Polisi-Polisi Itu Malah Berselfie Ria di Suramadu


sura2

Polisi itu malah berselfie ria di jembatan Suramadu, kirain sedang menilang.

Ke Surabaya tak lengkap rasanya tanpa ke Suramadu. Dengan panjang 5.438 meter, jembatan yang melintasi Kota Surabaya dan Pulau Madura itu kini menjadi jembatan terpanjang di Indonesia.

Meski tujuan utama kami sesungguhnya ke Gunung Bromo, kami pun mencoba melintas Suramadu di hari Senin (22/12) lalu dengan dua rombongan mobil Innova. Mulanya, memasuki jembatan yang pembangunannya diresmikan Presiden Megawati Soekarnoputri pada 20 Agustus 2003 dan diresmikan pembukaannya oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 10 Juni 2009 itu, seperti memasuki jalan tol biasa.

Namun begitu masuk lebih dalam, ke tengah jembatan, semilir angin laut pun menerpa. Semakin nyata kemegahannya begitu memasuki dua pancang jembatan yang berdiri gagah. Inilah jembatan Suramadu itu. Pantas saja dibangun cukup lama karena jelas membutuhkan biaya dan perhitungan seksama.

Ingin rasanya berfoto ria di atas jembatan hebat itu. Namun kakak ipar mengisyaratkan tak akan berhenti karena memang dilarang. Sepanjang perjalanan menyebrang dari Surabaya, memang tak ada mobil yang berhenti. Semuanya melaju, baik yang melaju kencang, maupun yang perlahan. Saya sendiri tetap mengabadikan suasana jembatan itu dari dalam mobil.

Sesampai di ujung jembatan, kami pun berhenti sejenak di tempat berjualan souvenir. Dari tempat itu, jembatan Suramadu tampak terlihat jauh. Sekali lagi, kami agak kecewa tak bisa berfoto ria di atas jembatan tersebut, namun bisa memaklumi karena jika hal itu diizinkan akan menganggu arus lalu lintas. “Jika nekad dan ketahuan polisi, pasti ditilang,” ucap sang kakak ipar, yang tinggal di sekitar Surabaya.

Setelah membeli beberapa souvenir kami pun kembali berputar menuju Surabaya. Sebuah mobil dengan sejumlah polisi di depannya menarik perhatian. Mata kami pun semua memandang ke arah mobil yang berhenti dan dikira tengah distop polisi patroli. Ada perasaan bersyukur tak melakukan perbuatan nekat seperti sang sopir tadi.

Namun begitu dekat, ya ampun, ternyata polisi itu bukan sedang menilang pelanggar, sebaliknya para polisi tersebut sedang berselfie ria. “Aduuh pak, pengendara lain tak berani berhenti karena takut sampeyan tilang, malah bapak sendiri yang melanggar peraturan,” ucap saya dalam hati.

Ingin rasanya mengadikan foto ironi Pak Polisi itu, namun kejadian begitu cepat. Saya hanya bisa memotretnya dari kejauhan.

Lalu, bagaimana peraturan bisa ditegakkan bila para penegak keadilan malah melanggar peraturan?

sura3

Megahnya jembatan terpanjang di Indonesia, Suramadu (sudah diedit)

sura4

Jembatan Suamadu dari ujung pula Madura. Terlalu jauh memang

Merasakan “Keajaiban” Kabut Gunung Bromo


kabut5

Menembus dan merasakan kabut Gunung Bromo dengan kuda.

Kabut sebuah pemandangan yang kian langka. Bayangkan pemandangan langka itu bisa disaksikan dari atas, dari bawah, dan bahkan menyentuh kelembutannya.

Kelengkapan itu antara lain bisa sekaligus disaksikan di kawasan wisata Gunung Bromo, Jawa Timur. Saat cuaca cerah seperti kami alami Selasa (23/12) lalu, dari Gunung Penanjakan, pemandangan kabut bak sebuah lautan lepas yang memenuhi padang Pasir Gunung Bromo.

Pemandangan seperti itu mulai membentuk sebelum matahari terbit dan makin jelas setelah matahari muncul dengan keindahan sinarnya. Sejak itu, kami bersama pengunjung lainnya, mulai turun ke bawah menuju padang pasir Gunung Bromo.

