Oleh~oleh Khas Mudik 2014


Setiap mudik selalu membawa oleh-oleh. Selain makanan, biasanya, cerita tentang dahsyatnya kemacetan selama perjalanan. Pertanyaan pertama yang dilontarkan untuk pemudik adalah berapa lama menempuh perjalanan sampai ke kota tujuan.

Saya sendiri telah menceritakan rekor perjalanan mudik selama 26 jam dari Jakarta ke Cilacap pada Kamis 24 Juli hingga Jumat 25 Juli. Sedang kembalinya ke Jakarta pada Kamis 31 Juli 2014 relatif lancar, sekitar 16 jam. Beruntung saya punya mertua yang peduli terhadap anaknya yang jadi pemudik.

Sang mertua selalu telah menyiapkan oleh-oleh untuk dibawa ke Jakarta, terutama beras dan makanan khas seperti lanting dan sebagainya.

Tapi oleh-oleh khas kami selama mudik 2014 adalah foto-foto yang kami susun dalam bentuk Picflow via android dan Flipagram via Ipad atau Iphone. Jadi foto-foto selama mudik dan arus mudik tahun itu tak perlu kami buang karena penuhnya tempat penyimpanan, foto tersebut telah kami abadikan via album foto dengan iringan lagunya.

Salah satunya bisa dilihat via youtube. Adapun inspirasi pembuatan album kenangan yang jadi oleh-oleh khas itu adalah anak bungsu kami, Rara.

Ini adalah salah satu album mudik kami yang sudah diunggah di Youtube. –> Musik dan tempat yg bikin damai: desperado: http://youtu.be/ZInyeKPI9Pc

Aku Nggak Bisa Tinggi Lagi


“Pa, kayaknya aku nggak bisa tinggi deh.”
“Loh emang kenapa dek, kok ngomongnya begitu?”
“Soalnya tas yang aku bawa setiap hari kan gede dan berat?”
(Ya nggak ya) Aku hanya bisa tersenyum….

dok

Rara dengan tas besarnya setiap hari ke sekolah. Cukup berat memang…

****

Rara cerita via facebook. Setelah jalan-jalan ke Jakarta naik Commuterline. pulangnya ia nggak naik angkutan yang sama karena antrean pembeli tiket panjang banget di Stasiun Kota. (Kebetulan hari itu bertepatan dengan hari libur memperingati hari buruh 1 Mei).
Aku yang nggak ikut jalan-jalan karena masuk kerja bertanya: “Lho memang ada apa di Stasiun, dek?”
“Ya ada oranglah, Paa..”
(Hahaha, pertanyaan yang salah atau jawaban nggak nyambung?)

Aghnia

Stasiun Kota yang penuh penumpang di hari buruh (mayday) – twitter mamanya Rara

***
Suatu hari Rara menjajal kamera untuk memotret sesuatu. Tak lama kemudian ia berteriak. “Wah kelihatan jelas gambarnya?”
“Gambar apa dek?”
“Ih, mau tau aja, Kepo!”
(Hadeuh, kirain ngajak ngobrol)

Aghnia

Sedang menjajal kamera dan memotret sesuatu

Asyiknya Bermain Layang-layang


Waktu sore hari di setiap hari libur di akhir pekan adalah waktu paling berharga. Ini karena saat-saat seperti itu setiap harinya,  aku justru berkonstrasi penuh pada pekerjaan di kantor.

Nah, waktu berharga kali ini aku isi dengan bermain layang-layang. Permainan seperti itu sangat akrab denganku semasa kecil, tapi tidak untuk sebagian anak sekarang, termasuk anak-anakku.

Hari pertama Minggu (10/3), sang kakak yang badannya bongsor ikut menemani adiknya. Ternyata mereka berebutan. Biasalah sang adik menangis saat kakaknya ingin memainkan. Tugas saya adalah meminta mereka berbagi. Eh maksudnya bekerja sama menerbangkan layangan, yang bagi keduanya terbukti tidak gampang.

foto

Sang Kakak bercanda, menempelkan layang-layang di mukanya.

Kerjasama pun berhasil, asyik bukan.

Esok hari, Senin (11/3), usai pulang sekolah,dan saya masih libur, si bungsu kembali mengajak bermain layang-layang. Kali ini, sang kakak tak bisa ikut karena ada kesibukan bersama kawan-kawannya.

