Tips Melintas Nyaman di Tol Cipali 


 

Matahari Pagi di Tol Cikampek . Mobil sudah antre

 
Sabtu  (11/7), kami akhirnya merasakan Jalan Tol Cipali (Tol Cikopo-Palimanan). Mungkin karena masih enam hari sebelum Lebaran atau H-6 perjalanan via Tol terpanjang di Indonesia itu berjalan relatif lancar.

Kami berpangkat usai sholat subuh. Begitu masuk Tol di pintu masuk TB Simatupang depan Citos, Cilandak, suasana mobil mudik dengan tumpukan barang bawaan di atas mobil sudah terasa. Perjalanan relatif lancar, hanya tersendat di beberapa pintu Tol keluar sepanjang jalan tol Jakarta-Cikampek.

Masuk pintu Tol Cikopo juga agak tersendat. Namun setelah itu lancar sehingga tidak terasa kecepatan rata-rata mobil melaju bisa 100 km per jam. Dengan kecepatan itu setiap mobil leluasa menyalip mobil lain melalui jalur kanan. 

Nah dalam kondisi lancar seperti itu seharusnya semua melaju dengan tertib. Tapi ternyata ada satu-dua pengendara mengemudi dengan ugal-ugalan. Yakni memaksakan diri menyalip pengendara melalui lajur kiri bahkan bahu jalan. Padahal bahu jalan sepanjang Tol Cipali relatif sempit.

Itu terbukti tatkala akhirnya antrean kemacetan panjang terjadi sebelum keluar tol Cipali. Antrean sepanjang 5 km itu harus ditempuh selama dua jam, di mana jalan Tol yang seharusnya dua jalur menjadi tiga jalur dengan jalan per lahan. 

  
Selain karena volume kandaraan yang mulai banyak, kemacetan di pintu Tol Palimanan diduga karena pengembalian ongkos Tol yang relatif tidak mudah. Tarif Tol Cipali yang didiskon 25 persen dari Rp 94.000 menjadi Rp 72.000 untuk golongan I. Banyak spanduk agar pengendara membayar dengan uang pas membuktikan soal uang pengembalian di pintu Tol itu memang masalah.

Setelah Tol Cipali perjalanan via Tol Palimanan Kanci dan Jol Martapura atau dikenai sebagai Tol Bakrie benar-benar lancar. Dibanding menggunakan jalan non Tol, menggunakan Tol terbukti memang lebih cepat.

Baiklah setelah pengalaman mudik via Tol Cipali saya ingin memberikan beberapa tip.

1. Mengingat Jalan Tol Cipali yang sangat panjang dan lurus, persiapkan kondisi badan yang prima. Beristirahat cukup sebelum jalan.

2. Panjang jalan Tol Cipali adalah 116,75 km terdiri dari jalan beton dan aspal. Kondisi mobil juga harus dipersiapkan. Sepanjang Tol Cipali ada beberapa mobil yang terpaksa minggir karena mogok.

3. Melaju dengan kecepatan di atas 100 km di Cipali tidak terasa. Tetapi tetaplah mengemudi dengan konstan dan menyalip pada saat diperlukan. 

4. Sempatkan mampir ke Rest Area. Di Tol Cipali sendiri ada dua Rest Area besar dan relatif lengkap karena ada restoran, mini market, dan SPBU. Jangan lupa buang air kecil/besar karena saat terjadi kemacetan Hal itu Akan bermanfaat.

5. Saya belum mencobanya. Tapi saya pikir untuk menghindari kemacetan panjang di pintu Tol Palimanan, mungkin bisa keluar dulu via Pantura/Cirebon kemudian masuk lagi tol Palimanan via Kota Cirebon. 

Selamat menjajal Tol Cipali yang mau mudik, semoga lancar.

Ketiduran Sebelum Stasiun Manggarai


kereta

Malam hari menunggu commuterline di Stasiun Manggarai

Pada suatu malam di Stasiun Tanah Abang, saya terlambat mengejar KRL commuterline arah Bogor. Meski menyesal, saya menghibur diri bahwa jika pun terkejar saya pasti tak dapat tempat duduk hingga stasiun tujuan, yakni Stasiun Depok Baru.

