu pertanda bahwa ia telah memberikan sebagian kecil hatinya untukku.

Mestinya, kata dia lagi, saat itu aku kreatif. Maksudnya, aku bisa menyelipkan surat dalam bukunya Surat itu bisa berisi apa saja. Bisa ucapan terimakasih, pujian, hingga curahan perasaan. Dari surat itulah aku bisa melangkah lebih jauh. Dini pasti membacanya.

Sejak saat itu aku berusaha belajar menulis surat cinta. Aku membeli buku yang membahas soal itu. Aku juga tanya kawan-kawan yang berpengalaman. Lalu entah sudah berapa lembar kertas yang telah aku sobek, karena selalu tak puas dengan coretan perasaan yang aku tuangkan untuk Dini.

Suatu ketika saat Pak Widjanarko, guru matematika menerangkan pelajaran di depan kelas, semua siswa menyimak serius. Tanpa sadar aku malah membuka kembali konsep surat cinta untuk Dini yang hampir rampung. Aku membaca kembali perlahan. Lalu mengoreksinya kembali.

Rupanya tingkah polahku ketahuan Pak Widjanarko. Sang guru matematika yang dikenal killer itu tiba-tiba saja sudah berdiri disampingku. Dengan memaksa ia merebut kertas berisi surat cinta dari tanganku.

Setelah dibacanya sebentar ia mengembalikan lagi kertas itu kepadaku. Namun dengan sebuah perintah tajam dan keras. “Sekarang kamu baca isinya di depan kelas. Baca keras-keras!”

Seperti kerbau dicocor hidungnya, aku pun maju ke depan kelas dan membaca surat cintaku untuk Dini keras-keras. Hampir semua murid di kelas tertawa meski ditahan karena takut kena marah Pak Widjanarko.

Aku malu bukan main. Tapi lebih dari itu aku takut peristiwa memalukan itu sampai di dengar Dini.

***

Sepekan kemudian aku mencoba melupakan pengalaman horor itu. Aku tidak dendam pada Pak Widjanarko, toh surat itu sudah dirobek-robek atas perintahnya. Bayangnya jika surat cinta tersebut menjadi barang bukti atas kebodohanku?

Aku agak tenang karena cerita itu untungnya tak sampai di dengar Dini. Sambil menunggu hati tenang, aku bertekad untuk mengatakan perasaan  di hati ini langsung kepada Dini. Tentu pada waktu dan tempat yang tepat.

Suatu malam aku beranikan diri datang ke rumah Dini.  Di depan rumahnya yang berhalaman cukup luas, lamat-lamat aku dapati sebuah sepeda motor Honda GL. Detak jantungku langsung berdegub kencang. Aku yakin sepeda motor itu milik seorang cowok saingan beratku.

Dugaanku benar, begitu masuk di pekarangan aku melihat Dini sedang mengobrol dengan seorang pria berbadan tegap dan berambut cepak di teras rumah.

Aku hendak balik kanan, karena takut menganggu keasyikan Dini. Namun langkahku terhenti karena sang pujaan hati  memanggilku. “Guh, mau kemana. Masuklah…” teriaknya. Aku segera menoleh dan menuruti ajakannya.

Dini lalu memperkenalkanku dengan pria tersebut yang ternyata seorang taruna AKABRI, kakak kelas Dini saat di SD.

Merasa tak enak,  setelah basa-basi menanyakan kapan ulangan semesteran kepada Dini, aku pun pamit pulang. Dini tak lagi menahan.

Besoknya, aku jadi tahu bahwa lelaki berambut cepak itu telah dijodohkan dengan Dini.  Dan sudah menjadi rahasia umum di tempatku ketika itu, bahwa mempunyai pasangan hidup seorang taruna AKABRI menjadi impian banyak wanita dan orangtua. Demikian juga aku yakin dengan keluarga Dini.

***

Bahwa rezeki dan jodoh Tuhan yang mengatur ternyata bukan isapan jempol semata. Singkat kata, aku akhirnya berjodoh dengan Dini tanpa melalui surat cinta.

Setelah lulus SMA tanpa dinyana, kami diterima di perguruan tinggi yang sama, jurusan berbeda. Dini Fakultas Sastra, aku Fakultas hukum.

Tepatnya pada tahun ketiga kami jadian. Komitmen menjalin hubungan serius muncul beberapa saat setelah Dini putus cinta dengan kekasihnya. Pria tegap dan berambut cepak itu rupanya tak sabar menanti Dini lulus kuliah, sementara ia telah menjadi perwira muda yang bertugas di luar Jawa. Dan konon, sudah punya calon istri yang siap dinikahi.

Aku pun menjadi tempat yang tepat untuk curhat. Sebaliknya aku seperti memperoleh kembali merpati yang sempat pergi.

Begitulah, setelah lulus kami kemudian menikah dan di karunai tiga anak perempuan, sama persis dengan Dini bersaudara, perempuan semua. Kami tinggal dan bekerja di Ibukota Jakarta.

Saat mengandung anak pertama, tiba-tiba Dini minta dibuatkan surat cinta. Sebuah surat cinta yang isinya harus sama persis dengan surat cinta yang telah aku robek saat pelajaran matematika di SMA.

Rupanya, istriku mendengar cerita kala itu. Ia mengaku penasaran karena yang menjadi obyek dalam surat itu adalah dirinya.

Tentu saja aku masih ingat isinya. Dan aku tak keberatan menuliskannya lagi. Apalagi ia memberi embel-embel keinginannya sebagai keinginan sang jabang bayi alias nyidam. Nyidam surat cinta? Kedengarannya aneh memang.

Setelah surat selesai dibuat dalam tempo singkat, Dini lalu menerima dan membacanya pelan-pelan. Aku menunggunya dengan berdebar-debar. Tak lama kemudian Dini tersenyum dan memeluk surat itu dalam dekapannya.

Ia tampak begitu bahagia. Anak pertama kami pun lahir begitu sempurna. Cantik, rambut tebal, kulit putih dan bersih, sebersih buah cinta kami yang tulus.

****

“Emang isinya surat cinta itu kayak apa sih. Jadi penasaran,” kata Amanda (20 tahun), anak pertama kami, yang kini telah semester empat di Fakultas Psikologi.

“Iya bacakan saja Ma… Ninda juga penasaran,” kata Aninda (13 tahun), anak kedua kami, yang kelas 2 SMP.

Mungkin ingin bereaksi seperti kakak-kakaknya, namun tak tahu apa yang mau diucapkan,  si bungsu Aghnia (5 tahun) yang masih TK B pindah duduk dari pangkuan ibunya ke pangkuanku.  Eyang kakung dan eyang  putri ikut mendengarkan sambil tersenyum-senyum.

Ketika itu kami memang tengah berkumpul di rumah mertua, mudik ke kampung halaman yang telah menjadi tradisi tahunan.

Kami tertawa-tawa mengenang masa lalu. Melihat foto-foto jadul kami semasa kuliah dan semasa SMA. Juga foto-foto Dini dan saudaranya sewaktu SMP, SD, bahkan bayi. Beruntung Dini punya orangtua yang telaten menyimpan album foto anak-anaknya.

Dari tiga bersaudara hanya Dini yang selalu mudik setiap tahun. Kakak Dini ikut, suaminya yang anggota TNI ke Papua, sedang adik Dini juga diboyong suami ke luar negeri, yakni Italia. Jadilah menjadi kewajiban kami untuk sowan mudik setiap tahun.

Tiba-tiba Dini keluar lagi dari kamar dengan membawa secarik kertas. Secarik kertas itu adalah surat cinta yang ditunggu-tunggu.  Ia memberikan surat itu kepadaku untuk membacakannya.

Inilah kali kedua aku membacakan surat cinta untuk Dini, setelah 25 tahun lalu.

Untuk Andini
Cewek Tercantik di Sekolah

Jika saat ini ada pemuda paling gundah sedunia. Asal kamu tahu, akulah orangnya.
Jika saat ini ada pria paling susah tidur setiap malam. Kamu boleh tahu, akulah orangnya.
Jika saat ini ada orang sedang sangat kasmaran, ketahulan Dini, akulah orangnya.

Aku gundah dan tak bisa tidur hanyalah memikirkan satu orang, Dinilah orangnya.
Aku kasmaran berat hanya pada satu orang pula. Satu orang itu Dinilah namanya.

Diniku yang tercantik
Aku tak akan pernah lelah menyukaimu.

Miss You
Teguh Mahardika.

Setelah surat dibaca hening langsung menyergap. Aku dan istriku sempat melirik ke arah anak-anak kami, menunggu reaksi.

“Lumayan, ternyata Papa romantis juga.” kata Amanda.

“Papa cinta berat sama mama ya. Kacian deh Papa…,” ucap Aninda.

Lalu senyum kami meledak menjadi tawa ketika si bungsu ikut komentar: “Aku ora ngerti, ora ngerti…” ucap Aghnia dalam bahasa Jawa.

Selama di kampung halaman neneknya, bocah itu memang sedang beradaptasi belajar bahasa Jawa meski kerap membuat tertawa pendengarnya.

2 Komentar

Filed under cerpen

Pria Sakit Jiwa, Gemar Meneror Istrinya


Siang itu, seperti biasa, Nuri naik angkot menuju kantornya. Ternyata angkot itu dikemudikan seorang wanita. Ia merasa pernah melihatnya. Ya Nuri baru ingat, pertama kali ia melihatnya saat pulang kerja malam hari.

“Mungkin gilirannya narik siang.” Nuri menduganya.

Namun sosok riang sopir wanita itu tak lagi terlihat. Kali ini ia sangat murung. Ada apa gerangan? Nuri hanya bisa menduga-duga. Ia segera melupakannya karena dianggap gak penting banget.

Nuri selanjutnya mengamati satu per satu penumpang yang terdiri dari dua wanita (berarti tiga bersama dirinya) dan tiga penumpang pria. Tiba-tiba ia mencium gelagat tak enak. Naluri sebagai wartawati yang biasa menulis berita kriminal memberi isyarat. Wajah dan lagak tiga penumpang pria itu sangat mencurigakan.

Nuri berharap dugaannya salah. Namun andaipun dugaannya benar, ia harus siap-siap menghadapinya. Paling tidak melindungi diri sendiri. Nuri sempat melirik ke arah sopir di belakang kemudi. Sopir itu beberapa kali menengok ke arah penumpang melalui kaca spion dengan raut muka waswas.

Tak lama kemudian seorang penumpang pria tiba-tiba kejang-kejang, seperti penyakit ayannya kambuh. Para penumpang terkejut, termasuk Nuri. Semua perhatian tertuju pada penumpang tadi.

Seorang penumpang pria berusaha menolongnya. Setelah bisa mengendalikan diri, penumpang ayan itu minta turun. Dua penumpang pria, termasuk yang menolong si ayan tadu, ikut turun secara berurutan. Nuri menduga mereka berkawan. Komplotan.

Benar saja. Baru beberapa saat ketiganya melangkah, salah seorang penumpang wanita berteriak minta tolong, “Tas saya disilet, HP saya hilang. Mereka yang mengambilnya. Tolooong….” kata penumpang tadi.

Anehnya teriakan itu tak membuat penumpang lain bergerak untuk menolongnya. Mereka bengong, seolah tak tahu harus berbuat apa. Membela korban penculikan, pasti sangat berisiko karena penjahat itu berjumlah tiga orang pria, sedang mereka kaum wanita.

Bagaimana jika mereka kembali dan menantang untuk menunjukkan bukti. Sementara bukti yang dimaksud berhasil mereka sembunyikan? Bagaimana juga kalau mereka memiliki senjata tajam, bahkan senjata api, dan nekat menggunakannya karena terdesak?.

Sejurus kemudian, angkot tersentak dan si sopir cewek tadi mengarahkan kemudinya mengejar tiga maling tadi. Braak! satu dari tiga maling berhasil ia senggol dan terjatuh. Dua pria lainnya kabur tunggang langgang.

Saat itulah para penumpang, termasuk Nuri, berani meneriakinya maling. Warga sekitar dan tukang ojek berdatangan. Mereka memukuli maling yang jatuh itu hingga babak belur.

Dalam kondisi masih degdegan, otak Nuri langsung bekerja. Yess! Ia baru ingat, peristiwa dramatis itu akan menjadi berita eklusif bagi dirinya. Bagi korannya. Seorang sopir wanita berhasil melumpuhkan penjahat di angkotnya, bukankah itu sebuah berita luar biasa. Yeah!

Setelah menurunkan berita hard news-nya, Nuri juga menurunkan serial tentang sosok sopir wanita heroik bernama Frida itu.

Frida mengaku terpaksa bekerja sebagai sopir untuk menghidupi dua anaknya. Ia sudah dua kali menikah. Suami pertama seorang preman, punya sifat jahat. Tatkala ia menikah lagi, suami kedua diterornya sehingga memilih meninggalkan Frida. Sejak itu ia tak pernah menikah lagi karena suami pertama selalu meneror semua pria yang ingin menikahi Frida.

Lalu kenapa Frida menjadi sopir karena ia berasal dari keluarga sopir. Ayahnya, adiknya, bahkan ibunya pernah menjadi sopir angkutan.

“Jadi ini bukan profesi langka bagi Frida. Ini pekerjaan halal, kenapa tidak.” Frida menegaskan dan itu semua dimuat dalam artikel serial di suratkabar tempatnya bekerja.

Pesan Frida pada para wanita adalah berhati-hati di jalan, kalau bisa jangan membawa perhiasan mencolok, jangan mengenakan pakaian minim, berani berteriak kala menghadapi penjahat, dan hati-hati memilih calon suami.

***

Setelah dirawat beberapa hari di rumah sakit, pelaku pencopetan di atas angkot yang sempat ditabrak Frida akhirnya meninggal dunia. Tapi tak ada yang memedulikannya.

“Malah kebetulan, penjahat di Jakarta berkurang satu,” kata seorang kawan Nuri, setengah bercanda.

“Dulu waktu jaman petrus (penembakan misterius) banyak penjahat tewas bergelimpangan di jalan. Kondisi jadi aman, masyarakat pun jadi senang.” Teman Frida lainnya seperti memperkuat pendapat pertama.

Nyawa penjahat, apalagi penjahat kelas teri, memang tak ada gunanya. Tak ada media yang memberitakannya, termasuk media tempat Nuri bekerja.

***

Setelah menurunkan berita itu, Nuri masih sempat SMS-an dengan Frida. Mereka juga masih sempat bertemu baik saat Frida berangkat atau pulang kerja.

Saat enam bulan kemudian tak lagi menemukan Frida, Nuri tak mempersoalkannya. SMS terakhir yang ia kirimnya tak memperoleh balasan dari Frida. Nuri berpikir positif saja. Mungkin Frida telah memperoleh pekerjaan baru yang penghasilannya lebih bagus. Mungkin juga ia memperoleh suami baru yang lebih perhatian. Ya siapa tahu.

