Kubu Agung Laksono Menangkan Gugatan di Mahkamah Partai, Kubu Ical Tak Menerima


kubuagung

Kubu Agung menangkan gugatan di Mahkamah Partai Golkar

Wakil Ketua Umum Partai Golkar hasil Musyawarah Nasional IX Bali, Fadel Muhammad, menolak mengakui jika putusan majelis Mahkamah Partai memenangkan pengurus Golkar hasil Munas IX Jakarta yang dipimpin Agung Laksono. Menurut Fadel, putusan Mahkamah Partai adalah seimbang.

Fadel merujuk pendapat dua majelis Mahkamah Partai, Muladi dan HAS Natabaya, yang menyatakan tidak ingin berpendapat bahwa pengurus Golkar hasil Munas IX Bali atau kubu Aburizal sedang mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung terkait putusan Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Muladi dan Natabaya menganggap hal itu sebagai sikap bahwa kubu Aburizal tidak ingin menyelesaikan perselisihan kepengurusan Golkar melalui Mahkamah Partai.

“Dua sama. Muladi dan Natabaya tidak menyatakan demikian (memenangkan kubu Agung),” kata Fadel seusai mengikuti jalannya persidangan di Kantor DPP Partai Golkar, Jakarta, Senin (3/3).

Fadel mengatakan bahwa kubu Aburizal (Ical) telah memprediksi putusan Mahkamah Partai akan terbelah seperti ini. Hal itu karena Andi Mattalatta dan Djasri Marin merupakan majelis Mahkamah Partai dari kubu Agung Laksono.

“Kita sudah prediksi sejak awal karena dua orang ini (Andi dan Djasri) hanya memihak ke sana. Natabaya agak netral, tapi setelah baca dokumen, beliau berpendapat yang lain,” ujarnya Fadel lagi seperti dikutip Kompas.com.

Djasri dan Andi menilai Munas IX Bali yang menetapkan Aburizal Bakrie dan Idrus Marham sebagai ketua umum dan sekretaris jenderal Partai Golkar secara aklamasi adalah tidak demokratis. Adapun untuk Munas IX Jakarta, Andi dan Djasri menilai pelaksanaannya sangat terbuka, transparan, dan demokratis. Meski di lain sisi, Andi dan Djasri menilai Munas IX Jakarta memiliki banyak kekurangan.

“Maka, mengabulkan permohonan pemohon (Agung) sebagian, menerima kepengurusan Munas Ancol,” ucap Djasri.

Ia mengungkapkan, putusan itu harus dilaksanakan berikut sejumlah syaratnya. Dengan syarat itu, pengurus Golkar harus mengakomodasi kubu Aburizal secara selektif dan yang memenuhi kriteria, loyalitas, serta tidak melakukan perbuatan tercela untuk diakomodasi ke dalam pengurus partai. Majelis juga meminta kepengurusan Agung untuk melakukan tugas utama partai mulai dari musyawarah daerah dan penyelenggaraan Musyawarah Nasional X Partai Golkar. Pelaksanannya paling lambat adalah Oktober 2016.

“Kami akan melaksanakan tugas sebagaimana diamanatkan Mahkamah Partai, mulai hari ini sampai pelaksanaan konsolidasi, dengan menyusun kepengurusan. Kami akan meneruskan pengesahan ini ke Kemenkumham,” ujar dia.

PUTUSAN BERBEDA
* MULADI DAN HAS NATABAYA:
Kubu Aburizal Bakrie melayangkan proses Kasasi ke Mahkamah Agung atas keputusan Pengadilan Negeri Jakarta Barat, maka hal itu dianggap kubu Ical tengah berupaya menyelesaikan persoalan tanpa melalui Mahkamah Partai. Jadi harus menunggu proses kasasi yang dilakukan kubu Ical.

* DJASRI MARIN DAN ANDI MATTALATTA:
Mengesahkan hasil Munas Jakarta pimpinan Agung Laksono. Dasar pertimbangan karena Munas Bali yang diselenggarakan kubu Aburizal dirasa tidak transparan, tidak demokratis, dan tidak aspiratif. Sementara kubu Munas Jakarta dipandang berlangsung demokratis dan terbuka.

Ini Alasan Ajeng Yulia Masih Bisa Bebas dari Hukuman Mati


ajengyulia

Utusan malaysia

Pemerintah Indonesia tidak diam terkait vonis mati yang menimpa wanita muda Indonesia Ajeng Yulia (21 tahun) di Malaysia. Pemerintah Indonesia sedang melakukan upaya banding dan yakin Ajeng bisa lolos dari jerat hukuman gantung tersebut.

