Asyiknya Stasiun Palmerah


palmerah3

Melihat kedatangan KRL Commuterline dari lantai dua Stasiun Palmerah, Senin (8/6/2015)

Setelah hampir setahun dikerjakan, akhirnya renovasi Stasiun Palmerah selesai. Dan sejak Sabtu 6 Juni 2015 lalu bisa digunakan oleh pengguna KRL Commuterline.

Dengan biaya sekitar Rp 36 miliar, Stasiun Palmerah pun menjadi salah satu Stasiun termegah di Jakarta setelah Stasiun Gambir. Bedanya Stasiun Gambir memiliki empat peron, sedang Palmerah dua peron.

Namun beda lainnya, bangunan dua lantai Stasiun Palmerah, selain dilengkapi tangga biasa, ekslatator atau tangga berjalan, juga lift. Meski yang terakhir belum bisa dioperasikan pada tanggal 6 Juni 2015 kemarin.

Sebagai pengguna KRL Commuterline yang berkantor di Palmerah, saya pun bisa merasakan perubahannya. Dulu, stasiun itu sangat sempit. Bahkan para penumpang KRD bisa tumpah hingga rel untuk berebut masuk lewat pintu sebelah, bukan seharusnya.

Untuk menuju Stasiun Tersebut pun harus menggunakan penyebrangan manual. Yang berbunyi setiap beberapa menit setelah tombolnya dipijit. Penyebrangan seperti ini sangat riskan terjadi kecelakaan karena banyak kendaraan melaju sangat kencang. Sebaliknya pengguna Commuterlina banyak yang terburu-buru.

Sekarang ada pilihan menggunakan jembatan penyebrangan. Di lantai dua stasiun tersebut, calon penumpang pun bisa mengabadikan pemandangan sekitarnya, termasuk kemegahan stasiun.

Stasiun Palmerah pun kelak mungkin bisa menjadi meeting point atau tempat janjian karena space masih luas untuk tempat restoran atau minimarket. Janjian di Stasiun Palmerah mestinya lebih murah karena kereta commuterline kini bisa nyambung kemana-mana dibanding harus menggunakan kendaraan umum atau pribadi yang selalu macet di Jakarta.

pelmerah4

Begini bangunan baru Stasiun Palmerah dengan jembatan penyeberangannya ke arah Senayan.

palmerah1

Nih salah satu yang membedakan dengan stasiun lain. Stasiun Palmerah kini ada eksalatornya.

palmerah2

Pemandangan malam hari sekitar Stasiun Palmerah

peron

Pemandangan Palmerah sebelum renovasi selesai. Bisa dibayangkan nunggu di rel saat kereta justru mau masuh. Kayaknya masih jaman penjajahan banget ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s