Kado Amanda Buat Eyang 2 (Habis)


Cerpen Kolaborasi Bersama Erlina Jusup

Wisuda sarjana adalah momentum paling mengharukan bagi siapapun. Kala itu semua orang, terutama orangtua kita, akan larut dalam kegembiraan. Tugas mereka membiayai sekolah anaknya seolah sudah rampung. (Lihat, Kado Amanda Buat Eyang 1)

Padahal perjalanan hidup masih panjang. Perjalanan sesudah bergelar sarjana itulah merupakan perjalanan hidup sesungguhnya.Perjalanan hidup yang tak boleh lagi tergantung orangtua.

Selepas wisuda, Djarot dan Hanum kembali ke kotanya masing-masing. Untuk sementara waktu menikmati euphoria menjadi sarjana. Komunikasi melalui handphone tetap terjalin diantara keduanya.

Meskipun cincin tunangan belum sempat terpasang di jari Hanum tetapi Djarot sudah memberikan cincin itu secara diam-diam kepada Hanum. Sebenarnya, tanpa cincinpun ikatan hati diantara keduanya sudah demikian erat. Keberadaan cincin hanyalah sebuah simbol yang diharapkan dapat memperkuat hubungan keduanya. Tentu saja yang terpenting adalah sebagai pertanda bahwa si pemakai cincin sudah terikat janji, tak boleh diganggu lagi oleh selain pemberi cincin tersebut.

Ketika Seleksi penerimaan CPNS digelar di daerahnya, Djarot tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Biarpun semua orang berpikir bahwa ia tak akan lulus bila hanya mengandalkan kepintarannya tanpa kedekatan dengan pejabat ataupun membayar sejumlah uang sebagai sogokan, Djarot tetap mengikuti ujian itu. Ia yakin dengan janji Allah, bahwa tugas manusia sebagai hamba itu hanyalah berusaha dan berdoa sementara ketentuan berada ditanganNya.

Sementara Hanum, ia lebih banyak di rumah saja. Semakin hari tubuhnya terlihat semakin kurus. Perpisahan sementara dengan Djarot sudah sangat menyiksanya. Ditambah lagi dengan keinginan ayahnya agar Hanum mulai membuka diri dengan Doddy, asisten kepercayaan ayahnya yang sudah mengabdi bertahun-tahun.

“Tidak salah kamu mencoba berteman dengannya. Doddy lelaki baik. Ayah sudah lama mengenalnya. Dengan bantuan Doddy usaha ayah sekarang berkembang pesat. Ayah ingin suatu saat nanti kalian yang mengurus semua aset-aset ayah. Kamu anak ayah satu-satunya. Ayah harap kamu mau memikirkan ini.” Akhirnya Pak Suharto mengungkapkan niatnya.

“Ayah, bukannya Hanum tidak mau mengenal Doddy lebih dekat, tetapi seperti yang ayah ketahui, Hanum sudah berteman dekat dengan Djarot. Hanum mengenal Djarot sudah seperti Hanum mengenal diri Hanum sendiri, Yah. Hanum hanya ingin menikah dengan Djarot bukan dengan yang lainnya! Hanum harap ayah memahami apa yang Hanum rasakan.” Bergetar suara Hanum, ada tangis yang tertahan di tenggorokannya.

“Hanum, kamu terbiasa hidup berkecukupan. Apa yang kamu inginkan selalu ada. Apa Djarot mampu memenuhi semua kebutuhanmu?” Merah padam wajah Pak Suharto mendengar penolakan putrinya. Ibu Siti, ibu Hanum mendekati suaminya. ditenangkannya lalu diajaknya masuk ke kamar agar bertengkaran itu tak berkelanjutan. Posisi wanita separoh baya itu bagaikan makan buah simalakama, satu sisi ia harus membela suaminya, sisi yang lain ia sangat mencintai putri satu-satunya. Ia tak ingin kedua orang yang dicintainya tersebut terluka. Bagaikan menarik rambut dalam tepung, rambut jangan putus tetapi tepungpun tak boleh dibiarkan berserakan.

Berhari-hari Hanum dan ayahnya tidak bertegur sapa hingga kemunculan Djarot dan keluarganya ke rumah orangtua Hanum. Djarot sudah lulus test CPNS dan sekarang sudah ditempatkan di sebuah sekolah SMA Negeri tak jauh dari desanya. Djarot berniat melamar Hanum, melanjutkan lamaran yang tertunda selesai wisuda dulu.

“Begini, Nak Djarot. Sebenarnya Hanum sudah saya jodohkan dengan orang kepercayaan saya. Terus terang saya tidak dapat menerima lamaran ini.” Pak Suharto tanpa ekspressi menolak niat baik Djarot.

“Tapi, Pak! Kami berteman sudah cukup lama, kami saling mencintai, Pak! Ijinkan kami untuk hidup bersama. Saya berjanji akan membahagiakan Hanum semampu saya, Pak!” Djarot masih berusaha melunakkan hati lelaki tua itu.