Optimisme itu disampaikan Wakil Dubes RI di Malaysia, Hermono seperti dilaporkan liputan TVone dari Malaysia. Adapun optimis didasarkan pada posisi Ajeng masih muda, bukan anggota sindikat narkoba, dan lebih sebagai korban penipuan.

Seperti diketahui, Ajeng yang tinggal di Tebet, Jakarta mengaku kenal seorang pria Nigeria bernama Stanly. Ia pun mengaku sabu seberat 3,004 kg yang dibawanya merupakan milik pria yang dikenalnya melalui media social tersebut.

Hakim Pengadilan Mahkamah Tinggi di Kuantan, Pahang, Malaysia, Datuk Ab Karim Ab Rahman menyatakan bahwa Ajeng gagal membuktikan pembelaannya. Ajeng dianggap mengarang cerita. “Tertuduh (terdakwa) memberikan nama ‘Stanly’, namun tidak mengemukakan nomor telepon atau alamat lelaki itu. Terdapat beribu-ribu lelaki yang mempunyai nama itu,” kata hakim seperti dikutip Bernama.

Menurut Hermono, tim pengacaranya kini sedang mengajukan banding ke Mahkamah Rayuan (Pengadilan Tinggi) jika gagal akan terus melakukan banding ke Mahkamah Persekutuan (Mahkamah Agung), jika gagal juga akan memohon pengampunan atau semacam Grasi kepada Raja Malaysia.

Seperti diketahui, Ajeng adalah satu dari 229 WNI yang terancam hukuman mati, 131 orang di antaranya terjerat kasus narkotika di luar negeri. 77 orang terancam hukuman mati karena terlibat dalam kasus penghilangan nyawa. Kemlu RI telah menyelesaikan kasus hukum WNI di luar negeri sebanyak 9.290 kasus dari 1 Januari hingga 30 September 2014.

Menteri Dalam Negeri Datuk Seri Ahmad Zahid Hamidi menegaskan negaranya terus mengobarkan perang melawan kejahatan narkoba. Zat berbahaya itu menyebabkan generasi muda, dengan catatan polisi korban paling muda baru berusia tujuh tahun.

Jumlah pecandu narkoba di Malaysia mencapai 1,4 juta orang. Polis Diraja Malaysia mencatat 21.227 kasus terkait narkoba masuk ke meja penyidik sepanjang tahun lalu. Kasus tersebut meningkat dibanding 2013, dengan 20.887 kasus pemilikan maupun peredaran narkotika.

Hatta Rajasa “Meradang”, Amien Rais Santai


HATTAMantan Ketua Umum Partai Amanat Nasional Hatta Rajasa meradang. Ia tampaknya serius kembali mempertanyakan pernyataan mantan Ketua Majelis Pertimbangan PAN Amien Rais saat pembukaan Kongres IV PAN di Nusa Dua, Bali, Sabtu (28/2) lalu.

Dalam pernyataannya, Amien menyebut ada ketua umum partai menengah yang berbohong. Lengkapnya begini:

Saat rapat berlangsung, ada ketua umum tiba-tiba harus meninggalkan tempat karena ingin menemui elite Koalisi Merah Putih (KMP). Ternyata satu jam kemudian sang ketua umum itu ketahuan pergi bukan menemui tokoh- tokoh KMP, tapi pergi ke rumah Surya Paloh untuk bertemu Jokowi. Siapa ketua umum itu, saya lupa namanya,”

”Jadi, saudara-saudara, saya minta kita lurus, jangan bohong, apa adanya. Insya Allah PAN maju dan mendapatkan kepercayaan,”.

Di lokasi Kongres, Hatta sebenarnya sudah menjawab tuduhan Amien. Namun agaknya ia tidak puas. Hatta merasa tidak tenang di akhir masa jabatannya di PAN dituduh sebagai pembohong.

“Jika faktanya demikian, izinkan saya bertanya kepada Saudara Amien Rais, siapa sebetulnya yang berbohong?” tulis Hatta, melalui akun Twitter pribadinya, @hattarajasa, Senin (2/3).

Hatta juga menjawab tudingan Amien yang menyebutnya berbohong. Menurut Hatta, tudingan bohong itu ditujukan terkait pertemuan dirinya dengan presiden terpilih Joko Widodo di rumah Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh.

“Perlu saya jelaskan bahwa pertemuan itu benar adanya dan tak ada yang salah dengan hal itu,” ujarnya.

Hatta mengatakan, sebagai calon wakil presiden yang ikut berkompetisi, ia merasa perlu memberikan ucapan selamat kepada Jokowi yang keluar sebagai pemenang. Menurut dia, siapa pun yang kalah dalam kompetisi harus bersedia mengakui kekalahan itu dan menerimanya dengan lapang dada.

