Balada Seorang Penimbun BBM


Barang bukti BBM yang ditimbun (Tribunnews)

Wawan tampak sibuk sepekan ini. Dengan jerigennya, ia bolak-balik ke SPBU membeli premium alias bensin. Namun hanya sebagian kecil yang dibawa ke kios bensin ecerannya untuk dijual lagi.

Warsini, Emaknya, sempat bingung. Ia ingin menanyakan dikemanakan bensin-bensin yang dibelinya itu, namun selalu lupa menyampaikan saat berjumpa sang anak.

Setiap kali sampai di rumah selalu terdengar siulan Wawan. Itu pertanda ia bersuka cita. Biasanya karena ia sedang memperoleh uang cukup banyak. Dugaan Warsini tak meleset. Dalam tiga hari ini, Wawan selalu menyodorkan uang Rp 20.000 kepadanya.

“Nih, buat tambahan belanja besok pagi, Mak. Ntar uang jajan Soleh dan Jejen biar Wawan yang ngasih.”

Warsini menerimanya dengan suka hati. Dalam sehari ia butuh uang sekitar Rp 20.000 untuk keperluan dapur di rumah. Uang sebanyak itu umumnya untuk membeli sayur mayur dan lauk pauk seadanya seperti telor, tempe, ikan asin, dan kerupuk. Untuk beras ia membelinya mingguan. Uang tambahan belanjaan dari Wawan tentu sangat membantunya.

Adapun uang belanja keseharian Warsini diperoleh dari pekerjaannya sebagai tukang cuci dan setrika di sebuah keluarga yang tinggal di komplek perumahan. Warsini tinggal di rumah kontrakan belakang komplek perumahan. Ia punya tiga anak dan si sulung Wawan tak lulus SMK. Anak itu sengaja minta berhenti untuk mencari nafkah demi membantu sang ibu dalam menyekolahkan dua adiknya.

Keseharian Wawan sebagai tukang ojek yang melayani warga perumahan. Namun pekerjaan ngojeknya otomatis berhenti tatkala ia memperoleh obyekan lain, yang penghasilannya lebih besar. Apakah memborong BBM termasuk obyekannya kali ini? Pertanyaan itu masih menggayut di kepala Warsini.

Andai suaminya belum meninggal dunia, Wawan pasti tak perlu berhenti sekolah. Ia tak perlu memikirkan biaya untuk adik-adiknya. Namun takdir berkata lain. Ayah Wawan yang bekerja di sebagai tukang bangunan meninggal dalam sebuah kecelakaan kerja.

Saat itu ia kerja lembur karena bangunan bertingkat atau tower yang dikerjakannya harus selesai bertepatan dengan hari ulang tahun sang pemiliknya. Karena dikerjakan terburu-buru, ada yang lalai dalam pengerjaannya hingga ayah Wawan terjatuh dari bangunan tower itu dan meninggal dunia.

Sayangnya, ayah Wawan memiliki bos yang kurang perhatian. Ia meninggal tanpa diberi santunan yang layak. Seseorang yang mengaku teman ayahnya Wawan sempat datang ke rumah dan mempengaruhi Warsini untuk menggugat bos pemilik tower yang juga seorang anggota partai.

Warsini menurutinya dengan menandatangani sejumlah pernyataan. Harapannya, ia memperoleh uang besar seperti yang dijanjikan teman ayah Wawan tadi. Ia memang butuh uang banyak setelah ditinggal suaminya.

Namun setelah semua berkas ditandatangani, Warsini tak pernah mendengar kelanjutan gugatan suaminya. Selentingan kabar terdengar bahwa orang yang mengaku kawan almarhum suaminya itu sudah kena sogok pihak perusahaan sehingga memilih melupakan Warsini dan keluarganya.

Warsini, apalagi Wawan, tak tahu harus berbuat apa. Nasib pilu orang kecil pun lewat begitu saja.

***

“Emak kenal nggak dengan Pak Djayusman yang rumahnya bertingkat di ujung komplek.”

“Nggak kenal tapi tahu. Jadi bapak itu yang nyuruh kamu memborong bensin.”

“Bukan Mak. Dia hanya ngajak ngobrol tentang rencana kenaikan harga BBM yang selisihnya hingga Rp 1.500. Dari tadinya Rp 4.500 per liter jadi Rp 6.000 per liter. Ia tahu kalau Wawan, selain ngojek, juga jualan bensin eceran.”