Nuri sendiri sibuk dengan pekerjaan, dengan kehidupan sendiri.

Suatu malam, tiba-tiba Nuri memilih duduk di sebelah sopir angkot. Padahal sebelumnya, hal itu tak pernah ia lakukan sekalipun.

Sopir di sebelahnya beberapa kali menatap Nuri. Ia seolah ingin meyakinkan bahwa Nuri merupakan sosok yang pernah dikenalnya.

“Mbak yang dulu mewawancarai Frida ya?”

Nuri kaget, namun segera meresponnya. “Kok tahu? Dimana dia sekarang.”

“Frida sudah lama pergi mbak. Pergi jauh?”

“Pergi kemana? Memangnya kenapa? Ada masalah apa?”

“Ceritanya panjang, mbak. Tapi sejak wajahnya muncul di koran, ia banyak yang mencari. Termasuk polisi?”

“Gawat dong. Memang ada yang salah dengan isi berita di koran itu?” Nuri mulai merasakan firasat yang tak enak.

“Saya juga nggak tahu. Mbak tanya sendiri saja nanti ya. Ini saya kasih nomor kakaknya. Bilang saja mau bicara sama Frida.”

Nuri mengeluarkan handphone dan mencatat nomor HP kakak Frida dari HP sopir.

“Jangan kasih tahu siapa-siapa tentang nomor ini ya mbak. Pokoknya Rahasia.” Sopir itu memohon dan Nuri mengangguk pertanda memenuhi permintaannya.

***

Setelah beberapa kali menelepon, akhirnya Nuri bisa ngobrol dengan Frida. Ia senang sekali, dan setelah menanyakan kabar Frida, langsung melontarkan sejumlah pertanyaan.

Frida membenarkan bahwa ia bersembunyi karena dicari-cari banyak orang, jadi buronan. Ia tinggal di sebuah tempat di luar Jawa yang lokasinya ia rahasiakan, termasuk pada Nuri. Nuri bisa memahaminya.

Frida dicari polisi karena dianggap sebagai biang dari tewasnya penjahat dalam angkot beberapa waktu lalu. Adapun sebagai barang bukti adalah hasil wawancara yang ditulis Nuri dan dimuat di koran tempatnya bekerja.

Nuri masih tak mengerti dengan penjelasan itu.

Frida kembali menjelaskan bahwa benar penjahat itu salah. Bahwa benar ia tewas karena dikeroyok massa. Frida hanya menyenggolnya karena berusaha menolong penumpang yang jadi korban perbuatan kriminal si penjahat tersebut.

“Tapi kenapa polisi ikut menyalahkanmu?” Nuri bertanya, tak sabar.

“Karena Frida dituduh punya motif balas dendam,” jawab Frida.

Balas dendam?

Frida akhirnya mengakui bahwa ia mengenal sekali penjahat itu. Ia adalah suami pertama Frida yang selalu menerornya itu. Suami yang pernah disampaikan kepada Nuri sebagai suami sakit jiwa.

Sebelum melakukan aksi di atas angkot, Frida sudah mengingatkan untuk tak melakukan kejahatan terhadap penumpangnya. Bagaimana pun Frida merasa punya tanggung jawab terhadap penumpang yang dibawanya.

Ternyata mantan suami Frida itu benar-benar sakit jiwa. Ia tetap melakukannya. Frida jadi kesal sekali dan gelap mata. “Begitulah mbak, Frida hanya menyenggolnya. Tapi mereka menuduh sengaja membunuhnya.”

Nuri terdiam lama. Ia tak menyangka penjahat itu mantan suami Frida. Ia merasa harusnya tahu soal itu lebih awal. Tapi ia tak mau menyalahkan Frida. Nurilah yang tidak teliti. Telah membohongi publik. Telah menyebabkan Frida repot.

“Oke. Yang penting kondisi Frida sekarang bagaimana? Apa yang bisa saya bantu.” Nuri memilih berpikir ke depan, memikirkan keselamatan Frida karena dampak berita yang ditulisnya.

“Mbak Nuri nggak usah memikirkan Frida. Saya di sini aman. Polisi nggak mungkin memburu Frida sampai ke sini. Biayanya mahal. Lagi pula polisi di sini tahu siapa mantan suami saya itu. Sama seperti saya, dia buronan polisi di sini,” papar Frida.

Hati Nuri sedikit plong mendengar jawaban itu. Tapi entah mengapa, ia tetap merasa linglung. Tetap merasa bersalah, baik pada Frida maupun publik yang membaca tulisannya.

“Mbak…halo-haloooo…mbaaakk…” Frida berteriak-teriak di seberang telepon karena merasa kehilangan respon dari Nuri.

“Mbak, Frida sekarang juga plong kok. Nggak ada lagi yang meneror…”

“Oh begitu ya. Syukurlah,” jawab Nuri sambil menutup telepon. Padahal Frida tampaknya masih ingin bicara.

“Mbaaakk…”

————

Yang Lain Ada di sini

Tinggalkan Sebuah Komentar

Filed under cerpen

Penumpang Terlambat Yang Selamat


Nurlita telah lama jadi anak yatim-piatu. Kedua orangtuanya meninggal dunia sejak ia remaja. Namun Lita tetap merasa beruntung karena memiliki orangtua angkat yang menyayanginya seperti terhadap anak kandung sendiri.

Usai shalat Tahajud, Lita pun memanjatkan doa untuk bapak ibunya yang sudah beristirahat di alam baka. Juga untuk keselamatan kedua orangtua angkatnya, pasangan Mursidan-Aryanti.

“Tuhan, terimalah doaku untuk bapak dan ibu di alam sana. Semoga mereka selalu berada disisiMU. Tuhan, jagalah juga bapak-ibu angkatku di sini. Beri mereka kesehatan dan keselamatan.”

Tatkala Lita diterima bekerja di bagian sumber daya manusia sebuah perusahaan nasional, orangtua angkatnya sangat bangga. Mereka bangga karena Lita memperoleh pekerjaan sesuai minatnya. Mereka bangga karena ia memperoleh pekerjaan atas usahanya sendiri, tanpa mengeluarkan banyak uang, dan koneksi.

“Baik-baiklah bekerja. Tunjukkan pada semua orang bahwa kamu karyawati yang hebat.” Begitu pesan orangtua angkatnya saat Lita pamit masuk kerja di hari pertama. Ia mencium pipi kanan dan pipi kiri Lita seperti terhadap anak sendiri.

***

Bagaimana Lita bisa tinggal bersama orangtua angkat yang sangat baik, ceritanya panjang.

Lita ditinggal ibu kandung saat ia masih duduk di taman kanak-kanak (TK). Ibunya meninggal karena sakit yang dideritanya sejak lama.

Lita kecilpun selanjutnya tinggal bersama bapak. Tapi tak lama kemudian bapak Lita menikah lagi dengan janda beranak dua. Saat itulah, Lita merasakan tak enaknya hidup bersama ibu dan saudara tiri.

Hanya di hadapan bapak, ibu dan saudara tiri itu bersikap baik terhadap Lita. Selebihnya, mereka memperlakukan Lita seperti sampah. Lita benci selalu diperlakukan tidak adil. Ia ingin berontak, namun tak pernah didukung bapaknya.

Lalu bapak meninggal dunia karena kecelakaan mobil yang dikemudikannya saat pergi ke luar kota. Menurut polisi, rem blong menjadi penyebab utama kecelakaan tunggal tersebut. Lita merasa aneh dengan alasan itu karena setahunya bapak sangat rajin mengecek kondisi mobil termasuk melakukan perawatan rutin.

Kecurigaan Lita memang baru muncul belakangan. Khususnya dikaitkan dengan harta warisan bapak yang sebagian besar jatuh ke tangan ibu tirinya.

“Kadang-kadang manusia menjadi lupa diri, menggunakan segala untuk mengeruk harta yang mungkin bukan haknya. Mungkinkan ibu tiri itu berada di balik musibah yang dialami bapak?” Lita menuliskan kecurigaan itu dalam blog pribadinya.

Sejak itu Lita memilih tinggal bersama nenek dari pihak ibu di sebuah kota Malang. Jawa Timur. Kakek-nenek dari pihak bapak sudah lama tiada. Tapi sang nenek satu-satunya akhirnya juga meninggal dunia.

Saat Lita benar-benar hidup sebatang kara, seorang pemuda desa masuk ke rumah dan memperkosanya. Hidup Lita jadi gelap. Ia pun memilih bunuh diri dengan cara minum racun serangga, namun gagal. Ia muntah-muntah dulu sebelum menenggak habis racun itu.

Tahu-tahu Lita sudah dirawat di rumah sakit tanpa ada yang menungguinya.

Lalu muncul pasangan Mursidan-Aryanti dan memboyong Lita kembali ke Jakarta.

***

Siapakah pasangan Mursidan-Aryanti? Semula mereka hanya menyebut sebagai sahabat ibunya semasa sama-sama mengenyam bangku kuliah.

Belakangan hubungannya makin jelas. Bahwa mereka sempat terlibat cinta segitiga. Sang ibu yang sakit-sakitan akhirnya merelakan Mursidan menikah dengan Aryanti, sahabatnya.

Persahabatan mereka bertiga terus berlangsung hingga sebelum ibunya meninggal dunia. Saat itu Mursidan-Aryanti berjanji akan merawat Lita.

Masalahnya, setelah ibu meninggal, Lita masih punya bapak kandung. Lalu pasangan orangtua angkat itu kehilangan jejak Lita yang hijrah ke Malang. Saat menemukan Lita, kondisinya sangat menggenaskan.

“Kami terlambat menemukanmu. Tapi percayalah nak, kamu sekarang aman bersama kami di sini.” Demikian pak Mursidan, ayah angkat Lita memberi jaminan.

Orangtua angkat Lita memiliki seorang anak perempuan. Namun sianya jauh di atas Lita. Kehadiran Lita di rumah itu diharapkan meramaikan suasana keluarga.

Namun harapan mereka tak segera terwujud. Trauma pemerkosaan tak mudah dihilangkan dari kejiwaan Lita. Ia kerap murung, bahkan ketakutan jika ada pria mendekatinya.

Lita juga sempat curiga dengan orangtua angkatnya itu. Ia takut memperoleh perlakuan sama seperti tatkala tinggal bersama ibu dan saudara tirinya.

Di rumah orangtua angkat yang besar, Lita sempat kembali berusaha bunuh diri dengan menyilet kulit nadinya. Lagi-lagi gagal karena keburu kepergok kakak angkatnya.

Dengan kesabaran dan kasih sayang yang tulus, orangtua angkatnya membawa Lita untuk terapi. Lita juga dibawa ke seorang ustadz dan memperoleh pelajaran agama yang sebelumnya tak pernah ia peroleh.

Perlahan tapi pasti Lita kembali memperoleh kepercayaan diri. Ia diterima di sebuah perguruan tinggi negeri, lulus lebih cepat dari waktu yang ditargetkan, dan diterima bekerja di sebuah perusahaan nasional, tak lama setelah lulus kuliah.

Nah, setahun setelah bekerja dan Lita memperoleh hak cutinya, orangtua angkatnya Lita mengajaknya berliburan ke Eropa. Selain berliburan, mereka juga akan menjenguk kakak angkatnya yang menikah dengan seorang pria Jerman dan menetap di negeri itu.

Meski Lita sudah punya penghasilan sendiri, semua biaya liburan ditanggung kakak angkat.

Namun pada hari H keberangkatan liburannya ke Eropa, tiba-tiba Lita memperoleh telepon dari bosnya. Ada informasi penting yang hanya diketahui Lita dan hari itu harus diselesaikannya. Tak bisa ditunda.

Lita melihat jam dan memutuskan mampir ke kantor duluan sebelum ke bandara. Ia segera memesan taksi. Orangtua angkatnya setuju untuk bertemu di bandara.

Di luar dugaan, setelah pekerjaan kantor selesai dan meluncur ke bandara, terjadi kecelakaan lalu lintas di jalan tol. Jalan pun tersendat. Lita panik karena tak punya alternatif pilihan mencapai bandara.

Begitu jalan tol lancar kembali dan taksi yang ditumpanginya tiba di bandara, Lita sudah terlambat. Pesawat yang harus ditumpanginya sudah tinggal landas.

Lita kecewa sekali. Namun bukan berarti gagal. Dari BBM-an terakhir dengan orangtua angkatnya, Lita berjanji menyusul terbang ke Eropa. Toh, ia kini punya uang tabungan sendiri.

Lalu ia memesan tiket penerbangan ke Eropa yang ternyata hanya ada jadwal penerbangan keesokan harinya.

Dengan perasaan campur aduk: kecewa, capek, lemas, Lita pulang kembali ke rumahnya. Ia langsung merebahkan diri di kamar dan tertidur.

Begitu bangun tidur dan menghidupkan saluran TV, Lita menyaksikan tayangan hilangnya pesawat yang diduga mengalami kecelakaan. Begitu menyebut nama pesawat dan penerbangan, Lita langsung berteriak.

“Ya ampun itu kan pesawat yang harusnya aku tumpangi.”

Lita segera ingat pada kedua orangtua angkatnya. Ia langsung menangis membayangkan kemungkinan yang akan terjadi. Selamat dalam kecelakaan pesawat nyaris tak pernah terjadi.

Lita segera menelepon kakak angkatnya. Dari seberang telepon ia hanya mendengar suara tangis kakaknya. Telepon itu lalu diambil alih suaminya. Lita ngobrol dengan suami kakak angkatnya sambil menangis.

Saat itu Lita tak tahu harus berbuat apa. Ia hanya bisa menangis. Ketika telepon berbunyi, Lita segera mengangkatnya. Ia berharap itu dari kakak angkatnya di Jerman. Ia ingin ngobrol dengannya, ingin menguatkannya. Ia yakin kakak angkatnya lebih berduka karena kehilangan orangtua kandung dibanding dirinya.

“Halo, ini rumah Pak Mursidan.” Lita mengiyakannya.

“Bisa bicara dengan Nurlita, anaknya?”

Begitu Lita menyebut dia sendiri, sang penelepon mengungkapkan asalnya dan ingin mewawancarainya. Saat itu juga Lita dengan spontan menutup teleponnya. Ia sedang berduka cita, tak mau diwawancarai.

Ketika telepon kembali berdering beberapa kali, Lita mengangkat gagangnya dan manaruh disampingnya supaya tak kembali mengeluarkan suara yang menganggunya.

Dalam kesedihannya yang mendalam, Lita kembali mengingat orang-orang yang mengasihinya. Mengapa mereka duluan yang dipanggil Tuhan? Mengapa bukan dirinya saja yang berada dalam pesawat? Mengapa cobaan terhadap hidupnya seakan tiada berakhir?