“Ini adalah perwujudan dari prinsip karakter kesatria yang saya yakini bahwa sekeras apa pun kompetisi, ujungnya adalah harus berjiwa besar,” katanya.

Hatta menjelaskan, pertemuannya dengan Jokowi berlangsung pada 1 September 2014 dan bukan tanggal 30 September seperti yang dituduhkan Amien. Dalam pertemuan itu, menurut Hatta, ia hanya memberikan ucapan selamat kepada Jokowi dan tidak ada kesepakatan apa pun dengan mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut. Hatta menambahkan, dalam pertemuan itu, ia didampingi oleh Zulkifli Hasan dan Edi Yosfi.

Selain itu, lanjut Hatta, sebelum bertemu Jokowi, ia telah membicarakan hal itu dengan Sekretaris Koalisi Merah Putih Idrus Marham. “Dan Idrus menyampaikan hal tersebut kepada Ketua KMP, Sdr Aburizal Bakrie,” katanya.

Sementara itu Amien Rais tampak santai menanggapi kicauan Hatta. “Tanyakan Kepada hati nurani dia,” ucap Amien seusai penutupan Kongres PAN.

Menurut Amien, ia menyampaikan sindiran itu lantaran merupakan tokoh senior dan pendiri PAN. “Jadi, kalau ada hal-hal yang kurang lurus, saya luruskan,” ujarnya. “Kadang-kadang diterima, kadang-kadang ditolak. Ya, itu urusan masing-masing.”

Mantan Ketua DPP PAN Tjatur Sapto Edy mengatakan bahwa Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar sekaligus Sekretaris Koalisi Merah Putih (KMP), Idrus Marham bersedia menjadi saksi soal tuduhan Ketua MPP Amien Rais terhadap Hatta Rajasa.

“Saya tadi ditelepon saudaraku Idrus Marham, dia bersedia bersaksi (Hatta memang bertemu KMP). Jadi setelah pertemuan Pak Hatta, Bang Zul, Pak Jokowi, Pak Surya Paloh dan Edi Yosfi, Pak Hatta ketemu Pak Idrus Marham,” kata Tjatur saat konferensi pers di arena Kongres Bali, Minggu (1/3).

Ketika itu, ungkap Tjatur, Hatta juga bertemu dengan Ketum Golkar Aburizal Bakrie selaku presidium KMP. Justru sikap Hatta bertemu Jokowi dan mengucapkan selaman mendapat apresiasi dari Aburizal Bakrie saat itu.

“Bahkan Pak ARB mengatakan silaturahim dengan siapa saja, terlebih menyampaikan selamat malah baik sekali, tapi sikap kita tetap tegas, jelas,” kata Tjatur menyampaikan tanggapan ARB saat itu.

Pada kesempatan ini, Tjatur juga menegaskan bahwa sikap partai sampai saat ini tetap tidak bisa bergabung di dalam pemerintahan karena berada di luar pemerintah tidak kurang mulianya. “Tapi kalau pemerintah minta bantuan selama untuk rakyat, kita bantu. Kalau program tidak pro-rakyat tentu kita tidak bisa mendukungnya,” tandas Tjatur.


