Bamsoet vs Airlangga, Siapa Menang di Munas Golkar?


Bamsoet jabat tangan dengan Airlangga Hartarto (instagram @bambang.soesatyo)

Ada sembilan kader Golkar yang mendaftar dalam pemilihan Calon Ketua Umum (Caketum) Partai Golkar yang akan dimulai melalui Munas yang dibuka Presiden Jokowi malam ini.

Sembilan Caketum tersebut masing-masing Airlangga Hartarto, Bambang Soesatyo, Ridwan Hisjam, Ali Yahya, Achamad Annama, Indra Bambang Utoyo, Agun Gunandjar Sudarso, Derek Lopatty, serta Aris Mandji.

Hanya saja diperkirakan sembilan Caketum tersebut akan mengerucut pada dua nama, yakni Airlangga Hartarto sebagai petahana dan Bambang Soesatyo sebagai penantang.

“Total yang terdata sampai kemarin kita kumpul di Bali itu ada 514 pemilik hak suara yang sudah memberikan surat pernyataan,” kata Sekjen Golkar, Lodewijk Freidrich Paulus.

Selain itu, kubu Airlangga Hartarto mengklaim juga didukung para tokoh senior Golkar seperti Akbar Tanjung, Agung Laksono, Aburizal Bakrie, Luhut Pandjaitan, dan Jusuf Kalla.

Ketua Dewan Pakar Partai Golkar Agung Laksono optimistis Airlangga Hartarto mampu melanjutkan kepemimpinan di Partai Golkar sebagai ketua umum untuk periode 2019 -2024 yang akan datang.

“Mari kita doakan agar apa yang diharapkan terwujud. Saya percaya, insya Allah kemenangan ada di tangan Pak Airlangga,” ujar Agung di acara pertemuan internal Golkar se-Indonesia di Solitaire Hotel, Kabupaten Tangerang, Senin (2/12/2019) malam.

Agung pun berharap Golkar tetap solid usai pemilihan ketua umum partai melalui Munas (Musyawarah Nasional) yang akan dimulai 3 Desember 2019 besok.

“Kita tetap menjaga soliditas karena kita pernah mengalami kesulitan. Jadi kita percaya apabila partai bersatu dan punya satu tujuan, kita bisa rebut kemenangan,” lanjut dia.

Salah satu bentuk persatuan Golkar adalah dengan membentuk formasi Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Golkar yang lebih berkualitas dibandingkan yang ada saat ini.

Bagaimanapun juga, lanjut Agung, persatuan kader Golkar merupakan hal utama.

Hadir dalam acara tersebut sejumlah senior Golkar. Antara lain, Aburizal Bakrie, Agung Laksono sendiri Akbar Tandjung dan Luhut Binsar Panjaitan.

Bagaimana dengan kubu Bamsoet

Ketua DPP Golkar Andi Sinulingga mengklaim kubu Bamsot didukung 383 DPD 1 dan DPD 2.

Kubu Bamsoet juga didukung para pengurus DPP yang tak ditampung oleh kubu Petahana.

Nama-nama tokoh Golkar pendukung Bamseot antara lain, MS Hidayat, Yorrys Raweyai, Robert Kardilai hingga Nusron Wahid.

Bamsoet juga didukung organisasi sayap Partai Golkar, Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI).

Bamsoet resmi maju jadi Caketum Golkar setelah mengembalikan formulir pendaftaran.

Bamsoet sendiri membayangkan dirinya bisa seperti Akbar Tanjung dan Aburizal Bakrie saat memimpin Golkar.

Keduanya dianggap sukses karena memiliki cara kepemimpinan masing-masing.

Akbar Tanjung sukses karena rajin turun ke bawah dan itu harus diikuti sebagi ketum partai politik.

Kemudian, contoh baik lainnya pernah diterapkan Aburizal Bakrie.

Dia menyebut, di era Ical, DPD menyiapkan dana pembinaan untuk daerah.