Saat melamun, suara ketukan di pagar rumah depan mengagetkannya. Ia mencegah pembantu rumah tangga untuk membukanya. Dari tirai jendela yang masih tertutup, Lita melihat sejumlah pria dan wanita yang diduga wartawan, berusaha masuk ke halaman rumah.

Lita memerintahkan pembantunya untuk tetap di rumah. Ia langsung mematikan televisi dan masuk ke dalam kamar, menguncinya dari dalam.

Di dalam kamar Lita membuka laptop dan mencari perkembangan informasi soal perkembangan kecelakaan pesawat. Di sana muncul daftar nama atau manifes penumpang pesawat yang diduga sebagai daftar korban kecelakaan maut. Di manifes itu ada nama kedua orangtua angkatnya.

Nah, dari daftar itulah keluarlah nama dirinya, Nurlita sebagai satu-satunya penumpang selamat. Ia pun menjadi orang paling dicari wartawan yang sebagian mungkin sedang menongkrongi pagar rumahnya.

Sebuah situs berita berhasil memajang foto yang diambil dari facebooknya dengan judul Inilah Satu-satunya Penumpang Terlambat yang Selamat.

Lita benci berita itu. Ia memang selamat tapi jiwanya kembali terguncang.

——–

Banyak cerita di sini

Tinggalkan Sebuah Komentar

Filed under cerpen

Ibu Tahu Bapak Selingkuh


Aku bangga pada bapak tapi sekaligus membencinya. Aku bangga pada bapak karena dia orang sukses. Ia seorang pengusaha dan kader partai yang kariernya sedang meroket. Oleh banyak orang, aku dianggap sebagai anak orang kaya.

Tapi belakangan aku mulai membencinya. Terutama sejak aku memergoki bapak bersama wanita selingkuhannya. Bahwa bapak punya wanita idaman lain selain ibu, sesungguhnya sudah lama aku curigai. Aku baru percaya setelah memergokinya langsung.

Aku memergoki bapak dengan selingkuhannya secara tak sengaja. Tatkala kawan-kawan sekolahku bermain ke rumah untuk belajar kelompok, salah satu diantara mereka mengaku kerap melihat mobil Mitsubishi Pajero putih punya bapakku melintas di kawasan perumahannya.

Tapi aku bilang mobil seperti itu kini kan banyak pemiliknya. Mobil Pajero putih boleh dibilang memang lagi ngetren. Kawanku mengiyakan meski ia juga yakin Pajero yang dilihatnya sama persis dengan Pejero milik bapakku. Cerita tentang Pajero pun sejenak dilupakan.

Suatu hari, saat giliranku bermain ke rumah kawanku itu, melintaskan mobil Pajero milik bapakku. Aku yakin sekali itu milik bapak, selain nomornya sama, juga ada garis kuning di plat mobil tersebut.

Aku segera meluncur menyusulnya menggunakan sepeda motor dengan kawanku. Ternyata benar. Setelah mobil itu berhenti di halaman sebuah rumah cukup besar, bapakku keluar dengan seorang wanita muda. Aku segera memanggilnya, tanpa curiga.

Bapakku tampak terkejut bukan main. Namun segera bisa mengendalikan diri. Wanita muda bersama bapak juga tak kalah terkejutnya. Ia bisa segera tenang setelah bapakku berhasil menguasai keadaan.

Bapak lalu tanya sedang ngapain aku di situ. Aku segera menceritakan bahwa aku sedang bermain di rumah teman seraya memperkenalkan kawan di sebelahku.

Karena bapak mau menceritakan hal penting, sesuai permintaan bapak, aku mengantar pulang kawanku duluan. Setelah itu, bapak bercerita tentang siapa wanita muda yang kini bersamanya.

Kata bapak, wanita itu dulu merupakan sekertarisnya. Lalu keluar karena dilarang bekerja oleh suaminya. Tak lama kemudian suami wanita muda itu minggat dengan wanita lain dengan meninggalkan utang dengan rumah sebagai jaminannya.

“Jadi bapak kasihan. Lalu membeli rumah ini dan meminta dia untuk tetap tinggal di sini dan merawatnya,” katanya.

Aku mengangguk-angguk meski bapak tahu bahwa aku belum sepenuhnya paham. Bapak lalu berbisik. Bahwa itu cerita antarpria. Hanya antara aku dan bapak.

“Wanita itu umumnya sensitif. Jika bapak salah menceritakan soal ini, ibumu pasti marah. Bapak tak ingin ibumu sedih, mengira yang bukan-bukan,” ucapnya.

Sebelum pulang, bapak mengingatkanku untuk tak membocorkan apa yang barusan diceritakan padaku. Alasannya karena ia sendiri yang akan menceritakannya langsung pada ibu.

Agar aku benar-benar menjaga rahasianya, bapak memberiku uang sebesar Rp 1 juta. Uang kontan terbesar yang pernah diberikan bapak.

***

Sebagai anak orang kaya, rumahku besar dan bertingkat. Rumah itu sudah direnovasi beberapa kali dengan mencaplok lahan dan rumah di sebelah kanan dan kirinya. Boleh dibilang, rumahku termasuk beberapa rumah paling mewah di sebuah pemukiman warga yang padat.

Di rumah mewah itu dulu tiga buah mobil. Dua mobil biasa dipakai bapak secara bergantian yakni Mercedes Benz dan Pazero putih tadi. Satu lagi Toyota Innova yang biasa digunakan menjemputku dan adik-adikku.

Lalu mobil Mersedez dijual karena bapak mengaku sedang mengembangkan usaha. Usaha apa, hanya bapak sendiri yang tahu. Tapi, menurut dugaanku, mungkin juga untuk membeli rumah yang kini ditempati mantan sekertarisnya itu.

Sejak naik kelas 2 SMP, aku tak mau dijemput lagi karena malu. Bapak telah membelikanku sepeda motor. Kata bapak, ia sudah diperbolehkan naik sepeda motor oleh kakek sejak sekolah dasar. Yang berarti lebih muda dari aku.

Bapak memang selalu mendidiku seperti masa mudanya. Mungkin ia menganggap cara mendidik terhadap dirinya bisa diterapkan terhadapku. Ia membayangkan aku adalah wujud dari masa mudanya.

Secara fisik mungkin ia benar karena aku adalah anak kandungnya. Banyak yang menyebut wajahku mirip bapak dibanding ibu. Dan bapak sangat bangga dengan kemiripan itu.

Tapi bapak lupa. Bahwa aku lebih banyak dibesarkan dan dididik oleh sentuhan ibu yang lembut dari pada dirinya. Selama ini, bapak terlalu sibuk mencari uang. Semua keberhasilan pun seolah diukur dengan kekayaan semata.

Ia menganggap lelaki itu berkuasa apalagi punya kedudukan dan banyak uang. Ia pernah menyebut Nabi Muhamad juga beristri empat. Karena itu punya istri lebih dari satu adalah sah.

Tapi aku lebih setuju dengan pendapat ibu. Kata ibu, lelaki dan perempuan sederajat. Tak ada perempuan yang mau dimadu, seperti tak ada lelaki yang rela istrinya selingkuh. Nabi beristri empat karena tuntutan zaman. Sekarang kondisinya sudah jauh berbeda. Lagipula dia seorang nabi yang punya maksud luhur dengan keputusannya.

Seorang bapak harus bisa menjadi teladan bukan saja oleh anak lelakinya, tapi juga anak perempuannya. Jika dia punya banyak istri, apakah ia rela anak perempuannya kelak menjadi istri kedua, ketiga, dan sebagainya.

“Jadi jangan melihat dari sisi lelaki tapi juga dari sisi perempuan. Dari sisi Ibu,” katanya.

***

Meski hatiku berada di pihak ibu, aku belum berani menceritakan apa yang dilakukan bapak dengan mantan sekretarisnya itu. Bukan aku bermaksud menjaga rahasia bapak, tapi aku takut ibu berduka dan putus asa.

Sejauh ini aku tak pernah melihat ibu bersedih, apalagi menangis. Hanya sekali aku melihat ibu menangis, yakni ketika eyang kakung atau bapaknya ibu meninggal dunia.

Ibu merupakan sosok yang sabar, selalu berusaha tersenyum, aku pernah sangat merindukannya ketika berlibur seminggu di rumah nenek di Jawa.

Sebaliknya, sejak kasusnya kupergoki, bapak jadi royal terhadapku. Ia kerap memberikan uang jajan cukup banyak. Uang jajan itu kemudian aku simpan. Oleh ibu, aku selalu dibiasakan untuk menyimpan uang alias menabung.

Bapak menjadi royal karena mungkin menganggap aku sebagai anak yang bisa dipercaya, khususnya menjaga rahasia bapak.

***

Suatu hari, berita heboh menimpa bapakku. Foto-foto dia bercinta dengan mantan sekretarisnya beredar di media massa, terutama media online. Aku, ibu dan keluarga besar ibuku kaget.

Bapak pun dikejar-kejar wartawan yang ingin mengkonfirmasi. Mereka menongkrongi rumahku, dikira bapak ada di rumah. Kami menjadi stress.

Atas saran tante Lina, adiknya ibu, aku diungsikan ke rumah nenek di Jawa. Aku nurut saja. Mungkin itu memang jalan terbaik, sebab kawan-kawanku di sekolah juga mulai mempergunjingkan tentang bapakku. Sebagai anaknya, aku mungkin dianggap sama seperti bapakku.

Di Jawa, aku tak pernah lagi mengikuti perkembangan berita tentang bapak. Namun menurut tante Lina, selain kasus foto syur, bapak juga disangkutkan dengan kasus suap menyuap sejumlah proyek yang dimenangkannya.

Masih menurut tante Lina, itu semua terkait intrik politik. Bapak dianggap salah satu kader partai yang berpotensi dicalonkan sebagai kandidat walikota. Masalahnya ada kader partai yang berambisi serupa dan kemudian menjegalnya.

Nah, wanita cantik yang disebut bapak sebagai sekretarisnya itu, ternyata wanita yang dikenal bapak dari tempat hiburan malam. Wanita itu dimanfaatkan oleh lawan politik bapak.

“Ah, bapak. Kalau nggak main wanita dan menyakiti ibu pasti nggak kayak begini.” Dalam hati, aku tetap menyalahkan bapak.

***

Tibalah saatnya aku ingin menceritakan apa yang aku tahu tentang bapak kepada ibu. Dan ibu hanya tersenyum mendengarnya.

“Ibu sudah tahu. Bapakmu itu kariernya terlalu cepat hingga lupa diri. Sekarang biarlah bapak menikmati lakonnya,” kata Ibu.

Rupanya bapak pernah melontarkan keinginan untuk menikah lagi. Ibu tak mengiyakan atau menolaknya. Ibu hanya bilang apakah bapak tega melihat aku dan dua adikku punya ibu tiri, punya bapak tukang kawin. Lalu apa pula pandangan keluarga besar ibukku jika ternyata ada keturunannya beristri dua?

Sejak itu bapak tak pernah lagi menyampaikan niat untuk menikah. Tapi bapak kemudian memilih memelihara wanita simpanan. Wanita yang disebut sekretarisnya bukan yang pertama.

Bapak dan aku mengira ibu tak tahu soal itu. Padahal ibu tahu tapi diam. Ibu tahu tapi lebih memikirkan nasib aku dan dua adik perempuanku yang masih kecil. Sekarang ibu mengungsikan anak-anaknya juga demi itu.

“Apakah ibu akan menerima bapak jika kasusnya selesai?” Aku tiba-tiba melontarkan pertanyaan seperti itu.

“Bagaimanapun, toh dia tetap bapakmu nak?,” jawab ibu

Diam-diam aku makin menganggumi ibu.

Aku lalu lari ke dalam kamar dan mengambil sebuah amplop besar yang aku masukkan ke dalam kardus playstation. Amplop besar itu berisi belasan juta uang sogokan dari bapak yang aku simpan.

Sambil menceritakan asal-usul uang tersebut aku menyerahkannya pada ibu.

“Ini titipan dari bapak untuk ibu.”

—–

Baca juga tulisan lain di sini

Tinggalkan Sebuah Komentar

Filed under cerpen

Perjodohan Yang Menyenangkan


Dino pulang kampung dengan perasaan gundah. Malam itu ia memang tengah melakukan perjalanan menuju Pasuruan, Jawa Timur, kota kelahirannya. Tapi pikirannya tetap di Jakarta.

Dua acara penting datang pada hari yang sama kerap terjadi dalam kehidupannya. Kali ini, dengan berat hati, ia memilih untuk menghadiri acara selamatan 1.000 hari almarhum bapaknya di Pasuruan.

Padahal pada hari yang sama kehadirannya sangat ditunggu di Jakarta. Yakni kehadiran dalam pembacaan vonis seorang pejabat yang menjadi terdakwa kasus korupsi di Pengadilan Tipikor Bandung.

Sebagai aktivis gerakan anti korupsi, Dino punya beban moral untuk ikut menegakkan hukum yang seolah menjadi lemah jika berhadapan dengan kasus-kasus korupsi. Karena itu ia seharusnya meluncur dari Jakarta ke Bandung bukan Pasuruan.

Apalagi saat itu muncul isu di kalangan aktivis bahwa pejabat tersangkut kasus korupsi itu akan divonis bebas.

“Kawan, Pengadilan Tipikor Bandung harus kita kawal. Si bapak itu tak boleh bebas setelah melakukan korupsi besar-besaran,” pesan Dino dalam grup aktivis anti korupsi di blackberry masangers (BBM).

“Tapi kalau tetap bebas, apa yang bisa kita perbuat?.” tulis yang lainnya.

“Itu kita pikirkan nanti. Yang penting sekarang, tunjukkan bahwa rakyat memantau kasus itu. Hakim yang akan membebaskan pejabat korupsi akan kita catat. Takkan pernah dilupakan rakyat.”

“Benar juga. Yang penting kita hadir. Massa pendukung si bapak itu juga pasti berdatangan. Kita tak boleh kalah!.”

“Siap. Rapatkan barisan.”

Bukan hanya di BBM, pada orang-orang tertentu, Dino juga mengirim pesan agar mengawal kasus vonis pejabat yang dituduh korupsi dengan kerugian negara mencapai miliaran itu.

Setelah pesan-pesan dianggap cukup, Dino tertidur. Ia terbangun tatkala handphonenya berbunyi. Dikira dari teman aktivisnya, ternyata dari adik kandungnya, Maryam yang menanyakan posisinya sudah berada dimana.

Dino menjawab sudah berada di Maospati, Magetan, Jawa Timur. Maryam tampak senang mendengarkan jawaban itu. Berarti Dino sudah dekat. Tinggal satu jaman lagi sampai tujuan.

Bus yang ditumpangi Dino tetap melesat dari Maospati-Pasuruan. Sopir bus tampaknya sudah berganti sehingga tak ada kata berhenti karena pengemudinya lelah atau ngantuk.

