Menantu Koruptor, Mertua Tak Berdaya


Ayo ganyang korupsi (Gresnews)

Berceritalah Maridi tentang mengapa ia tak pernah menyukai Husni, salah satu menantunya. Cerita itu disampaikan kepada salah satu cucunya yang dikenal kritis dan kebetulan seorang aktivis.

“Cerita ini khusus untuk kamu. Kakek yakin kamu sudah dewasa dan bisa memahami kisah kakek dan om kamu itu dengan akal sehat.” Maridi mengawali cerita seolah sebagai sebuah pemanasan.

Maridi menegaskan bahwa awalnya ia tak pernah membeda-bedakan para menantunya. Perjodohan semua anaknya diserahkan kepada yang bersangkutan karena ia yakin merekalah yang menjalaninya bukan orangtua.

Apalagi sebagai perwira TNI, Maridi selalu ditugaskan ke berbagai daerah. Akibatnya ia tak bisa memantau setiap saat perkembangan empat anaknya.

Yang ia tahu Niken, anak sulungnya, berpacaran dengan Husni teman SMA di kota tempat ia pertama bertugas. Setelah lulus, Husni mendaftar sebagai anggota TNI. Sedang Niken kuliah di Surabaya.

Masalahnya, setelah Husni menjadi anggota TNI, keduanya malah semakin lengket. Menghindari hal-hal tak diinginkan, Maridi akhirnya menikahkan anak sulungnya. Niken selanjutnya terpaksa berhenti kuliah setelah melahirkan dua anak yang usianya terpaut satu tahun.

Diantara anak-anak Maridi, kehidupan ekonomi Niken jalan di tempat. Maridi bisa memahaminya karena ia tahu persis berapa penghasilan anggota TNI berpangkat sersan seperti Husni. Bantuan keuangan selalu dikirimkan Maridi kepada Niken, hampir setiap bulan.

Ada keinginan kuat Maridi untuk membantu lebih dari sekadar uang kepada Niken dan suaminya. Meski punya pengaruh di lingkungan TNI, dengan pangkat kolonel, Maridi tak mungkin bisa mendongkrak pangkat menantunya. Ini karena di lingkungan organisasi TNI punya aturan main sendiri. Setiap orang tak bisa nyelonong begitu saja mempromosikan yang lain, termasuk menantunya.

Maka usulan menjadikan Husni kepala desa di tempat kelahirannya lebih masuk akal. Kebetulan warga membutuhkan sosok baru, setelah bosan dengan kepala desa lama dan para kroninya.

Maka dengan gelontoran uang dan pengaruhnya, Maridi menjadikan sang menantu sebagai kandidat kepala desa. Bolak-balik ia harus pulang pergi mudik dari Jakarta ke Jawa Timur, demi mewujudkan keinginan menjadikan Husni kepala desa.

Syukurlah kerja kerasa Maridi tak sia-sia. Husni terpilih menjadi kades dengan perolehan suara telak. Agar lebih berkonsentrasi membangun desa, atas usul Maridi, Husni mundur sebagai anggota TNI.

Sejak itu, Maridi pulang ke Jakarta dengan senyum. Ia menjadi lebih tenang menyongsong masa pensiunnya sebagai perwira TNI.

“Wah hebat kakek. Mestinya Om Husni berterimakasih pada kakek,” ucap sang cucu, membuat kesimpulan sementara.

***

Lima tahun kemudian, Maridi melanjutkan ceritanya, ia kembali dipaksa pulang kampung. Tapi bukan untuk mendukung Husni yang mencalonkan diri menjadi kepala desa untuk kedua kalinya. Tapi justru untuk menggagalkannya. Kok bisa?

Sebenarnya bukan untuk menggagalkannya, tapi untuk mengingatkan sang menantu, bahwa citranya sudah negatif. Ia sudah terlampau kaya dari hasil yang diduga karena penyalahgunaan jabatan sebagai kepala desa.

Ia tak ingin menantunya terperangkap lebih jauh. Apalagi lawan politiknya sudah mewanti-wanti akan membongkar kasus dugaan korupsi yang dilakukan Husni. Jika itu terjadi, bukan saja masa depan Husni akan hancur, namun juga nama besar keluarga Maridi tercoreng.

