Berita Baik Buat Kami, Belum Tentu Buat Orang Lain


Rumah budayawan dan penyair besar Willibrordus Surendra Broto Rendra atau biasa kita kenal WS Rendra di Cipayungjaya,Depok diusulkan menjadi Cagar Budaya. Usulan itu disampaikan istri almarhum WS Rendra, Ken Zuraida kepada Pemkot Depok, Kamis (12/5).

Usulan itu bagi kami menarik sekaligus positif.  Siapa sih tak kenal WS Rendra? Mas Willy sapaan akrab WS Rendra merupakan sastrawan dan budayawan yang namanya sudah mendunia.  Selain itu, di rumah WS Rendra terdapat ribuan karya sastra, selain sebagai bengkel teater.

“Para seniman dan budayawan Indonesia sempat menyampaikan kalau kediaman Mas Willy bisa dijadikan cagar budaya. Karya sastra Mas Willy sudah mendunia,” kata Yusuf, yang menyebut sebagai juru bicara Ken Zuraida.

Bila menjadi Cagar Budaya rumah WS Rendra diharapkan lebih terpelihara. Pemkot Depok pun diuntungkan karena akan punya aset berupa tempat tujuan wisata tingkat nasional setelah memiliki Masjid Kubah Mas.

Ken Zuraida tak banyak bicara dalam kesempatan itu. Ia datang sebenarnya untuk meminta Wali Kota Nurmahmudi membuka acara  pementasan drama bertajuk Mastodon dan Burung Kondor di rumah WS Rendra, sekitar bulan Juli dan Agustus di TIM. Pagelaran drama untuk memperingati dua tahun meninggalnya Sang Penyair yang lahir pada 7 November 1935.

Ken hanya bersyukur jika rumah Mas Willy dijadikan cagar budaya.

Menurut Wikipedia, cagar budaya adalah kegiatan untuk menjaga atau melakukan konservasi terhadap benda-benda alam atau buatan manusia yang dianggap memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Di Indonesia, benda cagar budaya diatur dalam UU No.5 tahun 1992.

Yang pasti usulan itu memperoleh dukungan positif. Salah satunya dari anggota Komisi D DPRD Kota Depok dari Fraksi PKS, Aceng Toha. “Usulan itu sangat tepat sekali. Di Depok itu belum ada cagar budaya maupun gedung kesenian. Cagar budaya itu nantinya diharapkan menjadi etalase budaya Depok,” imbuhnya.

Dukungan juga diberikan Kepala Dinas Pemuda Olahraga Pariwisata Seni dan Budaya Kota Depok Asep Roswanda. Hanya saja sebagai aparat ia buruh proposal. Maksudnya proposal yang ditandatangani Wali Kota Depok, Nur Mahmudi Isma’il.

Dukungan lain juga muncul Kepala Dinas Pendidikan Kota Depok, Farah Mulyati dan Wakil Ketua DPRD Kota Depok dari Fraksi PKS Prihandoko. Singkatnya, usulan menjadikan rumah WS Rendra di Cipayungjaya, Depok sebagai cagar budaya, nyaris tak ada masalah. Tinggal ketok palu.

***

Berita soal cagar budaya rumah Rendra di Cipayung tidak menjadi berita HL. Hanya saja karena menyangkut WS Rendra, foto rumah dengan sosok sang penyair semasa hidup pun saya tempatkan paling atas, mengalahkan foto news lainnya di halaman dalam di koran kami.

Esoknya di luar dugaan, yang muncul malah protes. Protes via telepon datang dari salah satu anak almarmhum. Seperti diketahui penyair yang dijuluki si burung merak itu punya tiga istri dan 11 anak, masing-masing Sunarti Suwandi (dikarunai 5 anak), Sitoresmi Prabuningrat (4 anak), dan Ken Zuraida (2 anak) — lihat tabel.

Anak sang penyair tersebut tampak begitu emosi dan mempertanyakan apakah berita itu bisa dipertanggungjawabkan. Tentu saja pertanyaan itu klise bagi kami, karena setiap berita yang sudah dimuat di koran dengan sendirinya merupakan berita terpilih dan bisa dipertanggungjawabkan, meski bisa juga digugat.

Karena tampak belum puas, saya melibatkan wartawan di lapangan, Dodi Hasanuddin, untuk menjelaskannya. Seperti biasa kami siap menampung keluhan dan hak jawab siapapun, asal tentu saja relevan.

Setelah memperoleh penjelasan yang bersangkutan tampaknya bisa mengerti, meski tentu belum memuaskannya.  Menurutnya, rumah  WS Rendra berdasarkan kesepakatan hanya akan diurus keluarga. Lagi pula, katanya, bengkel teater sudah lama tak aktif, kalau tak mau dikatakan sudah mati.

Anak sang penyair itu tak mau apa yang dikatakannya menjadi berita. Ia  menyatakan akan menanyakan langsung kabar itu kepada ibu tirinya, Ken Zuraida.

Sampai di sini kami bisa memahaminya. Pengalaman membuktikan, soal warisan–katakalah jika rumah WS Renda itu sebagai warisan–menjadi sangat pelik jika sang empunya sudah tiada. Apalagi jika yang berhak begitu banyak.

Kami pun memutuskan untuk menghentikan sementara pemberitaan soal rumah WS Rendra agar tak menimbulkan polemik lebih jauh.

Begitulah warna dalam pekerjaan kami: berita positif bagi kami, belum tentu positif bagi orang lain.

2 thoughts on “Berita Baik Buat Kami, Belum Tentu Buat Orang Lain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s