Yang “Kita” Lakukan dalam Setengah Jam


Cuma setengah jam waktu tersedia, apa yang bisa kita lakukan?
Kamu terdiam, namun tampak gelisah seperti terlalu lama kesepian.
“Tunggulah kau di situ aku akan menyeduh minuman favoritku dulu.”
Kamu tampak cemburu. “Mengapa aku dikalahkan minuman,” pikirnya.

Aku memenuhi ucapanku: cuma sebentar. Dan kamu tampak senang.
Usai meletakan segelas STMJ di meja, kamu berujar: hurry up, cepatlah!
Aku tak menjawab dengan kata-kata. Aki raih dia, aku ajak bercanda.
Kamu tampak terpingkal-pingkal nikmat saat aku memutar tubuhnya.

Aku suka memilin-milin tubuhmu, dan kau tampaknya ketagihan bukan?
Dia mengangguk seraya berbisik, cepatlah buat yang lebih dari itu….
“Tentu saja. Meski hanya setengah jam, jangan terburu-buru,” ucapku.

Kamu diam saja. Pasrah. Namun kepasrahan yang tak bisa disepelekan.
Aku pun membuat keputusan yang lebih seperti dimintanya.
Aku membuat dia terbakar, membuat jiwanya luruh, terbang ke angkasa.

Setengah jam yang kita janjikan habis sudah.
Kamu tampak puas, demikian juga aku.

“Lain waktu, kita masih bisa bersama bukan. Meski cuma setengah jam.”

————
* Mengisi waktu setengah jam dengan Dji Sam Soe

 

“Kamu” Yang Benar-Benar Keterlaluan


Kita telah bersama sekian waktu
Kita telah bersama mengarungi dunia kata
Bahkan ikut terlibat dalam dunia wacana
Tak ada waktu terindah selain saat bersamamu

Kamu begitu sabar menungguku
Kamu begitu telaten mendengar ide-ideku
Kamu begitu tenang menerima makianku
Kamu begitu bijak menerima pilihanku
Pilihan antara siang atau malam menjagaiku

Rasanya tak cukup kata menceritakan kesetianmu
Agaknya tak ada alasan untuk berpaling darimu

Aku tahu kamu tak sempurna
Tak ada mahluk ciptaan Tuhan yang sempurna
Apalagi itu hanya buatan manusia

Kamu juga mungkin bisa marah, ngambek.
Toh aku selalu sabar menanti kemarahanmu reda, bukan.

Kemarin-kemarin, kamu juga begitu: ngadat!
Aku hanya kesal karena kau membisu saat aku membutuhkan

Hingga satu jam lebih aku memandangmu tanpa ucap
Aku tahu kamu tidak mati, tapi mengapa kemarahanmu begitu lama.

Ayo senyumlah kawan…
Aku sudah ngantuk nih.

Sumpah, aku akan tega meninggalkanmu
Sumpah, aku mau tidur saja.

“Ya sudah aku tidur saja,” teriakku.
Kamu tak memberikan jawaban

“Huh payah. Aku serius tidur neh”
Zzzzz….aku pura-pura tidur.
Dan ya ampun kamu tetap tak tergoyahkan

Maka aku pun benar-benar mematikan lampu,
Mamatikan komputer, masuk ke kamar tidur.
Good Night

* Kamu adalah speedy yang tak berfungsi malam (31 Mei 2011) dan kami pun terpaksa aku ceraikan berganti first media

Cuma Setengah Jam


Cuma setengah jam waktu tersedia, apa yang bisa kita lakukan?
Kamu terdiam, namun tampak gelisah seperti terlalu lama kesepian.
“Tunggulah kau di situ aku akan menyeduh minuman favoritku dulu.”
Kamu tampak cemburu. “Mengapa aku dikalahkan minuman,” pikirnya.

Aku memenuhi ucapanku: cuma sebentar. Dan kamu tampak senang.
Usai meletakan segelas STMJ di meja, kamu berujar: hurry up, cepatlah!
Aku tak menjawab dengan kata-kata. Aki raih dia, aku ajak bercanda.
Kamu tampak terpingkal-pingkal nikmat saat aku memutar tubuhnya.

Aku suka memilin-milin tubuhmu, dan kau tampaknya ketagihan bukan?
Dia mengangguk seraya berbisik, cepatlah buat yang lebih dari itu….
“Tentu saja. Meski hanya setengah jam, jangan terburu-buru,” ucapku.

Kamu diam saja. Pasrah. Namun kepasrahan yang tak bisa disepelekan.
Aku pun membuat keputusan yang lebih seperti dimintanya.
Aku membuat dia terbakar, membuat jiwanya luruh, terbang ke angkasa.

