Perjalanan Sepi Nenek Onah


Onah terdiam di sudut Stasiun Tanah Abang. Pandangannya kosong. Ia batal berpergian menggunakan kereta ke arah Bogor karena KRL ekonomi *  jurusan itu sudah habis.

“Tinggal commuterline nek. KRL ekonomi terakhir baru saja berangkat,” kata petugas loket stasiun.

Petugas itu kemudian menyarankan nenek Onah menggunakan commuterline. Ia menyebut kereta itu lebih nyaman karena ada AC-nya. Tarifnya juga sekarang tidak mahal– karena tarif progresif.

“Nenek nggak biasa naik kereta AC. Nenek lagi nggak enak badan.” Onah menyampaikan alasannya.

“Tapi kereta ekonominya sudah habis. Tinggal kereta AC.”

“Ada lagi kapan? Nenek mau nunggu…”

“Sudah habis nek. Besok pagi baru ada lagi.”

Karena antre, petugas loket menyuruh Onah minggir untuk memberi kesempatan penumpang di belakangnya yang sudah gregetan. Sang nenek pun terdesak karena petugas loket tak mau melayaninya lagi. Nenek Onah lalu pergi ke sudut stasiun.

Lalu lalang calon penumpang commuterline melintas di depannya.  Mereka tak ada yang peduli. Merela mungkin menganggap, nenek Onah yang penampilannya kumuh seharusnya tak berada di keramaian lobi stasiun malam-malam.

***

Onah sudah lama tak naik KRL karena sakit. Sehari-hari, ia adalah pemulung di kawasan Stasiun Tanah Abang. Sesekali ia merima jasa membuatkan minuman kopi dan teh  untuk para pekerja seks di kawasan Bongkaran yang lokasinya dekat stasiun.

Untuk mengisi kebosanan, karena sudah lama menjanda, biasanya Onah naik KRL ke arah Bogor, lalu kembali ke rumahnya di Tanah Abang menjelang malam.

Suatu hari ia berkenalan dengan seorang pengemis tua bernama Jampar. Entah mengapa Onah jadi akrab dengan pria renta itu. Di matanya, kakek tua tersebut lucu karena sering ngebodor. Sudah lama Onah tak tertawa terpingkal-pingkal. Kenalan barunya itulah yang berhasil membuatnya kembali bisa tertawa lebar.

Karena sering bertemu, Onah jadi rela membantu Jampar mengemis. Berdua mengemis ternyata memperoleh uang cukup banyak. Mungkin orang kasihan melihat pasangan tua masih mengemis. Padahal mereka seharusnya berada di rumah, menimang cucu, menikmati masa tua.

Mengenal Jampar, juga membuat Onah merasa lebih beruntung. Betapa tidak, ia masih punya anak dan cucu yang tinggal bersama meski kondisi ekonomi tak lebih baik. Sedang Jampar hidup sebatang kara.

Jampar mengaku masa mudanya kebanyakan dihabiskan untuk bersenang-senang. Ia berkali-kali menikah dan pernah punya anak. Namun ia tak pernah tahu dimanakah para anak kandungnya sekarang. Mantan istri-istrinya sudah tak ada yang peduli dengan kondisinya.

Di masa tua, dimana fisik tak lagi bisa diandalkan untuk bersenang-senang, Jampar pun hanya bisa mengemis demi mempertahankan hidupnya. Ia mengaku menyesal tak memikirkan masa tua. Ia kini sudah insyaf meski sudah terlambat. Bersama Jampar, Onah jadi membawa mukena kemana-mana. Jampar sering mengajaknya shalat berjamaah.

“Biar tua begini, aki masih sanggup gituan loh. Onah mau dites?” kata Jampar tertawa seraya tangannya menunjuk sekor kucing yang sedang menggigit tengkuk pasangan yang hendak dibuahinya.

Onah ikut tertawa. Ia tahu Jampar cuma bercanda. Dan bercandalah yang hanya bisa mereka lakukan di masa tua.

***

Beberapa hari kemudian, Onah akhirnya naik KRL ekonomi ke arah Bogor untuk menemui Jampar. Kakek itu biasanya mangkal di Stasiun Depok Baru.

Onah sempat bingung karena karcis yang biasanya ia pegang kini berganti  dengan kartu elektronik. Seumur-umur ia baru memegang kartu seperti itu. Sempat terlintas dibayangannya, apakah kartu tersebut bisa digunakan untuk mengambil uang seperti yang digunakan orang-orang dengan ATM- nya?

