Ini Jodohku, Mana Jodohmu?


si sulung dan si bungsu menatap alam

Bahwa jodoh ada di tangan Tuhan, Panji kini mempercayainya. Tuhan telah memberinya jodoh itu dan sepasang anak yang sehat, bagaimana ia tak mempercayainya?

Sebelum menikah dengan Bening, Panji tak peduli dengan urusan jodoh. Ia terlampau asyik menikmati diri sendiri. Beberapa kali ia jalan dengan lawan jenis namun tak pernah ada cocok di hati.

Saat Panji menyatakan suka terhadap wanita yang ditaksirnya, yang bersangkutan geleng kepala. Sebaliknya ada satu-dua teman wanita yang menyatakan perasaannya duluan, eh Panjinya yang tak yakin punya perasaan serupa. Ada yang bilang cowok pilih-pilih, jual mahal, tak sedikit yang menyebutnya cowok minderan.

“Ah, cowok mah gampang. Berapapun umurnya, asal punya penghasilan, apalagi mapan, pasti mudah memperoleh pasangan hidup. Nggak ada istilah ketinggalan kereta seperti wanita.” Panji menyampaikan pendapatnya, menghibur diri.

“Iya sih. Tapi kan umur harus dihitung juga. Nggak lucu sudah kakek-kakek punya anak balita kayak Pak Rian.” Seorang kawan Panji menyampaikan pandangan berbeda.

Rian yang dimaksud adalah teman sekantor Panji yang sudah tiga tahun pensiun. Ia terlalu menikmati masa mudanya. Dengan modal wajah ganteng, Rian, jatuh ke pelukan wanita satu dan wanita lainnya.

Rian bercerita bahwa pada masa mudanya ia pernah menikah di bawah tangan. Bahkan, untuk sekian lama, menjadi kekasih gelap seorang istri pengusaha kaya raya.

Akhirnya Rianto, nama panjang Rian, menikah ketika usianya hampir berkepala lima. Dari istri yang berbeda usia 20 tahunan itu ia dikarunai dua anak. Sebagai ayah yang baik, ia selalu mengantar anak-anaknya ke sekolah. Nah, para orangtua di sekolah mengira Rian sedang mengantar cucunya.

“Saya iya kan saja sih. Tapi manakala anak yang dikiranya cucu itu memanggil saya ayah, mereka bengong sendiri,” kata Rian ketika belum pensiun.

“Kita jadi kangen Pak Rian ya?” Panji berkata dengan pikiran menerawang. Ia mengenal Rian saat beliau mempersiapkan masa pensiunnya. Meski sudah tua, kharismanya sebagai pria yang pernah disukai banyak wanita memang masih tampak.

Sebuah nasihat Pak Rian yang pernah disampaikan kepada dirinya, dan masih berbekas adalah jangan sia-siakan masa muda.

Entah apa yang dimaksud, apakah menjadi seperti masa mudanya atau justru kebalikannya? Panji menebak mungkin yang kedua. Tapi kadang-kadang Panji malah membayangkan bahwa ia akan bahagia mengabadikan hidupnya pada kemanusiaan meski tanpa pernah menikah.

***

Pada satu acara, Panji mewakili kantor, memenuhi undangan pemerintah daerah ke Kepulauan Seribu. Selain untuk meliput sebuah acara, tentu saja, untuk memberi kesempatan setiap peserta untuk menikmati keindahan alam di Utara Ibukota itu.

Sebagian peserta sudah dikenal Panji karena sering bertemu dalam acara liputan yang sama. Di sana Panji lalu berkenalan dengan Bening. Mereka terlibat obrolan mengasyikan karena ternyata berasal dari program studi yang sama meski perguruan tinggi berbeda.

Diam-diam, ada diantara kawan yang dikenal Panji dan Bening, menjodohkannya. Saat acara karaokean, setelah makan malam, Panji dan Bening diminta untuk bernyanyi. Namun karena keduanya tak terbiasa, dengan setengah mati akhirnya berhasil menolaknya.

Maka sang kawan tadi yang menyanyikan sebuah lagu, katanya khusus dipersembahkan untuk pasangan baru, Panji dan Bening. Yakni Killing me Softly with his song, lagu hits Roberta Flack tahun 1973-an yang kembali dipopulerkan The Fugees tahun 1995-an.

Begitulah setelah acara usai, Panji dan Bening kembali pada kesibukannya masing-masing. Setelah sekian lama, mereka baru saling berhubungan kembali via telepon. Lalu bertemu muka lagi, makan dan nonton bersama, juga ngomongin masa depan.

“Jika, kamu setuju, kita langsung menikah saja. Tak perlu pacaran lagi,” ujar Panji, tiba-tiba memberanikan diri.