Pemandangan pagi hari menjadi warna sendiri bagi Dino. Sawah yang kering atau tanaman tebu yang kurus batangnya seolah mengingatkan kembali ke masa-masa remaja.

Ya, remaja desa yang polos dan tak tahu bahwa negeri mereka sedang digerogoti tikus-tikus korupsi. Karena korupsi di kota, desa-desa menjadi tak berkembang. Sawah dan ladang kian menyempit. Kehidupan kaum petani pun makin terhimpit.

Mengenang itu Dino menjadi terenyuh dan marah. Marah pada pemerintah yang hanya mengumbar janji kosong memberantas korupsi. Marah pada wakil rakyat yang belakangan malah menjadi operator korupsi. Marah pada penegak hukum yang tetap menjadi budak-budak korupsi.

Dino pun jadi merasa bersalah karena tak bisa mengawal sidang vonis kasus korupsi.

***

Sampai di halaman rumah, Maryam dan ibunya langsung menyambut. Sudah beberapa kali sang adik meneleponnya sehingga tahu posisi Dino saat hendak sampai rumah.

Dino sebenarnya punya dua saudara, selain Maryam, juga Susan, adik bungsunya. Namun sang adik yang ketika itu masih duduk di bangku SMA meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan sepeda motor. Saat itu ia bersama bapak yang mengantarnya berangkat ke sekolah.

Bapak memang selamat. Hanya saja musibah yang dialami si bungsu telah memukulnya teramat telak. Bapak jadi merasa bersalah seumur hidup. Penyakit jantung pun menyerangnya. Tak lama kemudian bapak meninggal dunia. Dan hari ini adalah hari ke-1000 bapak meninggalkan kami.

Dino sempat menolak pulang hari itu. Ia menjanjikan pulang dalam waktu cukup lama pada saat hari raya Lebaran tahun depan. Namun ibunya, melalui Maryam tak setuju. Ibu ngeyel Dino harus pulang. Alasannya sejak bapak meninggal, baru 1.000 hari kemudian ia bisa pulang.

“Apakah kamu menunggu ibumu mati baru mau pulang,” kata Maryam menyampaikan pesan ibunya. Sindiran itu membuat Dino tak berkutik.

Acara 1.000 hari selamatan bapak diadakan besar-besaran. Bukan hanya menyembelih kambing, tapi seekor sapi. Untuk ukuran desa, selamatan dengan menyembelih sapi merupakan hal luar biasa. Hanya bisa dilakukan oleh orang-orang tertentu.

Rupanya ibu, yang pensiunan guru, sudah menabung lama untuk bisa mengadakan acara besar-besaran itu.

Rumah Dino pun menjadi ramai. Ia senang bisa bertemu dengan kawan- kawan sepermainannya. Ia juga sangat menikmati bercanda dengan dua keponakannya yang masih balita, anak Maryam.

Saat asyik bermain dengan keponakan, Dino dipanggil ibunya. Dia dikenalkan dengan seorang gadis yang anggun, berkulit bersih, dan berambut sebahu.

Melihat penampilannya, pikiran Dino menebak-nebak. Pasti bukan orang desa. Atau minimal, gadis desa yang sudah lama tinggal di ota.

Sesaat pikiran Dino seperti terbius. Gadis itu memperkenalkan diri bernama Arini. Arini adalah anak Badrun, sahabat bapaknya. Mereka kini tinggal di Surabaya.

Adapun kedatangan mereka di Pasuruan, selain pulang kampung, khusus datang ke acara selamatan bapak. Nah, dalam pertemuan dengan ibu muncul ide untuk menjodohkan Arini dan Dino.

Konon, ketika masih bujangan, Badrun dan bapak pernah berniat akan menjodohkan anak-anak mereka kelak. Maksudnya, biar persahabatan mereka kekal. Arini sendiri kini mahasiswa tingkat akhir sebuah perguruan tinggi di Surabaya.

“Artinya jika semuanya sepakat, kalian bisa tunangan dulu. Lalu setelah Arini lulus tinggal dinikahkan dan diboyong ke Jakarta,” tutur Ibunya.

Dino melirik Arini untuk mengetahui reaksinya. Kebetulan gadis itu juga sedang meliriknya. Tatapan mereka beradu. Ada getaran. Ada gundah. Benarkah ada chemistry diantara mereka?

“Tapi bu. Bukannya saya menolak. Bukankah lebih baik kita saling mengenal dulu. Biarpun jarak kita jauh. Sekarang ini bukan masalah. Ada handphone, ada internet,” ucap Dino.

Arini diam. Tapi saat ditanya bapaknya, ia mengangguk setuju.

Pertemuan pun disudahi. Semuanya tampak senang. Dino dan Arini saling tukar nomor HP, nomor Pin BB.

Lalu mereka ngobrol. Ibu dan orangtua Arini tampak bahagia dari kejauhan.

Saat sedang ngobrol, HP Dino berbunyi. Ia mendapat kabar bahwa sidang kasus korupsi di Pengadilan Tipikor Bandung akan dimulai. Sidang itu mendapat pengawalan ketat petugas keamanan.

“Oke. Kabari terus perkembangannya,” jawab Dino.

Tanpa ditanya, Dino lalu bercerita kepada Arini tentang apa yang baru dibicarakannya di telepon. Ia juga bercerita soal vonis bebas terdakwa kasus korupsi di berbagai daerah yang terkesan menjadi tren. Salah satu yang ia tunggu adalah sidang pembacaan vonis di Bandung.

Tak lupa Dino berterus terang tentang kesehariannya sebagai seorang aktivis. “Mungkin negeri ini harus dipotong satu generasi agar benar-benar bisa bebas korupsi.

Arini rupanya bukan hanya menjadi pendengar yang baik. Ia bisa mengikuti topic pembicaraan Dino. Ia bilang di Pengadilan Tipikor Surabaya juga ada beberapa terdakwa kasus korupsi yang dibebaskan.

“Kalau nggak salah di Surabaya malah terbanyak, 21 kasus,” ucap Arini.

“Wah kamu ternyata mengikuti juga ya. Di Tipikor Samarinda baru saja 14 terdakwa kasus korupsi yang divonis bebas.” Imbuh Dino. Keduanya tersenyum.

Dino senang Arini bisa nyambung dengan omongannya. Bahwa Arini akan menjadi istrinya pun segera membayang. Dino tersenyum sendiri. Ia merasa tak pernah sebahagia hari itu.

Sebelum pamit. Arini bilang bahwa ia setuju dengan usulan Ketua Mahkamah Konsitusi Mahfud MD agar Pengadilan Tipikor di daerah di bubarkan saja karena belum siap. “Hakimnya abal-abal. Salah perekrutan dari awal,” ucapnya.

Ingin sekali Dino mencubit pipi Arini dengan ucapan yang bermutu itu. Untungnya ia bisa menahan diri.

Setelah Arini pulang, Dino segera menelepon kawan-kawan aktivis yang mengawal sidang kasus korupsi di Pengadilan Tipikor Bandung. Ternyata pembacaan vonis masih berlangsung.

Sambil menunggu perkembangan, Dino bergabung dan ngobrol dengan teman- teman sepermainannya. Umumnya mereka kagum pada Dino yang katanya awet muda dan tambah ganteng.

Pujian itu membuat Dino teringat lagi pada Arini. Ia ingin Arinilah yang mengatakan bahwa ia ganteng.

Pada saat asyik ngobrol, HP-nya berbunyi. Ada pesan via BBM. Begitu dibuka, di sana tertulis bahwa terdakwa korupsi di Bandung divonis bebas.

Dino terkejut. Ia segera menelepon temannya. Sang kawan membenarkan. Padahal tuntutan hukumannya 12 tahun penjara. Tapi hakim tetap membebaskannya. Gila. Kacau. Begitu sang kawan dari seberang telepon.

Dino tentu saja membenarkannya sambil mengangguk-angguk. Ia lalu menutup telepon dengan wajah malas.

“Dasar hakim abal-abal,” gerutu Dino spontan.

Kawan-kawan sepermainannya hanya bisa saling bertatapan. Mereka tidak paham dengan apa yang baru diucapkan sang aktivis.

Dino sendiri tak berhasrat untuk menjelaskan soal hakim abal-abal yang membebaskan terdakwa korupsi. Ia hanya ingin menceritakan soal itu kepada Arini. Ia menjadi teramat rindu dengan kawan barunya itu.

Benar-benar perjodohan yang menyenangkan.

3 Komentar

Filed under cerpen

Ini Dia Penyebab Anak Mogok Sekolah


Kepribadian anak terpengaruh teman pergaulan, bukan sekedar hipotesa. Paling tidak pengalaman anak saya telah membuktikannya.

Hampir setahun anak bungsu saya (perempuan) bergaul dengan teman sepantaran (laki-laki) yang belum sekolah. Anak tersebut belum disekolahkan, dengan alasan umurnya belum cukup.

Sebaliknya anak saya sudah minta sekolah sejak umur 3,5 tahun. Kami sendiri tak memaksanya. Ia terpengaruh kakaknya dan beberapa tetangga yang sudah sekolah.

Si bungsu kemudian memilih sekolah sendiri. Ia begitu percaya diri untuk setiap hari datang ke sekolah, meski belum resmi terdaftar. Seperti bocah kecil pada umumnya, ia datang ke sekolah awalnya untuk sekadar menikmati taman bermain yang ada di sana.

Karena usianya belum cukup si bungsu memulai dari playgroup. Ia sangat antusias bersekolah, nyaris tak pernah ditungguin mbak atau mamanya. Hal itu beda sekali dengan kakaknya (lelaki) yang masih harus ditungguin hingga sekolah dasar.

Lalu, setahun kemudian, tetangga baru yang memiliki bocah sepantaran dengan si  bungsu tinggal di komplek perumahan kami. Si bungsu kemudian berteman baik. Kami senang-senang saja karena ia punya kawan main seusia.

Namun dalam perjalanan waktu, anak saya tiba-tiba mogok sekolah. Dengan alasan malas, ia lebih suka bermain dengan anak tetangga yang tak bersekolah tadi.  Hampir tiga bulan anak saya itu mogok tidak datang ke sekolah.

Kami sempat berkonsultasi dengan guru tentang penyebab si bungsu mogok sekolah. Dugaan kemudian mengarah pada kemungkinan ia trauma di sekolah karena pernah di ditinggal di WC sendirian. Kala itu guru tersebut mengaku mengantar anak saya ke WC, lalu sibuk dengan bocah lainnya yang berkelahi sehingga lupa pada anak saya.

Kami juga membicarakan tentang kemungkinan ia jadi malas bersekolah karena bergaul dengan anak tetangga yang tak sekolah tadi. Guru tersebut menduga hal itu ada pengaruhnya.

Karena berpikir masih anak-anak, kami tak memaksa untuk memisahkan pergaulan anak saya dengan anak tetangga tersebut. Toh masih anak-anak. Kami ingin anak saya melakukan kegiatan dengan tidak terpaksa; bermain hepi, belajar juga hepi.

Sejak naik di TK besar (TKB),  anak saya tak lagi bergaul dengan anak tetangga yang belum sekolah tadi. Dia pun jadi kembali bersemangat untuk ke sekolah. Bahkan, lebih bersemangat dari sebelumnya.

Ketika ditanya kenapa tak lagi main dengan anak tetangga seperti sebelumnya. Ia menjawab singkat: malesin. Maksudnya anak tetangga tersebut dianggap sudah membosankan.

Namun namanya juga anak, malesin yang dimaksud hanya tak mau bermain lagi bersamanya karena jika bertemu keduanya tetap akrab.

Kini anak saya lebih suka bergaul dengan teman sekolah dibanding para tetangganya. Sehari-hari yang dibicarakan adalah teman sekolah, bukan teman di sekitar rumah.

Saat pulang ke sekolah ia kadang mengajak teman sekolahnya (perempuan) bermain di rumah. Keduanya kadang-kadang saling menyebut teman sekolah sebagai pacar si A atau pacar si B.

Si bungsu jadi jarang bermain di luar rumah dengan anak sekitarnya. Ketika ditanya soal itu, dimulai melalui mbaknya, terjawab sudah alasannya.

“Takut kulit nya jadi hitam.” katanya.

Kami  tersenyum dengan jawaban itu. Jangan-jangan jawaban kali ini terpengaruh teman sepergaulan di sekolahnya.

“Ah dasar anak perempuan,” pikir saya. (Soalnya mana ada anak laki takut kulitnya hitam. iya kan)

2 Komentar

Filed under anak

Benar atau Salah Lawan Aparat di Jalan, Pasti Kalah


koboy palmerah (youtube)

“Koboy Palmerah” yang diakui sebagai anggota TNI belakangan menjadi bahan pembicaraan. Padahal koboy-koboy jalanan seperti itu kerap kita saksikan, bikin miris, namun lewat begitu saja.

Kebetulan saja Koboy Palmerah itu tertangkap seseorang yang mengenal dunia social media lalu mempublishnya via Youtube. Coba jika setiap kejadian yang melibatkan koboy jalanan bisa direkam ulang dan disaksikan banyak orang. Pasti ada yang lebih seru, lebih serem dari Koboy Palmerah.

Seperti diketahui, Koboy Palmerah berawal dari senggolan mobil berwarna hijau dan sepeda motor di Jalan Tentara Pelajar, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (30/4). Kawasan itu memang tak jauh dari Palmerah.

Dalam video berdurasi 1 menit 59 detik tersebut, pengemudi mobil berpelat nomor dinas TNI 1394-00 menenteng pistol saat berdebat dengan pengemudi sepeda motor yang menyenggolnya. Selain sempat meletupkan pistolnya ke udara sang pengemudi juga beberapa kali memukul kepala pengendara motor yang untungnya masih menggunakan helm, dengan sebuah tongkat.

Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Darat Brigjen TNI Pandji Suko Hari Yudho mengakui, orang yang terlihat memegang benda menyerupai senjata dalam video itu adalah anggota TNI AD. ”Pangkatnya kapten dan sehari-hari bertugas di Detasemen Markas TNI AD,” katanya. (Kompas.com)

Memang koboy jalanan tak selalu dilakukan aparat, tapi juga pengguna jalan yang sok jago. Biasanya pengguna jalan yang temperamental, atau mereka yang merasa punya beking, entah itu anak pejabat, anak anggota TNI/polisi, atau merasa punya kerabat pejabat atau anggota TNI/polisi. Ada juga karena mereka sebagai anggota geng preman.

Saya sendiri pernah menyaksikan koboy jalanan berseragam polisi memukuli pengguna jalan tepat beberapa mobil di depan saya di daerah Depok, beberapa waktu lalu. Saya tak tahu persis masalahnya. Hanya saja meski yang dipukuli sepertinya sudah meminta ampun ia terus menghajarnya.

Tak ada yang berani memisahkan. Warga sekitar yang menyaksikan dari kejauhan sementara pengguna jalan hanya bisa geleng kepala saat melintasi jalan yang tersendat akibat peristiwa menyayat hati itu.

