Penumpang Terlambat yang Selamat


pramugari

(Sekadar ilustrasi) Kesibukan di Bandara Juanda Surabaya Minggu (21/12). Pramugari hendak terbang dan barang-barang penumpang dari bagasi pesawat yang diturunkan.

Nurlita telah lama jadi anak yatim-piatu. Kedua orangtuanya meninggal dunia sejak ia remaja. Namun Lita tetap merasa beruntung karena memiliki orangtua angkat yang menyayanginya seperti terhadap anak kandung sendiri.

Usai shalat Tahajud, Lita pun memanjatkan doa untuk bapak ibunya yang sudah beristirahat di alam baka. Juga untuk keselamatan kedua orangtua angkatnya, pasangan Mursidan-Aryanti.

“Tuhan, terimalah doaku untuk bapak dan ibu di alam sana. Semoga mereka selalu berada disisiMU. Tuhan, jagalah juga bapak-ibu angkatku di sini. Beri mereka kesehatan dan keselamatan.”

Tatkala Lita diterima bekerja di bagian sumber daya manusia sebuah perusahaan nasional, orangtua angkatnya sangat bangga. Mereka bangga karena Lita memperoleh pekerjaan sesuai minatnya. Mereka bangga karena ia memperoleh pekerjaan atas usahanya sendiri, tanpa mengeluarkan banyak uang, dan koneksi.

“Baik-baiklah bekerja. Tunjukkan pada semua orang bahwa kamu karyawati yang hebat.” Begitu pesan orangtua angkatnya saat Lita pamit masuk kerja di hari pertama. Ia mencium pipi kanan dan pipi kiri Lita seperti terhadap anak sendiri.

***

Bagaimana Lita bisa tinggal bersama orangtua angkat yang sangat baik, ceritanya panjang.

Lita ditinggal ibu kandung saat ia masih duduk di taman kanak-kanak (TK). Ibunya meninggal karena sakit yang dideritanya sejak lama.

Lita kecilpun selanjutnya tinggal bersama bapak. Tapi tak lama kemudian bapak Lita menikah lagi dengan janda beranak dua. Saat itulah, Lita merasakan tak enaknya hidup bersama ibu dan saudara tiri.

Hanya di hadapan bapak, ibu dan saudara tiri itu bersikap baik terhadap Lita. Selebihnya, mereka memperlakukan Lita seperti sampah. Lita benci selalu diperlakukan tidak adil. Ia ingin berontak, namun tak pernah didukung bapaknya.

Lalu bapak meninggal dunia karena kecelakaan mobil yang dikemudikannya saat pergi ke luar kota. Menurut polisi, rem blong menjadi penyebab utama kecelakaan tunggal tersebut. Lita merasa aneh dengan alasan itu karena setahunya bapak sangat rajin mengecek kondisi mobil termasuk melakukan perawatan rutin.

Kecurigaan Lita memang baru muncul belakangan. Khususnya dikaitkan dengan harta warisan bapak yang sebagian besar jatuh ke tangan ibu tirinya.

“Kadang-kadang manusia menjadi lupa diri, menggunakan segala untuk mengeruk harta yang mungkin bukan haknya. Mungkinkan ibu tiri itu berada di balik musibah yang dialami bapak?” Lita menuliskan kecurigaan itu dalam blog pribadinya.

Sejak itu Lita memilih tinggal bersama nenek dari pihak ibu di sebuah kota Malang. Jawa Timur. Kakek-nenek dari pihak bapak sudah lama tiada. Tapi sang nenek satu-satunya akhirnya juga meninggal dunia.

Saat Lita benar-benar hidup sebatang kara, seorang pemuda desa masuk ke rumah dan memperkosanya. Hidup Lita jadi gelap. Ia pun memilih bunuh diri dengan cara minum racun serangga, namun gagal. Ia muntah-muntah dulu sebelum menenggak habis racun itu.

Tahu-tahu Lita sudah dirawat di rumah sakit tanpa ada yang menungguinya.

Lalu muncul pasangan Mursidan-Aryanti dan memboyong Lita kembali ke Jakarta.

***

Siapakah pasangan Mursidan-Aryanti? Semula mereka hanya menyebut sebagai sahabat ibunya semasa sama-sama mengenyam bangku kuliah.

Belakangan hubungannya makin jelas. Bahwa mereka sempat terlibat cinta segitiga. Sang ibu yang sakit-sakitan akhirnya merelakan Mursidan menikah dengan Aryanti, sahabatnya.

Persahabatan mereka bertiga terus berlangsung hingga sebelum ibunya meninggal dunia. Saat itu Mursidan-Aryanti berjanji akan merawat Lita.

Masalahnya, setelah ibu meninggal, Lita masih punya bapak kandung. Lalu pasangan orangtua angkat itu kehilangan jejak Lita yang hijrah ke Malang. Saat menemukan Lita, kondisinya sangat menggenaskan.

“Kami terlambat menemukanmu. Tapi percayalah nak, kamu sekarang aman bersama kami di sini.” Demikian pak Mursidan, ayah angkat Lita memberi jaminan.

Orangtua angkat Lita memiliki seorang anak perempuan. Namun sianya jauh di atas Lita. Kehadiran Lita di rumah itu diharapkan meramaikan suasana keluarga.

Namun harapan mereka tak segera terwujud. Trauma pemerkosaan tak mudah dihilangkan dari kejiwaan Lita. Ia kerap murung, bahkan ketakutan jika ada pria mendekatinya.

Lita juga sempat curiga dengan orangtua angkatnya itu. Ia takut memperoleh perlakuan sama seperti tatkala tinggal bersama ibu dan saudara tirinya.

Di rumah orangtua angkat yang besar, Lita sempat kembali berusaha bunuh diri dengan menyilet kulit nadinya. Lagi-lagi gagal karena keburu kepergok kakak angkatnya.

Dengan kesabaran dan kasih sayang yang tulus, orangtua angkatnya membawa Lita untuk terapi. Lita juga dibawa ke seorang ustadz dan memperoleh pelajaran agama yang sebelumnya tak pernah ia peroleh.

Perlahan tapi pasti Lita kembali memperoleh kepercayaan diri. Ia diterima di sebuah perguruan tinggi negeri, lulus lebih cepat dari waktu yang ditargetkan, dan diterima bekerja di sebuah perusahaan nasional, tak lama setelah lulus kuliah.

Nah, setahun setelah bekerja dan Lita memperoleh hak cutinya, orangtua angkatnya Lita mengajaknya berliburan ke Eropa. Selain berliburan, mereka juga akan menjenguk kakak angkatnya yang menikah dengan seorang pria Jerman dan menetap di negeri itu.

Meski Lita sudah punya penghasilan sendiri, semua biaya liburan ditanggung kakak angkat.

Namun pada hari H keberangkatan liburannya ke Eropa, tiba-tiba Lita memperoleh telepon dari bosnya. Ada informasi penting yang hanya diketahui Lita dan hari itu harus diselesaikannya. Tak bisa ditunda.

Lita melihat jam dan memutuskan mampir ke kantor duluan sebelum ke bandara. Ia segera memesan taksi. Orangtua angkatnya setuju untuk bertemu di bandara.

Di luar dugaan, setelah pekerjaan kantor selesai dan meluncur ke bandara, terjadi kecelakaan lalu lintas di jalan tol. Jalan pun tersendat. Lita panik karena tak punya alternatif pilihan mencapai bandara.

Begitu jalan tol lancar kembali dan taksi yang ditumpanginya tiba di bandara, Lita sudah terlambat. Pesawat yang harus ditumpanginya sudah tinggal landas.

Lita kecewa sekali. Namun bukan berarti gagal. Dari BBM-an terakhir dengan orangtua angkatnya, Lita berjanji menyusul terbang ke Eropa. Toh, ia kini punya uang tabungan sendiri.

Lalu ia memesan tiket penerbangan ke Eropa yang ternyata hanya ada jadwal penerbangan keesokan harinya.

Dengan perasaan campur aduk: kecewa, capek, lemas, Lita pulang kembali ke rumahnya. Ia langsung merebahkan diri di kamar dan tertidur.

Begitu bangun tidur dan menghidupkan saluran TV, Lita menyaksikan tayangan hilangnya pesawat yang diduga mengalami kecelakaan. Begitu menyebut nama pesawat dan penerbangan, Lita langsung berteriak.

“Ya ampun itu kan pesawat yang harusnya aku tumpangi.”

Lita segera ingat pada kedua orangtua angkatnya. Ia langsung menangis membayangkan kemungkinan yang akan terjadi. Selamat dalam kecelakaan pesawat nyaris tak pernah terjadi.