Lokasi pun dipindah, tak lagi di lahan terbuka yang hendak dijadikan perumahan, tapi di sport club, sekitar komplek perumahan tempat kami tinggal.

Ternyata hampir selama satu jam, angin tak cukup untuk menerbangkan layangan. Hanya karena aku telah terbiasa menerbangkan layang-layang, layangan kami bisa berada di atas langit berlama-lama.

Namun layangan itu tak tenang, terombang-ambing mencari angin. Hampir sejam itu pula aku mempertahankan posisi layang-layang dengan cara menyendat-nyendat hingga taruk ulur layangan. Si bungsu mencoba mengambil alih, namun setiap kali tali layangan ia pegang, saat itu pula layangan menurun dan aku kembali mengambil alih.

Ada dua orang bocah yang coba menerbangkan layangan. Mereka rupanya putus asa, pulang duluan. Tak lama setelah itu, mungkin menjelang pergantian dari siang hari menuju malam, angin mulai bertiup kencang. Layangan yang tadinya labil, kini stabil. Saya segera menyerahkan kendali pada si bungsu. Ia senang bukan main.

Hingga setengah jam si bungsu mengendalikan layangan. Saya beranjak meninggalkannya untuk mengamati dari kejauhan. Anak saya pun jadi pusat perhatian beberapa orang yang berkunjung ke lapangan terbuka di sport club itu.

Hanya karena menjelang Maghrib, saya terpaksa menghentikan keasyikan si bungsu dengan layang-layangnya. Ia tidak protes. Kami pun beranjak diikuti bocah-bocah lain, beberapa diantaranya disertai orangtuanya masing-masing.

Tampak wajah puas terpancar dari si bungsu. Hanya saja, untuk bisa mengajaknya bermain layang-layang lagi membutuhkan waktu seminggu. Itupun jika kami tak ada acara.

“Main layangan lagi masih lama ya Pah…” Si bungsu berucap dengan nada sedikit kecewa.

Tak mudah menerbangkan layangan tanpa angin ya dek.

Dongeng Tentang Atun: Tergila-gila Rokok


Ada suatu masa dimana seorang bocah begitu tergila-gila pada sesuatu. Jika Ado, kakak Atun, seperti terobsesi dengan kereta api sehingga bercita-cita menjadi masinis dan punya rumah dekat stasiun, Atun tergila-gila dengan rokok.

Rokok? Begitulah, papa dan mamanya sempat cemas dengan perilaku bocah yang kini duduk di TK kecil itu. Sang kakak pun ikut heran. “Kok bisa sih Atun suka banget sama rokok. Padahal papa dan mama kan tidak merokok?,”

Sejak kecil Ado memang anti rokok. Pernah papanya merokok setelah menemukan sebungkus rokok dari temannya yang tertinggal di rumah. Dengan spontan ia menggambar tanda larangan merokok di dinding rumah. Terpaksalah rokok yang baru dua hisapan langsung dimatikan

Juga begitu menemukan rokok di tas mamanya, langsung dibuang. Rumah Atun benar-benar bebas rokok.

Lalu bagaimana Atun bisa tergila-gila pada rokok?

Ceritanya, baru beberapa meter melaju dari rumahnya pada suatu akhir pekan, tiba-tiba Atun berteriak dan menunjuk iklan rokok Djarum Coklat dengan gambar grup band Padi di sebuah billboard raksasa. Ia pun seolah hafal dengan tulisan yang menyertai iklan tersebut.

Iklan rokok tersebut ketika itu memang sedang gencar mengubah image sebagai rokok yang biasa dikonsumsi orangtua menjadi rokok untuk kalangan muda. Sejumlah grup band ternama digaet untuk menyanyikan jingle rokok itu. Selain Padi, ada Gigi, Nidji, dan Nugie. Iklan itu cukup berhasil dengan misinya mengubah image. Atun salah satu korbannya.

Ado sempat bertanya. Memang Atun sudah bisa baca? Sebetulnya bukan bisa baca, tapi Atun hafal dengan gambar dan hal-hal yang menyertai. Betapa tidak, saat itu kan Atun masih 3,5 tahun. Masih berada di Taman Bermain.