Seorang kawan juga bercerita bahwa mobilnya ditabrak metromini saat berhenti di lampu merah Kuningan, Jakarta. Mobil sang kawan itu otomatis menabrak mobil di depannya yang kebetulan dikemudikan anggota polisi.

Sang kawan itu seperti ketiban apes dua kali. Pihak metromini cenderung tak mau bertanggung jawab atas musibah yang dilakukan sopirnya. Sementara polisi yang ditabrak sang kawan minta ganti rugi terhadap dirinya. Dengan berbagai cara, polisi itu menekan kawan saya tadi hingga keluarganya stres.

Pasti masih banyak lakon koboy jalanan lain yang lebih seru namun tak bisa direkam ulang. Dan saya juga yakin tak semua aparat meski bersenjata punya mental jagoan seperti Preman Palmerah di atas.

Tapi, begitulah potret di jalanan kita. Hukum rimba seolah tak terhindarkan. Yang kuat yang menang, yang berkuasa yang tak bisa dilawan. Kebetulan aparat berseragam/bersenjata sudah sejak lama memperoleh keistimewaan hukum dibanding masyarakat biasa.

Saat pengguna jalan lain bisa dicabut SIM-nya bahkan dipenjara, dengan kesalahan yang sama, aparat seperti diatas paling banter hanya dikenai hukuman disiplin.

Maka jangan salah jika muncul semacam pameo, salah atau benar saat bermasalah dengan aparat di jalan, kita pasti kalah.

Meski begitu, jangan takut beraktivitas di jalan dan tetap berhati-hati.

Tulisan serupa dan lainnya di sini

2 Komentar

Filed under sketsa

Aku Buruh Yang Putus Asa


selamat hari buruh, may day

Aku mengagumi Marwan. Dia adalah supervisor di pabrik tempatku bekerja. Ingin sekali menjadi kekasihnya, namun aku sadar banyak saingannya.

Aku kemudian dekat dengan Suhardi, teman seangkatan Marwan namun nasibnya tetap menjadi staf. Sama seperti aku.

Hardi, demikianlah ia biasa disapa, tampak menyukaiku. Ia kerap memperhatikanku, memujiku, menanyakan kabarku, mengajakku pulang bareng, dan beberapa kali main ke rumah kontrakanku.

Suatu hari ia “menembakku”, menawarkan diri menjadi pacarku. Sebagian besar teman-temanku menyuruh untuk menerimanya, sebagian lainnya terserah padaku.

Kelompok yang pertama, aku yakin punya maksud terselubung. Yakni mengurangi persaingan dalam rangka memperebutkan Marwan. Sedang kelompok yang kedua pasti dengan pertimbangan realistis, bahwa Hardi tak punya masa depan yang bagus di perusahaan itu. Hardi dikenal kurang disukai bos pemilik perusahaan.

Lalu aku pilih yang mana? Aku senang Hardi tak marah saat aku bilang belum bisa menjawab ajakan menjadi pacarnya. Hardi menyatakan siap menunggu jawabanku, entah sampai kapan.

Secara fisik, Hardi sebenarnya tak jauh beda dengan Marwan. Usianya sekitar 30-am, sebuah usia pria dewasa yang mulai matang. Bedanya, Marwan selalu tampil rapih dan wangi. Sedang Hardi berpenampilan seadanya. Mungkinkan karena penghasilan mereka kini berbeda? Aku tidak tahu.

Hatiku sendiri lebih tergoda pada Marwan. Bukan saja aku suka pria yang wangi, lebih dari itu aku merasa lebih tertantang untuk memperoleh cintanya.

***

Tentu saja Aku jadi lebih sering jalan sama Hardi dibanding Marwan. Selain karena kesempatan lebih banyak, aku juga berhasil meyakinkan Hardi agar kami bersahabat lebih dulu dibanding berpacaran.

Dengan bersahabat, kami jadi lebih bebas bertukar pikiran, tanpa disertai emosi. Dan dari persahabatan itulah, aku jadi tahu siapa Hardi sebenarnya: Dia adalah seorang pria pintar, kritis, dan sedikit punya sifat pemberontak

Hanya karena pendidikannya yang tak tinggilah yang membuat nasibnya mentok sebagai buruh. Lalu dengan sifat-sifat yang dimiliki, Hardi cenderung tak disukai perusahaan. Ia bahkan nyaris dipecat karena berniat mendirikan serikat pekerja. Namun karena perusahaan tak punya bukti cukup dan memperoleh perlawanan dari Hardi sendiri, usaha pemecatan tampaknya tertunda.

Kini Aku mulai termakan argumentasi Hardi tentang pentingnya serikat pekerja. Aku jadi sadar bahwa nasibku sebagai buruh berada pada posisi lemah. Selain penghasilan yang kecil karena patokannya UMR, juga jenjang karier yang tak jelas.

Pihak perusahaan manaikkan jabatan seseorang bukan karena keahliannya, namun karena loyalitasnya. Loyalitas menurut versi para bos tentunya. Like and dislike dalam menentukan jabatan dan gaji seseorang sangat besar.

Sejak itu aku pun mulai mau menggalang dukungan agar perusahaan mau membuat serikat pekerja. Usahaku cukup efektif, banyak buruh yang siap memberi tanda tangan dukungan untuk sebuah serikat pekerja.

Anehnya dengan kegiatan baruku, aku jadi bisa dekat dengan Marwan. Entah mengapa, pria yang selalu menganggu mimpiku itu jadi mau selalu dekat denganku. Bahkan ia menyatakan dukungan untuk terbentuknya serikat pekerja.

Marwan mulai kerap menelepon, mengajakku pulang bareng, bahkan datang ke rumah kontrakanku. Hardi tentu saja cemburu, apalagi teman-teman sekontrakanku. Sebaliknya aku jadi bangga dan cuek. Aku berterimakasih pada Hardi seolah membuka jalan agar aku dekat dengan Marwan.

Impian itu akhirnya menjadi kenyataan. Marwan menyatakan cintanya padaku, dan aku langsung mengiyakannya. Tak lama kemudian kami bercinta, hot, tak ada masa berpacaran paling indah selain bercinta dengan pria yang kita impikan bukan?.

Aku benar-benar mabuk kepayang, buta hati, tak peduli dengan gunjingan di sekitarku.

***

Suatu hari, bos pemilik perusahaan mengumpulkan para buruh. Ia pidato berapi-api. Lalu dengan tenang, mempersilahkan para buruh membentuk serikat pekerja. Syaratnya harus didukung lebih dari 50 persen buruh. Wah, mirip pengambilan suara di DPR dengan cara voting.

Bedanya, sang bos memberi waktu satu jam kepada para buruh untuk mengumpulkan tanda tangan dukungan.

Aku segera mencari Hardi. Aku bersemangat untuk membubuhkan tanda tangan di urutan nomor satu.

Ternyata selain selebaran dukungan terhadap serikat pekerja, muncul pula selebaran menolak serikat pekerja. Aku dan Hardi jadi bingung. Ia sempat menatapku curiga.

Aku lalu mencari Marwan. Namun yang dicari tak ada. Ditelepon HPnya tak diangkat, kiriman SMS juga tak dibalas. Perasaanku tentang Marwan jadi tak enak.

Setelah satu jam, dua buah berkas berisi dukungan dan penolakan terhadap serikat pekerja dibacakan seorang staf manajemen. Diluar dugaan, kayawan yang menolak serikat pekerja lebih banyak dibanding dengan yang mendukung.

Dengan senyum kemenangan, sang bos maju ke depan mimbar. Lalu berpidato singkat. “Hasilnya kalian sudah tahu sendiri. Mulai sekarang jika masih percaya pada saya teruslah bekerja dan jangan berpikir lagi serikat pekerja”

***

Belakangan baru diketahui, Marwan tak sungguh-sungguh mencintaiku. Ia hanya memanfaatkanku. Ia sengaja memacariku agar semua buruh membenci padaku, sekaligus perjuanganku.

Sebab Marwanlah yang berada dibalik konsep penolakan serikat pekerja dan cukup berhasil.

Sejak itu, Marwan diangkat menjadi salah satu manajer perusahaan. Hardi mengundurkan diri. Dan buruh tak ada lagi yang berani membicarakan serikat pekerja.

Aku sendiri depresi berat. Aku menyesal terhadap semua yang baru kualami.

Aku merasa sangat bersalah karena telah mengkhianati Hardi dan kawan-kawan buruh seperjuangan. Aku muak dengan apa yang telah dilakukan Marwan terhadapku. Ingin aku mencincangnya, tapi tak tahu caranya.

Dalam kondisi tertekan tiada henti, pikiranku jadi linglung. Aku menghancurkan semua harta benda yang aku punyai, aku juga menyakiti diri sendiri. Lalu semua berhenti, aku tak sadarkan diri.

Begitu siuman, aku sudah berada di rumah sakit. Kulihat samar-samar Hardi tersenyum disampingku. Tapi di belakangnya Marwan mengejek dan hendak menhantamkan palu godam ke kepala Hardi. Aku kembali tak sadarkan diri.

sumber foto di sini

tulisan sama diposting di sini

6 Komentar

Filed under cerpen

Kisah Kematian Kakek Sakti


ambulance tua (google.com)

Budiman tampak sangat sibuk. Setelah mengantar anak ke sekolah, ia bersiap mengantar tetangga sebelah rumah ke rumah sakit. Ya, ke rumah sakit.

Pagi itu dokter memberi tahu bahwa kakek Marbuat, tetangganya, tak lama lagi meninggal dunia. Faktor usia yang sudah hampir 90 tahun plus berbagai penyakit membuat nyawanya tak mungkin tertolong.

Budiman  sempat menjenguk sang kakek pada hari pertama dirawat di rumah sakit. Berada di ruang ICU, kondisi kakek Marbuat memang memprihatinkan. Sedikitnya empat alat bantu, termasuk selang infus  terpasang di tubuhnya. Hanya gerak nafas yang masih menandakan bahwa sang kakek masih hidup.

Bapak dua anak itu percaya bahwa kakek Marbuat yang sudah sejak 10 tahun menjadi tetangganya  tak mungkin sembuh seperti sedia kala. Dokter bilang, bila alat bantunya dicabut, maka dalam hitungan jam nyawanya akan melayang.

Makanya semua anak harus berada di rumah sakit pada detik-detik terakhir menjelang ajal kakek Marbuat. Sebagai tetangga terdekat, Budiman  menawarkan diri untuk mengantar mereka ke rumah sakit. Tujuannya biar lebih cepat dan nggak repot dibanding naik angkutan umum. Apalagi sebagian anak kakek Marbuat datang dari luar Jakarta.

Meski percaya usia sang kakek takkan panjang lagi, Budiman sebenarnya tak percaya dengan prediksi dokter tentang kematian. “Soal kapan seseorang meninggal dunia hanya urusan Tuhan semata,” ucap Budiman  yang diikuti anggukan istrinya.

Benar saja. Setelah sejumlah alat bantu dicabut, kondisi sang kakek malah membaik. Tekanan darah yang tadinya dibawah 40 mmhg menjadi 100 mmhg.

Memang hal itu tetap saja tak membuat kakek Marbuat sadar, apalagi diajak berkomunikasi. Yang pasti sejak itu ia masih bernafas hingga seminggu kemudian.

Dokter yang merawat sang kakek hanya geleng kepala. Prediksinya sebagai seorang dokter dengan jam terbang puluhan tahun kali ini meleset.

Belakangan diketahui bahwa sang kakek sudah lama mendalami ilmu kebatinan dan tingkatannya sudah master. Energi dari ilmu yang dipelajari itulah membuat ia menjadi sosok bukan manusia biasa.

Sebagian anaknya yang semula tak percaya, akhirnya menuruti aturan-aturan yang tak lazim untuk mengantar kepulangan sang ayah mereka ke alam baka. Misalnya seperti mencari daun pisang tertentu, beberapa jenis bunga, hingga mencari orang “pintar”.

Terakhir mereka berhasil memperoleh nomor telepon seseorang yang dianggap ilmu kebatinannya lebih tinggi dari kakek Marbuat. Cara-cara seperti itu terbukti cukup berhasil. Sang kakek meninggal dunia pada hari terakhir masa cuti anak-anaknya.

Saat itu semua anaknya masih kumpul. Masih bisa memandikan jasad kakek Marbuat dan mengantarnya ke liang lahat.

***

Budiman pun kembali disibukkan untuk membantu mempersiapkan prosesi pemakaman tetangganya itu. Pihak keluarga memutuskan kakek Marbuat akan dimakamkan di kampung halaman, di Jogyakarta, Jawa Tengah.

Budiman diajak untuk ikut mengantar jenazah sang kakek. Karena kesibukannya, ia minta maaf tak bisa ikut.  Budiman lalu izin atasannya terlambat sampai ke kantor karena urusan sosial itu.

Dalam satu kesempatan Budiman mengobrol dengan sopir mobil ambulans yang akan mengantar jenazah kakek Marbuat ke Jawa. Pengalaman sopir itu ternyata sangat menarik bagi Budiman. Salah satunya adalah pengalaman dia mengantar jenazah seorang pria yang semasa hidupnya dikenal sakti.

Katanya mengantar mayat seperti itu kadang susah kadang mudah. Mungkin tergantung ilmunya selama hidup. Jika ilmunya ilmu hitam, mobil menjadi terasa lebih berat. Perjalanan jauh pun menjadi terasa lebih panjang.

Sebaliknya, jika jenazah yang dibawa adalah jenazah yang semasa hidupnya berilmu tinggi tapi bukan ilmu hitam, mobil yang dikemudikannya bisa terasa lebih ringan dan perjalanan menjadi lebih cepat.

Biasanya membawa jenazah seperti itu memang banyak kejutannya. Pernah sebuah kendaraan yang tak mau memberi jalan tiba-tiba bannya kempes. Atau pernah juga lampu rumah yang dituju padam tatkala mobil ambulans pembawa jenazah tiba di kampung halaman. Padahal tak ada pemadaman listrik.

“Percaya tak percaya, saya mengalaminya.” Sopir itu berucap serius.

Meski mungkin terkait, Budiman tak berminat menceritakan bahwa kakek Marbuat juga berkategori sakti seperti itu.

“Mungkin saja sopir itu sudah tahu tanpa harus saya menceritakannya.” Budiman menebak-nebak dalam hati.

***

Malam itu Budiman kembali menceritakan pengalaman si sopir kepada istrinya. Sang istri lalu mengenang sifat-sifat aneh sang kakek.  Misal, ketika anak pertamanya sakit setelah disunat,  kakek Marbuat datang dan meniup ubun-ubun anaknya agar cepat sembuh. Tak lama kemudian memang sembuh.

Kebiasaan sang kakek yang membiarkan rumahnya terbuka seolah membenarkan keanehan selama ini. Tak seperti rumah di kompleks itu pada umumnya, yang ditutup rapat bahkan dikunci saat malam tiba, rumah kakek tidak diapa-apakan.