Ternyata di bawah kabut yang perlahan menurun itu sudah ada ribuan wisatawan karena saat itu musim liburan. Sebagian menuju kawah Gunung Bromo, sebagian lainnya cukup berada di padang pasir dengan pemandangan mobil jip-jip berjajar dan jip berjalan berurutan membawa penumpang. Juga mulai berdatangan kuda-kuda yang siap mengantar pengunjung ke kawah Gunung Bromo.

Namun sejauh mata memandang hanya berisi kabut. Ibarat sebuah lautan kabut, pengunjung, kuda, dan jip adalah “ikan-ikan”nya yang bergerak ke sana ke mari. Meski berkabut, sudah banyak penjual makanan/minuman bahkan jualan pakaian. Adapula fasilitas toilet, tapi antrinya luar biasa karena kedatangan pengunjung saat bersamaan.

Beberapa puluh menit kemudian, samar-samar sebuah gunung raksasa terlihat. Lalu tertutup kabut lagi. Tadinya kami mengira itu, Gunung Semeru. Ternyata Gunung Batok. Karena berada di bawah kakinya Gunung itu tampak besar dan tinggi. Wujudnya kian nyata takkala kabut menghilang perlahawan.

Aha, seperti menikmati magic atau sulap. Yang tadinya tidak ada, tiba-tiba berdiri gagah di depan mata. Begitulah kawasan wisata Gunung Bromo. Dengan sapuan kabut terasa misterinya, begitu kabut hilang keindahan karya Sang Maha Pencipta itu kian nyata di depan mata.

kabut1

Hamparan kabut di lembah Gunung Bromo dari Penanjakan

kabut4

Mobil jip berjajar usai mengantar penumpang. Sejauh mata memandang hanyalah bayangan kabut

kuda3

Ketika kabut mulai menghilang perlahan. Gunung Batok pun kelihatan

kabut6

Tuh kan, saat kabut benar-benar menghilang, keindahan kawasan Bromo dengan Gunung Batoknya tampak kian menawan.

Bersyukur Bisa Menikmari “Famous Sunrise” di Penanjakan


tongsis8

Matahari terbit Gunung Bromo dari Penanjakan…

Banyak orang telah berkunjung ke Gunung Bromo, tak sedikit yang kecewa karena tak bisa menikmati momen matahari terbit atau sunrise. Meski berada di sama-sama pegunungan, kabut dan mendung sering menghalangi pemandangan matahari terbiit di kawasan itu.

Demikianlah yang kami tahu setelah berkunjung ke salah satu kawasan wisata terindah di dunia, kawasan Gunung Bromo. Beberapa kawan telah mengingatkan, sebaiknya jangan pergi di musim hujan karena keindahan Gunung Bromo akan bisa dinikmati saat musim tanpa hujan.

Tentu kami memperhatikan saran itu, namun tak bisa membatalkannya. Liburan sekolah tak bisa digeser dan anak-anak sudah setuju ke Gunung Bromo sehingga pemesanan tiket pesawat dan kereta api, plus penginapan, tentunya harus dilakukan jauh hari.

Kami pun berdoa agar bisa menikmati pemandangan mata hari terbit dan pemandangan lainnya seperti padang pasir, kawah Gunung Bromo, pasir berbisik, hingga lembah teletabies.

Setelah melalui perjalanan cukup panjang, akhirnya kami tiba di penginapan. Kami beristirahat lebih awal karena jadwal pertama melihat matahari terbit di Gunung Penanjakan dimulai pukul 03.00 pagi.

Tak semua bisa tidur nyenyak memang. Selain hawa dingin, juga ingin segera menyaksikan keindahan Gunung Bromo. Malam itu ternyata hujan cukup deras, namun hanya beberapa jam. Hujan pada malam itu membuat cuaca pagi cukup cerah.

Kami pun menggunakan mobil jeep beriringan sepanjang jalan berkelok-kelok dengan mobil-mobil lainnya. Karena sulitnya perjalanan di kawasan Gunung Bromo, hanya mobil jenis Jeep yang diizinkan berkeliaran. Mobil pribadi di parkir di tempat penginapan.

Mobil jeep itu kemudian di parkir sepanjang jalan puncak Penanjakan. Beberapa ojek berkeliaran menawarkan tumpangan. Ojek tentu sangat berguna bagi pengunjung yang fisiknya kurang prima.

Di lokasi yang dituju, pengunjung begitu padat. Hari libur Natal dan Tahun Baru merupakan peak season alias waktu paling padat kunjungan.