Sepanjang perjalanan yang biasa ia lewati, hampir dipastikan Atun hafal betul posisi dan iklan rokok apa saja. Jumlahnya ternyata luar biasa. Hampir setiap 50 meter di jalanan menuju Kota Depok ada iklan rokok. Iklan produk yang membahayakan kesehatan hadir paling dominan dibanding iklan produk lainnya.

Atun bukan hanya hafal iklan rokok di jalanan, tapi juga televisi. Bahkan patut diduga Atun mengenal lebih dulu iklan rokok melalui tayangan TV. Ini karena beberapa kali ia tidur larut malam. Sebab, seperti diketahui, setelah pukul 22.00 iklan TV akan didominasi iklan rokok.

Maka patut dipertanyakan, apakah tayangan iklan rokok sebaiknya diatur lebih malam lagi?. Pada kehidupan di perkotaan, terutama Jakarta dan sekitarnya, bocah belum tidur hingga pukul 22.00 bukan hal aneh.

Kian hari Atun kian terobsesi dengan iklan rokok. Bahkan kadang-kadang ia baru bisa tidur setelah menyaksikan tayangan iklan rokok di TV. Ia pun mulai tahu bahwa iklan-iklan rokok bisa dicari dan disaksikan via Youtube.

Lebih dari itu, Atun pernah minta dibelikan sebungkus rokok dibanding mainan atau makanan saat berada di sebuah toko dekat rumahnya. Satu dua kali bisa ditolak. Namun akhirnya dibelikan juga setelah ia menangis.

Rokok yang dibeli itu selanjutnya ia buat mainan. Ia hisap aromanya. Lalu pada kesempatan berikutnya ia minta papanya menghisap rokok, Atun ingin menyaksikannya. Setelah sekian kali menolak akhirnya menuruti keinginan si anak bungsu tersebut.

Namun sang papa tak kalah akal. Ia menyedot rokok di depan Atun hingga beberapa hisapan. Kemudian berpura-pura batuk hingga beberapa hari.

Syukurlah, sejak itu Atun melupakan rokok. Ia menjadi lebih suka menonton film-film kartun di televisi dan VCD.

Satu masa dimana ia pernah tergila-gila iklan rokok terlupakan sama sekali.

“Kok bisa sih Atun lupa pada rokok,” tanya sang kakak baru-baru ini.

“Bisa saja. Kamu juga kan tak lagi bercita-cita jadi masinis?,” jawab papanya.

Ado mengangguk-angguk, mungkin membenarkannya. Begitukah dunia anak?