“Mohon maaf, untuk itu saya tidak bisa merestui kalian.” Pak Suharto masih kukuh dengan pendiriannya. Djarot dan keluarga dengan wajah lesu pamit dari rumah itu.

Di dalam kamarnya Hanum terisak-isak menahan tangis akibat penolakan yang dilakukan ayahnya. Hanum bisa membayangkan perasaan Djarot saat itu.

Dalam perjalanan, Djarot menerima beberapa kali SMS dari Hanum. Isinya antara lain: “Bawa aku dari sini, aku hanya ingin menikah denganmu.” “Tunggu aku di rumah Om Sutrisno” Om Sutrisno adalah adik kandung Suharto, ayah Hanum.

Djarot menunjukkan SMS itu kepada kedua orangtuanya. Kedua orang tua itu tak mampu berkata-kata. Hanya anggukan kepala bapaknya saja yang membuat Djarot berbalik arah.

Diciumnya kedua tangan orangtuanya mohon doa restu. Pilihan untuk menikah tanpa restu orangtua Hanum tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Meskipun tidak terlalu besar, Rumah Om Sutrisno terlihat asri. Tampak mencerminkan kesahajaan yang empunya rumah. Ini kali kedua Djarot menginjakkan kaki di halaman rumah ini. Dulu semasa kuliah Djarot pernah dibawa Hanum ke rumah itu.

Berbeda dengan Pak Suharto, Om Sutrisno sangat menyetujui hubungan mereka. Baginya kehilangan orang yang dikasihi adalah suatu hal yang harus dihindari. Karena alasan inilah Om Sutrisno membujang hingga usianya yang nyaris kepala lima. Ia tak ingin hal yang sama terulang pada diri Hanum, keponakannya.

“Om akan mendukung kalian. Om bisa menjadi wali atas pernikahan kalian. Syaratnya Om ingin kalian menikah sekarang. Karena tidak baik bila Hanum pergi sebelum resmi menjadi isterimu, Nak Djarot. Om sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Om juga sudah memberitahu hal ini dengan ayahmu, Hanum.”

Om Sutrisno berhenti sejenak. Ia memandang Hanum dan Djarot bergantian. Keduanya tampak gundah. Wajahnya menyiratkan harapan agar Om Sutrisno bisa mencarikan jalan keluar terbaik bagi keduanya.

“Begini, “ lanjut Om Sutrisno. “Ayah Hanum orangnya memang keras, pantang baginya menjilat ludah sendiri. Jadi sebenarnya beliau sudah menyerahkan pernikahan kalian kepada saya.”

Kalimat itu benar-benar membuat lega semua yang mendengarnya. Hanum dan Djarot sempat meminta Om Sutrisno mengulang kalimat yang terakhir. Namun anggukan beliau sudah cukup menyejukan hati.

Tak lama kemudian, penghulu datang. Pernikahan Hanum dan Djarotpun terlaksana.

***

Djarot ternyata ditempatkan di sebuah kota kecil di Pulau Sumatera. Mereka kemudian memilih tinggal di sebuah kawasan yang penduduknya belum padat. Meski setingkat kota, kawasan itu terasa sangat sunyi. Hanum awalnya merasa tersiksa, sangat kesepian.

Ayah dan Ibu Hanum sempat menjenguk keadaan puteri mereka dua kali. Pertama adalah setelah mengetahui kelahiran Amanda, cucu pertama mereka.

Kala itu Suharto dan istrinya terharu melihat kehidupan anak tunggalnya. Namun Sutrisno berhasil memberi pengertian kepada abangnya, bahwa keberhasilan dan kebahagiaan seseorang tak bisa melulu diukur dengan uang. Sutrisno justru merasa bangga keponakannya hidup bersahaja.

“Mungkin saatnya Mas untuk sadar, harta benda yang kita kumpulkan takkan bisa dibawa mati. Lebih baik uang yang Mas siapkan untuk Hanum didermakan saja. Banyak orang lain yang lebih membutuhkan.”

Ayah Hanum terdiam. Namun saat pamitan pulang matanya berkaca-kaca. Ia berjanji untuk menghibahkan sebagian hartanya untuk fakir miskin dan anak yatim. Ayah Hanum juga berniat membangun Masjid di kampung halamannya.

Lima tahun kemudian, Suharto dan sang istri muncul lagi tanpa ditemani Om Sutrisno. Kali ini mengejutkan Hanum dan Djarot. Mereka tiba saat Hanum hampir menyelesaikan karya fiksi KCV-nya.

Ayah dan ibu Hanum mengaku kangen sama Amanda. Sang cucu juga tampak senang dikunjungi Eyangnya.

Hampir sepekan mereka tinggal di rumah Hanum. Suharto banyak bercerita tentang apa-apa yang sudah dilakukan setelah dari rumah Hanum. Sudah menyumbang anak yatim, sudah membangun masjid, bahkan mereka juga sudah punya anak angkat.

