Tubuh Telanjang Itu Bukan Milik Lastri (1)


patung dewi telanjang (google.com)

Desa Sumbermanjing, pantai selatan pulau Jawa, tiba-tiba menjadi gaduh. Kasak-kusuk antarwarga tak terelakan. Topiknya hampir sama tentang Lastri, putri mantan kepala desa yang sekolah di kota.

Ya Lastri, bocah berwajah ayu namun bertingkah agak tomboy itu, dianggap telah mencoreng nama desa. Semula warga bangga punya seorang Lastri yang makin cantik dan anggun di kala dewasa. Semua wanita desa berangan-angan bisa seperti Lastri.

Namun foto syur yang beredar melalui handphone di kalangan warga mengubah 180 derajat pandangan warga akan Lastri.

“Anak itu seperti lupa asal-usulnya. Memperlihatkan aurat kepada orang lain adalah dosa besar. Bisa masuk neraka.” Begitu ucap seorang warga.

“Cantik itu untuk suami, bukan untuk dipertontonkan pada orang lain. Lastri bikin malu kita semua.” Warga lainnya ikut mengompori.

Tono, salah seorang pemuda yang pernah menjadi pacar Lastri tak percaya. Namun sikap membela Lastri membuatnya dikucilkan. Tono dianggap tak tahu diri karena sudah ditolak orangtua Lastri, namun masih mati-matian membela dan mengharapkannya.

Oleh sejumlah warga, kasus Lastri itu lalu dikait-kaitkan dengan kejadian sekitar 20 tahun lalu. Ketika itu, Desa Sumbermanjing tiba-tiba saja terkenal menyusul terungkapnya menyelundupan bawang putih melalui pantai yang ada di desa itu.

Di masa Orde Baru itu, pemerintah melarang adanya impor bawang putih meskipun harganya jauh lebih murah. Produk bawang putih petani sendiri lebih diprioritaskan. Namun sejumlah spekulan nekat melakukan penyelundupan bawang putih karena disparitas harga yang menggiurkan.

Kebetulan kasus penyelundupan bawang putih di Sumbermanjing ketahuan. Setelah ditelusuri terungkap bahwa penyelundupan bawang putih menggunakan kapal berbendera Taiwan itu melibatkan sejumlah oknum penguasa lokal, diantaranya kepala desa Sumbermanjing, orangtua Lastri.

Diantara pengungkapan fakta-fakta oleh sejumlah media, ternyata ada salah satu fakta menggelitik. Warga setempat umumnya mengetahui bahwa yang disebut kejahatan adalah sekitar perampokan, pencurian, atau pembunuhan.

Tetapi kejahatan penyelundupan itu apa sih? Tatkala sejumlah warga berunjuk rasa minta penjelasan, kepala desa sedang tak ada di tempat karena diperiksa polisi. Parahnya, Sarwo orang yang dituakan di desa itu juga tak siap menjawab pertanyaan warga.

“Penyelundupan itu apa ya?. Mungkin seperti benang yang diselundupkan kepada sebuah jarum.” tutur Sarwo sekenanya.

Apakah jawaban itu sudah memuaskan warga, hingga sekarang belum jelas. Yang pasti ayah Lastri tak jadi ditahan polisi dan terus menjabat hingga masa jabatannya berakhir.

“Jadi. kisah Lastri tak jauh dari kisah bapaknya. Soalnya anak itu sudah makan uang panas dari bapaknya.” Seorang warga menyimpulkan dan hampir dibenarkan sebagian besar warga lainnya.

***

Setelah 20 tahun berlalu, Desa Sumbermanjing tak banyak berubah, meski sudah memperoleh aliran listrik. Desa itu mulai agak terang pada malam hari karena lampu penerang dipasang di jalan utama desa.

Namun keseharian tetap sama. Para lelaki pergi menangkap ikan di laut sementara para ibu mengasuh anak-anaknya di rumah, selain mengeringkan ikan hasil tangkapan suami. Malam hari pun tetap sepi.

Ada sebagian dari mereka menanam padi yang kian diseriusi manakala mereka tak bisa melaut karena adanya gelombang tinggi.

