PSK Galau di Bulan Penuh Rahmat (21)


Ringkasan Sebelumnya: Jaka akhirnya menemukan Ramon dan Arni di kapal pesiar itu melalui anak buah kapal yang sudah disuapnya. Ternyata aksi suap menyuapnya tak terlalu mempan. Sebaliknya Jaka terperangkap dalam skenario yang dimainkan Jarot. Selengkapnya…

 

Sebelum tiba di Marina Bay, Singapura, Ramon, Arni dan kakaknya Jarot minta diturunkan di sekitar Batam. Mereka lalu diantar dengan motor boat ke Palabuhan Sekupang.

Kapten kapal telah mengizinkan Jarot mudik ke rumah orangtuanya. Ia tahu persis selama ini kesempatan itu tak pernah diambil Jarot. Ia sempat heran ada orang Indonesia punya semangat kerja sedemikian hebat seperti wakilnya itu.

Meski demikian, kapal pesiar akan singgah lama di Marina Bay, menunggu kembalinya Jarot.

Dari pelabuhan Sekupang, mereka meluncur menuju bandara Hang Nadim. Di bandara itu semua tiket pesawat ke kota-kota di Jawa ternyata sudah ludes. Musim mudik Lebaran menyebabkan banyak orang berpergian, termasuk menggunakan pesawat terbang.

Namun tak lama kemudian seseorang menghampiri dengan menawarkan tiket pesawat tujuan Jakarta, termasuk Surabaya. Tentu saja harganya jauh lebih mahal dibanding harga resmi. Ramon segera menyanggupinya. Setelah memperoleh tiket dari si calo, Ramon minta izin mengambil uang di ATM untuk jaga-jaga.

Dari Batam mereka memilih terbang ke Surabaya. Ramon ingin menunjukkan apartemen tempat tinggalnya kepada Jarot dan Arni. Ramon hendak menunjukkan bahwa secara materi ia siap menghidupi Arni sampai akhir hayatnya.

Jarot dan Arni setuju. Penerbangan ke Surabaya merupakan penerbangan terdekat menuju kampung halamannya di Ngawi, Jawa Timur. Lebih dari itu, mereka memang ingin tahu dari dekat keseharian Ramon selama ini.

Apartemen yang ditinggali Ramon cukup mewah. Berlokasi di pusat kota Surabaya, isi apartemen itu cukup lengkap. Hanya saja penataannya agak berantakan. Ingin sekali Arni segera menatanya dan membayangkan apartemen yang juga akan menjadi miliknya itu menjadi rapih.

Namun Arni segera menepis bayangannya. Ia belum bisa menghapus kekhawatiran akan kemunculan Jaka dan membuatnya kembali menjadi orang buruan. Ia masih khawatir Jaka selamat dari sekoci yang ditumpanginya di Perairan Sumatera.

Setelah buka puasa bersama dan ngobrol seperlunya, mereka sepakat meluncur ke Ngawi mengendarai mobil BMW merah milik Ramon. Setelah dicek kondisi mobil, lalu dipanasi mesinnya, mereka bertiga menembus malam menuju kampung halaman Arni.

Di sebuah mal terdekat, di pinggiran Surabaya, mereka mampir untuk belanja pakaian muslim dan kelengkapan shalat. Ini karena besok paginya mereka akan menjalani shalat ied. Gema takbir sudah terdengar sepanjang perjalanan.

Di tengah kepadatan pengunjung, Arni dan Jarot berkesempatan membelikan oleh-oleh buat orangtua dan Raihan, anaknya. Ramon yang teringat Ustadz Mahfudz segera melakukan aksi serupa seperti Jarot dan Arni. Ia bahkan membelikan seperangkat alat shalat untuk istri dan para santri di tempat pengajian guru agamanya.

Bagasi mobil yang tadinya kosong langsung penuh, termasuk bangku belakang, yang tinggal menyisakan satu tempat kosong untuk Arni.

***

Ustadz Mahfudz dan istri terkejut menyaksikan Ramon berada di depan rumahnya. Kehadiran Ramon seperti mengulangi kehadiran sebelumnya yang datang malam-malam.

Bedanya, kala itu, ia sendirian. Kini bersama dua orang kawan dan sejumlah paket oleh-oleh. Suasana haru tak terhindarkan. Ramon memperkenalkan Jarot sebagai calon kakak iparnya kepada Ustadz Mahfudz. Arni yang sudah dikenal sang Ustadz mendengarnya dengan takzim.

Karena tak punya waktu lama, Ramon pamit seraya mengundang Ustadz Mahfudz untuk hadir pada acara pernikahan yang tanggalnya akan diberitahukan kemudian. Ustadz Mahfudz sempat bertanya tentang status Arni yang sudah cerai atau belum dengan suaminya. Ramon jadi ingat Jarpul. Namun bayangan akan nasib pria itu gelap.

Mereka bertiga kemudian pamit. Ustadz Mahfudz berjanji akan datang ke pernikahan Ramon dan Arni. Mobil BMW kembali melesat, namun kemudian merambat dalam antrean arus mudik Lebaran.

Sampai kampung halaman Jarot dan Arni di Ngawi tengah malam. Suasana sudah senyap. Sebagian besar penduduknya sudah terlelap. Tinggal suara takbir yang tetap terdengar nyaring.

Suara itu begitu khas karena datangnya dua kali setahun. Yakni hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya idul Adha. Terlebih bagi Jarot. Ada kerinduan begitu dalam mendengar suara yang diakrabi semasa kecil itu. Sudah lama ia tak mendengarnya setelah sekian tahun selalu berada di atas perairan.

Orangtua Jarot menangis seraya memeluk Jarot yang hampir tak dikenalinya. Jarot yang gagah berani selama berada di atas kapal, tak kuasa menahan air mata. Ia bersujud di kaki bapak ibunya untuk meminta maaf.

Arni ikut menangis. Ramon berusaha tegar meski hatinya juga ingin menangis menahan keharuan di depan matanya.

Setelah melepas rindu, bapak dan ibu Jarot menyuruh anak-anak dan calon menantunya istirahat. Mereka harus menunaikan shalat ied di masjid desa keesokan paginya.

Karena lelah, ketiganya langsung tertidur. Namun baru beberapa jam tertidur, Ramon dibangunkan oleh suara telepon yang ternyata dari Jamila. Ramon terkejut dan segera minta maaf karena hampir melupakannya.

Ia segera memberi tahu posisinya sekaligus soal nasib Jaka.Suami Jaka sekarang sedang berada di tengah laut dengan sebuah sekoci. Menurut prediksi Jarot, calon kakak iparnya, Jaka tak mungkin selamat sampai daratan.