Lita segera menelepon kakak angkatnya. Dari seberang telepon ia hanya mendengar suara tangis kakaknya. Telepon itu lalu diambil alih suaminya. Lita ngobrol dengan suami kakak angkatnya sambil menangis.

Saat itu Lita tak tahu harus berbuat apa. Ia hanya bisa menangis. Ketika telepon berbunyi, Lita segera mengangkatnya. Ia berharap itu dari kakak angkatnya di Jerman. Ia ingin ngobrol dengannya, ingin menguatkannya. Ia yakin kakak angkatnya lebih berduka karena kehilangan orangtua kandung dibanding dirinya.

“Halo, ini rumah Pak Mursidan.” Lita mengiyakannya.

“Bisa bicara dengan Nurlita, anaknya?”

Begitu Lita menyebut dia sendiri, sang penelepon mengungkapkan asalnya dan ingin mewawancarainya. Saat itu juga Lita dengan spontan menutup teleponnya. Ia sedang berduka cita, tak mau diwawancarai.

Ketika telepon kembali berdering beberapa kali, Lita mengangkat gagangnya dan manaruh disampingnya supaya tak kembali mengeluarkan suara yang menganggunya.

Dalam kesedihannya yang mendalam, Lita kembali mengingat orang-orang yang mengasihinya. Mengapa mereka duluan yang dipanggil Tuhan? Mengapa bukan dirinya saja yang berada dalam pesawat? Mengapa cobaan terhadap hidupnya seakan tiada berakhir?

Saat melamun, suara ketukan di pagar rumah depan mengagetkannya. Ia mencegah pembantu rumah tangga untuk membukanya. Dari tirai jendela yang masih tertutup, Lita melihat sejumlah pria dan wanita yang diduga wartawan, berusaha masuk ke halaman rumah.

Lita memerintahkan pembantunya untuk tetap di rumah. Ia langsung mematikan televisi dan masuk ke dalam kamar, menguncinya dari dalam.

Di dalam kamar Lita membuka laptop dan mencari perkembangan informasi soal perkembangan kecelakaan pesawat. Di sana muncul daftar nama atau manifes penumpang pesawat yang diduga sebagai daftar korban kecelakaan maut. Di manifes itu ada nama kedua orangtua angkatnya.

Nah, dari daftar itulah keluarlah nama dirinya, Nurlita sebagai satu-satunya penumpang selamat. Ia pun menjadi orang paling dicari wartawan yang sebagian mungkin sedang menongkrongi pagar rumahnya.

Sebuah situs berita memajang foto yang diambil dari facebooknya dengan judul Inilah Satu-satunya Penumpang Terlambat yang Selamat. Padahal ia sama sekali tak pernah bertemu wartawan penulis berita tersebut.

Lita benci berita itu. Ia memang selamat tapi jiwanya kembali terguncang.

——————–

* Tulisan ini pernah saya publikasikan di Kompasiana 2012. Saya update sedikit sekadar mengenang perasaan keluarga korban dan liputan wartawan setiap kali terjadi musibah pesawat terbang.

Perjalanan Sepi Nenek Onah


Onah terdiam di sudut Stasiun Tanah Abang. Pandangannya kosong. Ia batal berpergian menggunakan kereta ke arah Bogor karena KRL ekonomi *  jurusan itu sudah habis.

“Tinggal commuterline nek. KRL ekonomi terakhir baru saja berangkat,” kata petugas loket stasiun.

Petugas itu kemudian menyarankan nenek Onah menggunakan commuterline. Ia menyebut kereta itu lebih nyaman karena ada AC-nya. Tarifnya juga sekarang tidak mahal– karena tarif progresif.

“Nenek nggak biasa naik kereta AC. Nenek lagi nggak enak badan.” Onah menyampaikan alasannya.

“Tapi kereta ekonominya sudah habis. Tinggal kereta AC.”

“Ada lagi kapan? Nenek mau nunggu…”

“Sudah habis nek. Besok pagi baru ada lagi.”

Karena antre, petugas loket menyuruh Onah minggir untuk memberi kesempatan penumpang di belakangnya yang sudah gregetan. Sang nenek pun terdesak karena petugas loket tak mau melayaninya lagi. Nenek Onah lalu pergi ke sudut stasiun.

Lalu lalang calon penumpang commuterline melintas di depannya.  Mereka tak ada yang peduli. Merela mungkin menganggap, nenek Onah yang penampilannya kumuh seharusnya tak berada di keramaian lobi stasiun malam-malam.

***

Onah sudah lama tak naik KRL karena sakit. Sehari-hari, ia adalah pemulung di kawasan Stasiun Tanah Abang. Sesekali ia merima jasa membuatkan minuman kopi dan teh  untuk para pekerja seks di kawasan Bongkaran yang lokasinya dekat stasiun.

Untuk mengisi kebosanan, karena sudah lama menjanda, biasanya Onah naik KRL ke arah Bogor, lalu kembali ke rumahnya di Tanah Abang menjelang malam.

Suatu hari ia berkenalan dengan seorang pengemis tua bernama Jampar. Entah mengapa Onah jadi akrab dengan pria renta itu. Di matanya, kakek tua tersebut lucu karena sering ngebodor. Sudah lama Onah tak tertawa terpingkal-pingkal. Kenalan barunya itulah yang berhasil membuatnya kembali bisa tertawa lebar.

Karena sering bertemu, Onah jadi rela membantu Jampar mengemis. Berdua mengemis ternyata memperoleh uang cukup banyak. Mungkin orang kasihan melihat pasangan tua masih mengemis. Padahal mereka seharusnya berada di rumah, menimang cucu, menikmati masa tua.

Mengenal Jampar, juga membuat Onah merasa lebih beruntung. Betapa tidak, ia masih punya anak dan cucu yang tinggal bersama meski kondisi ekonomi tak lebih baik. Sedang Jampar hidup sebatang kara.

Jampar mengaku masa mudanya kebanyakan dihabiskan untuk bersenang-senang. Ia berkali-kali menikah dan pernah punya anak. Namun ia tak pernah tahu dimanakah para anak kandungnya sekarang. Mantan istri-istrinya sudah tak ada yang peduli dengan kondisinya.

Di masa tua, dimana fisik tak lagi bisa diandalkan untuk bersenang-senang, Jampar pun hanya bisa mengemis demi mempertahankan hidupnya. Ia mengaku menyesal tak memikirkan masa tua. Ia kini sudah insyaf meski sudah terlambat. Bersama Jampar, Onah jadi membawa mukena kemana-mana. Jampar sering mengajaknya shalat berjamaah.

“Biar tua begini, aki masih sanggup gituan loh. Onah mau dites?” kata Jampar tertawa seraya tangannya menunjuk sekor kucing yang sedang menggigit tengkuk pasangan yang hendak dibuahinya.

Onah ikut tertawa. Ia tahu Jampar cuma bercanda. Dan bercandalah yang hanya bisa mereka lakukan di masa tua.

***

Beberapa hari kemudian, Onah akhirnya naik KRL ekonomi ke arah Bogor untuk menemui Jampar. Kakek itu biasanya mangkal di Stasiun Depok Baru.

Onah sempat bingung karena karcis yang biasanya ia pegang kini berganti  dengan kartu elektronik. Seumur-umur ia baru memegang kartu seperti itu. Sempat terlintas dibayangannya, apakah kartu tersebut bisa digunakan untuk mengambil uang seperti yang digunakan orang-orang dengan ATM- nya?

Tentu saja Onah tak tahu cara menggunakannya. Ia berdiri sebentar menyaksikan orang-orang menggunakan kartu elektroniknya. Namun saat gilirannya tiba, tetap saja Onah tak tahu cara menggunakan kartu single trip itu sehingga harus dibantu petugas keamanan setempat.

Setelah sukses menggunakan kartu elektronik, Onah baru tersadarkan dengan suasana baru Stasiun Tanah Abang yang lebih bersih dari biasanya. Tak ada lagi toko-toko yang biasa menjual makanan dan minuman, juga tak ada lagi gembel yang biasanya seliweran atau ikut duduk di deretan bangku penumpang.

Kereta ekonomi yang ia tumpangi juga lebih padat dari biasanya. Jumlah pengemis dan pengamen lebih banyak. Satu gerbong bisa sampai tiga orang pengemis. Pengamen pun harus tahu diri karena tak mungkin mereka beraksi dengan profesi serupa dalam satu gerbong.

“Loh, nenek nggak tahu ya. KRL ekonomi kan mau dihapus,” kata seorang penumpang yang duduk di sebelahnya.

KRL ekonomi sudah dianggap tak layak digunakan. Semua kereta api sekarang adalah kereta api yang ada AC-nya. Sebelum dihapus, jumlah kereta api ekonomi dikurangi jumlahnya.

