Cerita Tentang Liburan


NGISI liburan anak paling gampang ya ngajak ke mal. Lalu kalau sudah di mal pasti minta satu paket: ngajak main games, makan di food court, dan beli mainan. Beruntung kalau mainan yang diminta harganya murah.
“Padahal tahu sendiri kan, umur mainan di tangan anak-anak tak pernah lebih dari satu hari. Mahal atau murah sama saja,” keluh Ny Sisca, seorang karyawati swasta dengan dua anak. Meski ia dan suaminya punya penghasilan masing-masing, ia tak mau terlalu memanjakan anak dengan melulu membelikan mainan yang dianggapnya tak mendidik.
Ny Sisca beruntung anak tertuanya sekarang sudah berumur 10 tahun. Si kakak tak lagi gampang tergiur membeli mainan setiap pergi ke mal. Ia sudah mau diarahkan untuk membeli buku atau komik. Sedang adiknya masih teramat kecil untuk ngotot minta mainan yang dilihatnya di mal.
Suatu hari, sang adik atau si dedek, yang sudah beberapa kali diajak ke Depok Town Center (DTC) ngikut kakaknya main games di Amazone. Seperti kakaknya ia ikut-ikutan memasukan koin yang akan menghasilkan tiket dengan jumlah tertentu bila permainannya tepat sasaran.
Dengan bimbingan Ny Sisca, si dedek memencet tombol start. Bola sebesar bola pimpong di dalam bilik games jatuh dan memantul-mantul. Wow, bola tersebut masuk ke angka 50. Tiket kecil sepanjang 50 buah pun keluar. Si dedek dengan suka cita menariknya.
“Masukin koin lagi, Ma,” pinta si kakak turut bersuka cita.
Koin kembali dimasukkan dan si dedek dipersilahkan memencet tombol start kedua kalinya. Setelah memantul-mantul, bola kembali masuk ke angka 50. Kakak beradik itu kembali bersuka cita mencabut 50 buah tiket hingga terputus-putus.
“Lagi…lagi..” kata si dedek yang langsung didukung kakaknya.
Pada koin ketiga, Ny Sisca tak sempat melihat kapan tombol start dipencet anak keduanya. Tiba-tiba tiket sebanyak 50 lembar muncul lagi. Si dedek dan si kakak kembali larut dalam kegembiraan.
Saat pada koin ke empat dan kelima hanya memperoleh 12 dan 3 tiket, Ny Sisca langsung menghentikannya. “Hoki dede sudah habis,” gumamnya.
Sejak itu ia menyebut si dedek sebagai anak hoki. Kepada suami dan beberapa kerabatnya ia ceritakan kembali soal hoki si anak tersebut. Memperoleh angka tertinggi (50) hingga tiga kali untuk sebuah games untung-untungan merupakan sebuah pencapaian ruarrr biasa.
Nah, setiap cerita soal hoki itu dikisahkan kembali mamanya, si Dedek seperti mengerti maksudnya. Ia jadi sering nimbrung, “bola…bola..,” katanya sambil memperagakan memencet tombol games start dengan tangannya.
Karena masih libur, beberapa hari kemudian Ny Sisca kembali mengajak dua anaknya ke mal yang sama, DTC. Mereka tetap ke Amazone, meski tak lagi main bola pantul yang pernah membuat si dedek begitu hoki. “Bukan karena takut tak hoki lagi. Tapi cindera mata yang bisa ditukar dengan tiket tersebut nggak ada yang menarik,” kata Ny Sisca kepada suaminya.
Sejak itu si dedek tak pernah lagi bilang: bola…bola…yang maksudnya main games di Amazone. Tapi setiap diajak keluar rumah oleh papanya ia langsung menyebut kata, “DTC…DTC…”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s