Surat Perampok untuk Sang Presiden


Rumah Jornanda, mantan aktivis yang kini menjadi salah satu sosok penting di lingkaran dalam Presiden disatroni perampok. Ia, istri, dan dua anaknya disekap. Pembantu rumah tangga dan tukang kebun juga dibikin tak berkutik oleh kawanan perampok berjumlah tiga orang.

Tentu saja Jornanda tak tahu persis wajah para penjahat karena mereka menggunakan penutup kepala. Apalagi listrik di rumahnya sengaja mereka padamkan. Lalu, dalam tempo cepat, kawanan perampok itu sudah berada di kamar dan menodongkan senjata api ke arahnya. Perampok lain tampak membawa celurit yang diarahkan ke istrinya.

Tanpa suara dan sudah direncanakan, mereka langsung mengikat Jornanda dan istri. Tak lama kemudian, dua anak mereka yang sudah remaja diseret ke dalam kamar dengan kondisi sudah terikat dan mulut tertutup lakban.

Terdengar suara istri Jornanda yang mempersilahkan perampok mengambil apa saja asal tak melukai anak-anaknya. Namun perampok segera menutup mulut istri dengan lakban.

Jornanda sempat bingung karena perampok tak menanyakan simpanan harta benda berharga. Juga tak menanyakan lokasi tempat menaruh lima buah kunci mobil yang masing-masing harganya di atas Rp 300 jutaan.

Setelah mereka dilumpuhkan, kawanan perampok ke luar dari kamar dan masuk kamar lainnya. Mereka seperti mencari sesuatu. Setelah itu senyap. Jornanda, istri, dan anaknya berusaha melepaskan diri. Namun tak berhasil.

Enam jam kemudian, sekitar pukul 05.00 barulah mereka bisa bebas, setelah Santoso, sopir Jornanda tiba di rumah. Sang sopir terkejut saat tuannya dalam kondisi terikat dan disekap. Hendak bertanya, tapi Jornanda keburu mencari telepon dan mengecek barang apa saja yang hilang. Takjub, ia merasa semuanya masih lengkap.

Ia lantas menelepon seorang perwira polisi dan menceritakan apa yang baru dialaminya. Tak sampai setengah jam, perwira polisi berpangkat komisaris besar (kombes) itu datang dengan sejumlah anak buahnya.

Dari laporan istri dan anaknya, kawanan perampok itu ternyata hanya membawa tiga buah jam rolex koleksi Jornanda. Jumlah seluruh jam koleksinya ada lebih 10 buah. Selain itu tiga buah tas merek Louis Vuitton, koleksi istrinya, juga raib dibawa perampok.

“Aneh, biar tas itu mahal, buat apa mereka mengambilnya. Emangnya bisa dijual lagi. Siapa yang beli,” ucap istri Jornanda dengan nada ragu.

Jornanda mempersilahkan anak buah perwira polisi itu melakukan oleh tempat kejadian perkara (TKP) untuk menandai sidik jari dan mencari jejak-jejak penjahat.

“Apa sebelum ini ada yang mencurigakan, Mas,” kata si perwira polisi pada Jornanda dengan sikap hormat.

“Saya kira nggak ada,” jawabnya seraya memanggil Santoso dan meneruskan pertanyaan perwira polisi itu.

Santoso pun menggeleng kepala. “Saya juga nggak pernah lihat yang aneh- aneh, Pak.”

Seorang polisi berpangkat sersan mayor lalu tergopoh-gopoh mendekati bosnya. Ia lalu memberikan sebuah kertas berisi tulisan kepada sang perwira polisi.

Setelah menerima kertas itu, perwira polisi lalu menyimaknya dengan seksama. Keningnya berkerut tanda isi surat itu serius. Tak lama kemudian ia memberikannya kepada Jornanda.

“Ini tampaknya pesan dari perampok. Mungkin penting buat Mas,” katanya.

Jornanda lalu menerima dan membacanya.

Buat YTH Tuan Presiden.

Kami para perampok, khususnya saya, tersinggung berat dengan penggunaan istilah rampok yang Tuan Presiden gunakan belum lama ini.

Saya tahu persis yang dimaksud Tuan Presiden tentang rampok uang negara adalah korupsi. Tapi mengapa harus memaksakan diri dengan istilah rampok yang jelas berbeda segalanya. Orang merampok seperti saya biasanya dilakukan terpaksa. Orang seperti saya tak punya pekerjaan formal, tak bisa korupsi. Apanya yang dikorupsi?

Maunya sih kami tak menggunakan kekerasan setiap beraksi. Maunya sih kami mencuri dan lancar. Kalau tertangkap mencuri, pasal yang dikenakan pasal 362 dengan ancaman hukuman paling lama lima tahun.

Namun karena sasaran kerap melawan terpaksa deh kami menggunakan kekerasan. Jika tertangkap dikenai dengan pasal mencuri dengan kekerasan alias merampok, yakni 365 dengan hukuman maksimal 9 tahun penjara. Lebih berat. Parahnya, jika kepergok, sebelum di penjara kami digebuki hingga berdarah-darah. Banyak juga yang tewas.

Sedang korupsi biasanya justru dilakukan pegawai formal dan pejabat negara. Jumlah uang yang dikemplang juga jauh lebih gede dibanding kami. Sebaliknya meski sudah ada UU Tipikor dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun, faktanya hukuman para koruptor jauh lebih ringan dibanding kami. Bahkan banyak yang dibebaskan di tingkat pengadilan. Banyak yang kabur dan tak pernah tertangkap. Benar-benar tak adil!

Jadi, daripada menggunakan istilah rampok bagi koruptor. Mengapa Tuan Presiden tak fokus saja menjerat koruptor dengan hukuman berat. Bila perlu hukuman mati!.