“Jadinya ya begini, pengamen dan pengemis jadi numpuk,” imbuh penumpang tersebut.

Sampai di Stasiun Depok Baru, Onah kembali terkejut karena stasiun itu juga sudah bersih. Tak ada kios pedagang kaki lima yang biasa ramai memenuhi peron stasiun. Tak ada gelandangan, pengemis, juga preman yang kerjanya memalak sesama orang miskin. Onah jadi kehilangan tempat bertanya.

Di sudut stasiun itu, nenek Onah hanya bisa termangu. Duduk seorang diri. Biasanya di tempat itu ia bersama Jampar. Ngobrol kecil dan tertawa bersama.

“Jadi pengen muda lagi,” kata Jampar suatu hari.

“Emang kenapa?”

“Biar bisa macarin Onah.”

“Katanya sudah insyaf.”

“Hahaha …Iya. Mungkin kalau bertemu Onah sejak muda, insyafnya juga lebih muda.”

Onah diam. Ia juga sempat membayangkan berjumpa Jampar saat sama-sama masih muda. Oh, alangkah indahnya berumah tangga dengan lelaki itu. Pasti hidupnya penuh canda-tawa.

“Nenek Onah ya?”

Suara teguran itu mengejutkan Onah. Teguran itu berasal dari seorang pria yang berhenti di hadapannya setelah menyusuri rel.

“Nenek pasti cari kakek Jampar ya? Ia sudah meninggal dunia nek, seminggu lalu,” kata pria itu seraya kembali menyusuri rel. Petugas stasiun tampak hanya memandanginya tanpa mau menegur apa lagi melarang. Pria itu diduga tinggal di sekitar stasiun.

Raut muka Onah langsung murung tatkala mendengar kata Jampar sudah meninggal. Ia sudah mengira sejak awal. Ia yakin kakek tersebut kehilangan tempat mengemis sehingga penyakitnya kambuh dan tak ada yang menolong hingga akhir hayatnya. Bulir air mata perlahan jatuh membasahi pipi Onah.

***

Meski sudah tahu KRL ekonomi sudah habis, Onah tetap nekat pergi ke Bogor menggunakan commuterline. Baru pertama kali ia menggunakan kereta AC tersebut. Petugas satpam kembali membantu menggunakan kartu commuterline yang selamanya tetap asing buat Onah.

Di dalam Commuterline, Onah mengabaikan hawa dingin yang menyergapnya. Ia menyusuri setiap stasiun menggunakan commuterline demi mengenang perjalanan malam bersama Jampar.

Namun meski berulang kali ia paksakan, bayangan perjalanan mengesankan saat mengemis bersama Jampar tak bisa ia munculkan di kepalanya. Suasana kereta yang sungguh berbeda adalah penyebabnya. Mengemis dilarang di Commuterline. Onah merasa berada di dunia asing yang jauh berbeda.

Perjalanan nenek Onah dari Stasiun Tanah Abang ke Depok Baru pun menjadi perjalanan paling sepi dalam hidupnya.

*) Terinspirasi dengan rencana akan dihapusnya KRL ekonomi.

Misteri Kekasih Anakku


Istriku bereaksi serius tatkala Agam, anak sulung kami, membuat pengakuan bahwa ia baru saja menyatakan perasaan cintanya kepada teman sekolahnya.

“Ya, tadi aku sudah nembak Naura, ma,” ucap Agam.

“Oya? Terus reaksi Naura bagaimana? Dia menjawab ya atau….?”

“ Naura mengaku suka mendengarnya, tapi belum bisa memberikan jawaban sekarang.”

“Kenapa?”

“Dia tak mau menjelaskan.”

“Loh kok begitu, mas?”

“Ya begitu ma.  Agam disuruh bersabar.”

“Oooh….Kapan katanya, mas?”

“Ya, terserah dia ma. Masa Agam memaksa?”

“Mungkin Naura masih ingin berpikir masak-masak. Mungkin juga dia harus minta pertimbangan orangtuanya seperti Agam juga kan?” Saya tak sabar ikut nimbrung sekaligus menengahi perbincangan anak dan ibunya. Agam tampak senang karena memperoleh dukungan psikologis dariku.

“Tapi, tanpa bilang ya juga Agam yakin Naura pasti mau menjadi kekasih Agam. Selama ini dia selalu memberi memperhatian lebih pada Agam, bahkan sering juga bilang sayang.”

“Good! Cinta kadang tak butuh kata-kata.” Aku menyambutnya setengah berteriak dan bangga.

Istri memelototiku. Tapi ia mengalah meski tak mengurangi kegembiraannya. “Berarti mas sekarang harus bersikap lebih dewasa. Bisa menjaga perasaan wanita,” kata istriku.

Agam mengangguk. Begitulah memang yang harus dilakukannya. Ia tak punya alasan untuk membantah mamanya. Agam selanjutnya pergi ke kamar, dan mungkin akan keluar kembali dari kamar saat tiba Shalat Magrib karena kami biasanya melakukan shalat berjamaah.

Dengan fasilitas lengkap di kamarnya, Agam bisa berjam-jam di sana. Ia tidak tidur, melainkan terlibat online via media sosial atau video skype bersama kawan-kawan sekolahnya.

Cara belajar anak sekarang berbeda dengan jaman orangtuanya. Mereka tak perlu sering keluar rumah lagi karena semuanya sudah terhubung melalui tehnologi komunikasi. Bahkan adik Agam, Nadya mulai ikut-ikutan kecenderungan kakaknya.

***

Tadinya, kami hanya mengizinkan anak-anak kami berpacaran setelah duduk di perguruan tinggi. Seperti juga kami, mama-papanya, berpacaran harus dilakukan di usia matang. Jika dilakukan sebelum menjadi mahasiswa, kami khawatir lepas kontrol sehingga mempengaruhi pendidikan mereka.

Agam sendiri termasuk remaja cuek dengan lawan jenis. Meski demikian, saat di bangku SMP, ia sempat ditembak duluan teman siswinya. Siswi tersebut perlahan mundur karena Agam merasa masih bau kencur, belum berminat pacaran.

Istriku termasuk sosok yang mempengaruhi kepribadian Agam termasuk relasi dengan kawan-kawannya. Karena cowok, ia misalnya menyarankan Agam untuk menyatakan perasaan duluan jika mencari kekasih. “Tapi kalau sudah jodoh, siapapun yang nembak duluan nggak masalah. Sekarang jodoh kamu masih jauh. Jadi nanti sajalah pacarannya,” ungkap istriku, ketika itu.

Belakangan istriku mulai melonggarkan aturannya sendiri dan aku tak keberatan. Itu terjadi karena Agam mulai sering menyebutkan nama-nama teman wanita yang disukainya. Juga teman-teman pria yang sudah memiliki kekasih. Ia kemudian memperbolehkan Agam berpacaran di kelas tiga SMA dengan syarat; nilai UN (Ujian Nasional) jangan sampai jeblok.

Agam kemudian mengajak Naura ke rumah. Kedua pasangan remaja tersebut berjanji di depan kami akan semakin giat belajar agar memperoleh hasil UN seperti yang diharapkan.

“Mulai sekarang jangan panggil Agam dengan sebutan mas dong ma. Agam kan sudah bukan anak-anak lagi,” pintaku.

Istriku mengangguk, namun masih saja ia kerap menyebut mas pada Agam tanpa disadarinya. Agam juga sempat keberatan, toh tak bisa menghentikan. Aku bilang kepada Agam, itu saking sayangnya mama kepada dia. Jadi butuh waktu untuk membuang kebiasaan itu.

***

Hingga beberapa bulan kemudian, Naura belum juga memberi jawaban atas kesediaannya menjadi kekasih Agam. Namun bukan itu yang kini menjadi ganjalan istriku.

Ia merasa seharusnya sudah mengetahui siapa Naura sebenarnya, dan siapa pula kedua orangtuanya. Bibit, bobot, dan bebet tetap menjadi pertimbangan penting semua orangtua dalam memilihkan pasangan buat anaknya. Agam sendiri  bilang yang penting Naura, bukan orantuanya. Ia memang belum paham arti pentingnya menjaga nama keluarga besar.

Ingin rasanya kami menyewa detektif untuk mengetahui siapa Naura sebenarnya. Namun kami khawatir, jika itu dilakukan, bisa mempengaruhi hubungan keduanya, apalagi mereka sedang sama-sama mempersiapkan diri menghadapi UN.

Atas desakan istriku, suatu hari Agam nekat mendatangi sopir yang selalu menjemput Naura. Namun sebelum bertanya  malah dibentak duluan oleh si sopir. “Emang kamu apanya Naura?” Dengan spontan Agam pun bilang hanya teman Naura. Kata itu dipilihnya karena memang sudah dipesankan oleh Naura dan ia tak mau mengkhianati kekasihnya.

