Bamsoet vs Airlangga, Siapa Menang di Munas Golkar?


Bamsoet jabat tangan dengan Airlangga Hartarto (instagram @bambang.soesatyo)

Ada sembilan kader Golkar yang mendaftar dalam pemilihan Calon Ketua Umum (Caketum) Partai Golkar yang akan dimulai melalui Munas yang dibuka Presiden Jokowi malam ini.

Sembilan Caketum tersebut masing-masing Airlangga Hartarto, Bambang Soesatyo, Ridwan Hisjam, Ali Yahya, Achamad Annama, Indra Bambang Utoyo, Agun Gunandjar Sudarso, Derek Lopatty, serta Aris Mandji.

Hanya saja diperkirakan sembilan Caketum tersebut akan mengerucut pada dua nama, yakni Airlangga Hartarto sebagai petahana dan Bambang Soesatyo sebagai penantang.

“Total yang terdata sampai kemarin kita kumpul di Bali itu ada 514 pemilik hak suara yang sudah memberikan surat pernyataan,” kata Sekjen Golkar, Lodewijk Freidrich Paulus.

Selain itu, kubu Airlangga Hartarto mengklaim juga didukung para tokoh senior Golkar seperti Akbar Tanjung, Agung Laksono, Aburizal Bakrie, Luhut Pandjaitan, dan Jusuf Kalla.

Ketua Dewan Pakar Partai Golkar Agung Laksono optimistis Airlangga Hartarto mampu melanjutkan kepemimpinan di Partai Golkar sebagai ketua umum untuk periode 2019 -2024 yang akan datang.

“Mari kita doakan agar apa yang diharapkan terwujud. Saya percaya, insya Allah kemenangan ada di tangan Pak Airlangga,” ujar Agung di acara pertemuan internal Golkar se-Indonesia di Solitaire Hotel, Kabupaten Tangerang, Senin (2/12/2019) malam.

Agung pun berharap Golkar tetap solid usai pemilihan ketua umum partai melalui Munas (Musyawarah Nasional) yang akan dimulai 3 Desember 2019 besok.

“Kita tetap menjaga soliditas karena kita pernah mengalami kesulitan. Jadi kita percaya apabila partai bersatu dan punya satu tujuan, kita bisa rebut kemenangan,” lanjut dia.

Salah satu bentuk persatuan Golkar adalah dengan membentuk formasi Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Golkar yang lebih berkualitas dibandingkan yang ada saat ini.

Bagaimanapun juga, lanjut Agung, persatuan kader Golkar merupakan hal utama.

Hadir dalam acara tersebut sejumlah senior Golkar. Antara lain, Aburizal Bakrie, Agung Laksono sendiri Akbar Tandjung dan Luhut Binsar Panjaitan.

Bagaimana dengan kubu Bamsoet

Ketua DPP Golkar Andi Sinulingga mengklaim kubu Bamsot didukung 383 DPD 1 dan DPD 2.

Kubu Bamsoet juga didukung para pengurus DPP yang tak ditampung oleh kubu Petahana.

Nama-nama tokoh Golkar pendukung Bamseot antara lain, MS Hidayat, Yorrys Raweyai, Robert Kardilai hingga Nusron Wahid.

Bamsoet juga didukung organisasi sayap Partai Golkar, Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI).

Bamsoet resmi maju jadi Caketum Golkar setelah mengembalikan formulir pendaftaran.

Bamsoet sendiri membayangkan dirinya bisa seperti Akbar Tanjung dan Aburizal Bakrie saat memimpin Golkar.

Keduanya dianggap sukses karena memiliki cara kepemimpinan masing-masing.

Akbar Tanjung sukses karena rajin turun ke bawah dan itu harus diikuti sebagi ketum partai politik.

Kemudian, contoh baik lainnya pernah diterapkan Aburizal Bakrie.

Dia menyebut, di era Ical, DPD menyiapkan dana pembinaan untuk daerah.

Meski jumlahnya tidak besar tapi pengurus daerah menjadi merasa memiliki partai bersama.

Bamsoet bakal mengkolaborasikan pola kepemimpinan Akbar Tanjung dan Aburizal Bakrie jika terpilih jadi ketum beringin.

Jika Airlangga didukung kuat DPD tingkat I, Bamsoet diprediksi didukung suara DPD II Golkar yakni tingkat kabupaten atau kota?