Mengejar KRL commuterline adalah pemandangan sehari-hari di stasiun transit seperti Stasiun Tanah Abang. Saya yang pulang kantor antara pukul 21.00-22.00 wib dari Stasiun Palmerah ke Stasiun Tanah Abang harus bersiap-siap menyisakan nafas tersengal-sengal karena berlari-lari mengejar kereta. Maklum usia sudah tak muda lagi dan jarang berolahraga.

Karena terlambat, saya pun memilih ke toilet untuk buang air kecil. Lalu kemudian turun ke peron tiba. Tak lama kemudian, tanpa pengumuman, Commuterline arah Bogor muncul dengan gerbong yang kosong. Tadinya saya mengira itu commuterline yang hanya sampai Stasiun Manggarai. Namun dugaan saya salah setelah petugas mengumumkan bahwa itu commuterline tujuan Bogor berangkat dari Stasiun Duri. Yakni satu Stasiun sebelum Stasiun Tanah Abang.

Karena sebagian besar penumpang sudah terangkut commuterline sebelumnya, penumpang dari arah Tanah Abang pun hanya segelintir orang. Dan malam itu, untuk pertama kalinya, saya duduk sendiri di sebuah gerbong kosong. Beberapa teman di twitter mengomentari bahwa saya serasa mendapai kereta jemputan, meminjam istilah mobil jemputan.

Nah, di Stasiun Karet, muncul seorang penumpang yang juga tampak terkesan dengan kondisi gerbong yang lain dari biasanya. “Coba setiap hari begini,” kata penumpang tersebut, membuka percakapan. Ia selanjutnya duduk persis di depan saya.

Tanpa ditanya penumpang tersebut menyatakan bahwa sayangnya ia hanya turun di Manggarai untuk tujuan Bekasi. Saya tentu saja mengatakan bahwa tujuan saya ke Bogor.  Dia bilang Bogor lebih jauh dari Bekasi. Saya mengangguk.

Karena tampak lelah, pria tersebut tampak melamun. Ia tampak tak memedulikan puluhan penumpang yang kemudian memenuhi gerbong di Stasiun Sudirman. Saya sendiri aktif dengan HP saya. Membuka akun Instagram atau twitter untuk membunuh kebosanan karena biasanya antre di pintu Perlintasan Manggarai seperti malam itu.

Setelah menunggu akhirnya kereta yang saya tumpangi tiba di Stasiun Manggarai. Penumpang tujuan Bekasi dan Kota biasanya akan turun. Saat itu juga saya memandangi pria di depan saya yang ternyata tidak ikut turun. Masya Allah ternyata ia tertidur pulas. Dengan gerakan spontan saya segera membangunkan perlahan. Pria itu terkejut seraya langsung meloncat turun dari stasiun.

Dari kejauhan ia sempat menengok saya sambil mengacungkan jempolnya. Saya pun hanya tersenyum. Saya pun membayangkan Andai kata ia tak bilang tujuannya ke Bekasi dan harus turun di Manggarai bagaimana jadinya.

Beruntung jika ia kemudian bangun hanya beberapa stasiun setelah Manggarai, mungkin masih bisa kembali karena masih banyak kereta arah sebaliknya. Bagaimana jika sampai Bojonggede, Cilebut, Bahkan Bogor. Biasanya kereta paling malam sudah habis!

Dan saya bersyukur bisa membangunkan dan membuatnya terhindar dari peluang kian menjauhi rumah  dalam perjalanan pulangnya.

Sopir Angkutan Sok Tahu: Nanti Juga Harga BBM Naik Lagi


ngetem

Angkot ngetem menunggu penumpang penuh di Pasar Jumat, Lebak Bulus.

Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) turun lagi. Konflik sopir-penumpang pun terjadi. Jika biasanya sopir yang otomatis menurunkan tarif, kali ini penumpanglah yang melakukan.

Ini karena umumnya sopir ogah menurunkan tarif, meski ia sudah membeli BBM dengan harga baru yang lebih murah. Harga BBM terbaru per 19 Januari 2015 misalnya menjadi Rp 6.600 per liter dari harga semula Rp 7.600 per liter. Harga terbaru itu hampir sama dengan harga sebelum Jokowi menjadi Presiden RI yakni Rp 6.500 per liter.

