Ini Kronologi Lengkap Munculnya Kelompok Bersenjata Din Minimi


din-minimi1

Din Minimi (foto atjehlink.com)

Kelompok bersenjata api Nurdin Ismail alias Din Abu Minimi membantah terlibat penculikan dua anggota TNI di Nisam Antara, Aceh Utara. Namun, mereka mengakui menculik Panglima Muda KPA wilayah Pasee Mahmud Syah alias Ayah Mud.

Kedua penculikan hanya berselang sehari, Mingggu (21/3) dan Senin (22/3). Penculikan dua anggota Kodim Aceh Utara bernama Serda Indra Irawan (41) dan Sertu Hendrianto (36) berakhir dengan kematian keduanya. Sedang nasib Ayah Mud belum jelas. (Din Minimi makin ngetop)

Berita tersebut membuat nama Din Amini, sabagai mantan anggota GAM menjadi terkenal. Ia pun terus diburu aparat keamanan. Berita terbaru: mereka (polisi/TNI) menangkap dua orang yang mengaku anggota Dini Minimi

Ini kronologi kemunculan Din Minimi yang sempat disergap polisi setempat namun lolos.

KRONOLOGI MUNCULNYA DIN MINIMI
10 OKTOBER 2014: Mengaku mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di bawah pimpinan Nurdin alias Abu Minimi. Mereka menyatakan kecewa pada pemerintahan Gubernur Zaini Abdullah dan Wakil Gubernur Muzakir Manaf yang telah lalai melaksanakan amanah MoU Helsinki, khususnya dalam memenuhi hak- hak para mantan kombatan GAM dan korban konflik.
“Coba lihat sekarang, pembangunan Aceh setelah MoU atau bagi hasil 70-30 persen antara Pemerintah Aceh dengan Pemerintah Pusat sama saja, masih banyak jalan desa yang hancur, rakyat terus makan debu, sedangkan yang kenyang adalah konco-konco pimpinan Aceh,” kata Abu Minimi.
“Kamoe akan melawan pemerintah sampoe darah kamoe abeh. Tapi bila pemerintah geupeunuhi yang kamoe lakee, kamoe pih siap kembali, dan senjata kamoe jok keu yang berhak atawa P0lisi (Kami akan melawan pemerintah sampai tetes darah terakhir. Namun bila tuntutan kami dikabulkan, kami siap kembali ke masyarakat dan senjata akan kami serahkan Polisi),” imbuhnya.
Kelompok bersenjata Abu Minimi dan mengaku sedang dalam persembunyian di pedalaman Aceh Timur.

11 OKTOBER 2014: Kapolres Aceh Timur AKBP Muhajir SIK MH menyatakan akan membentuk tim khusus untuk menangkap Din Minimi baik hidup atau mati. Menurut Kapolres, kelompok bersenjata yang mengaku mantan kombatan GAM pimpinan Din Minimi ini merupakan kelompok yang telah melakukan teror di beberapa tempat di Aceh Timur.
“Di antaranya kasus penculikan warga Skotlandia Juni 2013 lalu, perampokan mobil PT CPM pelaksana pemasangan pipa gas di Aceh Timur dan sejumlah aksi pemerasan lainnya, serta pengrusakan TPS di daerah Julok,” ungkap Muhajir.

12 OKTOBER 2014: Mantan Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, dalam akun facebook menulis, “Abu Minimi merupakan representasi kombatan yang kecewa sehingga menerbitkan pernyataan kekecewaannya seperti yang dapat dibaca di media massa. Tapi pasti ada prelude yang memancing statement itu dan yang pasti teman-teman yang tampak dalam foto akan menghadapi resiko,” tulis Irwandi.
Menurut Irwandi Yusuf, Direktur YARA-lah (Safaruddin-red) yang membuat mereka terekspos dan dapat dikenali oleh aparat keamanan karena fotonya tersebar kemana-mana. “Jakarta menjadi heboh. Isu di Aceh masih banyak senjata terbukti. Orang-orang pada takut ke Aceh sementara aksi tidak ada sama sekali.”

12 OKTOBER 2014: Komite Peralihan Aceh (KPA) Daerah II Bate Iliek, meminta seluruh eks kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) tidak mudah terpancing dan terprovokasi dengan pernyataan Nurdin Ismail alias Abu Minimi.
“Statement Abu Minimi yang ingin melawan Pemerintah Aceh menggunakan senjata bukan solusi yang tepat untuk menyelesaikan masalah di Aceh, perjuangan GAM melawan RI saja berakhir di meja perundingan, namun tetap tidak menyelesaikan masalah hingga hari ini, solusi yang tepat untuk menyelesaikan masalah adalah musyawarah untuk mufakat,” ujarnya

14 OKTOBER 2014: Edy Syahputra, Program Manager KontraS Aceh dan Askhalani, Koordinator Gerkan Anti Korupsi (GeRAK) Aceh, dalam siaran pers bersama Gerakan Respons Hukum Cepat (GRHC) Kontras dan GeRAK Aceh menyayangkan cara kekerasan yang dikedepankan kelompok Din Minimi. Meski de
mikian, pernyataan tersebut menjadi Early Warning (Peringatan Dini-red) bagi pemerintahan Zaini Abdullah dan Wakil Gubernur Muzakir Manaf (ZIKIR) bahwa mereka harus lebih guat membangun Aceh menjadi lebih baik.