Setengah jam yang kita janjikan habis sudah.
Kamu tampak puas, demikian juga aku.

“Lain waktu, kita masih bisa bersama bukan. Meski cuma setengah jam.”

————

* Mengisi waktu setengah jam dengan Dji Sam Soe. Jangan ditiru

 

Indonesia Kini Adalah


tukang ojek menunggu penumpang (Tubas Media)

Indonesia kini adalah tukang ojek

Mereka ada di mana-mana, tumbuh pesat tanpa direncanakan

Mereka hadir di setiap perempatan jalan, mulut gang, atau depan perumahan

Ojekers adalah tanggapan atas buruknya transportasi yang tersedia

Ojekers adalah jawaban atas tak sabarnya orang-orang kita

Ojekers juga solusi atas minimnya lapangan kerja untuk mereka

Bayangkan jika tak ada tukang ojek, mungkin kekecauan akan tercipta

Indonesia kini adalah mini market

Toko serba ada dilengkapi pendingin ruangan itu ada dimana-mana

Namanya Indomaret, Alfamart, Alfamidi, Cricle K dan masih banyak lagi

Ribuan usaha kecil serupa gulung tikar karena kehadirannya

Pejabat daerah dan wakil rakyat ikut resah, toh kehadirannya tak dicegah

Tidak bisakah usaha kecil itu dibina hingga tumbuh seperti minimarket juga.

Indonesia kini adalah pentas Pilkada

Setiap tahun ratusan miliar uang negara dibuang demi pentas pilkada

Padahal pelaksanaanya penuh kecurangan, bahkan korban jiwa

Selanjutnya kepala daerah terpilih bikin kebijakan sesuai jidatnya

Korupsi tak bisa dikendalikan, rakyat kebanyakan terpinggirkan

Pilkada dengan segala eksesnya malah seolah jadi ciri khas demokrasi kita.

Indonesia kini adalah para koruptor

Seperti wabah, para koruptor menyebar dari pusat hingga daerah

Kebijakan otonomi daerah eh diikuti dengan otomoni korupsi

Ada koruptor dihukum, tapi masih banyak lagi yang berkeliaran

Tatkala koruptor banyak yang divonis bebas di pengadilan tipikor

Keraguan pun muncul, bagaimana kita bisa bikin jera mereka?

Indonesia kini adalah putus asa

Keadaan lebih baik diyakini sulit diperoleh dalam waktu dekat kini

Semua kebijakan pemerintah hanya seolah-olah berpihak pada rakyat

Omongan pejabat tak bisa dipegang, polah wakil rakyat menambah kebencian

Nyaris tak ada lagi tokoh yang bisa dijadikan teladan

Rakyat pasrah, putus asa, dan tak sedikit yang masa bodoh

Mereka berperilaku seenaknya seperti dilakukan para elitenya

Wajah Yang Terluka


Inilah janji kami

Masuk sekolah negeri gratis

Tak ada lagi gedung sekolah ambruk

Biaya RS warga miskin 0 persen

Semua jalan dijamin mulus

Semua desa dapat dana besar

Jumlah pengangguran berkurang

Rakyat jadi sejahtera

 

Maka datanglah kalian ke TPS

Jangan lupa pilih kami

Pasangan pemimpin amanah

 

Berbondonglah sebagian warga ke TPS

Sebagian warga lainnya tak peduli

Mencoblos atau tidak toh sama saja

Tak mengubah keadaan

 

Jadi pasangan mana yang kau pilih?

Yah itu rahasia perusahaan dong

Lah, paket sembako kemarin apa gunanya?

Amplop titipan tadi apa artinya?

 

Jadi pasangan mana yang kau pilih?

Ah, kau seperti pura-pura bego saja

Ya yang gizinya paling bagus dunk

 

Setelah mereka terpilih kelak

Percayalah mereka akan lupakan pemilihnya

Buat apa menunggu untuk dibohongi.

 

Benar saja pemimpin terpilih itu

Main gusur

Main pungut

Gedung Sekolah tetap ambruk

Pemerintahannya korup

Merasa sangat berkuasa

Abaikan janji-janji

Pemilihnya gigit jari

 

Rakyat akhirnya menuntut si penguasa digulingkan

Tapi tak semudah membalik telapak tangan

Yang mencoba melawan dipenjarakan

Unjuk rasa dibalas unjuk rasa, juga pentungan

 

Yang miskin tambah miskin

Yang kaya mereka-mereka juga

Itulah wajah bangsa kita

Wajah bangsa yang terluka

Menanti Hujan Yang Tak Datang


Asyiknya hujan-hujanan (hujanorange.blogspot.com)

Hidup terasa nyaman itu bila kita bisa keluar dari kerutinan

Hidup terasa menantang itu bila kita bisa berbeda dengan kebanyakan orang

Hidup terasa “nendang” itu bila kita bisa melewati sebuah rintangan

 

Sore itu langit terasa gelap. Anak-anak tetangga masih tampak bermain di halaman.