Jamila sempat kaget dengan informasi itu, namun segera bisa mengendalikan diri. Ia tampaknya lebih baik hidup tanpa Jaka daripada sebaliknya.

Tak lupa, Ramon juga memberitahukan rencana pernikahan dengan Arni. Jamila ikut bergembira mendengarnya. Hanya saja ia menyatakan tak bisa datang karena harus mempersiapkan diri menghadapi berbagai pertanyaan seputar Jaka. Terutama dari jaringan bisnis, termasuk kepolisian setempat.

“Maaf ya nggak bisa datang, padahal aku juga pengen nikah lagi loh, hahaha…” Jamila mengakhiri pembicaraan sambil tertawa. Ramon menganggapnya bercanda. (Bersambung)

PSK Galau di Bulan Penuh Rahmat (20)


Ringkasan sebelumnya: Tak mudah menangkap Ramon dan Arni di Kapal Pesiar. Itu bukan wilayah Jaka. Yang terjadi justru Jaka menjadi permainan Jarot, wakil kapten kapal yang melindungi buruannya. Selengkapnya…

 

Seperti penumpang lainnya, Jaka punya bank guarantee, punya simpanan di bank internasional, dan kemana-mana membawa cek yang bisa diuangkan. Maka ketika anakbuah Jarot datang untuk menaikan tawaran informasi dari harga Rp 200 juta menjadi Rp 500 juta, ia pun menyanggupinya.

 

Untuk menunjukkan keseriusannya, Jaka menuliskan Rp 50 juta pada selembar cek dan memberikan kepada anak buah Jarot. Anak buah kapal yang bekerja di bagian perawatan kolam renang itu semula hendak menolak, namun karena takut dianggap mencurigakan, ia pun menerimanya.

 

Lalu ia mengajak Jaka menelusuri rute tempat persembunyian Ramon dan Arni. Rute tersebut telah disepakati dengan bosnya, Jarot. Yakni melalui lorong-lorong yang jarang dilewati penumpang kapal.

 

Pada satu lorong, nantinya, Ramon dan Arni akan muncul. Nah, keduanya akan berlari dan Jaka pasti memburunya. Pada sebuah ruangan, Jaka akan terkurung dan kehilangan jejak. Saat itulah riwayatnya dianggap selesai alias tergantung Jarot.

 

Sebenarnya, Jarot bisa saja melakukan deal untuk menyerahkan Ramon demi memperoleh uang cukup besar dari Jaka. Toh, yang dibutuhkan Jaka hanya Ramon bukan Yati, adiknya.

 

Tapi ia tak mungkin melakukan itu. Disamping bukan sifatnya, Jarot melihat sang adik mencintai Ramon. Sebaliknya Jarot melihat pria itu serius mencintai Yati. Ia akan senang jika Yati segera menjalin rumah tangga, meninggalkan dunia hitam yang ditekuninya.

 

***

 

Jaka segera berlari meninggalkan anak buah Jarot saat melihat Ramon dan Arni sedang bergandengan tangan di sebuah lorong, dari kejauhan. Ia mengeluarkan sebuah handphone dari saku celananya.

 

Handphone itu ternyata bukan untuk menelepon. Jaka menghidupkan tombolnya. Rupanya hanphone itu berfungsi sebagai stungun HP atau senjata listrik yang berfungsi melumpuhkan seseorang. Jaka jelas hendak melumpuhkan Ramon jika sudah dekat.

 

Agaknya sekuriti kapal pesiar itu kecolongan. Mereka terkecoh dengan kebaikan Jaka yang menyerahkan senjata apinya secara sukarela dan penuh senyuman. Di balik kebaikan itu ternyata tersimpan tipu muslihat, yakni agar handphone yang yang berfungsi sebagai senjata listrik itu tak ikut diperiksa.

 

Masalahnya, Jaka juga tak tahu bahwa saat itu ia tengah berada dalam sebuah scenario Ramon yang bakal menjebaknya. Ia baru sadar ketika Ramon dan Arni begitu mudah menghilang dari kejarannya. Secara teori, hal itu tak mungkin terjadi. Ini karena Ramon dan Arni mestinya kesulitan menghindari dirinya karena ia pasti awam dengan seluk beluk kapal.

 

Karena merasa tertipu, Jaka segera berbalik kearah anak buah kapal yang telah diberi cek Rp 50 juta. Ia langsung membentaknya.

 

“Kamu hendak menipu saya ya?”

 

“Loh kan janjinya hanya info tentang keberadaan buruan sampeyan.”

 

“Dasar penipu kau!” Ramon berteriak lagi seraya menempelkan senjata listriknya kepada anak buah Jarot.

 

Anak buah kapal itu tak mengira handphone digenggaman Jaka sebuah senjata kejut. Ia tak sempat menghindar, apalagi melakukan perlawanan. Begitu stungun HP menempel ditubuhnya, ia tersentak, jatuh dan langsung pingsan.

 

Melalui layar CCTV, Jarot terkejut menyaksikan Jaka terhindar dari jebakan dan sebaliknya malah melumpuhkan anak buahnya. Ia segera mengontak sejumlah sekuriti terbaik di kapal itu untuk mengepung Jaka. Dalam tempo sekian menit, Jaka pun terkepung.

 

Baru kali ini Jaka dikeroyok banyak orang. Biasanya dialah yang mengeroyok lawan-lawannya. Pada saat seperti itu, ia jadi ingat dan kesal pada Gofar yang tak bisa mendampinginya.

 

Dalam posisi terdesak, Jaka tak mau menyerah. Ia beberapa kali menyerang anak buah Jarot dengan stungun HPnya. Namun serangan tak ada yang kena. Justru sebaliknya sebuah bogem membuat Jaka terhuyung, sejurus kemudian stungun HP di tangannya lepas karena dihajar dengan kaki seorang sekuriti kapal lainnya.

 

Karena kesal, beberapa sekuriti sempat melayangkan beberapa tinju ke muka dan tubuh Jaka. Pria itu pun ibarat maling ayam yang tertangkap basah dan digebuki massa, wajahnya babak belur. Tangan Jaka kemudian diborgol dan diserahkan kepada Jarot.

 

Ternyata di sana sudah ada Gofar yang wajahnya juga bonyok. Gofar konon digebuki karena membuat onar kepada sejumlah penumpang lainnya.

 

Konon, Gofar yang stres karena kesulitan berkomunikasi dengan penumpang lainnya, tak bisa mengendalikan emosinya. Selama ini ia hanya melakukan apa yang diperintahkan Jaka.

 

***

 

Kebiasaan di kapal pesiar itu jika menghadapi pembuat onar adalah menyerahkan kepada polisi dimana ia berasal. Namun karena dianggap ribet, dimana kapal pesiar tak mungkin kembali ke dermaga awal, akhirnya pembikin onar itu ditepikan ke pulau terdekat melalui motor boat.