Uhuy, Tiga Stasiun Baru Arah Tangerang


duri

Dua kereta arah Tangerang (kiri) dan Arah Manggarai di Stasiun Duri

Rencana pengoperasian tiga stasiun tambahan KRL Commuterline seharusnya pekan ini, namun batak karena ada masalah teknis. Tiga stasiun tersebut adalah Stasiun Grogol, Stasiun Taman Kota, dan Stasiun Tanah Tinggi.

Pembangunan ke tiga stasiun itu merupakan program Kementerian Perhubungan. Sebelumnya, pelayanan jalur KRL ke arah Tangerang atau sebaliknya melewati delapan stasiun, yakni stasiun Duri, Pesing, Bojong Indah, Rawa Buaya, Kalideres, Poris, Batu Ceper dan stasiun Tangerang.

Dengan tambahan tiga stasiun, berarti ada 12 stasiun dari Jakarta ke Tangerang. Jumlah ini tetap paling sedikit di banding rute Stasiun Tanah Abang-Maja dengan 16 stasiun, Tanah Abang-Depok 16 Stasiun, Tanah Abang-Bekasi via Duri 16 Stasiun dan terbanyak Tanah Abang Bogor melewati 20 Stasiun.

Dengan pembangunan tiga stasiun baru Jakarta-Tangerang dipastikan membuat Stasiun Transit seperti Stasiun Duri, Tanah Abang, dan Manggarai semakin ramai.
TIGA STASIUN BARU
* Stasiun Tanah Tinggi antara Stasiun Tangerang dan Batu Ceper.
* Stasiun Taman Kota antara Stasiun Bojong Indah dan Pesing
* Stasiun Grogol antara Stasiun Pesing dan Stasiun Duri.

Ini Jadwal Perjalanan KRL Commuterline Duri-Tangerang

rutetangerang

Ridwan Kamil Jadi “Bos” Walikota Asia dan Afrika


angklung

Ridwan Kamil di atas panggung acara pemecahan rekor pertunjukkan angklung (foto dari @ridwankamil)

Wali Kota Bandung Ridwan Kamil membuat bangga Indonesia. Ia terpilih menjadi Chairman Asia Africa Smart City Summit (AASCS) di arena Konferensi Asia Afrika di Bandung, 22-23 April 2015.

“Saya diamanatkan menjadi chairman aliansi ini yang pertama dan saya berharap organisasi wali kota smart city pertama di dunia ini memberikan spirit baru bagi pemerintahan kota lainnya di dunia,” kata Ridwan, Kamis (23/4).

AASCS merupakan bagian dari rangkaian acara Konferensi Asia Afrika (KAA). Pesan dari Bandung ini kemudian akan disampaikan kepada dunia pada acara World Smart City Summit 2015 yang akan dihelat di New York, 8 Juni 2015 mendatang.

Menurut General Chairman AASCS 2015, Prof Suhono Harso Supangkat, deklarasi Bandung bertujuan untuk memperkuat pembangunan kota cerdas di kota-kota negara Asia-Afrika.

“Perkuatan itu dilakukan dengan melibatkan berbagai sektor dan stakeholder, mulai dari pemerintah kota, swasta, akademisi, dan komunitas dalam pengembangan infrastruktur, mobilisasi dan distribusi sumber daya alam yang membutuhkan strategi efektif demi peningkatan kualitas hidup warga kota,” tutur Suhono.

Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil, didaulat sebagai Chairman Asia Africa Smart City 2015. Sebuah posisi yang sangat pas jika diukur posisinya sebagai tuan rumah sekaligus prestasi sebagai Wali Kota Bandung. AACS di tanda tangani 25 walikota Asia dan Afrika, termasuk beberapa wakilota Indonesia. (Ini tujuh Walikota peserta KAA)

“Kami akan bicarakan langsung dalam pertemuan dengan para wali kota, yang rencananya di Amerika Serikat pada Juli mendatang,” kata pria yang akrab disapa Emil itu.

Dalam acara itu Emil berhasil menampilan acara pemecahan rekor jumlah penampilan bermain angklung. Namun bagi Emil bukan soal pemecahan rekornya dalam acara itu, tapi kebersamaan warga Bandung. “Bukan soal pecahkan rekornya, tapi kebersamaan & kebahagiaannya. priceless. tulis Emil dalam akun twitternya @ridwankamil

LIMA DEKLARASI ASIA AFRICA SMART CITY SUMMIT 2015
1. Berkomitmen untuk pengembangan dan pembangunan berkelanjutan model kota cerdas melalui transfer pengetahuan dan teknologi, terutama antara pemerintah kota, akademisi, sektor swasta, industri, dan komunitas Asia Afrika.

