Rhoma Ngotot Capres? Kasihan Deh Kamu…


Twitter

Twitter Rhoma jadi capres

Tadinya saya mengasihani raja dangdut Rhoma Irama yang kepedean (terlalu percaya diri) menjadi capres PKB. Janji ketua umum PKB Muhaimin Iskandar selalu menjadi pegangannya.

Saking pedenya jadi capres PKB, pedangdut berusia 67 tahun itu menyatakan akan menolak tegas posisi cawapres dari kubu Joko Widodo. Ia tak peduli posisi Jokowi dan PDIP yang mengusungnya sekarang sedang berada di atas angin. “Saya setia dengan PKB, sampai detik ini harus tetap setia,” kata Rhoma kepada wartawan di kediamannya, Senin (14/4).
Maka ketika ia diminta menjajaki koalisi untuk mencapai posisi itu oleh PKB, Rhoma pun menurut saja. Rhoma mengaku sudah bertemu kedua petinggi partai Islam yakni Ketua Umum Partai Amanat Nasional Hatta Rajasa dan anggota Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera Suswono. Dua petinggi partai Islam yang akan ditemui Rhoma adalah Ketua Fraksi PKS di DPR RI, Hidayat Nur Wahid dan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan Suryadharma Ali.

Menurut Rhoma, koalisi partai-partai itu penting untuk membuktikan kekuatan Islam di Indonesia. Sebelumnya, banyak pengamat dan pakar politik memprediksi partai-partai Islam susah lolos ambang batas parlemen. Buktinya partai-partai Islam itu bisa mencapai raihan suara hingga 30 persen lebih. Nah, jika mereka bersatu bisa mengajukan capres sendiri. Rhoma menjadi salah satu diantara pilihan itu.

Jika ketagori orang paling malang di dunia adalah orang yang tak tahu kalau ia tak tahu. Saya pun merasa Rhoma sudah masuk kategori ini. Kategori yang dengan demikian perlu dikasihani.

Ngotot menjadi capres PKB, misalnya, benar-benar seperti sebuah fiksi. Sebab ia harus bersaing dengan Mahfud MD dan Jusuf Kalla yang juga menjadi maskot PKB untuk posisi capres. Lebih dari itu, dengan raihan suara PKB yang hanya sekitar 9 persen dan berada di possi kelima, jatah untuk PKB pun paling tinggi hanya cawapres. Dan posisi itu bukan untuk Rhoma Irama.

Memang peluang PKB mengajukan seorang capres masih terbuka dengan asumsi partai Islam bersatu dan mau melakukan koalisi. Tapi partai Islam mana yang mau berkoalisi dengan syarat Rhoma Irama menjadi capres atau cawapres? Bahkan di PKB sendiri Rhoma diragukan karena kalangan NU, misalnya, lebih cenderung memilih Mahfud MD yang menjadi simbol capres bersih, lurus, dan berani.

Sebagai raja dangdut, semua orang percaya bahwa dialah jagonya. Jadi tampak sangat jago banget jika dibanding capres lainnya. Tapi capres bukanlah kompetisi dangdut, tapi kompetisi banyak hal, terutama kepintaran, jam terbang, dan visi sebagai seorang pemimpin.

Banyak orang pintar tapi belum tentu layak jadi capres. Banyak politisi dan yang punya jam terbang tinggi. Pengalaman dibidang politisi atau birokrat yang panjang, tapi juga belum layak jadi capres, juga banyak orang yang mengaku punya visi paling bagus, tapi publiklah yang menentukan layak tidaknya menjadi capres. Dan publik tahu Rhoma tak layak untuk posisi ini.

Lihat saja wawancara Rhoma di MataNajzwa, ia tampak kewalahan menjawab sebagian besar pertanyaan. Ditanya soal kebijakan harga BBM, ia malah bilang tidak punya kapasitas untuk posisi menjawab pertanyaan itu. Ketika dikejar bahwa pertanyaan itu memang tak menyangkut kepakaran dibidang BBM, Rhoma bilang yang penting untuk kesejahteraan rakyat banyak. Padahal harga BBM selalu dibenturkan dengan penyelamatan APBN atau memberatkan beban rakyat untuk sementara.

Tatkala menanyakan APBN sehat seperti apa? Najwa merinci pertanyaan yang dimaksud demi memudahkan Rhoma menjawabnya. Yakni posisi APBN sekarang yang 80 persen digunakan untuk belanja rutin, sedang 20 persen untuk belanja modal? Rhoma malah menjelaskan posisinya sebagai wacapres atau wacana capres alias ngeles.

Jarak kapasitas seorang Rhoma dengan posisi RI1 yang ia kejar menjadi bahan parody dan humor di dunia maya. Misal soal keuntungan jika Rhoma menjadi presiden: Yakni tunjangan PNS akan bertambah karena ada tunjangan isteri ke 1,2,3,4. Rakyat Indonesia juga tak akan lagi suka begedang, karena “Begadang” tiada artinya. Negara akan aman karena sudah tidak ada lagi “adu domba”. Penduduk Indonesia akan sehat karena diwajikan untuk “Lari Pagi”

Tapi ada pula bahayanya jika Rhoma menjadi capres, masih terkait humor. Sebab tiap upacara bendera akan diiringi lagu Ani, ABRI menjadi kepanjangan Anak Buah Rhoma Irama; NKRI menjadi Negara Kesatuan Rhoma Irama, dan yang paling bahaya bentuk pemerintahan akan ia ganti menjadi kerajaan karena ia merasa nyaman dengan sebutan Raja Rhoma Irama.

Rhoma Irama sendiri tampaknya bukan tak tahu soal humor-humor tersebut. Mungkin ia tak semuanya tahu, tapi ia sadar bahwa banyak masyarakat yang meragukannya ia bisa menjadi capres. Bahkan sekalipun PKB kini memperoleh kenaikan suara hampir 100 persen dari pemilu lima tahun lalu dari sekitar 4,9 persen menjadi sekitar 9 persen. Kalimat bahwa ia “lebih suka dilecehkan daripada melecehkan,” yang kerap ia lontarkan adalah bagian dari kesadaran itu.

Dan sebagai capres, karisma penampilan Rhoma sebetulnya tak kalah dari capres lainnya, apalagi jika ia mengenakan gitar. Rhoma berhasil menunjukkan penampilan lebih muda dari usianya dibanding capres lainnya. Rambutnya masih tampak hitam dan tebal, tubuhnya kekar dan berisi, pokoknya Rhoma yang sudah berumur 67 tahun masih tampak berusia 50 tahunan.

Dibanding capres lainnya, Rhoma merasa paling tak punya beban karena ia tak pernah mencalonkan diri, melainkan dicalonkan. Ia  juga mengaku tak pernah merasa diperalat PKB.

Sang raja dangdut pun sepertinya menikmati peran antagonisnya sebagai capres yang diremehkan. Jadi justru malanglah orang yang mengasihani dia sebagai capres? Kasihan deh kamu…

 

One thought on “Rhoma Ngotot Capres? Kasihan Deh Kamu…

  1. Pingback: Rhoma Irama Akhirnya “Dicerai” PKB | FIKSIKULO

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s