Meski jumlahnya tidak besar tapi pengurus daerah menjadi merasa memiliki partai bersama.

Bamsoet bakal mengkolaborasikan pola kepemimpinan Akbar Tanjung dan Aburizal Bakrie jika terpilih jadi ketum beringin.

Jika Airlangga didukung kuat DPD tingkat I, Bamsoet diprediksi didukung suara DPD II Golkar yakni tingkat kabupaten atau kota?

Fatamorgana Anies Baswedan 2024


Anies Baswedan menunjukkan Penghargaan Keterbukaan Informasi Publik Tahun 2019 yang diraih Pemprov DKI yang berdasarkan penilaian oleh Komisi Informasi Pusat Republik Indonesia.⁣ (Instagram @aniesbaswedan)

Anies Baswedan akan diusung PKS menjadi Capres 2024.

Sebelumnya, Partai Nasdem, juga mengelus-elus Anies untuk kepentingan Pilpres 2024.

Sikap serupa tak dilakukan Partai Gerindra, yang notabene parpol pendukung utama Anies di Pilkada DKI tahun 2017 lalu.

Dengan demikian memprediksi Anies menjadi kandidat Pilpres 2024 masih terlalu dini dan semu.

Ini karena politik Indonesia terbukti sulit diprediksi.

Siapa lawan dan siapa kawan akan berubah cepat dan tak terduga.

Tak ada kawan dan lawan abadi kecuali kepentingan benar-benar terbukti dalam politik di negeri ini.

Mengapa Gerindra belum memberikan sinyal menjadikan Anies sebagai calon presiden 2024, selain masih jauh, pastinya tidak urgen.

Gerindra tentu tak mau rebut dengan pilpres 2024 karena kini berada dalam koalisi pemerintahan Jokowi-Ma’ruf.

Perubahan posisi politik Partai Gerindra tersebut dipastikan juga mengubah peta politik 2024.

Selain Anies, Gerindra punya Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto yang kini berposisi sebagai Menteri Pertahanan.

Artinya jika punya Prabowo mengapa pula harus memajukan Anies di Pilpres 2024?

Apalagi kabar berkembang, Prabowo akan dipasangkan dengan Ketua DPR Puan Maharani yang merupakan kader PDIP.

Memang, tanpa Gerindra, mantan Mendikbud Era Jokowi-Jusuf Kalla itu masih punya peluang diusung sebagai capres oleh parpol lainnya.

Namun tentunya Parpol lain juga punya kader sendiri. Pilpres 2024 masih jauh, kader parpol masih akan bermunculan, Anies Baswedan bahkan belum tentu bias maju di 2024 mendatang.

Melihat rekam jejak politiknya, bagi Anies Baswedan, dicalonkan partai apa pun akan okey saja.

Anies hampir pasti takkan menolak tawaran jadi capres Partai Nasdem, misalnya.

Respon Anies saat dielus-elus Parpol yang diketaui Surya Paloh merupakan buktinya.

Namun sebagai sosok non parpol, Anies harus benar-benar mampu menunjukkan kinerjanya sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Harus mampu mengubah cap negatif sebagai Ga Bener menjadi Good Bener.

Ini merupakan tahapan gelap, yang artinya belum bisa digambarkan bagaimana hasilnya.

Karena masih banyak fakta hingga isu yang akan mendera Sang Gubernur DKI tersebut.

Kasus anggaran lem aibon di APBD DKI salah satu yang mesti dilalui dengan smart.

Nah jika sukses sebagai Gubernur DKI, Anies masih harus melalui tahapan gelap lainnya di Pilkada Jakarta 2022.

Karena sudah koalisi dengan PDIP, masih mungkinkan Gerindra mencalonkan Anies?

Apalagi jika deal politiknya Pilpres 2024, Anies Baswedan bisa tak dijagokan lagi Gerindra.

Jika itu terjadi, maka menghitung peluang Anies Baswedan di Pilpres 2024 adalah seperti fatamorgana.

Suatu bayangan yang tampak seperti ada tapi sebenarnya tidak ada.