Pemandangan di bawah Gunung Penajakan tampak terlihat luas. Nun jauh langit di depannya membentuk awan indah bak pohon jamur.

Setelah menunggu sekitar satu jam, pancaran sinar matahari mulai mengawali tanda-tanda munculnya matahari. Benar saja, perlahan tapi pasti sang mentari itu muncul begitu indahnya. Bulat jingga bak bola api yang sangat terang ciptaan sang maha kuasa.

Banyak orang berdecak kagum. Semua pun mengabadiannya. Baik secara langsung maupun menggunakan tongsis (tongkat narsis). Tongsis iniah yang membedakan perilaku pengunjung dalam beberapa tahun terakhir.

Memoto sendiri alias selfie bukan lagi hal yang norak. Narsis menggunakan tongkat pun memberikan hasil tersendiri. Setelah selesai, dan melihat hasil-hasilnya, kami pun puas.

Seorang saudara yang kami tunjukkan foto-foto tersebut langsung iri. Ia bilang sudah tiga kali ke Gunung Bromo dan tak pernah menyaksikan pemandangan sunrise yang begitu indahnya. Tak salah ada yang menyebut pemandangan matahari terbit di Gunung Bromo sebagai Famous Sunrise.

Kami pun bersyukur bisa menikmati keindahan karya Sang Maha Pencipta.

tongsis41

Tongkat narsis di antara pancaran sinar menjelang matahari terbit..

tongsis11

Aha, Selfie juga tampak mengasyikan

tongsis3

Di antara beberapa gunung sekitar Bromo. Ada Gunung Batok, Ada Gunung Semeru

tongsis2

Mahari mulai meninggi

Gratis Ya Gratis, Tapi…


MAKANAN GRATIS begitulah. Sebuah tawaran menggiurkan di acara pesta rakyat. Ratusan gerobak makanan berjajar rapi.  Pedagang tak perlu mencari pembeli, mereka hanya menunggu perintah, kapan makanan itu bisa dibagian.

Beragam makanan pada hari istimewa itu memang dibagikan secara gratis kepada setiap pengunjung. Para pedagang sendiri jelas tak rugi karena makanan itu sudah ada yang memborong. Tak penting siapa yang memborong, yang pasti rakyat bersuka cita menikmati makanan tersebut.

 

 

Gratis

Gerobak makanan gratis berjajar rapi di acara Presta Rakyat. Masih tertib karena belum saatnya dibagikan.

Langsung Diserbu

Begitu dibuka langsung diserbu. Warga yang tak tahu pun pasti langsung gak kebagian.

 

Habis

Yang masih ada diserbu, Yang lain tinggal gerobak kosong.

Menonton antrean

Sepasang muda-mudi ini hanya bisa menonton antrean makanan gratis di salah satu sudut Monas.

 

Sari Roti

Ini makanan gratis paling tragis. Sari roti jadi sampah karena warga tidak tertib.

Semangat Menuju Pesta Rakyat


Acara pesta rakyat menyambut palantikan Presiden Jokowi-Jusuf Kalla benar-benar bersejarah. Warga Jakarta, bahkan luar ibukota, antusias menyambutnya. Mereka berbondong dari pagi, rela berpanas-panasan untuk ikut berpesta atas kemenangan rakyat melalui Jokowi-Jusuf Kalla.

Sambutan antusias itu bisa dilihat dari foto-foto ke datangan warga ke taman Monumen Nasional dimana acara digelar.

Menuju Monas

Dua wanita muda jalan kaki dari arah Senen/Gondangdia ke Monas

Antre Masuk Monas

Hampir semua pintu Warga harua antre masuk dan keluar Monas. Pesta Rakyat di areal monas benar-benar jadi daya tarik sendiri.

 

Kaos Jokowi

Antusias ke Pesta Rakyat mengenakan kaos bergambar Jokowi

Menunggu Pertunjukkan

Berpanas-panasan menunggu pertunjukkan musik di pesta rakyat

 

 

 

Supermoon yang Baru Terlewatkan


20130625-094953.jpg
Foto yang saya ambil Senin (24/6) pagi, supermoon baru saja lewat.

Sejak mengikuti jejaring sosial khusus foto instagram, saya jadi suka mengabadikan keindahan alam semesta, terutama langit dan awannya, mata hari terbit (sun rise), matahari terbenam (sun set), termasuk bulan.