 

Khusus pembuat onar paling berbahaya tak akan dibantu untuk didaratkan, namun dilepas begitu saja menggunakan sekoci paling sederhana. Biasanya hanya keajaiban yang membuatnya si pembuat onar itu selamat sampai daratan terdekat.

 

Nah, Jaka dan Gofar dianggap masuk kategori terakhir. Tadinya kapten kapal menentang rencana Jarot. Namun setelah dijelaskan bahwa dua pembuat onar itu akan membunuh adiknya, barulah sang komandan bisa mengerti dan menyetujuinya.

 

Agar tak terkejut, Jaka dan Gofar dibikin pingsan dulu. Di perairan Sumatera keduanya diturunkan ke sebuah sekoci paling sederhana. Semua benda milik keduanya seperti tas, dompet, handphone, stungun HP, senjata api, termasuk cek Rp 50 juta yang sudah diterima anak buah Jarot, diikut sertakan.

 

Bisa dibayangkan, saat siuman, Jaka dan Gofar pasti akan terkejut berada di tengah lautan hanya dalam sebuah sekoci. Mereka selanjutnya akan mengarungi perjalanan hidup dan mati. Saat itu bisa jadi mereka baru ingat Tuhan.

 

“Tapi kalau mereka selamat, bagaimana Mas.” Arni terdengar masih khawatir dalam nada kalimatnya.

 

Jarot tersenyum. “Selama mas Jarot berada di lautan, belum pernah ada yang selamat mengarungi sekoci seperti mereka, tuh.” (bersambung)

PSK Galau di Bulan Penuh Rahmat (19)


Ringkasan sebelumnya: Jaka terkecoh. Kapal pesiar beranjak dari Kepulauan Seribu ke Marina May, Singapura, tanpa ia mengetahui apakah Ramon dan Arni ada di kapal itu atau tidak. Selengkapnya…

 

Jaka yakin Ramon dan Arni sudah berada di dalam kapal pesiar yang mereka tumpangi. Tapi lewat pintu mana, ia benar-benar tidak paham. Nalurinya berkata ada orang kuat di atas kapal yang tengah melindungi buruannya.

“Pasti ada orang penting yang melindungi si Ramon itu. Tapi apa kepentingannya? Apa pula hubungannya?” gumam Jaka. Gofar yang mendengar gumaman itu mengangguk-angguk.

Gofar ikut berpikir keras tentang misteri yang dipikirkan bosnya. Namun ia tak menemukan jawaban masuk akal. Betapa tidak, kapal pesiar itu hanya ditumpangi orang-orang khusus dengan tujuan tertentu. Ramon dan Arni jauh dari kategori itu.

Gofar jadi membandingkan dengan diri sendiri yang juga tak termasuk dalam kategori khusus tersebut. Ia baru pertama masuk kapal pesiar mewah. Jaka mengajaknya karena ia membutuhkan perlindungan dan orang kepercayaan yang bisa disuruh-suruh . Sekarang apa yang bisa ia lakukan untuk Jaka?

“Sekarang kita cari tahu dimana Ramon dan Arni bersembunyi. Kamu ajak ngobrol semua pegawai kapal. Bila perlu pakai ini?” Ramon menugasi Gofar seraya mengerakan ibu jari dan jari lainnya, isyarat menggunakan uang untuk menyuap.

“Siap bos, tapi…”

“Tapi apa?”

“Aku kan nggak iso bahasa Inggris, bos,” jawab Gofar tersipu.

“Yang sudah, kamu cari yang mukanya orang Jawa. Yang lain urusanku.”

“Siap bos.” Gofar hanya bisa bilang itu.

Ia tak mungkin mengatakan tidak berani, apalagi tidak mau meski sebenarnya ia minder berada di kapal itu. Ia melihat dan mendengar sendiri, semua pegawai kapal bercakap menggunakan bahasa Inggris atau bahasa asing yang tak ia mengerti.

“Duh Gusti, lebih baik disuruh membunuh 100 orang daripada harus berbicara pakai bahasa Inggris.”

Ramon dan Jaka menyebar. Mereka mulai kasak-kusuk. Jaka cukup lancar ngobrol dengan banyak orang di kapal itu. Sebaliknya Gofar tampak tersiksa. Ia terpaksa menggunakan bahasa isyarat, bahasa tarzan, dan ia malu sekali karena merasa sedang ditertawakan setiap memperagakan maksudnya.

Ingin rasanya Gofar mengakhiri tugas maha berat itu.

***

Ramon dan Arni kini benar-benar berada di lokasi aman. Jarot menempatkan keduanya di sebuah ruangan yang tak mungkin terjangkau para penumpang di kapal pesiar itu.

Sebaliknya ia bisa mengawasi Jaka dan Gofar baik melalui layar CCTV yang dipasang di tempat-tempat tertentu, atau melalui anak buahnya yang tersebar di segala penjuru kapal.

“Pak, salah satu penumpang yang kita awasi mengamuk. Dia sempat memukul salah satu teman kita.” Jarot menerima laporan anak buahnya alat komunikasi khusus antar awak kapal.

“Memang apa sebabnya?,” tanya Jarot.

“Kurang tahu persis, Pak. Dia selalu mengajak ngobrol pakai bahasa isyarat. Kayak orang bisu, padahal tidak.”

“Kok bisa?”

“Kurang tahu persis, Pak. Justru saat kami tanya maksudnya dia malah marah dan memukul teman kita.”

“Lalu apa reaksi teman kita.”

“Tidak membalas, Pak. Teman kita mengira sedang menghadapi orang stres. Orang stres kok bisa masuk ke kapal ini ya pak? Maaf kalau saya sok ingin tahu….”

“Nggak masalah. Ya sudah, terus awasi gerak-geriknya. Jika bikin onar lagi lumpuhkan saja.”

Jarot memperkirakan orang yang dikira stres itu adalah Gofar. Saat pertama kali melihatnya, pria berbadan besar dan berwajah sangar tak menunjukkan kelainan. Hanya saja, Jarot mengakui bahwa pria itu terlihat nervous. Ia seperti seorang yang tersesat di sebuah tempat yang tak pernah ia kunjungi.

Jarot menduga pendidikan Gofar tak setinggi Jaka. Masalahnya tak ada larangan orang berpendidikan rendah masuk kapal pesiar itu asal semua syarat terpenuhi.

Tak lama kemudian, anak buah Jarot lainnya menyampaikan lagi via alat komunikasi khusus.

“Ya, ada perkembangan apa?”

“Siap Pak. Ini, orang yang kita awasi mau menyogok saya asal mau ngasih tahu persembuyian adik Bapak?”