Saat itu, di tengah protes yang kuat, Jokowi berhasil menaikkan tarif dengan prosentase cukup besar sekitar 30 persen yakni dari 6.500 menjadi Rp 8.500 per liter. “Ya harusnya turun dong. Meski cuma Rp 500 tapi kalau dikali sebulan kan banyak juga,” ujar Narso, seorang kawan.

Di Jakarta, Organda DKI mengusulkan penurunan tarif angkutan hanya Rp 500 menyusul penurunan tarif BBM yang turun Rp 1.000. Padahal di lapangan mata uang Rp 500 kadangkala sering nggak dianggap. Para sopir maunya ongkos dibulatkan menjadi angka ribuan. Bahkan mata uang Rp 1.000 kadang menyulitkan sebagai uang kembalian.

Seorang sopir angkot jurusan Parung-Lebak Bulus misalnya, memberikan uang kembalian hanya Rp 2000 dari uang Rp 10.000 yang disodorkan serang penumpang. Alasannya, ia tak punya uang pecahan Rp 1.000.

Seharusnya sopir itu bahkan menurunkan tarif menjadi Rp 6.000 dari tarif semula Rp 7.000 dengan dua kali penurunan BBM. Artinya, mengembalikan uang Rp 4.000 lebih adil dibanding Cuma Rp 2.000. Tak ada kertas daftar tarif angkot, sopir seenaknya menentukan tarif.

“Loh Pak, harga bensin kan sudah turun,” tanya penumpang itu.

Sang sopir menjawab ngeyel. “Tapi, setoran belum turun mas.”

“Wah mana saya tahu, itu bukan urusan saya,” jawab sang penumpang.

Tapi sopir itu masih ngeyel seraya berkata: “Nanti juga harga BBM naik lagi.”

HARGA BBM 19 JANUARI 2015 (turun lagi)
Premium dari Rp 7.600 menjadi Rp 6.600
Solar dari Rp 7.250 menjadi Rp 6.400
HARGA BBM 1 JANUARI 2015 (turun)
Premium dari Rp 8.500 menjadi Rp 7.600
Solar dari Rp 7.500 menjadi Rp 7.250
HARGA BBM 18 NOPEMBER 2014 (naik)
Premium dari Rp 6.500 menjadi Rp 8.500
Solar dari Rp 5.500 menjadi Rp 7.500

Lalu Lintas Sepi, Razia Polisi Dimulai


cirreundeu

Macet di sekitar Jembatan Cieundeu, Kamis (8/1) siang. Belokan sebelum jembatan ini dari arah Cireundeu menjadi lokasi favorit razia polisi.

Suatu siang di pekan pertama Januari 2014, seorang pria setengah baya mengemudikan motor bodongnya dengan kencang. Motor yang nyaris tinggal kerangka dan tanpa nomor polisi itu melesat kea rah Lebak Bulus dari Cireundeu.

Namun menjelang belokan jembatan Cireundeu, pria yang tak mengenakan helm itu, tiba-tiba berbelok dengan cara membahayakan. Ia seperti orang terburu-buru. Beruntung lalu lintas tengah sepi dan jarak antar kendaraan agak jauh sehingga pengemudi lain bisa mengerem menghindari cara berputar 180 derajat si pengendara tadi.

Tadinya saya mengira si pengedara motor bodong itu sedang menjajal kendaraannya. Beberapa pemuda yang tengah menjajal sepeda motor memang kerap memanasi kendaraan seenaknya. Mereka pikir karena itu bukan wilayah publik, namun wilayah kekuasaannya.

Namun setelah kami berbelok menuju jembatan Cireundeu, paham lah saya mengapa pengendara sepeda motor tadi tiba-tiba berbalik arah. Hemm, karena tak jauh dari lokasi ia berbelok tengah ada razia kendaraan yang dilakukan polisi. Ya razia kendaraan, khususnya kendaraan roda dua, karena kendaraan roda empat bebas melaju.