Jejak Karier Dirut BTN Pahala N Mansury


Pahala N Mansury saat jabat Dirut Garuda

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir tengah merombak jajaran pimpinan BUMN.

Selain Basuki Tjahaja Utama atau Ahok ditetapkan menjadi Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Erick menunjuk Pahala N Mansury sebagai Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN).

Pahala menggantikan Suprajarto yang sebelumnya mengundurkan diri setelah ditunjuk di RUPSLB.

Sebagai informasi, Pahala sebelumnya menduduki posisi Direktur Keuangan PT Pertamina (Persero).

Kini posisi tersebut diisi oleh Direktur Utama PT Telkomsel Emma Sri Martini.

Sebagai informasi, perjalanan karier Pahala dimulai sebagai konsultan manajemen di Andersen Consulting hingga tahun 1997.

Pada tahun 1998, Pahala bekerja paruh waktu di salah satu sekuritas di New York.

Pahala bergabung dengan Booz Allen & Hamilton sebagai konsultan senior selama satu tahun di 1999.

Pada tahun yang sama ia juga sempat bergabung dengan Boston Consulting Group sebagai pemimpin dalam beberapa proyek perbankan.

Kemudian di tahun 2003, Pahala memulai kariernya di PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Bank Mandiri menjadi salah satu pijakan penting karier Pahala sebab dari sini kariernya terus meningkat.

Di tahun 2010, Pahala dipercaya sebagai salah satu direktur Bank Mandiri.

Jabatan itu dia dapat setelah menjabat sebagai EVP Coordinator Finance & Strategy and Chief Financial Officer. Selanjutnya, pada April 2017, Pahala dipercaya menjadi Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk.

Dia menjabat sebagai orang nomor satu maskapai pelat merah selama 17 bulan sebelum akhirnya digeser menjadi Direktur Keuangan Pertamina.

Adapun pria kelahiran tahun 1971 mendapatkan gelar sarjananya di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI). Kemudian, dia memperoleh gelar pendidikan lebih tinggi yakni MBA Finance dari Stern School of Business, New York University, Amerika Serikat (AS).

Pahala N Mansury kini menjadi direktur keuangan PT Pertamina (Persero). Pahala menjadi direktur keuangan setelah mendapat restu dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar hari ini, Kamis (13/9/2018).

Lantas, bagaimana perjalanan karier Pahala N Mansury?

Jejak Karier Pahala N Mansury

  • Kelahiran tahun 1971
  • Gelar sarjananya di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI).
  • MBA Finance dari Stern School of Business, New York University, Amerika Serikat (AS).
  • 1997: Konsultan manajemen di Andersen Consulting.
  • 1998: bekerja paruh waktu di salah satu sekuritas di New York.
  • 1999: bergabung dengan Booz Allen & Hamilton sebagai konsultan senior.
  • 1999: sempat bergabung dengan Boston Consulting Group sebagai pemimpin dalam beberapa proyek perbankan.
  • 2003: memulai kariernya di PT Bank Mandiri (Persero) Tbk
  • 2003-2010: EVP Coordinator Finance & Strategy and Chief Financial Officer.
  • 2010: dipercaya sebagai salah satu direktur Bank Mandiri.
  • 2017: Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk.
  • 2018: Direktur Keuangan Pertamina
  • 2019: Direktur Utama BTN

Tips Melintas Nyaman di Tol Cipali 


 

Matahari Pagi di Tol Cikampek . Mobil sudah antre

 
Sabtu  (11/7), kami akhirnya merasakan Jalan Tol Cipali (Tol Cikopo-Palimanan). Mungkin karena masih enam hari sebelum Lebaran atau H-6 perjalanan via Tol terpanjang di Indonesia itu berjalan relatif lancar.

Kami berpangkat usai sholat subuh. Begitu masuk Tol di pintu masuk TB Simatupang depan Citos, Cilandak, suasana mobil mudik dengan tumpukan barang bawaan di atas mobil sudah terasa. Perjalanan relatif lancar, hanya tersendat di beberapa pintu Tol keluar sepanjang jalan tol Jakarta-Cikampek.