Meski sudah mengetahui semuanya melalui komunikasi jarak jauh, Djarot dan Hanum tetap senang mendengarnya. Mereka ikut berbahagia. Apalagi kedua orangtua itu berjanji menerima tawaran tinggal bersama di rumah Hanum jika merasa sudah tak betah di Jawa.

Sebelum pulang, Hanum memberikan kado buat ayah-ibunya. Katanya kado itu khusus dibuat Amanda buat Eyang tersayang. Eyang kakung lalu dipersilahkan membuka kado dari Amanda. Semua bedebar-debar menantinya.

Begitu dibuka ternyata berisi kue kecil berbentuk hati. Pada kue itu terdapat kertas warna pink bergambar tiga orang bertuliskan kakek, nenek, dan Amanda. Di bawah gambar itu terdapat sebaris tulisan tangan Amanda.

Suharto dan istri membaca keras-keras. “Happy Valentine’s Day. Amanda sayang sama Eyang. Muuuach. ”

Amanda dan Eyangnya saling berpelukan. Tampak sekali, mata Suharto, dan istrinya berkaca-kaca. Kali ini karena mereka teramat bahagia.

Kado Amanda Buat Eyang (1)


Cerpen Kolaborasi Bersama Erlina Jusup

Kota kecil itu tak lagi sunyi bagi Hanum. Meski lokasinya tetap jauh dari pusat keramaian, bahkan jalan rusak penuh lubang menuju rumahnya belum juga diperbaiki, Hanum tak lagi merasa kesepian.

Sejak berdirinya Base Transceiver Station (BTS) operator seluler di kota itu, sinyal handphone dan internet bukan lagi sebuah masalah. Sebagian warga merasa menjadi lebih mudah berinteraksi bahkan hingga ke luar negeri.

Secara fisik, saat malam tiba, kota itu tampak sepi. 10 tahun terakhir tak ada pembangunan fisik. Orang bilang karena kota itu berada di Sumatera, bukan di Jawa. Namun kehadiran sinyal telepon jauh lebih penting dari sekadar pembangunan jalan dan gedung-gedung.

Djarot, suami Hanum memberi hadiah sebuah laptop berikut modem pada ulang tahunnya ke-30. Katanya, agar ia dan anak-anak mengetahui perkembangan dunia luar. “Nonton televisi saja hanya bikin kita tambah bodoh. Kalau internet kita bisa memilih pengetahuan yang bermanfaat.” Ungkap sang suami.

Meski televisi menjadi satu-satunya hiburan sebelum internet di rumah itu, pasangan Hanum-Djarot tak membiarkan anak-anaknya seharian di depan televisi. Mereka menganggap sebagian besar acara televisi, terutama sinetron dan infotainment, terlalu berlebihan sajian dan ceritanya, tidak mendidik!

Dengan internet, mereka bisa mencari hal-hal yang sulit ditemukan di kota itu. Menggali ilmu pengetahuan dan membuat anak semata wayangnya, Amanda, bisa belajar huruf dan kata. Dan terbukti lebih efektif, Amanda jadi bisa cepat membaca.

Bagi Hanum sendiri, dengan laptop dan modem ia bisa terkoneksi dengan jaringan dunia maya. Kegemarannya akan dunia fiksi semakin menjadi. Beberapa komunitas fiksi ia jelajahi dan beberapa ia ikuti. Dari awalnya hanya membaca, Hanum selanjutnya memberanikan diri untuk mulai menulis dan tanpa ragu mempublish karya-karyanya tersebut.

Satu dua fiksi semula ia tunjukkan kepada suaminya. Lama lama langsung kirim, karena suami sudah mempercayainya 100 persen. “Yang penting jangan berisi hasutan,” ucap Djarot, suami tercinta yang ia kenal sejak bangku kuliah.

Suatu hari, salah satu komunitas fiksi yang diikuti Hanum membuka ajang Kolaborasi Cerpen Valentine [KCV]. Hanum berharap suaminya lah yang menjadi partner menulis dalam event itu. Perjuangan cinta mereka sepertinya layak untuk diangkat menjadi tema KCV.

***

Bagi orang yang tidak mengenal secara dekat, Hanum dan Djarot adalah sepasang kekasih yang sangat serasi. Hanum yang berkulit kuning langsat, bertubuh ramping, tinggi semampai berjalan beriringan dengan Djarot yang bertubuh atletis.

Setiap hari mereka berdua selalu terlihat beriringan pergi dan pulang kuliah bersama. Tempat kos mereka berdekatan. Tetapi taraf hidup orang tua keduanya berlainan. Hanum berasal dari keluarga berada, sementara Djarot berasal dari keluarga sederhana yang tinggal di desa terpencil di Pulau Sumatera.