Agam juga pernah membuntuti mobil Naura. Mungkin karena tahu dibuntuti, mobil itu berbelok ke sebuah gedung dan tak pernah muncul lagi sampai Agam putus asa dan pulang.

Agam mengakui bahwa Naura adalah siswi misterius. Dulu, katanya, saat masih duduk di kelas 1 dan 2 SMA, Naura selalu menggunakan angkutan umum ke sekolah. Saat itu Agam belum sekelas dengan Naura sehingga belum sempat memperhatikannya. Belakangan setelah duduk di kelas 3 SMA, penampilan Naura jadi berubah. Ia tampil lebih menarik dan selalu diantar jemput seorang sopir ke sekolah.

Banyak teman yang membicarakan perubahan penampilan Naura, Agam sendiri cuek. Namun justru itulah uang membuat Naura suka pada Agam. Tentu saja selain karena Agam termasuk siswa pintar sehingga Naura selalu merasa terbantu memahami pelajaran di sekolah,

Tentang masa depannya, setelah lulus sekolah, Naura pernah bilang mau melanjutkan ke luar negeri, terutama Malaysia. Ia tak menjelaskan mengapa memilih Malaysia. Naura hanya bilang bahwa di negeri jiran itu ada tantenya.

Justru karena adanya rencana sekolah ke Malaysia itulah, Naura belum mau memberi jawaban atas kesediaan menjadi kekasih Agam. Tapi ia tak marah ketika kawan-kawannya menyebut Naura adalah pacarnya Agam.

Kini Naura meminta Agam tak ngotot mencari tahu di mana tempat tinggal dan keluarganya. Agam nurut. Kami mengikuti kemauan keduanya. Mereka berkonsentrasimenghadapi UN.

Kepada Agam, Naura berjanji pada saat yang tepat akan membuka semuanya. Memberi tahu tentang siapa dirinya serta semua yang ingin diketahui Agam.

***

Setelah UN selesai dan keluar hasilnya, Agam dan Naura memperoleh hasil lumayan. Kami pun bersyukur.

Namun tak lama kemudian, Naura menghilang tak diketahui jejaknya. Agam tampak merasa sangat kehilangan dan jadi murung.

Dengan kesabaran istriku, Agam akhirnya mau berterus terang bahwa Naura sebenarnya sudah menikah. Nikah siri karena dipaksa orangtuanya. Ia menikah dengan pria beristri seusia bapaknya yang kaya raya.

Rencana Naura melanjutkan sekolah di luar negeri salah satunya untuk memutus hubungannya dengan Agam yang mulai tercium suaminya. “Kasihan Naura ma. Ia pernah bilang hidupnya tak bahagia dan ingin bunuh diri,” ucap Agam.

Aku dan istrimu termenung mendengar cerita itu. Bahwa kejadian itu ada memang tak bisa dibantah. Tapi mengapa harus dialami oleh Agam, juga oleh Naura, kekasih pilihan anak kami.

Kami pun tak bisa menjawab beberapa pertanyaan Agam tentang mengapa masih ada orangtua tega menikahkan Naura dengan pria bukan pilihannya? Tentang mengapa ada pria tua dan kaya raya tega menikahi Naura yang masih remaja? ***

Om Itu Kenapa Tertawa Sendiri


Perbincangan anak-orangtua tentang pesawat terbang kerap terdengar setiap kali melewati lapangan udara Pondok Cabe, Tangerang Selatan. Pemandangan lapangan udara yang berlokasi di pinggir jalan raya itu begitu terbuka dan mengundang kata.

Pesawat penumpang, pesawat latih, dan berbagai jenis helikopter terlihat dari angkot. Sesekali pemandangan pesawat take off atau landing memberikan warna tersendiri. Bahkan penerjun payung melayang-layang dari udara dan mendarat di lapangan itu menjadi tontonan mengasyikan.

“Ma, aku boleh masuk ke sana nggak?” Seorang bocah gendut bertanya pada mamanya.

“Ya nggak boleh nak. Itu lapangan khusus untuk pesawat terbang.”

“Kok nggak boleh. Aku kan pengen lihat dari dekat.”

“Tetap nggak boleh. Nanti pesawatnya terganggu.”

“Jadi supaya bisa masuk bagaimana ma?.”

“Nanti kalau kamu sudah besar dan bisa menerbangkan pesawat.”

“Yaa ma…masih lama dong. Padahal aku maunya sekarang!”

Mama si bocah gendut itu tampaknya kesulitan menjawab pertanyaan terakhir anaknya. Beruntung pemandangan lapangan udara Pondok Cabe hilang dari pandangan. Ia tak perlu segera menjawabnya karena sang anak akan melupakan pertanyaan sendiri seiring dengan hilangnya lapangan udara dari pandangan.

Aku tersenyum dalam hati. Aku tersenyum bukan hanya karena perbincangan ibu-anak tersebut, lebih dari itu karena keduanya mengingatkanku kepada istri dan anak semata wayangku, Nadia.

Kami pernah mengalami seperti yang terjadi pada ibu itu. Tepatnya saat istri dan anakku berkesempatan  menggunakan angkot untuk main ke rumah saudara di Lebak Bulus.

Telah lama aku berusaha melupakannya. Untuk sementara waktu aku berhasil. Aku menyibukkan diri dengan pekerjaan, pulang-pergi dari rumah ke kantor hingga larut malam.

Dengan sepeda motor, aku juga melakukan kegiatan apa saja. Pergi mengikuti ajakan teman kemana saja. Hingga suatu hari aku kecapekan, ngantuk, dan sepeda motor yang aku kemudikan menabrak gerobak bakso di pinggir jalan.

Aku pun berurusan di kantor polisi. Pemilik gerobak bakso itu minta ganti rugi. Polisi juga punya alasan untuk menahan sepeda motorku karena aku dianggap lalai.

Lalu, aku harus mengeluarkan uang cukup banyak, selain untuk ganti rugi tadi, juga untuk bisa mengeluarkan kembali sepeda motorku dari kantor polisi. Uangku tak cukup untuk menebusnya. Karena harus mencari hutangan dulu, aku terpaksa ke kantor naik angkot.

Dan di angkot itulah, aku dipaksa kembali mengingat Nadia dan ibunya. Obrolan tentang pesawat terbang selalu mengingatkanku pada mereka.

***

Banyak orang bilang aku beruntung ketika aku berhasil menyunting Maria, ibu Nadia. Istriku itu memang cantik. Banyak pria memburunya. Aku pun sempat minder dibuatnya.

Maria pernah menjalin asmara dengan pemuda ganteng dan berasal dari keluarga kaya raya. Mereka merupakan pasangan yang serasi. Sayang dalam perjalanan waktu, kekasih Maria itu ketahuan banyak pacarnya. Maria memergoki langsung sang kekasih sedang bermesraan dengan wanita lain.

Maria sakit hati, lalu memutus pacarnya yang ganteng namun don juan itu. Tatkala Maria patah hati karena ia terlalu berharap banyak dengan sang pacar, aku yang teman kuliahnya, menjadi tempat curhat Maria. Aku seolah jadi tempat pelariannya.

Aku tentu senang saja. Kami pun kian dekat. Suatu saat aku nekat mengajaknya menikah, Maria terkejut. Entah saking terkejutnya atau tidak, ia lalu mencuekanku. Ia bahkan menjauhiku hingga beberapa lama. Itu membuatku bimbang dan bertanya-tanya. Salahkah dengan ajakanku?

Saat Maria mau menyapaku lagi, ia sempat melontarkan sebuah pertanyaan kenapa aku langsung mengajak menikah, bukan pacaran dulu? Dengan spontan aku bilang bahwa kalau harus melalui proses pacaran, aku takut putus dan menyakitinya untuk kedua kali. “Yang penting kita sama-sama ikhlas,” ucapku.

Maria tampak terpengaruh dengan jawabanku. Tatkala ia menyatakan menerima ajakanku menikah, giliran aku yang terkejut. Aku sempat tak percaya dengan pernyataannya hingga beberapa lama.

Setelah sama-sama yakin, kami kemudian bekerjasama untuk saling meyakinkan kedua orangtua masing-masing. Ternyata tak mudah, terutama orangtua Maria yang sempat meragukan masa depanku.

Kami menikah setelah aku memperoleh pekerjaan di sebuah perusahaan obat. Tadinya kami menginginkan pernikahan sederhana. Namun orangtua Maria tak setuju. Mertuaku itulah yang selanjutnya membiayai pernikahanku dengan Nadia.

Sejak itu, tahun-tahun pertama berumah-tangga dengan Maria begitu indahnya. Setahun kemudian lahirlah Nadia. Hidup kami benar-benar lengkap dan kian berwarna. Namun aku lupa bersyukur dan lebih mengikuti gaya hidup istriku yang berasal dari keluarga berada.

