Bertemu Roh Ibu


Suatu hari Anda mendapat tugas liputan penting ke luar kota dari kantor, pada saat bersamaan keluarga Anda dalam kondisi kritis, masuk rumah sakit. Mana yang akan Anda prioritaskan?

Dengan spontan Dawam menyatakan memprioritaskan tugas kantor. Tetap berangkat liputan keluar kota meski ada saudara sakit kritis.

Kenapa?

Jawab Dawam karena keluarga sakit ia masih ada yang bisa dimintai tolong, yakni saudara lainnya. Sementara kalau tugas kantor, ia tak yakin akan memperoleh kesempatan lagi jika menolaknya.

“Toh, sekarang komunikasi  sudah serba gampang. Bisa lewat telepon, SMS, atau BBM untuk mengetahui perkembangan keluarga kita yang sakit itu.” Dawam menyampaikan itu dengan penuh keyakinan.

Jawaban itu rupanya menjadi salah satu pertimbangan pihak perusahaan untuk menerima Dawam sebagai karyawan baru.  Banyak pelamar memilih  mempioritaskan  keluarga dibanding tugas kantor. Jawaban seperti itu dianggap tak menguntungkan perusahaan.

Terbukti perusahaan tak salah pilih. Dawam sendiri tak asal janji. Ia benar-benar pekerja keras. Tak pernah libur. Datang paling pagi pulang paling malam.  Hasil pekerjaan pun memuaskan.

Atas prestasinya itu,  Dawam sempat terpilih sebagai the best employee.

Suatu hari, Dawam mendapat tugas meliput KTT Asean di Denpasar, Bali.  Ia pun berangkat dengan suka hati. Saat berada di bandara Soekarno-Hatta, sebuah SMS mengusik hatinya.

SMS itu berbunyi: “Ibu kritis. Masuk rumah sakit lagi.”

Itu sudah ketiga kali ibunya harus dibawa ke rumah sakit. Selain karena faktor umur, penyakit diabetes dan ginjal telah menggerogoti kesehatannya.

Masalahnya dari sekian kali masuk rumah sakit itu, Dawam belum sempat menjenguknya. Makanya begitu ia menelepon kakak tertua yang tinggal bersama ibu, permohonan agar ia pulang pun meluncur.

“Pulanglah Wam, kali ini ibu kritis.” Begitu permohonan sang kakak.

Dawam berjanji pulang. Namun setelah liputan dari Bali. Tanpa ibunya masuk rumah sakit pun, dari awal ia memang merencanakan pulang, setelah urusannya di Bali selesai.

“Kalau bisa sekarang, jangan nanti. Jika pesawatmu transit ke Surabaya, mampirlah ke Madiun. Siapa tahu ini terakhir kali kamu punya kesempatan bertemu ibu,” kata sang Kakak lagi.

Namun Dawam bertahan dengan rencana awalnya. Alasannya pekerjaan tak bisa ditinggal. Ia janji pasti mampir setelah dari Bali.

Malam itu, sebelum ia menghadiri acara konferensi pers menjelang pembukaan KTT ASEAN teleponnya berbunyi. Dari seberang suara sang kakak menangis. Hati Dawam berdegup kencang. Semakin kencang setelah kakaknya mengabarkan bahwa sang ibu meninggal dunia.

Saat itu juga tak ada pikiran lain di kepala Dawam kecuali ia harus pulang.  Sang bos di Jakarta kali ini bisa memahaminya. Kehadiran anak ketika orangtuanya meninggal adalah wajib, tak boleh ada yang mencegahnya.

Maka Dawam langsung balik kanan. Ia mengemas barang-barang dan meluncur ke bandara. Ternyata pesawat ke Surabaya dari Ngurah Rai malam itu sudah habis dan baru ada lagi pagi hari sekitar pukul 07.00.

Jika dihitung-hitung maka paling cepat ia akan sampai di Madiun sekitar pukul 11.00, terlalu siang. Lagipula ngapain ia terlalu lama di bandara tersebut.

Tapi Dawam tak punya pilihan. Jika menggunakan jalur darat, sekalipun menyewa kendaraan, jatuhnya bisa lebih lama. Ini karena penyeberangan di Gilimanuk-Banyuwangi paling akhir hanya sampai pukul 21.00. Ada penyebrangan lagi pukul 05.00 keesokan harinnya. Padahal perjalanan Banyuwangi-Madiun sekitar 8 jam.

***

Selama menunggu jadwal pesawat di Bandara Ngurah Rai, Dawam tak bisa tidur. Ia terus kontak-kontakan dengan adik-adiknya di Jakarta yang juga meluncur pulang. Mereka semua dipastikan datang duluan karena masih bisa naik kereta api paling malam dan tiba pagi hari.

Selama masa penantian itulah, Dawam tak kuasa menahan tangis. Ia ingat masa-masa manis bersama ibunya. Ia yakin kesuksesaan yang ia raih sekarang ini tak lepas dari tempaan ibu tersayang.

Ibu hanyalah wanita lulusan SD. Meski demikian ia sangat memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Ibu kerap berjualan apa saja demi membantu ekonomi keluarga. Gaji ayah yang bekerja sebagai pegawai sipil di lingkungan TNI sangat pasan-pasan untuk menghidupi keluarga dengan tujuh anak.

Ibu mungkin tak tahu bagaimana tip membuat anak sukses. Namun kebiasaan memberikan sarapan kepada anak-anaknya sebelum berangkat sekolah justru tip yang jitu. Ibu rela selalu bangun lebih pagi dari kami untuk menyiapkan sarapan. Nasi pecel adalah sarapan favorit kami.