Sumpah, saya perampok yang tak sudi dibandingkan dengan koruptor.

Itu saja dulu Tuan Presiden.

Mohon jadi perhatian

NB: Tolong sampaikan surat ini kepada Presidenmu ya. Awas, jangan sampai tidak!

“Ah, ini sih lebay. Gak usah ditanggapi!. Fokus saja pada penyelidikan untuk mengetahui siapa mereka dan apa motifnya. Dan ingat, jangan sampai info ini keluar. Jika ada wartawan yang tahu, kasih amplop saja,” ucap Jornanda.

“Siap mas!” jawab perwira polisi.

Mereka pun berpisah.

Hari-hari berikutnya. Jornanda berusaha meyakinkan anak- istrinya untuk melupakan kejadian itu. Tapi ternyata tak mudah. Perampokan itu telah menciptakan trauma di keluarga Jornanda.

Tentang surat itu. Jornanda tetap menganggapnya sebagai berlebihan. lebay, tak masuk akal. Apa urusannya perampok dengan omongan presiden? Mereka bukan politisi, bukan juga pengamat politik.

“Atau jangan-jangan mereka politisi yang menyamar sebagai perampok,” ucap sang istri.

“Kayaknya nggak mungkin deh. Mama tahu sendiri, mereka sangat profesional. Kalau poltisi nggak seperti itu.”

“Atau jangan-jangan mereka teroris yang dendam sama Presiden. Teroris kan banyak yang mencari uang dengan cara merampok,” kata sang istri lagi.

“Itu juga nggak masuk akal. Lagian ngapain ngurusi istilah rampok. Ah, sudahlah ma. Mungkin mereka cuma iseng.”

Sepekan kemudian, polisi belum juga menemukan jejak kawanan perampok yang menggucang rumah Jornanda. Untungnya polisi berhasil meredam kasus itu sehingga tak sampai muncul di media massa. Itu cukup membantu Jornanda dan keluarga dalam memulihkan hari-harinya.

***

Suatu malam, tiba-tiba kawanan perampok itu muncul lagi. Mereka sangat marah karena tahu surat mereka tak sampai Presiden. Salah seorang perampok, tampak sebagai pimpinanya, sempat memberikan bogem ke arah muka Jornanda. Mereka menyampaikan ancaman serius.

Malam itu pun kawanan perampok benar-benar mengambil sejumlah harta berharga milik keluarga Jornanda. Uang simpanan dolar dan rupiah, perhiasan emas, dua laptop, dua ipad, empat blackbarry, mereka sikat. Mereka juga kembali meninggalkan surat serupa untuk disampaikan kepada Presiden.

Mereka berjanji kembali dan membunuhnya jika surat itu tak sampai ke tangan orang nomor satu di negeri ini.

Setelah terbebas dari sekapan, Jornanda kembali menelepon perwira polisi kenalannya. Sang perwira kaget dan tampak malu. Ia kembali berjanji untuk mengusutnya.

Kali ini Jornanda tak mau meremehkannya. Ia benar-benat takut perampok itu muncul dan menghabisi keluarganya.

Ia buru-buru berangkat ke kantor dan membawa surat sang perampok. Oleh kolega sesama orang dekat presiden, surat itu dibaca. Seperti dirinya, sang kolega menganggapnya lebay. Hanya saja setelah didesak Jornanda, akhirnya sang kolega percaya bahwa surat tersebut bisa mengancam keselamatan keluarga sohibnya.

Namun untuk memberikan apalagi meyakinkan Presiden tentang surat itu tentu tak mudah. Mereka juga harus tahu situasi kondisi kejiwaan sang presiden.

Masalahnya sebelum surat itu sampai dibaca Presiden, esok harinya, surat perampok ternyata sudah muncul di sejumlah media massa. Jornanda tak sempat mengusutnya karena surat itu telah membuat situasi negara menjadi sangat gaduh.

Para pengamat politik menyampaikan berbagai ulasan dan pandangannya. Mereka menganggap surat itu merupakan refleksi rakyat kecil yang mengingatkan presiden agar tak gampang mengumbar istilah bermakna ganda. Politisi juga ikut mengomentari bahwa surat itu dikirim lawan politik sebagai sebuah pembunuhan karakter.

Istana Presiden guncang.

Presiden lalu menanyakan berita itu kepada orang-orang di lingkaran dalamnya. Jornanda lalu menunjukkan surat yang dimaksud. Presiden tampak kesal. Ia lalu memanggil Mensesneg, Menhukpolkam, Panglima TNI, Kapolri, dan tentu saja para penasehatnya .

Nyaris saja Presiden menyampaikan pidato untuk menanggapi surat perampok tersebut. Untungnya bisa dicegah. Jika Presiden menanggapi surat itu pasti hanya menambah runyam situasi. Sebab istilah rampok uang negara saja sudah diartikan jauh dan meleset.

Misal, sebelum membersihkan perampok uang negara, Presiden diminta membersihkan dulu rampok di Istana. Bahkan ada spanduk berisi tulisan bahwa Presidenlah bosnya perampok.

“Sudahlah masyarakat kita toh gampang lupa,” kata seorang penasehat senior Presiden.

Tak lama kemudian muncul berita-berita hot seperti penangkapan gembong teroris, pengungkapan selingkuh pejabat, juga penangkapan artis narkoba.

Berita tentang surat perampok kepada Presiden pun perlahan hilang dan dilupakan. Jornanda sudah mengungsikan anak dan istrinya ke tempat yang dirahasiakan. Hidup mereka jadi lebih aman.

Sebuah tajuk media massa mengakhiri tulisan dengan sebuah kalimat. “Masyarakat kita memang gampang lupa, tapi bukan berarti mereka telah memaafkannya.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s