Ketika Nadia berumur empat tahun dan mulai ingin sekolah, Maria memutuskan bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan kontraktor. Aku menyetujuinya dengan alasan biaya sekolah Nadia ke depan cukup besar.

Karierku sendiri mengalami jatuh bangun. Sempat di-PHK saat tiga tahun pertama di perusahaan kontraktor karena ikut dalam kelompok karyawan yang melakukan manipulasi keuangan. Aku sempat tak enak dengan patgulipat atasanku, namun tak berdaya menolaknya, malah menikmati karena tuntutan ekonomi keluarga.

Ya sudahlah itu masa lalu. Beruntung aku memperoleh pekerjaan baru di perusahaan serupa berkat bantuan seorang teman semasa sama-sama kuliah. Sejak itu, aku mulai karier dari bawah.

***

Sebaliknya karier Maria melesat. Awalnya, ia hanya jadi staf sekertariat perusahaan, kemudian menjadi sekretaris kepala bagian, dan kini menjadi sekretaris direktur utama di kantornya.

Penghasilan Maria tentu saja naik berlipat-lipat. Ia bahkan sudah bisa mencicil mobil Honda Jazz. Luar biasa!

Aku sempat curiga dengan fenomena meningkatnya penghasilan istriku. Pikiran kotorku sempat muncul bahwa istriku bisa begitu karena berhasil menservis bos-bosnya luar dalam. Ketika hal ini aku ungkit, ia marah luar biasa.

Sejak itu, aku dianggap tak ada apa-apanya oleh istriku. Mertua ku pun ikut-ikutan. Kami pun jadi sering bertengkar.Saking marahnya, aku pernah menempeleng Maria di depan Nadia.

Bocah itu terkejut dengan tindakan kasarku. Ia menangis, Aku baru sadar, tapi terlambat. Maria lebih memilih ibunya daripada aku, ayahnya. Ia yang tadinya begitu manja padaku menjadi ikut takut.

Sejak itu aku menjadi tersiksa di rumah sendiri. Akupun memilih jarang pulang ke rumah.

Suatu hari aku menerima surat dari kantor pengadilan. Istriku mengugat cerai. Aku ogah memenuhi panggilan pengadilan itu karena aku merasa tak punya alasan untuk menceraikannya. Anehnya panggilan kedua dari pengadilan kembali datang.

Atas bantuan seorang teman, aku kemudian dicarikan pengacara untuk menghadapi gugatan istriku. Tujuanku sebenarnya hanya satu dalam melakukan perlawanan itu, yakni memenangkan hak asuh atas Nadia.

Nyatanya aku kalah. Dengan alasan ia masih kecil, Nadia ikut ibunya. Meski demikian, aku diizinkan menjenguknya setiap saat.

Semula aku bisa dengan mudah menemui Nadia. Bocah itu tentu saja senang dan tampak berusaha melupakan tindakan kasarku pada mamanya. Nadia tetap membutuhkan figur seorang ayah.

Namun beberapa pekan terakhir, aku mulai kesulitan menemui Nadia. Bocah itu tampaknya disembunyikan ibunya hingga suatu saat, rumah yang sempat kami tinggali sudah beralih pemilik. Pemilik baru bilang Nadia dan ibunya sudah pindah ke Amerika Serikat ikut suaminya.

Aku terhenyak mendengar kata suaminya. Setelah melakukan penyelidikan kecil, aku pun merasa kecurigaanku kepada Maria akhirnya terbukti. Yakni Maria sudah sejak awal berselingkuh dengan bosnya yang bule dan kini telah menjadi suami barunya.

Sejak itu aku hanya bisa menemui Nadia dalam mimpi, dalam igauan, dalam lamunan. Aku adalah seorang ayah yang sangat rindu pada anak perempuannya. Rindu lama itu kembali menyentak di angkutan kota yang melewati lapangan udara Pondok Cabe.

“Papaa.”

“Ya, nak?”

“Kalau kita punya banyak uang boleh nggak Nadia beli pesawat.”

“Boleh, tapi nanti naruh pesawatnya dimana nak. Rumah kita kan kecil. Nggak ada halamannya.”

“Nadia juga gak ingin bawa pesawat itu ke rumah kok.”

“Loh emang pesawatnya mau diapain?”

“Aku ingin pesawat itu dicat dengan warna ungu,”

Hahaha…aku tak bisa menahan tawa. Warna ungu memang warna favorit

baru Nadia setelah warna pink, sebelum kami berpisah.

***

Ibu dan bocah gendut yang duduk di sampingku turun dari angkot sebelum
terminal Lebak Bulus. Lalu sayup-sayup terdengar si bocah bertanya kepada
mamanya: “Ma, si Om tadi kenapa tertawa sendiri?”

Diluncurkan, Kumpulan Cerpen Sembilan Wartawan (Seri 4)


tujuh dari sembilan wartawan saat acara peluncuran sembilan cerpen wartawa di Gedung Dewan Pers, Jalan Kebon Sirih, Jakarta, Rabu (31/10). — Foto Suara Karya

Kumpulan cerita pendek (cerpen) wartawan kembali diluncurkan di Gedung
Dewan Pers, Jalan Kebon Sirih, Rabu (31/10). Seperti peluncuran
sebelumnya, peluncuran cerpen sembilan wartawan tetap bertujuan untuk
memperluas khasanah sastra di Indonesia.

Kumpulan cerpen seri keempat kali ini melibatkan sembilan wartawan
atau berkurang dua orang dibanding seri sebelumnya yang diluncurkan
Maret 2012.
“Sebenarnya kita ingin meluncurkannya tahun depan (2013), namun karena
bahan sudah terkumpul dan kawan-kawan tak sabar menerbitkannya
kembali, maka diluncurkanlah hari ini,” ujar salah seorang penulis
dalam kumpulan cerpen itu, Hendry CH Bangun.

Buku tersebut, lanjut dia, mulai pekan depan sudah beredar di sejumlah
toko buku yang ada di Tanah Air, terutama toko buku Gramedia. Adapun
sembilan penulis cerpen dalam buku itu yakni Aba Mardjani, AR Loebis,
Djahar Muzakir, Djunaedi Tjunti Agus, Hendry CH Bangun, Iman Handiman,
Mahfudin Nigara, Maria Andriana, dan Wito Karyono.

Salah seorang penulis, Djunaedi Tjunti Agus, mengatakan cerpen
tersebut ditulis di antara kesibukannya sebagai salah seorang pimpinan
di Harian Suara Karya. “Saya berharap buku ini bisa melebihi buku
kumpulan cerpen seri sebelumnya,” kata Djunaedi.

Penulis lainnya, Maria Andriana, mengatakan bahwa sebagian besar
cerpennya berisi kehidupan sehari-hari. Bagi Maria, cerpen adalah
pelampiasan akan kecintaannya berbahasa karena dalam pekerjaannya
sehari-hari Maria biasa menulis berita secara singkat.

Tak kurang 37 cerpen menghiasi buku itu. Temanya berbeda-beda namun
dengan kualitas yang terjaga dan dapat dipertanggung jawabkan.
Cerpenis yang hadir pun bisa disebut bukan penulis kemarin sore baik
sebagai penulis cerita fiksi maupun sebagai wartawan.

Dalam acara launching kemarin hadir pula  Direktur Marketing PT So
Good Food (yang memproduksi So Nice Sosis) Denny Gumulya. So Nice
Sosis adalah sponsor setia terbitnya empat kumpulan cerpen wartawan
selama ini.

Menurut Denny, menerbitkan buku cerpen boleh saja idealis, namun
kehadiran sponsor bukan untuk mengurangi unsur idealis tersebut.
Justru sebaliknya sebuah buku yang memperoleh sponsor berarti
kualitasnya memang terjaga dan profesional.

Hendry CH Bangun selaku penyusun setiap seri kumpulan cerpen
menambahkan bahwa kehadiran sponsor bukan saja membantu penerbitan,
tapi juga menekan harga sehingga buku tersebut bisa terjangkau
masyarakat luas.

Balada Seorang Penimbun BBM


Barang bukti BBM yang ditimbun (Tribunnews)

Wawan tampak sibuk sepekan ini. Dengan jerigennya, ia bolak-balik ke SPBU membeli premium alias bensin. Namun hanya sebagian kecil yang dibawa ke kios bensin ecerannya untuk dijual lagi.

Warsini, Emaknya, sempat bingung. Ia ingin menanyakan dikemanakan bensin-bensin yang dibelinya itu, namun selalu lupa menyampaikan saat berjumpa sang anak.