“Terus kamu mau?”

“Ya tidak Pak?”

“Bagus!”

“Emang dia mau ngasih uang kamu berapa?”

“Rp 200 juta, Pak”

“Kamu nggak tertarik? Kan lumayan tuh..”

“Sumpah tidak tertarik, Pak. Saya tak mau ambil risiko.”

“Hahaha…bagus”

“Siap, Pak”

“Sekarang kamu datangi lagi orang itu. Kamu bilang minta Rp 500 juta untuk informasi yang ia butuhkan.”

“Tapi, Pak”

“Biar meyakinkan, jika ia mau, uangnya jangan kamu terima dulu. Tegaskan uang akan kamu terima setelah informasi yang kamu sampaikan terbukti.”

“Tapi, Pak”

“Ini perintah”

“Siaapp, Paakk!”

PSK Galau di Bulan Penuh Rahmat (18)


Ringkasan sebelumnya: Bruno, sopir yang mengantar Ramon dan Arni, tertangkap orang-orang suruhan Jaka. Ia pun akhirnya bercerita kemana kedua penumpangnya pergi setelah mengalami siksaan. Selengkapnya…

 

Namanya perburuan biasanya orang yang diburu makin menjauhi orang yang memburunya. Ini sebaliknya, buruan itu secara tak terduga malah menghampiri orang yang memburunya.

Begitulah, Ramon dan Arni kini sedang menuju kapal pesiar yang juga ditumpangi Jaka dan Gofar. Kedua manusia berbeda jenis kelamin itu bukan hendak menyerahkan diri, mereka justru hendak bersembunyi karena di kapal pesiar ada, Jarot, kakak Arni.

Jaka dan Gofar tentu saja tak bisa langsung gembira. Kapal pesiar mewah tersebut bukan wilayah kekuasaannya. Status Jaka di kapal itu sama seperti penumpang pada umumnya. Ia tak punya keistimewaan seperti selama ini dinikmati di daratan, di Surabaya dan Jakarta.

Adapun kehadiran Jaka dan Gofar di kapal itu karena undangan salah seorang pejabat penting di Jakarta. Pejabat tersebut meminta Jaka datang untuk menindaklanjuti rencana pendirian sebuah tempat hiburan malam paling mewah di ibukota.

Jaka ikut berperan atas karier pejabat tersebut. “Persahabatan” mereka sudah berlangsung lama saat sang pejabat berkarier di Surabaya. Karenanya, sang pejabat ingin melanjutkan persahabatan dalam sebuah bisnis tempat hiburan malam. Jaringan wanita malam yang dimiliki Jaka berpeluang untuk membesarkan bisnis itu.

Masalahnya, selain dengan Jaka, sang pejabat itu juga punya kongsi bisnis dengan seorang pengusaha Singapura. Jaka sudah mendengar nama besar pengusaha itu. Karenannya ia tak menyia-nyiakan kesempatan bertemu dengan si pengusaha di kapal pesiar yang akan berkunjung ke negeri Singa itu.

Ternyata selain kongsi bisnis, Jaka memperoleh pekerjaan tambahan baru. Pekerjaan itu adalah menangkap Ramon dan calon bininya. Jika itu terjadi di daratan, pasti mereka tak akan pusing karena punya banyak orang yang bisa diperintahkan menangkapnya.

Tapi ini di kapal milik orang asing. Keduanya harus berpikir keras bagaimana buruannya tetap bisa diamankan hingga dua tujuan di kapal pesiar itu tercapai semuanya.

***

Kapal pesiar itu seperti sebuah hotel bintang berjalan. Bukan hanya fasilitasnya lengkap, namun keamanannya sangat terjamin.

Selain memiliki kamar-kamar mewah, kapal itu juga dilengkapi kolam renang, tempat sauna, tempat karaoke, gym, lapangan golf mini, hingga kasino. Fasilitas terakhir itu ternyata banyak diminati orang-orang Asia, termasuk Indonesia.

 

Para penumpang kapal pesiar tersebut dipastikan dari kalangan berduit, karena tarifnya tidak murah. Mereka orang-orang eklusif. Biasanya dari kalangan pengusaha, pejabat yang sedang berkuasa, anaknya pejabat dan pengusaha sukses, atau mantan pejabat yang sudah kaya raya.

Sebelum masuk ke kapal, semua penumpang diperiksa. Tak dilarang membawa senjata api, namun selama di kapal pesiar, senjata itu harus dititipkan. Demikian halnya dengan senjata api milik Jaka dan Gofar.

Kapal itu dipimpin seorang kapten kapal asal Amerika Serikat. Sang kapten memiliki banyak deputi yang membawahi sejumlah area yang biasa dilewati. Jarot adalah salah satu deputi untuk wilayah Asia Tenggara. Dialah satu-satunya orang Asia Tenggara yang berhasil mencapai jabatan tertinggi di sebuah kapal pesiar.

Jalan panjang telah ditempuh Jarot untuk mencapai jabatan itu. Ia memulai dari bawah sebagai anak buah kapal yang bertugas semacam cleaning service. Namun keseriuan bekerja dan kejujuran membuat kehadirannya makin dipercaya.

Jarot juga orang yang mau belajar. Kemampuan menguasai sejumlah bahasa membuat pangkatnya terus meroket.

Banyak kawan-kawan seangkatannya iri sekaligus kagum. Mereka iri karena Jarot semakin dipercaya atasannya, namun sekaligus juga kagum karena ia merupakan sosok pekerja tak kenal lelah.

Jarot rela tak pernah pulang selama beberapa kali Lebaran karena harus terus berlayar dari satu negara ke negara lainnya. Ia tak mengeluh rumah tangganya berantakan karena terlalu mementingkan pekerjaan.

Setelah menjadi atasan, banyak anak buah kian mengangguminya. Ia merupakan sosok atasan yang paling respek dengan nasib anak buahnya. Mungkin karena Jarot memulai karier dari bawah sehingga selalu punya empati pada orang-orang di bawahnya.

Jarot mengangkat telepon dari Yati, adiknya.

“Mas, Jaka ternyata ada di kapal pesiar tempat mas Jarot kerja. Jadi gimana nih, Mas?”

“Ah, yang bener kamu Yat.”

“Bener mas. Aku juga gak nyangka. Mas Jarot ngomong saja sama Mas Ramon ya?” Yati lalu memberikan handphonenya ke Ramon.

“Maaf Mas. Ganggu terus….” Ramon buru-buru mengawali pembicaraan dengan calon kakak iparnya itu.

“Kamu yakin orang jahat yang memburu kalian ada di sini.”

