Tahun Terakhir Seorang Kepala Sekolah


Subarkah sedang menjalani tahun terakhirnya menjadi kepala sekolah. Ia sudah membuat kesepakatan dengan pemilik yayasan yang mengelola sekolah itu bahwa ia tak mau memperpanjang lagi jabatannya.

Cukup sudah waktu 15 tahun menjadi kepala sekolah. Ia tak boleh serakah, guru-guru di bawahnya juga ingin mencicipi jabatan yang didudukinya. Sekolah itu juga perlu regenerasi untuk menyegarkan suasana.

“Sudah saatnya saya mundur. Menjadi pendidik tak harus menjadi guru, apalagi kepala sekolah. Menjadi pendidik bisa dimana saja, bisa melalui apa saja.” Begitu Subarkah berkata saat menyampaikan keinginannya untuk meletakkan jabatan sebagai kepala sekolah.

Usia Barkah, demikian ia biasa disapa, sebenarnya baru 50 tahun. Belum usia pensiun jika ia bekerja di lingkungan pegawai negeri sipil. Apalagi di sekolah swasta, sekolah menengah Islam terpadu (SMPIT) Al Ikhlas. Pemilik Yayasanlah yang paling menentukan kapan ia bisa pensiun atau tidak.

Dengan prestasinya yang dianggap luar biasa, pemilik yayasan sempat menolak keinginan Barkah untuk pensiun. Alasannya, pihak Yayasan masih membutuhkan tenaganya. Namun karena sikapnya tak bisa ditawar, Yayasan akhirnya mengusulkan jabatan baru untuk Barkah sebagai Ketua Dewan Pengawas SMPIT. Tapi Barkah tetap menolaknya.

Barkah memang berperan besar mengharumkan nama sekolah itu bukan sekadar dari segi prestasi, tapi juga imej di mata masyarakat. Setahun setelah menjadi kepala sekolah, SMPIT Al Ikhlas selalu masuk dua besar sekolah dengan rata-rata nilai ujian nasional (UN) tertinggi.

Lebih dari itu, SMPIT yang dipimpin Barkah dianggap sebagai sekolah mahal nan merakyat. Betapa tidak, sekolah itu bukan hanya menampung siswa berasal dari keluarga menengah atas, tapi juga keluarga tak mampu.

Lulusan sekolah dasar terbaik di negeri ini bisa masuk SMP itu secara gratis. Tentu melalui seleksi ketat seperti siswa lainnya.

 

Ide menampung siswa pintar dari keluarga tak mampu itu awalnya ditentang keras pihak yayasan. Namun Barkah berhasil meyakinkan bahwa anak pintar tersebut justru akan menguntungkan pihak sekolah.

“Toh jumlah mereka kan tidak banyak, tidak sampai 1 persen dari jumlah siswa secara keseluruhan. Jika ternyata sekolah ini dirugikan karena keberadaan mereka, saya siap digantung. ” Barkah serius menyampaikan argumentasinya.

Istilah digantung yang punya makna lebih dari sekadar meletakan jabatan, ternyata cukup memberi keyakinan luar biasa kepada pihak yayasan. Barkah jelas tidak main-main dengan pilihannya.

Beberapa tahun kemudian terbukti sudah, anak-anak pintar dari keluarga miskin, memang pintar dari sononya. Satu dari mereka selalu masuk tiga besar terbaik di sekolah.

Nah, atas usul Barkah pula, siswa miskin terbaik itu memperoleh beasiswa untuk melanjutkan sekolah ke tingkat SMU. Hasilnya benar-benar tak mengecewakan. Siswa-siswa itu makin berkibar bahkan ada yang juara olimpiade tingkat internasional.

Nama SMPIT Al Ikhlas pun ikut terkenal. Dan itu terjadi beberapa kali. Lalu dari mulut ke mulut, nama Subarkah pun ikut harum. Beberapa sekolah swasta sempat menawari Barkah untuk menjadi kepala sekolah di tempatnya dengan iming-iming gaji dan fasilitas lebih baik. Barkah geleng kepala.

Bukannya ia tak tertarik dengan iming-iming itu. Sebagai manusia, Barkah juga ingin punya banyak uang dan kaya raya. Tapi Barkah tak mau mengulangnya dari awal. Ia juga tak yakin bisa melaksanakan ide-idenya di tempat yang baru.

***

Sejak kecil Barkah sudah hidup mandiri. Posisinya sebagai anak yatim-piatu dan sempat tinggal di sebuah asrama anak yatim membentuk kepribadian yang selalu prihatin sekaligus pantang menyerah. Keberpihakan pada orang miskin, sungguh tak tertandingi.

Barkah mengerti betul betapa susahnya menjadi orang miskin di negeri ini. Betapa menderitanya hidup tanpa orangtua kandung, tanpa kemudahan fasilitas di sekitarnya. Tapi takdir tak bisa ditolak.

Ia bersyukur termasuk orang yang beruntung, diberi otak pintar di tengah kemiskinannya. Meski tidak mudah, Barkah kecil yang selalu menjadi juara kelas sejak sekolah dasar, memperoleh beasiswa untuk melanjutkan ke perguruan tinggi.

Karena bercita-cita sebagai pendidik, ia pun masuk ke institut keguruan negeri atau dulu bernama IKIP. Barkah lulus dengan predikat Cum Laude.

Seorang guru besar di tempatnya kuliah, menawari menjadi dosen, namun Barkah menolak. Alasannya ia ingin bekerja di kota kelahirannya. Seperti gayung bersambut, Barkah diterima bekerja di SMPIT Al Ikhlas yang ketika itu baru dibuka.

