Penantian Cinta Seorang Lelaki Biasa


lelaki biasa dengan kekasihnya di satu senja (KFK,Kompas.com)

Sebenarnya apa yang menarik dari seorang Faisal bagi Dyah, sungguh ia sendiri tidak tahu. Faisal bukan pria yang diimpikannya, namun selalu dibutuhkan.

Faisal tidak ganteng, wajahnya sedang-sedang saja. Kulitnya tidak putih, tapi sawo matang, bahkan cenderung kusam karena terbakar matahari setiap hari. Tubuhnya juga tidak atletis, Tinggi badan Faisal sama dengan tinggi Dyah, sekitar 165 centimeteran.

Masalahnya, sebagai wanita Dyah kerap dituntut menggunakan sepatu hak tinggi. Saat itulah Faisal jadi kebanting jika berjalan berdampingan. Faisal tahu diri. Ia tak akan memaksa berada disampingnya, kecuali Dyahlah yang menginginkannya.

Faisal juga tidak pintar-pintar amat. Nilai-nilai rapot di SMA dan universitas memang selalu di atas rata-rata. Namun tak pernah jadi juara kelas. Justru sebaliknya, Dyahlah yang kerap masuk lima besar mulai SMA hingga universitas.

Pria itu juga tidak romantis. Pernah ada kejadian lucu. Pada hari Valentine, Faisal memberikan kado untuknya. Ia berterus terang kado itu sebetulnya dari ibunya. Kala itu ibu Faisal ingin agar anaknya segera punya kekasih. Ia pun membuatkan sulaman tangan bergambar seorang wanita cantik memegang lengan seorang pria hendak menyebrang jalan. Di seberang jalan ada sebuah gedung bergambar hati dan berwarna pink.

Maksud bisa ditebak, gambar itu adalah sepasang kekasih yang sedang menjalani rintangan bersama demi menuju cinta dan cita-cita yang mereka impikan bersama. Tapi dengan polosnya, Faisal bilang hadiah itu dari ibunya untuk Dyah.

“Ih…ngapain sesama perempuan mengucapkan kasih sayang,” ucap Dyah dalam hati.

Tetapi ia tetap menerima dan menyimpannya.

Diduga karena banyaknya kekurangan itu pulalah yang bikin kedua orangtua Dyah tak menyukainya. Bahkan mereka pernah melarang putri tunggalnya itu untuk bergaul dengan Faisal karena takut sang anak jatuh hati padanya.

Barulah setelah Dyah meyakinkan bahwa ia tak mungkin menjadi pacar Faisal, apalagi istrinya kelak, kebencian papanya sedikit mereda.

Namun dalam cara bersikap, ketidaksukaan orangtua Dyah terhadap Faisal tak bisa disembunyikan. Seolah, Faisal berasal dari kasta yang berbeda jauh dengan mereka.

***

Faisal adalah kakak kelas Dyah sejak SMA. Dyah mengenalnya karena pemuda itu aktif sebagai pengurus OSIS di sekolah. Tapi perkenalan mereka hanya sebatas teman, sebatas say-helo jika bertemu.

Ternyata mereka dipertemukan kembali di universitas. Lagi-lagi ketika itu Faisal sudah aktif sebagai pengurus Senat. Mereka kian menjadi dekat karena merasa berasal dari sekolah dan kota yang sama.

Di mata Dyah, Faisal adalah sosok pria yang tak bisa diam dan ringan tangan alias suka membantu sesama. Kesukaan ikut organisasi juga dilandasi karena itu. Relasinya cukup banyak. Faisal menjalaninya dengan tulus, tanpa pamrih. Termasuk dalam membantu dan berteman dengan Dyah.

Entah mengapa, dalam beberapa kali pertemuan dengan Faisal, Dyah merasakan nyaman dan aman. Apalagi Faisal kini tampak lebih dewasa dibanding saat ia kenal di SMA.

Belakangan, Dyah merasa kian membutuhkan tenaga Faisal dalam menyelesaikan tugas-tugas dari dosennya. Bantuan Faisal terutama dalam mengenalkan narasumber yang diperlukan Dyah, termasuk mengantarkan dia ke lokasi-lokasi yang dituju.

