Yaman Benar-Benar Diambang Perang Saudara


houthi

Demonstran anti-Houthi berlari saat polisi pro-Houthi menembakkan gas air mata di Taiz, Yaman, 22 Maret 2015 (foto Reuters/WSJ)

Yaman terancam perang saudara, bahkan wilayah. Tepatnya antara pemerintahan resmi di bawah Presiden Abdrabbuh Mansour Hadi melawan pemberontak Houthi yang kini sudah menguasai ibukota Yaman, Sanaa. Atau antara kelompok syiah dibawah Komando Iran dengan negara-negara teluk yang berusaha memerangi kelompok ini, terutama Arab Saudi.

Menteri Luar Negeri Yaman Riad Yassin pun meminta bantuan negara- negara teluk, PBB, hingga Amerika Serikat untuk mengintervensi konflik yang tengah terjadi. Negara teluk yang tergabung Gulf Cooperation Council (GCC) adalah Arab Saudi, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, Oman, dan Bahrain.

”Mereka (Al Houthi) sudah menduduki bandara dan kota. Mereka juga menyerang Aden dengan pesawat, ini kondisi sangat berbahaya, ” kata Yasin dalam sebuah wawancara dengan Al Jazeera.

Sebelumnya ia telah meminta PBB dan GCC untuk menerapkan zona larangan terbang setelah sebuah pesawat menghantam istana kepresidenan di Aden, pada akhir pekan lalu. Namun himbuan tersebut tak ditaati sehingga memunculkan kekhawatiran perang saudara akan meluas.

Iran disebut-sebut sebagai negara yang menyokong pemberontak Al Houthi. Ideologi yang sama sebagai negara syiah sebagai patokannya. Pemimpin revolusi Iran Ayatolah Khomeini pernah menyatakan revolusi syiah mereka harus menyebar hingga menuju Mekah dan Madinah.

Sementara itu Arab Saudi menjadi negara yang paling merasa terganggu dengan keberadaan pemberontak Al Houthi. Mereka sudah melakukan intervensi di Yaman pada akhir 2009 dan awal 2010. Sekitar 130 tentara Arab Saudi tewas selama melakukan intervensi ke Yaman. Namun hal itu tak akan membuat kapol Arab Saudi.

Amerika Serikat (AS) telah mengevakuasi semua personelnya dari Yaman, sehari setelah pengeboman bunuh diri menewaskan paling tidak 137 orang di dua masjid di ibukota negara itu.

Kekhawatiran AS terhadap Yaman kini bukan hanya karena keberadaan Al Houthi tapi juga semakin besarnya kelompok Al Qaeda, bahkan ISIS di negara tersebut. Bom bunuh diri terakhir di kota Sanaa disebut-sebut sebagai “kreativitas” kelompok ISIS.

Al Houthi sendiri terus berupaya memperluas kekuasaan dengan menyerang Taiz, kota besar di Yaman selatan, hari Minggu (22/3) kemarin. Kekacauan yang kian mendalam berpotensi membuka ruang bagi perkembangan kelompok teror.
TENTANG PEMBERONTAK AL HOUTHI
* 1994: Sudah sudah melakukan perlawanan, perlawanan total 2004.
* Awalnya bernama As-Shabab Al-Mukminin, oposisi penentang AS di Yaman
* Al Houthi diambil dari nama Hussein Badreddin Al-Houthi yang tewas tahun 2004.
* Mayoritas terdiri dari Muslim Zaidiyah (salah satu aliran dalam Syi’ah)
* Iran dituding berada di di balik pemberontakan Al Houthi
* Citra buruk Presiden Ali Abdullah Saleh ikut membesarkan Al Houthi.
* 2012: Presiden Ali Abdullah Saleh terguling karena kehilangan legitimasi,
* 21 September 2014. Al Houthi menguasai ibu kota Yaman, Shan’a
* Pemerintahan Presiden Abd Mansyur Hadi pindah ke Kota Aden.
* 21 Maret 2015: AS mengevakuasi semua personelnya dari Yaman.

Dua Anggota Kodim Aceh Utara Diculik dan Dibunuh


Intel-dikebumikan-640x393

Salah satu korban, Serda Hendrianto dimakamkan di Desa Kutablang Kota Lhokseumawe. (foto Reza Juanda/acehkita.com)

Dua personel intel Kodim 0103 Aceh Utara yakni Serda Indra Irawan (41) dan Sertu Hendrianto (36) ditemukan tewas dengan kondisi menggenaskan. Kedua anggota TNI itu sebelumnya dilaporkan diculik belasan pria bersenjata di pedalaman Alue Mbang, Kecamatan Nisam Antara, Kabupaten Aceh Utara.