Setiap kali sampai di rumah selalu terdengar siulan Wawan. Itu pertanda ia bersuka cita. Biasanya karena ia sedang memperoleh uang cukup banyak. Dugaan Warsini tak meleset. Dalam tiga hari ini, Wawan selalu menyodorkan uang Rp 20.000 kepadanya.

“Nih, buat tambahan belanja besok pagi, Mak. Ntar uang jajan Soleh dan Jejen biar Wawan yang ngasih.”

Warsini menerimanya dengan suka hati. Dalam sehari ia butuh uang sekitar Rp 20.000 untuk keperluan dapur di rumah. Uang sebanyak itu umumnya untuk membeli sayur mayur dan lauk pauk seadanya seperti telor, tempe, ikan asin, dan kerupuk. Untuk beras ia membelinya mingguan. Uang tambahan belanjaan dari Wawan tentu sangat membantunya.

Adapun uang belanja keseharian Warsini diperoleh dari pekerjaannya sebagai tukang cuci dan setrika di sebuah keluarga yang tinggal di komplek perumahan. Warsini tinggal di rumah kontrakan belakang komplek perumahan. Ia punya tiga anak dan si sulung Wawan tak lulus SMK. Anak itu sengaja minta berhenti untuk mencari nafkah demi membantu sang ibu dalam menyekolahkan dua adiknya.

Keseharian Wawan sebagai tukang ojek yang melayani warga perumahan. Namun pekerjaan ngojeknya otomatis berhenti tatkala ia memperoleh obyekan lain, yang penghasilannya lebih besar. Apakah memborong BBM termasuk obyekannya kali ini? Pertanyaan itu masih menggayut di kepala Warsini.

Andai suaminya belum meninggal dunia, Wawan pasti tak perlu berhenti sekolah. Ia tak perlu memikirkan biaya untuk adik-adiknya. Namun takdir berkata lain. Ayah Wawan yang bekerja di sebagai tukang bangunan meninggal dalam sebuah kecelakaan kerja.

Saat itu ia kerja lembur karena bangunan bertingkat atau tower yang dikerjakannya harus selesai bertepatan dengan hari ulang tahun sang pemiliknya. Karena dikerjakan terburu-buru, ada yang lalai dalam pengerjaannya hingga ayah Wawan terjatuh dari bangunan tower itu dan meninggal dunia.

Sayangnya, ayah Wawan memiliki bos yang kurang perhatian. Ia meninggal tanpa diberi santunan yang layak. Seseorang yang mengaku teman ayahnya Wawan sempat datang ke rumah dan mempengaruhi Warsini untuk menggugat bos pemilik tower yang juga seorang anggota partai.

Warsini menurutinya dengan menandatangani sejumlah pernyataan. Harapannya, ia memperoleh uang besar seperti yang dijanjikan teman ayah Wawan tadi. Ia memang butuh uang banyak setelah ditinggal suaminya.

Namun setelah semua berkas ditandatangani, Warsini tak pernah mendengar kelanjutan gugatan suaminya. Selentingan kabar terdengar bahwa orang yang mengaku kawan almarhum suaminya itu sudah kena sogok pihak perusahaan sehingga memilih melupakan Warsini dan keluarganya.

Warsini, apalagi Wawan, tak tahu harus berbuat apa. Nasib pilu orang kecil pun lewat begitu saja.

***

“Emak kenal nggak dengan Pak Djayusman yang rumahnya bertingkat di ujung komplek.”

“Nggak kenal tapi tahu. Jadi bapak itu yang nyuruh kamu memborong bensin.”

“Bukan Mak. Dia hanya ngajak ngobrol tentang rencana kenaikan harga BBM yang selisihnya hingga Rp 1.500. Dari tadinya Rp 4.500 per liter jadi Rp 6.000 per liter. Ia tahu kalau Wawan, selain ngojek, juga jualan bensin eceran.”

“Maksudnya?”

“Ya itu tadi. Pak Djayus bilang itu peluang bisnis. Kalau biasanya kita cuma untung Rp 500 per liter. Bila kita punya bensin banyak dengan harga sekarang, lalu dijual lagi April nanti saat sudah naik, untung kita bisa empat kali lipat dari sekarang, yakni Rp 1.500 plus Rp 500.”

“Trus Pak Djayus modali kamu untuk borong bensin?”

“Ah Emak, bawaannya nuduh melulu…”

“Trus gimana dong. Emang nggak ngerti cerita kamu…”

“Justru Pak Djayus bilang, biar untungnya gede, Wawan nggak boleh ikut-ikutan bisnis seperti itu karena melanggar hukum dan merugikan orang lain. Bila ketahuan bisa dipenjara.”

Kening Warsini kian berkerut. Ia tambah puyeng mendengarnya. “Ah, sudahlah cerita yang lain saja…”

“Denger dulu Mak. Ceritanya belum selesai…” Wawan memotong. Ia ingin melanjutkan cerita hingga emaknya mengerti.”

Warsini mengangguk. Ia paham cerita itu memang belum selesai. Warsini hanya tak sabar dan ingin cepat tahu siapa yang modali Wawan untuk memborong bensin.

“Begini Mak. Setelah ngobrol dengan Pak Djayus, secara tak sengaka Wawan bertemu Yadi “Gepeng”, yang dulu pernah ngojek sambil jadi polisi cepek di depan perumahan. Inget kan mak?”

“Ya..ya..inget..inget…Si Gepeng yang kawin dengan janda anak satu itu kan? Tapi terus ditinggal pergi bininya karena ketahuan selingkuh. Kemana dia sekarang ya?…” Warsini tampak bersemangat. Ia seolah tergingat sesuatu yang menggembirakan.

“Begitulah Mak. Wawan bertemu dia di SPBU waktu ngisi bensin. Keren dia sekarang Mak! Bajunya rapih, wangi, bawa mobil sedan lagi…”

“Wah, wah, terus bagaimana…” Warsini tak sabar.

“Begitulah, Mak. Karena dia tahu Wawan jual bensin eceran, dia ngajak ngobrol lama di restoran dekat SPBU. Katanya dia sekarang bisnis spare part sepeda motor. Sudah punya tiga toko tapi bukan atas nama dirinya. Bininya yang dulu tak pernah balik. Sekarang ia mengaku masih jomblo hahaha….”

“Hahaha, dia memang kemana-mana ngaku jomblo” Warsini ikut tertawa ngakak. Rasanya senang sekali mendengar kisah pilu orang lain. Hahaha…

Sebelum melanjutkan cerita, Wawan menyeruput kopi kesukaannya. Emaknya menanti dengan sabar. Cerita tentang Yadi Gepeng dianggap lebih menarik dibanding teka-teki siapa yang memodali anaknya memborong BBM. Meski ia yakin, kali ini keduanya pasti terkait.

“Nah, seperti juga Pak Djayus, Gepeng menceritakan peluang bisnis bensin saat harga nanti naik. Katanya, pada dua kali kenaikan harga BBM semasa pemerintahan SBY, ia bisa untung jutaan rupiah.”

Wawan melirik emaknya yang tengah menerawang. Otak Warsini memang tengah menebak-nebak arah cerita anaknya. Sebenarnya ia mulai menangkap arah cerita Wawan, namun tak berani menebak. Ia takut salah seperti dugaan terhadap Pak Djayus sebelumnya.

“Kalau Emak tadi menebak bahwa Gepenglah yang memodali Wawan memborong bensin, pasti Emak bener. Sudah seminggu ini Wawan dimodali membeli bensin dan ditimbun di sebuah gudang yang disewa Gepeng. Setiap liter bensin, Wawan diberi upah Rp 500. Kalau dihitung-hitung Wawan sudah borong bensin 1.000 literan mah ada. Lumayan kan Mak?”

Warsini mengangguk. Tapi kali ini cuma basa-basi. Justru setelah cerita Wawan selesai, dan ketebak siapa pemodal yang membiayai anaknya, Warsini tak tahu harus berkomentar apa.

Ia ingin mengingatkan anaknya bahwa itu tengah terlibat persekongkolan jahat, menimbun BBM. Tapi ia merasa sudah kecipratan untung.

“Lagipula orang yang korupsi besar-besaran saja dibiarin, masa orang kecil nggak boleh punya kesempatan,” pikir Warsini.

Namun sejak itu, hati Warsini menjadi waswas. Uang pemberian Wawan pun tak lagi ia belanjakan dan disimpan. Siapa tahu ada orang yang kembali meminta uang itu.

***

Sejak itu, Warsini menutup mulutnya rapat-rapat jika ditanya tetangga tentang kegiatan Wawan. Apalagi kini Warsini lebih sering menunggu kios bensin eceran milik anaknya. Soleh dan Jejen, kadang-kadang ikut membantunya.