14 OKTOBER 2014: Pelaksana Program Acehnese Civil Society Task Force (ACSTF) Zulfiansyah Lumna menyayangkan pernyataan Gubernur Aceh Zaini Abdullah yang menyebutkan persoalan Nurdin bin Ismail alias Din Minimi dan kelompoknya di Aceh Timur sepenuhnya urusan TNI dan Polri. Menurutnya, itu merupakan bentuk kegagalan Pemerintah Aceh dalam menjalankan transformasi konflik di Aceh.
Menurut Zulfiansyah, Doto Zaini (sapaan akrab Zaini Abdullah-red) yang notabenenya mantan Menteri Luar Negeri GAM, merupakan agen transformasi konflik yang seharusnya berperan untuk mengubah kontruksi politik, hubungan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat.

15 Oktober 2014: Aparat keamanan mulai melakukan pemggeledahan rumah warga di pedalaman Aceh Timur untuk menangkap Din Minimi dkk. Menurut informasi yang dihimpun AtjehLINK, aparat kepolisian melakukan penggeledahan sejumlah rumah warga di Dusun Pusaka, Gampong Buket Panyang, Kecamatan Julok, Kabupaten Aceh Timur.
Sebagaimana dilansir oleh lintasatjeh.com, Din Minimi menilai tindakan polisi dengan menggeledah sejumlah rumah warga di Buket Panyang hanya mengusik ketenangan masyarakat. “Kelompok saya tidak bermusuhan dengan aparat polisi, jadi polisi tidak perlu mengejar saya, dan kalau pun harus bertindak maka polisi harus bertindak profesional,” pinta Din Minimi.

15 Oktober 2014: Safaruddin SH selaku Kuasa Hukum Nurdin alias Abu Minimi menggelar jumpa pers di kantor Persatuan Wartawan Aceh Timur. “Hadirnya Nurdin Minimi yang menuntut hak kombatan dan korban konflik merupakan kepingan reintegrasi yang belum tuntas, Nurdin Minimi meminta kepada pemerintah dan pimpinan GAM untuk memperhatikan mantan kombatan dan korban konflik,” ungkapnya.
Ia menambahkan, Pemerintah Aceh jangan hanya sibuk mendesak pemerintah pusat, sementara proses utama dari permasalahan Aceh belum selesai, yaitu reintegrasi dan reparasi korban konflik. “Bagaimana membangun Aceh di atas luka yang belum selesai. Nurdin Minimi merupakan korban dari kesepakatan damai MoU Helsinki,” ujar pria yang juga Direktur Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) ini.

13 NOPEMBER 2014: Tim gabungan Polres Aceh Timur berhasil membekuk tiga pria yang diduga kuat sebagai anggota kelompok Din Minimi di Gampong Alue Bu Jalan, Kecamatan Peureulak Barat, Aceh Timur. Kapolres Aceh Timur AKBP Muhajir SIK MH, didampingi Kasat Reskrim Iptu Budhi Nasuha Waruwu SH menyebut kaki tangan Din Minimi yakni Mujibur alias Aduen (22), Abubakar Bidin bin Hasan (37), dan M Salim bin Majid (28).

31 DESEMBER 2014: Din Minimi berhasil melarikan diri saat polisi menggerebek kediamannya di Gampong Ladang Baroe, Kecamatan Julok, Aceh Timur, Minggu (28/12) malam. Kapolres Aceh Timur melalui Kasat Reskrim AKP Budhi Nasuha Waruhu, mengungkapkan, sempat terjadi baku tembak antara pihaknya dengan Din Minimi saat penggerebekan tersebut. “Ia berhasil kabur setelah meloncat melalui jendela rumahnya,” kata Budhi, Rabu (31/12).
Polisi berhasil menyita barang-barang yang diyakini milik Din Minimi seperti satu pasang pakaian loreng, tiga HT, satu sepatu boot plastik, 14 butir aminusi, dua unit HP, dan satu korek api model pistol mainan.
Sebelumnya polisi mendapat informasi Din Minimi sedang berada di rumahnya untuk menjenguk keluarganya yang sedang terkena banjir.