“Bener mas. Informasinya A1.” Ramon serius seraya menjelaskan darimana informasi itu. Yakni, dari Jamila, istri Jaka yang disia-siakan,

“Nama lengkapnya siapa? Nanti saya periksa,” tanya Jaka seraya meluncur ke ruang data yang tak jauh dari ruang kerjanya.

“Nama aslinya Sujoko, namun biasa dipanggil Jaka. Kelahiran Surabaya. Satunya lagi Gofar, anak buah Jaka.”

Percakapan terhenti sejenak karena Jarot sedang mengetik nama itu di ruang data. Hap, nama itu benar-benar muncul.

“Wah bener mereka ada di sini. Mereka akan ikut ke Marina Bay. Dari sana mungkin kembali ke Jakarta atau Surabaya menggunakan pesawat.” Jarot menelepon kembali Ramon, membenarkan temuannya.

***

Kini Jarot harus berpikir keras, bagaimana agar adiknya bisa sampai ke kapal bukan hanya dengan selamat, tapi tak diketahui Jaka. Ia juga berpikir bagaimana akan memperlakukan kedua orang yang akan melukai adiknya itu. Mereka juga penumpang yang harus ia dilindungi.

Jarot lalu menelepon anak buahnya yang sedang membawa motor boat yang ditumpangi Ramon dan Arni . Ia memberikan sejumlah petunjuk yang langsung dijawab dengan siap oleh sang anak buah tersebut.

Kapal motor yang ditumpangi Ramon dan Arni berbelok kearah pulau, tak jadi menuju ke kapal pesiar yang sudah terlihat dari kejauhan. Ramon dan Arni pasrah. Mereka yakin pilihan itu adalah pilihan terbaik demi keselamatannya.

Jarot memprediksi, Jaka dan Gofar sedang mengawasi penumpang yang keluar masuk ke kapal itu. Dengan demikian jika Ramon dan Arni datang menggunakan pintu biasa, kehadirannya di kapal itu akan diketahui.

Sebagai sosok yang telah menguasai seluk beluk kapal sekaligus menguasai trik-trik mengecoh pembuat onar di kapal, tak terlalu sulit bagi Jarot untuk mengamankan kehadiran adiknya di kapal itu.

Ramon dan Arni di tempatkan di sebuah cottage di pulau itu untuk sementara. Saat kapal akan meninggalkan pulau, Jarot membuat upacara dadakan. Tentu saja setelah ia melapor kepada kapten kapal tentang maksud dan tujuan diadakannya upacara itu.

Sejumlah petugas kapal dan cottage di pulau itu dikerahkan. Sebagian penumpang kapal, apalagi Jaka dan Gofar diperkirakan menyaksikan upacara tersebut. Nah, saat itulah, anak buah Jarot membawa Ramon dan Arni menggunakan sekoci menuju sebuah pintu darurat di kapal pesiar itu.

Skenario itu sukses 100 persen. Jaka dan Gofar hanya bisa saling berpandangan. Kemana gerangan dua mahluk yang sedang diburunya, sementara kapal pesiar mulai berlayar meninggalkan pulau? (Bersambung)

PSK Galau di Bulan Penuh Rahmat (17)


Ringkasan sebelumnya: Pernah nonton film laga berupa kejar-kejaran antara polisi dan penjahat yang diburunya?. Ramon dan Arni merasakan seperti dalam adegan film tersebut. Mobil yang mereka tumpangi dikejar orang-orang suruhan Jaka. Selengkapnya…

Atas petunjuk Jarot, Ramon dan Arni diminta tak langsung menuju Marina Ancol. Mereka disarankan masuk ke Dufan untuk menghilangkan jejak. Dari Dufan, Ramon dan Arni harus ganti dengan taksi.

“Dari situ jaraknya sudah dekat sekali. Karena itu bilangin sama sopir taksi, nggak perlu pakai argometer. Kasih saja uang Rp 100.000. Pasti mau…” Jarot memberikan petunjuk seraya memberi tahu ciri-ciri orang yang akan menjemput adiknya itu di Marina Ancol.

“Sekarang orangnya masih dalam perjalanan, sekitar 15 menitan lagi nyampe. Makanya putar-putar dulu di Dufan, supaya orang-orang yang memburumu kehilangan jejak.”

Ramon dan Arni segera mengikuti petunjuk Jarot. Mereka menyiapkan ongkos untuk Bruno berupa sejumlah uang seperti yang telah disepakati sebelumnya. Sopir asal Madiun, Jawa Timur, itu tampak senang. Ia tak hendak menghitung kembali segepok uang lembaran Rp 100.000 yang dianggapnya lebih dari cukup.

Ketika diminta berhati-hati, Bruno bilang tak masalah. Ia seolah paham bahwa keselamatan Ramon dan Arnilah yang lebih penting daripada dirinya.

Mereka lalu berpisah. Ramon dan Arni pindah ke sebuah taksi yang mengantre terdepan. Bruno melanjutkan perjalanan, entah kemana.

Seperti telah diduga, sopir taksi tertawa mendengar tujuan yang disebutkan Ramon. Namun begitu, calon penumpangnya mengeluarkan uang Rp 200.000 sebagai tarifnya, sopir taksi itu langsung diam.

Ia mempersilahkan Ramon dan Arni masuk ke dalam mobilnya dengan ramah. Sopir taksi itu sempat bertanya ini-itu karena tampaknya ia penasaran dengan sosok penumpangnya kali ini.

Ramon dan Arni tentu saja tak berterus terang karena tak ada gunannya. Begitu sampai di dermaga Marina Ancol, seorang pemuda berbadan tegap, bertopi biru dan menggunakan kaca mata hitam menyambutnya.

Pemuda itu bilang utusan Jarot. Ramon dan Arni yakin dia tak berbohong karena ciri-cirinya persis seperti disebutkan Jarot. Apalagi pemuda itu langsung memanggil nama Ramon dan Arni. Dengan sigap ia mengajak keduanya menuju motor boat yang penampilannya terlihat keren.

Sopir taksi yang baru mengantar Ramon dan Arni tak segera beranjak pergi. Ia tak habis pikir melihat fakta tentang kedua penumpangnya. Ia menebak-nebak bahwa pasangan itu adalah pasangan suami-istri kaya raya yang hendak berlibur ke Kepulauan Seribu. Tapi mengapa terburu-buru? Bukankah mobil yang tadi ditumpanginya bisa mengantar langsung ke dermaga itu? Tapi kalau orang kaya, kenapa pula mobil yang ditumpanginya tadi butut?

Sopir itu segera menepis bayangannya. Ia tersenyum meninggalkan Marina Ancol dengan uang Rp 200.000 di kantung hanya untuk sebuah jarak tak sampai 1 kilometer.

