Balada Pelacur dan Pria Tamak Kekasihnya


Kawasan Semanggi terasa sunyi. Jalanan masih tampak basah setelah diguyur hujan. Seorang wanita berjalan terseok-seok diantara lalu lalang kendaraan yang melintas dengan kecepatan sedang. Rumi, wanita itu berusaha menahan sakit tampaknya.

“Dasar Marjun bedebah. Lelaki bajingan! Sudah dikasih enak, malah tamak,” gerutu Rumi . Rasa dendam telah menggumpal di jiwanya. Lelaki bernama Marjun itu bukan hanya telah menganiaya fisik Rumi, tapi juga sepenggal hidupnya.

Rumi terus berjalan dari jembatan Semanggi ke arah rumah kontrakannya di kawasan Grogol. Masih jauh memang. Tapi ia tak punya pilihan. Selain karena sudah tak ada lagi angkutan umum selarut malam itu, Rumi sudah tak punya uang sepeser pun.

Uang dari para lelaki hidung belang yang telah diservisnya selama beberapa malam terakhir, diambil paksa Marjun, si lelaki jahanam, mantan pacarnya. “Akan kucincang kau Marjun!” Rumi berteriak, suaranya ditelan kesunyian.

Jalannya masih terseok, tapi hatinya lebih terseok lagi. Rumi berusaha tak ingin merasakan sakit lagi. Ia hanya mau segera tiba di rumah, menenangkan pikiran, lalu merencanakan sebuah balas dendam demi mengobati rasa sakit hatinya.

Di sepanjang perjalanan, Rumi bertemu dengan tukang ojek, bahkan ada yang menghampirinya. Rumi tetap memilih jalan kaki. Terus berjalan.

Seorang tukang ojek bilang mau mengantarnya dan ia tak perlu dibayar menggunakan rupiah. Rumi paham maksudnya. Tapi ia sudah kehilangan gairah. Malam itu para lelaki serupa dengan Marjun. Brengsek semua.

***

Rumi mengenal Marjun di sebuah warung remang-remang di Tanahabang. Entah darimana asal pria berbadan tegap itu, awalnya Rumi tak terlalu peduli. Yang diketahuinya, Marjun sangat ditakuti banyak orang di kawasan itu, termasuk para preman.

Setelah berkencan dengan Rumi , Marjun tampak ketagihan. Malam-malam berikutnya ia terus datang dan minta dilayaninya. Rumi sih senang-senang saja apalagi Marjun kerap memberikan uang tips lebih banyak dibanding pria hidung belang yang pernah ditemuinya.

Uang lebih sangatlah dibutuhkan bagi wanita berprofesi seperti dirinya. Tahu sendirilah. Uang jerih payahnya masih harus dibagi untuk kepentingan macam-macam, ada untuk germolah, untuk keamanan atau premanlah, dan untuk tukang ojek langganan.

Padahal ia juga harus menyisihkan uang untuk dikirim ke kampungnya. Orangtua tahunya Rumi alias Ruminten bekerja di sebuah restoran. Rumi tentunya juga harus merawat diri yang butuh biaya tinggi. Meski hanya pelacur kelas teri, Rumi juga butuh menjaga bodi agar tetap aduhai, bukan?

Suatu malam, Marjun meminta Rumi menjadi kekasihnya. Mulanya, ia menyatakan belum siap. Rumi bilang belum mau terikat. Masalahnya, Marjun dikenal lelaki yang pantang ditolak.

Konon, ada seorang pelacur yang pernah menolak dijadikan pacarnya, beberapa malam kemudian perempuan itu tewas dengan sejumlah luka memar. Banyak orang yakin, Marjun pelakunya. Namun kasus itu tak pernah diproses sampai sekarang.

Sebelumnya, seorang preman juga marah besar karena kekasihnya yang juga beraktivitas di keremangan malam digoda Marjun. Preman itu kemudian menantang Marjun duel di sebuah tempat. Sebelum tantangannya kesampaian, sang preman tewas duluan di rumah kontrakannya dengan luka tembak di kepala.

Banyak yang bilang, Marjunlah jugalah pelakunya karena hanya dia yang memiliki senjata api di kawasan itu. Tapi polisi lagi-lagi tak berhasrat melacak kasus pembunuhan tersebut. Marjun pun kian tak tersentuh. Perlahan namun pasti, Marjun menjelma manjadi penguasa tunggal lokalisasi liar itu.

Ia tak peduli dengan perkataan orang bahwa kekuasaan yang diperoleh dengan jalan keji, maka kelak akan berakhir secara keji pula. Ia tak peduli dengan istilah siapa menanam angin ia akan menuai badai.

Sementara itu, setelah menjadi kekasih Marjun, Rumi jadi merasa dibatasi. Lelaki itu menjadi posesif. Gampang cemburu hingga kerjanya pun dibatasi seperti pegawai negeri. Yakni bekerja sebagai penjaja seks dari Senin-Jumat. Sedang Sabtu-Minggu khusus melayani Marjun. Padahal waktu panen untuk profesi seperti Rumi adalah dua malam di akhir pekan tersebut.

