Anak Pengojek Ajeng Yulia Divonis Mati di Malaysia


ajengyulia

Ajeng Yulia digiring dua polisi wanita malaysia (utusanmalaysia)

Jika di Indonesia, warga negara asing bersiap-siap menghadapi regu tembak terkait kasus narkoba, maka seorang Warga Negara Indonesia (WNI), Ajeng Yulia (21 tahun) divonis hukuman mati dengan hukuman gantung juga dalam kasus narkotika oleh Mahkamah Tinggi di Kuantan, Pahang, Malaysia.

Berdasarkan penelusuran Pribuminews.com, Ajeng adalah anak keempat pasangan Tasroh dan Ngadimo yang tinggal di Tebet, Jakarta. Ngadimo kesehariannya adalah pengojek.

“Saya bingung, sedih juga. Saya enggak punya biaya buat minta tolong ke pemerintah. Bapaknya aja udah enggak ngojek dua hari dan enggak mau ngomong apa-apa. Tetangga dan saudara-sauadara juga enggak mau bantu, karena pada takut kebawa-bawa” ujar Tasroh.

Hakim Pengadilan Mahkamah Tinggi di Kuantan, Pahang, Malaysia, Datuk Ab Karim Ab Rahman menyatakan bahwa Ajeng gagal membuktikan pembelaan yang ia jelaskan bahwa tas berisi 3,004 kg sabu yang dibawanya itu punya teman bernama Stanly.

“Tertuduh (terdakwa) memberikan nama ‘Stanly’, namun tidak mengemukakan nomor telepon atau alamat lelaki itu. Hanya menggunakan nama ‘Stanley’ sedangkan terdapat beribu-ribu lelaki yang mempunyai nama itu,” kata hakim seperti dikutip Bernama.

Menurut Karim, Ajeng dalam pembelaannya gagal membuktikan siapa Stanley dan alasan yang disampaikan hanya rekaan semata-mata.

“Terdakwa juga tidak memanggil saksi lain untuk menyokong pembelaannya. Malah mengatakan datang ke Kuantan untuk tujuan melancong.”

Hakim pun menyatakan menjadi ragu karena terdakwa tidak mempunyai pendapatan tetap dan tidak berpendidikan datang ke negara lain untuk tujuan melancong.
Ajeng pun dikenaik pasal 39B(1)(a) Akta Dadah Berbahaya 1952 dan dihukum berdasarkan pasal 39B(2) berupa pasal hukuman mati. Sedang hukuman mati di Malaysia adalah digantung.

Kenalan via BBM
KBRI Kuala Lumpur pada tanggal 22 November 2013 telah mengunjungi Penjara Bentong dan telah melakukan wawancara dengan Ajeng. Ternyata Ajeng diperkenalkan dengan Stanly oleh temannya yang bernama Vira melalui komunikasi BBM (Black Berry Messenger).

AjengIndia

Ajeng saat di apartemen Stanly di India (Dok Tasroh/pribuminews.com)

Setelah komunikasi selama satu bulan, Stanley mengajak Ajeng untuk berlibur gratis ke India selama tiga hari. “Pada tanggal 7 November 2013, Ajeng berangkat dari Jakarta menuju New Delhi, India, dengan transit di Kuala Lumpur-Malaysia dan Chennai-India,” demikian surat Kementerian Luar Negeri.

Selama di India, Ajeng tinggal bersama Stanly dan dua orang Nigeria bernama Toco dan Matte di sebuah rumah susun di dekat Stasiun Kereta Janak Puri. Pada saat akan kembali ke Indonesia, Stanly menawarkan kepada Ajeng sebuah koper besar, sebagai pengganti koper kecil yang dibawa Ajeng dari Indonesia. Alasannya: agar barang-barang pribadi Ajeng bisa dimasukkan ke dalam satu koper besar tersebut.

Selanjutnya, Stanly meminta Ajeng untuk terbang terlebih dahulu ke Kuantan, Pahang, Malaysia, dan menginap di Grand City Hotel Kuantan selama satu malam. Ajeng diberikan uang saku oleh Stanly sebesar 300 ringgit Malaysia, 1.500 rupee India, 200 dolar Amerika, Rp 50.000,” kata pihak Kementerian Luar Negeri lewat surat itu juga. KBRI Kuala Lumpur pun telah menyediakan bantuan hukum untuk Ajeng, dengan menggandeng pengacara dari Reteiner Lawyer.

Dendam Jihadi “Emwazi” John Pada Inggris


emwazi

Muhammade Emwazi, sosok di balik Jihadi John (theguardian)

Pemberitaan soal Mohammed Emwazi sebagai sosok di balik nama Jihadi John belum juga reda. Apalagi munculnya Emwazi dikaitkan dengan “kecerobohan” dinas rahasia Inggris, M15, yang dianggap tak mampu mencegahnya menjadi seorang teroris.

Dalam pengakuannya warga negara Inggris kelahiran Kuwait berusia 27 tahun itu, menyatakan pernah melakukan kontak dengan M15. Pengakuan itu diungkapkan melalui surat kabar Mail on Sunday dimana Emwazi melakukan kontak email dengan editor keamanan Robert Verkaik pada 2010 dan 2011.

Nah, dalam emailnya pada Desember 2010, Emwazi mengklaim sempat bertemu seorang agen Dinas rahasia Inggris yang menyamar sebagai calon pembeli mesin ketik jinjing. Ketika sang calon pembeli menyalami dan memanggil namanya, Emwazi mengaku terkejut karena selama ini ia mengaku tidak pernah mengungkap nama depannya kepada siapapun.

“Saya merasa terkejut dan berhenti bernafas sekian detik setelah dia pergi. Saya tahu siapa mereka!”

Sejak itu, Emwazi mengaku berhati-hati dengan setiap orang baru yang ingin mengontak dirinya. Ia menyatakan tidak takut dibunuh oleh MI5 dan ingin tetap melanjutkan hidupnya.

Mengenakan penutup muka hitam dan berbicara dengan aksen London, Jihadi “Emwazi” John diduga telah membunuh wartawan AS. James Foley dan Steven Sotloff, pekerja kemanusiaan Inggris David Haines, sopir taksi Inggris Alan Henning, dan pekerja bantuan AS Peter Kassig.

Emwazi dan dua temannya Bilal al-Berjawi serta Mohamed Sakr diduga korban perlakuan tidak adil dari pemerintah Inggris atas kehadiran mereka sebagai kelompok minoritas. Hal itu pernah mereka sampaikan pada Cage, kelompok hak-hak sipil Inggris. Cage inilah yang menyebut Emwaji dan kawan-kawan dendam pada M15 dan perlakuan pemerintah Inggris.

Munculnya dua orang Somalia yang mencoba membom sistem transportasi umum di London pada 21 Juli 2005 namun gagal, mengilhami Emwazi untuk mencari tahu jaringannya.

Namun perdana menteri Inggris David Cameron. Ia menuduh kelompok itu membantu teroris.

KRONOLOGI
2000-an: Emwazi berteman dengan Bilal al-Berjawi dan Mohamed Sakr masuk gang “Anak London Utara”.
2006: Ketiganya dikirim Somalia gabung dengan kelompok radikal Al Shahaab.
2009: Pulang ke Inggris dan ternyata dimata-matai agen rahasia M15.
2012: Berjawi dan Sakr tewas dalam sebuah pertempuran di Somalia. Emwazi dibujuk jadi mata-mata M15.
2013: Somalia tak lagi menarik untuk Jihad, Emwazi pun gabung dengan ISIS dan namanya melegenda sebagai Jihadi John