“Dikejar-kejar” Anggota NII


Profesi wartawan lazimnya mengejar sumber berita. Tapi kali ini malah dikejar- kejar orang yang mengaku sebagai sumber berita. Ia mengklaim sebagai mantan anggota Negara Islam Indonesia (NII) yang sudah insaf.

Kita sebut saja mantan NII tersebut dengan inisial G. Bapak G ini percaya sekali bahwa ia menguasai masalah NII dan punya cara jitu memecahkannya. Ia juga percaya diri bahwa malam itu sedang berada di sebuah hotel, dan meminta kami mengirimkan wartawan untuk mewawancarainya.

Kami tentu saja tak menanggapinya hingga bapak G menelepon lagi saat saya tak ada di tempat. Ia menanyakan kok nggak ada wartawan  kami yang datang mewawancarai. Padahal bapak G tersebut mengaku baru saja diinterview sebuah televisi swasta dan ia tak puas dengan hasilnya.

Kami kerap menerima orang-orang yang mengaku punya masalah dan ingin masalahnya diberitakan. Umumnya tentang sebuah peristiwa,  kasus kriminal, perlakuan aparat yang tak adil, atau soal kemiskinan yang bersangkutan dan masyarakat sekitarnya.

Tak semua pengaduan akan kami tanggapi. Kami biasanya juga menjelaskan  soal proses kerja redaksi hingga menjadi sebuah berita. Lalu kami menyarankan bagaimana sebaiknya.

Kembali kepada bapak G tadi, andai ia datang ke kantor, pasti akan kami perlakukan sama dengan yang lain.

Hanya saja masalah yang ingin ia sampaikan sebenarnya bukan untuk konsumsi koran kami yang merupakan koran lokal. Masalah yang ia sampaikan lebih pas dimuat di koran nasional.

Entah bagaimana ceritanya, Bapak G mendapatkan nomor hp saya lalu meneleponnya saat saya dalam perjalanan pulang. Ia bicara panjang lebar tentang pengetahuannya soal NII. Ketika saya bilang sedang menyetir, bapak G tersebut sedikit kaget dan menghentikan pembicaraannya.

Lalu mengirim SMS bahwa selain tahu soal NII, ia juga pelanggan koran kami sejak bertahun-tahun lalu. Nah lo, SMS itu malah nggak nyambung dengan maksudnya, juga menurunkan nafsu saya untuk melanjutkan kontak dengan si bapak G tersebut.

Pemberitaan soal NII terus berembus hingga kini. Bapak G masih beberapa kali mengontak saya lagi. Tapi kebetulan, saat ia menelepon, selalu saja tak beruntung. Entah itu karena saat saya sedang bersepedaan atau sedang pergi tanpa HP karena ketinggalan.

Hingga kini bapak G sudah tak pernah mengontak lagi. Tapi bila suatu saat ia membaca postingan ini, lalu datang ke kantor untuk menagih janji diwawancarai, bagaimana?

Ah tentu saja saya tak bisa  menghindarinya. Namun kali ini akan saya janjikan hasil wawancara tersebut di muat di Blog ini.

“Bagaimana pak? Mau tidak?

 

—-

Sumber foto di sini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s