Pria Sakit Jiwa, Gemar Meneror Istrinya


Siang itu, seperti biasa, Nuri naik angkot menuju kantornya. Ternyata angkot itu dikemudikan seorang wanita. Ia merasa pernah melihatnya. Ya Nuri baru ingat, pertama kali ia melihatnya saat pulang kerja malam hari.

“Mungkin gilirannya narik siang.” Nuri menduganya.

Namun sosok riang sopir wanita itu tak lagi terlihat. Kali ini ia sangat murung. Ada apa gerangan? Nuri hanya bisa menduga-duga. Ia segera melupakannya karena dianggap gak penting banget.

Nuri selanjutnya mengamati satu per satu penumpang yang terdiri dari dua wanita (berarti tiga bersama dirinya) dan tiga penumpang pria. Tiba-tiba ia mencium gelagat tak enak. Naluri sebagai wartawati yang biasa menulis berita kriminal memberi isyarat. Wajah dan lagak tiga penumpang pria itu sangat mencurigakan.

Nuri berharap dugaannya salah. Namun andaipun dugaannya benar, ia harus siap-siap menghadapinya. Paling tidak melindungi diri sendiri. Nuri sempat melirik ke arah sopir di belakang kemudi. Sopir itu beberapa kali menengok ke arah penumpang melalui kaca spion dengan raut muka waswas.

Tak lama kemudian seorang penumpang pria tiba-tiba kejang-kejang, seperti penyakit ayannya kambuh. Para penumpang terkejut, termasuk Nuri. Semua perhatian tertuju pada penumpang tadi.

Seorang penumpang pria berusaha menolongnya. Setelah bisa mengendalikan diri, penumpang ayan itu minta turun. Dua penumpang pria, termasuk yang menolong si ayan tadu, ikut turun secara berurutan. Nuri menduga mereka berkawan. Komplotan.

Benar saja. Baru beberapa saat ketiganya melangkah, salah seorang penumpang wanita berteriak minta tolong, “Tas saya disilet, HP saya hilang. Mereka yang mengambilnya. Tolooong….” kata penumpang tadi.

Anehnya teriakan itu tak membuat penumpang lain bergerak untuk menolongnya. Mereka bengong, seolah tak tahu harus berbuat apa. Membela korban penculikan, pasti sangat berisiko karena penjahat itu berjumlah tiga orang pria, sedang mereka kaum wanita.

Bagaimana jika mereka kembali dan menantang untuk menunjukkan bukti. Sementara bukti yang dimaksud berhasil mereka sembunyikan? Bagaimana juga kalau mereka memiliki senjata tajam, bahkan senjata api, dan nekat menggunakannya karena terdesak?.

Sejurus kemudian, angkot tersentak dan si sopir cewek tadi mengarahkan kemudinya mengejar tiga maling tadi. Braak! satu dari tiga maling berhasil ia senggol dan terjatuh. Dua pria lainnya kabur tunggang langgang.

Saat itulah para penumpang, termasuk Nuri, berani meneriakinya maling. Warga sekitar dan tukang ojek berdatangan. Mereka memukuli maling yang jatuh itu hingga babak belur.

Dalam kondisi masih degdegan, otak Nuri langsung bekerja. Yess! Ia baru ingat, peristiwa dramatis itu akan menjadi berita eklusif bagi dirinya. Bagi korannya. Seorang sopir wanita berhasil melumpuhkan penjahat di angkotnya, bukankah itu sebuah berita luar biasa. Yeah!

Setelah menurunkan berita hard news-nya, Nuri juga menurunkan serial tentang sosok sopir wanita heroik bernama Frida itu.

Frida mengaku terpaksa bekerja sebagai sopir untuk menghidupi dua anaknya. Ia sudah dua kali menikah. Suami pertama seorang preman, punya sifat jahat. Tatkala ia menikah lagi, suami kedua diterornya sehingga memilih meninggalkan Frida. Sejak itu ia tak pernah menikah lagi karena suami pertama selalu meneror semua pria yang ingin menikahi Frida.

Lalu kenapa Frida menjadi sopir karena ia berasal dari keluarga sopir. Ayahnya, adiknya, bahkan ibunya pernah menjadi sopir angkutan.

“Jadi ini bukan profesi langka bagi Frida. Ini pekerjaan halal, kenapa tidak.” Frida menegaskan dan itu semua dimuat dalam artikel serial di suratkabar tempatnya bekerja.

Pesan Frida pada para wanita adalah berhati-hati di jalan, kalau bisa jangan membawa perhiasan mencolok, jangan mengenakan pakaian minim, berani berteriak kala menghadapi penjahat, dan hati-hati memilih calon suami.

***

Setelah dirawat beberapa hari di rumah sakit, pelaku pencopetan di atas angkot yang sempat ditabrak Frida akhirnya meninggal dunia. Tapi tak ada yang memedulikannya.

“Malah kebetulan, penjahat di Jakarta berkurang satu,” kata seorang kawan Nuri, setengah bercanda.

“Dulu waktu jaman petrus (penembakan misterius) banyak penjahat tewas bergelimpangan di jalan. Kondisi jadi aman, masyarakat pun jadi senang.” Teman Frida lainnya seperti memperkuat pendapat pertama.

Nyawa penjahat, apalagi penjahat kelas teri, memang tak ada gunanya. Tak ada media yang memberitakannya, termasuk media tempat Nuri bekerja.