Kaca jendela tanpa korden, apalagi teralis. Pagar juga dibiarkan selalu terbuka. Dari kejauhan saja bisa terlihat sebagian isi dari rumah kakek Marbuat.

Meski begitu rumah kakek aman-aman saja, tak pernah kecurian, apalagi dimasuki perampok. Justru rumah-rumah yang tertutup rapat yang pernah kemalingan.

Kata istri Budiman, di rumah sang kakek juga kerap tercium bau bunga dan kemenyan. Persis seperti aroma bau bunga malam itu yang menyebabkan ia beranjak masuk ke kamar tidur  duluan. Kamar itu berada di lantai atas.

Budiman sendiri bertahan di meja komputer dengan alasan menyelesaikan tulisan. Ketika istrinya bertanya tulisan apa? Budiman menjawab tulisan fiksi horor untuk diposting di blog.

Baru lima menit ditinggal istri, tiba-tiba saja lampu penerang ruangan tempat ia bekerja padam. Budiman terkejut. Hatinya berdesir. Ia berusaha tak mengaitkannya lampu mati itu dengan kesaktian kakek Marbuat.

Setelah mengecek saklarnya, ternyata lampu itu bisa hidup lagi. Ia berkesimpulan sementara bahwa lampu itu memang waktunya diganti karena sudah lama.

Baru beberapa menit duduk, giliran televisi yang biasa ikut menemani membuat tulisan di kala malam yang tiba-tiba padam.  Bulu kuduk Budiman segera merinding.  Saat itu juga ia memilih mematikan komputer, dan lupa melakukan save tulisannya.

Ia seolah baru ingat bahwa malam itu malam pertama kematian sang kakek. Pikirnya, mungkin saja rohnya masih gentayangan, apalagi ia termasuk sakti

Di kamar tidur sang istri yang masih terjaga kaget. Ia spontan bertanya apakah tulisannya sudah selesai. Budiman mengiyakannya tanpa bercerita bahwa ia baru memperoleh pengalaman serupa seperti yang dialami sopir ambulans pengantar jenazah.

—–

cerita dan foto ada juga di sini

Tinggalkan Sebuah Komentar

Filed under cerpen

Balada Pelacur dan Pria Tamak Kekasihnya


Kawasan Semanggi terasa sunyi. Jalanan masih tampak basah setelah diguyur hujan. Seorang wanita berjalan terseok-seok diantara lalu lalang kendaraan yang melintas dengan kecepatan sedang. Rumi, wanita itu berusaha menahan sakit tampaknya.

“Dasar Marjun bedebah. Lelaki bajingan! Sudah dikasih enak, malah tamak,” gerutu Rumi . Rasa dendam telah menggumpal di jiwanya. Lelaki bernama Marjun itu bukan hanya telah menganiaya fisik Rumi, tapi juga sepenggal hidupnya.

Rumi terus berjalan dari jembatan Semanggi ke arah rumah kontrakannya di kawasan Grogol. Masih jauh memang. Tapi ia tak punya pilihan. Selain karena sudah tak ada lagi angkutan umum selarut malam itu, Rumi sudah tak punya uang sepeser pun.

Uang dari para lelaki hidung belang yang telah diservisnya selama beberapa malam terakhir, diambil paksa Marjun, si lelaki jahanam, mantan pacarnya. “Akan kucincang kau Marjun!” Rumi berteriak, suaranya ditelan kesunyian.

Jalannya masih terseok, tapi hatinya lebih terseok lagi. Rumi berusaha tak ingin merasakan sakit lagi. Ia hanya mau segera tiba di rumah, menenangkan pikiran, lalu merencanakan sebuah balas dendam demi mengobati rasa sakit hatinya.

Di sepanjang perjalanan, Rumi bertemu dengan tukang ojek, bahkan ada yang menghampirinya. Rumi tetap memilih jalan kaki. Terus berjalan.

Seorang tukang ojek bilang mau mengantarnya dan ia tak perlu dibayar menggunakan rupiah. Rumi paham maksudnya. Tapi ia sudah kehilangan gairah. Malam itu para lelaki serupa dengan Marjun. Brengsek semua.

***

Rumi mengenal Marjun di sebuah warung remang-remang di Tanahabang. Entah darimana asal pria berbadan tegap itu, awalnya Rumi tak terlalu peduli. Yang diketahuinya, Marjun sangat ditakuti banyak orang di kawasan itu, termasuk para preman.

Setelah berkencan dengan Rumi , Marjun tampak ketagihan. Malam-malam berikutnya ia terus datang dan minta dilayaninya. Rumi sih senang-senang saja apalagi Marjun kerap memberikan uang tips lebih banyak dibanding pria hidung belang yang pernah ditemuinya.

Uang lebih sangatlah dibutuhkan bagi wanita berprofesi seperti dirinya. Tahu sendirilah. Uang jerih payahnya masih harus dibagi untuk kepentingan macam-macam, ada untuk germolah, untuk keamanan atau premanlah, dan untuk tukang ojek langganan.

Padahal ia juga harus menyisihkan uang untuk dikirim ke kampungnya. Orangtua tahunya Rumi alias Ruminten bekerja di sebuah restoran. Rumi tentunya juga harus merawat diri yang butuh biaya tinggi. Meski hanya pelacur kelas teri, Rumi juga butuh menjaga bodi agar tetap aduhai, bukan?

Suatu malam, Marjun meminta Rumi menjadi kekasihnya. Mulanya, ia menyatakan belum siap. Rumi bilang belum mau terikat. Masalahnya, Marjun dikenal lelaki yang pantang ditolak.

Konon, ada seorang pelacur yang pernah menolak dijadikan pacarnya, beberapa malam kemudian perempuan itu tewas dengan sejumlah luka memar. Banyak orang yakin, Marjun pelakunya. Namun kasus itu tak pernah diproses sampai sekarang.

Sebelumnya, seorang preman juga marah besar karena kekasihnya yang juga beraktivitas di keremangan malam digoda Marjun. Preman itu kemudian menantang Marjun duel di sebuah tempat. Sebelum tantangannya kesampaian, sang preman tewas duluan di rumah kontrakannya dengan luka tembak di kepala.

Banyak yang bilang, Marjunlah jugalah pelakunya karena hanya dia yang memiliki senjata api di kawasan itu. Tapi polisi lagi-lagi tak berhasrat melacak kasus pembunuhan tersebut. Marjun pun kian tak tersentuh. Perlahan namun pasti, Marjun menjelma manjadi penguasa tunggal lokalisasi liar itu.

Ia tak peduli dengan perkataan orang bahwa kekuasaan yang diperoleh dengan jalan keji, maka kelak akan berakhir secara keji pula. Ia tak peduli dengan istilah siapa menanam angin ia akan menuai badai.

Sementara itu, setelah menjadi kekasih Marjun, Rumi jadi merasa dibatasi. Lelaki itu menjadi posesif. Gampang cemburu hingga kerjanya pun dibatasi seperti pegawai negeri. Yakni bekerja sebagai penjaja seks dari Senin-Jumat. Sedang Sabtu-Minggu khusus melayani Marjun. Padahal waktu panen untuk profesi seperti Rumi adalah dua malam di akhir pekan tersebut.

Karena tak tahan, Rumi pun berontak. Minta cerai. Tapi Marjun tak pernah mengabulkannya.

Anehnya, tak lama berselang, sikap Marjun berubah 180 derajat. Ia mempersilahkan Rumi “bekerja” setiap malam dengan syarat, dialah yang jadi germonya. “Mumpung kamu masih muda.” Marjun berujar, setengah menyindir.

Tak terbayang dalam hidup Rumi akan menjadi “barang dagangan” pacarnya sendiri. Karena merasa jadi pacarnya, Marjun menerapkan pembagian uang yang tak adil. Ada penyesalan dalam hati Rumi karena telah ditakdirkan menjadi pacar Marjun. Penyesalan itu segera dilupakannya dengan menganggap Marjun adalah orang lain, bekas pacarnya.

Sejak itu juga Rumi tak mau hidup sia-sia. Otaknya bekerja keras, mencari jalan keluar agar bisa bebas dari cengkraman Marjun. Ia mulai mencari tahu siapa sebenarnya lelaki itu. “Betul memang, mumpung aku masih muda, masih laku.” Rumi berkata pada diri sendiri.

Dari salah seorang tamu pelanggannya Rumi akhirnya berhasil mengetahui siapa Marjun. Monod, pria tersebut punya saudara yang satu kesatuan dengan Marjun. Untuk itu ia meminta Rumi tak menyebut sumbernya infonya dari dia. “Ya dia memang anggota TNI. Tapi kabarnya sudah lama tak muncul di kantornya.” Monod mewanti-wanti.

Suatu saat, Marjun mencium usaha Rumi untuk melarikan diri dari cengkramannya. Ia menjemput paksa sang kekasih sekaligus wanita perasannya itu di sebuah tempat hiburan malam di Jakarta Selatan. Nah di tengah perjalanan, Rumi berontak. Marjun pun marah dan membawa Rumi ke taman bawah jembatan Semanggi.

Di tempat yang gelap itu, Rumi dianiaya. Ditampar mukanya, dipukul perutnya, belum puas, ditendang kakinya. Setelah tak berdaya, tas milik Rumi beserta isinya dibawa kabur Marjun.

Hujan kemudian mengguyur. Rumi pun tergeletak sendirian di bawah jembatan Semanggi. Salah satu kawasan ikon Jakarta yang sangat padat dan menyesakan di siang hari, malam itu terasa begitu sunyi.

Setelah hujan reda, dengan kekuatan tersisa, Rumi bangkit. Jalan terseok menuju rumah kontrakannya.

***

Monod ikut geram dengan kisah yang dialami Rumi. Ia pun kemudian memberi ruang kepada Rumi untuk melampiaskan dendamnya.

“Lagi pula dia memang sudah keterlaluan. Bukan saja telah merusak sebagian hidup Rumi dan wanita lain pada umumnya, Marjun juga sudah merusak kesatuan tempatnya berasal,” ucap Monod mengulang perkataan saudaranya kepada Rumi.

Atasan Marjun juga kerap dibuat kesal dengan ulahnya. Jejak langkah pria tamak itu pun kini dalam pengawasan serius sebuah tim penegakan disiplin dari kesatuannya.

Suatu malam, tiba-tiba muncul kabar Marjun tewas dengan luka tembak di kepala. Polisi berdatangan dan membuat analisa tentang siapa pelaku penembakan pria tersebut.

Ternyata bukan hanya luka tembak di kepala. Begutu celananya diperiksa, alat kelamin Marjun yang dibungkus plastik dengan darah berceceran sudah terpotong.

Agaknya sang penembak sengaja memotong kemaluan Marjun karena mungkin sangat dendam. Artinya jika selama ini Marjun memaksa dan memeras para wanita untuk menjual kelaminnya, maka alat kelamin Marjunlah yang harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.

Rumi dan Monod terkejut bukan kepalang. Rumi memang sangat dendam, tapi ia belum sempat melampiaskan dendamnya.

Anehnya berita-berita yang muncul di media massa tak berhasil menyebutkan siapa pembunuh Marjun. Dari keterangan sejumlah saksi dan polisi yang sempat diwawancarai hanya disebutkan bahwa pelaku adalah orang yang sangat dendam dengan Marjun. Lalu dari berita-berita berikutnya terkuak bahwa Marjun memang berlatar belakang tentara alias anggota TNI.

Saat dikonfirmasi, pihak TNI tak membantahnya. Hanya saja, ditegaskan bahwa Marjun adalah tentara disersi yang sudah lama dipecat dari kesatuannya. “Jadi dia bukan anggota TNI,” tulis juru bicara TNI seperti dikutip banyak media massa.

Rumi pun tertawa saat menyaksikan siaran berita televisi soal kasus Marjun. Ia tak berminat lagi mencari tahu siapa pembunuh mantan pacarnya. Ia merasa dendamnya sudah terlampiaskan.

Malam itu Rumi malah merayakan kematian Marjun, khusus bersama Monod tersayang.

sumber foto di sini

Tinggalkan Sebuah Komentar

Filed under cerpen

Ini Jodohku, Mana Jodohmu?


si sulung dan si bungsu menatap alam

Bahwa jodoh ada di tangan Tuhan, Panji kini mempercayainya. Tuhan telah memberinya jodoh itu dan sepasang anak yang sehat, bagaimana ia tak mempercayainya?

Sebelum menikah dengan Bening, Panji tak peduli dengan urusan jodoh. Ia terlampau asyik menikmati diri sendiri. Beberapa kali ia jalan dengan lawan jenis namun tak pernah ada cocok di hati.

Saat Panji menyatakan suka terhadap wanita yang ditaksirnya, yang bersangkutan geleng kepala. Sebaliknya ada satu-dua teman wanita yang menyatakan perasaannya duluan, eh Panjinya yang tak yakin punya perasaan serupa. Ada yang bilang cowok pilih-pilih, jual mahal, tak sedikit yang menyebutnya cowok minderan.

“Ah, cowok mah gampang. Berapapun umurnya, asal punya penghasilan, apalagi mapan, pasti mudah memperoleh pasangan hidup. Nggak ada istilah ketinggalan kereta seperti wanita.” Panji menyampaikan pendapatnya, menghibur diri.

“Iya sih. Tapi kan umur harus dihitung juga. Nggak lucu sudah kakek-kakek punya anak balita kayak Pak Rian.” Seorang kawan Panji menyampaikan pandangan berbeda.

Rian yang dimaksud adalah teman sekantor Panji yang sudah tiga tahun pensiun. Ia terlalu menikmati masa mudanya. Dengan modal wajah ganteng, Rian, jatuh ke pelukan wanita satu dan wanita lainnya.

Rian bercerita bahwa pada masa mudanya ia pernah menikah di bawah tangan. Bahkan, untuk sekian lama, menjadi kekasih gelap seorang istri pengusaha kaya raya.

Akhirnya Rianto, nama panjang Rian, menikah ketika usianya hampir berkepala lima. Dari istri yang berbeda usia 20 tahunan itu ia dikarunai dua anak. Sebagai ayah yang baik, ia selalu mengantar anak-anaknya ke sekolah. Nah, para orangtua di sekolah mengira Rian sedang mengantar cucunya.

“Saya iya kan saja sih. Tapi manakala anak yang dikiranya cucu itu memanggil saya ayah, mereka bengong sendiri,” kata Rian ketika belum pensiun.

“Kita jadi kangen Pak Rian ya?” Panji berkata dengan pikiran menerawang. Ia mengenal Rian saat beliau mempersiapkan masa pensiunnya. Meski sudah tua, kharismanya sebagai pria yang pernah disukai banyak wanita memang masih tampak.

Sebuah nasihat Pak Rian yang pernah disampaikan kepada dirinya, dan masih berbekas adalah jangan sia-siakan masa muda.