Tentu saja Onah tak tahu cara menggunakannya. Ia berdiri sebentar menyaksikan orang-orang menggunakan kartu elektroniknya. Namun saat gilirannya tiba, tetap saja Onah tak tahu cara menggunakan kartu single trip itu sehingga harus dibantu petugas keamanan setempat.

Setelah sukses menggunakan kartu elektronik, Onah baru tersadarkan dengan suasana baru Stasiun Tanah Abang yang lebih bersih dari biasanya. Tak ada lagi toko-toko yang biasa menjual makanan dan minuman, juga tak ada lagi gembel yang biasanya seliweran atau ikut duduk di deretan bangku penumpang.

Kereta ekonomi yang ia tumpangi juga lebih padat dari biasanya. Jumlah pengemis dan pengamen lebih banyak. Satu gerbong bisa sampai tiga orang pengemis. Pengamen pun harus tahu diri karena tak mungkin mereka beraksi dengan profesi serupa dalam satu gerbong.

“Loh, nenek nggak tahu ya. KRL ekonomi kan mau dihapus,” kata seorang penumpang yang duduk di sebelahnya.

KRL ekonomi sudah dianggap tak layak digunakan. Semua kereta api sekarang adalah kereta api yang ada AC-nya. Sebelum dihapus, jumlah kereta api ekonomi dikurangi jumlahnya.

“Jadinya ya begini, pengamen dan pengemis jadi numpuk,” imbuh penumpang tersebut.

Sampai di Stasiun Depok Baru, Onah kembali terkejut karena stasiun itu juga sudah bersih. Tak ada kios pedagang kaki lima yang biasa ramai memenuhi peron stasiun. Tak ada gelandangan, pengemis, juga preman yang kerjanya memalak sesama orang miskin. Onah jadi kehilangan tempat bertanya.

Di sudut stasiun itu, nenek Onah hanya bisa termangu. Duduk seorang diri. Biasanya di tempat itu ia bersama Jampar. Ngobrol kecil dan tertawa bersama.

“Jadi pengen muda lagi,” kata Jampar suatu hari.

“Emang kenapa?”

“Biar bisa macarin Onah.”

“Katanya sudah insyaf.”

“Hahaha …Iya. Mungkin kalau bertemu Onah sejak muda, insyafnya juga lebih muda.”

Onah diam. Ia juga sempat membayangkan berjumpa Jampar saat sama-sama masih muda. Oh, alangkah indahnya berumah tangga dengan lelaki itu. Pasti hidupnya penuh canda-tawa.

“Nenek Onah ya?”

Suara teguran itu mengejutkan Onah. Teguran itu berasal dari seorang pria yang berhenti di hadapannya setelah menyusuri rel.

“Nenek pasti cari kakek Jampar ya? Ia sudah meninggal dunia nek, seminggu lalu,” kata pria itu seraya kembali menyusuri rel. Petugas stasiun tampak hanya memandanginya tanpa mau menegur apa lagi melarang. Pria itu diduga tinggal di sekitar stasiun.

Raut muka Onah langsung murung tatkala mendengar kata Jampar sudah meninggal. Ia sudah mengira sejak awal. Ia yakin kakek tersebut kehilangan tempat mengemis sehingga penyakitnya kambuh dan tak ada yang menolong hingga akhir hayatnya. Bulir air mata perlahan jatuh membasahi pipi Onah.

***

Meski sudah tahu KRL ekonomi sudah habis, Onah tetap nekat pergi ke Bogor menggunakan commuterline. Baru pertama kali ia menggunakan kereta AC tersebut. Petugas satpam kembali membantu menggunakan kartu commuterline yang selamanya tetap asing buat Onah.

Di dalam Commuterline, Onah mengabaikan hawa dingin yang menyergapnya. Ia menyusuri setiap stasiun menggunakan commuterline demi mengenang perjalanan malam bersama Jampar.

Namun meski berulang kali ia paksakan, bayangan perjalanan mengesankan saat mengemis bersama Jampar tak bisa ia munculkan di kepalanya. Suasana kereta yang sungguh berbeda adalah penyebabnya. Mengemis dilarang di Commuterline. Onah merasa berada di dunia asing yang jauh berbeda.

Perjalanan nenek Onah dari Stasiun Tanah Abang ke Depok Baru pun menjadi perjalanan paling sepi dalam hidupnya.

*) Terinspirasi dengan rencana akan dihapusnya KRL ekonomi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s