Di sekolah itu Barkah muda diberi kesempatan menuntut ilmu ke jenjang S2. Setelah lulus, ia langsung ditawari menjadi wakil kepala sekolah. Setahun kemudian, ia pun merasakan menjadi orang nomor satu di sekolah itu.

Berbagai kebijakan terobosan dilakukan Barkah seperti menyekolahkan para guru dengan jumlah lebih banyak, mendatangkan narasumber ke sekolah, termasuk menampung siswa dari keluarga tak mampu.

Kepada siswa kelas tiga, ia pun memberlakukan bimbingan tes khusus menghadapi UN. Polanya dengan memberikan mata pelajaran dengan cara berbeda sesuai dengan kemampuan siswa.

Setiap bulan berdasar hasil bimbingan tes, siswa dibagi ke dalam kelompok A, B, dan C. Para siswa itu dibuat berlomba untuk masuk kelompok mana sesuai dengan kemampuannya. Hasilnya cukup efektif, hasil rata-rata UN SMPIT itu selalu lebih tinggi dari sekolah lainnya.

Sekolah itu juga selalu mengumumkan satu siswa terbaik setiap level setiap tahunnya. Siswa terbaik itu tentu saja memperoleh piala, piagam, dan tabungan. Semua orang ingin menjadi terbaik, sekolah harus memberi penghargaan kepada siapapun yang melakukannya,

Tahun lalu ada dua siswa terbaik kelas satu yang nilainya nyaris sama. Hanya beda nol koma, Ipang sedikit lebih baik dibanding Hisyam. Namun, sebelum memutuskan siapa yang akan diumumkan sebagai siswa kelas satu terbaik, Barkah memperoleh telepon dari pemilik Yayasan.

Sempat berdebat, akhirnya Barkah pun mengangguk-angguk seperti tak kuasa menahan keinginan pemilik Yayasan. Apa yang diinginkan pemilik Yayasan kemudian dikomunikasikan kepada guru lainnya. Semuanya pasrah.

Bagaimanapun kekuasaan kadang-kadang sulit dilawan. Lagi pula Ipang dan Hisyam toh sama-sama pintar. Bedanya Hisyam lebih beruntung dibanding Ipang karena dia anak dari pemilik yayasan.

***

Tahun ini keduanya mencapai hasil yang sama lagi. Ipang terutama menang di mata pelajaran matematika, Hisyam pada pelajaran bahasa Inggris. Sedang bahasa Arab jago kedua-duanya.

Pemilik Yayasan sudah menelepon Barkah. Para guru sudah ia diberitahu tentang keinginan pemilik yayasan. Tapi para guru kali ini menyerahkan keputusan siapa yang pantas menjadi siswa terbaik kepada Barkah.

Malam sebelum mengambil keputusan, Barkah melakukan solat istikharah. Besok paginya ia pun mengumumkan Ipang sebagai siswa terbaik.

Begitu kembali ke kantornya, pemilik Yayasan sudah menunggu dengan wajah kesal.

Semua guru SMPIT kemudian dipanggil. Mereka dikumpulkan di ruang meeting dan melakukan rapat mendadak.

Seperti sudah diduga, pemilik Yayasan menanyakan alasan mengapa Ipang terpilih sebagai siswa terbaik bukan Hisyam anaknya.

Lalu dengan tenang Barkah pun menjawab. “Kali ini saya memilih Ipang karena dia memang pantas mendapatkannya. Selain itu karena dia anak yatim piatu.”

Semua terdiam mendengar jawaban itu. Seperti belum bisa menerima alasan Barkah, pemilik yayasan kemudian melemparkan apa yang diputuskan kepala sekolah kepada para guru. Ia seperti sedang melakukan uji materi dengan meminta para guru menentukan pilihan, mendukung keputusan Barkah atau tidak, yang berarti berpihak pada dirinya.

“Yang mendukung boleh berdiri, dan yang tidak mendukung boleh tetap duduk.” Begitu perintahnya.

Diluar dugaan, semua guru berdiri. Pemilik Yayasan terpana dengan apa yang dilihatnya. Anehnya, ia pun ikut berdiri.

“Kalau begitu saya juga mendukung keputusan kalian. Selamat untuk semuanya,” ucap pemilik Yayasan. Tepuk tangan pun meledak.

Mereka kembali saling bersalaman, berangkulan, setelah pemilik yayasan meninggalkan ruangan.

***

Saat waktunya pamit, melepas jabatan dan pensiun sesuai kesepakatan, pemilik yayasan tak lagi berusaha menahan kepergiannya.

Sebaliknya, para guru dan siswa mengantarnya dengan tangis. Mereka benar-benar kehilangan sosok teladan, pemberani, yang mungkin takkan mereka temui beberapa tahun ke depan.

“Pasti akan banyak orang hebat yang lebih dari saya di sekolah ini. Percayalah…,” ucap Barkah kepada para guru dan siswa yang mengerubunginya sebelum masuk mobil untuk meninggalkan sekolah.

Dari jendela mobil, Barkah melambaikan tangan dan senyum penuh kemenangan.

—-

Sawangan 23 Juli 2012

Selamat menjalankan ibadah puasa.

Catatan: nama tokoh dan sekolah hanya fiktif belaka. Mohon maaf jika ada kesamaan.

4 thoughts on “Tahun Terakhir Seorang Kepala Sekolah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s