Dalam banyak kasus, polisi memang lebih gemar merazia kendaraan roda dia dibanding kendaraan roda empat. Alasannya mungkin simpel, karena merazia kendaraan roda empat lebih berisiko membikin macet lalu lintas. Tugas polisi bukankah membuat lancar lalu lintas bukan sebaliknya? Lagi pula pengendara sepeda motor lebih mudah dicari kelemahannya dibanding pengendara mobil yang umumnya lebih tertib.

Catatan lainnya, razia polisi memang kerap dilakukan dibelokan dekat jembatan Cireundeu tersebut. Lazimnya lalu lintas di kawasan itu kerap macet. Justru saat lancar razia kerap terjadi, bukan hanya oleh aparat kepolisian namun aparat DLLAJ yang biasanya mengincar angkutan publik dan angkutan barang. Jadi, jika lalu lintas lancar di kawasan itu, Anda harus tetap berhati-hati.

Nah, adanya razia polisi segera dikabarkan sopir angkot kepada rekannya dari arah berlawanan di Lebak Bulus. “Ada razia di jembatan, tapi hanya motor yang kena” kata sopir angkot yang saya tumpangi.

Namun ia segera meralat. “Eh tapi nggak tahu ya. Tadi sih cuma motor yang kena angkot tidak. Tapi nggak tahu ya. Kan kalau apes kita nggak ada yang tahu,” tambahnya seraya mengingatkan rekannya berhati-hati.

Sopir itu meralat kabarnya karena takut dianggap bohong. “Ya kita nggak tahu ya pak ya apa yang terjadi. Ntar dibilang angkot tak ditilang, ternyata mereka ditilang kan saya yang salah. Kalau sudah dianggap salah, susah kita. Memperbaikinya susah,” ucapnya sok bijak.

Dimana Kamu akan Mengubur Hartamu? Di JONGGOL!!


wakwaw

Sony Kurniawan menggunakan topi baret bersama para pemain sinetron “Mak Ijah Pengen ke Mekah” (liputan6.com)

Saya tak pernah menonton sinetron. Namun, kali ini mencoba mencari tahu terkait terkenalnya istilah Jonggol. Nama itu kerap disebut anak bungsu saya yang berusia delapan tahun, juga anak-anak kecil berusia di bawahnya yang sering saya temui.

Jonggol adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Namanya sempat mencuat tatkala hendak dijadikan lokasi pengganti Ibukota Jakarta di masa Orde Baru. Namun kemudian gagal, karena memindah ibukota bukanlah pekerjaan gampang.

Adapun popuritas Jonggol saat ini mengikuti naiknya popularitas sinetron “Mak Ijah Pengen ke Mekah” (MIPM) yang ditayangkan SCTV. Sinetron berlatar belakang keluarga muslim miskin ini sudah tayang sejak 1 Juli 2013 dan telah mencapai 521 episode hingga 27 Desember 2014 lalu.

Nah dalam sinetron tersebut mencuat nama Sony Kurnawan. Seorang bocah tukang parkir yang menjelma menjadi selebriti karena perannya dalam sinetron yang memperoleh SCTV Awards 2014. Bocah tersebut bahkan membawa pulang salah satu kategori SCTV Awards dengan mengalahkan empat pesaingnya di nominasi yang sama, yakni Alifa, Andro Tinanda, Misca Fortuna (Mancung), dan Sekar.

Dalam sinetron tersebut, Sony bukan pemeran utama. Perannya hanya sebagai pembuat gaduh orang kampung. Namun penampilannya tergolong khas atau unik. Antara lain menggunakan topi baret dan selalu mengucapkan kata-kata yang sama seperti ‘Suwe’, ‘Wakwaw’, ‘Bapak mana bapak?’ ‘Jonggooolll’ atau ‘Emang Iye’.

Selain khas, diakui, ada unsur hoki dengan mencuatnya nama Sony. Dunia hiburan kita memang sering memunculkan sosok hoki seperti halnya pernah dialami Caisar dengan goyangan khasnya di acara Yuk Keep Smile atau mantan anggota polisi Norman Kamaru dengan nyanyian Indianya.

***

Ya begitulah berkat Sony Wakwaw perbincangan lucu dengan nama Jonggol bermunculan. Wilayah yang kini sama macetnya dengan wilayah lain sekitar ibukota, bahkan menggeser kata Hongkong yang sebelumnya menjadi kota populer dalam perbincangan candaan sehari-hari.