Suatu hari, Wawan tidak pulang. Warsini resah. Ia tanya ke sana kemari, meski tetap menyimpan rahasia tentang kegiatan anaknya belakangan ini. Seperti dugaannya, ternyata Wawan mendekam di kantor polisi justru karena kegiatan yang ia rahasiakannya.

Ya, Wawan menjadi tersangka penimbunan BBM yang kini tengah menjadi sorotan pemerintah karena banyak pihak yang menolak kebijakan itu.

Yang paling ditakutkan masyarakat adalah dampak dari kenaikan harga BBM, dimana harga-harga akan ikut meroket. Termasuk bakal munculnya spekulasi penimbunan BBM. Masyarakat miskin akan bertembah melarat. Mengapa harus kenaikan BBM? Tak adakah kebijakan lain yang tak menyengsarakan rakyat banyak?

Pemerintah selalu beralasan subsidi BBM menjadi penyebabnya. Tahun ini subsidi BBM itu mencapai Rp 275,15 triliun atau melonjak 30,8 persen dari alokasi sebelumnya, sebesar 208,85 triliun di APBN 2012. Pemerintah juga selalu bilang harga BBM di Indonesia paling murah dibanding dengan harga BBM di negeri tetangga.

Warsini dan rakyat kebanyakan tentu saja tak paham dengan alasan seperti itu. Mereka hanya tahu bahwa hidup di zaman Presiden Suharto lebih enak dibanding zaman Presiden SBY. Saat itu harga-harga murah. Usaha juga gampang dibanding sekarang. Kenapa pemerintahan sekarang tak mau belajar dari kekurangan pemerintahan sebelumnya?

Setelah menunggu, Warsini akhirnya diperkenankan bertemu dengan Wawan. Mereka berpelukan. Wawan terpaksa menenangkan emaknya yang menangis. “Tenang mak, tenang…jangan menangis.”

Menurut Wawan, ia dianggap terlibat melakukan kejahatan penimbunan BBM. Polisi sudah mengamankan ribuan tong BBM dari gudang milik Gepeng sebagai barang bukti. Masalahnya, polisi kini kesulitan menangkap Gepeng yang dianggap sebagai otak penimbunan BBM.

Sebelum pulang, Warsini kembali menangis. Padahal Wawan sudah berbisik bahwa Gepeng pasti akan membebaskannya. Gepeng bilang ia sudah berpengalaman membebaskan kaki tangannya karena sudah kenal dengan komandan para polisi itu.

“Nanti kalau berita soal BBM sudah reda, pasti Wawan akan dibebaskan,” bisiknya.

Warsini tetap menangis karena ia tak paham dengan apa yang dikatakan anaknya. “Orang bersalah ya ditangkap dan dipenjara. Wawan sudah bersalah karena mengambil untung dari bagian yang bukan haknya. Lalu mengapa bisa dibebaskan?”

Sebelum pulang Warsini menitipkan amplop pada Wawan. Ia sempat bertanya apa isinya. Warsini hanya bilang bahwa isi amplop itu siapa tahu bisa membantu membebaskan Wawan dari penjara.

Wawan membuka amplop ketika emaknya sudah pergi. Seperti dugaan sebelumnya, amplop itu berisi uang sekian ratus ribu, sama dengan jumlah uang pemberian Wawan dari bisnis penimbunan BBM. Dalam amplop itu disertakan pula sebuah kertas bertuliskan:

Berikan uang ini kepada polisi. Katakan pada mereka bahwa kita tak memakan uang hasil kejahatan itu. Mudah-mudahan polisi mengerti dan kamu dibebaskan…

Mudik atau Jadi Anak Durhaka


Banyaknya pembatasan terkait cuti Lebaran membuat Marwan tersulut emosinya. Peraturan-peraturan baru itu dianggap bakal menghambat rencana mudik Lebaran yang sudah diagendakan sejak lama.

“Emang dikiranya mudik Lebaran itu enak. Tidak! Kalau disuruh memilih, saya tak mau mengambil cuti saat Lebaran.” Marwan berkata berapi-api dalam sebuah rapat dengan salah satu pimpinannya.

Mudik Lebaran itu, urai Marwan, banyak nggak enaknya. Di perjalanan bisa makan waktu belasan jam karena macet, ongkos pun jauh lebih mahal. Belum biaya-biaya lain seperti membeli oleh-oleh, menyiapkan uang buat orang-orang di kampung dan masih banyak lagi.

“Kalau yang banyak uang sih nggak masalah. Tapi yang penghasilannya pas- pasan seperti saya, uang THR bisa-bisa tak tersisa, bahkan tidak cukup,” urai Marwan lagi.

Lalu mengapa banyak orang nekat mudik dengan kondisi tak menyenangkan seperti itu? Marwan pun menjelaskan sesuai apa yang dialami dan dirasakannya.

Bahwa ia terpaksa mudik pulang kampung setiap Lebaran karena masih punya orangtua yang harus dikunjungi. Semua anak yang merantau tentu ingin menengok bapak-ibunya. Sebaliknya, semua orangtua juga ingin melihat anaknya berkumpul. Setahun sekali apa salahnya?

Setiap tahun sebagian besar karyawan di kantor tempat Marwan bekerja mengajukan cuti Lebaran. Ini membuat pihak pimpinan pusing. Apalagi sebagian dari mereka selain mengajukan cuti reguler, ada juga yang mengajukan cuti besar karena memang sudah berhak.

Jika diizinkan semua, maka kegiatan operasional perusahaan pers itu akan terganggu. Ya, mesti para pembaca dan pengecer cenderung tak membutuhkan koran selama Lebaran, menyajikan berita terbaik mutlak harus tetap dilakukan.

Pihak pimpinan lalu bikin peraturan-peraturan baru bahwa yang tahun lalu cuti Lebaran, tahun ini tidak boleh melakukannya lagi.  Lalu karyawan yang sudah mengambil cuti dalam rentang waktu sebelum tiga bulan juga tak boleh mengambil cuti Lebaran.

Misal, karyawan yang mengambil cuti bulan Juni dan Juli saat libur sekolah otomatis kesempatan cuti lebarannya hangus. Ini karena Lebaran tahun ini jatuh bulan Agustus.

Marwan lalu membandingkan antara cuti Lebaran dan cuti Natal. Jika cuti Lebaran selalu ada pembatasan, mengapa cuti Natal tidak. Ini dianggapnya tak adil.  “Kalau mau adil yang pembatasan itu diberlakukan saat cuti Natal,” ucapnya.

Hanya saja soal perbandingan itu tak ia ungkapkan di depan rapat dengan pimpinan. Perbandingan tersebut hanya ia ungkapkan antar sesama teman.

Menurut Marwan, kebutuhan cuti Lebaran tak bisa dipukulratakan kepada semua karyawan. Sebab, orang-orang seperti dirinya tak mungkin mau ditukar cutinya menjadi cuti Natal. Demikian sebaliknya, yang terikat dengan cuti Natal tak mungkin mau ditukar dengan cuti Lebaran.

“Jadi kesimpulannya apa?” Seorang teman Marwan tak sabar.

“Jadi sesimpulannya, orang mau mudik tak bisa dibatasi secara kaku. Tak bisa dilarang. Peraturan bahwa yang sudah mudik tahun lalu, tak boleh lagi mudik tahun ini harus dicabut. Atau paling tidak, menjadi pertimbangan terakhir setelah peraturan lainnya tak bisa diterapkan.”

Kalau saja Marwan tak diingatkan kawannya bahwa saat ini bulan puasa, ia mungkin masih menguraikan alasan ketidaksetujuan adanya pembatasan cuti Lebaran.

Lagi pula, pada praktiknya, peraturan itu sebenarnya tak terlalu kaku-kaku amat. Buktinya hampir setiap tahun Marwan bisa mudik Lebaran meski kadang- kadang cuma dua-tiga hari, hanya sekadar bersua dengan kedua orangtuanya.

Jadi mengapa ia begitu emosi? Marwan juga tidak tahu.

***

Sesungguhnya Marwan sedang kesal dengan adik bungsunya, Mirna, yang tak pernah mudik selama lima Lebaran terakhir. Padahal ia tahu persis, ibunya yang sudah sepuh sangat merindukan Mirna.

Mirna tinggal di Melbourne, Australia karena diboyong suaminya yang pernah bekerja di Indonesia dan sekantor dengan Mirna. Kepada ibu dan dirinya, Mirna yang kemudian memilih jadi ibu rumah tangga, selalu berjanji akan mudik setiap tahun.

Namun kenyataannya, beberapa hari sebelum hari H Lebaran, ia menelepon untuk minta maaf karena tak jadi mudik.

