Yaman Jadi Ajang Perang, Kedutaan Indonesia Sibuk Evakuasi Ribuan WNI


yem

Usai pembohan lewat udara di Kota Sana’a (CNN)

Yaman sedang kacau karena dilanda peperangan. Ibukota Yaman, Sana’a yang kini dikuasai pemberontak Al-Houthi, digempur habis-habisan puluhan pesawat tempur dari sejumlah negara yang tergabung dalam koalisi yang dipimpin Arab.

Kedutaan besar Indonesia di kota itu kini tengah sibuk mengevakuasi warga. Menurut Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Bantuan Hukum Indonesia (PWI-BHI) Kementerian Luar Negeri, Lalu Muhammad Iqbal, saat ini masih terdapat 4.159 WNI yang menetap di berbagai kawasan di Yaman. Jumlah tersebut terbagi menjadi 2.686 mahasiswa dan 1.488 pekerja.

Sejak pemerintah mengumumkan rencana evakuasi pada Februari lalu, 175 orang mendaftar dan 141 di antaranya sudah tiba di Tanah Air. “Saat ini, terdapat sekitar 50-an orang yang berada di shelter KBRI, menunggu untuk dievakuasi sementara sedang dicari jalan keluar Yaman yang aman, mengingat jalan darat berisiko dan jalur udara sudah ditutup,” terang Iqbal seperti dikutip CNNIndonesia.

Selain itu dikabarkan ada 23 WNI yang ikut ditahan pemberontak Al-Houthi. Duta Besar Republik Indonesia untuk Yaman, Wajid Fauzi, kini terus berupaya melakukan komunikasi dengan pihak terkait di Yaman dalam rangka pembebasan para WNI tersebut.

Al-Houthi di Yaman sudah ada sejak 1994. Namun keberadaan mereka kian nyata 10 tahun kemudian. Citra Presiden terguling, Ali Abdullah Saleh ikut membesarkan Al Houthi.

Pada 21 September 2014. Al Houthi bahkan berhasil menguasai ibu kota Yaman, Shan’a. Presiden Abdul Mansyur Hadi terpaksa pindah ke Kota Aden. Iran diduga ikut mendukung pemberontak Al Houthi. Sejak saat itu, pemerintah AS mengevakuasi semua personelnya dari Yaman.

Presiden Abdul Mansyur Hadi telah meminta bantuan negara koalisi Arab untuk ikut turun tangan. Arab Saudi yang memiliki kepentingan terhadap kedaulatan negaranya terhadap pemberontah Al Houthi langsung turun tangan. Saudi bahkan memimpin sejumlah negara lainnya untuk menggempur Houthi dengan serangan udara. Jika Houthi dibantu Iran sebagai sesama penganut syiah, Mansyur Hadi dibantu negara-negara yang kebetulan penganut Sunni.

Sejak gempuran serangan udara pertama koalisi pimpinan Arab Saudi, Kamis (26/3) dikabarkan 48 orang anggota militan Houthi tewas. Pihak Houthi mengklaim kebanyakan dari mereka yang tewas adalah warga sipil. Kabar terakhir, presiden terguling Ali Abdullah Saleh, kini mendukung para pemberontak.

BANTUAN PESAWAT JET UNTUK LUMPUHKAN AL-HOUTHI
Arab Saudi 100 pesawat jet; Uni Emirat Arab 30 pesawat jet; Yordania 15 pesawat jet; Sudan pesawat jet, Kuwait 15 pesawat jet; Bahrain 15 pesawat jet; Qatar 15 pesawat jet; Pakistan 15 pesawat jet; Marokko 15 pesawat jet; Mesir kapal perang dan pesawat jet; AS bantuan logisktik.

KRONOLOGI KONFLIK DI YAMAN
27 Januari 2011, gelombang protes mencapai Yaman. Warga menuntut turunnya Presiden Yaman saat itu, Ali Abdullah Saleh. Protes-protes yang terjadi menimbulkan banyak korban jiwa. Sampai Presiden Ali Abdullah Saleh mundur dari jabatan, korban jiwa dari warga sipil telah mencapai 2.000 orang lebih. Keadaan ini diperparah dengan aktifnya kelompok Al Qaeda Semenanjung Arab (AQAP) yang berkonflik dengan Pemerintah Yaman.

24 Februari 2012, Presiden Ali Abdullah Saleh resmi mundur dari jabatan Presiden Yaman. Pihak oposisi kemudian menunjuk Wakil Presiden Abd Rabbo Mansour Hadi untuk menggantikannya. Penunjukan Hadi sebagai Presiden Yaman langsung mendapat reaksi keras dari AQAP yang menuduhnya antek Amerika Serikat (AS).

17 September 2014, pertempuran antara pasukan Pemerintah Yaman dengan Kelompok Houthi berlangsung di tepi ibu kota Sanaa. Pasukan pemberontak menghujani Sanaa dengan serangan mortir.

20 September 2014, gedung stasiun televisi milik Pemerintah Yaman dibakar setelah konflik antara mereka dengan Kelompok Houthi semakin panas. Beberapa gedung lain juga menjadi rusak parah. Televisi Yaman telah meminta bantuan internasional dan nasional untuk melakukan evakuasi.

24 September 2014, Perdana Menteri Yaman Salem Basindwa mengundurkan diri sebagai syarat pembicaraan gencatan senjata yang diajukan oleh Kelompok Houthi. PM Salem digantikan oleh Khaled Bahhah.

20 Januari 2015, Kelompok Houthi menyerang Istana PM Yaman setelah sehari sebelumnya menyerang istana kepresidenan. Serangan ini diakhiri dengan gencatan senajata oleh kedua belah pihak.

23 Januari 2015, Abd Rabbo Mansour Hadi menyatakan mundur dari jabatan Presiden Yaman. Mundurnya Hadi membuat kekuasaan di Yaman lowong. Pemerintahan bentukan Kelompok Houthi tidak mendapat dukungan dari warga Yaman.

Februari 2015, Beberapa negara menutup kedutaan mereka di Yaman karena mengetahui situasi di Sanaa semakin buruk.

22 Februari 2015, Presiden Hadi berhasil melarikan diri ibu kota Sanaa dengan bantuan Dewan Keamanan PBB.

24 Februari 2015, Presiden Hadi menarik pengunduran dirinya. Dia kemudian mengumumkan Aden sebagai ibu kota sementara Yaman.

20 Maret 2015, dua bom bunuh diri mengguncang Yaman, menewaskan 142 orang dan melukai ratusan lainnya. Kelompok militan ISIS mengaku bertanggung jawab atas kejadian ini, sekaligus mengumumkan keterlibatan mereka dalam konflik.

23 Maret 2015, Presiden Hadi mengumumkan Aden sebagai ibu kota sementara Yaman, sekaligus meminta bantuan dari Arab Saudi dan negara-negara Teluk untuk memulihkan kekuasaannya di sana.

26 Maret 2015, Arab Saudi menyanggupi permintaan Presiden Hadi dan memulai serangan udara ke Yaman. Arab pun memimpin koalisi sejumlah negara di kawasan Arab.