2. Membentuk kerjasama dalam menciptakan kota ramah lingkungan, utilitas dan layanan publik cerdas, terutama di bidang transportasi berkelanjutan, sumber daya energi terbarukan, pencegahan dan penanganan bencana di kawasan Asia Afrika.

3. Membentuk komunitas cerdas melalui pendidikan dan kesehatan cerdas dalam kaitannya meningkatkan kualitas hidup warga kota Asia Afrika.

4. Mempromosikan sistem ekonomi cerdas dan mendukung generasi muda kreatif yang berjiwa entreupreuneur demi meneruskan pertumbuhan kota cerdas berkelanjutan.

5. Membentuk kerjasama dalam pembangunan kota cerdas melalui pendirian Asia Africa Smart City Forum/Network/Alliance yang dapat memperbaiki kehidupan warga kota Asia-Afrika.

Budi Gunawan Wakapolri ke-13 Indonesia


budiGagal menjadi Kapolri, Komjen Budi Gunawan tak menolak menjadi Wakapolri. Pelantikan Wakapolri Komjen BG oleh Kapolri Baru Komjen Badrodin Haiti pun dilakukan secara tertutup, Rabu (22/4) sekitar pukul 14.00.

Seperti saat diusulkan menjadi Kapolri, “penolakan” publik atas BG tetap besar. Bedanya posisi BG saat diusulkan menjadi Kapolri adalah tersangka kasus dugaan korupsi oleh KPK, sedang saat menjadi wakapolri ia telah memenangkan gugatan praperadilan atas KPK yang membuatnya jadi tersangka.

Selain itu, jika penunjukkan kapolri menjadi wewenang Presiden setelah memperoleh persetujuan DPR, wakapolri hanya wewenang Kapolri yang diusulkan Dewan Kebijakan dan Kepangkatan Tinggi (Wanjakti) Polri. Walhasil pelantikan BG pun relatif tak mendapat ganjalan.

Idealnya memang BG tak menjadi kapolri atau wakapolri. Jika pun ingin meniti karier, mestinya bukan di kepolisian. Faktanya BG tetap memilih aktif di kepolisian. Mengingat masa pensiunnya tergolong masih lama yakni tiga tahun, ia pun butuh naik jenjang setelah memegang jabatan Kalemdikpol sejak 2012.

Begitulah realita politik pun tak terhindarkan. Wanjakti pun memutuskan memilik BG sebagai calon tunggal. Pelantikan secara tertutup, juga sebagai bagian dari realita politik di kepolsian saat ini. Sebelumnya pelantikan wakapolri selalu terbuka, salah komando dua perwira setingkat komjen selalu menjadi warna menggembirakan usai pelantikan.

BG selanjutnya resmi menjadi Wakapolri ke-13, sejak lembaga itu dibentuk pertama kali tahun 1997. Kala itu panglima ABRI Jenderal TNI Feisal Tanjung mengadakan validasi organisasi besar-besaran. Sebanyak 298 perwira tinggi dimutasikan termasuk di antaranya penambahan jabatan untuk wakapolri. Wakapolri pertama selanjutnya dijabat Mayjen (Pol) Lutfi Dahlan yang saat ini Asisten Perencanaan Kapolri.

Wakapolri ke-13? Begitulah data yang bisa dicatat sejak tahun 1997. Angka 13 dibilang sebagai angka sial itu juga fakta tak terhindarkan. Apakah kita mempercayainya tergantung pada BG sendiri. Apabila setelah dilantik BG membuat kebijakan terobosan yang menyegarkan maka bisa jadi angka 13 itu dianggap mitos semata.

Kini, tatkala masyarakat tak bisa menolak kehadirannya sebagai wakapolri, tugas BG sendiri membuat masyarakat nyaman atas kehadirannya.
DAFTAR WAKAPOLRI

1. 1997-1999: Wakapolri Letjen Luthfi Dahlan

(Masa Kapolri Jendral Dibyo Widodo)

2. 1999-2000: Wakapolri Letjen Nana S Permana

(Masa Kapolri Letjen (Pol) Roesmanhadi)

3. 2000-an Wakapolri Suroyo Bimantoro

(Masa Kapolri Letjen (Pol) Roesdiharjo)

4. 2000-Mei 2001: Wakapolri Letjen Pandji Atmasudirdja

(masa Kapolri Jendral Surojo Bimantoro)