“Penculikan terjadi Senin petang berdasarkan laporan dan tadi pagi sekitar pukul 08.30 wib. Kami juga menemukan keduanya sudah meninggal dunia,” ujar Kepala Penerangan Kodam Iskandar Muda Letkol Machfudz, di Banda Aceh, Selasa (24/3).

Keduanya diculik saat sedang melakukan tugas pengumpulan informasi tentang keberadaan kelompok sipil bersenjata Din Minimi di kawasan Kecamatan Nisam Antara, Aceh Utara.

Berdasarkan informasi beberapa saksi mata, kedua intel disergap oleh belasan anggota kelompok sipil yang bersenjata sekitar pukul 16.00 Wib. Penyergapan terjadi saat mereka baru keluar dari rumah Kepala Mukim Daud di Desa Alue Mbang. Baru beranjak sekitar 300 meter, mobil Toyata Kijang hitam yang mereka gunakan dihadang.

Kedua intel tersebut lalu dibawa ke arah Desa Sidomulyo, Kecamatan Kuta Makmur. Sekitar pukul 17.30 Wib, ada warga setempat yang mengaku mendengar tiga kali suara letusan, mirip suara senjata api di sekitar Desa Alue Mbang.

Polisi dibantu masyarakat dan TNI telah menemukan sebuah mobil Toyota Kijang bernomor polisi BL 7270 GAR yang digunakan Indra dan Hendri. Mobil tersebut ditemukan di ujung jembatan, di semak-semak Desa Alue Papeun, Aceh Utara.

“Kami tidak bisa berspekulasi dan semuanya kita serahkan kepada pihak kepolisian di Aceh Utara, dan kepada keluarga kami turut menyampaikan duka yang dalam,” kata Machfudz.

Panglima Komando Daerah Militer Iskandar Muda Mayjen TNI Agus Kriswanto menyerukan personel TNI di wilayah kesatuan Aceh utara dan Lhokseumawe untuk tetap bertahan di markas masing-masing dan menunggu hasil penyelidikan polisi.

“Kita tidak akan mencampuri tugas-tugas yang dilakukan polisi, namun kita akan siap sedia jika polisi meminta bantuan TNI untuk mengungkap motif penembakan terhadap dua personel Kodim tersebut. Saya masih menghargai aturan hukum dan menghargai rakyat,” ujar Agus Kriswanto kepada wartawan.

Di lokasi penemuan jenazah juga ditemukan sejumlah selongsong peluru yang terdiri dari selongsong peluru 12 butir AK-47 dan 3 butir M-16. Direncanakan, kedua jenazah akan dimakamkan di kampung halaman masing-masing, yakni di Jambi dan Palembang, Sumatera Selatan.

Penculik Ayah Mud membantah

Sebelumnya, Panglima Muda Komite Peralihan Aceh (KPA) Daerah Dua, Wilayah Pase, Mahmud Syah alias Ayah Mud (45), diculik tujuh pria bersenjata, Minggu (23/3), sekitar pukul 19.30 wib, di Desa Kito, Kecamatan Samudra, Aceh Utara.

Saat diculik, Ayah Mud yang berdomisili di Desa Paya Terbang, baru saja selesai shalat magrib. Dengan mengunakan kain sarung dan kaos singlet ia bermaksud membeli rokok di kios dekat rumah. Sampai di depan rumahnya ia memanggil anak – anak dan meminta tolong untuk dibelikan rokok. Dia sendiri menunggu di pintu pagar rumah.

Namun selang beberapa menit kemudian, datang satu unit Mobil Avanza BL 608 AB, berhenti di depan rumah korban dan turun 6 laki-laki menggunakan senjata api jenis AK dan memaksa Ayah Mud masuk ke dalam mobil. Pelaku juga sempat memukul beberapa warga yang sedang duduk di TKP.

Nurdin bin Ismail alias Din Minimi membenarkan jika kelompoknya yang culik Panglima KPA Mahmuadsyah alias Ayah Mud, namun dia membantah telah menculik anggota Intel Kodim Aceh Utara yang di temukan Tewas di Nisam Antara.

Hal itu disampaikan pengacara Din Minimi, Safaruddin yang dihubungi reporter statusaceh.com Via Handphone selulernya, kemarin.

Terkait penculikan Ayah Mud, Din Minimi menyatakan bertujuan untuk menyelesaikan persoalan serta nasib mereka selaku mantan kombatan TNA yang tidak mendapat kesejahteraan seperti tertuang dalam MoU Helsinki.

