Jumlah WNI Gabung ISIS Bertambah, Kini Sekitar 500 Orang


keluargaISIS

Ilustrasi waniia-wanita gabung ISIS (rt.com)

Tim ahli Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Wawan Purwanto memastikan, ada penambahan jumlah relawan dari Indonesia untuk bergabung dengan ISIS hingga mencapai lebih kurang 500 orang.

“Kalau data itu kan terus menerus bertambah ya. Semula (dari Indonesia) ada 300 orang di Suriah. 56 orang di Mosul (Irak). Trus kemarin ada 1 keluarga berangkat dari Lamongan. Trus dari Sulawesi berdatangan juga ke sana. Lalu ditambah dari Jawa Timur lagi. Dan sejumlah wilayah di Bima. Nah sekarang karena mereka gelap, jumlahnya plus minus ya. Kurang lebih 500 orang kita lah,” ucap Wawan.

Untuk memastikan keberadaan 16 orang WNI tersebut, Wawan meminta pemerintah Indonesia terus mencarinya untuk memastikan apakah mereka bergabung dengan ISIS atau hanya tersesat. 16 WNI hilang di Turki saat pergi menggunakan paket wisata Smailing Tour. Seluruh rombongan yang mencapai 25 orang tiba pada 24 Febuari 2015 di Bandara Internasional Ataturk dengan pesawat Turkish Airline TK-67.

Saat tiba di Istambul, 16 orang ini langsung memisahkan diri. Mereka mengaku ingin bertemu dengan keluarganya di Turki. Hingga saat rombongan wisata itu pulang pada 3 Maret 2015, 16 orang ini tidak jelas keberadaannya.

Sementara itu 16 WNI lainnya ditangkap di Turki yang ternyata berbeda dengan WNI yang ikut Smiling Tour. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan bahwa pihaknya sedang dikirim ke Turki untuk menjemput 16 WNI ditangkap pemerintah setempat karena diduga hendak bergabung dengan kelompok Islam radikal, ISIS.

Retno membenarkan bahwa 16 WNI yang kini ditangani Turki berbeda dengan 16 WNI yang ikut rombingan Smiling Tour. Rombongan tersebut diketahui sejak awal, karena memisahkan diri tanpa alasan yang jelas. Sedang rombongan 16 WNI terbaru diduga akan ke Suriah untuk bergabung dengan suami mereka di sana.

“Ini untuk memperkuat kerja sama kita dengan otoritas Turki, jadi ini lebih long term sifatnya,” kata Retno Marsudi di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat (13/3).

Sementara itu, Wakapolri Komjen Badrodin Haiti menduga rombongan WNI yang ditangkap pemerintah Turki hendak menyusul suaminya yang terlebih dahulu bergabung dengan ISIS. Hal itu tampak dari banyaknya anak-anak dalam rombongan tersebut.

Tepatnya dari 16 WNI yang kini ditahan di lokasi penampungan di Kota Gaziantep, Turki, 11 diantaranya anak-anak. Empat dari rombongan adalah wanita yang diduga orangtua mereka. Dari 16 rombongan itu hanya ada satu pria dewasa.

“Kemungkinan bisa dibilang begitu, itu kemungkinan ya. Saya belum bisa memastikan, yang jelas ada satu keluarga itu ada 8 orang, istri dan anak-anaknya,” ungkap Badrodin,

Badrodin menjelaskan berdasarkan informasi sementara, 16 WNI itu berasal dari beberapa lokasi diantaranya dari Jawa Timur dan Jawa Barat. Mengenai siapa pendana 16 WNI itu hingga bisa pergi ke Suriah, Badrodin enggan menjelaskan rinci.

“Ada yang bisa kami deteksi, ada beberapa yang dibiayai oleh satu orang, WNI. Identitasnya tidak perlu saya jelaskan,” ucapnya.
16 WNI YANG DITANGKAP OTORITAS TURKI
* 11 Anak-anak, 4 perempuan dewasa, 1 pria dewasa
16 WNI PISAH DENGAN ROMBONGAN SMILING TOUR
* 4 anak-anak, 3 bayi, 4 perempuan dewasa, 5 lelaki dewasa,

Ini Nama-Nama 21 ABK Indonesia Yang Hilang di Sekitar Malvinas


vietnam

Kakak kandung ABK Vietnam yang hilang, Tran Van Cuong (tuoitrenews.vn)

Setelah lebih dua pekan kapal berbendera Taiwan, Hsiang Fu Chun diberitakan hilang di Samudera Atlantik, hingga kini belum ada kabar nasib 21 warga Indonesia yang ikut menjadi anak buah kapal (ABK) di kapal pencari ikan tersebut.