Karena tak tahan, Rumi pun berontak. Minta cerai. Tapi Marjun tak pernah mengabulkannya.

Anehnya, tak lama berselang, sikap Marjun berubah 180 derajat. Ia mempersilahkan Rumi “bekerja” setiap malam dengan syarat, dialah yang jadi germonya. “Mumpung kamu masih muda.” Marjun berujar, setengah menyindir.

Tak terbayang dalam hidup Rumi akan menjadi “barang dagangan” pacarnya sendiri. Karena merasa jadi pacarnya, Marjun menerapkan pembagian uang yang tak adil. Ada penyesalan dalam hati Rumi karena telah ditakdirkan menjadi pacar Marjun. Penyesalan itu segera dilupakannya dengan menganggap Marjun adalah orang lain, bekas pacarnya.

Sejak itu juga Rumi tak mau hidup sia-sia. Otaknya bekerja keras, mencari jalan keluar agar bisa bebas dari cengkraman Marjun. Ia mulai mencari tahu siapa sebenarnya lelaki itu. “Betul memang, mumpung aku masih muda, masih laku.” Rumi berkata pada diri sendiri.

Dari salah seorang tamu pelanggannya Rumi akhirnya berhasil mengetahui siapa Marjun. Monod, pria tersebut punya saudara yang satu kesatuan dengan Marjun. Untuk itu ia meminta Rumi tak menyebut sumbernya infonya dari dia. “Ya dia memang anggota TNI. Tapi kabarnya sudah lama tak muncul di kantornya.” Monod mewanti-wanti.

Suatu saat, Marjun mencium usaha Rumi untuk melarikan diri dari cengkramannya. Ia menjemput paksa sang kekasih sekaligus wanita perasannya itu di sebuah tempat hiburan malam di Jakarta Selatan. Nah di tengah perjalanan, Rumi berontak. Marjun pun marah dan membawa Rumi ke taman bawah jembatan Semanggi.

Di tempat yang gelap itu, Rumi dianiaya. Ditampar mukanya, dipukul perutnya, belum puas, ditendang kakinya. Setelah tak berdaya, tas milik Rumi beserta isinya dibawa kabur Marjun.

Hujan kemudian mengguyur. Rumi pun tergeletak sendirian di bawah jembatan Semanggi. Salah satu kawasan ikon Jakarta yang sangat padat dan menyesakan di siang hari, malam itu terasa begitu sunyi.

Setelah hujan reda, dengan kekuatan tersisa, Rumi bangkit. Jalan terseok menuju rumah kontrakannya.

***

Monod ikut geram dengan kisah yang dialami Rumi. Ia pun kemudian memberi ruang kepada Rumi untuk melampiaskan dendamnya.

“Lagi pula dia memang sudah keterlaluan. Bukan saja telah merusak sebagian hidup Rumi dan wanita lain pada umumnya, Marjun juga sudah merusak kesatuan tempatnya berasal,” ucap Monod mengulang perkataan saudaranya kepada Rumi.

Atasan Marjun juga kerap dibuat kesal dengan ulahnya. Jejak langkah pria tamak itu pun kini dalam pengawasan serius sebuah tim penegakan disiplin dari kesatuannya.

Suatu malam, tiba-tiba muncul kabar Marjun tewas dengan luka tembak di kepala. Polisi berdatangan dan membuat analisa tentang siapa pelaku penembakan pria tersebut.

Ternyata bukan hanya luka tembak di kepala. Begutu celananya diperiksa, alat kelamin Marjun yang dibungkus plastik dengan darah berceceran sudah terpotong.

Agaknya sang penembak sengaja memotong kemaluan Marjun karena mungkin sangat dendam. Artinya jika selama ini Marjun memaksa dan memeras para wanita untuk menjual kelaminnya, maka alat kelamin Marjunlah yang harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.

Rumi dan Monod terkejut bukan kepalang. Rumi memang sangat dendam, tapi ia belum sempat melampiaskan dendamnya.

Anehnya berita-berita yang muncul di media massa tak berhasil menyebutkan siapa pembunuh Marjun. Dari keterangan sejumlah saksi dan polisi yang sempat diwawancarai hanya disebutkan bahwa pelaku adalah orang yang sangat dendam dengan Marjun. Lalu dari berita-berita berikutnya terkuak bahwa Marjun memang berlatar belakang tentara alias anggota TNI.

Saat dikonfirmasi, pihak TNI tak membantahnya. Hanya saja, ditegaskan bahwa Marjun adalah tentara disersi yang sudah lama dipecat dari kesatuannya. “Jadi dia bukan anggota TNI,” tulis juru bicara TNI seperti dikutip banyak media massa.

Rumi pun tertawa saat menyaksikan siaran berita televisi soal kasus Marjun. Ia tak berminat lagi mencari tahu siapa pembunuh mantan pacarnya. Ia merasa dendamnya sudah terlampiaskan.

Malam itu Rumi malah merayakan kematian Marjun, khusus bersama Monod tersayang.

sumber foto di sini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s