Pengamanan Piala Oscar 2015 Telan Miliaran Rupiah


patricia-arquette-02

Patricia Arquette salah satu pemenang Oscar untuk pemeran pembantu wanita. (AFP)

Lebih dari 1.000 anggota polisi, FBI dan Homeland Security agen terlibat terlibat dalam pengamanan acara Academy Awards 2015 atau Piala Oscar 2015. Jutaan dolar AS atau miliaran rupiah dikeluarkan khusus untuk pengaman event tahunan paling megah itu.

Pesta Academy Awards digelar di Dolby Theatre Hollywood, yang menampung 3.300 kursi. Pesta insan perfilman Amerika itu dipandu aktor dan komedian Neil Patrick Harris, pemeran utama serial How I Met Your Mother. Juga dimeriahkan penampilan Lady Gaga, Rita Ora, Jennifer Hudson dan Anna Kendrick.

Adapun pengamanan mahal itu dijuluki Operasi Oscar. Pengamanan itu disebut-sebut termasuk pengamanan paling ketat dibanding acara sama sebelumnya. Pengamanan itu terkoordinasi pada sebuah bunker atau ruang bawah tanag dekat dengan tempat penyelenggaraan Academy Awards.

Pengaman meliputi. Beton penghalang di Hollywood Boulevard; Penembak jitu di atap rumah di sekitar Teater Dolby; sebuah truk remote control forklift, dijuluki Bobcat, yang dapat menghajar kendaraan perusuh; dan sebuah robot untuk melawan serangan lawan dengan senjata kimia.

Menurut manajer keamanan, Tim Horner, pengamanan tempat penyelenggaraan Oscar dibagi kedalam sejulam konsentrasi. Makin mendekati lokasi acara makin ketat pengamanannya.

Setiap tamu akan disaring oleh detektor logam dan berbagai penangkal lainnya. “Tidak peduli apakah Anda Jack Nicholson atau Joe Blow, setiap orang harus melalui penyaringan,” kata seorang sumber seperti dikutip Daily Star.

Pada Kamis (19/2) sore, jalan-jalan di dekat tempat perhelatan Oscar itu sempat disterilkan menyusul ancaman bom, yang ternyata ancaman bohong.

DAFTAR PEMENANG LENGKAP PIALA OSCAR 2015

Best Supporting Actor – J.K. Simmons (Whiplash)
Best Supporting Actress – Patricia Arquette
Best Costume Design – The Grand Budapest Hotel
Production Design – The Grand Budapest Hotel
Makeup and Hairstyling – The Grand Budapest Hotel
Foreign Language Film – Ida
Live Action Short Film – The Phone Call
Documentary Short Subject – Crisis Hotline: Veterans Press 1
Best Documentary feature – Citizenfour
Sound Editing: American Sniper – Alan Robert Murray dan Bub Asman
Sound Mixing: Whiplash – Craig Mann, Ben Wilkins dan Thomas Curley
Visual Effects – Interstellar
Short Animated Film – Feast
Best Animated Feature Film – Big Hero 6
Best Editing – Whiplash
Best Cinematography – Birdman
Best Original Song – Glory, Selma
Original Score – The Grand Budapest Hotel
Original screenplay – Birdman
Adapted Screenplay – The Imitation Game
Best Director – Alejandro Gonzalez Inarritu (Birdman)
Best Actor – Eddie Redmayne (Theory of Everything)
Best Actress – Julianne Moore (Still Alice)
Best Picture – Birdman

Kasus Penembakan Tiga Mahasiswa Muslim, FBI Turun Tangan


deah

Para pelayat tampak menyalatkan tiga mahasiswa muslim yang ditembak di Amerika Serikat (Newsobserver)

Pelayat tiga mahasiswa muslim yang jadi korban penembakan di kompleks apartemen Finley Forest, Chapel Hill, North Carolina, AS, membludak. Banyaknya pelayat membuat acara prosesi pemakaman, Kamis (12/2) waktu setempat terpaksa dipindah.