***

Tanpa Ramon dan Arni, jantung Bruno tak lagi berpacu kencang. Namun sebaliknya, ia mulai merasakan lelah dan mengantuk. Ia tak mungkin melanjutkan perjalanan pulang dengan kondisi seperti itu.

Selain ngantuk, ia juga kebelet buang hajat. Dari tadi ia terpaksa menahan keinginan itu karena tak mungkin melakukannya saat genting. Masak sedang dikejar-kejar penjahat minta break untuk ke toilet. Nggak lucu, bukan?

“Emang adegan film apa?,” bisik Bruno dalam hati, sambil tersenyum sendiri.

Saat mengetahui ada tulisan toilet di Samudra Atlantik, Bruno langsung masuk ke areal parkir. Dengan sedikit terburu-buru ia keluar dari mobil dan berlari menuju toilet. Ah, betapa leganya perasaan Bruno. Ia seperti baru terbebas dari himpitan benda satu ton yang sedari tadi membebaninya.

Masih di dalam WC yang terkunci, Bruno meraih celana dan mengambil uang pemberian Ramon di salah satu sakunya. Ia lalu menghitungnya jumlah lembaran uang Rp 100.000 pemberian Ramon. Ternyata lebih banyak dari jumlah yang disepakati.

Alhamdulillah, Lebaran tahun ini terasa indah,” kata Bruno pelan.

Dengan uang itu, ia membayangkan akan bikin kejutan buat istrinya. Ia akan membelikan kalung emas yang sejak menikah baru dijanjikannya. Ia juga akan membawa baju baru plus mainan untuk anak semata wayangnya. Indahnya hidup ini saat punya banyak uang. Bruno senyum-senyum sendiri.

Setelah puas, ia pun keluar dari WC. Namun betapa terkejutnya Bruno saat menyaksikan dua orang pria sudah berdiri di hadapannya. Keduanya langsung menyergap Bruno, satu diantaranya menodongkan sebuah pistol ke arah muka Bruno sambil mengancam: jangan berteriak jika masih ingin hidup!

Bruno tentu saja tak berani melakukan perlawanan. Saat bekerja pada bosnya yang pengusaha panti pijat beberapa tahun lalu, ia pernah menyaksikan orang ditodong menggunakan pistol. Karena melawan, orang itu didor beneran hingga tewas. Sang penodong kabur dan tak pernah terungkap kasusnya.

“Kamu sembunyikan dimana penumpangmu?”

“Penumpang ?”

Plaakkk, sebuah tempelengan keras mendarat di mukanya.

“Jangan pura-pura bego lu. Penumpangmu yang kamu bawa tadi. Satunya lelaki, satunya perempuan.”

Bruno tak segera menjawab. Takut salah dan ditempeleng lagi.

Tapi justru karena diam, plaak… ia kena tempeleng kedua kalinya.

“Tadi saya mengantar sampai di sini. Trus mereka naik taksi,” jawab Bruno berterus terang. Ia bingung karena serba salah menghadapi dua pria yang diduga para pemburu Ramon dan Arni.

“Kamu masih mau menyembunyikannya? Mau dibikin cacat ya?” Salah seorang dari pria itu mengeluarkan sebuah pisau lipat. Keterangan Bruno dianggap belum cukup.

“Buukk” Sebuah pukulan mendarat di rahangnya. Darah merah keluar dari mulut Bruno.

Melihat jiwanya makin terancam, ia pun mengatakan apa yang diketahuinya. Bahwa Ramon dan Arni menuju Marina Ancol karena aka ada seseorang yang menjemputnya menggunakan perahu motor.

Marzuki, salah seorang dari pria yang menempeleng Bruno, segera menelepon Gofar. Ia mengabarkan kepada komandannya itu bahwa buruan mereka naik motor boat ke arah Kepulauan Seribu.

“Apaaa, Kepulauan Seribu?” Gofar setengah berteriak, tak percaya. Ia lantas menyerahkan handphone ke Jaka yang ada di sebelahnya.

“Zuk, yang namanya Kepulauan Seribu itu pulaunya tidak satu, banyak. Jadi menuju ke pulau mana? Pulau bidadari, Pulau Pramuka, Pulau Tidung, Pulau Bira atau pulau mana?”

“Aduh, maaf tuan bos, saya tadi belum nanya soal itu. Sebentar ya?”

Marzuki mendatangi Bruno yang tak berdaya untuk menanyakan ke pulau mana kapal boat yang ditumpangi Ramon dan Arni. Bruno pun menyebut ke sebuah pulau yang ada Kapal Pesiarnya.

Bruno tak tahu di nama pulau itu, karena Ramon dan Arni tak pernah menyebutnya.

Meski dipaksa hingga pipinya berdarah karena goresan pisau lipat, Bruno tetap saja tak bisa menyebut pulau apa. Marzuki kembali menelepon Gofar dan menyampaikan info bahwa Ramon dan Arni menuju sebuah kapal pesiar di Kepulauan Seribu.

“Kapal pesiar, yang beneerr…,” teriak Gofar tak habis mengerti. Ia buru-buru mengabari Jaka.

Sang bos ternyata menujukkan reaksi serupa. “Apaa, dia mau ke sini. Yang beneerr…” (bersambung)

PSK Galau di Bulan Penuh Rahmat (16)


Ringkasan sebelumnya: Perjalanan terlama Ramon menuju Bandara Soekarno-Hatta justru saat melintasi Jakarta yang super macet. Namun begitu sampai bandara mereka langsung harus balik kanan karena orang suruhan Jaka sudah ada di sana.Selengkapnya…

 

Marzuki menelepon Gofar saat sebuah mobil yang diawasinya dari tadi tak jadi menurunkan penumpang di lobi terminal keberangkatan Bandara Soekarno-Hatta. Ia menduga di dalam mobil itu adalah Ramon, buruannya.

“Kamu yakin mobil itu ditumpangi Ramon si kurang ajar itu.” Gofar minta ketegasan Marzuki, anak buahnya.

“Yakin 100 persen, bos. Dari semua mobil yang kita awasi, baru mobil itu yang tak menurunkan penumpang. Saya yakin sekali karena nomor mobilnya, AE. Nomor mobil Madiun, Jawa Timur.”

“Kalau begitu kejaaar!!. Kerahkan semua. Eh, tinggalin satu orang dibandara. Siapa tahu balik lagi.” Gofar memerintahkan Marzuki yang ditemani tiga kawannya untuk mengejar mobil yang diduga berisi Ramon.

Mobil yang akan ditumpangi Marzuki sudah nongkrong di depan lobi bandara sejak tadi. Strategi itu dilakukan agar gampang mengejar buruan.

