Dasar Copet, Recehan Pun Diembat


hati-hati copet di KRL ekonomi (vivanews)

Suatu hari Dedi harus pergi ke rumah kakaknya di Bojonggede, Bogor karena anak dan istrinya minta dijemput. Bahwa ia sedang berada di sebuah Mal, Jalan Margonda, Depok, bersama sejumlah kawan lamanya menjadi alasan tak terbantahkan.

“Mumpung dekat stasiun!” Begitu alasan sang istri via SMS.

Maka usai melakukan pertemuan, Dedi berjalan menuju stasiun yang terletak di belakang mal. Karena jarak dekat, hanya empat stasiun, Dedi memilih naik KRL kelas ekonomi Rp 1.500. Naik Commuter Line atau KRL AC seharga Rp 6.000 dianggap terlalu mahal.

Ternyata KRL ekonomi yang datang padat penumpang. Karena sudah membeli tiket, Dedi tetap naik. Ia tak mungkin menunggu KRL berikutnya karena posisi kereta tersebut belum diumumkan petugas stasiun.

Di dalam kereta, Dedi berusaha mencari tempat yang longgar. Ternyata tidak mudah. Apalagi di setiap stasiun, jumlah penumpang yang naik lebih besar dibanding penumpang turun. Selain karena hari libur, faktor tanggal muda ikut menentukan orang berpegian naik kereta.

Dengan reflek yang sudah terlatih. Dedi terus memegangi dompet dan HP yang ia satukan pada kantung celana sebelah kiri. Satu tangan lainnya memegang tali gantungan kereta agar tak terdesak penumpang lain atau tersentak saat KRL jalan.

Naik KRL adalah keseharian Dedi untuk menuju tempat kerjanya. Namun ia selalu mengenakan celana jeans ketat sehingga dompet dan HP lebih aman dalam kantung celana.

Karena tak punya rencana naik KRL, hari itu Dedi mengenakan celana gunung yang berkantung banyak. Posisi kantung yang lebar membuatnya tak nyaman menaruh dompet dan HP dalam kondisi penumpang kereta api berdesakan. Tahu sendirilah dalam kondisi seperti itu pencopet kereta berkeliaran.

Dengan susah payah akhirnya Dedi sampai juga di Stasiun Bojonggede. Ia lega karena dompet dan HP-nya masih ada dalam gengaman. Angin semilir terasa nyaman saat menerpa badannya yang berkeringat.

Sebelum keluar dari stasiun, Dedi tertarik membasahi kerongkongannya dengan membeli air kelapa dingin. Harganya sekitar Rp 2.500. Namun begitu hendak membayar ia kaget karena uang receh sekitar 28.000 terdiri dari pecahan Rp 10.000, Rp 5.000, Rp 2.000 dan Rp 1.000 di saku celana sebelah kanan sudah lenyap.

Ia yakin uang itu disikat pencopet karena ia membiarkannya terbuka. Uang itu diperkirakan disikat pencopet saat terjadi dorongan hebat atas dirinya kala di atas KRL.

“Pencopet keterlaluan, masa uang receh juga disikat,” serunya.

Kakak ipar, istri, dan anaknya tertawa mendengar cerita itu.

“Berati pencopetnya juga butuh uang receh buat beli es ya pah…” Anaknya menimpali sambil tertawa lagi.

Bagi Dedi, Bukan uangnya yang disayangkan, tapi pengalamannya yang tak terlupakan. Pengalaman nestapa itu entah beberapa kali kemudian ia ceritakan.

***

Cerita tentang kejahatan di atas KRL memang sangat dikuasai Dedi. Ia bukan hanya kerap menyaksikan kejahatan itu, tapi juga hafal sekitar wajah-wajah penjahatnya. Dedi bisa dengan lancar setiap kali harus menceritakannya.

Mereka beraksi bukan hanya saat penumpang padat, bahkan saat kereta sepi penumpang, Modusnya tentu saja berbeda-beda, tetapi intinya sama: yakni menjadikan penumpang lengah sebagai sasarannya.

Jarang sekali pencopet kereta beraksi sendirian. Biasanya antara tiga sampai lima orang bahkan gerombolan kala penumpang sepi.

Para penjahat itu umumnya beraksi di KRL ekonomi karena mereka bisa naik dan turun dari kereta dengan mudah. Saat penumpang padat, ada diantara kawanan penjahat yang bertugas memecah konsentrasi dengan membuat keonaran. Misal, dengan terburu-buru turun dalam posisi di tengah gerbong.

Aksi ini biasanya dimanfaatkan kawannya untuk mengambil dompet atau HP dari penumpang yang lengah.

Sedang saat penumpang sepi, biasanya mereka mengincar penumpang dekat pintu dan jendela kereta yang terbuka. Adapun ekskusi mereka lakukan sekitar 10 detik setelah kereta bergerak dari stasiun. Lalu penjahat-penjahat itu turun dengan cara meloncat.

Agaknya mereka terlatih memanfaatkan kecepatan kereta untuk mengurungkan niat korban mengejarnya. Lagi pula para korban pencopetan dan pejambretan umumnya penumpang perempuan yang takut loncat.

Maka begitu melihat penumpang berteriak karena kalung emas, HP atau dompet diambil pencopet, bisa dipastikan penumpang lainnya hanya bengong dan geleng kepala. Mereka seolah lebih menyalahkan penumpang yang kurang berhati-hati daripada pencopet.

“Kita-kita yang tahu juga serba salah. Sebab, pernah ada kawan kita yang mengingatkan calon korban, eh malah dikeroyok kawanan penjahat itu,” ucap Dedi.

Pernah juga ada penjahat KRL ditangkap polisi, tak lama kemudian ia berkeliaran lagi. “Ya sudahlah yang penting tidak menganggu kita.”

Dedi hanya berusaha mengingatkan kepada siapa saja yang akan pergi menggunakan KRL untuk berhati-hati. Jangan menggunakan perhiasan, jangan berdiri atau duduk dekat pintu, jangan taruh dompet di saku belakang, dan gunakan HP seperlunya.

***

Satu hari adik kandung Dedi datang untung meminjam kamera sehari saja. Karena istrinya sedang tugas keluar kota, Dedi meminjamkan kamera sang istri. Dedi tak meminta izin istrinya toh kamera itu sudah kembali saat istrinya pulang.

Di luar dugaan, kamera itu bukan hanya tak kembali tepat pada waktunya, tapi juga hilang. Kamera itu diambil pencopet saat adik kandung bersama istri dan anaknya pulang dari Kebun Raya Bogor menggunakan KRL.

Istri Dedi marah besar. Ia marah karena dalam kamera itu banyak data berupa foto dan video yang belum ditransfer baik ke flashdisk maupun laptopnya. Lebih dari itu ia marah karena sang suami tak meminta izinnya. “Kalau bilang kan data-datanya bisa ditransfer.” Begitu ucapnya.

Dedi hanya bisa pasrah. Apapun alasannya, di mata sang istri, ia sudah salah. Dedi hanya bisa menyalahkan adiknya yang tak bilang-bilang jika mau pergi menggunakan KRL. “Kalau bilang kan mas bisa kasih tahu cara menghindari pencopetan,” kilahnya.

Giliran sang adik yang pasrah dan mengaku salah. Meski mungkin ia juga ingin mengatakan bahwa hal itu musibah dan kakaknya toh juga pernah kecopetan di KRL.

2 thoughts on “Dasar Copet, Recehan Pun Diembat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s