“Jadi penculikan ayah Mud dimaksudkan agar bisa menyampaikan persoalan mantan kombatan ini ke pemimpin internal KPA,” ungkap Safaruddin yang juga Direktur YARA (Yayasan Advokasi Rakyat Aceh) yang juga pengacara dari Din Minimi.

KRONOLOGI
SENIN (23/3) PAGI: Dua anggota Kodim 0103 Lhokseumawe yakni Serda Indra Irawan dan Sertu Hendrianto pergi ke Kampung Alu Papan, Desa Alumbang, Kecamatan Nisam Antara, Kabupaten Aceh Utara, untuk bertemu sang kepala mukim (kepala desa) setempat. Mereka menggunakan pakaian preman.
SENIN (23/3) SORE: Pertemuan selesai. Saat perjalanan pulang sekitar pukul 16.00 keduanya disergap beberapa orang bersenjata tak dikenal. Sekitar pukul 17.30 warga setempat mendengar suara tembakan hingga tiga kali.
SENIN (23/3) MALAM: Kepala Polres setempat mendapat laporan soal insiden itu. TNI berkoordinasi dengan Polri dan langsung melakukan pencarian.
SELASA (24/3) PAGI: Satuan Intelkam dan Sat Narkoba Polres Lhokseumawe menemukan kedua korban pukul 08.30 WIB, Keduanya tewas dalam kondisi menggenaskan. Yakni tangan terikat ke belakang, tubuh penuh luka tembak, dan hanya mengenakan celana dalam.

Sumber:

Kompas.com,  JPNN.com, Facebook.com

Fuad Amin: Saya Orang Terkaya dan Terpopuler di Bangkalan


fuadamien

Fuad Amin sebagai tersangka di KPK (foto: LensaIndonesia.com)

Ketua nonaktif DPRD dan mantan Bupati Bangkalan Fuad Amin Imron menyebut dirinya sebagai orang terkaya sekaligus terpopuler di Bangkalan, Jawa Timur. Ia mengatakan, harta yang dimilikinya saat ini merupakan warisan turun-temurun dari nenek moyangnya.

“Mohon maaf kalau saya mengumbar. Saya orang terkaya di Bangkalan, sampai nenek moyang saya, buyut saya,” ujar Fuad di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (23/3).

Hal tersebut diutarakan Fuad saat bersaksi dalam sidang perkara korupsi jual beli gas alam di Bangkalan. Menurut Fuad, lahan yang dimiliki leluhurnya lebih dari 600 hektar. Ia mengatakan, harta sebanyak itu didapatkannya dari kerja keras sejak umur 18 tahun dengan membuka usaha travel haji dan umrah.

“Mohon maaf, saya bukan hanya dari bupati itu saja. Bupati tidak ada artinya buat saya, tidak ada apa-apanya buat saya,” kata Fuad.

Jaksa lantas menanyakan sejumlah uang yang diberikan PT Media Karya Sentosa secara rutin setiap bulan. Berdasarkan surat dakwaan, selama 2014, Fuad disebut menerima uang dari PT MKS sebesar Rp 5 miliar yang disimpan di rekeningnya.

“Saya rasa tidak ada, bahkan lebih Bapak kalau dari angka Rp 5 miliar. Uang saya lebih dari angka Rp 5 miliar itu,” kata Fuad lagi seperti dikutip Kompas.com.

Fuad Amin juga mengatakan bahwa status tersangka yang melabelinya sekarang tidak melunturkan popularitasnya di Bangkalan. Bahkan, kata Fuad, jika ia kembali mencalonkan diri sebagai pejabat daerah, elektabilitasnya masih tinggi.

“Orang Madura tidak ada yang berani sama saya. Kalau pemilihan bupati sekarang, besok bisa saya dapat 95 persen walaupun saya sudah dihancurkan begini,” kata Fuad lagi.

Fuad mengatakan, ia termasuk orang yang paling disegani di daerahnya. Hal tersebut disebabkan leluhurnya dihargai oleh semua orang. “Leluhur saya gurunya Hasyim Ashari, hanya memandang itu. Kalau saya memang tidak ada apa-apanya,” ujar Fuad.

Namun, beberapa harta warisan leluhurnya kini telah disita oleh KPK. Fuad mengaku terpuruk saat mengetahui KPK turut menyita harta peninggalan turun-temurun keluarganya. “Disita semua itu punya moyang saya. Terpuruk saya,” kata Fuad.