Hujan kemudian turun. Anak-anak berlarian pulang ke rumahnya masing-masing.

Seorang ibu tampak tergesa menyusul anaknya yang tak segera pulang.

“Semua pulang kok kamu malah hujan-hujanan. Dasar anak nakal!”

Si anak meronta dan protes. “Tuh Rara kok masih boleh bermain,” katanya sambil menunjuk bocah 4,5 tahun yang baru keluar rumah dan berlari-lari kecil menyambut hujan.

Si ibu bocah yang meronta tadi tak peduli. Ia tetap menarik anaknya agar tak hujan-hujanan.

Papa dan Mamanya Rara mengawasi dari kejauhan. Mereka tak mungkin lagi memaksa anaknya pulang karena sudah hobi hujan-hujanan.

“Bilangin, jangan lama-lama,” ucap Mamanya Rara kepada suaminya.

***

Satahun silam, Mamanya Rara juga termasuk orangtua paling menentang anaknya hujan-hujanan.

Ketika itu ia khawatir daya tahan sang bocah tak akan kuat menahan dinginnya air hujan.

“Papa kan tahu, anak kecil kalau sudah hujan-hujanan sering lupa,” ucapnya beralasan.

Seiring dengan waktu, mereka pun sepakat membiarkan Rara bermain air hujan.

“Toh, hidup di negeri ini kalau tak kehujanan ya kepanasan. Jadi biar tubuhnya terlatih kena hujan.”

Tentu saja asal jangan saat hujan petir.

Tentu saja harus selalu diawasi dan dibatasi waktunya.

Lihat, betapa bahagianya anak kita hujan-hujanan. Ia berlari-lari sambil teriak-teriak. Bernyanyi, menendang air, berguling-guling…

“Susul sana Pa. Hati-hati kena beling (pecahan kaca)”

Papanya Rara pun menyusul bergabung, sekaligus memimpin bermain hujan-hujanan.

***

Hidup ini terasa indah bila kita bisa menjalani apa yang kita inginkan.

Hidup ini terasa berarti bila kita bisa melewatinya secara bersama-sama.

 

Rara pun selesai bermain hujan-hujanan.

Dan air kran kamar mandi jadi terasa hangat, bukan?

 

Sayangnya, sudah ditunggu-tunggu

Sore hari ini hujan kok nggak jadi turun ya, nak.

 

Inikah Negeri Kreatif Itu?


Dari sebuah bank
Seorang perempuan sesenggukan
Rupiahnya telah ditukar dolar
Oleh seorang pria baru dikenal
Ternyata uang dolar itu palsu

Dari satu rumah sakit
Seorang ibu menangis
Uangnya melayang
Dikirim pada seseorang
Yang bilang suaminya kecelakaan
Ternyata bullshit!

Di pinggir sebuah pertokoan
Seorang bapak berjalan gontai
Mimpi memperoleh mobil undian sirna
Uang tabungannya ikutan merana
Oleh panitia undian biang keladinya
Yang sosoknya ternyata tak pernah ada

Dari halaman gedung dewan
Serombongan pedagang berteriak lantang
Meski merasa sudah membayar sewa
Dan dijanjikan tak akan digusur paksa
Nyatanya ludas juga kios mereka
Ada yang sengaja membakarnya?

Jutaan orang kini pun berteriak tak berdaya
Penipuan pulsa handphone menyasar mereka
Belum lama diisi, lalu pulsa habis sendiri.
Hingga kini belum ada penyelesaiannya

Inikah negeri kreatif itu? Kreatif dengan tipu-tipu?

Ada yang mengatakan itu mudah memberantasnya
Usut penipuan dan hukum pelaku seberat-beratnya
Ternyata “yang mudah” itu tak pernah dilakukan
Ternyata, hal-hal itu hanya jadi wacana belaka

Para tokoh negeri pun banyak yang geleng kepala
Bagaimana mungkin (penipuan) itu bisa dihentikan,
jika penguasa sendiri gemar melakukan kebohongan?



http://ghucy.info/fullmusik/2/Pasto_-_Jujur_Aku_Tak_Sanggup.swf
Gratisan Musik