Padahal tak jauh dari mobil itu ada rambu larangan parkir. Namun entah bagaimana caranya, Marzuki dan kawan-kawan bisa dengan bebas melanggar aturan itu.

Bisa saja mereka mengaku sebagai anggota polisi yang tengah menyamar. Potongan mereka yang berambut cepak dan bertubuh tegap cukup meyakinkan para sekuriti bandara.

Jika tak percaya juga, maka jurus pamungkas pun akan mereka keluarkan. Apalagi kalau bukan fulus. Siapa sih yang tak doyan uang? Geng Jaka tak segan-segan mengeluarkan uang dalam jumlah berapa pun asal tujuan mereka tercapai.

“Aturan kan dibuat untuk dilanggar.” Demikian Gofar pernah bilang pada Marzuki. Gofar mengutip apa yang pernah didengar dari bosnya, Jaka. Lalu Jaka mengutip siapa? Mungkin Jaka akan bilang mengutip para pendekar hukum, entah siapa

Maka Honda CRV yang ditumpangi Marzuki dan kawan-kawan melesat memburu Toyota Kijang kapsul tahun 2000-an yang ditumpangi Ramon dan kawan-kawan.

Dengan kecepatan lebih baik, dari kejauhan, Marzuki dan kawan-kawan melihat mobil yang diburunya. Mobil itu ternyata mengambil jalur menuju Ancol.

“Loh, kok belok ke Ancol, emang mau kemana mereka ya?” Kawan Marzuki yang mengemudikan mobil membayangkan Ancol identik dengan taman impian, dunia fantasi atau biasa disebut dufan.

“Udah ikuti saja. Kemanapun mereka kabur, tugas kita adalah menangkapnya hidup-hidup!”

“Siap, bos!!!”

***

Ramon panik. Matanya terus mengawasi mobil-mobil yang melaju di belakang kendaraan yang ditumpanginya.

Ia tak tahu kendaraan jenis apa yang kini tengah mengejarnya. Yang pasti, ia yakin mobil itu lebih bagus dari mobil Bruno.

Ramon hanya mengandalkan firasat bahwa salah satu mobil di belakangnya, cepat atau lambat, pasti menyusul. Jika itu terjadi, habislah riwayatnya. Tak ada lagi mimpi indah bersama Arni.

Ramon merasa pelariannya saat itu merupakan pelarian terakhir. Ia membayangkan ruang geraknya sudah habis.

Ia membayangkan, kalau saja ia nekat turun di bandara, pasti dengan mudah akan ditangkap orang-orangnya Ramon. Apalagi ia belum memegang tiket pesawat, masih belum tahu jam penerbangan ke Papua, masih tanya ini-itu, pokoknya masih menunggu.

Posisi seperti itu sangat tidak menguntungkan bagi dirinya sebagai orang buruan.

Biasanya, jika hendak berpergian menggunakan pesawat, ada staf yang mengurusnya. Namun Ramon tak mungkin mengontak staf tersebut karena yang bersangkutan lebih berpihak pada Jaka yang menggajinya.

Sekali lagi, Ramon merasa tak punya pilihan. Ia harus menghadapi apa yang tak pernah dibayangkan dalam hidupnya; diburu bak seorang buronan paling membahayakan.

Bruno ikut panik. Namun tingkatanya masih jauh di bawah Ramon. Ia hanya kena dampak dari situasi yang dihadapi penumpangnya.

Paling panik adalah Arni. Wanita itu seperti sedang berada dalam sebuah film laga yang pernah ditontonnya, tapi film apa, ia tak ingat?

Selama menjadi PSK di Jakarta, Arni tak pernah sempat menonton bioskop 21. Soalnya, saat film itu diputar, ia harus siap-siap bekerja melayani tamunya.

Paling banter, Arni hanya menonton film-film laga VCD bajakan. Itupun tak pernah ditonton sampai habis, karena pasti ketiduran hingga VCD yang diputarnya tak ada gambarnya lagi alias habis.

Saat berpacaran dengan Jarpul ia pernah diajak nonton film laga di layar tancap sebuah acara hajatan. Kala itu film laga yang ditontonnya adalah film mandarin.

Arni tak pernah tahu judulnya. Yang ia ingat, film laga itu banyak adegan kejar-kejaran mobil seperti yang kini tengah dialaminya.

Di tengah kepanikan, tiba-tiba ia ingat seseorang. Ia pun mengeluarkan handphonennya dan menelepon orang tersebut.

“Mas Jarot, ini mas Jarot bukan. Ini Yati. Marniyati,”

“Ada apa Yat?” Raut wajah Arni seketika berubah gembira mendengar jawaban itu.

“Mmaas, maassss Jarot, sekarang dimanaaa?”

“Loh memang ada apa to Yat. Mas kan sudah bilang pulangnya nanti, kalau udah deket lebaran.” Jarot menangkap kepanikan dalam kalimat Yati.

“Yati tahu mas. Mas Jarot dimana? Yati sekarang sedang di jalan tol, sedang dikejar penjahat?”

Jalan tol, dikejar penjahat? Jarot tampaknya belum nyambung dengan apa yang disampaikan adiknya. Di pikirannya, Yati sekarang sedang berada di kampung halaman.

Ia telah membekali uang cukup banyak pada pertemuan tak terduga sebelumnya. Karena itu ia juga melarang adiknya kembali ke Jakarta. Paling tidak sampai ia pulang kampung.

Jadi mana mungkin sekarang adiknya sudah di Jakarta? Apakah Yati tak mau menuruti larangan dia sebagai kakak kandungnya? Apa yang kau cari Yati?

Namun setelah Yati menjelaskan alasan mengapa ia berada di Jakarta, Jarot akhirnya bisa mengerti. Ia pun langsung memerintahkan agar sang adik meluncur ke Marina Ancol.

Jarot akan memerintahkan anak buahnya menjemput Yati dan Ramon menggunakan motor boat.

Jarot bilang, kapal pesiar tempatnya bekerja masih bersandar di kawasan Kepulauan Seribu. Hari itu merupakan hari terakhir. Jadi kebetulan Yati mengontaknya.

Ada secuil kelegaan di hati Yati, juga Ramon, bahwa mereka ternyata masih diberi alternatif untuk selamat dari kejaran Jaka dan kawan-kawannya.

Tapi bagaimana mereka bisa selamat sampai Marina Ancol sedang orang-orang Jaka sekarang membuntutinya? (Bersambung)

PSK Galau di Bulan Penuh Rahmat (15)


Ringkasan sebelumnya: Ramon menikmati perjalanan ke Jakarta bersama Arni. Ia ingin cepat terbang ke Papua, via Bandara Soekarno-Hatta, untuk menghindari Jaka yang hendak membunuhnya. Selengkapnya…

 

Mobil yang ditumpangi Ramon masuk jalan tol Cikampek. Masih sepi. Mereka mampir ke rest area pertama untuk melakukan makan sahur sekaligus shalat subuh.