Berdasarkan surat dakwaan, Direktur PT MKS Antonius Bambang Djatmiko menyuap Fuad sebesar Rp 18,85 miliar agar Fuad yang saat itu menjabat sebagai Bupati Bangkalan memuluskan perjanjian konsorsium kerja sama antara PT MKS dan PD Sumber Daya. Antonius memberikan uang kepada Fuad setiap bulan seluruhnya Rp 3,2 miliar dengan besaran pemberian Rp 200 juta per bulan dari 29 Juli 2011 sampai 4 Februari 2014.

Pada Januari 2014, Antonius meminta bantuan Fuad agar PT MKS tetap memberikan uang dan dinaikkan menjadi Rp 700 juta setiap bulan. Padahal, saat itu Fuad tidak lagi menjabat sebagai Bupati Bangkalan. Posisi Bupati Bangkalan kini dijabat anaknya, Muh. Makmun Ibnu Fuad (Ra Momon).

Fuad Amin Imron ditangkap KPK dalam Operasi Tangkap Tangan, 1 Desember 2014 pukul 11.30 WIB di Bangkalan, Madura. Selain Fuad, terlebih dahulu ditangkap ajudannya bernama Rauf di Jalan Bangka Raya Jakarta Selatan. Saat RF diamankan, petugas KPK menemukan uang senilai Rp700 juta di dalam tas.

Hingga kini KPK menetapkan tiga orang tersangka dalam kasus dugaan suap jual beli gas alam di Bangkalan. Mereka adalah Ketua DPRD Bangkalan Fuad Amin Imron, Direktur PT MKS Antonius Bambang Djatmiko, serta Abdul Rauf selaku ajudan Fuad Amin.

KPK telah menyita sekitar 14 rumah, 19 mobil, dan 70 lokasi lahan kosong di sejumlah tempat yang diduga hasil korupsi dan pencudian uang Fuad Amin. Sedang uang kontan yang disita KPK mencapai Rp 250 miliar.

KPK pun mendakwa Amin dan Rauf dengan pasal 12 huruf a atau b atau pasal 5 ayat 2 atau pasal 11 Undang-undang No 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah pada UU No 20 tahun 2001 juncto pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana.

Sedang setelah gelar perkara, Fuad Mamun dikenai dua pasal. Yakni Pasal 3 Undang-Undang nomor 8 tahun 2010 tentang pemberantasan tindak pidana pencucian uang, dan Pasal 3 ayat (1) Undang-Undang nomor 15 tahun 2002 sebagaimana telah diubah dengan UU nomor 25 tahun 2003 tentang pemberantasan TPPU.

JENIS HARTA FUAD AMIN YANG DISITA KPK

* 14 rumah di Bangkalan, Surabaya, Jakarta, dan Yogyakarta,

* 70 bidang tanah berupa tanah kosong dan beberapa tanah dengan bangunan di atasnya, termasuk kantor Dewan Pimpinan Cabang Partai Gerindra Kabupaten Bangkalan, butik, dan toko milik istri Fuad.

* 19 mobil yang disita di Jakarta, Surabaya dan Bangkalan.

* Uang kontan sebesar Rp 250 miliar.

* Sebuah kondomomium di Bali

RUMAH-RUMAH FUAD AMIN YANG DISITA KPK

* Rumah di jalan KH Muhammad Kholil Bangkalan, rumah ini ditinggali istri tua Fuad Amin. Di rumah ini KPK berhasil menyita 17 kardus dokumen, 3 komputer dan 1 buah brankas.

* Rumah di kelurahan Kraton Bangkalan, rumah ini ditinggali istri muda Fuad Amin dan KPK berhasil menyita 1 koper dan kardus yang berisi dokumen.

* Rumah di jalan Cokro Bangkalan, ini merupakan rumah lama Fuad Amin sebelum Fuad Amin menempati rumah di jalan Teuku Umar.

* Rumah di jalan Teuku Umar Bangkalan yang difungsikan sebagai sebuah butik.

* Rumah di jalan Kupang jaya 4-2 Surabaya, dirumah ini KPK menyita 1 buah brankas.

* Rumah di kawasan elit, Perum Kertajaya Indah Blok G110-111, Surabaya

* Rumah di kawasan Cipinang, Jakarta Timur. Sejumlah mobil di sita di rumah ini

* Rumah rnomor 354 di Cluster Barcelona, Perumahan Casa Grande, Maguwo, Sleman.

BEBERAPA MOBIL YANG DIDUGA MILIK FUAD AMIN DI GEDUNG KPK
* Toyota Alphard berwarna perak bernomor
* Toyota Kijang Innova abu-abu
* Suzuki Swift putih
* Honda CR-V coklat
* Toyota Camry hitam
* Sepeda motor Kawasaki Ninja