1 JANUARI 2015: Kapolres Aceh Timur AKBP Muhajir SIK MH menghimbau Din Minimi menyerahkan diri. Jika dia mau menyerahkan diri beserta senjatanya, kami akan memperlakukan dia sebaik-baiknya. “Jika dia tidak mau mengindahkan, maka kami akan terus memburu Din Minimi sampai dia menyerahkan diri,” sambung Kapolres.

23 MARET 2015: membantah terlibat menculik dua anggota TNI di Nisam Antara, Aceh Utara. Namun, Din mengakui menculik Panglima Muda KPA wilayah Pasee Mahmud Syah alias Ayah Mud, Minggu 22 Maret, pukul 19.30 waktu setempat.

SUMBER BAHAN TULISAN: Atjehlink.com,  Lintasatjeh.com, fanpageKPA

Pemberontak Din Minimi Jadi Ngetop, Ini Tuntutannya


direktur-yayasan-advokasi-rakyat-aceh-yara-safaruddin

Direktur YARA, Safaruddin SH (kanan, berdiri/kaos merah), berpose dengan Abu Minimi (jongkok) dan kawan-kawannya di pedalaman Aceh Timur. (Foto Atjehlink.com/tribunnews.com)

Kelompok bersenjata api di Aceh Timur pimpinan Nurdin Ismail alias Din Abu Minimi membantah terlibat menculik dua anggota TNI di Nisam Antara, Aceh Utara. Namun, Din mengakui menculik Panglima Muda KPA wilayah Pasee Mahmud Syah alias Ayah Mud, Minggu 22 Maret, pukul 19.30 waktu setempat.

Dua personel intel Kodim 0103 Aceh Utara bernama Serda Indra Irawan (41) dan Sertu Hendrianto (36) ditemukan tewas dengan kondisi menggenaskan, Selasa (24/3) pagi. Yakni tangan terikat ke belakang, tubuh penuh luka tembak, dan hanya mengenakan celana dalam.

Pihak Din mengaku kelompoknya tidak tahu soal penculikan dua anggota kodim tersebut. Namun Kepala Penerangan Kodam Iskandar Muda Letkol Machfudz, menyebut kedua anggotanya diculik saat sedang melakukan tugas pengumpulan informasi tentang keberadaan kelompok sipil bersenjata Din Minimi di kawasan Kecamatan Nisam Antara, Aceh Utara. (Lihat, Dua Anggota Kodim Diculik)

Pengacara Din Minimi, Safaruddin yang dihubungi reporter statusaceh.com Via Handphone selulernya menyatakan bahwa penculikan Ayah Mud bertujuan untuk menyelesaikan persoalan serta nasib mereka selaku mantan kombatan GAM yang tidak mendapat kesejahteraan seperti tertuang dalam MoU Helsinki.

“Jadi penculikan ayah Mud dimaksudkan agar bisa menyampaikan persoalan mantan kombatan ini ke pemimpin internal KPA,” ungkap Safaruddin yang juga Direktur YARA (Yayasan Advokasi Rakyat Aceh) yang juga pengacara dari Din Minimi.

MoU Helsinki yang lahir melalui perundingan 25 hari GAM di Vantaa, Helsinki, Finlandia mulai 17 Juli 2005. Penandatanganan nota kesepakatan damai dilangsungkan pada 15 Agustus 2005. Sejak MoU tersebut lahir, seluruh senjata Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang mencapai 840 pucuk diserahkan pada 19 Desember 2005. Kemudian pada 27 Desember, GAM melalui juru bicara militernya, Sofyan Dawood, menyatakan bahwa sayap militer mereka telah dibubarkan secara formal.

Namun hingga kini perdamaian tersebut masih menyisakan masalah. Salah satunya kesejahteraan mantan prajurit kombatan GAM seperti Din Minimi dan kawan-kawan. MoU Helsinki cenderung hanya dinikmati oleh segelintir elit GAM?.

INI DIA TUNTUTAN KELOMPOK DIN MINIMI
• Meminta agar proses reintegrasi kombatan dilakukan secara menyeluruh kepada seluruh kombatan bersenjata, maupun sipil GAM sesuai dengan MoU Helsinki.
• Meminta pimpinan GAM dan Pemerintah Aceh agar memberikan perhatian kepada korban konflik, serta merehabilitasi hak-hak korban konflik.
• Meminta agar Pemerintah Aceh dan Pemerintah RI segera merealisasikan butir-butir MoU Helsinki termasuk pembentukan Komisi Bersama Penyelesaian Klaim yang sedang digugat YARA (Yayasan Advokasi Rakyat Aceh). Organisasi itu dipimpin oleh Safaruddin yang juga pengacara kelompok Din Amini.
• Meminta kepada aparat kepolisian dan TNI untuk menghormati perjuangan mereka dalam menuntut keadilan dalam bingkai perdamaian yang telah ditandatangani di Helsinki.
Sumber: Atjehlink.com