Namun cinta terkadang tak memandang status sosial. Kesamaan cara pandang dalam menghadapi masa depan menjadi perekat utama. Hanum dan Djarot bertekad meraih gelar Sarjana Pendidikan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Keduanya ingin mengabdikan ilmu yang mereka peroleh secara maksimal.

Dengan kesungguhan hati, target lulus cepat pun tercapai. Hanum dan Djarot diwisuda secara bersamaan. Mereka memberitahu kabar gembira itu kepada orangtua masing-masing.

Djarot berencana akan melamar Hanum selepas acara wisuda nanti. Sepasang cincin tunangan sudah dipersiapkan. Djarot membelinya dari sisa beasiswa ditambah dengan honor memberikan les bahasa Inggris kepada sejumlah siswa SMP dan SMA.

Acara wisuda berlangsung meriah. Semua wajah terlihat bergembira. Djarot menerima penghargaan sebagai wisudawan dengan predikat Cum Laude. Orangtua Djarot gembira hingga meneteskan air mata. Mata Hanum pun berkaca-kaca karena sahabat sekaligus orang yang dicintainya itu telah membuktikan bahwa status sosial tidak bisa dijadikan ukuran keberhasilan seseorang dalam dunia pendidikan.

Selesai wisuda, rombongan kecil itu bergerak menuju rumah makan yang sudah direncanakan Djarot dan Hanum sebelumnya. Djarot sengaja meminjam mobil seorang dosen yang selama ini sering memakai jasanya sebagai asisten. Sementara Hanum dan kedua orang tuanya menaiki mobil mereka sendiri.

Meskipun suasana gembira meliputi acara makan siang itu, tetapi tak dapat dipungkiri Djarot merasakan ketegangan yang luar biasa. Ketakutan akan ditolak menjadi menantu di keluarga Hanum membuat selera makan Djarot berkurang. Nasihat kedua orang tuanya sajalah yang menguatkan hati Djarot untuk tetap pada rencananya semula.

“Jadi lelaki itu harus berani, Nak! Apabila keinginan dihati sudah bulat, satukan tekad, wujudkan!” Ayah Djarot yang dikenal pendiam itu bicara lantang untuk meyakinkan anak semata wayang dalam menggapai mimpinya. Djarot hanya menundukkan kepala saja.

Djarot meminta kepada pelayan untuk membersihkan sisa makanan. Ternyata hanya Djarot yang tidak berselera makan, yang lain terlihat tak menyisakan makanan di piringnya masing-masing. Tak salah Hanum memilih rumah makan kegemaran mereka ini untuk menjamu orangtua mereka.

“ Bapak dan Ibu yang saya hormati! Ijinkan saya untuk menyampaikan hajat dihati. Sebenarnya pada kesempatan ini saya ingin melamar putri Bapak dan Ibu untuk menjadi pendamping hidup saya dunia dan akhirat.” Begitulah Djarot berkata setelah berhasil menenangkan degup jantung yang memburu. Ia memandang Hanum, berharap anggukan kepala tanda setuju.

“Nak Djarot, bukannya kami tidak setuju dengan niat kalian. Tetapi ini terlalu cepat. Lebih baik kalian mencari pekerjaan terlebih dahulu, berkarir dalam dua atau tiga tahun ini sehingga cukup modal untuk berkeluarga. Bapak dan ibu tidak ingin kalian mengalami masalah rumah tangga hanya karena ketiadaan dana.” Sepertinya kata-kata yang keluar dari mulut Pak Suharto, ayah Hanum sudah direncanakan dari awal. Teratur, indah, dan terlihat tenang-tenang saja.

“Bila Bapak ijinkan kami hanya ingin bertunangan saja dahulu. Mungkin pernikahan akan dilaksanakan di saat kami sudah siap lahir bathin.” Djarot berusaha bernegosiasi.

“Biarlah kami pikirkan dahulu masalah pertunangan ini. Kami harap kalian memahami kondisi kami.” Pak Suharto terus mengelak, Hanum memandangi ayahnya yang seolah-olah memiliki rencana berbeda.

***

Hanum tertegun di depan laptop. Pikirannya menerawang ke masa lalu. Ah, betapa pengalaman masa lalu, sekalipun pahit, selalu menjadi manis untuk dikenang.

Ia lalu menutup laptopnya. Ia harus menghentikan sementara menulis fiksinya karena harus menjemput Amanda di sekolah. Hanum menjemput sang anak dengan sepeda motor bebek maticnya.

Di sekolah, Hanum terlibat obrolan dengan para ibu lainnya. Obrolan itu diakui Hanum sebenarnya tak bermutu karena berisi sekitar gosip tentang guru, orangtua siswa , hingga para suami mereka. Hanum tak menghindarinya karena dari perbincangan tersebut sering memunculkan ide untuk fiksi-fiksinya.

Hingga bel sekolah berbunyi kadang-kadang obrolan kaum ibu penjemput anak itu tak juga berhenti saking serunya. Untungnya Hanum bisa mengendalikan diri. Ia memilih langsung pamit untuk menjumpai anaknya dan pulang bersama. Ia berharap segera setelah sampai di rumah dapat melanjutkan tulisan karya fiksi KCV yang tertunda.