Setelah itu mereka melakukan perjalanan lagi dengan kecepatan yang sama. Sampai di wilayah Bekasi, lalu lintas sudah padat. Perjalanan pun tersendat.

Saat itu, berduyun-duyun kendaraan menuju Jakarta. Arah sebaliknya sepi.

Ah Jakarta, pikir Ramon, makin hari bukannya kian nyaman. Beberapa kali ganti gubernur, ganti presiden, tak pernah ada penyelesaian soal lalu lintasnya. Sudah tahu panjang jalan segitu-gitu saja, jumlah kendaraan tak dibatasi, angkutan umumnya tak diperbaiki.

Akibatnya, pembangunan jalan tol yang semula dimaksudkan untuk melancarkan arus lalu lintas, hasilnya sami mawon. Pada jam sibuk, terutama pagi dan sore hari, hampir semua jalan tol macet-cet. Malah kadang-kadang kemacetan di jalan tol lebih parah dibanding jalan non tol.

Padahal masuk jalan tol tak murah tarifnya. Pengelola cuek saja memunguti uang ongkos tol, tak peduli dengan situasi yang terjadi. Macet tak macet ongkosnya sama saja.

Ah, mestinya ibukota dipindah saja. Jakarta sudah tak cocok lagi menyandang itu. Tapi tampaknya tak pernah ada rencana serius ke arah itu, seperti halnya tak pernah ada langkah serius untuk mengatasi kemacetan lalu lintas yang kini menjebak Ramon dan Arni.

“Mas…” Suara itu membuyarkan lamunan Ramon. Suara yang terdengar aneh, karena baru kali ini Arni memanggil Mas, bukan Mon seperti biasanya.

“Iya din. Dindaku sayang…” Ramon menjawab dengan panggilan tak biasanya pula.

“Jakarta mestinya dipindah saja kali ya?”

Halah, cara berpikirnya kok sama sih? Tapi Ramon senang mendengarnya.

“Dipindah kemana kira-kira ya din”

“Dipindah jauh, biar nggak macet kayak gini. Biar keramaian juga merata. Nggak hanya di Jawa”

“Oh, maksudnya digeser ke luar Pulau Jawa?”

Arni mengangguk. “Tapi jangan ke Papua?”

“Loh, kenapa?”

“Kita kan bersembunyi di sana”

“Oh iya, ya. Kamu pinter banget, dindaku sayang.” Ramon mencubit pipi Arni, gemes.

Ramon kemudian mengajak ngobrol Bruno. Ia bertanya apakah sopirnya itu pernah membawa mobil di Jakarta. Bruno bilang pernah. Ia pernah bekerja menjadi sopir seorang pengusaha.

“Pengusaha apa Brun?”

“Pengusaha panti, mas”

“Panti asuhan? Emang ada”

“Bukan, mas”

“Lalu apa?”

“Panti pijat, mas”

“Halah, yang bener”

“Masa bohong, kan bulan puasa”

“Oh iya, ya…”

“Kamu pernah nyobain, Brun,” Arni nimbrung, menggodanya.

Nyobain apa, mbak?”

“Ya dipijatlah. Dipijat dipanti pijat punya bosmu?”

“Ah, ya nggaklah, mbak”

“Nggak cuma sekali ya?”

Hahaha..Burno tak kuasa menahan tawa.

“Bisa aja si mbak ini,” katanya.

“Emang panti pijat apaan sih?” Ramon menimpali.

“Panti pijat tradisional.”

“Apanya yang tradisional.”

“Nggak tahu”

“Tukang pijatnya?”

“Nggak tahu”

“Gaya pijatannya”

“Nggak tahu”

“Atau otot yang dipijatnya.”

“Ya, ya, ya Mungkin itu…”

“Kamu pasti pikirannya mesum ya.”

“Yang bener sih ya memang itu.”

“Apaan sih”

“Ya itu tadi. Panti pijat mesum”

Ramon dan Arni saling berpandangan. Mereka seolah memperoleh pengakuan dari seorang anak kecil yang baru mau mengatakan sesuatu yang berusaha disembunyikannya.

Sempat Ramon menanyakan apakah Bruno hafal jalan lain ke Bandara Soekarno-Hatta selain melalui jalan tol. Misalnya, melalui Jalan Tol Lingkar luar, kemudian keluar Serpong, dan masuk tol lagi.

Bruno menggeleng kepala. Saat jadi sopir pengusaha panti pijat tadi, katanya, jalan tol lingkar luar atau dikenal dengan Jakarta Outer Ring Road (JORR) belum jadi.

***

Ramon dan Arni kehabisan obrolan ketika mobil yang dikendarainya hampir sampai Bandara. Sebuah SMS kemudian masuk. Ramon buru-buru membukanya karena SMS itu dari Jamila.

“Hati-hati, orang-orang Jaka sudah ada yang di bandara Soekarno-Hatta.”

Jantung Ramon langsung berdegub. Ternyata usaha pelariannya benar-benar belum aman.

Arni menanyakan apa isi SMS itu. Ramon pun berterus terang bahwa orang-orang Jaka ada di Bandara.

Ramon segera memerintahkan Bruno untuk memperlambat laju mobilnya. Ramon segera menutup kaca jendela, mengenakan topi dan kaca mata, agar wajahnya tak dikenali dari luar. Arni ia perintahkan merunduk.

Karena terlalu perlahan, laju mobil yang dikendarai Bruno sempat diklakson mobil di belakangnya karena dianggap menganggu. Atas perintah Ramon, Bruno menambah kecepatan mobilnya. Baru setelah tiba di depan lobi bandara laju mobil kembali diperlambat.

Tiba di depan lobi terminal keberangkatan bandara, semua penumpang turun dari mobil yang mengantarnya. Sebaliknya, Ramon memerintahkan Bruno untuk jalan terus.

“Brun, Cabut, cabut. Jalan terus. Kita tinggalkan bandara,” perintahnya.

Meski tak tahu dengan situasi yang dihadapinya Bruno menuruti perintah Ramon.

“Emang ada apa sih, Mas.”

“Aku tadi melihat orangnya Jaka. Kita tidak aman jika nekat turun di Bandara sekarang!”

“Terus gimana dong

“Kita kabur dulu, jauhi mereka.”

“Jalan teruuusss Brun!,” perintah Ramon lagi. Badannya berbalik mengawasi deretan mobil di belakangnya. Ia khawatir orang-orang Jaka tahu, dia tak jadi turun di bandara dan kini mengejarnya. (Bersambung)