Rhoma Irama Capres 2014 Paling Unik


Rhoma Effect

Dahsyatnya Rhoma Irama. Di beberapa tempat, ia lebih dikenal daripada PKB.

Akhirnya jelas arah pencapresan Rhoma Irama. Ia takkan mundur sebagai capres yang dicalonkan PKB, meski juga akan legowo andai tak terpilih menjadi Capres bahkan Cawapres.

“Ya saya legowo. Yang pasti saya akan terus melakukan Amar ma’ruf nahi munkar (menganjurkan hal-hal yang baik dan mencegah hal-hal yang buruk) dimanapun saya berada,” kata Rhoma saat ditanya legowo atau tidak jika tak terpilih menjadi capres atau cawapres dalam wawancara di TVone, Selasa (22/4) pagi ini.

Dalam dua hari terakhir memang beredar isu bahwa Rhoma mundur sebagai capres karena kecewa dengan Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin) yang juga maju sebagai Cawapres. Isu itu kemudian dibantah oleh Juru Bicara Rhoma Irama for Republik Indonesia (Riforri), Debby Rhoma.

“Soal isu sakit hati Rhoma dengan Cak Imin? Itu sama sekali tidak benar, hubungan Rhoma dengan Muhaimin masih baik-baik saja,” ujar Debby Rhoma, yang juga putri Sang Raja Dangdut di markas Riforri.

Dan di televisi kemarin, Rhoma juga menegaskan bahwa Cak Imin telah menyatakan kepadanya sama sekali tak berambisi menjadi capres atau cawapres. Cak Imin tetap menjadikan Rhoma sebagai salah satu Capres PKB, selain Mahfud MD dan Jusuf Kalla. Rhoma pun nurut ketiga ditugasi menjalin koalisi dengan partai Islam.
***
Kehadiran Rhoma Irama sebagai capres memang unik. Ia tak pernah mencalonkan diri, melainkan dicalonkan oleh PKB. Di tingkat elit politik namanya diremehkan, namun buktinya suara PKB secara mengejutkan naik hamper 100 persen dari hampir 5 persen pada Pileg 2009 lalu menjadi sekitar 10 persen Pileg 2014 menurut hitungan cepat.

Kehebatan Rhoma Effect dibanding Jokowi Effect pun sempat muncul meski diperdebatkan. Dan Riforri punya sejumlah bukti bahwa Rhoma Effect itu bukan ilusi. Bagi Riforri, Rhoma effect bukan hanya terjadi saat ini bahkan sudah terbukti sejak tahun 70-an dimana kehadirannya sudah sangat “menakutkan” rezim Penguasa.

“Jika tidak takut, untuk apa Orde Baru harus mencekal Rhoma Irama dan Soneta selama 11 tahun sejak tahun 1977 hingga 1988 ?” Demikian Riforri.

Di kalangan kelas menengah pemilih PKB nama Rhoma Irama mungkin tak dianggap, tapi di kalangan menengah bawah sulit terbantahkan. Sejumlah pemilih PKB di luar Jawa konon tak mengenal apa itu PKB. namun mereka tahu siapa Rhoma Irama. Lagu-lagunya tetap melekat dalam ingatan, tak lekang di makan zaman.

“Dan yang mengklaim Rhoma effect bukan saya, tapi masyarakat,” ujar Rhoma.

Keunikan Rhoma makin nyata ketika ia tetap nekat maju menjadi capres meski ia tahu peluangnya sangat tipis. Rhoma didorong PKB melakukan koalisi dengan Partai Islam. Dengan hitung-hitungan matematis bahwa jika koalisi Partai Islam terwujud maka 30 persen suara terbentuk, dan di atas kertas PKB lah yang paling layak mengajukan Capres.

Rhoma pun mengaku sudah bertemu dengan Hidayat Nurwahid (PKS), Hatta Radjasa (PAN), Suryadarma Ali (PPP), hingga Din Syamsudin (Ketua PP Muhamadiyah) untuk mewujudkan koalisi tersebut. Padahal PKB sendiri meragukan koalisi partai Islam yang dimaksud.

“Realistisnya koalisi partai Islam belum temukaan figur. Elektabilitas figur itu harus memadai,” ucap Cak Imin. Merapatnya Suryadarma Ali ke Gerindra juga mengurangi peluang koalisi Partai Islam.

Tapi Rhoma tetap optimis apa yang dilakukannya sudah benar karena semua orang yang ditemuinya juga mengaku optimis koalisi partai Islam itu bakal terbentuk.

Menurut Debby, papanya (Rhoma Irama) memang berjiwa pejuang seperti kakeknya. “Mama bilang… papa tidak akan bisa diam untuk memperkuat Islam dan Pancasila, itulah garis hidup papa,” ujar Debby, putri Rhoma hasil pernikahan dengan almarhumah Veronika.

RHOMA IRAMA
Tasikmalaya, 11 Desember 1946 (67 tahun).
Anak: Ridho Irama, Romy Syahrial, Debbie Veramasari, Fikri Zulfikar
Orang tua: R.H. Tuti Juariah, Raden Irama Burdah Anggawirya
Pasangan: Ricca Rachim (1984-sekarang), Veronika (1972-1985), Marwah Ali

TENTANG HEBATNYA RHOMA EFFECT
* Bagi penggemar Soneta, Rhoma Efek sebenarnya bukan hal baru dan hal aneh. Sejak tahun 70-an Rhoma Efek sudah sangat “menakutkan” rezim Penguasa.
* Jika tidak takut, untuk apa Orde Baru harus mencekal Rhoma Irama dan Soneta selama 11 tahun sejak tahun 1977 hingga 1988 ?
* Jika bukan karena Rhoma-Efek, untuk apa William H Frederick, Sosiolog dari OHIO University, AS membuat tesis tentang Rhoma Irama dan SONETA tahun 1982 ?
* Jika bukan karena Rhoma-Efek, buat apa media menjadikan “hijrah”-nya Rhoma Irama ke Golkar tahun 1997 sebagai Berita Utama (padahal banyak tokoh yang juga “lompat pagar”) ?
* Jika bukan karena Rhoma-Efek untuk apa MNC Group (RCTI, MNC, Global TV) yang dimiliki oleh HarryTanoe juga “mencekal” Rhoma dan Soneta?
Sumber: http://www.ri-for-ri.com

One thought on “Rhoma Irama Capres 2014 Paling Unik

  1. Pingback: Rhoma Irama Akhirnya “Dicerai” PKB | FIKSIKULO

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s