Masuk pintu Tol Cikopo juga agak tersendat. Namun setelah itu lancar sehingga tidak terasa kecepatan rata-rata mobil melaju bisa 100 km per jam. Dengan kecepatan itu setiap mobil leluasa menyalip mobil lain melalui jalur kanan. 

Nah dalam kondisi lancar seperti itu seharusnya semua melaju dengan tertib. Tapi ternyata ada satu-dua pengendara mengemudi dengan ugal-ugalan. Yakni memaksakan diri menyalip pengendara melalui lajur kiri bahkan bahu jalan. Padahal bahu jalan sepanjang Tol Cipali relatif sempit.

Itu terbukti tatkala akhirnya antrean kemacetan panjang terjadi sebelum keluar tol Cipali. Antrean sepanjang 5 km itu harus ditempuh selama dua jam, di mana jalan Tol yang seharusnya dua jalur menjadi tiga jalur dengan jalan per lahan. 

  
Selain karena volume kandaraan yang mulai banyak, kemacetan di pintu Tol Palimanan diduga karena pengembalian ongkos Tol yang relatif tidak mudah. Tarif Tol Cipali yang didiskon 25 persen dari Rp 94.000 menjadi Rp 72.000 untuk golongan I. Banyak spanduk agar pengendara membayar dengan uang pas membuktikan soal uang pengembalian di pintu Tol itu memang masalah.

Setelah Tol Cipali perjalanan via Tol Palimanan Kanci dan Jol Martapura atau dikenai sebagai Tol Bakrie benar-benar lancar. Dibanding menggunakan jalan non Tol, menggunakan Tol terbukti memang lebih cepat.

Baiklah setelah pengalaman mudik via Tol Cipali saya ingin memberikan beberapa tip.

1. Mengingat Jalan Tol Cipali yang sangat panjang dan lurus, persiapkan kondisi badan yang prima. Beristirahat cukup sebelum jalan.

2. Panjang jalan Tol Cipali adalah 116,75 km terdiri dari jalan beton dan aspal. Kondisi mobil juga harus dipersiapkan. Sepanjang Tol Cipali ada beberapa mobil yang terpaksa minggir karena mogok.

3. Melaju dengan kecepatan di atas 100 km di Cipali tidak terasa. Tetapi tetaplah mengemudi dengan konstan dan menyalip pada saat diperlukan. 

4. Sempatkan mampir ke Rest Area. Di Tol Cipali sendiri ada dua Rest Area besar dan relatif lengkap karena ada restoran, mini market, dan SPBU. Jangan lupa buang air kecil/besar karena saat terjadi kemacetan Hal itu Akan bermanfaat.

5. Saya belum mencobanya. Tapi saya pikir untuk menghindari kemacetan panjang di pintu Tol Palimanan, mungkin bisa keluar dulu via Pantura/Cirebon kemudian masuk lagi tol Palimanan via Kota Cirebon. 

Selamat menjajal Tol Cipali yang mau mudik, semoga lancar.

Ketiduran Sebelum Stasiun Manggarai


kereta

Malam hari menunggu commuterline di Stasiun Manggarai

Pada suatu malam di Stasiun Tanah Abang, saya terlambat mengejar KRL commuterline arah Bogor. Meski menyesal, saya menghibur diri bahwa jika pun terkejar saya pasti tak dapat tempat duduk hingga stasiun tujuan, yakni Stasiun Depok Baru.

Mengejar KRL commuterline adalah pemandangan sehari-hari di stasiun transit seperti Stasiun Tanah Abang. Saya yang pulang kantor antara pukul 21.00-22.00 wib dari Stasiun Palmerah ke Stasiun Tanah Abang harus bersiap-siap menyisakan nafas tersengal-sengal karena berlari-lari mengejar kereta. Maklum usia sudah tak muda lagi dan jarang berolahraga.