Saat melepas baju seragam Amanda, tiba-tiba bocah itu bertanya. “Bu, hari Valentine itu apa sih?” Hanum terdiam sejenak mendengar pertanyaan itu. Beberapa hari lagi memang perayaan Valentine, dan Hanum kini sedang mencari ending fiksinya yang paling menarik.

“Oh, itu hari kasih sayang, Nak. Seperti Ibu sayang Amanda, Amanda sayang teman. Atau Amanda sayang si pus kucing kita.” Hanum memandang anaknya yang tampaknya belum paham.

“Hari Valentine biasanya dirayakan oleh orang-orang kota. Kalau di sini nggak ada yang merayakannya karena mereka kurang mengenal.” Hanum tetap melihat aroma tak puas di wajah Amanda.

Hanum jadi ingat masa kecilnya. Kala itu ia mendapat hadiah baju indah warna pink dan coklat berbentuk hati dari ayahnya di hari Valentine. Ia juga memperoleh sejumlah buku komik kesukaannya. Sejak kecil ia memang gemar membaca dan pernah bercita-cita jadi penulis novel.

Ayahnya menjelaskan bahwa hadiah itu sebagai simbol kasih sayang ayah pada anak. Kala itu, ayahnya memang sangat memanjakannya. Hanum pun menjadikan ayah sebagai salah satu idolanya.

Ah, tapi Hanum buru-buru melupakan lamunannya. Ia tak ingin masa kecil Amanda disamakan dengan masa kecilnya. Hanum tak ingin materi jadi ukuran utama dalam mendidik anak.

Ia tak ingin memaksakan Amanda untuk mengetahui apa makna Valentine’s Day sesungguhnya. Hanum ingin Amanda berkembang sesuai dengan lingkungannya, lingkungan kota kecil.

Hanum selanjutnya tenggelam dengan tulisan fiksinya. Djarot juga sibuk dengan pekerjaannya sehingga kolaborasi terpaksa dilakukan via telepon. Tahun lalu Djarot terpilih sebagai guru teladan dan tak lama lagi akan mendapat promosi menjadi wakil kepala sekolah.

Tatkala Amanda datang lagi menanyakan seputar Valentine’s Day, Hanum segera mamanggil asisten rumah tangganya untuk mengajak main sang buah hati. Untuk sementara waktu ia merasa tak bisa diganggu. Meski deadline pengiriman fiksi KCV masih dua pekan, ia tak mau menunda pekerjaan.

Ia ingin karya fiksinya meninggalkan kesan mendalam bagi pembacanya. Dan itu tidak mudah memang.

Tubuh Telanjang Itu Bukan Milik Lastri (2-habis)


patung dewi telanjang (google.com)

Kasus heboh gambar Lastri telanjang yang ternyata cuma rekaan telah lama berlalu. Baik Lastri maupun warga Desa Sumbermanjing sudah lama melupakannya. (liat Tubuh Telanjang itu Bukan Milik Lastri (1)

Apalagi sejak itu Lastri tak pernah pulang ke kampung halamannya. Alasan bahwa ia tak punya lagi orangtua sangat bisa dipahami warga. Sebab tak lama setelah kasus yang menimpanya itu, kedua orangtua Lastri meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan lalu lintas.

“Lastri itu seperti ada dan tiada. Ia ada karena memang dilahirkan dan dibesarkan di desa ini. Namun ia juga tiada karena tak pernah lagi kembali ke desa kita,” kata seorang warga, kepada Tono, mantan pacar Lastri.

Mendengar itu, Tono hanya diam. Ia tentu tak bisa melupakan Lastri dengan segala sifat dan kecantikan yang pernah dikenalnya. Tapi memang, sudah lama Lastri tak mengabarinya. SMS dan telepon dari Tono tak pernah lagi dibalas.

Pikir Tono, mungkin Lastri sudah berumah tangga, bahagia, dan harus melupakan masa lalu. Ia sendiri sudah menikah dengan gadis desa dan dikarunai dua anak balita.

Lebih dari itu, Tono baru saja terpilih sebagai Kepala Desa Sumbermanjing. Meski tak jadi menikah dengan Lastri, oleh warga, Tono dianggap memiliki trah ayah Lastri, trah penguasa. Alasan itulah yang membuatnya memenangkan pemilihan kepala desa.

Usai dilantik, malam harinya Tono berdoa. Salah satu doa yang dipanjatkan adalah agar kedua orangtua Lastri diterima di sisi-Nya. Selain itu, Tono berdoa agar Lastri juga bahagia seperti dirinya.

***

Ah, dimanakah Lastri sekarang?

Sejak sekolah dan tinggal di Kota Malang, Lastri jadi lebih banyak kenalan. Banyak pria berharap bisa menjadi pacarnya.

