Meutya Hafid: Dukung Agung Laksono bukan Karena Sosok


mutya

Meutya Hafid diantara siswa MAN4 (foto: @meutya_hafid)

Anggota Komisi I DPR Fraksi Partai Golkar, Meutya Hafid, berharap rekan-rekannya di DPR RI tidak membawa masalah internal Partai Golkar ke Sidang Paripurna DPR.

“Jangan membawa permasalahan partai ke sidang paripurna, tidak elegan. Mayoritas anggota Fraksi Golkar itu tertib dan taat azas pada garis partai, bukan pada sosok,” kata Muetya dalam keterangan persnya, Senin (23/3).

“Tidak adil mengharapkan setiap anggota fraksi harus memilih ikut kepada Aburizal Bakrie atau Agung Laksono. Partai ini bukan milik perorangan,” kata mantan wartawati Metro TV itu. Menurut dia, semakin hangatnya permasalahan internal Golkar tidak sedikit membuat kader Partai Golkar khawatir.

“Masih banyak pekerjaan rumah yang lebih penting untuk dibahas bersama; seperti masalah ekonomi, menurunnya nilai tukar rupiah Indonesia terhadap dolar Amerika Serikat, permasalahan pemilihan Kapolri, upaya penegakan pemberantasan korupsi dan penguatan lembaga pemberantas korupsi,” kata wakil rakyat dalam pemilihan caleg di Dapil Sumatera Utara I

Dia menegaskan bahwa ia tertib pada garis partai yang memiliki dasar hukum. “Kami ingin masuk politik untuk kerja, bukan kerja untuk berpolitik,” katanya.

Sebelumnya, Meutya Hafid mengaku tak pernah dirangkul kubu Agung Laksono. Ia pun tak mempersoalkan jika namanya tak masuk dalam susunan kepengurusan partai tersebut.

Kepengurusan Golkar kubu Agung tengah merasa di atas angin. Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia yang mengakui legalitas kepengurusan hasil Musyawarah Nasional Ancol itu secara selektif membuat mereka semakin percaya diri. Hari ini, mereka mendaftarkan susunan pengurus guna mendapatkan pengesahan.

Dalam susunan tersebut, kubu Agung mengaku telah merangkul puluhan pendukung Musyawarah Nasional Bali. Di antaranya Mahyudin, Isyad Sudiro, Satya Widya Yudha, Erwin Aksa, dan Rully Chairul Azhar. Mereka bersedia banting setir meski terancam dipecat oleh Ketua Umum Golkar versi Munas Bali, Aburizal Bakrie.

Meutya enggan mengomentari polemik kepengurusan tersebut. Dia memilih mengambil jarak dengan kepentingan masing-masing kubu. Dalam situasi ini, tutur dia, keberpihakan pada salah satu kubu akan semakin memperkeruh suasana.

Jauh hari sebelumnya, Meutya masuk deretan kader muda Partai Golkar melawan keputusan Ketua Umum Aburizal Bakrie yang mendukung duet Prabowo – Hatta Rajasa . Kader muda Golkar ini deklarasi mendukung duet Joko Widodo – Jusuf Kalla. Mereka mendukung pasangan itu, karena ada figur Golkar Jusuf Kalla.

Selain Meutya, kader muda saat itu adalah Andi Sinulingga, Hasanuddin, Roosdinal Salim, Meutya Hafid, Fayakhun Andriadi, Bedjo Rudiantoro, Andi Rahman, Agus Gumiwang Kartasasmita, Emil Abeng, Neil Iskandar, Selina Gita, Tiara Whulandary, Indra J Piliang, Ace Hassan Sadzhili, Eki, dan David.