***

Setelah menurunkan berita itu, Nuri masih sempat SMS-an dengan Frida. Mereka juga masih sempat bertemu baik saat Frida berangkat atau pulang kerja.

Saat enam bulan kemudian tak lagi menemukan Frida, Nuri tak mempersoalkannya. SMS terakhir yang ia kirimnya tak memperoleh balasan dari Frida. Nuri berpikir positif saja. Mungkin Frida telah memperoleh pekerjaan baru yang penghasilannya lebih bagus. Mungkin juga ia memperoleh suami baru yang lebih perhatian. Ya siapa tahu.

Nuri sendiri sibuk dengan pekerjaan, dengan kehidupan sendiri.

Suatu malam, tiba-tiba Nuri memilih duduk di sebelah sopir angkot. Padahal sebelumnya, hal itu tak pernah ia lakukan sekalipun.

Sopir di sebelahnya beberapa kali menatap Nuri. Ia seolah ingin meyakinkan bahwa Nuri merupakan sosok yang pernah dikenalnya.

“Mbak yang dulu mewawancarai Frida ya?”

Nuri kaget, namun segera meresponnya. “Kok tahu? Dimana dia sekarang.”

“Frida sudah lama pergi mbak. Pergi jauh?”

“Pergi kemana? Memangnya kenapa? Ada masalah apa?”

“Ceritanya panjang, mbak. Tapi sejak wajahnya muncul di koran, ia banyak yang mencari. Termasuk polisi?”

“Gawat dong. Memang ada yang salah dengan isi berita di koran itu?” Nuri mulai merasakan firasat yang tak enak.

“Saya juga nggak tahu. Mbak tanya sendiri saja nanti ya. Ini saya kasih nomor kakaknya. Bilang saja mau bicara sama Frida.”

Nuri mengeluarkan handphone dan mencatat nomor HP kakak Frida dari HP sopir.

“Jangan kasih tahu siapa-siapa tentang nomor ini ya mbak. Pokoknya Rahasia.” Sopir itu memohon dan Nuri mengangguk pertanda memenuhi permintaannya.

***

Setelah beberapa kali menelepon, akhirnya Nuri bisa ngobrol dengan Frida. Ia senang sekali, dan setelah menanyakan kabar Frida, langsung melontarkan sejumlah pertanyaan.

Frida membenarkan bahwa ia bersembunyi karena dicari-cari banyak orang, jadi buronan. Ia tinggal di sebuah tempat di luar Jawa yang lokasinya ia rahasiakan, termasuk pada Nuri. Nuri bisa memahaminya.

Frida dicari polisi karena dianggap sebagai biang dari tewasnya penjahat dalam angkot beberapa waktu lalu. Adapun sebagai barang bukti adalah hasil wawancara yang ditulis Nuri dan dimuat di koran tempatnya bekerja.

Nuri masih tak mengerti dengan penjelasan itu.

Frida kembali menjelaskan bahwa benar penjahat itu salah. Bahwa benar ia tewas karena dikeroyok massa. Frida hanya menyenggolnya karena berusaha menolong penumpang yang jadi korban perbuatan kriminal si penjahat tersebut.

“Tapi kenapa polisi ikut menyalahkanmu?” Nuri bertanya, tak sabar.

“Karena Frida dituduh punya motif balas dendam,” jawab Frida.

Balas dendam?

Frida akhirnya mengakui bahwa ia mengenal sekali penjahat itu. Ia adalah suami pertama Frida yang selalu menerornya itu. Suami yang pernah disampaikan kepada Nuri sebagai suami sakit jiwa.

Sebelum melakukan aksi di atas angkot, Frida sudah mengingatkan untuk tak melakukan kejahatan terhadap penumpangnya. Bagaimana pun Frida merasa punya tanggung jawab terhadap penumpang yang dibawanya.

Ternyata mantan suami Frida itu benar-benar sakit jiwa. Ia tetap melakukannya. Frida jadi kesal sekali dan gelap mata. “Begitulah mbak, Frida hanya menyenggolnya. Tapi mereka menuduh sengaja membunuhnya.”

Nuri terdiam lama. Ia tak menyangka penjahat itu mantan suami Frida. Ia merasa harusnya tahu soal itu lebih awal. Tapi ia tak mau menyalahkan Frida. Nurilah yang tidak teliti. Telah membohongi publik. Telah menyebabkan Frida repot.

“Oke. Yang penting kondisi Frida sekarang bagaimana? Apa yang bisa saya bantu.” Nuri memilih berpikir ke depan, memikirkan keselamatan Frida karena dampak berita yang ditulisnya.

“Mbak Nuri nggak usah memikirkan Frida. Saya di sini aman. Polisi nggak mungkin memburu Frida sampai ke sini. Biayanya mahal. Lagi pula polisi di sini tahu siapa mantan suami saya itu. Sama seperti saya, dia buronan polisi di sini,” papar Frida.

Hati Nuri sedikit plong mendengar jawaban itu. Tapi entah mengapa, ia tetap merasa linglung. Tetap merasa bersalah, baik pada Frida maupun publik yang membaca tulisannya.

“Mbak…halo-haloooo…mbaaakk…” Frida berteriak-teriak di seberang telepon karena merasa kehilangan respon dari Nuri.

“Mbak, Frida sekarang juga plong kok. Nggak ada lagi yang meneror…”

“Oh begitu ya. Syukurlah,” jawab Nuri sambil menutup telepon. Padahal Frida tampaknya masih ingin bicara.

“Mbaaakk…”

————

Yang Lain Ada di sini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s