Entah apa yang dimaksud, apakah menjadi seperti masa mudanya atau justru kebalikannya? Panji menebak mungkin yang kedua. Tapi kadang-kadang Panji malah membayangkan bahwa ia akan bahagia mengabadikan hidupnya pada kemanusiaan meski tanpa pernah menikah.

***

Pada satu acara, Panji mewakili kantor, memenuhi undangan pemerintah daerah ke Kepulauan Seribu. Selain untuk meliput sebuah acara, tentu saja, untuk memberi kesempatan setiap peserta untuk menikmati keindahan alam di Utara Ibukota itu.

Sebagian peserta sudah dikenal Panji karena sering bertemu dalam acara liputan yang sama. Di sana Panji lalu berkenalan dengan Bening. Mereka terlibat obrolan mengasyikan karena ternyata berasal dari program studi yang sama meski perguruan tinggi berbeda.

Diam-diam, ada diantara kawan yang dikenal Panji dan Bening, menjodohkannya. Saat acara karaokean, setelah makan malam, Panji dan Bening diminta untuk bernyanyi. Namun karena keduanya tak terbiasa, dengan setengah mati akhirnya berhasil menolaknya.

Maka sang kawan tadi yang menyanyikan sebuah lagu, katanya khusus dipersembahkan untuk pasangan baru, Panji dan Bening. Yakni Killing me Softly with his song, lagu hits Roberta Flack tahun 1973-an yang kembali dipopulerkan The Fugees tahun 1995-an.

Begitulah setelah acara usai, Panji dan Bening kembali pada kesibukannya masing-masing. Setelah sekian lama, mereka baru saling berhubungan kembali via telepon. Lalu bertemu muka lagi, makan dan nonton bersama, juga ngomongin masa depan.

“Jika, kamu setuju, kita langsung menikah saja. Tak perlu pacaran lagi,” ujar Panji, tiba-tiba memberanikan diri.

Bening tak menjawabnya segera. Panji, pria yang kini menawarinya menikah, baru dikenalnya. Ia merasa tak punya alasan untuk segera menjawabnya.

Banyak peristiwa lalu lalang dalam kehidupan Bening. Beberapa kali lelaki datang dan pergi, kini ia harus lebih matang menerima pria yang akan mendampingi hidup hingga akhir hayatnya.

Panji juga tak butuh jawaban segera. Ia hanya menyampaikan alasan mengapa ia serius mengajaknya langsung menikah. Sebab jika harus melalui masa berpacaran, katanya, pasti akan putus di tengah jalan. Perbedaan sifat dan masa lalu keduanya sering jadi penghalang.

“Saya menawarkan untuk langsung menikah dengan prinsip ikhlas. Pasti diantara aku dan kamu punya kelemahan, masa lalu yang berbeda. Tapi jika kita sama-sama ikhlas, Insya Allah kita bisa melaluinya bersama.”

Kata ikhlas itu entah mengapa begitu memukau Panji. Kata itu ia temukan dari salah satu buku bacaan yang ditulis seorang cendekiawan muslim, Quraih Shihab.

Namun kata itu segera dilupakannya tatkala Bening tak segera memberikan jawaban. Apalagi ketika wanita itu memutuskan tak jadi mudik Lebaran, padahal Panji bersiap memperkenalkan diri pada orangtua Bening di sebuah kota di Jawa Tengah.

Bening mengaku masih ada tugas kantor yang harus diselesaikannya. Panji tak bisa memaksa. Ia pun memesan tiket bus mudik rombongan melalui adiknya. Sebagai pria jomblo, pulang mudik merupakan hal yang gampang bagi Panji dan itu dilakukannya setiap tahun.

Panji masih punya ibu yang selalu merindukannya, sedang ayahnya sudah meninggal sejak ia kuliah.

Tapi, beberapa jam sebelum mudik, Bening menelepon Panji bahwa ia juga ingin mudik bersamanya. Panji segera mengiyakannya. Mereka janjian di Stasiun Gambir untuk mengantar Bening ke kampung halamannya.

Di stasiun termegah di Indonesia itu, suasana pemudik sudah riuh. Tiket resmi sudah ludas. Dari calo yang banyak berkeliaran di stasiun, Panji lalu ditawari tiket kereta api yang harganya dua kali lipat lebih mahal dari harga biasa. Padahal harga bandrol itu pun sudah merupakan harga tertinggi dan tetap ada saja yang membeli karena semua orang ingin mudik.

Sepanjang usianya, Panji tak pernah membayangkan akan berurusan dengan calo. Selain pasti merugikannya, profesi itu dianggap tak baik, karena mengambil keuntungan dari derita banyak orang.

Tapi demi cintanya pada Bening, Panji mengabaikan pikiran itu dan langsung membelinya.

Perjalanan mudik menggunakan kereta api kelas bisnis sehari sebelum lebaran baru dirasakan keduanya. Ternyata kacaunya luar biasa.

Saat kereta api tiba di stasiun, rebutan tempat duduk pun tak terhindarkan. Jumlah penumpang tak punya nomor tempat duduk luar biasa banyaknya dan dipaksakan masuk semua. Panji dan Bening bersyukur dapat kursi sesuai nomor tiket yang diperolehnya. Namun mereka terpaksa harus berbagi dengan seorang penumpang.

Ya, penumpang itu seorang pemuda yang mudik dengan membawa tas koper besar. Dalam perjalanan, pemuda itu sok tahu dengan menebak pekerjaan Panji dan Bening. Saat menyebut kata media, Panji dan Bening sempat kagum bahwa tebakan pemuda itu benar.

Tapi begitu melanjutkan bahwa yang dimaksud adalah Media Kargo, Panji dan Bening tak bisa menahan tawanya. Keduanya memang bekerja di media atau surat kabar, tapi tak terkait dengan Kargo, pengiriman barang.

Meski ditertawakan, pemuda itu tak marah. Ia lalu membuka tas kopernya, yang ternyata hanya berisi satu kotak kue lemper. Makanan itu ditawarkan pada Panji dan Bening. Dengan alasan masih kenyang, keduanya geleng kepala.

Panji dan Bening lalu saling berbisik. “Tas koper kok isinya lemper?”

Hahaha…Kikikikik…dan pemuda polos itu malah turut tertawa.

***

Begitulah, orangtua Bening terkejut tatkala menyaksikan anak perempuannya pulang bersama lelaki yang tak pernah diceritakannya. Meski Panji tak punya potongan sebagai pria beristri, ayah Bening tetap minta anaknya tetap waspada. Siapa tahu Panji sudah punya anak-istri.

Entah bagaimana cerita Bening pada orangtuanya, Panji diminta langsung menyampaikan keinginan menikahi Bening kepada ayah ibunya. Permintaan itu membuatnya galau. Bagaimana kalau ia tak lancar mengatakannya? Bagaimana pula kalau kemudian permintaannya ditolak? Tapi karena merasa sudah basah, Panji pantang surut ke belakang.

Di luar dugaan, semuanya berjalan lancar. Penentuan tanggal pernikahan langsung dibuat saat itu juga, yakni tanggal libur nasional. “Jika orangtuanya setuju, Bening tentu sudah ada di dalamnya, bukan?” Panji berkata pada diri sendiri.

Setelah dari rumah orangtua Bening, Panji giliran mengajak calon istrinya untuk diperkenalkan kepada ibunya. Dalam perjalanan, Panji memutarkan lagu Utha Likumahuwa (Almarhum) berjudul Esok Kan Ada. Syair lagu itu tampaknya sangat menyentuh hati Bening. Ia meneteskan air mata.

Ibu Panji sangat mempercayainya. Ia pun tak banyak bertanya soal asal muasal Bening, kecuali hanya mengatakan bahwa calon menantunya itu cantik.

Setelah itu, mereka mengabarkan tentang tanggal pernikahan kepada rekan-rekan kerja mereka di kantor masing-masing. Tentu saja banyak yang terkejut, namun tak ada yang protes. Karena pernikahan itu dilakukan jauh dari Jakarta, hanya kawan-kawan dekat yang datang. (Salah satu kawan yang datang di sini ceritanya)

Setelah menikah, keduanya kembali ke Jakarta dan bekerja tanpa bulan madu. Ya tanpa bulan madu. Hebat bukan? Ah biasanya saja. Panji dan Bening menjalani seperti mengikuti aliran air kehidupan. Ikhlas kuncinya.

***

Setelah menikah keduanya langsung disibukan dengan kehamilan Bening. Tapi kehamilan pertama itu gagal, janin bayi tak berkembang karena terkena toxoplasma alias virus kucing.

Untuk membersihkannya, rahim Bening harus dikuret. Panji menemaninya dengan setia.

Syukurlah, setelah itu Bening hamil lagi. Karena trauma dengan keguguran pertama, ia memutuskan cuti di luar tanggungan dan pulang ke kampung halaman.

Anak pertama lalu lahir normal. Bayi lelaki itu rambutnya kriting. Kulitnya bersih, lucu, ganteng, semua orang mengangguminya.

Kehadiran benar-benar menjadi perekat. Perbedaan sifat antara Panji dan Bening yang kerap berbenturan tajam setelah menikah, langsung bisa diredam saat bertemu dengan si sulung. Apalagi setelah anak kedua, perempuan hadir delapan tahun kemudian, kebahagian keduanya kian lengkap.

Baik Panji dan Bening semakin giat bekerja. Berangkat pagi, pulang malam. Kedua anaknya jadi terbiasa dengan kesibukan kedua orangtuanya. Tatkala hanya punya si sulung, ulang tahun bukanlah hal istimewa. Mungkin karena ia cowok, si sulung tak terlalu menuntut perayaan ulang tahun.

Beda sekali dengan kahadiran si bungsu yang cewek. Ia bukan hanya hafal hari ulang tahun dirinya, tapi juga kakak, papa, mama, termasuk pengasuhnya. Dan setiap ulang tahun seolah ada kewajiban merayakannya, minimal membelikan kue ulang tahun karena si bungsu akan dengan suka cita meniup lilinnya.

Dari semua hari ulang tahun hanya satu momentum penting yang tak pernah diketahui si bungsu karena memang tak pernah diberi tahu. Jangankan si bungsu, mungkin karena terlalu sibuk dengan pekerjaan dan membesarkan anak, Panji-Bening juga sering melupakannya.

Ulang tahun yang dimaksud adalah ulang tahun perkawinan yang tanggal 19 April tahun ini memasuki usia ke-14 tahun.

***

Bangun tidur, begitu disodori kue ulang tahun dengan Lilin berangka 14, si bungsu langsung bertanya: siapa yang berulang tahun? Ia mengira ulang tahun kakaknya, yang juga akan memasuki usia 14, tapi ia kemudian ingat bahwa ulang tahun kakak jatuh pada bulan Desember mendatang.

Tatkala Bening menjelaskan bahwa itu ulang tahun perkawinan papa-mamanya. Si bungsu yang masih duduk di taman kanak kanak tampak belum paham. Namun ia tetap senang meniupkan lilinnya.

“Selamat ulang tahun ya, Papa dan Mama, dua-duanya,” ucapnya.

Tulisan juga bisa dilihat di sini

Tinggalkan Sebuah Komentar

Filed under cerpen

Menantu Koruptor, Mertua Tak Berdaya


Ayo ganyang korupsi (Gresnews)

Berceritalah Maridi tentang mengapa ia tak pernah menyukai Husni, salah satu menantunya. Cerita itu disampaikan kepada salah satu cucunya yang dikenal kritis dan kebetulan seorang aktivis.

“Cerita ini khusus untuk kamu. Kakek yakin kamu sudah dewasa dan bisa memahami kisah kakek dan om kamu itu dengan akal sehat.” Maridi mengawali cerita seolah sebagai sebuah pemanasan.

Maridi menegaskan bahwa awalnya ia tak pernah membeda-bedakan para menantunya. Perjodohan semua anaknya diserahkan kepada yang bersangkutan karena ia yakin merekalah yang menjalaninya bukan orangtua.

Apalagi sebagai perwira TNI, Maridi selalu ditugaskan ke berbagai daerah. Akibatnya ia tak bisa memantau setiap saat perkembangan empat anaknya.

Yang ia tahu Niken, anak sulungnya, berpacaran dengan Husni teman SMA di kota tempat ia pertama bertugas. Setelah lulus, Husni mendaftar sebagai anggota TNI. Sedang Niken kuliah di Surabaya.

Masalahnya, setelah Husni menjadi anggota TNI, keduanya malah semakin lengket. Menghindari hal-hal tak diinginkan, Maridi akhirnya menikahkan anak sulungnya. Niken selanjutnya terpaksa berhenti kuliah setelah melahirkan dua anak yang usianya terpaut satu tahun.

Diantara anak-anak Maridi, kehidupan ekonomi Niken jalan di tempat. Maridi bisa memahaminya karena ia tahu persis berapa penghasilan anggota TNI berpangkat sersan seperti Husni. Bantuan keuangan selalu dikirimkan Maridi kepada Niken, hampir setiap bulan.

Ada keinginan kuat Maridi untuk membantu lebih dari sekadar uang kepada Niken dan suaminya. Meski punya pengaruh di lingkungan TNI, dengan pangkat kolonel, Maridi tak mungkin bisa mendongkrak pangkat menantunya. Ini karena di lingkungan organisasi TNI punya aturan main sendiri. Setiap orang tak bisa nyelonong begitu saja mempromosikan yang lain, termasuk menantunya.

Maka usulan menjadikan Husni kepala desa di tempat kelahirannya lebih masuk akal. Kebetulan warga membutuhkan sosok baru, setelah bosan dengan kepala desa lama dan para kroninya.

Maka dengan gelontoran uang dan pengaruhnya, Maridi menjadikan sang menantu sebagai kandidat kepala desa. Bolak-balik ia harus pulang pergi mudik dari Jakarta ke Jawa Timur, demi mewujudkan keinginan menjadikan Husni kepala desa.

Syukurlah kerja kerasa Maridi tak sia-sia. Husni terpilih menjadi kades dengan perolehan suara telak. Agar lebih berkonsentrasi membangun desa, atas usul Maridi, Husni mundur sebagai anggota TNI.

Sejak itu, Maridi pulang ke Jakarta dengan senyum. Ia menjadi lebih tenang menyongsong masa pensiunnya sebagai perwira TNI.

“Wah hebat kakek. Mestinya Om Husni berterimakasih pada kakek,” ucap sang cucu, membuat kesimpulan sementara.

***

Lima tahun kemudian, Maridi melanjutkan ceritanya, ia kembali dipaksa pulang kampung. Tapi bukan untuk mendukung Husni yang mencalonkan diri menjadi kepala desa untuk kedua kalinya. Tapi justru untuk menggagalkannya. Kok bisa?