Ia kemudian mejalin hubungan serius dengan seorang pria blasteran Jawa-Argentina bernama Lionel, teman satu kampus. Pria ganteng itu menjadi rebutan banyak mahasiswi, termasuk teman-teman dekatnya. Karena itu Lastri merasa puas telah menjadi pemenangnya.

Sebenarnya, ada juga yang mengingatkan Lastri agar berhati-hati menjadi pacar Lionel. Ini karena pria tersebut dikenal playboy, kerap gonta-ganti pacar. Kelak Lastri bukan lagi sebagai pemenang, tapi pecundang. Tapi Lastri tak memedulikannya.

Ia mengaku sudah cinta berat sama Lionel. Saking cintanya ia merasa seperti dendang lagu gombloh bahwa kalau cinta sudah melekat tai kucing pun rasa coklat.

Di hadapan Lionel, Lastri benar-benar takluk. Maka ia biarkan mahkota keperawanannya direnggut lelaki itu. “Percayalah sayang, aku akan mencintaimu sampai semati.” Bisikan Lionel di telinga Lastri membuatnya terbuai.

Tak berapa lama kemudian, Lastri harus menerima risiko pilihannya sendiri. Suatu hari ia berkunjung ke tempat kos Lionel tanpa mengabari terlebih dulu. Astaga, di tempat kos itu, Lastri memergoki sendiri Lionel sedang bercumbu dengan seorang mahasiswi yang samar-samar ia kenal wajahnya.

Lastri marah bukan main. Ia berteriak sekuat-kuatnya hingga membuat keduanya kaget. Para penghuni kos, termasuk ibu kos berdatangan. Lionel dan pasangannya dibikin malu.

Sejak itu Lionel diusir dari tempat kosnya. Hubungan asmara Lastri-Lionel putus. Lebih dari itu, Lastri berhenti kuliah. Ia malu. Hatinya hancur.

Apalagi, belakangan ia ketahui bahwa mantan kekasihnya itu pecandu narkoba dan memiliki kelainan seks. Salah satunya suka mengoleksi gambar porno.

Lionel pulalah yang diduga membuat rekaan gambar porno dirinya di handphone beberapa waktu lalu.

Untuk melupakan perasaan kecewanya, Lastri merantau ke Jakarta. Di Jakarta ia tinggal di rumah bulik Mirah, adik bungsu dari bapak Lastri. Ternyata sang bibi yang tadinya dikenal kaya, sekarang sedang bangkrut karena ditinggal suami yang menikah lagi.

Demi menghidupi dua anak yang ikut dengannya, Bulik Mirah kerja di sebuah kelab malam, jadi mucikari. Tadinya, sang bulik tak mau melibatkan keponakannya. Namun keduanya seperti dihadapkan pada kondisi tanpa pilihan.

Lastri lalu diperkenalkan pada salah satu klien bulik Mirah. Semula Lastri merasa jijik, namun demi bertahan hidup di Jakarta, lama-lama ia menjadi biasa. Ia baru tahu betapa keras persaingan hidup di ibukota, dan ia harus menghadapinya. Tak ada pilihan.

Begitulah dalam tempo tidak lama kehidupan Lastri dan buliknya berubah. Tak lagi terlalu miskin.

Lastri ternyata cepat beradaptasi. Ia menjadi wanita panggilan profesional. Bayarannya terus meningkat karena servis yang diberikan selalu memuaskan. Sebagian uang yang diperolehnya ia sumbangkan kepada Bulik Mirah.

Di dunia malam nama Lastri diganti dengan Tania. Kata buliknya itu sengaja dilakukan karena dunia seperti itu merupakan dunia palsu. Nama pun harus palsu. Lastri sempat tertawa mendengar alasan itu.

Setelah menjadi wanita panggilan, ternyata ada satu kliennya yang tertarik menjadikan Lastri atau Tania sebagai wanita simpanan. Tentu saja semua kebutuhan hidupnya terjamin. Rumah, mobil, dan uang di rekening bank lebih dari sekadar cukup.

Dengan persetujuan sang bulik, Tania lalu menjadi istri simpanan. Namun belum setahun ia melakoni hidup seperti itu. Pada tahun ketiga, suaminya tak pernah lagi muncul.

Karena kesepian, Tania lalu menjalin asmara dengan seorang berondong, seorang mahasiswa yang wajahnya mirip seperti Lionel. David namanya.

Belakangan ia tahu bahwa suaminya tak lagi muncul karena hubungan mereka diketahui istri resminya. Sejak itu, ia bahkan kerap memperoleh teror baik via SMS ataupun telepon.

Hal itu membuat Tania ketakutan dan makin kesepian. Pada saat seperti itu ia sempat ingat Tono. Kesehariannya ia kian lengket dengan David. Fatalnya, giliran sang suami yang memergoki ia berduaan dengan David di kamarnya.