5. Juni-Juli 2001-: Wakapolri Letjen Chaeruddin Ismail

Juni-Agustus 2001: Kapolri ad interim Chaerudin Ismail

6. 2002-2004: Wakalpori Komjen Kadarjanto

(Masa Kapolri Jendral Dai Bactiar)

7. 2004-2006: Wakapolri Komjen Adang Daradjatun

(Masa Kapolri Dai Bactiar dan Sutanto)

8. 2006-2010: Wakapolri Komjen Makbul Padmanagara

Kapolri Jendral Sutanto/Bambang Hendarso Danuri

9. 2010-2011: Wakapolri Komjen Yusuf Manggabarani

(masa Kapolri Jendral Hendarso Danuri/Timur Pradopo)

10. 2011-2013: Wakapolri Komjen Nanan Soekarna

(masa Kapolri Jendral Timur Pradopo)

11. 2013-2014: Wakapolri Komisaris Jenderal Oegroseno.

(masa Kapolri Bambang Timur Pradopo/Sutarman)

12. 2014-2015 Wakapolri Komjen Badrodin Haiti

(Masa Kapolri Jendral Sutarman)

13. 2015-Wakapolri Komjen Budi Gunawan

(Masa Kapolri Jendral Badrodin Haiti)

Sumber: Pejabatpublik.com: Daftar Wakapolri Sejak 1997

Beli HP Hadiah TV dalam Imajinasi Anak


hadiahtv

Promisi HP ala Rara

Setiap generasi ada dunianya. Dunia permainan anak generasi tahun 1970-an, misalnya, jauh berbeda dengan dunia anak tahun 2000-an ke atas saat komunikasi via handphone telah menjadi kebutuhan sehari-hari.

Begitulah yang ada di kepala Rara, yang kini duduk di kelas tiga SD. Saat diminta untuk membuat gambar promosi maka ia pun menggambar handphone miliknya. Ia menggambar handphone dengan berbagai fasilitas yang dimiliki.

Misalnya dilayar handphone tersebut ia tunjukkan gambar ikon media sosial seperti facebook, twitter, instagram, BBM, Whatsapp. Juga tombol kamera, mail, SMS, tombol kembali ke menu sebelumnya dan sebagainya.

Nah, dalam promosinya ia menawarkan harga HP yang dimilikinya sebesar Rp 2 juta. Harga itu persis yang ia beli setahun lalu. Rara menyebut harga tersebut sebagai harga terjangkau karena memiliki keunggulan seperti touch screen atau layar sentuh, tahan air, dual camera dan garansi 1 tahun.

Dan yang aga unik, ia pun menjanjikan beli 1 hp dapat hadian TV. Tak disebutkan berapa inci ukuran TV sebagai hadiah beli hp tersebut.

Namun saya yakin ia tak tahu berapa harga sebuah TV. Yang ia bayangkan TV yang dimaksud adalah layar datar yang sehari-hari ia saksikan di rumah.

Tatkala ditanya, Rara tahu nggak berapa harga TV itu? Ia bilang enggak. Nah, harga TV tersebut lebih dari 2 juta. Artinya, tidak lazim sebuah hadiah lebih mahal dari harga barang yang dibelinya.

Rara berpikir sejenak, lalu bilang.

“Kalau hadiahnya TV, orang akan beli hp karena tertarik dapat TV. Kalau hadiahnya habis, orang tak mau lagi beli yang ditawarkan,” kata saya lagi memberi contoh.

Oooh, jadi promosinya terbalik ya pa? Saya mengangguk, dia juga….

Awas “Effect” Main Pukul Antar Anggota DPR


taufiqurahman

Wakil Ketua Komisi VII Mulyadi menunjukkan lukanya (Foto Liputan6.com)

Pernyataan Wakil Ketua Komisi VII DPR dari Fraksi Demokrat Mulyadi yang menduga anggota komisi VII Mustofa Assegaff memukulnya dengan tangan yang mengenakan cincin batu akik memang menarik.

Ini karena batu akik saat ini sedang ngetren. Dan bisa dibayangkan akibat pemukulan dengan batu akik dan tangan biasa, tentu berbeda bukan.

Faktanya, menurut Mulyadi, “Saya dapat tiga pukulan, satu di bawah pelipis mata kanan dan dua di pipi kiri. Ketika memukul, yang bersangkutan menggunakan cincin, mungkin batu akik.” (Liputan6.com)

Seperti sudah banyak diberitakan, Mulyani kena jotos Mustofa Assegaff bermula saat dirinya memimpin rapat dengan Menteri ESDM, Sudirman Said. Ia menegur agar menyampaikan pendapat tak lebih dari tiga menit. Menurut Mulyadi dalam tatib, anggota boleh bicara tiga menit, sedang jubir lima menit.