BIO DATA DAN KARIER MEUTYA VIADA HAFID
* Lahir di Bandung, 3 Mei 1978
* Anggota Kini Komisi I DPR Fraksi Golkar
* 18 Februari 2005 bersama juru kamera Budiyanto disandera di Irak
* 21 Februari 2005 dibebaskan.
* 28 September 2007 melaunching buku 168 Jam dalam Sandera.
* 11 Oktober 2007 terpilih sebagai pemenang Penghargaan Jurnalistik Elizabeth O’Neill, dari pemerintah Australia.
* 19 Februari 2008 meraih penghargaan alumni Australia 2008 untuk kategori Jurnalisme dan Media,
* 9 Februari 2012, Meutya menjadi satu di antara lima Tokoh Pers Inspiratif Indonesia versi Mizan.
* Pada 2010, Meutya berpasangan dengan H Dhani Setiawan Isma sebagai calon Walikota dan Wakil Walikota Binjai. Tapi kalah
* Bulan Agustus 2010, ia dilantik menjadi Anggota DPR antar waktu dari Partai Golkar menggantikan Burhanudin Napitupulu yang meninggal dunia
* 2014: terpilih kembali menjadi anggota DPR dari dapil yang sama, dengan perolehan 45.232 suara.
Sumber: wikipedia, wikidpr.org

Ini Daftar Perjalanan Panjang Lee Kuan Yew


leeMantan Perdana Manteri (PM) Singapura, Lee Kuan Yew, meninggal dunia dalam usia 91 tahun Senin (23/3). PM Singapura Lee Hsien Loong, yang tak lain anak Lee Kuan Yew, mengumumkan masa berkabung nasional selama tujuh hari.

Sebagai sebuah tanda penghormatan, bendera Singapura di semua gedung pemerintah akan dikibarkan setengah tiang mulai hari Senin (23/3) ini dan berakhir hari Minggu (29/3) mendatang. Jenazah Lee akan disemayamkan di Gedung Parlemen pada Rabu hingga Sabtu guna memberi kesempatan kepada publik menyampaikan penghormatan terakhir mereka.

Perjalanan panjang Lee Kuan Yew yang berhasil mewujudkan Singapura modern adalah prestasi tak terbantahkan. PM Lee juga sukses menjaga stabilitas Singapura dengan regenerasi kepemimpinan yang damai. Perjalanan itu membuat siapapun di dunia mengangguminya.

Ucapan bela sungkawa mengalir dari para kepala Negara seluruh dunia. Presiden Jokowi yang kini tengah melakukan lawatan ke Jepang dan China memastikan akan hadir pada upacara pemakaman sang bapak modern Singapura. Lee disebutnya sebagai teman Indonesia.

INILAH PERJALANAN PANJANG LEE KUAN YEW
1923: Lahir di Singapura, 16 September

1950: Menikah dengan Kwa Geok Choo selanjutnya dikaruniai dua putra dan satu putri; yakni 1. Lee Hsien Loong, 2. Lee Wei Ling (putri). Dan 3. Lee Hsien Yang

1954: Lee bersama sekelompok rekan kelas menengah yang berpendidikan di Inggris membentuk Partai Aksi Rakyat (PAP)

1959: Terpilih sebagai Perdana Menteri (PM) pertama Singapura. Menggantikan mantan kepala Menteri Singapura, David Saul Marshall. Lee kembali terpilih menjadi PM untuk ketujuh kalinya berturut-turut dalam kondisi Singapura yang bercondong kepada demokrasi terbatas (1963, 1968, 1972, 1976, 1980, 1984 dan 1988),

1963: Inggris yang saat itu menjajah Malaysia dan Singapura setuju menyerahkan Singapura, Sabah, dan Serawak untuk bergabung menjadi Persekutuan Tanah Melayu. Lee dengan PAP-nya cenderung tak setuju karena federasi itu cenderung mengistimewakan orang Melayu.

1965 (a): Desakan agar Lee ditangkap oleh Malaysia pun menguat. Sempat beredar kabar, PM Lee telah ditikam atau ditembak orang, Namun tak terbukti.

1965 (b): Lee mengumumkan kemerdekaan Singapura 7 Agustus. Kemerdekaan Singapura yang dimaksud adalah sebuah deklarasi kemerdekaan dan pemisahan didi dari “Federasi Malaysia”.

