Pembunuhan Mahasiswi Bikin Rakyat Turki Marah dan Cemas


aslan

Unjuk rasa menentang pembunuhan mahasiswi Turki (ABCnews)

Turki dilanda protes massal terkait ancaman pemerkosaan dan pembunuhan keji seorang wanita berusia 20 tahun, Ozgecan Aslan. Unjuk rasa besar-besaran antara lain terjadi di ibukota Turki, Istanbul dan Ankara.

Mereka meneriakkan slogan-slogan antara lain bertuliskan; “Anda tidak akan pernah berjalan sendirian”. Ratusan wanita menghadiri pemakaman Aslan di Mersin, lokasi dimana sang mahasiswi itu dibunuh secara keji.

Kemarahan perempuan Turki juga tergambar jelas melalui media sosial. Di jagat twitter hastag #sendeanlat (menceritakan kisah Anda) bahkan menjadi tranding topic, bukan hanya di Turki, tapi dunia. Mereka berharap pemerintah Turki tak mendiamkan kasus itu.

Peristiwa terhadap Aslan terjadi tatkala mahasiswi itu dalam perjalanan pulang dengan sebuah minibus di provinsi pantai selatan-timur Mersin, Sabtu (14/2) waktu setempat. Tiba-tiba seorang pria tak dikenal menyergap Aslan dan hendak memperkosanya. Pria diperkirakan berusia 26 tahun itu marah besar tatkala Aslan menyemprotkan cairan merica ke mukanya sebagai upaya bela diri.

Tak tanggung-tanggung pria tersebut menikam Aslan dan memukulinya sampai mati dengan sebuah batang besi. Bersama seorang kawan, pria itu lalu membakar tubuh sang gadis dan membuangnya ke sungai.

Kabar pembunuhan brutal tersebut langsung menyebar melalui media sosial. Sejak itu, perempuan di seluruh Turki seolah memakai pita hitam dan mengutuk aksi pembunuhan tersebut.

Bukan itu saja, kasus Aslan kemudian membuka berbagai cerita tentang betapa tidak amannya kaum perempuan di negeri itu. Pelecahan seks sering dialami mereka di ruang publik, termausk angkutan umum. Ironinya, pemerintah Turki dianggap kurang tanggap terhadap fenomena tersebut.

Data yang dilansir Turki Bianet, jumlah kekerasan di Turki meningkat. Pada bulan Januari 2015 sebanyak 27 perempuan menjadi korban pembunuhan atau meningkat 31 persen dalam periode yang sama tahun sebelumnya.

Nah, dari data itu, 9 persen perempuan sudah minta perlindungan keamanan terhadap ancaman pembunuhan oleh pasangannya (suami atau kekasih). Data tahun 2014 memang menunjukkan bahwa 56 persen dari 281 perempuan yang terbunuh dilakukan suami atau pasangannya. Adapun korban perkosaan umumnya menimpa perempuan berusia 12-17 tahun.

Adapun peningkatan itu terjadi, diduga karena sistem hukum di Turki dimana Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan menerapkan sistempatriarki. Sistem tersebut mengabaikan kekerasan dalam rumah tangga dan mengabaikan kesetaraan gender.

Terhadap kasus Aslan, Presiden Erdogan dan istri menyatakan sudah menyampaikan rasa bela sungkawa. Bahkan dua anaknya telah mengunjungi rumah keluarga korban. “Saya pribadi akan mengikuti kasus ini sehingga pelaku bisa diberikan hukuman terberat,” kata Erodgan dalam pidatonya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s