Sebenarnya bukan untuk menggagalkannya, tapi untuk mengingatkan sang menantu, bahwa citranya sudah negatif. Ia sudah terlampau kaya dari hasil yang diduga karena penyalahgunaan jabatan sebagai kepala desa.

Ia tak ingin menantunya terperangkap lebih jauh. Apalagi lawan politiknya sudah mewanti-wanti akan membongkar kasus dugaan korupsi yang dilakukan Husni. Jika itu terjadi, bukan saja masa depan Husni akan hancur, namun juga nama besar keluarga Maridi tercoreng.

Di depan Maridi, Husni tetap menaruh hormat. Ia minta maaf tak bisa mundur dari pencalonannya karena sudah terlanjur jalan. Ia mengaku sebenarnya tak ingin maju lagi sebagai kepala desa dan ingin berwirausaha. Ia terpaksa maju lagi karena dicalonkan, bukan mencalonkan. Kalimat terakhir itu terdengar klise di telinga Husni.

“Tapi begini saja Pak. Karena terlanjur, biarkan proses politik ini berjalan. Saya berjanji tak akan ngotot memenangkan Pilkades. Saya akan terima dengan ikhlas jika akhirnya kalah.” Husni mengusulkan jalan keluar yang diyakini akan disetujui mertuanya.

Maridi memang tak bisa berbuat banyak. Apalagi kala itu ia sudah pensiun. Tak punya pengaruh kuat lagi dibanding semasa dia masih menjabat. Ia pulang ke Jakarta dan berharap sang menantu gagal jadi kepala desa dan menepati janjinya.

Nyatanya, Husni terpilih untuk kedua kalinya. Dari kabar yang terdengar, ia memenangkan Pilkades itu dengan politik uang. Selama menjabat kedua kalinya, tingkah laku Husni makin menjadi-jadi. Lawan-lawan politiknya dibungkam dengan berbagai cara.

Mungkin karena sudah muak, justru pada periode kedua itulah warga desa berontak. Unjuk rasa untuk menurunkan Husni sebagai kepala desa bermunculan. Namun karena mata hatinya sudah dibutakan, sang menantu membalas unjuk rasa warga desa dengan unjuk rasa balasan warga bayaran. Bentrok antarwarga kerap tak terhindarkan.

“Kakek sedih dan menyesal sedalam-dalamnya telah menjadikan Om mu itu sebagai kepala desa.” Maridi mengenang, pikirannya menerawang.

Sang cucu tampak terkesan dengan cerita kakeknya. Ia membayangkan dirinya berada di antara pengunjuk rasa, sebagai koordinator lapangan. Sungguh sebuah bayangan seksi bisa memimpin unjuk rasa menurunkan pejabat korupsi yang merupakan omnya sendiri.

“Lanjutkan kek. Seru ceritanya,” kata sang cucu seraya mencolek kakeknya yang masih menerawang dengan lamunan masa lalunya.

***

Maridi melanjutkan ceritanya dengan menyebut sang menantu akhirnya berhasil digulingkan rakyat. Saat itu sang kakek, karena sudah tua, tak ikut cawe-cawe lagi. Ia pasrah dengan apa yang dialami menantunya.

Maridi hanya berusaha menguatkan Niken dan anak-anaknya bersabar karena mungkin itulah jalan hidup yang harus ditempuh pria panutan mereka. Saat huru-hara politik menurunkan Husni sebagai kepala desa, Niken dan anak-anaknya memang mengungsi ke Jakarta, rumah kakeknya.

Warga ternyata tak puas hanya melengserkan Husni, mereka juga melaporkan sejumlah kasus dugaan korupsi yang telah dilakukan kepala desa terguling itu.

Namun hanya karena kasus itu bersamaan dengan kesibukan Pilpres, nasib Husni terselamatkan. Momentum itu juga dimanfaatkan Husni untuk bergeriliya membungkam para pejabat hukum yang menangani kasusnya dengan uang.

“Wah kalah isu ya Kek sama Pilpres. Apakah Om Husni sempat dipenjara setelah Pilres?” Sang cucu bertanya serius.

“Hahaha itulah lihainya Ommu dan itulah anehnya negerimu.” Sang kakek menjawab sambil terkekeh.

Setelah Pilpres, justru karier Husni justru meroket. Ia terpilih sebagai wakil rakyat tingkat DPRD dari partai yang sedang berkuasa.

” Kalau sudah begitu mana ada yang berani mengutik-utik kasus Ommu itu?.”

Sang cucu mengangguk-angguk. Ia melihat potret om Husni seperti potret karut marut negerinya saat ini.

5 Komentar

Filed under cerpen

Berakhirnya Era Inggris di Liga Champions


7230013766_9fcd84104e_z

Chelsea, klub Inggris terakhir yang juara Liga Champions 2012

 

 

Untuk pertama kalinya sejak tahun 1996, perempatfinal Liga Champions
tanpa diwakili klub Inggris. Tersingkirnya Arsenal, karena kalah gol
tandang meski menang 2-0 di Allianz Arena semalam, seolah menjadi
akhir dominasi klub Liga Inggris di kancah Eropa.

Pertanyaan pun dilontarkan sky news dalam terbitannya kemarin: Is The
Premier League Still The World’s Best? (masihkan Liga Inggris menjadi
kompetisi terbaik dunia?).  Jawabannya tidak lagi.  ”Kualitas itu
sudah tidak ada lagi,” kata seorang pria yang disebut bernama Hars di
sebuah rumah taruhan.
Lebih dari 15 tahun klub-klub Liga Inggris selalu tampil di babak
delapan besar. Nama klub seperti Manchester United, Chelsea, Arsenal,
dan Liverpool cukup disegani lawan-lawannya.  Musim ini, setelah
Manchester City tersingkir, dan Chelsea turun level ke Liga Eropa,
orang masih percaya pada Manchester United.
Nyatanya MU juga disingkirkan Real Madrid melalui insiden kartu merah
Nani yang dikeluarkan wasit asal Turki, Cuneyt Cakir. MU yang sudah
unggul 1-0, langsung drop karena kartu merah yang dinilai tak pantas
dikeluarkan itu. Sebaliknya Madrid langsung membalikkan keadaan
menjadi 2-1 pasca keputusan kontroversial tersebut.
Tahun 2008 adalah puncak kekuasaan klub Inggris di Liga Champions.
Ketika itu terjadi all klub Inggris di babak final yang digelar di
Moskow, antara Manchester United dan Chelsea. Sedang Liverpool
mencapai semifinal, dan Arsenal mencapai perempafinal.
Pada final Liga Champions tahun 2005 di Istanbul Turki, Liverpool
sebagai wakil Liga Inggris juga membuat kejutan. Sempat tertinggal
lebih dulu 0-3 oleh AC Milan, selanjutnya bangkit menyamakan kedudukan
dan memenangkan pertandingan.
Nah, sejak itu, Inggris selalu menempatkan tiga klub di babak
perempatfinal Liga Champions. Bahkan tahun lalu, Chelsea menjadi juara
Liga Champions setelah mengalahkan Bayern Muenchen di Allianz Arena.
Mengapa klub Liga Inggris seolah kini kalah dibanding Liga Spanyol
yang menempatkan tiga wakilnya (Barcelona, Real Madrid, Malaga) atau
Liga Jerman dengan Bayern Muenchen dan Borrusia Dortmund? Jawabnya
adalah siklus.
Koran-korang Inggris menyebut, olahraga memang cenderung siklus.
Lihatlah apa yang terjadi saat Liverpool menjadi juara Eropa tahun
1977, sejak Manchester United sembilan tahun lalu (1968), sejak itu
klub-kub Inggris mendominasi. Tujuh dari delapan tahun berikutnya
secara berturut- turut dikuasai klub Inggris. Yakni Liverpool juara 4
kali, Nottingham Forest FC 2 kali dan Aston Villa 1 kali. (lihat
tabel).
Pada tahun 1980-an terjadi tragedi Heysel. Klub-klub Inggris dilarang
tampil. Dan sejak itu, klub Inggris tak lagi mendominasi sebagai
juara. Dari semua klub Liga Inggris hanya Liverpool yang paling sering
menjadi raja Eropa (5 kali). Sedang MU 3 kali, Nothingham 2 kali,
sedang Chelsea dan Aston Villa sekali. Liverpool sendiri kini bahkan
tak lagi masuk Liga Champions, dan terseok di Liga Inggris.
Tersingkirnya klub Liga Inggris diduga juga disebabkan oleh adanya
kekuatan luar yang mengancam seperti kelahiran kembali Juventus,
kualitas abadi Bayern Muenchen, dan pertumbuhan kekuatan Borussia
Dortmund.
Kini posisi Liga Inggris sebagai Eropa Big Three di Liga Champions,
setelah Spanyol dan Italia mulai terancam, meskipun di Liga Eropa
mereka masih menguasai dengan menempatkan tiga wakilnya, Tottenham
Hotspurs, Chelsea dan Newcastle ke babak delapan besar.
Kemunduran klub-klub Liga Inggris diprediksi akan berlangsung dalam
dua atau tiga tahun. Tidak ada ruang untuk berpuas diri.
DAFTAR JUARA LIGA CHAMPIONS
1955/56 Real Madrid
1956/57 Real Madrid
1957/58 Real Madrid
1958/59 Real Madrid
1959/60 Real Madrid
1960/61 SL Benfica
1961/62 SL Benfica
1962/63 AC Milan
1963/64 Inter Milan
1964/65 Inter Milan
1965/66 Real Madrid
1966/67 Celtic FC
1967/68 Manchester United
1968/69 AC Milan
1969/70 Feyenoord
1970/71 AFC Ajax
1971/72 AFC Ajax
1972/73 AFC Ajax
1973/74 FC Bayern Munich
1974/75 FC Bayern Munich
1975/76 FC Bayern Munich
1976/77 Liverpool FC
1977/78 Liverpool FC
1978/79 Nottingham Forest FC
1979/80 Nottingham Forest FC
1980/81 Liverpool FC
1981/82 Aston Villa FC
1982/83 Hamburger SV
1983/84 Liverpool FC
1984/85 Juventus FC
1985/86 FC Steaua Bucureşti
1986/87 FC Porto
1987/88 PSV Eindhoven
1988/89 AC Milan
1989/90 AC Milan
1990/91 Red Star Belgrade
1991/92 FC Barcelona
1992/93 Olympique de Marseille
1993/94 AC Milan
1994/95 AFC Ajax
1995/96 Juventus FC
1996/97 Borussia Dortmund
1997/98 Real Madrid CF
1998/99 Manchester United
1999–2000 Real Madrid CF
2000/01 FC Bayern Munich
2001/02 Real Madrid CF
2002/03 AC Milan
2003/04 FC Porto
2004/05 Liverpool FC
2005/06 FC Barcelona
2006/07 AC Milan
2007/08 Manchester United
2008/09 FC Barcelona
2009/10 Inter Milan
2010/11 FC Barcelona
2011/12 Chelsea

Jumlah Gelar Juara Liga Champions Berdasarkan Klub :
9 Real Madrid
7 AC Milan
5 Liverpool
4 FC Barcelona, Bayern Munich, Ajax
3 Inter Milan, Manchester United
2 Benfica, Juventus, Nottingham Forest, FC Porto
1 Aston Villa, Borussia Dortmund, Celtic, Crvena Zvezda, Feyenoord,
Hamburg SV, Olympique Marseille, PSV, Steaua Bucharest, Chelsea

Tinggalkan Sebuah Komentar

Filed under sport

Awan Yang Lucu


20121216-085232.jpg

Tinggalkan Sebuah Komentar

Desember 16, 2012 · 1:54 am

Diluncurkan, Kumpulan Cerpen Sembilan Wartawan (Seri 4)


tujuh dari sembilan wartawan saat acara peluncuran sembilan cerpen wartawa di Gedung Dewan Pers, Jalan Kebon Sirih, Jakarta, Rabu (31/10). — Foto Suara Karya

Kumpulan cerita pendek (cerpen) wartawan kembali diluncurkan di Gedung
Dewan Pers, Jalan Kebon Sirih, Rabu (31/10). Seperti peluncuran
sebelumnya, peluncuran cerpen sembilan wartawan tetap bertujuan untuk
memperluas khasanah sastra di Indonesia.

Kumpulan cerpen seri keempat kali ini melibatkan sembilan wartawan
atau berkurang dua orang dibanding seri sebelumnya yang diluncurkan
Maret 2012.
“Sebenarnya kita ingin meluncurkannya tahun depan (2013), namun karena
bahan sudah terkumpul dan kawan-kawan tak sabar menerbitkannya
kembali, maka diluncurkanlah hari ini,” ujar salah seorang penulis
dalam kumpulan cerpen itu, Hendry CH Bangun.

Buku tersebut, lanjut dia, mulai pekan depan sudah beredar di sejumlah
toko buku yang ada di Tanah Air, terutama toko buku Gramedia. Adapun
sembilan penulis cerpen dalam buku itu yakni Aba Mardjani, AR Loebis,
Djahar Muzakir, Djunaedi Tjunti Agus, Hendry CH Bangun, Iman Handiman,
Mahfudin Nigara, Maria Andriana, dan Wito Karyono.

Salah seorang penulis, Djunaedi Tjunti Agus, mengatakan cerpen
tersebut ditulis di antara kesibukannya sebagai salah seorang pimpinan
di Harian Suara Karya. “Saya berharap buku ini bisa melebihi buku
kumpulan cerpen seri sebelumnya,” kata Djunaedi.

Penulis lainnya, Maria Andriana, mengatakan bahwa sebagian besar
cerpennya berisi kehidupan sehari-hari. Bagi Maria, cerpen adalah
pelampiasan akan kecintaannya berbahasa karena dalam pekerjaannya
sehari-hari Maria biasa menulis berita secara singkat.

Tak kurang 37 cerpen menghiasi buku itu. Temanya berbeda-beda namun
dengan kualitas yang terjaga dan dapat dipertanggung jawabkan.
Cerpenis yang hadir pun bisa disebut bukan penulis kemarin sore baik
sebagai penulis cerita fiksi maupun sebagai wartawan.

Dalam acara launching kemarin hadir pula  Direktur Marketing PT So
Good Food (yang memproduksi So Nice Sosis) Denny Gumulya. So Nice
Sosis adalah sponsor setia terbitnya empat kumpulan cerpen wartawan
selama ini.

Menurut Denny, menerbitkan buku cerpen boleh saja idealis, namun
kehadiran sponsor bukan untuk mengurangi unsur idealis tersebut.
Justru sebaliknya sebuah buku yang memperoleh sponsor berarti
kualitasnya memang terjaga dan profesional.

Hendry CH Bangun selaku penyusun setiap seri kumpulan cerpen
menambahkan bahwa kehadiran sponsor bukan saja membantu penerbitan,
tapi juga menekan harga sehingga buku tersebut bisa terjangkau
masyarakat luas.

Tinggalkan Sebuah Komentar

Filed under cerpen