Sejak itu selesailah kisah Tania. Berita kematian Tania dan David menjadi headline di sejumlah media massa dan televisi. Apalagi disebut-sebut Tania adalah simpanan seorang petinggi partai yang kini berkuasa.

***

Sesuai pesan kepada buliknya, Jasad Lastri kemudian dibawa pulang ke Sumbermanjing. Warga mulanya menolak kedatangan jasad seorang pelacur seperti Lastri.

Namun sebagai kepala desa, Tono berhasil meyakinkan warganya bahwa Lastri hanyalah korban kebengisan kehidupan ibukota, korban para pria hidung belang. “Tak ada seorang pun mau dan tercipta menjadi pelacur. Kehidupanlah yang memaksa seperti ini,” papar Tono.

Jenazah Lastri kemudian dimakamkan berdampingan dengan kedua orangtuanya. Banyak warga ikut mengantarkan ke tiang lahat. Sebagian dari mereka bahkan menangis mengenang kembali masa kecil Lastri yang ternyata berakhir pahit.

Di televisi dan koran keesokan harinya, Desa Sumbermanjing kembali harum. Kali ini kebaikan warga menerima Lastri banyak dimunculkan dan mengharukan.

Ya mengharukan karena belakangan banyak warga desa seperti main hakim sendiri. Mereka menolak menerima jenazah warga desanya yang dicap terlibat teroris. Padahal, warga tersebut lahir dan dibesarkan di desa itu.

Sampai di rumah, Tono membuka handphone dan membaca kembali SMS panjang dari Lastri yang belum sempat dibacanya.

“Maka di sinilah aku sendiri sekarang menatap cakrawala, dan menitipkan sebuah doa yang penuh harapan untuk hari esok.”

Air mata bergulir tak terasa di pipi Tono setelah beberapa kali membaca SMS tersebut.

Tubuh Telanjang Itu Bukan Milik Lastri (1)


patung dewi telanjang (google.com)

Desa Sumbermanjing, pantai selatan pulau Jawa, tiba-tiba menjadi gaduh. Kasak-kusuk antarwarga tak terelakan. Topiknya hampir sama tentang Lastri, putri mantan kepala desa yang sekolah di kota.

Ya Lastri, bocah berwajah ayu namun bertingkah agak tomboy itu, dianggap telah mencoreng nama desa. Semula warga bangga punya seorang Lastri yang makin cantik dan anggun di kala dewasa. Semua wanita desa berangan-angan bisa seperti Lastri.

Namun foto syur yang beredar melalui handphone di kalangan warga mengubah 180 derajat pandangan warga akan Lastri.

“Anak itu seperti lupa asal-usulnya. Memperlihatkan aurat kepada orang lain adalah dosa besar. Bisa masuk neraka.” Begitu ucap seorang warga.

“Cantik itu untuk suami, bukan untuk dipertontonkan pada orang lain. Lastri bikin malu kita semua.” Warga lainnya ikut mengompori.

Tono, salah seorang pemuda yang pernah menjadi pacar Lastri tak percaya. Namun sikap membela Lastri membuatnya dikucilkan. Tono dianggap tak tahu diri karena sudah ditolak orangtua Lastri, namun masih mati-matian membela dan mengharapkannya.

Oleh sejumlah warga, kasus Lastri itu lalu dikait-kaitkan dengan kejadian sekitar 20 tahun lalu. Ketika itu, Desa Sumbermanjing tiba-tiba saja terkenal menyusul terungkapnya menyelundupan bawang putih melalui pantai yang ada di desa itu.

Di masa Orde Baru itu, pemerintah melarang adanya impor bawang putih meskipun harganya jauh lebih murah. Produk bawang putih petani sendiri lebih diprioritaskan. Namun sejumlah spekulan nekat melakukan penyelundupan bawang putih karena disparitas harga yang menggiurkan.

Kebetulan kasus penyelundupan bawang putih di Sumbermanjing ketahuan. Setelah ditelusuri terungkap bahwa penyelundupan bawang putih menggunakan kapal berbendera Taiwan itu melibatkan sejumlah oknum penguasa lokal, diantaranya kepala desa Sumbermanjing, orangtua Lastri.

Diantara pengungkapan fakta-fakta oleh sejumlah media, ternyata ada salah satu fakta menggelitik. Warga setempat umumnya mengetahui bahwa yang disebut kejahatan adalah sekitar perampokan, pencurian, atau pembunuhan.

Tetapi kejahatan penyelundupan itu apa sih? Tatkala sejumlah warga berunjuk rasa minta penjelasan, kepala desa sedang tak ada di tempat karena diperiksa polisi. Parahnya, Sarwo orang yang dituakan di desa itu juga tak siap menjawab pertanyaan warga.

“Penyelundupan itu apa ya?. Mungkin seperti benang yang diselundupkan kepada sebuah jarum.” tutur Sarwo sekenanya.

Apakah jawaban itu sudah memuaskan warga, hingga sekarang belum jelas. Yang pasti ayah Lastri tak jadi ditahan polisi dan terus menjabat hingga masa jabatannya berakhir.