1966: Republik Indonesia dengan resmi telah mengakui Republik Singapura dan pengakuan itu didasarkan atas persamaan deradjat dan saling hormat menghormati integritas dan kedaulatan nasional masing2.

1970: Lee Kuan Yew berkunjung ke Moskwa, saat itu dikhawatirkan ia menjalin hubungan politik dengan Negara dedengkot partai komunis tersebut.

1975: Presiden Soeharto dan PM Singapura Lee Kuan Yew bertemu tiga jam di Bali. Salah satunya membicarakan selat malaka yang saat itu jadi perdebatan.

1980: Mulai merisaukan mengenai calon penggantinya. Masyarakat Singapura sendiri bingung siapa yang bisa meneruskan kebesaran namanya.

1985: 2 Januari dilantik sebagai PM ketujuh kalinya sejak 1959. Namun tahun ini pula mulai muncul nama Goh Chok Tong dan Ong Teng Cheong sebagai calon pengganti Lee.

1990: Mengundurkan diri secara sukarela. Lee mengatakan ia mengundurkan diri demi menjaga stabilitas Singapura.

1991 : PM Singapura Goh Chok Tong menginginkan Lee Kuan Yew tetap menjabat menteri senior seumur hidup.

1994: Lee Kuan Yew terkejut mengetahui bahwa sang anak BG Lee (Lee Hsien Loong) mengidap penyakit kelenjar getah bening atau kanker. Padahal BG Lee, yang saat itu menjadi Deputi Perdana Menteri, dipersiapkan menjadi calon penggantinya. Selain BG Lee, Ong Teng Cheong yang juga deputi Perdana Menteri Goh Chok Tong juga mengidap kanker. Saat diumumkan secara resmi, rakyat pun geger. Harga saham di bursa efek setempat anjlok. Beruntung BG Lee akhirnya sembuh.

2004: Partai Aksi Rakyat (PAP) yang berkuasa di Singapura, menyetujui penunjukan Lee Hsien Loong (BG Lee), putra Lee Kuan Yew lainnya, sebagai perdana menteri baru. Lee pun mundur sebagai Menteri Senior digantikan Goh Chok Tong. Lee sendiri menjadi penasehat perdana menteri.

2010: Istri Lee, Kwa Geok Choo meninggal dalam usia 89 tahun. Kwa meninggal di kediaman mereka ketika Lee sendiri tengah dirawat di rumah sakit akibat infeksi di dada setelah kunjungan kerja rutin tahunannya ke Eropa. Lee dikabarkan begitu terpukul dengan kematian sang istri.

2011: Pensiun dari karier politiknya pada 2011. Ia mundur dari kabinet setelah Partai Aksi Rakyat memperoleh hasil terburuk dalam pemilu sejak Singapura merdeka.

2013: Perayaan Ulang tahun Lee ke-90.

26 Februari 2015: Kantor Perdana Menteri Singapura mengeluarkan pernyataan bahwa pendiri negara kota itu, Lee Kuan Yew, masih dalam perawatan intensif di rumah sakit pemerintah. Pernyataan itu untuk menepis rumor Lee meninggal dunia.

19 Maret 2015: Lee Kuan Yew dalam kondisi kritis dan kesehatannya terus memburuk. Ia menjalani perawatan akibat penyakit pnemonia berat yang dideritanya.

21 Maret 2015: Rakyat memanjatkan doa untuk kesembuhan Lee. Mereka membawa kartu dan bunga. Sebagian warga lainnya menuliskan doa dan harapan di poster-poster yang disediakan sebuah galeri seni di Singapura.

23 Maret 2015: Lee meninggal dunia di Singapore General Hospital. Puluhan kepala Negara menyampaikan rasa bela sungkawa, termasuk Presiden Indonesia, Joko Widodo.

Keterangan: Dari berbagai sumber