Begitulah hubungan Faisal-Dyah pun kian lengket. Orang menganggap mereka berpacaran, padahal kata Dyah cuma bersahabat. Faisal dianggap sebagai kakak kandungnya. Kebetulan Dyah memang tak punya kakak kandung.

Faisal senyum-senyum saja ketika kenyataan itu disampaikan kepada temanya. “Jadi selama ini, kau sebenarnya hanya dianggap sebagai tukang ojeknya saja ya. Ah, kasihan kau ini.”

Dyah memang pernah menyampaikan hal itu. Bahwa Faisal tak boleh menganggap hubungannya dengan Dyah terlalu jauh. Sebab, katanya, jika persahabatan mereka ditingkatkan menjadi pacaran, hubungan mereka akan berubah. Sebab di sana ada pamrih, tak ada ketulusan lagi. Faisal bisa memahaminya.

“Siapa sih tak mau menjadi pacar secantik dia. Bahkan untuk menjadi tukang ojeknya saja, pasti banyak yang rela,” ujar Faisal suatu ketika. Beberapa teman membenarkan pernyataan itu.

Dyah boleh dibilang mahasiswi paling cantik di kampus. Primadona kampus. Banyak pria yang ingin jadi pacarnya. Tapi umumnya mereka ragu bahkan takut mendekatinya. Faisal beruntung karena sudah kenal sejak SMA.

Tapi sampai kapan Faisal puas menjalani relasi seperti itu dengan Dyah? Memang salah jika ia mempimpikan Dyah jadi kekasihnya? Sungguh Faisal tak berani memikirkannya.

Pernah Dyah menanyakan wanita idaman seperti apa yang kelak ingin dijadikan istrinya. Faisal menjawab singkat. “Dia adalah wanita yang selalu bisa tertawa bersama selama hidupnya.”

Tampak sekali Dyah tak paham dengan jawabannya itu.

Kali lain ketika Dyah serius menanyakan soal wanita idaman, Faisal akhirnya menjawab serius pula. “Soal pasangan hidup, aku adalah orang paling serius di dunia. Aku hanya ingin satu kali saja menjalani berumah tangga.”

Siapakah wanita yang diidamkan Faisal. Dyah tidak tahu. Selama ini Faisal hanya jalan bersamanya. Mungkin perempuan lain enggan mendekati Faisal karena dianggap cowoknya.

Ah, tapi masalahnya, sampai kapanpun orangtuanya tak akan merestuinya. Lagi pula ia sudah dijodohkan dengan Valentino, anak teman bisnis papanya yang kini sedang mengambil studi di Amerika Serikat.

Begitulah Faisal-Dyah menjalani sehari-hari. Makin lengket meski keduanya tahu tak mungkin bersatu. Faisal bahkan rela tugas skripsinya tertunda demi membantu menyelesaikan skripsi Dyah.

Berkat Faisal, Dyah pun lulus tercepat seangkatannya. Saat wisuda, semua orang bergembira. Demikian juga Faisal yang turut hadir di sana.

Dalam kegembiraannya ketika itu, Dyah tiba-tiba memperkenalkan Valentino yang ganteng pada Faisal. Perkenalan itu sungguh tak diinginkan Faisal. Perkenalan itu hanya kian membenarkan bahwa Dyah lebih cocok dengan Valentino dibanding dengannya.

Tak lama kemudian surat undangan pernikahan Dyah-Valentino diterima Faisal. Kata ibu kos, Dyah yang mengantarkan surat undangan itu. Lewat SMS, Dyah memohon Faisal datang ke acara resepsi pernikahan yang akan dilangsungkan di sebuah hotel berbintang.

Akan datangkan Faisal? Ternyata tidak. Hatinya remuk redam. Ia sangat kehilangan Dyah dan berusaha melupakannya. Bersyukur Dyah diboyong Valentino ke Amerika Serikat. Jejak romansa bersama Dyah segera ditinggalkannya.

***

Satu semester kemudian Faisal lulus sebagai sarjana S1. Lalu memperoleh sejumlah tawaran kerja dari relasinya sebagai aktivis kampus. Dari sejumlah tawaran, Faisal memilih masuk menjadi anggota LSM di Jakarta.

Faisal sangat menikmati pekerjaannya. Idealisme untuk membela kaum tertindas masih terjaga. Lalu datang telepon dari seorang kawan yang mengabarkan bahwa Dyah sudah kembali ke Indonesia dan di rawat di sebuah rumah sakit di kota kelahirannya.