Di depan Maridi, Husni tetap menaruh hormat. Ia minta maaf tak bisa mundur dari pencalonannya karena sudah terlanjur jalan. Ia mengaku sebenarnya tak ingin maju lagi sebagai kepala desa dan ingin berwirausaha. Ia terpaksa maju lagi karena dicalonkan, bukan mencalonkan. Kalimat terakhir itu terdengar klise di telinga Husni.

“Tapi begini saja Pak. Karena terlanjur, biarkan proses politik ini berjalan. Saya berjanji tak akan ngotot memenangkan Pilkades. Saya akan terima dengan ikhlas jika akhirnya kalah.” Husni mengusulkan jalan keluar yang diyakini akan disetujui mertuanya.

Maridi memang tak bisa berbuat banyak. Apalagi kala itu ia sudah pensiun. Tak punya pengaruh kuat lagi dibanding semasa dia masih menjabat. Ia pulang ke Jakarta dan berharap sang menantu gagal jadi kepala desa dan menepati janjinya.

Nyatanya, Husni terpilih untuk kedua kalinya. Dari kabar yang terdengar, ia memenangkan Pilkades itu dengan politik uang. Selama menjabat kedua kalinya, tingkah laku Husni makin menjadi-jadi. Lawan-lawan politiknya dibungkam dengan berbagai cara.

Mungkin karena sudah muak, justru pada periode kedua itulah warga desa berontak. Unjuk rasa untuk menurunkan Husni sebagai kepala desa bermunculan. Namun karena mata hatinya sudah dibutakan, sang menantu membalas unjuk rasa warga desa dengan unjuk rasa balasan warga bayaran. Bentrok antarwarga kerap tak terhindarkan.

“Kakek sedih dan menyesal sedalam-dalamnya telah menjadikan Om mu itu sebagai kepala desa.” Maridi mengenang, pikirannya menerawang.

Sang cucu tampak terkesan dengan cerita kakeknya. Ia membayangkan dirinya berada di antara pengunjuk rasa, sebagai koordinator lapangan. Sungguh sebuah bayangan seksi bisa memimpin unjuk rasa menurunkan pejabat korupsi yang merupakan omnya sendiri.

“Lanjutkan kek. Seru ceritanya,” kata sang cucu seraya mencolek kakeknya yang masih menerawang dengan lamunan masa lalunya.

***

Maridi melanjutkan ceritanya dengan menyebut sang menantu akhirnya berhasil digulingkan rakyat. Saat itu sang kakek, karena sudah tua, tak ikut cawe-cawe lagi. Ia pasrah dengan apa yang dialami menantunya.

Maridi hanya berusaha menguatkan Niken dan anak-anaknya bersabar karena mungkin itulah jalan hidup yang harus ditempuh pria panutan mereka. Saat huru-hara politik menurunkan Husni sebagai kepala desa, Niken dan anak-anaknya memang mengungsi ke Jakarta, rumah kakeknya.

Warga ternyata tak puas hanya melengserkan Husni, mereka juga melaporkan sejumlah kasus dugaan korupsi yang telah dilakukan kepala desa terguling itu.

Namun hanya karena kasus itu bersamaan dengan kesibukan Pilpres, nasib Husni terselamatkan. Momentum itu juga dimanfaatkan Husni untuk bergeriliya membungkam para pejabat hukum yang menangani kasusnya dengan uang.

“Wah kalah isu ya Kek sama Pilpres. Apakah Om Husni sempat dipenjara setelah Pilres?” Sang cucu bertanya serius.

“Hahaha itulah lihainya Ommu dan itulah anehnya negerimu.” Sang kakek menjawab sambil terkekeh.

Setelah Pilpres, justru karier Husni justru meroket. Ia terpilih sebagai wakil rakyat tingkat DPRD dari partai yang sedang berkuasa.

” Kalau sudah begitu mana ada yang berani mengutik-utik kasus Ommu itu?.”

Sang cucu mengangguk-angguk. Ia melihat potret om Husni seperti potret karut marut negerinya saat ini.

5 thoughts on “Menantu Koruptor, Mertua Tak Berdaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s