Bos yang Membingungkan


SEORANG pengamat media–sebut saja Mr Angel–diundang berbicara di sebuah koran lokal. Ia diminta untuk memberi pencerahan soal bisnis media di zaman socia media sekarang ini.

Salah satu hal yang jadi perdebatan panjang antara Mr Angel dan para redaktur di koran tersebut ternyata bukan soal bagaimana sebuah koran agar bisa bertahan di tengah persaingan yang makin ketat, tapi soal pemakaian kata bos.

Mr Angel lalu menunjukkan sebuah judul headline yang dimuat koran tersebut, yakni Istri Bos Unilever Bunuh Diri. “Terus terang berita tersebut sangat memikat. Tapi kemudian saya kecewa usai membacanya. Saya kecewa karena bos yang dimaksud bukan bos Unilever seperti yang saya duga,” ungkap Mr Angel.

Pengertian bos menurut Mr Angel adalah menunjuk posisi tertinggi. Jika itu bos PT Unilever, berarti CEO-nya perusahaan atau paling tidak direktur utamanya. Sedang pada berita tersebut hanya seorang brand manager. “Saya kira ia tak tepat disebut bos Unilever,” kata Mr Angel lagi. Kekecewaan yang sama, aku dia, dikemukakan kawannya yang dekat dengan bos perusahaan yang terkenal dengan produk pasta gigi, sabun, dan shampo itu.

Salah seorang bos koran lokal tersebut lalu mengacungkan tangan, mencoba memberi penjelasan. “Bisa jadi Anda benar bahwa bos adalah seorang pimpinan tertinggi. Tapi bisa juga Anda salah karena pada kenyataannya di negeri ini semua orang bisa dipanggil bos,” katanya.

“Begitu ya. Tapi pada konteks berita tadi, masalahnya harus diluruskan. Jangan asal menyebut bos. Jangan bikin kecewa pembaca…”

“Oh, tak ada yang bermaksud mengecewakan pembaca. Tidak! Anda salah. Justru pemakaian kata bos itu untuk mendekatkan kami kepada pembaca.”

Mr Angel ternyata tetap bertahan dengan pendapatnya. Demikian pula si bos koran lokal tadi. Perdebatan panjang dengan tensi tinggi pun tak terhindarkan. Para peserta pertemuan jadi bingung, pusing, dan geleng-geleng kepala.

Namun kalau disuruh memilih, mereka menyatakan akan memilih pendapat bosnya. “Bukan karena dia bos saya, bukan! Tapi karena kata bos itu memang bisa dipakai siapa saja. Tak perlu dia bos beneran. Tapi yang berlagak bos pun bisa dipanggil seperti itu,” ucap seorang wartawan senior yang ikut dalam pertemuan tersebut.

“Lho buktinya OB (office boy) di kantor kita lebih dikenal dengan panggilan Bos Mumu dibanding nama aslinya,” tambah wartawan tersebut.

“Ya, cuma yang saya nggak ngerti kenapa kata itu begitu diperdebatkan. Mengapa bos kita sampai ikut-ikutan terbawa emosinya,” celetuk wartawan senior lainnya.

Sejak itu, hasil pertemuan dengan Mr Angel menguap begitu saja. Ia seperti dianggap tak pernah ada. Sebaliknya koran tersebut malah makin sering menggunakan kata bos hanya untuk mengganti juragan kain, kepala pasar, pengelola warnet, dan sebagainya.

Kata bos pun semakin tak penting artinya. Lalu kenapa diperdebatkan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s