Alasannya ada-ada saja, kalau nggak anaknya sakit, mertuanya sakit, atau suami dapat tugas mendadak ke luar negeri. Karena alasan yang hampir selalu bisa ditebak, Marwan kadang-kadang jadi berprasangka jelek bahwa sang adik sudah tak mencintai ibu yang melahirkannya.

“Kalau memang nggak bisa mudik bilang saja sekarang sehingga kami tidak berharap.” ucap Marwan kepada Mirna via telepon. Tapi Mirna tetap keukeuh bahwa kali ini ia pasti mudik paling tidak dua hingga tiga hari sebelum hari Lebaran.

Selain Mirna, Marwan masih punya satu adik lagi bernama Murti. Beda umur dia dengan Murti lima tahun, sedang dengan Mirna tujuh tahun.

Sejak bapak meninggal dunia, Marwan sering tampil sebagai penggantinya. Karena itu dialah yang paling mendesak agar Mirna pulang pada Lebaran ini.

“Mumpung ibu masih bisa berkumpul dengan kita. Ntar kalau sudah meninggal dunia dan tak menyaksikan di hari akhirnya, kamu pasti akan menyesal seumur hidup.”

Kalimat itu sangat jitu untuk meluluhkan hati adiknya. Dua tahun terakhir Marwan selalu mengatakan itu, Mirna sampai nangis-nangis dan berjanji akan pulang kampung di Hari Lebaran. Nyatanya ia tak pernah menepati janji. Ibu dan Murti bisa memahaminya, tapi ia tidak!

Dibanding Mirna, Murti jauh sekali kepeduliannya terhadap ibu. Marwan bahkan sering iri karena Murti lebih sering punya kesempatan pulang menengok ibu dibanding dirinya.

Karier Murti boleh dibilang paling sukses diantara mereka bertiga. Ia kini bekerja sebagai salah seorang manajer di sebuah hotel berbintang di Sanur, Bali. Hanya saja kehidupan rumah tangganya tak selancar kariernya. Ia masing single.

Kendala Mirna yang selalu terhambat kesibukan suami, anak, dan mertua seolah kian menguatkan alasan bahwa menjadi single saat ini lebih baik. Paling tidak untuk kepentingan ibu.

Antara simpati dan prihatin bercampur menjadi satu di hati Marwan mendengar pembenaran Murti seperti itu. Meski demikian, Marwan selalu berdoa agar adiknya segera diberi jodoh, diberi suami yang pengertian.

***

Empat hari sebelum hari Lebaran, Marwan bersiap melakukan perjalanan mudik. Mobilnya sudah diservis, juga dispooring dan balancing. Kondisi AC mobil meski masih dingin, sudah dicek ke tukang servis AC langganan. Pokoknya tinggal jalan.

Marwan sengaja memiliki H-4, kadang-kadang H-5, karena padatnya arus lalu lintas mudik biasanya terjadi sejak H-3. Itu pengalaman bertahun-tahun yang sudah teruji.

Tapi pada perjalanan mudik kali ini, hatinya tidak tenang. Ia belum tenang karena belum mendapat kepastian apakah Mirna jadi mudik atau tidak. Ia tak ingin memperoleh telepon dari sang adik dan mendengar permohonan maafnya karena tak jadi pulang.

Kali ini Marwan sendiri yang ingin memastikannya. Tapi beberapa kali menelepon tak diangkat Mirna. Marwan jadi kesal.

“Mungkin dik Mirna nggak pulang karena dia masih takut melakukan perjalanan dengan pesawat. Mas tahu sendiri, adikmu itu paling trauma dengan penerbangan.” Istri Marwan mencoba mengingatkan.

“Ya tapi kan telepon tetap harus dijawab. SMS juga bisa dilakukan.” Marwan menjawab dengan nada tinggi.

Ia berusaha menelepon lagi Mirna tetap tak ada jawaban. Ia juga mengirim sejumlah SMS, tapi belum juga menerima balasan.

Mirna memang trauma dengan angkutan udara. Kala melakukan penerbangan pertama, tugas dari kantornya, ia mengalami perjalanan buruk. Pasawat yang ditumpanginya mengalami masalah mesin sehingga harus mendarat darurat.

Sebulan kemudian salah seorang sahabatnya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan pesawat. Sejak itu, Mirna selalu terbayang-bayang dengan kecelakaan pesawat. Ia pun benar-benar ketakutan jika harus melakukan penerbangan.

***

Marwan benar-benar melupakan Mirna begitu tiba di kota kelahirannya, Magetan. Memasuki pintu gerbang kota itu seolah memasuki gerbang rumahnya. Aroma udaranya khas, beda sekali dengan ibu kota Jakarta.

Sepanjang jalan di kota itu tak banyak berubah meski sudah ditinggal lebih dari sepuluh tahunan. Perkembangan kota-kota kecil di Jawa memang cenderung stagnan, beda sekali dengan Jakarta dan sekitarnya.

Justru karena tidak berubah itu, marwan jadi masa mudanya. Saat masih sekolah dasar hingga SMP, misalnya, ia sering melintasi jalanan dengan sepada ontel. Setelah SMA dan punya pacar, ia jadi gengsi naik sepeda ontel. Ia memilih menggunakan sepeda motor yang sudah dimodifikasi.

Tak terasa tibalah Marwan dan keluarga di depan pintu sebuah rumah besar berhalaman luas, tempat ia dilahirkannya. Ibu dan Murti yang sudah di rumah menyambut dengan gembira. Tak lama kemudian, ya ampun, Mirna, suami, dan anak bungsunya muncul dari kebun belakang.

Marwan terpana melihatnya. Ia benar-benar tak menyangka ternyata adik bungsunya sudah ada di rumah.

“Kenapa mas, kaget ya?” Mirna menggoda.

“Ah enggak, enggak. Gimana kamu sehat, Bon” Marwan berusaha menutupi kekagetannya. Di rumah, ia selalu memanggil adik bungsunya itu sebagai si Bontot.

“Alhamdullilah sehat. Tapi Brad nggak bisa ikut karena ia ujian kenaikan tingkat sebagai drummer.” Brad adalah anak sulung pasangan Mirna dan David, suaminnya.

“Oh, begitu ya.”

“Acaranya nggak bisa digeser. Sebab habis itu, Brad juga ikut lomba gebuk drummer antarsekolah.” David menimpali dengan bahasa Indonesia yang masih belepotan.

Marwan mengangguk-angguk senang. Lebih senang menyaksikan rona wajah ibunya yang tampak bersinar-sinar karena bahagia. Ia  bahagia karena baru kali itu semua anak cucunya berkumpul.

Marwan sebenarnya ingin menanyakan kabar Mirna selama di perjalanan. Namun ia tak tega karena takut salah menduga lagi. Marwan tak ingin kebahagiaan tengah dirasakan bersama rusak karena cerita penerbangan yang tak disukai adik bungsunya.

***
Pada hari ketiga Marwan pamit pulang dulu ke Jakarta karena ada urusan kantor. Sebelum pulang, ia mengantar anak istrinya ke rumah mertua, di Cilacap, Jawa Tengah.

Setelah sepekan, Marwan kembali menjemput anak istri untuk dibawa kembali ke Jakarta karena hari libur sudah selesai. Ia kemudian menelepon Murti untuk menanyakan keadaan rumah.

Murti pun bilang bahwa ia sudah kembali ke Bali untuk bekerja seperti sedia kala. Sedang Mirna dan anak bungsunya masih berada di rumah ibu.

“Mirna masih kangen ibu ya.”

“Mungkin juga. Tapi ada yang lebih dari itu.”

“Apa itu?”

“Mirna masih trauma naik pesawat. Perjalanan mudik kemarin tidak nyaman, membuatnya kembali trauma. Jadi David terpaksa pulang dulu sendirian.”

Marwan terdiam. Ada perasaan kasihan sekaligus bersalah karena selalu memaksa adiknya pulang, meski ia tahu sang adik trauma naik pesawat.

“Jadi gimana?”

“Ya, dia nunggu.”

“Nunggu gimana?”

“Ya nunggu sampai traumanya berkurang. Atau sampai kangen pada Brad tak tertahankan.”

Marwan diam lagi. Ia lalu mengambil handphone dan memeriksa pesan SMS yang tak jadi dikirim ke Mirna.

“Mas, sudah dulu ya. Nanti Murti kabari lagi. Atau mas telepon langsung Mirna saja.”

“Oh iya..iya. Asalammualaikum”

Marwan lalu membaca pesan SMS yang untungnya tak jadi dikirim kepada Mirna. Isinya: Mudik atau kamu menjadi anak durhaka.

Meski SMS tak jadi dikirimkan,  Marwan benar-benar merasa bersalah karena telah memaksakan kehendak pada Mirna, bahkan menganggap yang tidak-tidak.