Faisal terkejut dengan kabar itu. Apalagi setelah ia menelisik bahwa Dyah pulang ke Indonesia tanpa ditemani Valentino suaminya. Naluri sebagai sosok yang pernah sangat dekat dengan Dyah langsung terusik. Esok harinya Faisal telah mengejutkan Dyah dengan kunjungannya.

Dyah tampak terharu bertemu kembali dengan Faisal yang kini berada disampingnya. Ia ingin bercerita banyak, namun Faisal melarangnya karena wanita itu masih sangat lemah.

Orangtua Dyah tak kalah terkejutnya. Namun kali ini sikap mereka berubah 180 derajat, tak lagi membencinya. Malah ketika Dyah tertidur karena pengaruh obat, orangtua Dyah curhat habis-habisan. Seolah Faisal adalah jalan keluar atas masalah rumit yang dihadapi anaknya.

Orangtua Dyah tampaknya ikut merasa bersalah karena anaknya salah memilih suami. Ini karena Valentino ternyata suami yang kasar, sering memukuki istrinya. Bahkan ketika Dyah sedang mengandung anak mereka.

Bukan itu saja, Valentino juga kerap gonta-ganti pasangan sebelum menikah dengan Dyah. Dan mereka masih terus berhubungan.

Dyah akhirnya mengalami keguguran dan harus dirawat di rumah sakit di negeri Paman Sam itu hingga beberapa hari. Orangtua Dyah segera menyusul ke Amerika Serikat dan membawa paksa pulang anak kandungnya.

“Jadi, maafkan bapak selama ini telah salah menilai kamu, nak Faisal.”

Orangtua Dyah juga mengungkapkan bahwa mereka sudah tak sudi lagi mengizinkan Valentino memboyong anaknya kembali. Mereka bahkan sudah mengusulkan agar Dyah mengajukan gugatan cerai. Dan tampaknya Dyah tak menolak.

Faisal tak tahu harus menjawab apa ketika itu. Ia hanya ingin mengobrol langsung dengan Dyah. Dan itu baru kesampaian esok harinya.

“Wajahmu masih tampak pucat Dyah. Badanmu juga sangat kurus. Tapi aku percaya, kamu akan tabah menghadapinya.”

“Terimakasih mas sudah menjenguk. Sekarang makin rapi dan ganteng. Aku sempat tak percaya kalau ini mas yang dulu.”

Keduanya tersenyum. Mereka terlibat obrolan masa lalu. Ada rasa kerinduan mendalam dari keduanya.

Dari kaca jendela, orangtua Dyah tampak ikut berbahagia menyaksikan pemandangan itu.

Karena banyak pekerjaan, Faisal pamit kembali ke Jakarta. Saat pamit itulah, papanya Dyah berbisik bahwa mereka akan selalu mengabarinya perkembangan anaknya, termasuk statusnya. Faisal hanya mengangguk.

***

Beberapa bulan kemudian, Dyah berangsur pulih. Proses perceraiannya juga tak terlalu banyak memperoleh hambatan. Hanya saja, Faisal belum sempat kembali menemui Dyah. Pekerjaannya menumpuk. Dyah bisa memahaminya.

Meski demikian hubungan keduanya melalui telepon, SMS, dan BBM tak pernah berhenti. Maksudnya, mereka tetap mengirim kabar dan tahu kapan harus saling menyapa.

Saat bangun tidur, Faisal memperoleh ucapan happy Valentine’s day dari Dyah disertai foto via BBM. Ia baru ingat bahwa hari itu merupakan hari kasih sayang. Namun yang mengusik keingintahuan Faisal adalah kiriman foto dari Dyah.

Tak biasanya Dyah melakukan itu dan ini baru pertama kalinya. Maka Faisal segera membesarkan foto kiriman dari Dyah.

Mata Faisal segera terbelalak. Ya ampun, ternyata foto itu berisi foto sulaman tangan hadiah valentine dari ibunya yang kini sudah dibingkai rapih oleh Dyah.

Tak lama kemudian Dyah menuliskan sesuatu menyusul gambar itu. “Aku juga telah membingkai hadiah valentine dari mas dalam hatiku. Terimakasih ya. Miss U…”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s