Setiap orang bingung mencari sebuah lokasi, atau bingung mau pergi ke mana maka dengan segera jawaban Jonggol yang dimunculkan. Benar atau salah, tidak penting lagi. Misal, “malam minggu begini enaknya mau ke mana ya.” Ke JONGGOL.

Bahkan perbincangan yang tak ada kaitan dengan lokasi, jawaban Jonggolah yang dimunculkan sebagai candaan.

“Aku akan selalu sayang kamu @CherlyChiBi sampai si wakwaaw menemui bapaknya di JONGGOL :D,” tulis @CherlyderNewDay dalam cuitannya.

“Detikcom: Dari Mana 7 Orang Terduga ISIS Dapatkan Biaya Operasional Mereka? – Dari JONGGOL” ‏@AkhdyanR.

“Di manakah kamu akan mengubur hartamu jika kamu memilikinya? — di JONGGOL (@UsinurulZ).

Nah, di hari Minggu (4/1) yang hujan, si bungsu yang belum mandi tiba-tiba berkata. “Ma, kita jalan-jalan yuk?” Agaknya dia menunggu pertanyaan balik, kemana? Namun kami segera menjawab serentak “ke JONGGOL” Si bungsu pun tertawa karena itulah yang dimaksud.

wakwaw2

Lalu lintas Cileungsi-Bogor yang macet. (KlikCileungsi)

Surat Pilot Fadjar Nugroho dan Dunia Wartawan


Jonann

Menhub Ignasius Jonan saat sidak Bandara Soekarno-Hatta (Metronews.com)

Dalam surat terbukanya kepada Menteri Perhubungan Ignasius Jonan, seorang pilot bernama Fadjar Nugroho mencoba menjelaskan pengalaman yang dialaminya terkait laporan cuaca dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofsika (BMKG).

Ia menulis surat itu setelah Menteri Jonan melakukan sidak kepada AirAsia dan diketahui bahwa pihak penerbangan AirAsia tak selalu mengambil data laporan cuaca terbaru dari BMKG. Mereka hanya mengunduhnya dari situs BMKG. Bahkan pilot dan kru AirAsia QZ8501 yang mengalami musibah di Selat Karimata diketahui baru mengambil data BMKG setelah pesawat tersebut hilang kontak.

Dalam suratnya tersebut, Fadjar yang pernah kehilangan adik kandung karena musibah kecelakaan pesawat, juga menyinggung soal wartawan. “Bapak Menteri, bahkan saya sendiri kehilangan seorang adik kandung yang juga seorang penerbang. Jadi mungkin saya lebih memahami kehilangan nyawa di dunia penerbangan daripada wartawan yang menulis berita ini.”

Selanjutnya, seperti dikutip Ilmuterbang.com, Fadjar masih menyinggung soal wartawan. “Juga pada wartawan yang pernah bertanya pada saya di TV bertahun-tahun lalu dengan pertanyaan: Apa perasaan anda dengan kejadian ini?.” Fadjar menyebut itu sebagai pertanyaan aneh, karena pasti keluarga korban seperti dia sedih. Tapi kesedihan tak harus membuat segalanya berakhir.

Tentu saja bisa memahami apa yang disampaikan Fadjar. Cara meliput media atau wartawan yang seolah tak punya empati memang kembali mencuat bersamaan dengan musibah Air Asia QZ8501 yang memperoleh liputan begitu dahsyat. Misteri penyebab kecelakaan kian membuat musibah tersebut menjadi headline media masa berhari-hari.

Saya sendiri tak sedang membela profesi yang saya geluti hingga saat ini. Bahkan saya juga sempat geli ketika melihat seorang wartawati televisi bertanya kepada seorang korban penembakan beberapa tahun lalu. “Bagaimana perasaan bapak menjadi korban penembakan?” Tentu saja si bapak korban penembakan menjawabnya sakit. Memang ada ditembak tidak sakit?

Saat itu saya sempat tertawa. Tapi kemudian mencoba memahami karena saya sendiri pernah dihadapkan pada masalah yang sama. Yakni mewawancarai korban, apakah itu korban kejahatan atau korban kecelakaan.