Cerita Tentang Liburan


NGISI liburan anak paling gampang ya ngajak ke mal. Lalu kalau sudah di mal pasti minta satu paket: ngajak main games, makan di food court, dan beli mainan. Beruntung kalau mainan yang diminta harganya murah.
“Padahal tahu sendiri kan, umur mainan di tangan anak-anak tak pernah lebih dari satu hari. Mahal atau murah sama saja,” keluh Ny Sisca, seorang karyawati swasta dengan dua anak. Meski ia dan suaminya punya penghasilan masing-masing, ia tak mau terlalu memanjakan anak dengan melulu membelikan mainan yang dianggapnya tak mendidik.
Ny Sisca beruntung anak tertuanya sekarang sudah berumur 10 tahun. Si kakak tak lagi gampang tergiur membeli mainan setiap pergi ke mal. Ia sudah mau diarahkan untuk membeli buku atau komik. Sedang adiknya masih teramat kecil untuk ngotot minta mainan yang dilihatnya di mal.
Suatu hari, sang adik atau si dedek, yang sudah beberapa kali diajak ke Depok Town Center (DTC) ngikut kakaknya main games di Amazone. Seperti kakaknya ia ikut-ikutan memasukan koin yang akan menghasilkan tiket dengan jumlah tertentu bila permainannya tepat sasaran.
Dengan bimbingan Ny Sisca, si dedek memencet tombol start. Bola sebesar bola pimpong di dalam bilik games jatuh dan memantul-mantul. Wow, bola tersebut masuk ke angka 50. Tiket kecil sepanjang 50 buah pun keluar. Si dedek dengan suka cita menariknya.
“Masukin koin lagi, Ma,” pinta si kakak turut bersuka cita.
Koin kembali dimasukkan dan si dedek dipersilahkan memencet tombol start kedua kalinya. Setelah memantul-mantul, bola kembali masuk ke angka 50. Kakak beradik itu kembali bersuka cita mencabut 50 buah tiket hingga terputus-putus.
“Lagi…lagi..” kata si dedek yang langsung didukung kakaknya.
Pada koin ketiga, Ny Sisca tak sempat melihat kapan tombol start dipencet anak keduanya. Tiba-tiba tiket sebanyak 50 lembar muncul lagi. Si dedek dan si kakak kembali larut dalam kegembiraan.
Saat pada koin ke empat dan kelima hanya memperoleh 12 dan 3 tiket, Ny Sisca langsung menghentikannya. “Hoki dede sudah habis,” gumamnya.
Sejak itu ia menyebut si dedek sebagai anak hoki. Kepada suami dan beberapa kerabatnya ia ceritakan kembali soal hoki si anak tersebut. Memperoleh angka tertinggi (50) hingga tiga kali untuk sebuah games untung-untungan merupakan sebuah pencapaian ruarrr biasa.
Nah, setiap cerita soal hoki itu dikisahkan kembali mamanya, si Dedek seperti mengerti maksudnya. Ia jadi sering nimbrung, “bola…bola..,” katanya sambil memperagakan memencet tombol games start dengan tangannya.
Karena masih libur, beberapa hari kemudian Ny Sisca kembali mengajak dua anaknya ke mal yang sama, DTC. Mereka tetap ke Amazone, meski tak lagi main bola pantul yang pernah membuat si dedek begitu hoki. “Bukan karena takut tak hoki lagi. Tapi cindera mata yang bisa ditukar dengan tiket tersebut nggak ada yang menarik,” kata Ny Sisca kepada suaminya.
Sejak itu si dedek tak pernah lagi bilang: bola…bola…yang maksudnya main games di Amazone. Tapi setiap diajak keluar rumah oleh papanya ia langsung menyebut kata, “DTC…DTC…”

Dongeng Tentang Atun: Cerita Favorit (Papa Telanjang)


Seperti bocah lainnya, setiap hari libur, sebelum tidur, Atun selalu ingin mendengarkan cerita. Ya seperti dongeng sebelum tidurlah.

Dongeng lama tentang kancil dan buaya, malin kundang, atau sangkuriang sebenarnya disukai Atun. Bocah berusia 4,5 tahun itu juga menyukai cerita yang sering dilihatnya ditelevisi seperti Dora, Upin-upin, Spongbob, dan sebagainya. Lebih disukai lagi, misal cerita kancil dan buaya tapi disisipi tokoh masa kini seperti Upin-upin dkk .

Atun juga menyukai — cerita karangan tentu saja—tentang kawan-kawan sepermainan atau kawan sekolah atau saudaranya. Karena lebih mudah, cerita karangan seperti ini pun menjadi kisah paling sering diceritakan oleh Papa dan Mama atun, juga kakaknya Ado.

Maka beginilah cerita karangan yang disampaikan Papa Atun.

Suatu hari di sebuah bus kota naik seorang ibu yang kerepotan mengajak anak seusia Atun. Papa Atun langsung berdiri seraya mempersilahkan tempat duduknya kepada Ibu muda tadi.

Eh, tak lama kemudian anak si ibu tadi muntah. Tak ada yang membantunya. Semua penumpang cenderung membuang muka. Sopir dan kondektur pun tak peduli, tetap ngebut mungkin mengejar setoran. Papa Atun lalu mengeluarkan saputangan dan memberikan kepada ibu itu untuk mengelap muntahan anaknya. “Pakai saja,” ucapnya.

Ternyata bocah itu muntah lagi hingga dua kali. Lagi-lagi tak ada yang memedulikannya, kecuali Papa Atun. Tanpa terasa Papa Atun setengah telanjang karena baju dan kaos dalam yang dikenakan sudah diberikan untuk menolong si ibu dan bocahnya tadi.

Atun tampak serius mendengarkannya, kadang tersenyum sendiri. Bahkan ketika sang Papa berhenti bercerita, karena sedang berpikir keras melanjutkan kisahnya, Atun tak sabar meminta papanya segera meneruskan cerita.