“Jadi. kisah Lastri tak jauh dari kisah bapaknya. Soalnya anak itu sudah makan uang panas dari bapaknya.” Seorang warga menyimpulkan dan hampir dibenarkan sebagian besar warga lainnya.

***

Setelah 20 tahun berlalu, Desa Sumbermanjing tak banyak berubah, meski sudah memperoleh aliran listrik. Desa itu mulai agak terang pada malam hari karena lampu penerang dipasang di jalan utama desa.

Namun keseharian tetap sama. Para lelaki pergi menangkap ikan di laut sementara para ibu mengasuh anak-anaknya di rumah, selain mengeringkan ikan hasil tangkapan suami. Malam hari pun tetap sepi.

Ada sebagian dari mereka menanam padi yang kian diseriusi manakala mereka tak bisa melaut karena adanya gelombang tinggi.

Jumlah warga yang menghuni desa Sumbermanjing itu pun seolah tak berubah. Ada yang datang karena kelahiran, juga ada yang pergi karena meninggal dunia, juga warga yang pergi merantau ke kota.

Nah, gambar Lastri telanjang itu diperoleh dari salah seorang warga yang kebetulan sedang mudik. Maka dalam hitungan jam, foto dan cerita sekitar foto itu langsung menyebar ke seluruh warga.

Orangtua Lastri sempat terkejut. Ia segera menelepon anaknya dan mendapat penjelasan bahwa tubuh bugil di foto itu bukan dirinya. Orangtua Lastri percaya, tapi warga tidak.

Mereka tetap menganggap Lastri telah terpengaruh budaya pergaulan bebas di kota. Mereka merasa malu, merasa ikut kena aib.

Tono yang sudah memiliki nomor handphone Lastri mengirim SMS tentang kondisi terakhir di desa yang makin panas. Tono berharap Lastri pulang kampung dan menyampaikan penjelasan sendiri kepada warga.

Lastri pun setuju. Ia pulang dengan membawa seorang teman yang ahli dibidang IT. Di depan warga yang berkumpul di balai desa, Lastri lalu menjelaskan bahwa gambar bugil itu hanya permainan tehnologi foto semata atau permainan fotoshop.

Melalu laptop, lalu diperagakan bahwa tubuh telanjang itu bahkan bukan tubuh orang Indonesia, namun bintang film porno dari Asia. Hanya saja kepala bintang film porno itu diganti dengan kepala Lastri.

“Cara menyambungnya memang nyaris sempurna. Tapi kulit Lastri kan coklat, sedang kulit difoto yang seolah Lastri itu putih,” papar Lastri.

Warga tampaknya belum mengerti. Penjelasan itu dianggap terlalu tinggi, terlalu berat.

Sambil membesarkan ukuran foto, Lastri berkata lagi. “Begini saja, pada bahu kiri foto wanita ini ada gambar tato bunga, sedang bahu Lastri tak ada.” Lastri menegaskan sambil menyibak baju untuk memperlihatkan bahu kirinya yang bersih.

“Satu lagi nih, di leher Lastri kan ada andeng-andeng (tahi lalat), sedang gambar itu tak ada. Jadi jelas gambar itu bukan gambar Lastri. Lastri tak pernah sekalipun foto telanjang. Itu perbuatan dosa!.”

Warga mengangguk-angguk, tapi tak diketahui secara pasti apakah mereka mengerti atau tidak. Mereka kemudian bubar, meski masih tersisa pertanyaan; mengapa Lastri menjadi korban perbuatan iseng si pembuat foto bugil tersebut.

Lastri sendiri tak berusaha menjelaskannya karena ia tak yakin hal itu bisa memuaskan warga.

Yang pasti, sejak itu tak ada lagi kasak-kusuk tentang Lastri. Warga menganggap, kedatangan Lastri sudah menjawab semuanya.

Wanita itu pun memilih kembali ke kota menjelang pergantian tahun. Katanya,  merayakan malam pergantian tahun di sana yang lebih semarak dibanding di desa.

Lastri tak lupa berterimakasih kepada Tono yang masih mempercayainya.

Tono tersenyum puas. Ia sempat mengantar kepergian Lastri dari kejauhan. Tono sadar Lastri tidak diciptakan untuk dirinya. Ada jarak yang memisahkan keduanya dimana Lastri harus menjalani hidupnya di Kota sedang Tono di desa, sebagai nelayan.

Tapi ia tetap merasa beruntung, Lastri sempat singgah dalam kehidupannya.

“Cinta memang tak harus saling memiliki,” pikirnya.

Entah mengapa, sejak itu hidup Tono menjadi lebih optimis.

Maka di sinilah aku sendiri sekarang menatap cakrawala, dan menitipkan sebuah doa yang penuh harapan untuk hari esok,” ucap Tono kepada laut yang menjadi lebih indah seperti indahnya wajah Lastri.