Jumlah warga yang menghuni desa Sumbermanjing itu pun seolah tak berubah. Ada yang datang karena kelahiran, juga ada yang pergi karena meninggal dunia, juga warga yang pergi merantau ke kota.

Nah, gambar Lastri telanjang itu diperoleh dari salah seorang warga yang kebetulan sedang mudik. Maka dalam hitungan jam, foto dan cerita sekitar foto itu langsung menyebar ke seluruh warga.

Orangtua Lastri sempat terkejut. Ia segera menelepon anaknya dan mendapat penjelasan bahwa tubuh bugil di foto itu bukan dirinya. Orangtua Lastri percaya, tapi warga tidak.

Mereka tetap menganggap Lastri telah terpengaruh budaya pergaulan bebas di kota. Mereka merasa malu, merasa ikut kena aib.

Tono yang sudah memiliki nomor handphone Lastri mengirim SMS tentang kondisi terakhir di desa yang makin panas. Tono berharap Lastri pulang kampung dan menyampaikan penjelasan sendiri kepada warga.

Lastri pun setuju. Ia pulang dengan membawa seorang teman yang ahli dibidang IT. Di depan warga yang berkumpul di balai desa, Lastri lalu menjelaskan bahwa gambar bugil itu hanya permainan tehnologi foto semata atau permainan fotoshop.

Melalu laptop, lalu diperagakan bahwa tubuh telanjang itu bahkan bukan tubuh orang Indonesia, namun bintang film porno dari Asia. Hanya saja kepala bintang film porno itu diganti dengan kepala Lastri.

“Cara menyambungnya memang nyaris sempurna. Tapi kulit Lastri kan coklat, sedang kulit difoto yang seolah Lastri itu putih,” papar Lastri.

Warga tampaknya belum mengerti. Penjelasan itu dianggap terlalu tinggi, terlalu berat.

Sambil membesarkan ukuran foto, Lastri berkata lagi. “Begini saja, pada bahu kiri foto wanita ini ada gambar tato bunga, sedang bahu Lastri tak ada.” Lastri menegaskan sambil menyibak baju untuk memperlihatkan bahu kirinya yang bersih.

“Satu lagi nih, di leher Lastri kan ada andeng-andeng (tahi lalat), sedang gambar itu tak ada. Jadi jelas gambar itu bukan gambar Lastri. Lastri tak pernah sekalipun foto telanjang. Itu perbuatan dosa!.”

Warga mengangguk-angguk, tapi tak diketahui secara pasti apakah mereka mengerti atau tidak. Mereka kemudian bubar, meski masih tersisa pertanyaan; mengapa Lastri menjadi korban perbuatan iseng si pembuat foto bugil tersebut.

Lastri sendiri tak berusaha menjelaskannya karena ia tak yakin hal itu bisa memuaskan warga.

Yang pasti, sejak itu tak ada lagi kasak-kusuk tentang Lastri. Warga menganggap, kedatangan Lastri sudah menjawab semuanya.

Wanita itu pun memilih kembali ke kota menjelang pergantian tahun. Katanya,  merayakan malam pergantian tahun di sana yang lebih semarak dibanding di desa.

Lastri tak lupa berterimakasih kepada Tono yang masih mempercayainya.

Tono tersenyum puas. Ia sempat mengantar kepergian Lastri dari kejauhan. Tono sadar Lastri tidak diciptakan untuk dirinya. Ada jarak yang memisahkan keduanya dimana Lastri harus menjalani hidupnya di Kota sedang Tono di desa, sebagai nelayan.

Tapi ia tetap merasa beruntung, Lastri sempat singgah dalam kehidupannya.

“Cinta memang tak harus saling memiliki,” pikirnya.

Entah mengapa, sejak itu hidup Tono menjadi lebih optimis.

Maka di sinilah aku sendiri sekarang menatap cakrawala, dan menitipkan sebuah doa yang penuh harapan untuk hari esok,” ucap Tono kepada laut yang menjadi lebih indah seperti indahnya wajah Lastri.

One thought on “Tubuh Telanjang Itu Bukan Milik Lastri (1)

  1. Pingback: Tubuh Telanjang Itu Bukan Milik Lastri (2-habis) | FIKSIKULO

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s