Nah, Sabtu (22/6), setelah mengabadikan pemandangan senja hari, saya keluar lagi untuk membeli makan malam. Saat itu saya menyaksikan bulan terasa agak besar, bulat, dan lebih terang dari biasanya. Saya membayangkan bisa mengabadikannya, tapi karena tidak membawa gadget berkamera bayangan gagal diwujudkan menjadi kenyataan.

Pada hari Minggu (23/6), saya masuk kerja, dan kembali melihat bulan begitu bercahaya di atas langit Palmerah, tempat saya bekerja. Lagi-lagi saya tak bisa mengabadikannya dengan alasan serupa.

Baru pada Senin (24/6) saya bisa mengadikan bulan yang masih tampak cantik menjelang tenggelam alias dini hari. Kebetulan ada kesempatan mengabadikan suasana pagi usai mengantar istri ke stasiun kereta api Depok sekitar pukul 05.00.

Ternyata pemandangan bulan 23 Juni adalah pemandangan langka yang biasa disebut Supermoon . Pemandangan bulan purnama super itu hanya terjadi 14 bulan sekali. Artinya, untuk bisa melihat pemandangan serupa saya harus menunggu hingga 14 Agustus 2014.

Saya lalu melihat foto-foto supermoon via Google dan kantor berita AFP. Ternyata di beberapa tempat pemandangan supermoon tampak luar biasa. Salah satunya di kuil kuno Poseidon, Cape Sounion, sekitar 65 km dari Athena, ibukota Yunani. Bulan super di wilayah ini tampak seperti bola raksasa bercahaya.

Orang-orang di Boston, Amerika Serikat, juga banyak yang menayangkan supermoon baik melalui situs berita ataupun blog pribadi. Bulan super di kawasan ini cenderung berwarna merah, ada yang bilang sebagai efek asap kebakaran hutan.

Supermoon adalah pemandangan bulan terdekat dari Bumi. Pada hari Minggu kemarin jaraknya sekitar 221.823 kilometer dari tanah yang kita pijak. Amanda Thompson, seorang presenter planetarium di Museum of Science, seperti dikutip Bostonglobe mengatakan bahwa supermoon adalah fenomena alam biasa. Supermoon tidak memiliki dampak alam kecuali sebuah pengingat untuk manusia tentang indahnya bulan pada suatu malam istimewa. Mungkin termasuk saya.

Wikipedia menjelaskan, bulan super kadang dihubung-hubungkan dengan bencana alam, seperti gempa bumi, gunung meletus, dan lain-lain. Itu karena waktu terjadinya bulan super hampir selalu berdekatan dengan terjadinya suatu bencana alam tertentu.

Namun, bulan super tidak cukup kuat untuk memengaruhi permukaan tanah ataupun gunung berapi di Bumi. Pengaruh dari fenomena bulan super ini di bumi hanyalah naiknya permukaan laut sekitar beberapa inci di beberapa daerah. Pengaruh fenomena bulan super terhadap peningkatan aktivitas seismic justru terjadi di permukaan bulan sendiri, meskipun efeknya tidak terlalu besar.

Supermoon memiliki kelebihan 30 persen lebih terang dan 14 persen lebih besar dari bulan purnama biasa. Supermoon terdekat pada abad ini diperkirakan jatuh pada 6 Desember 2052 yang jaraknya sekitar 221.439 mil dar bumi.

Pada tanggal 24-25 Mei 2013 lalu juga sempat muncul pemandangan supermoon. Namun yang terjadi beberapa hari kemarin lebih super alias puncaknya pada tahun ini. Menurut siklus astronomi, jadwal Supermoon terdekat dengan jarak paling dekat akan jatuh pada 14 Nopember 2016,

Supermoon yang sempat saya lihat memang tak sebesar foto-foto yang tampak di Athena dan Boston. Orang lain mungkin menganggap biasa. Namun saya merasa bulan purnama itu berbeda dengan bulan purnama sebelumnya, terutama dalam hal bentuk dan sinar yang lebih terang. Saya tetap bersyukur karena bisa menyaksikan sekilas meski belum sempat mengabadikannya.

TABEL JADWAL SUPERMOON
19 Maret 2011 – 356.575 km
06 Mei 2012 – 356.955 km
23 Juni 2013 – 356.991 km
10 Agustus 2014 – 356.896 km
28 September 2015 – 356.877 km
14 November 2016- 356.509 km