Maka terlintaslah sebuah acara reality show yang memberi hadiah tak terduga kepada orang yang ternyata mau membantu sesamanya. Seperti acara “Minta Tolong” di RCTI.

Maka begini lanjutan ceritanya.

Nah, ternyata Papa Atun harus turun duluan dari bus dibanding ibu yang ditolongnya. Ia pun turun diantar pandangan mata aneh–mungkin juga kasihan– oleh semua penumpang bus. Betapa tidak, seorang penumpang bus turun dengan telanjang dada?

Saat itu, Papa Atun pun mengaku tak pernah membayangkan akan melakukan tindakan yang mungkin hanya terjadi sekali seumur hidupnya.

Namun diluar dugaan, begitu turun dari bus, Papa Atun didatangi seseorang wanita. Lelaki berusia 40 tahunan itu terkejut. Apalagi wanita yang menghampirinya memberikan segepok uang dan baju ganti.

Katanya, wanita dan anaknya yang muntah dalam bus itu hanya rekayasa. Itu merupakan sebuah bagian acara televisi. Dan Papa Atun merupakan orang terpilih untuk mendapatkan hadiah.

Puji syukur pun disampaikan Papa Atun. Ia lalu menelepon istri dan tentu saja Atun. Pada akhir pekan mereka menggunakan uang hadiah itu untuk makan-makan, membeli baju, dan mainan.

Setelah mendengar cerita itu, Atun tampak puas dan tertidur lelap. Tapi esok hari dan esoknya lagi, ia menagih cerita yang sama.

Sempat terpikir apakah Atun menyukai cerita tersebut karena Papanya habis-habisan menolong bocah seusianya atau menyukai Papanya dapat uang banyak sehingga bisa jalan-jalan ke mal?…Ah tidaklah pentinglah.

Yang pasti, cerita papa telanjang dalam bus pun menjadi cerita favoritnya hingga kini.

Dongeng Tentang Atun (Awal Mula)


Bayi itu dilahirkan dengan tubuh cukup besar, berat 4,2 kg. Kala itu ada dua bayi lain yang lahir hampir bersamaan di sebuah klinik.
Nah ketika bayi kami disandingkan, sang perawat langsung bilang. “Inilah, rajanya.” Kebetulan juga memang dua bayi lain memang lebih kecil.
Bayi kami kemudian diberi nama Aghnia Syakira yang berarti kira-kira harta yang patut disyukuri. Rara, panggilannya, lahir pada tanggal yang unik: yakni 8  Agustus 2006 atau sama dengan 8-8-8 (2+0+0+6=8).
Rara bayi yang sehat dan lucu. Dalam perkembangan ia tidak cadel. Sampai suatu hari ada tetangga baru yang memiliki anak seusia Rara namun ngomongnya cadel. Karena tak punya banyak teman seusia, Rara pun bergaul dengan Ajar, si anak cadel tadi.
Selanjutnya bukan si bocah cadel yang menjadi normal karena bergaul dengan Rara. Sebaliknya, Rara lah yang jadi ikut-ikutan cadel.
Ada beberapa kemungkinan mengapa hal itu terjadi. Pertama, pasti tak gampang mengubah anak cadel menjadi tak cadel. Butuh waktu yang lama karena itu terkait dengan lidah dan daya pikir si anak itu sendiri.
Kedua, kebetulan, meski lelaki, Ajar lebih cerewet dibanding Rara. Ia sering mampir ke rumah dengan memanggil-manggil “Yaya (Rara)…Yaya…main yuk.” Dalam berkomunikasi Ajar pun sering menyebut aku sebagai Atun.
Penyebutan Atun itulah yang sering ditiru oleh Rara. Hingga Ajar akhirnya pindah rumah empat bulan kemudian, Rara lebih enjoy menyebutnya Atun dibanding nama aslinya.
Pernah dikasih tahu bahwa nama Atun sering dipersonifikasikan dengan sosok Suti Sukarno, Adik Rano Karno dalam sinetron si Doel Anak Sekolahan. Tapi penjelasan itu percuma karena ia tak memahaminya.
Hingga beberapa bulan sebelum hari ulang tahunnya ke lima, Rara masih lebih suka dipanggil Atun. Bahkan kini ia punya nama panjang yakni Atun Surotun Golagotun Markotun.