Assegaff tak menghiraukan teguran Mulyadi. Ia mengaku tahu aturan. Berdebatan pun terjadi. Sampai titik ini, semua masih dianggap biasa. Peredebatan di gedung DPR adalah makanan sehari-hari.

Namun tak dinyana saat Mulyadi keluar menuju toilet dan Mustofa diam- diam mengikutinya, cekcok yang terjadi di ruang sidang Komisi VII itupun terjadi di lorong antara ruang komisi dan toilet.

“Pas saya keluar toilet, Mustofa keluar ruangan. Ada lorong koridor khusus anggota, di situ kami berselisih dan tiba-tiba saya dipukul. Saya tidak membalas. Karena saya tahu sebagai anggota DPR tidak boleh memukul,” papar Mulyadi lagi.

Adu fisik atau pemukulan itulah yang sangat tidak biasa dan tak pantas terjadi di gedung anggota dewan. Kalau dalam sepakbola, pemain yang ketahuan memukul pasti dikenai kartu merah, bahkan mungkin dikenai sanksi larangan bermain oleh federasi sepakbola.

Kasus yang terjadi di gedung DPR pun seharusnya lebih keras dari dunia sepak bola. Memang untuk mengetahui duduk persoalannya, Ketua Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR Surahman Hidayat masih harus menanyai kedua belah pihak. Sejauh ini, baru keterangan dari pihak Mulyadi yang bisa dibaca di media massa. Dari Mustofa Assegaf sendiri belum muncul karena yang bersangkutan cenderung menghindar.

Menurut Surahman Hidayat, ada tiga hal penting yang tidak boleh dilanggar anggota DPR. Pertama, tidak boleh melanggar UU yang dibuat; kedua tidak melanggar kode etik dewan; dan terakhir berkomitmen kepada rakyat.

Melakukan pemukulan apakah melanggar tiga hal tersebut? Tentu tergantung penafsiran. Namun tanpa melihat aturan di lembaga itu pun, melakukan pemukulan adalah perbuatan emosional yang melewati syarat sebagai anggota DPR.

Jadi sanksi keras memang harus dipikirkan untuk anggota DPR yang terbukti melakukan kekerasan fisik, sebab jika hal itu dianggap biasa, dikhawatirkan akan terulang dan bereffect. Mungkin ditiru lembaga lainnya, termasuk arus bawah rakyat yang memilih para anggota DPR.
KRONOLOGI ADU FISIK ANGGOTA KOMISI VII DPR

* Rapat kerja Komisi Komisi VII DPR dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said, Rabu (8/4).

* Rapat dipimpin Mulyadi (Anggota Fraksi Demokrat, Wakil Ketua Komisi VII)

* Anggota Komisi VII Mustofa Assegaff (Fraksi Partai Persatuan Pembangunan) berkesempatan menyampaikan pendapat.

* Mulyadi mengingatkan agar Mustofa tidak terlalu lama berbicara. Mulyadi bilang sudah 10 menit, tapi Mustofa merasa baru tiga menit. Keduanya ngotot ngaku sama-sama tahu tatib DPR.

* Mulyadi pergi ke kamar mandi yang ada di belakang ruang rapat. Mustofa mengikuti langkah Mulyadi. Di sana, tepatnya lorong antara Komisi VII dan toilet, kembali terjadi perdebatan.

* Mulyadi kembali mengingatkan bahwa Mustafa telah melanggar tata tertib karena bicara lebih dari waktu yang ditentukan. Versi Mulyadi ia dibogem Mustofa dan melakukan pembalasan karena tahu itu dilarang. Sebelum bogem, kabarnya kedua wakil rakyat sempat tarik menarik baju.

* Perkelahiaan menimbulkan kegaduhan. Bahkan suara jeritan seorang wanita. Suara gaduh di lorong dekat Sekretariat Komisi VII mengejutkan anggota rapat kerja.

* Ketua Komisi VII Kardaya Warnika menuju lorong untuk melerai. Kegaduhan sempat menghentikan rapat dengan Menteri ESDM.

* Rapat kemudian dilanjutnya dengan dipimpin Satya W Yudha, Wakil Ketua Komisi VII yang berasal dari Fraksi Partai Golkar.

* Beberapa waktu kemudian, Mustofa kembali memasuki ruang rapat, sementara Mulyadi tidak terlihat. Mustofa duduk di kursi yang sebelumnya ditempati.

