Cak Kardi Ingin Bekerja dengan Hati


Sukardi Rinakit atau Cak Kardi (foto Tribunnews)

Sukardi Rinakit atau Cak Kardi (foto Tribunnews)

Ketika banyak orang merasa senang diangkat menjadi Komisaris Utama sebuah BUMN, pengamat politik Sukardi Rinakit justru menolak. Penolakan itu memunculkan dua kelompok tanggapan negatif dan positif.

Yang negatif menganggap Cak Kardi, panggilan pengamat politik sekaligus Direktur Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) sebagai orang sok idealis, orang yang merugi. “Celetukan hari gene masih ada orang yang menolak rezeki,”  pun dialamatkan kepadanya.

Betapa tidak, berdasar peraturan Menteri BUMN no: PER- 07/MBU/2010, seorang komisaris BUMN akan memperoleh gaji (honorarium) yang besarnya 36 persen – 40 persen dari gaji seorang Direktur Utama BUMN tersebut. Jika gaji Dirut BUMN sebesar Rp 100 juta, maka komisaris memperoleh Rp 36 juta – Rp 40 juta. Dan tentu saja, Dirut BTN diperkirakan memperoleh gaji lebih dari Rp 100 juta.

Padahal selain gaji, menurut peraturan itu, seorang komisaris BUMN juga memperoleh tunjangan. Yakni Tunjangan komunikasi, THR, tunjangan transport (jika tak disediakan kendaraan dinas), tunjangan pakaian. Sedang fasilitas yang disediakan adalah fasilitas kesehatan, kendaraan dinas, fasilitas perkumpulan profesi, hingga fasilitas bantuan. Komisaris juga memperoleh insentif kerja sesuai dengan pencapaian KPI dan tingkat kesehatan.

Seperti diketahui, Cak Kardi ditunjuk sebagai Komisaris Utama BTN pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) BTN, 24 Maret 2015 lalu. Ia menggantikan posisi Mardiasmo yang sekarang menjabat Wakil Menteri Keuangan. Adapun alasan pemerintah menujuk Cak Kardi karena ia dianggap sosok tepat untuk memastikan rakyat miskin mendapatkan akses perumahan dengan lebih mudah. Sehingga program sejuta rumah bisa sukses.

Namun Sukardi menolaknya jabatan itu karena posisi Komisaris BUMN bukan bidangnya.

“Karena saya bukan bankir maka saya tidak akan produktif dan akhirnya hanya menjadi beban BTN,” ucap Cak Kardi mengungkapkan alasan pertamanya kepada pers.

“Saya tidak mau menerima posisi Komut BTN, karena sepengetahuan saya performa BTN sangat baik.” Begitu alasan kedua pengamat politik  kelahiran 5 Juni 1963 itu.

Belakangan akhirnya diketahui, bahwa Sukardi sesungguhnya tidak menolak jabatan, apalagi menolak rezeki. Buktinya, ia menerima tawaran menjadi staf khusus Mensesneg Pratikno.  “Salah satu tugas saya, bersama staf khusus lain, adalah ikut mempersiapkan pidato Presiden. Ini dunia saya,” kata Cak Kardi dalam pesan singkat yang diterima detikcom, Minggu (5/4) malam.

Dalam perjalanan karienya sebagai intelektual, selain pernah menjadi staf peneliti di Center for strategic and International Studies ( CSIS), Cak Kardi juga pernah menjadi salah satu ghost writer Menteri Dalam Negeri dan analisis politik Menteri Pertahanan.

Begitulah Cak Kardi. Ia bukan ingin melawan arus, apalagi sok idealis. Cak Kardi mungkin hanya ingin bekerja sesuai dengan bidang kemampuannya. Ia ingin bekerja dengan hati.

Justru pilihan itulah yang membuat banyak orang seharusnya berkaca diri. Sebab bekerja dengan hati bukan saja berdampak pada diri sendiri, tapi pada lingkungan sekitarnya. Bekerja dengan sepenuh hati akan menghasilkan totalitas dalam bekerja, yang berujung pada hasil berkualitas prima.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s