Ada kecenderungan di dunia wartawan, meliput kriminalitas termasuk di dalamnya musibah, selalu diturunkan wartawan baru. Ada semacam hukum tak tertulis bahwa medan pertama untuk menggembleng seorang wartawan tangguh yang dibidang itu, meski tak selalu terbukti.

Nah, sebagai wartawan, akurasi fakta menjadi kewajiban pertama yang harus didapat sebelum menuliskan berita atau melaporkan secara visual di media televisi. Berada di lapangan saja tidak cukup. Mewawancarai sumber berita menjadi verifikasi atas fakta yang ditemui. Sumber berita yang dimaksud adalah pelaku, korban, saksi mata, dan petugas berwenang yang menangani kasus itu.

Karena mewawancarai pelaku sangatlah jarang terjadi, mewawancarai polisi, saksi mata, hingga korban menjadi alternatif yang kerap dilakukan di lapangan. Nah, yang paling tidak mudah memang mewawancarai korban. Khususnya untuk menggali fakta akurat yang kita inginkan. Suasana duka menjadi faktor utama. Tapi tuntutan dari kantor membuat wartawan akhirnya sering memaksakan diri. Apalagi jika sudah terkait deadline atas batas waktu pengiriman berita.

Adalah sebuah kegagalan jika seorang wartawan yang diturunkan ke lokasi musibah atau kejahatan tak memperoleh informasi yang dicari. Setiap wartawan bahkan selalu dituntut memperoleh berita eksklusif, bukan sekadar membawa pulang informasi 5 W + 1 H (what, who, when, where, why, + how).

Jika wartawan dianggap tak ada empati pada keluarga korban, pernahkah publik membayangkan seorang wartawan dikenai sanksi pemindahan atau pemecatan saat tak memperoleh data yang diinginkan seperti wartawan media lainnya. Oleh pihak atasan, wartawan memang tak pernah dibelaki untuk berempati kepada korban atau sumber berita.

Sekali lagi saya tak sedang membela profesi wartawan. Kejadian wartawan mewawancarai korban kecelakaan atau kejahatan akan selalu terulang karena memang begitulah dunianya. Pada kejadian besar, wartawan yang seolah-olah tak berempati kepada korban akan kembali mencuat.

Yang penting sebenarnya, siapapun yang merasa keberatan dengan cara wartawan mewawancarai atau berita yang diturunkan bisa disampaikan kepada kantor atau atasan yang bersangkutan. Pihak kantor selanjutnya wajib merespon, apakah dengan cara tak menurunkan berita yang dimaksud, menurunkan berita sanggahan disertai permintaan maaf jika berita itu keliru, atau menjelaskan kenapa tetap menurunkan berita yang diliput wartawannya.

Yang keterlaluan adalah jika sumber berita sudah menyampaikan keberatan namun pihak media tetap menurunkan berita bahkan tanpa permohonan maaf sedikit pun. Terkait musibah pesawat AirAsia QZ8501, misalnya, terkait jumlah korban kecelakaan yang terlalu banyak dan tak sesuai fakta yang berkembang. Pihak media seharusnya mencabut berita itu atau menyampaikan permohonan maaf kepada publik meski ada sumber beritanya.

Juga terkait penayangan mayat korban pesawat Air Asia. Seharusnya setelah memperoleh reaksi negatif dari publik, berita tersebut langsung dicabut dan disertai permohonan maaf. Bukan malah pemberitaan itu diulang-ulang, bahkan dianggap eksklusif.

“April Mop” di Awal Tahun 2015


tanggalan

Jangan lupa ini tanggalan 2015 dan jadwal libur panjangnya ya. Penting jadi pegangan untuk memesan tiket KA atau pesawat lebih awal…

tanggalan

Tanggalan 2015 bikinan si bungsu

Bulan April masih jauh. Tapi memasuki Tahun 2015, saya serasa seolah-olah terkena “April Mop”. April Mop yang saya maksud adalah hari yang tak biasa atau bisa juga tak terduga. Sebuah hari yang mungkin, membuat saya merasa sangat bodoh.

