Beli HP Hadiah TV dalam Imajinasi Anak


hadiahtv

Promisi HP ala Rara

Setiap generasi ada dunianya. Dunia permainan anak generasi tahun 1970-an, misalnya, jauh berbeda dengan dunia anak tahun 2000-an ke atas saat komunikasi via handphone telah menjadi kebutuhan sehari-hari.

Begitulah yang ada di kepala Rara, yang kini duduk di kelas tiga SD. Saat diminta untuk membuat gambar promosi maka ia pun menggambar handphone miliknya. Ia menggambar handphone dengan berbagai fasilitas yang dimiliki.

Misalnya dilayar handphone tersebut ia tunjukkan gambar ikon media sosial seperti facebook, twitter, instagram, BBM, Whatsapp. Juga tombol kamera, mail, SMS, tombol kembali ke menu sebelumnya dan sebagainya.

Nah, dalam promosinya ia menawarkan harga HP yang dimilikinya sebesar Rp 2 juta. Harga itu persis yang ia beli setahun lalu. Rara menyebut harga tersebut sebagai harga terjangkau karena memiliki keunggulan seperti touch screen atau layar sentuh, tahan air, dual camera dan garansi 1 tahun.

Dan yang aga unik, ia pun menjanjikan beli 1 hp dapat hadian TV. Tak disebutkan berapa inci ukuran TV sebagai hadiah beli hp tersebut.

Namun saya yakin ia tak tahu berapa harga sebuah TV. Yang ia bayangkan TV yang dimaksud adalah layar datar yang sehari-hari ia saksikan di rumah.

Tatkala ditanya, Rara tahu nggak berapa harga TV itu? Ia bilang enggak. Nah, harga TV tersebut lebih dari 2 juta. Artinya, tidak lazim sebuah hadiah lebih mahal dari harga barang yang dibelinya.

Rara berpikir sejenak, lalu bilang.

“Kalau hadiahnya TV, orang akan beli hp karena tertarik dapat TV. Kalau hadiahnya habis, orang tak mau lagi beli yang ditawarkan,” kata saya lagi memberi contoh.

Oooh, jadi promosinya terbalik ya pa? Saya mengangguk, dia juga….

Jelek Tapi Menguntungkan


Djafar sedang berada di luar kota ketika seseorang menelepon dan mengabarkan anaknya mengalami musibah. Karena sinyal buruk ia menutup telepon dari orang tadi dan memilih menghubungi nomor telepon anaknya.

Namun sang anak tak segera menjawab panggilan telepon dan SMS yang dikirimkannya. Djafar mulai khawatir dan mengira telepon dari orang tak dikenal itu benar adanya.

Djafar sempat mengomel nomor telepon dari operator tertentu yang memang kerap error jika berada di luar kota.

Tak lama kemudian, telepon kedua diterima lagi. Kali ini sang penelepon mengaku seorang petugas rumah sakit yang memberikan kabar serupa dengan telepon pertama. Djafar jadi panik. Namun karena sinyal telepon buruk ia tak bisa menerima dengan jelas pesan dari petugas rumah sakit tadi.

Djafar kembali memilih menelepon anaknya. Ia membayangkan hidupnya akan kian merana andai ditinggal mati anak, setelah istrinya juga meninggal dunia beberapa tahun lalu. Djafar merasa tak siap hidup sebatang kara.

Begitu ia mencoba menelepon beberapa nomor kawan anaknya yang ia ketahui, sebuah SMS masuk ke handphonenya. Ternyata dari nomor anaknya. “Papa tadi miscall ya. Ada apa sih pa?” Begitu bunyi SMS.

Djafar gembira bukan main. Ia pun menjawab SMS tadi. “Nggak ada apa-apa. Papa cuma kangen…,” tulisnya, berbohong. Ia tak ingin anaknya ikutan panik jika berterus terang via SMS.

Namun begitu bisa menghubungi anaknya, Djafar segera berterus terang bahwa ia nyaris kena tipu. “Untung sinyalnya di sini jelek,” ucap Djafar bersyukur.

Setelah menutup telepon dengan perasaan lega, Djafar kembali berkonsetrasi pada pekerjaannya. Tak lama kemudian muncul SMS kembali dari anaknya. Djafar segera membaca SMS itu.

“Tumben sinyal telepon jelek malah papa anggap menguntungkan….”