Karena terlambat, saya pun memilih ke toilet untuk buang air kecil. Lalu kemudian turun ke peron tiba. Tak lama kemudian, tanpa pengumuman, Commuterline arah Bogor muncul dengan gerbong yang kosong. Tadinya saya mengira itu commuterline yang hanya sampai Stasiun Manggarai. Namun dugaan saya salah setelah petugas mengumumkan bahwa itu commuterline tujuan Bogor berangkat dari Stasiun Duri. Yakni satu Stasiun sebelum Stasiun Tanah Abang.

Karena sebagian besar penumpang sudah terangkut commuterline sebelumnya, penumpang dari arah Tanah Abang pun hanya segelintir orang. Dan malam itu, untuk pertama kalinya, saya duduk sendiri di sebuah gerbong kosong. Beberapa teman di twitter mengomentari bahwa saya serasa mendapai kereta jemputan, meminjam istilah mobil jemputan.

Nah, di Stasiun Karet, muncul seorang penumpang yang juga tampak terkesan dengan kondisi gerbong yang lain dari biasanya. “Coba setiap hari begini,” kata penumpang tersebut, membuka percakapan. Ia selanjutnya duduk persis di depan saya.

Tanpa ditanya penumpang tersebut menyatakan bahwa sayangnya ia hanya turun di Manggarai untuk tujuan Bekasi. Saya tentu saja mengatakan bahwa tujuan saya ke Bogor.  Dia bilang Bogor lebih jauh dari Bekasi. Saya mengangguk.

Karena tampak lelah, pria tersebut tampak melamun. Ia tampak tak memedulikan puluhan penumpang yang kemudian memenuhi gerbong di Stasiun Sudirman. Saya sendiri aktif dengan HP saya. Membuka akun Instagram atau twitter untuk membunuh kebosanan karena biasanya antre di pintu Perlintasan Manggarai seperti malam itu.

Setelah menunggu akhirnya kereta yang saya tumpangi tiba di Stasiun Manggarai. Penumpang tujuan Bekasi dan Kota biasanya akan turun. Saat itu juga saya memandangi pria di depan saya yang ternyata tidak ikut turun. Masya Allah ternyata ia tertidur pulas. Dengan gerakan spontan saya segera membangunkan perlahan. Pria itu terkejut seraya langsung meloncat turun dari stasiun.

Dari kejauhan ia sempat menengok saya sambil mengacungkan jempolnya. Saya pun hanya tersenyum. Saya pun membayangkan Andai kata ia tak bilang tujuannya ke Bekasi dan harus turun di Manggarai bagaimana jadinya.

Beruntung jika ia kemudian bangun hanya beberapa stasiun setelah Manggarai, mungkin masih bisa kembali karena masih banyak kereta arah sebaliknya. Bagaimana jika sampai Bojonggede, Cilebut, Bahkan Bogor. Biasanya kereta paling malam sudah habis!

Dan saya bersyukur bisa membangunkan dan membuatnya terhindar dari peluang kian menjauhi rumah  dalam perjalanan pulangnya.

Asyiknya Stasiun Palmerah


palmerah3

Melihat kedatangan KRL Commuterline dari lantai dua Stasiun Palmerah, Senin (8/6/2015)

Setelah hampir setahun dikerjakan, akhirnya renovasi Stasiun Palmerah selesai. Dan sejak Sabtu 6 Juni 2015 lalu bisa digunakan oleh pengguna KRL Commuterline.

Dengan biaya sekitar Rp 36 miliar, Stasiun Palmerah pun menjadi salah satu Stasiun termegah di Jakarta setelah Stasiun Gambir. Bedanya Stasiun Gambir memiliki empat peron, sedang Palmerah dua peron.

Namun beda lainnya, bangunan dua lantai Stasiun Palmerah, selain dilengkapi tangga biasa, ekslatator atau tangga berjalan, juga lift. Meski yang terakhir belum bisa dioperasikan pada tanggal 6 Juni 2015 kemarin.