Tadinya profesi pemakaman Deah Shaddy Barakat (23), istrinya Yusor Mohammad Abu-Salha (21) dan adik perempuannya Razan Mohammad Abu-Salha (19) digelar hanya di sebuah masjid. Melihat banyaknya jumlah pelayat akhirnya prosesi tersebut di sebuah lapangan atletik Universitas North Carolina.

Barakat adalah mahasiswa kedokteran gigi tahun kedua di kampus tersebut, istrinya juga akan berkuliah pada musim gugur mendatang. Keduanya merupakan pengantin baru yang menikah Desember lalu. Polisi Carolina Utara memperkirakan sebanyak 5.500 orang telah berkumpul untuk mengenang ketiga korban.

Adapun pembunuh ketiga mahasiswa muslim tersebut adalah Craig Stephen Hicks (46), pria yang juga tinggal di apartemen Finley Forest. Polisi setempat telah menyimpulkan bahwa kasus penembakan itu hanya berawal dari perebutan lokasi parker. Namun, ayah korban, Mohammad Abu-Salha tetap meyakini bahwa motif pembunuhan yang dilakukan tetangganya itu terkait “kejahatan kebencian” yang dipicu agama yang dianutnya.

Sebuah halaman Facebook yang diyakini milik Hicks memang memunculkan banyak tulisan tentang agama, terutama agama Kristen. Dalam salah satu postingnya, Hicks menggambarkan agama yang paling sukses dalam sebuah piramida dunia. Ia pun menyebut dirinya sebagai ateis dan anti-teis. Anti-teis adalah kelompok yang sangat konfrontatif tentang kepercayaan mereka.

Istri Craig Stephen, Karen Hicks bahwa penembakan yang dilakukan suaminya tak terkait dengan agama. “Kami menikah selama tujuh tahun. Selama itu saya mengenalnya sebagai sosok yang tak membedakan agama. Di mata Craig, semua orang adalah sama,” ungkapnya.

Ayah dari dua wanita yang meninggal, Abu-Salha pun berpidato di atas panggung dan meminta Presiden Barack Obama untuk menurunkan FBI agar motif sesungguhnya pembunuhan itu bisa terkuak secara adil.

“Jika mereka (Obama) tidak mendengarkan, saya akan berteriak hingga semua orang akan melihat. Semua orang Amerika yang jujur, mereka semua ada di sini. Mereka dari berbagai warna kulit. Jadi mari kita jujur. Kematian mereka mungkin bukan terkait masalah parkir. ”

Salha menambahkan bahwa seruannya bukan terkait balas dendam, tapi untuk melindungi setiap
anak dengan keyakinan iman dan latar belakang etnisnya.

Seperti dikutip Newsobserver.com, setelah acara pemakaman, FBI mengatakan telah meluncurkan tim untuk menyelidiki kasus itu. Penyelidikan pertama terkait apakah ada atau tidak ada undang-undang federal dilanggar terkait dengan kasus ini.

FBI sebelumnya telah dipanggil untuk membantu polisi Chapel Hill dalam mengolah bukti dari TKP; penyelidikan baru bisa memperluas yurisdiksi kasus dan berpotensi memperkuat tuduhan terhadap tersangka. Tampaknya seruan Abu-Salha cukup efektif. Cuma tentang hasilnya masih menunggu

Yang masih disayangkan dalam kasus pembunuhan tiga mahasiswa muslim tersebut adalah standar ganda media barat seperti CNN, Reuter, AFP dan sebagainya yang dianggap terlambat memberitakan penembakan itu.

Hal ini jauh berbeda dengan, misalnya, penyerangan kantor majalah Satir Charlie Hebdo yang ditayangkan secara live dan terus menerus. Adapun kasus penembakan tiga mahasiswa muslim terjadi Selasa (10/2) namun baru diberitakan sehari kemudian yakni Rabu (11/2).

Ketidakadilan pemberitaan media barat itulah yang diduga memunculkan banyak simpati pada korban dengan banyaknya kaum pelayat di acara prosesi pemakaman ketiganya. Dan Presiden Obama harus berhati-hati menyikapinya.