Tomcat Diantara Manusia Serakah


 

Tomcat yang bikin geger

“Hahaha….hahaha…hahaha…” Suara tawa itu terdengar dari sebuah semak-semak yang tumbuh di lahan kosong, tak jauh dari sebuah apartemen, pinggiran ibukota.

Saiki awake dewek dadi terkenal, rek. Ben dino diberitano koran, majalah, tv. Nang internet malah luwih rame. Awake dewek dadi trending topic hahaha…”

“Hehehe…tapi pakai bahasa Indonesia saja napa bos. Ini kan bukan di Jawa Timur…” (sumber di sini)

Oh, sori, rek. Saya kira ini masih di daerah Rungkut, Surabaya. Daerah kelahiran saya….”

“Nah begitu dong, bos Tomcat…”

“Hahaha…gak usah pakai istilah boslah. Kita ini kan sama semua. Tak ada Presiden, Gubernur, Bupati, anggota DPR atau selebiritis seperti di dunia manusia sana.”

“Oooh para manusia yang lagi galau karena rencana kenaikan harga BBM, bro.”

“Hahaha..bro? Ya ya ya cocok itu, brother.”

Ngapain mikirin BBM ya. Enakan seperti kita ke sana kemari cukup jalan kaki, merayap. Hahaha…”

“Iya manusia itu aneh. Punya kaki tapi senang naik mobil. Hidup boros malah jadi gaya hidup. Begitu harga BBM di pasaran dunia naik , semua panik. Anehnya, APBN dinomor satukan, rakyatnya dikorbankan. Ngaku pada pinter kok nggak kreatif ya bro…”

“Tapi gara-gara ulah mereka, lingkungan jadi rusak. Kita jadi nggak punya tempat nyaman. Eh, kita pula yang diuber-uber…”

“Iya kita kan bukan binatang langka. Dari dulu sudah ada. Keberadaan kita bahkan menguntungkan kaum manusia juga, karena hama wereng kan paling takut sama kita…” (sumber di sini)

“Tapi dasar manusia. Jasa-jasa kita seperti tak pernah ada. Kita seperti bahan permainan, dibikin jadi terkenal sekaligus untuk dimusnahkan. Seolah kita sudah tak punya hak hidup lagi, benci aku…”

“Malesin!…”

“Ya elah, kita kok jadi melow begini yak.”

Tak ada komentar lagi. Suasana jadi hening dan serius. Ancaman pembunuhan terus menghantui para tomcat.

***

Tiba-tiba sebuah suara mengejutkan para tomcat. Seorang semut rangrang, mungkin ratunya muncul.

“Hei…hei…hei…ente pada ngomong apaan sih. Kalian kayak manusia saja, kebanyakan ngomong. No action talking only, NATO!”

Para Tomcat saling berpandangan. Kalimat itu sangat menusuk mereka. Mereka ingin mempertanyakan siapa gerangan mahluk asing itu dan apa maksud kedatangannya.

“Aye tahu kalian ingin bertanya siapa aye? Juga ingin tahu apa gerangan maksud kemunculan aye.” Semut rangrang itu seperti menebak isi pikiran para tomcat. Hal itu membuat para tomcat takjub. Mereka jadi ingin mendengar apa yang dikehendaki sang tamu dengan kedatangannya.

“Terus terang, kami termasuk kelompok hewan paling dirugikan dengan terkenalnya kalian. Kami dianggap keluarga kalian. Kami ikut diburu. Mereka anggap diantara semut rangrang pasti ada tomcat, diantara semut rangrang akan ada yang mewujud seperti tomcat.”

“Padahal kalian kan sebenarnya sejenis kumbang dari genus Paedarus (sumber di sini). Kalian agak beda dengan kami. Tapi dasar manusia. Mereka menganggap kalian adalah kami.”

“Nah, kebiasaan mereka langsung membunuh tomcat seperti dilakukan kepada kami, sekarang dapat imbalannya. Ini sebenarnya semacam peringatan pada manusia bahwa mereka tak boleh membunuh semut. Tak boleh main pites begitu saja kepada mahluk lemah seperti kita.” (sumber di sini).

Para tomcat kembali saling pandang. Keinginan mereka segera mengetahui apa yang diinginkan ratu rangrang itu kian menguat.

“Bung, eh Jeng. Interupsi ya..”

Sang ratu semut menoleh. “Silahkan…ente-ente boleh sebut aye apa saja.”