Bening tak menjawabnya segera. Panji, pria yang kini menawarinya menikah, baru dikenalnya. Ia merasa tak punya alasan untuk segera menjawabnya.

Banyak peristiwa lalu lalang dalam kehidupan Bening. Beberapa kali lelaki datang dan pergi, kini ia harus lebih matang menerima pria yang akan mendampingi hidup hingga akhir hayatnya.

Panji juga tak butuh jawaban segera. Ia hanya menyampaikan alasan mengapa ia serius mengajaknya langsung menikah. Sebab jika harus melalui masa berpacaran, katanya, pasti akan putus di tengah jalan. Perbedaan sifat dan masa lalu keduanya sering jadi penghalang.

“Saya menawarkan untuk langsung menikah dengan prinsip ikhlas. Pasti diantara aku dan kamu punya kelemahan, masa lalu yang berbeda. Tapi jika kita sama-sama ikhlas, Insya Allah kita bisa melaluinya bersama.”

Kata ikhlas itu entah mengapa begitu memukau Panji. Kata itu ia temukan dari salah satu buku bacaan yang ditulis seorang cendekiawan muslim, Quraih Shihab.

Namun kata itu segera dilupakannya tatkala Bening tak segera memberikan jawaban. Apalagi ketika wanita itu memutuskan tak jadi mudik Lebaran, padahal Panji bersiap memperkenalkan diri pada orangtua Bening di sebuah kota di Jawa Tengah.

Bening mengaku masih ada tugas kantor yang harus diselesaikannya. Panji tak bisa memaksa. Ia pun memesan tiket bus mudik rombongan melalui adiknya. Sebagai pria jomblo, pulang mudik merupakan hal yang gampang bagi Panji dan itu dilakukannya setiap tahun.

Panji masih punya ibu yang selalu merindukannya, sedang ayahnya sudah meninggal sejak ia kuliah.

Tapi, beberapa jam sebelum mudik, Bening menelepon Panji bahwa ia juga ingin mudik bersamanya. Panji segera mengiyakannya. Mereka janjian di Stasiun Gambir untuk mengantar Bening ke kampung halamannya.

Di stasiun termegah di Indonesia itu, suasana pemudik sudah riuh. Tiket resmi sudah ludas. Dari calo yang banyak berkeliaran di stasiun, Panji lalu ditawari tiket kereta api yang harganya dua kali lipat lebih mahal dari harga biasa. Padahal harga bandrol itu pun sudah merupakan harga tertinggi dan tetap ada saja yang membeli karena semua orang ingin mudik.

Sepanjang usianya, Panji tak pernah membayangkan akan berurusan dengan calo. Selain pasti merugikannya, profesi itu dianggap tak baik, karena mengambil keuntungan dari derita banyak orang.

Tapi demi cintanya pada Bening, Panji mengabaikan pikiran itu dan langsung membelinya.

Perjalanan mudik menggunakan kereta api kelas bisnis sehari sebelum lebaran baru dirasakan keduanya. Ternyata kacaunya luar biasa.

Saat kereta api tiba di stasiun, rebutan tempat duduk pun tak terhindarkan. Jumlah penumpang tak punya nomor tempat duduk luar biasa banyaknya dan dipaksakan masuk semua. Panji dan Bening bersyukur dapat kursi sesuai nomor tiket yang diperolehnya. Namun mereka terpaksa harus berbagi dengan seorang penumpang.

Ya, penumpang itu seorang pemuda yang mudik dengan membawa tas koper besar. Dalam perjalanan, pemuda itu sok tahu dengan menebak pekerjaan Panji dan Bening. Saat menyebut kata media, Panji dan Bening sempat kagum bahwa tebakan pemuda itu benar.

Tapi begitu melanjutkan bahwa yang dimaksud adalah Media Kargo, Panji dan Bening tak bisa menahan tawanya. Keduanya memang bekerja di media atau surat kabar, tapi tak terkait dengan Kargo, pengiriman barang.

Meski ditertawakan, pemuda itu tak marah. Ia lalu membuka tas kopernya, yang ternyata hanya berisi satu kotak kue lemper. Makanan itu ditawarkan pada Panji dan Bening. Dengan alasan masih kenyang, keduanya geleng kepala.

Panji dan Bening lalu saling berbisik. “Tas koper kok isinya lemper?”

Hahaha…Kikikikik…dan pemuda polos itu malah turut tertawa.

***

Begitulah, orangtua Bening terkejut tatkala menyaksikan anak perempuannya pulang bersama lelaki yang tak pernah diceritakannya. Meski Panji tak punya potongan sebagai pria beristri, ayah Bening tetap minta anaknya tetap waspada. Siapa tahu Panji sudah punya anak-istri.

