Bukan Suami Sempurna


Banyak orang terkejut dengan pemecatan Bajang. Remaja yang hanya lulus SD dan hidup sebatang kara itu kini pulang kembali ke desanya dengan cap buruk sebagai pencuri uang majikan.
Bajang dianggap terbukti mengambil uang milik istriku. Uang tersebut berada di dalam tas yang disimpan di lemari kamarnya. Biarpun ia menangis berkali-kali sambil minta ampun bahwa ia tak pernah mencuri uang itu, ia tetap dianggap bersalah.
Aku sebenarnya masih ragu Bajang telah melakukan itu. Tapi aku tak berdaya. Semua orang yang ada di rumahku membuat kesaksikan yang memberatkannya. Seolah-olah Bajang memang remaja berbahaya. Punya perangai buruk. Suka mencuri!
Maka dengan berat hati, akupun memenuhi permintaan istriku. Niatku menolong Bajang sebagai anak yatim-piatu rupanya tak semudah membali telapak tangan.
Aku kemudian memulangkan Bajang ke desa kelahiranku. Aku mengantarnya sendiri dengan harapan apa yang terjadi pada Bajang di Jakarta tak sampai ke desa. Aku ingin melokalisir kabar itu dengan meminta Bajang menuruti permintaanku untuk menjaga rahasia.
Ia setuju. Aku pun memberi uang cukup besar sebagai penutup mulut.
Hanya kepada ibuku aku bercerita sesungguhnya tentang Bajang. Ibukku tak percaya dan sempat curiga Bajang telah dijebak istriku.
Di luar kasusnya, aku tetap ingin menjadi orangtua angkat Bajang. Aku pun berjanji akan mengirim uang bulanan untuk biaya sekolahnya, tentu saja via ibuku.
***
Aku memang bukan suami yang sempurna. Aku bahkan punya masa lalu yang buruk. Aku pernah selingkuh dan istriku memergokinya. Ia minta cerai. Beruntung prahara segera selesai setelah aku minta maaf takkan melakukan perbuatan itu lagi.
Sebenarnya setelah minta maaf, penyakit selingkuhku tak langsung redup. Aku kembali melakukannya beberapa kali.  Anehnya, kali ini ia tak lagi peduli. Aku yang mestinya senang, malah heran.
Pikiran buruk lalu muncul di kepalaku bahwa istriku cuek karena ia juga bisa berselingkuh demi membalas perilakuku. Kebetulan salah seorang kawan SMA-nya yang seorang dokter pindah ke kota dimana kami tinggal. Istriku sering mengunjunginya untuk mengobati anak-anak kami yang sakit.
Bukannya berterimakasih karena tak punya waktu mengantar anak sakit, aku malah mendamprat istriku via telepon karena tak kunjung pulang saat aku sampai di rumah.  Aku mengira anakku sakit demam biasa dan istriku sengaja berlama-lama bersama dokter bedebah itu.
Perkiraanku meleset. Ternyata anakku sakit parah. Ia harus dirawat di rumah sakit karena trombositnya rendah. Anakku menderita demam berdarah dengue atau DBD. Istriku menangis dan tampak tak begitu suka melihatku datang di rumah sakit. Dan si dokter yang membuatku cemburu tadi adalah dewa penolong anakku.
Sejak itu aku jadi malu. Aku kembali minta maaf kepada istriku dan benar-benar berhenti berselingkuh. Dokter itu kemudian menikah, kami datang ke resepsinya. Ekonomi keluarga kami pun kian membaik.
Suatu saat aku menyampaikan niat untuk mengajak Bajang yang anak yatim piatu untuk dipekerjakan di rumah. Kami juga berniat menyekolahkan, namun menunggu tahun ajaran baru.
Tempat tinggal Bajang tak jauh dari rumah orangtuaku di desa. Aku mengajaknya atas usulan ibuku karena anak tersebut kini hidup sendirian dan tak sekolah setelah lulus SD.. Kedua orangtuanya meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas. Yakni ditabrak bus dari belakang tatkala sepeda motor yang dikemudikan ayah Bajang berbelok tiba-tiba.
Ibu langsung trenyuh dengan peristiwa yang menimpa kedua orangtua Bajang. Pasangan pendatang yang sudah lama tinggal di desa itu dikenal tak memiliki saudara. Mereka bilang, kalaupun ada saudara, tinggalnya jauh di luar pulau Jawa. Terbukti selama prosesi pemakaman tak ada pihak keluarga yang hadir sehingga Bajang hidup sebatang kara.
Seminggu-dua minggu di rumahku, tak ada masalah dengan Bajang. Bocah pendiam itu pun tampak betah. Ia mau bermain dengan anak-anakku yang seusia adik-adiknya.  Ia juga mau disuruh untuk menyelesaikan sejumlah pekerjaan rumah tangga seperti mencuci mobil, menyiram bunga, atau menyapu halaman.
Namun belakangan istriku mulai mengeluh. Ia mengeluh karena uangnya di dompet beberapa kali hilang. Ia tak menuduh Bajang, tapi curiga karena bocah itu sering pergi ke warung untuk membeli pulsa isi ulang handphone. Bebepa hari terakhir ia kerap SMS dan menelepon melalui HP-nya, entah dengan siapa.
Aku bersikukuh itu pasti bukan Bajang yang melakukannya. Aku malah balik menuduh istriku yang bukan-bukan. Aku lebih percaya dengan data-data yang disampaikan ibukku, bahwa Bajang adalah anak yang baik, pintar, dan soleh. Hanya nasib saja yang tak berpihak padanya.
Istriku tentu saja marah. Penyakit lamaku yang gampang menuduh ia ungkitnya. Kami pun kembali bertengkar hebat sambil mengungkit-ungkit masa lalu. Hingga kemudian Bajang terbukti mencuri uang istriku dan aku mengalah memulangkannya, meski dalam hati tetap tak mau mengalah.
“Sudah, sekarang aman. Uang mu takkan hilang lagi,” ucapku menyindir.
Istriku yang masih bertegangan tinggi menukasnya. “Pa, bukan uang yang aku sayangkan. Tapi perilakunya. Di rumah ini kan juga ada anak-anak yang lebih kecil, anak-anak kita.”
Aku diam. Kata “anak-anak kita” sering menyentuh kalbuku sejak kasus demam berdarah itu. Tapi aku tetap belum rela karena niat baikku membantu Bajang yang anak yatim piatu seolah dimentahkan istriku.
***
Sebelum berangkat bekerja, aku memperoleh telepon dari ibukku. Aku mengangkatnya di dalam mobil yang sedang dipanaskan mesinnya. Ibu berkata bahwa Bajang memang perilakunya buruk. Pendidikan keras dan kaku yang diterapkan almarhum kedua orangtuanya, membuat ia berperilaku seperti itu.
Perilaku Bajang yang suka mencuri kian menjadi tatkala kedua orangtuanya tiada. Ibukku minta maaf karena  memberikan info salah kepadaku. Tak lupa ia juga berpesan agar permohonan maafnya disampaikan kepada istriku.
“Karena ibu, kamu jadi menuduh istrimu yang bukan-bukan. Kami juga harus minta maaf pada dia,” ucap ibu.
Setelah menutup pembicaraan, aku turun dari mobil dan menghampiri istriku di dapur. Aku mengecup keningnya dan minta maaf. Istriku termangu dan bertanya ada apa? Aku lalu menjawab; “Tentang Bajang, mama yang benar papa yang salah. Maaf ya… I Love you so much”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s