“Maksudnya?”

“Ya itu tadi. Pak Djayus bilang itu peluang bisnis. Kalau biasanya kita cuma untung Rp 500 per liter. Bila kita punya bensin banyak dengan harga sekarang, lalu dijual lagi April nanti saat sudah naik, untung kita bisa empat kali lipat dari sekarang, yakni Rp 1.500 plus Rp 500.”

“Trus Pak Djayus modali kamu untuk borong bensin?”

“Ah Emak, bawaannya nuduh melulu…”

“Trus gimana dong. Emang nggak ngerti cerita kamu…”

“Justru Pak Djayus bilang, biar untungnya gede, Wawan nggak boleh ikut-ikutan bisnis seperti itu karena melanggar hukum dan merugikan orang lain. Bila ketahuan bisa dipenjara.”

Kening Warsini kian berkerut. Ia tambah puyeng mendengarnya. “Ah, sudahlah cerita yang lain saja…”

“Denger dulu Mak. Ceritanya belum selesai…” Wawan memotong. Ia ingin melanjutkan cerita hingga emaknya mengerti.”

Warsini mengangguk. Ia paham cerita itu memang belum selesai. Warsini hanya tak sabar dan ingin cepat tahu siapa yang modali Wawan untuk memborong bensin.

“Begini Mak. Setelah ngobrol dengan Pak Djayus, secara tak sengaka Wawan bertemu Yadi “Gepeng”, yang dulu pernah ngojek sambil jadi polisi cepek di depan perumahan. Inget kan mak?”

“Ya..ya..inget..inget…Si Gepeng yang kawin dengan janda anak satu itu kan? Tapi terus ditinggal pergi bininya karena ketahuan selingkuh. Kemana dia sekarang ya?…” Warsini tampak bersemangat. Ia seolah tergingat sesuatu yang menggembirakan.

“Begitulah Mak. Wawan bertemu dia di SPBU waktu ngisi bensin. Keren dia sekarang Mak! Bajunya rapih, wangi, bawa mobil sedan lagi…”

“Wah, wah, terus bagaimana…” Warsini tak sabar.

“Begitulah, Mak. Karena dia tahu Wawan jual bensin eceran, dia ngajak ngobrol lama di restoran dekat SPBU. Katanya dia sekarang bisnis spare part sepeda motor. Sudah punya tiga toko tapi bukan atas nama dirinya. Bininya yang dulu tak pernah balik. Sekarang ia mengaku masih jomblo hahaha….”

“Hahaha, dia memang kemana-mana ngaku jomblo” Warsini ikut tertawa ngakak. Rasanya senang sekali mendengar kisah pilu orang lain. Hahaha…

Sebelum melanjutkan cerita, Wawan menyeruput kopi kesukaannya. Emaknya menanti dengan sabar. Cerita tentang Yadi Gepeng dianggap lebih menarik dibanding teka-teki siapa yang memodali anaknya memborong BBM. Meski ia yakin, kali ini keduanya pasti terkait.

“Nah, seperti juga Pak Djayus, Gepeng menceritakan peluang bisnis bensin saat harga nanti naik. Katanya, pada dua kali kenaikan harga BBM semasa pemerintahan SBY, ia bisa untung jutaan rupiah.”

Wawan melirik emaknya yang tengah menerawang. Otak Warsini memang tengah menebak-nebak arah cerita anaknya. Sebenarnya ia mulai menangkap arah cerita Wawan, namun tak berani menebak. Ia takut salah seperti dugaan terhadap Pak Djayus sebelumnya.

“Kalau Emak tadi menebak bahwa Gepenglah yang memodali Wawan memborong bensin, pasti Emak bener. Sudah seminggu ini Wawan dimodali membeli bensin dan ditimbun di sebuah gudang yang disewa Gepeng. Setiap liter bensin, Wawan diberi upah Rp 500. Kalau dihitung-hitung Wawan sudah borong bensin 1.000 literan mah ada. Lumayan kan Mak?”

Warsini mengangguk. Tapi kali ini cuma basa-basi. Justru setelah cerita Wawan selesai, dan ketebak siapa pemodal yang membiayai anaknya, Warsini tak tahu harus berkomentar apa.

Ia ingin mengingatkan anaknya bahwa itu tengah terlibat persekongkolan jahat, menimbun BBM. Tapi ia merasa sudah kecipratan untung.