Entah bagaimana cerita Bening pada orangtuanya, Panji diminta langsung menyampaikan keinginan menikahi Bening kepada ayah ibunya. Permintaan itu membuatnya galau. Bagaimana kalau ia tak lancar mengatakannya? Bagaimana pula kalau kemudian permintaannya ditolak? Tapi karena merasa sudah basah, Panji pantang surut ke belakang.

Di luar dugaan, semuanya berjalan lancar. Penentuan tanggal pernikahan langsung dibuat saat itu juga, yakni tanggal libur nasional. “Jika orangtuanya setuju, Bening tentu sudah ada di dalamnya, bukan?” Panji berkata pada diri sendiri.

Setelah dari rumah orangtua Bening, Panji giliran mengajak calon istrinya untuk diperkenalkan kepada ibunya. Dalam perjalanan, Panji memutarkan lagu Utha Likumahuwa (Almarhum) berjudul Esok Kan Ada. Syair lagu itu tampaknya sangat menyentuh hati Bening. Ia meneteskan air mata.

Ibu Panji sangat mempercayainya. Ia pun tak banyak bertanya soal asal muasal Bening, kecuali hanya mengatakan bahwa calon menantunya itu cantik.

Setelah itu, mereka mengabarkan tentang tanggal pernikahan kepada rekan-rekan kerja mereka di kantor masing-masing. Tentu saja banyak yang terkejut, namun tak ada yang protes. Karena pernikahan itu dilakukan jauh dari Jakarta, hanya kawan-kawan dekat yang datang. (Salah satu kawan yang datang di sini ceritanya)

Setelah menikah, keduanya kembali ke Jakarta dan bekerja tanpa bulan madu. Ya tanpa bulan madu. Hebat bukan? Ah biasanya saja. Panji dan Bening menjalani seperti mengikuti aliran air kehidupan. Ikhlas kuncinya.

***

Setelah menikah keduanya langsung disibukan dengan kehamilan Bening. Tapi kehamilan pertama itu gagal, janin bayi tak berkembang karena terkena toxoplasma alias virus kucing.

Untuk membersihkannya, rahim Bening harus dikuret. Panji menemaninya dengan setia.

Syukurlah, setelah itu Bening hamil lagi. Karena trauma dengan keguguran pertama, ia memutuskan cuti di luar tanggungan dan pulang ke kampung halaman.

Anak pertama lalu lahir normal. Bayi lelaki itu rambutnya kriting. Kulitnya bersih, lucu, ganteng, semua orang mengangguminya.

Kehadiran benar-benar menjadi perekat. Perbedaan sifat antara Panji dan Bening yang kerap berbenturan tajam setelah menikah, langsung bisa diredam saat bertemu dengan si sulung. Apalagi setelah anak kedua, perempuan hadir delapan tahun kemudian, kebahagian keduanya kian lengkap.

Baik Panji dan Bening semakin giat bekerja. Berangkat pagi, pulang malam. Kedua anaknya jadi terbiasa dengan kesibukan kedua orangtuanya. Tatkala hanya punya si sulung, ulang tahun bukanlah hal istimewa. Mungkin karena ia cowok, si sulung tak terlalu menuntut perayaan ulang tahun.

Beda sekali dengan kahadiran si bungsu yang cewek. Ia bukan hanya hafal hari ulang tahun dirinya, tapi juga kakak, papa, mama, termasuk pengasuhnya. Dan setiap ulang tahun seolah ada kewajiban merayakannya, minimal membelikan kue ulang tahun karena si bungsu akan dengan suka cita meniup lilinnya.

Dari semua hari ulang tahun hanya satu momentum penting yang tak pernah diketahui si bungsu karena memang tak pernah diberi tahu. Jangankan si bungsu, mungkin karena terlalu sibuk dengan pekerjaan dan membesarkan anak, Panji-Bening juga sering melupakannya.

Ulang tahun yang dimaksud adalah ulang tahun perkawinan yang tanggal 19 April tahun ini memasuki usia ke-14 tahun.

***

Bangun tidur, begitu disodori kue ulang tahun dengan Lilin berangka 14, si bungsu langsung bertanya: siapa yang berulang tahun? Ia mengira ulang tahun kakaknya, yang juga akan memasuki usia 14, tapi ia kemudian ingat bahwa ulang tahun kakak jatuh pada bulan Desember mendatang.

Tatkala Bening menjelaskan bahwa itu ulang tahun perkawinan papa-mamanya. Si bungsu yang masih duduk di taman kanak kanak tampak belum paham. Namun ia tetap senang meniupkan lilinnya.

“Selamat ulang tahun ya, Papa dan Mama, dua-duanya,” ucapnya.

Tulisan juga bisa dilihat di sini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s