Satu Suara Caleg Seharga Rp 200.000


Politik uang

Jelang Pileg, politik uang tak bisa diabaikan. Rp 200.000 satu suara kini jadi patokan.

Dua orang warga, Idun dan Sabit (bukan nama sebenarnya), mematok angka 200.000 kepada para caleg yang ingin dicoblos namanya. Alasannya, kata warga Jatipulo tersebut, karena tarif untuk ikut kampanye saja Rp 50.000
Lagi pula, mereka sudah dua kali ikut pemilu legislatif (pileg) dan menerima bayaran untuk mencoblos calon anggota DRR tertentu dengan imbalan Rp 25.000-Rp 50.000. “Iya lah, kita diajak kampanye saja dibayar Rp 50.000, masa untuk mencoblos calon tertentu tarifnya lebih rendah atau sama dengan ikut kampanye parpol,” kata Sabit seperti ditulis Warta Kota.
Keduanya mengaku sudah didatangi tim sukses beberapa caleg. Selain memberikan beras atau sembako, warga juga diminta menyerahkan fotocopy kartu keluarga (KK) dan fotocopy Kartu Tanda Penduduk (KTP) sebagai syarat mengambil sembako. “Mereka pas ngasih sembako bilang, nanti pas pencoblosan disuruh milih salah satu caleg. Saya sih manggut-manggut saja,” kata Idun sambil ngakak.
Bagi kedua warga pekerja serabutan itu esensi pileg dan pilpres adalah dapat rezeki tambahan. Mereka mengaku tidak peduli siapa yang terpilih nanti, yang penting mereka dapat uang atau sembako. “Ada satu caleg yang suka memberi beras. Lumayan, 5 liter dengan kualitas beras bagus. Katanya kalau kita milih dia nanti, akan ada jatah beras selama setahun buat kita. Yang seperti itu yang kita pertimbangkan, daripada dia ngasih uang Rp 50.000 untuk nyoblos nomor dia,” kata Sabit.
Temuan Peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW) mendukung pernyataan Idun dan Sabit. Abdullah Dahlan, peneliti ICW, meyakini politik uang akan semakin marak selama masa tenang hingga hari pencoblosan 9 April 2014. Hingga masa kampanye terakhir Jumat (5/4) saja, ICW mencatat 135 kasus politik uang di berbagai daerah.
Adapun kategori pelanggaran politik uang tak melulu dalam bentuk uang, paling dominan adalah
pemberian barang (66 kasus), disusul pemberian uang (33 kasus) dan pemberian jasa (14). Nominal beragam mulai Rp 5.000 hingga Rp 200.000 seperti dipatok Idun dan Sabit.
Secara rinci, pemberian barang yang dimaksud di atas umumnya berupa pemberian pakaian (27 temuan) dan sembako (15) di samping barang lain berupa alat rumah tangga, bahan bakar, bahan bangunan, barang elektronik, kitab suci, buku, door prize, fasilitas umum, kalender, makanan, motor, dan obat-obatan. “Dalam bentuk jasa, politik uang yang ditemukan berupa pemberian hiburan, layanan kesehatan, layanan pendidikan dan janji uang,” ucap Abdullah.
Mengapa politik yang begitu dominan? Calon pemilih pileg tampaknya kini realistis. Tak adanya caleg idola atau bisa dipercaya dan terlalu banyaknya nama caleg yang mereka pilih membuat perhitungan untung-rugilah yang mereka dahulukan.
Angka Rp 200.000 merupakan angka yang cukup besar baik dimata calon pemilih maupun setiap caleg. Bayangkan untuk mendapat 100 suara saja dengan uang sebesar itu seorang caleg harus menyiapkan uang 20 juta. Apalagi jika seorang caleg harus mencapai angka aman 100.000 suara, maka keluar angka Rp 20 miliar.
Padahal pemberian uang sebesar itu juga masih spekulatif. Karena calon pemilih bisa saja tak memberikan suaranya dengan alasan tertentu meski sudah menerima uang dua lembar pecahan tertinggi rupiah.
Umumnya selain uang, kedekatan caleg dengan calon pemilihnya juga sangat menentukan. Meski dengan pemberian uang/bingkisan yang lebih sedikit, seorang calon pemilih bisa cenderung menyalurkan suaranya kepada caleg yang sudah dikenal.
“Iya, nih saya lagi bingung. Si caleg dari partai itu sudah ngasih uang cepek (maksudnya Rp 100.000) dan akan jadi nopek (Rp 200.000) jika terpilih. Tapi caleg dari partai lainnya juga udah ngasih panjer Rp 50.000 dan saya kenal baik. Karena itu saya bagi suara deh sama istri untuk dua caleg itu,” kata Pangkur, seorang tukang ojek di daerah Sawangan, Depok.
Bagaimana dengan calon pemilih yang tak memperoleh saweran politik uang–biasanya kalangan menengah–mereka juga akan cenderung memilih yang sudah dikenal. Bisa kenal karena kedekatan, juga karena kenal melalui televise (caleg artis). Pemilih seperti ini bisa juga golput dalam arti tak datang ke TPS atau datang ke TPS dengan mencoblos seenaknya sehingga kertas suara tak bisa dihitung.
Singkat kata, caleg dengan modal besar, apalagi ditambah terkenal, lebih berpeluang terpilih menjadi wakil rakyat dibanding caleg biasa saja dan bermodal pas-pasan. Meski demikian caleg bermodal kecil tetap berpeluang memperoleh kursi jika ia rajin turun ke masyarakat. Caleg seperti ini lazimnya sudah mempersiapkan diri sejak lama.
Karena itu dengan kondisi masyarakat seperti itu, agak mengherankan dengan strategi seorang caleg yang hanya membagikan brosur ke rumah-rumah, untuk mencoblos namanya yang tak dikenal masyarakat itu. Apalagi caleg tersebut berasal dari parpol baru yang elektablitasnya rendah. Strategi membagi brosur seperti itu sudah pasti mubazir, buang-buang uang dan tenaga saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s