“Lagipula orang yang korupsi besar-besaran saja dibiarin, masa orang kecil nggak boleh punya kesempatan,” pikir Warsini.

Namun sejak itu, hati Warsini menjadi waswas. Uang pemberian Wawan pun tak lagi ia belanjakan dan disimpan. Siapa tahu ada orang yang kembali meminta uang itu.

***

Sejak itu, Warsini menutup mulutnya rapat-rapat jika ditanya tetangga tentang kegiatan Wawan. Apalagi kini Warsini lebih sering menunggu kios bensin eceran milik anaknya. Soleh dan Jejen, kadang-kadang ikut membantunya.

Suatu hari, Wawan tidak pulang. Warsini resah. Ia tanya ke sana kemari, meski tetap menyimpan rahasia tentang kegiatan anaknya belakangan ini. Seperti dugaannya, ternyata Wawan mendekam di kantor polisi justru karena kegiatan yang ia rahasiakannya.

Ya, Wawan menjadi tersangka penimbunan BBM yang kini tengah menjadi sorotan pemerintah karena banyak pihak yang menolak kebijakan itu.

Yang paling ditakutkan masyarakat adalah dampak dari kenaikan harga BBM, dimana harga-harga akan ikut meroket. Termasuk bakal munculnya spekulasi penimbunan BBM. Masyarakat miskin akan bertembah melarat. Mengapa harus kenaikan BBM? Tak adakah kebijakan lain yang tak menyengsarakan rakyat banyak?

Pemerintah selalu beralasan subsidi BBM menjadi penyebabnya. Tahun ini subsidi BBM itu mencapai Rp 275,15 triliun atau melonjak 30,8 persen dari alokasi sebelumnya, sebesar 208,85 triliun di APBN 2012. Pemerintah juga selalu bilang harga BBM di Indonesia paling murah dibanding dengan harga BBM di negeri tetangga.

Warsini dan rakyat kebanyakan tentu saja tak paham dengan alasan seperti itu. Mereka hanya tahu bahwa hidup di zaman Presiden Suharto lebih enak dibanding zaman Presiden SBY. Saat itu harga-harga murah. Usaha juga gampang dibanding sekarang. Kenapa pemerintahan sekarang tak mau belajar dari kekurangan pemerintahan sebelumnya?

Setelah menunggu, Warsini akhirnya diperkenankan bertemu dengan Wawan. Mereka berpelukan. Wawan terpaksa menenangkan emaknya yang menangis. “Tenang mak, tenang…jangan menangis.”

Menurut Wawan, ia dianggap terlibat melakukan kejahatan penimbunan BBM. Polisi sudah mengamankan ribuan tong BBM dari gudang milik Gepeng sebagai barang bukti. Masalahnya, polisi kini kesulitan menangkap Gepeng yang dianggap sebagai otak penimbunan BBM.

Sebelum pulang, Warsini kembali menangis. Padahal Wawan sudah berbisik bahwa Gepeng pasti akan membebaskannya. Gepeng bilang ia sudah berpengalaman membebaskan kaki tangannya karena sudah kenal dengan komandan para polisi itu.

“Nanti kalau berita soal BBM sudah reda, pasti Wawan akan dibebaskan,” bisiknya.

Warsini tetap menangis karena ia tak paham dengan apa yang dikatakan anaknya. “Orang bersalah ya ditangkap dan dipenjara. Wawan sudah bersalah karena mengambil untung dari bagian yang bukan haknya. Lalu mengapa bisa dibebaskan?”

Sebelum pulang Warsini menitipkan amplop pada Wawan. Ia sempat bertanya apa isinya. Warsini hanya bilang bahwa isi amplop itu siapa tahu bisa membantu membebaskan Wawan dari penjara.

Wawan membuka amplop ketika emaknya sudah pergi. Seperti dugaan sebelumnya, amplop itu berisi uang sekian ratus ribu, sama dengan jumlah uang pemberian Wawan dari bisnis penimbunan BBM. Dalam amplop itu disertakan pula sebuah kertas bertuliskan:

Berikan uang ini kepada polisi. Katakan pada mereka bahwa kita tak memakan uang hasil kejahatan itu. Mudah-mudahan polisi mengerti dan kamu dibebaskan…

2 thoughts on “Balada Seorang Penimbun BBM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s