Begini ceritanya. Setelah libur tahun baru, Rabu 31 Desember 2014 (di dunia profesi saya libur tanggal merah adalah satu hari sebelum tanggal merah itu sendiri), saya masuk lagi pada tanggal 1 Januari. Hari itu tak seperti biasanya saya membawa mobil ke kantor.

Jika hari biasa, saya termasuk orang paling malas membawa kendaraan sendiri, motor atau mobil. Selain macet, space tempat parkir di kantor sudah tak lagi memadai. Jumlah kendaraan dan ruang parkir sudah tak seimbang, bahkan tak masuk akal. Karena pernah ada pengumuman karena tempat parkir penuh, pemilik kendaraan dipersilahkan parkir di sebuah hotel yang masih satu grup dengan kantor. Ironinya lokasi parkir sekitar dua kilometer dari kantor, dan merupakan jalur super sibuk alias macet.

Beruntung hari itu lalu lintas sepi karena hari libur. Warga Jakarta dan sekitarnya mungkin sedang kelelahan setelah merayakan pergantian tahun 2014/2015 malam harinya. Perjalanan rumah-kantor pun lancer.

Lagi pula, saya membawa mobil ke kantor karena malam harinya harus menjemput anak istri di Stasiun Gambir. Mereka usai menghabiskan liburan di rumah neneknya. Kereta Api yang mereka tumpangi adalah KA Purwojaya, atau KA pertama yang tiba di Stasiun termegah di Jakarta itu, Jumat (2/1) sekitar pukul 00.48.

Singkat cerita, setelah sampai kembali di rumah dan istirahat, istri menanyakan apakah saya hari itu libur. Saya bilang enggak. Saya berpikir libur saya adalah libur rutin setiap hari Sabtu. Saya pun berangkat ke kantor seperti biasanya. Bedanya kali ini menggunakan sepeda motor ke Stasiun untuk kemudian berganti dengan commuterline.

Ternyata commuterline jurusan Tanah Abang masih jauh. Saya pun terpaksa memilih commuterline jurusan Kota yang tiba beruntun. Tadinya, setelah naik commuterline saya akan naik busway alias transjakarta di Stasiun Cawang. Tapi karena hujan, saya melanjutkan perjalanan hingga stasiun Manggarai, untuk berganti dengan commuterline jurusan Tanah Abang.

Hujan ternyata makin deras. Commuterline Tanah Abang tak kunjung tiba. Saya melirik jam di handphone dan pasrah karena pasti terlambat rapat rutin sore hari.

Karena masih hujan, tiba di Stasiun Palmerah, saya segera mengeluarkan payung dalam tas. Sepanjang perjalanan menggunakan payung, saya melihat Iskandar, teman saya, berada 200 meter di depan dengan jalan tergesa. Mungkin karena hanya mengenakan topi dan jaket. Ia tiba duluan di kantor.

Di kantor ternyata suasana sepi. Tadinya saya mengira sedang ada pertemuan khusus di ruang rapat. Atau sebagian di ruang rapat, sebagian lain sedang keluar kantor. Kebetulan ada acara pameran tak jauh dari kantor.

Iskandar lalu menghampiri meja saya. “Mas kita dapat tanggalan nggak sih.” Saya geleng kepala. Tahun-tahun sebelumnya memang selalu memperoleh tanggalan, meski jumlahnya makin tahun makin berkurang.

Tiba-tiba muncul teman saya dari bagian lainnya. “Loh kok pada masuk. Bukannnya hari ini libur?” tanyanya.

Libur?! “Iya besok kan tanggal 3 tanggal merah Maulid nabi,” imbuh teman tadi. Saya tepok jidat dalam hati. Mesk punya teman senasib, Iskandar, saat itu saya tetap merasa menjadi orang paling bodoh. “Aduh tanggal merah kok di awal tahun ya,” kata saya, menyalahkan tanggalan, alias mencari pembenaran.

“Ini nih gara-gara kantor nggak ngasih tanggalan.” Iskandar rupanya punya alasan untuk mengalihkan kekesalannya.

hujan

Hujan di Stasiun Manggarai

senja

Hikmah datang ke kantor saat libur. Bisa pulang sore dan memotret senja..