Tes itu Bernama Tes UKBI


BIASANYA sebuah tes dijalani dengan penuh persiapan bahkan ketegangan. Namun tes yang satu ini beda sekali. “Ini sih bukan tes, tapi hiburan. Rekreasi daripada di kantor melulu,” kata Condro, salah seorang peserta tes.

Tes yang satu ini sebenarnya tidak sepele, tes uji kemahiran berbahasa Indonesia (UKBI). Tes tersebut tiba-tiba diwajibkan oleh perusahaan tempat Condro bekerja untuk diikuti semua karyawan. Tak peduli karyawan tersebut sudah mau pensiun atau pun baru diangkat menjadi karyawan tetap.

Karena tes tersebut harus dilakukan di sebuah lab bahasa di Jakarta Timur, maka sebagian karyawan berangkat berombongan sesuai jadwal yang ditentukan. Para karyawan tampak kompak. Sepertinya karena mereka hendak menghadapi musuh bersama yakni tes UKBI.

Di Lab yang menyerupai laboratorium Bahasa Inggris, setiap karyawan memilih mejanya masing-masing. Seorang instruktur wanita memandu persiapan tes yang antara lain terdiri dari tes mendengarkan, merespons kaidah, dan membaca.

Saat mengikuti tes itulah ketegangan mulai muncul. Mereka harus bergerak cepat mendengarkan petunjuk, menyimak setiap pertanyaan, lalu mengisi jawaban di lembar berbeda. Soal-soal pada seksi I tampaknya mudah, namun pada sesi berikutnya diperlukan kecepatan berpikir, bahkan menghadapi pertanyaan menjebak.

“Daripada pusing ya udah saya keluar duluan aja,” kata Condro yang ternyata diikuti seniornya. Bedanya, sang senior mengaku juga memilih cepat keluar karena perut keroncongan, belum sarapan. Maka Condro pun mengantar seniornya itu menikmati soto ayam, sekitar 500 meter dari Lab UKBI.

Sampai di kantor, masing-masing karyawan berbagi cerita. Setiap ada yang cerita selalu diikuti gelak tawa. Tes UKBI tampaknya menjadi bahan guyonan, dibanding bahan evaluasi terhadap kemampuan berbahasa Indonesia masing-masing. “Evaluasi apaan? Kayaknya nggak ada hubungan deh antara tes UKBI dengan kemampuan berbahasa,” ucap seorang rekan Condro.

Seperti ditulis wikipedia, UKBI adalah uji kemahiran (proficiency test) untuk mengukur kemahiran berbahasa Indonesia baik penutur Indonesia maupun penutur asing. UKBI meliputi lima seksi, yaitu seksi I (mendengarkan), seksi II (merespons kaidah), seksi III (membaca), seksi IV (menulis), dan seksi V (berbicara) .

Tes ini dikembangkan Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional sejak tahun 1997 sebagai rekomendasi Kongres Bahasa Indonesia III. Tahun 2006 tes UKBI diresmikan Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo. Pada masa mendatang UKBI akan digunakan sebagai instrumen penerimaan pegawai dan syarat bagi orang asing yang ingin belajar dan bekerja di Indonesia, seperti halnya TOEFL dalam Bahasa Inggris.

Sebulan kemudian, 10 besar karyawan yang memperoleh nilai tertinggi tes UKBI diumumkan. Gelak tawa pun lagi-lagi muncul, seakan-akan tes UKBI, tak akan pernah habis untuk ditertawakan. Karyawan yang setiap hari bergelut dengan penyuntingan bahasa Indonesia di perusahaan penerbitan tersebut malah tak tercantum dalam 10 karyawan terbaik.
Sertifikat UKBI pun diperlakukan sebagai lembaran tanpa arti. “Dilaminating dong. Lumayan kan buat bahan cerita ke anak-cucu kita bahwa kita mereka pernah tes UKBI,” kata seorang karyawan dengan nada bercanda.

Condro sama sekali tak berniat melaminating sertifikat UKBI tersebut. Namun demikian, sertifikat itu ia bawa ke rumah seraya menceritakan bagaimana ia memperoleh sertifikat itu kepada anak anak-istrinya. Ternyata mereka juga menertawakan Condro.

Lho kalian kok tertawa juga?

“Habis, papa ceritanya itu-itu melulu. Itu sudah cerita ketiga kali,” kata istrinya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s