Wanita Berhati Bidadari


suasana saat commuterline sepi penumpang (google.com)

Dalam satu perjalanan menggunakan KRL ekonomi AC Depok-Jakarta, seorang bapak tua tampak kebingungan. Bapak tersebut menunjukkan tiket KRL ekonomi seharga Rp 1.500, sementara petugas meminta tiket KRL AC atau Commuter Line seharga Rp 6.000.

“Bapak salah naik. Harus didenda. Ayo keluarkan uang Rp 10.000,” kata petugas tersebut seraya bersiap menyobek karcis abolisi. Karcis denda tersebut memang dipersiapkan untuk penumpang yang tak punya tiket atau salah naik seperti bapak tersebut.

“Tapi bapak nggak tahu. Waktu bapak tanya kereta ke Gondangdia, bapak ditunjukin kereta ini,” kata bapak tersebut dengan raut muka kebingungan.
Bagi penumpang langganan KRL, mana penumpang yang benar-benar tak pernah naik kereta atau hanya tipu-tipu agar bisa naik kereta AC dengan biaya murah gampang dibedakan. Bapak tersebut tampaknya benar-benar salah naik atau bahkan tak pernah naik KRL.

Karena terus didesak, bapak tadi akhirnya mengeluarkan uang ribuan dari kantong celanannya. Ternyata jumlahnya tak sampai Rp 10.000. Lagipula kalau uang tersebut akhirnya dikasihkan, jangan-jangan ia tak punya ongkos lagi naik angkot. Tak bisa sampai rumahnya.

Seperti biasanya, dalam kebingungan tersebut, tak ada penumpang yang peduli. Mereka seperti tenggelam dengan dunianya masing-masing. Dalam kesibukan orang-orang yang bekerja di Ibukota. Penumpang yang salah naik ya harus didenda atau diturunkan di jalan. Peraturan harus ditegakkan, tak boleh ada belai kasihan. Tak ada unsur kemanusiaan!

Lalu tiba-tiba seorang gadis yang sedari tadi ikut bingung melihat bapak tersebut, berdiri. Tangannya merogoh uang dari saku belakang celana jeansnya. Satu dari tiga lembar uang pecahan Rp 50.000 diberikan kepada petugas KRL. “Nih untuk bapak itu. Emang ada berapa orang?,”katanya menantang.

Tak ada pertanyaan dari petugas apakah wanita tersebut punya hubungan saudara atau tidak dengan si bapak tadi. Setelah memberikan uang kembalian Rp 40.000 ia ngeloyor pergi untuk memeriksa tiket pada penumpang lainnya.
Sejak itu, semua perhatian penumpang kereta langsung mengarah kepada wanita muda tersebut. “Wanita itu berhati bidadari,” ucap seorang pria berbaju batik kepada rekannya yang berkaos warna hitam. Keduanya duduk persis di depan wanita tersebut.

Sekitar 10 menit kemudian, wanita muda tersebut menelepon seseorang. Baru beberapa kalimat melakukan percakapan, ia tertawa ngakak. Ia seperti tak peduli bahwa ia sedang berada di tempat umum. Persis sama tak pedulinya ketika ia memberikan uang kepada petugas untuk membantu bapak tua yang kebingungan.

Gue gak tahan coy. Elo sing yang duluin. Si kampret itu jadi ikut-ikutan. Biarin aja dia biar mampusss…,” katanya sambil tertawa ngakak lagi.

Lelaki berbaju batik dan berkaos hitam di depannya tadi jadi bingung. Siapa dan darimana sih wanita muda ini. “Hati bidadari tapi kelakuan kok wanita murahan, piye to iki,” ucap lelaki berbaju batik dengan logat Jawanya.

Ketika wanita tersebut turun di Stasiun Manggarai ia masih terus menelepon, ketawa ngakaknya terus terdengar. Orang-orang hanya bisa menyaksikan dengan tersenyum dan mengelus dada dari kejauhan.

“Pantesan ngambil uangnya tadi kok di saku celana belakang, bukan dari dompet,”ucap lelaki berkaos hitam mencoba menganalisa.

“Nyimpan uang seperti itu kan kebiasaan lelaki, terutama tukang parkir atau sopir angkot,” tambahnya. Walah…kok tambah membingungkan ya.

Tak lama kemudian bapak tua tadi turun di Stasiun Gondangdia dengan hati tenang. Itu semua berkat si wanita berhati bidadari tadi. Wanita yang mungkin hanya sekali muncul dalam seribu hari, bahkan lebih….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s