Wow, ABG Pamer Pacu Kecepatan Mobil di Jalan Tol


Kecelakaan maut yang melibatkan Abdul Qodir Jailani alias Dul, putra bungsu musisi terkenal Ahmad Dhani, menguak fakta terjadinya pembiaran anak di bawah umur mengendarai mobil dan motor di jalan raya.

Dul masih berusia 13 tahun, tak memiliki SIM karena memang belum saatnya memiliki kartu tersebut. Di Jalan tol Jagorawi, mobil Mitsubishi Lancer yang dikemudikan Dul melayang kearah jalan berlawanan, karena diduga dipacu dengan kecepatan tinggi. Mobil itu lalu menghajar Daihatsu Grand Max dan Toyota Avanza serta mengakibatkan enam orang meninggal dunia.

Atas musibah itu, mulailah ribut bahwa di luar Dul, begitu banyak remaja seusianya berpotensi mencelakakan diri sendiri dan orang lain karena dibiarkan mengendarai mobil atau motor di jalan raya.

Terbaru adalah dugaan adanya pamer pacu mobil di jalan tol, yang kemudian dishare di media sosial. Para ABG itu pamer kecepatan mobil dengan menunjukkan angka jarum di spidometer yang dipotretnya dan dishare via jejaring sosial. Rata-rata kecepatan antara 180 km per jam hingga 200 km per jam Semakin tinggi angka spido meter, semakin banggalah mereka.

Tren tersebut bukan tidak mungkin. Karena sebagian besar pengelola jalan tol hanya berpikir ekonomi. Yang penting membayar ongkos, tugas selesai. Mereka tak peduli di belakang kemudi adalah anak-anak ABG yang masih labil. Ada yang khawatir, musibah yang dialami Dul, terkait dengan pamer kecepatan seperti ini.

Bahwa banyaknya pelajar dan anak di bawah umur membawa kendaraan di jalan raya bukanlah aneh. Padahal selain tak memiliki SIM, kelompok pengguna motor seperti mereka, misalnya, sering tak menggunakan helm dan cenderung ugal-ugalan. Tapi karena sudah menjadi pemandangan sehari-hari hal itu dianggap lumrah.

Sebagian besar koran dan situs berita lokal tak menjadikan fakta banyaknya pengendara muda di jalan raya sebagai berita menarik paska kecelakaan si Dul. Mereka lebih tertarik memberitakan yang akan dilakukan Ahmad Dhani dan Maia Estianti, ibu Dul, atas musibah yang menimpa anaknya. Bahkan muncul spekulasi keduanya akan rujuk setelah tragedi tersebut

Hal itu berbeda dengan harian Jakarta Post. Koran ini menjadikan isu pembiaran anak di bawah umur mengemudikan mobil dan motor sebagai headline (HL). Di atas HL dipasang foto besar anak-anak SMP dengan santai bercanda bersama rekan-rekannya di atas sepeda motor.

Bagi redaksi Jakarta Post, yang pembacanya sebagian besar orang asing, isu pembiaran pelajar di bawah umur adalah masalah serius. Di luar Indonesia, pembiaran pelajar berkendaraan di jalan raya pasti dianggap pelanggaran massal yang tak boleh dibiarkan.

Pembiaran pengendara di bawah umur berkeliaran di jalan raya memang tak terjadi begitu saja. Kondisi lalu lintas yang dianggap tak aman dan tak nyaman menjadi alasan orangtua membiarkan anaknya membawa kendaraan sendiri ke sekolah.

Anak sekolah di Jakarta dan sekitarnya harus berebut dengan para pekerja menggunakan angkutan umum. Pada jam-jam sepi, sopir angkutan dengan senang mengangkut para pelajar. Tapi saat jam sibuk, pelajar diabaikan. Tarif separuh harga yang harus ditanggung sopir angkutan umum menjadi penyebabnya. Padahal, seperti juga para pekerja, pelajar tak boleh terlambat tiba di sekolah.

Sementara itu pihak sekolah, di satu sisi ogah mendengar siswanya terlambat ke sekolah karena alasan kondisi angkutan umum, disisi lain mereka hanya bisa melarang siswanya membawa kendaraan sendiri di lingkungan sekolah. Artinya para pelajar yang menitipkan kendaraan di luar lingkungan sekolah bukan tanggung jawab mereka. Bukankan itu sama saja dengan tetap membiarkan anak didik mereka membawa kendaraan sendiri ke sekolah?

Polisi juga kerap tak berdaya menghadapi banyaknya siswa mengendarai sepeda motor, apalagi mobil. Polisi tahu persis bahwa sebagian besar siswa tersebut belum memiliki SIM. Tapi menilang anak sekolah mungkin ribet dan tak ada untungnya. Polisi tak mungkin mamaksa siswa membayar ‘denda damai’, sedang menunggu orangtua siswa untuk menyelesaikan kasusnya membutuhkan waktu.

Lalu apakah kondisi pembiaran dan pelanggaran massal di jalan raya itu harus dibiarkan?Mestinya tidak. Pencegahan pertama tentunya dari pihak orangtua. Mereka harus tegas melarang anaknya membawa kendaraan di jalan raya karena belum memiliki izin.

Masalahnya, mengandalkan orangtua saja tak cukup. Ini karena banyak anak berasal dari lingkungan keluarga broken home—seperti halnya si Dul. Sehingga pengawasan terhadap anaknya kurang bisa diandalkan. Demikian juga dengan anak yang berasal dari orangtua tak mampu. Berpikir menafkahi anak saja mereka sudah pusing, apalagi mendidik untuk taat di jalan raya.

Karena itu filter berikutnya adalah pemerintah. Polisi bersama pemerintah daerah, via Diskdik harus bekerjasama menegakkan peraturan dengan melarang dan menindak siapapun pengendara yang tak memiliki SIM. Razia pelajar menggunakan kendaraan harus dilakukan secara rutin dan adil.

Lebih dari itu, pemerintah perlu memikirkan berbagai terobosan kebijakan guna memberi keamanan dan kenyamanan siswa dari rumah ke sekolah. Para siswa tak boleh berlama-lama berkeliaran di jalan dan tempat umum, apalagi menggunakan kendaraan sendiri.

Memprioritaskan lokasi tempat tinggal siswa dengan lokasi sekolah saat penerimaan siswa baru bisa diterapkan. Pengadaan angkutan sekolah juga perlu dipikirkan. Wajib belajar yang dicanangkan pemerintah daerah mestinya menyangkut angkutan dari rumah ke sekolah.

Ingat membiarkan anak kita membawa kendaraan sendiri, sama dengan membiarkan yang bersangkutan dibayangi kecelakaan dan mencelakakan orang lain. Kita semua, para bapak dan ibu, pasti merasakan menjadi remaja. Jiwa remaja seusia SMP dan SMA sangatlah labil, belum punya tanggung jawab, belum berpikir jauh ke depan. Mereka adalah usia-usia yang masih mencari eksitensi.

Dan kita harus mencegah pencarian eksitensi itu disalurkan di jalan raya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s