“Jadi, inti yang mau Anda disampaikan apa sih?”

Semut rangrang itu tertawa ngakak. Wakakakak….wakakakak….wakakakak…Para tomcat kembali saling pandang. Sebagian merasa kesal, bahkan ada yang merasa terhina karena seolah sedang diremehkan. Tapi semuanya diam menunggu jawaban sang semut.

“Maaf, penjelasan aye tadi terlalu panjang ya?” Semut itu berusaha untuk fokus meski dengan muka masih cengengas-cengenges.

“Aye ini kan asli sini. Tadinya aye tinggal di Kebon Kacang, Jakarta trus tergusur ke sini. Nah, sekarang ini aye cuma mau ingetin, hati-hati kalau mau masuk ibukota. Mereka sudah siap dengan senjata dan pasukan yang akan memusnahkan kalian…”

“Anda tahu itu dari mana?” tanya seorang tomcat menyelidik.

“Tadi kan saya sudah bilang. Saya asli sini, tahu karakter orang sini.” Sang semut mencoba berkilah.

 

“Itu saja. Ada lagi?” Seekor Tomcat berkata sambil menggerak-gerakan ekornya sehingga lebih mirip kalajengking daripada semut.

“Hehehe, ya itu saja…” Semut Rangrang menjawab lirih.

“Basi taauuu…” Tomcat yang berdiri dipojok nyeletuk dengan nada kesal. Yang lain mengangguk-angguk, mengiyakan.

“Tadi aye kan juga sudah minta maaf. Jadi ya terserah kalian. Kalau begitu aye pamit. Senang kalian sudah meluangkan waktu.…” Semut rangrang meninggalkan sekumpulan tomcat yang sedang marah.

“Ah, jangan-jangan dia itu memata-matai kita? Brengsek!”

“Iya, jangan-jangan ia sengaja dikirim manusia untuk mengintai kita? Bedebah!”

“Atau semut itu takut wilayahnya kita acak-acak. Kata bang Foke yang mencalonkan diri jadi Gubernur DKI lagi. Ia bilang nggak rela Jakarta dipimpin orang non betawi, hahaha….”

“Dasar semut. Mereka iri saja kalah ngetop dibanding kita, hahaha…”

Hahaha…hahaha…hahaha. Para Tomcat ikut tertawa, tepatnya menertawakan semut rangrang tadi. Usai pertemuan sebagian tomcat pulang ke persembunyiannya masing-masing.

Sebagian lagi bertahan di rerimbunan semak-semak yang lembab. Mereka sempat tertidur pulas sampai suara gaduh membangunkan para tomcat.

***

Suara gaduh itu muncul dari para Tomcat. Mereka mengabarkan bahwa baru saja ada beberapa orang manusia yang mengacak-acak wilayah mereka. Manusia itu mencari tomcat.

“Satu dari teman kita tertangkap, mungkin untuk dijadikan penelitian.”

“Ya penelitian. Saya mendengar mereka bilang begitu.”

“Bagaimana mereka tahu kita ngumpul di sini?”

“Kemarin ada teman kita yang mampir ke apartemen malem-malem. Lalu plek dibunuh menggunakan tangan. Tak lama kemudian si penghuni apartemen itu kulitnya mengalami iritasi. Berita itu muncul dimana-mana. Warga apartemen bahkan kota jadi heboh!”

“Jadi bagaimana dong?”

“Yang terserah kalian. Kita kan cuma binatang. Kebetulan saja lagi jadi pusat perhatian.”

Setelah itu, obat pembasmi tomcat disemprotkan. Para tomcat kembali tunggang langgang. Banyak yang tewas, meski ada pula yang berhasil menyelamatkan diri.

Ironisnya pihak apartemen seperti punya alasan untuk membakar alang-alang yang menganggu kenyamanan penghuninya.

Masalahnya, pemilik lahan kosong yang sudah lama bersengketa dengan pihak apartemen, tak menerima. Mereka protes keras, unjuk rasa menggunakan massa bayaran.

Pihak apartemen tak mau kalah. Mereka juga mengerahkan massa bayaran. Bentrok massa dari kedua belah pihak tak terhindarkan. Polisi kewalahan.

Saat berita tomcat mereda, sengketa lahan kosong di kawasan itu justru kian mencekam.

 

One thought on “Tomcat Diantara Manusia Serakah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s