Pemerintah Taiwan hanya menyampaikan permohonan maaf kepada Indonesia karena terlambat menyampaikan kabar hilangnya 21 ABK tersebut. “Mereka sudah menyampaikan maaf secara lisan karena keterlambatan itu,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Arrmanatha Christiawan Nasir, Kamis (12/3).

Arrmanatha membenarkan bahwa Kapal Hsiang Fu Chun hilang kontak pada 26 Februari sekitar pukul 03.00 waktu setempat. Kala itu, kapten kapal memberi tahu bahwa ada kebocoran di bagian dek kapal. Otoritas Perikanan Taiwan tak yakin dengan dugaan kapal tersebut tenggelam. Sebab, jika tenggelam, akan ada sinyal otomatis yang diberikan kapal itu.

“Masalahnya, KDEI (Kamar Dagang Ekonomi Indonesia) di Taiwan baru diberi tahu coast guard pada 9 Maret. Ada gap panjang di sini. Ini yang kami sayangkan,” ucap Arrmanatha.

Bukan hanya Indonesia yang mengeluhkan kelambanan pemerintah Taiwan, bahkan Kepala Asosiasi Perikanan Taiwan, Shi Jiao-min. Bedanya yang dikeluhkan Jiao-min adalah soal tak adanya bantuan dana dari Pemerintah taiwan terhadap kapal-kapal anggotanya dalam pencarian Kapal Hsiang Fu Chuen.

Ia menyebut Asosiasinya memiliki 200 anggota. Saat ada kabar Kapal Hsiang Fu Chun, anggotanya telah diminta untuk ikut melakukan pencarian. Maka dikirim kapal ikan Fu Kuo No 1. Setelah delapan hari kapal tersebut kembali diganti Kapal Hsiang Fa Chuen. “Pemerintah harus melakukan lebih dari sekedar memuji kapal-kapal kami. Pemerintah seharusnya juga memberikan bantuan bahan bakar,” ucap Shi seperti dikutip focustaiwan.tw.

Seperti dikutip media Vietnam, tuoitrenews.vn, pemerintah Argentina memutuskan untuk mengirim sebuah kapal khusus ke tempat kejadian. Namun butuh berhari-hari untuk mencapai lokasi kapal yang diduga hilang. Yakni sekitar 1.700 mil laut (3.148 kilometer) dari lepas pantai Kepulauan Falkland (Malvinas).

Ada dua ABK Vietnam yang ikut serta dalam kapal tersebut. Yakni Tran Van Cuong (28 tahun) dan Nguyen Van Thuan (40 tahun). Keduanya merupakan ABK tamu yang diperkirakan memperoleh gaji sekitar 500 dolar AS (Rp 6,5 juta) per bulan.

Sementara itu Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Nusron Wahid sudah mengunjungi keluarga ABK yang hilang di di Kepulauan Falkland. “Begitu teridentifikasi saya langsung perintahkan agar BNP2TKI atas nama pemerintah mengunjungi keluarga
Inggris Raya, sekitar Samudera Atlantik pada 26 Februari lalu,” katanya.

21 ABK YANG HILANG:
1. Ruwah Santoso (Pemalang), 2. Saefudin (Brebes), 3. Mochamad Fauzian (Tuban), 4. Muhammad H Thobroni (Tuban), 5. Norlan Mikhael Ipol (Manado), 6. Reven Mandalika (Manado), 7. Didi Nurefendi (Pemalang), 8. Jimi Manopo (Pemalang), 9. Abdul Sony (Pemalang), 10 Indra Aprilianto (Brebes)., 11. Multadi (Tegal), 12. Jamal (Brebes), 13. Taryono (Brebes). 14. Didin Safrudin (Majalengka), 15. M Rahman Gurling (Brebes), 16. Anton Wartono (Majalengka), 17. Wahyudi (Banyumas), 18. Ahmad Sobirin (Tegal) 19. Tohir (Cirebon), 20. Mif Aziz Musthofa (Tegal), 21. Umar Mian (Tanpa KTKLN)

PERUSAHAAN YANG BERANGKATKAN ABK
PT. Bima Samudra Bahari (empat orang)
PT. Mutiara Jasa Bahari (tiga orang)
PT. Binar Jaya Pratama (tiga orang)
PT. Media Maritim Tegal (tiga orang)
PT. Seva Jaya Bahari (dua orang)
PT. Puncak Jaya Samudera (dua orang).
KRONOLOGI
16 JANUARI: Info dari dua ABK Vietnam, mereka berangkat ke Samudera Atlantik mencari cumi
26 FEBRUARI: Kehilangan kontak dengan kapten kapal setelah lapor ada yang bocor.
02 MARET: Pemilik kapal baru lapor kehilangan salah satu kapalnya ke otoritas Taiwan.
09 MARET: Baru lapor ke Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Korsel.