* Setelah rapat dikors untuk menjalankan ibadah salat, Mustofa terlihat menyalami Sudirman Said.

* Mulyadi dirawat tim dokter DPR. Tim dokter menyatakan Mulyadi mengalami luka di alis dan bagian mata kiri.

Baca: Kronologi, Sosok Mulyadi, dan Muhammad Assegaf

Cak Kardi Ingin Bekerja dengan Hati


Sukardi Rinakit atau Cak Kardi (foto Tribunnews)

Sukardi Rinakit atau Cak Kardi (foto Tribunnews)

Ketika banyak orang merasa senang diangkat menjadi Komisaris Utama sebuah BUMN, pengamat politik Sukardi Rinakit justru menolak. Penolakan itu memunculkan dua kelompok tanggapan negatif dan positif.

Yang negatif menganggap Cak Kardi, panggilan pengamat politik sekaligus Direktur Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) sebagai orang sok idealis, orang yang merugi. “Celetukan hari gene masih ada orang yang menolak rezeki,”  pun dialamatkan kepadanya.

Betapa tidak, berdasar peraturan Menteri BUMN no: PER- 07/MBU/2010, seorang komisaris BUMN akan memperoleh gaji (honorarium) yang besarnya 36 persen – 40 persen dari gaji seorang Direktur Utama BUMN tersebut. Jika gaji Dirut BUMN sebesar Rp 100 juta, maka komisaris memperoleh Rp 36 juta – Rp 40 juta. Dan tentu saja, Dirut BTN diperkirakan memperoleh gaji lebih dari Rp 100 juta.

Padahal selain gaji, menurut peraturan itu, seorang komisaris BUMN juga memperoleh tunjangan. Yakni Tunjangan komunikasi, THR, tunjangan transport (jika tak disediakan kendaraan dinas), tunjangan pakaian. Sedang fasilitas yang disediakan adalah fasilitas kesehatan, kendaraan dinas, fasilitas perkumpulan profesi, hingga fasilitas bantuan. Komisaris juga memperoleh insentif kerja sesuai dengan pencapaian KPI dan tingkat kesehatan.

Seperti diketahui, Cak Kardi ditunjuk sebagai Komisaris Utama BTN pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) BTN, 24 Maret 2015 lalu. Ia menggantikan posisi Mardiasmo yang sekarang menjabat Wakil Menteri Keuangan. Adapun alasan pemerintah menujuk Cak Kardi karena ia dianggap sosok tepat untuk memastikan rakyat miskin mendapatkan akses perumahan dengan lebih mudah. Sehingga program sejuta rumah bisa sukses.

Namun Sukardi menolaknya jabatan itu karena posisi Komisaris BUMN bukan bidangnya.

“Karena saya bukan bankir maka saya tidak akan produktif dan akhirnya hanya menjadi beban BTN,” ucap Cak Kardi mengungkapkan alasan pertamanya kepada pers.

“Saya tidak mau menerima posisi Komut BTN, karena sepengetahuan saya performa BTN sangat baik.” Begitu alasan kedua pengamat politik  kelahiran 5 Juni 1963 itu.

Belakangan akhirnya diketahui, bahwa Sukardi sesungguhnya tidak menolak jabatan, apalagi menolak rezeki. Buktinya, ia menerima tawaran menjadi staf khusus Mensesneg Pratikno.  “Salah satu tugas saya, bersama staf khusus lain, adalah ikut mempersiapkan pidato Presiden. Ini dunia saya,” kata Cak Kardi dalam pesan singkat yang diterima detikcom, Minggu (5/4) malam.

Dalam perjalanan karienya sebagai intelektual, selain pernah menjadi staf peneliti di Center for strategic and International Studies ( CSIS), Cak Kardi juga pernah menjadi salah satu ghost writer Menteri Dalam Negeri dan analisis politik Menteri Pertahanan.

Begitulah Cak Kardi. Ia bukan ingin melawan arus, apalagi sok idealis. Cak Kardi mungkin hanya ingin bekerja sesuai dengan bidang kemampuannya. Ia ingin bekerja dengan hati.

Justru pilihan itulah yang membuat banyak orang seharusnya berkaca diri. Sebab bekerja dengan hati bukan saja berdampak pada diri sendiri, tapi pada lingkungan sekitarnya. Bekerja dengan sepenuh hati akan menghasilkan totalitas dalam bekerja, yang berujung pada hasil berkualitas prima.