Sebagai pengguna KRL Commuterline yang berkantor di Palmerah, saya pun bisa merasakan perubahannya. Dulu, stasiun itu sangat sempit. Bahkan para penumpang KRD bisa tumpah hingga rel untuk berebut masuk lewat pintu sebelah, bukan seharusnya.

Untuk menuju Stasiun Tersebut pun harus menggunakan penyebrangan manual. Yang berbunyi setiap beberapa menit setelah tombolnya dipijit. Penyebrangan seperti ini sangat riskan terjadi kecelakaan karena banyak kendaraan melaju sangat kencang. Sebaliknya pengguna Commuterlina banyak yang terburu-buru.

Sekarang ada pilihan menggunakan jembatan penyebrangan. Di lantai dua stasiun tersebut, calon penumpang pun bisa mengabadikan pemandangan sekitarnya, termasuk kemegahan stasiun.

Stasiun Palmerah pun kelak mungkin bisa menjadi meeting point atau tempat janjian karena space masih luas untuk tempat restoran atau minimarket. Janjian di Stasiun Palmerah mestinya lebih murah karena kereta commuterline kini bisa nyambung kemana-mana dibanding harus menggunakan kendaraan umum atau pribadi yang selalu macet di Jakarta.

pelmerah4

Begini bangunan baru Stasiun Palmerah dengan jembatan penyeberangannya ke arah Senayan.

palmerah1

Nih salah satu yang membedakan dengan stasiun lain. Stasiun Palmerah kini ada eksalatornya.

palmerah2

Pemandangan malam hari sekitar Stasiun Palmerah

peron

Pemandangan Palmerah sebelum renovasi selesai. Bisa dibayangkan nunggu di rel saat kereta justru mau masuh. Kayaknya masih jaman penjajahan banget ya.

PT KAI “Mbok Ya” Pikirkan Juga Daya Tampung Stasiun


tanahabang4

Penumpang berdiri berjajar padat menunggu kedatangan KRL Commuterline di Stasiun Tanah Abang. Tak ada lagi ruang berlalu lalang.

Datanglah ke stasiun Tanah Abang antara pukul 16.00 hingga 17.00, maka Anda akan mendapat pemandangan padat luar biasa. Bahkan ruang tunggu di peron jalur 5 dan 6 jurusan Tanah Abang-Serpong rasanya seperti tak muat lagi.

Sebab peron stasiun pada jam itu harus berbagi antara penumpang KRL dan KRD jurusan Rangkasbitung. Suasana gaduh pertemuan dua gelombang penumpang sudah terasa di depan loket stasiun di lantai dua. Sebagian diantara mereka menunggu dilantai tersebut menunggu pengumuman kedatangan kereta.

Stasiun Tanah Abang Abang memiliki enam lajur kereta. Namun hanya ada dua peron tempat menunggu. Yakni Peron arah Serpong dan Peron arah Manggarai/Bogor-Duri/Jatinegara. Terlambat sedikit saja kedua peron tersebut langsung padat.

Kedua peron itu saat kian padat karena terjadi lonjakan penumpang commuterline yang diikuti penambahan jumlah operasional commuterline. Memang pada tahun 2013 ada penambahan hall, namun yang dibutuhkan sebenarnya perluasan peron tempat menunggu.

Jika sudah terlambat, antarpenumpang tak bisa lagi melintas. Mereka biasanya meluber hingga turun ke rel, atau melintas melalui rel agar bisa menunggu kereta seperti penumpang lainnya. Pemandangan seperti ini hampir terjadi setiap hari.

PT KA mestinya tak hanya memikirkan target jumlah penumpang terangkut, namun keamanan dan kenyamanan penumpang saat menunggu di setiap stasiun.

tanahabang5

tanahabang3

Melintas perlahan melalui bibir peron yang sempit

tanahabang1

Penumpang turun penumpang datang “berebut” peron. Ada yang mengambil jalan pintas via rel.