KICAUAN LENGKAP HATTA RAJASA (@hattarajasa)
1) Assalamualaikum, Salam Selahtera, Om Suastiastu buat saudaraku semua para kader PAN dan teman-teman di twitter yang saya banggakan.
2) Apa kabar Saudaraku semua hari ini? Semoga sehat dan selalu dalam limpahan Rahmad Tuhan YME.
3) Saat ini saya masih berada di Bali, dlm rangkaian Kongres PAN IV dan bersilaturahmi dengan Saudaraku semua.
4) Sekali lagi saya mengucapkan Selamat atas terpilihnya Saudaraku Zul Hasan sbg Ketum PAN 2015-2020. Smg partai kita ke dpn lbh baik lagi
5) Dalam kesempatan ini, saya ingin memberikan penjelasan lengkap mengenai tuduhan Saudara Amien Rais, bahwa saya berbohong.
6) Tuduhan yang dimaksud adalah mengenai pertemuan saya dengan Presiden terpilih Joko Widodo di rumah Pak Surya Paloh.
7) Perlu saya jelaskan bahwa pertemuan itu benar adanya dan tak ada yang salah dengan hal itu.
8) Sebagai Cawapres yang berkompetisi, saya merasa harus memberikan ucapan selamat kepada Pak Jokowi-JK.
9) Ini adalah perwujudan dari prinsip karakter ksatria yang saya yakini, bahwa sekeras apapun kompetisi, ujungnya haruslah berjiwa besar.
10) Secara etika ini juga sangat mulia, karena dengan pertemuan tersebut suhu politik berangsur kondusif.
11) Saya bertemu Pak Jokowi tanggal 1 September 2014 bukan tanggal 30 September seperti ia tuduhkan dalam pidatonya.
12) Saya hanya untuk mengucapkan selamat, tidak ada agenda lain, ataupun deal-deal apapun.
13) Dalam pertemuan itu saya didampingi Pak Zul Hasan dan Edi Yosfi. Kami semua berbicara bersama dengan Presiden terpilih Jokowi.
14) Sebelum saya memutuskan bertemu Presiden Jokowi, saya terlebih dahulu membicarakan dengan Idrus Marham, Sekretaris KMP.
15) Dan Idrus menyampaikan hal tersebut kepada Ketua KMP, Sdr Aburizal Bakrie.
16) Kesimpulannya, kawan-kawan KMP tidak keberatan dan berprinsip bahwa silaturahmi politik hrs fleksibel, namun prinsip politik istiqomah.
17) Sepulang saya dari pertemuan dengan Presiden Jokowi, saya menyampaikan kepada kawan2 KMP,….
18) ……baik Golkar, PKS, PAN, dll tentang hasil pertemuan tsb, ini saya lakukan agar tidak terjadi kesalahpahaman.
19) Hingga saat memimpin PAN, saya tetap konsisten berada di KMP, jadi tidak benar kalau saya dituduh berbohong.
20) Semuanya terbuka dan tidak ada yang ditutup-turupi, termasuk kepada media yang merilis berita tersebut pada 2 September…..
21) …….jika faktanya demikian, Ijinkan saya bertanya kepada Saudara Amien Rais, siapa sebetulnya yang berbohong?
22) Semoga kebenaran tetap menjadi kebenaran. Semoga Allah SWT meridhoi perjalanan bangsa kita. Wassalamualaikum.


BERITA PERTEMUAN HATTA DENGAN JOKOWI 2 SEPTEMBER 2014

Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN), Hatta Rajasa, yang juga cawapres bernomor urut 1 pasangan capres Prabowo Subianto, menegaskan pertemuannya dengan presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) hanya untuk silaturahmi dan memberikan selamat secara langsung.

Meskipun melakukan pertemuan, dia mengemukakan tidak ada rencana untuk merapat ke kubu Jokowi-JK yang telah ditetapkan berdasarkan putusan Mahkamah Konstitusi (MK) sebagai presiden dan wakil presiden terpilih periode 2014-2019. Kepada Jokowi, ujarnya, dia mengajak bersama-sama membangun negeri dalam kapasitasnya masing-masing.

“Saya bersilaturahim. Saya sampaikan selamat Pak Jokowi, sudah selesai di MK dan kita mendoakan bangsa kita maju. Setelah putusan MK, kita hormati. Presiden terpilih, wakil presiden terpilih,” ujarnya seusai menghadiri pertemuan antara tim Koalisi Merah Putih dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Puri Cikeas Indah, Bogor, Jawa Barat, Selasa (2/9/2014).

Hatta Rajasa menegaskan silaturahmi antara dua pihak yang berkompetisi dalam sebuah ajang, khususnya Pilpres 2014, merupakan hal sangat penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. ”Terus kalau berjumpa, dispekulasikan merapat. Inilah yang harus kita ubah, spekulasi-spekulasi yang seperti itu,” katanya.

Menurut Hatta Rajasa, jangan sampai tidak terjadi komunikasi dan tidak ada tegur sapa maupun perjumpaan hanya karena berbeda pandangan politik dalam kompetisi. Pilihan politik, ujarnya, diperlukan dalam rangka bersama-sama membangun dan memajukan bangsa. Selanjutnya ia mengajak bersatu menatap ke depan untuk membangun bangsa.

“Jangan nanti dilihat, tuh lihat pemimpin kita berkompetisi tidak ada lagi silaturahim. Ketemu saja tidak, mengucapkan selamat tidak. Ini tidak baik untuk politik kita.”

Hatta menegaskan sikap PAN saat ini adalah tetap berada di luar pemerintahan bersama tim Koalisi Merah Putih. Hatta Rajasa sebagai pribadi tidak bisa menentukan arah kebijakan partai secara tiba-tiba. “Ada mekanismenya. Melalui kongres yang dilaksanakan tahun depan. Apa yang diinginkan oleh konstituen kita melalui DPD dan DPW-DPW.”

Dia mengaku Jokowi merupakan sahabat yang telah lama berkomunikasi. Setelah bertemu dengan Jokowi, Hatta berharap dapat bertemu pula dengan wapres terpilih pasangan Jokowi, Jusuf Kalla. “Pak JK, saya juga ingin berjumpa,” katanya.