Dengan selalu sarapan, perut kami jadi kenyang. Otak kami jadi lebih mudah menerima pelajaran.

Ibu juga berhasil mengajak kami untuk mandiri dan saling membantu.  Waktu kecil kami semua punya tugas masing-masing.

Pekerjaan yang paling Dawam sukai ketika itu adalah menyapu halaman.  Dawam suka lingkungan yang bersih. Ia puas tatkala halaman yang kotor dari ranting dan dedaunan berhasil ia bersihkan dengan sapu lidi. Garis-garis sepatu lidi di tanah memberinya pemandangan sendiri tentang halaman rumah yang terawat.

Dawam juga ingat betapa Ibu selalu bangga padanya. Dari tujuh keluarga, Dawam dianggap paling menonjol prestasinya. Dawam juga dianggap sebagai anak penurut dan sangat perhatian kepada adik-adiknya.

Setelah Dawam bekerja, ia rela tak menikah dulu demi membiayai adik- adiknya. Sebelumnya, biaya sekolah Dawam juga dibantu kakak-kakanya yang bekerja duluan sebagai guru.

Setelah Dawam bekerja, Dawam yang punya tiga kakak dan tiga adik alias di tengah-tengah langsung mengambil alih tongkat keluarga. Apalagi ketika itu, ayahnya sudah meninggal dunia.

Sikap Dawam semakin membuat ibunya bangga.

***

Di Madiun kesibukan luar biasa terjadi di rumah orangtua Dawam. Mbah Bandi tokoh yang paling dituakan sudah sedari tadi hadir memimpin pengajian.

“Semua anak-anaknya sudah datang, tinggal menunggu Dawam.” Mbah Bandi menjawab seorang tamunya yang menanyakan kapan jenazah dimakamkan.

Adik-adik dan kakak Dawam yang sudah hadir terus berkontakan dengan Dawam yang masih dalam perjalanan. Ketika itu posisi Dawam sudah Mojokerto berarti masih tiga jam lagi.

Ternyata hingga pukul 11.00 Dawam belum tiba juga. Sementara para tamu sudah gelisah karena terlalu lama menunggu.  Rupanya, ada kecelakaan lalu lintas hebat yang membuat kendaraan yang dinaiki Dawam terhambat lajunya.

Setelah melalui pertimbangan, kami pun segera memakamkan jenazah ibu tanpa menunggu lagi kedatangan Dawam. Alasannya, selain kasihan pada para tamu, juga kasihan kepada jenazah ibu sendiri. Kata Mbah Bandi, lebih cepat memakamkan jenazah lebih baik.  Jenazah ibu juga bisa gelisah bila terlalu lama tak dimasukan ke liang lahat.

Tentu saja sudah melalui persetujuan Dawam via SMS.

Maka prosesi pemakaman ibu yang memakan waktu hampir satu jam lebih pun selesai. Semua anak-anaknya kembali ke rumah masih dalam kondisi berkabung.

Ketika itu sebuah taksi masuk ke halaman rumah. Dengan wajah muram dan tampak lelah, Dawam keluar dari taksi dan langsung berhambur masuk rumah. Ia menanyakan dimana ibunya. Ketika dijawab sudah dikuburkan, tiba-tiba marahnya meledak.

Pintu rumah ditendangnya. Ia menangis karena tak diberi kesempatan untuk bertemu sang ibu terakhir kalinya.

Kakak-kakaknya berusaha menenangkan Dawam dan membawanya ke kamar. Pertengkaran kecil terjadi. Suara tangis Dawam masih terdengar. Ia seperti menyesal tak habis-habisnya dengan apa yang baru dialaminya.

****

Setahun kemudian Dawam memperoleh tugas liputan lagi ke Surabaya. Ia berkesempatan untuk pulang ke Madiun dan berziarah ke makam ibu dan bapaknya yang dikubur berdampingan.

Pada satu malam yang dingin, Dawam terjaga. Ia melihat sesosok bayangan masuk ke kamarnya. Bayangan itu seperti bayangan ibunya yang sudah meninggal dunia.

Semasa masih hidup, ibu memang kerap masuk ke kamarnya, untuk menaruh selimut atau obat nyamuk bakar. Tak seperti rumah Dawam di  Jakarta yang selalu dibersihkan pembantu dan ber AC, rumah orangtua Dawam di Madiun tak banyak berubah. Panas dan banyak nyamuknya. Kalau malam hampir semua lampu dimatikan.

Malam itu tak seperti biasanya.  Setelah manaruh selimut atau obat nyamuk, sosok sang ibu tak lagi menengok ke arahnya. Dawam pun bersyukur. Ia tak siap bertemu wajah ibu yang semua orang tahu sudah setahun lalu meninggal dunia.

Pagi harinya Dawam memeriksa selimut dan bekas obat nyamuk itu benar- benar ada. Ia berspekulasi bahwa roh ibunya mungkin masih gentayangan karena belum sempat bertemu dirinya terakhir kali.

Sebab, setelah itu, tak pernah ada kejadian lagi. Sosok bayangan ibu tak pernah muncul kembali. Ia seperti telah tenang berada di alam baka.

Hingga kini, Dawam menyimpan rapat-rapat bahwa ia pernah bertemu ibunya yang sudah meninggal dunia. Ia tak mau menceritakannya kepada siapapun karena yakin hanya ia sendiri yang mempercayainya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s