Serangan di Museum Nasional Tunisia Dilakukan ISIS?


tunis

Aparat keamanan sedang mengepun Museum Bardo yang dikuasai penyerang bersenjata, Rabu (18/3). (New Yok Time)

Penyerangan di Meseum Nasional Bardo, Tunisia pada Rabu (18/3) siang waktu setempat mengejutkan dunia. Betapa tidak, sebanyak 17 turis asing, umumnya dari Eropa yang menjadi pengunjung museum itu tewas, puluhan lainnya luka-luka.

Bebekal senjata kalashnikov dan granat tangan, para penyerang itu masuk museum mengenakan seragam tentara. Kedetangan mereka sempat tak dicurigai. Namun begitu pria-pria itu mengeluarkan senjata otomatis dan menembaki para wisatawan yang baru turun dari bus kapal pesiar, situasi pun menjadi panik.

Seorang pemandu wisata yang selamat mengisahkan bagaimana ia seperti menatap kematian ketika pembantaian itu terjadi. “Mereka menembaki apa pun yang bergerak,” kata pemandu wisata yang menyebut bernama Walid itu.

“Pilihannya adalah melarikan diri atau menghadapi kematian. Saya sendiri kemudian membantu klien saya menemukan tempat berlindung sebaik mungkin, “urainya.

Selama dua jam kemudian sekeliling museum sudah dikepung petugas keamanan. Para penyerang melakukan penyanderaan. Aksi saling tembak pun tak terhindarkan. Secara keseluruhan, sebanyak 27 orang tewas terdiri dari 17 wisatawan asing, enam petugas keamanan, dua karyawan museum dan dua penyerang.

Belum ada yang menyatakan bertanggung jawab atas serangan yang dikecam hampir seluruh kepala negara di dunia ini. Federica Mogherini, kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, sempat mengatakan bahwa serangan itu dilakukan anggota ISIS. namun kemudian ia menarik pernyataan dan mengatakan itu hanya “organisasi teroris”.

Spekulasi di media Tunisia menyebut bahwa penyerangan itu terkait kematian Ahmed al-Rouissi. pemimpin senior teroris ISIS abang Libya. Rujukannya adalap sebuah laptop yang ditemukan pasukan keamanan usai penyerangan itu. Ahmed al-Rouissi merupakan sosok dibalik serangkaian pemboman di Tunisia serta kematian dua politisi sayap kiri, Chokri Belaid dan Mohammed Brahmi tahun 2013.

Adapun target utama serangan tersebut adalah anggota parlemen Tunisia yang sedang melakukan pembahasan UU anti terorisme. Perdana Menteri Tunisia, Habib Essid menyatakan bahwa pihaknya akan melakukan “pembalasan” dengan “perang melawan terorisme” tanpa ampun. “Kami akan melawan mereka (teroris) sampai napas terakhir.” ucap Habib.

Ini merupakan serangan terburuk dalam sejarah Tunisia sejak tahun 2002. Ketika sebuah bom bunuh diri al-Qaeda di sebuah sinagog dan menewaskan 14 orang warga dari Jerman, Perancis dan Tunisia sendiri.

TENTANG PENYERANGAN DI TUNISIA
* Jenis: Pembunuhan massa dan penyanderaan
* Lokasi: Museum Nasional Bardo, Tunisia
* Waktu: Rabu (18/3) pukul 12.30 waktu setempat
* Target: Diduga Parlemen Rusia, sebelah museum
* Alat: Senapan Kalashnikov dan granat tangan
* Jumlah korban: 27 orang tewas, 44 orang terluka
* Korban tewas: 17 turis asing, 2 pegawai, 6 tentara, 2 pelaku
* Asal turis tewas: Afsel, Perancis, Spanyol, Polandia, Italia,

Jumlah WNI Gabung ISIS Bertambah, Kini Sekitar 500 Orang


keluargaISIS

Ilustrasi waniia-wanita gabung ISIS (rt.com)

Tim ahli Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Wawan Purwanto memastikan, ada penambahan jumlah relawan dari Indonesia untuk bergabung dengan ISIS hingga mencapai lebih kurang 500 orang.

“Kalau data itu kan terus menerus bertambah ya. Semula (dari Indonesia) ada 300 orang di Suriah. 56 orang di Mosul (Irak). Trus kemarin ada 1 keluarga berangkat dari Lamongan. Trus dari Sulawesi berdatangan juga ke sana. Lalu ditambah dari Jawa Timur lagi. Dan sejumlah wilayah di Bima. Nah sekarang karena mereka gelap, jumlahnya plus minus ya. Kurang lebih 500 orang kita lah,” ucap Wawan.

Untuk memastikan keberadaan 16 orang WNI tersebut, Wawan meminta pemerintah Indonesia terus mencarinya untuk memastikan apakah mereka bergabung dengan ISIS atau hanya tersesat. 16 WNI hilang di Turki saat pergi menggunakan paket wisata Smailing Tour. Seluruh rombongan yang mencapai 25 orang tiba pada 24 Febuari 2015 di Bandara Internasional Ataturk dengan pesawat Turkish Airline TK-67.

Saat tiba di Istambul, 16 orang ini langsung memisahkan diri. Mereka mengaku ingin bertemu dengan keluarganya di Turki. Hingga saat rombongan wisata itu pulang pada 3 Maret 2015, 16 orang ini tidak jelas keberadaannya.

Sementara itu 16 WNI lainnya ditangkap di Turki yang ternyata berbeda dengan WNI yang ikut Smiling Tour. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan bahwa pihaknya sedang dikirim ke Turki untuk menjemput 16 WNI ditangkap pemerintah setempat karena diduga hendak bergabung dengan kelompok Islam radikal, ISIS.

Retno membenarkan bahwa 16 WNI yang kini ditangani Turki berbeda dengan 16 WNI yang ikut rombingan Smiling Tour. Rombongan tersebut diketahui sejak awal, karena memisahkan diri tanpa alasan yang jelas. Sedang rombongan 16 WNI terbaru diduga akan ke Suriah untuk bergabung dengan suami mereka di sana.

“Ini untuk memperkuat kerja sama kita dengan otoritas Turki, jadi ini lebih long term sifatnya,” kata Retno Marsudi di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat (13/3).

Sementara itu, Wakapolri Komjen Badrodin Haiti menduga rombongan WNI yang ditangkap pemerintah Turki hendak menyusul suaminya yang terlebih dahulu bergabung dengan ISIS. Hal itu tampak dari banyaknya anak-anak dalam rombongan tersebut.

Tepatnya dari 16 WNI yang kini ditahan di lokasi penampungan di Kota Gaziantep, Turki, 11 diantaranya anak-anak. Empat dari rombongan adalah wanita yang diduga orangtua mereka. Dari 16 rombongan itu hanya ada satu pria dewasa.

“Kemungkinan bisa dibilang begitu, itu kemungkinan ya. Saya belum bisa memastikan, yang jelas ada satu keluarga itu ada 8 orang, istri dan anak-anaknya,” ungkap Badrodin,

Badrodin menjelaskan berdasarkan informasi sementara, 16 WNI itu berasal dari beberapa lokasi diantaranya dari Jawa Timur dan Jawa Barat. Mengenai siapa pendana 16 WNI itu hingga bisa pergi ke Suriah, Badrodin enggan menjelaskan rinci.

“Ada yang bisa kami deteksi, ada beberapa yang dibiayai oleh satu orang, WNI. Identitasnya tidak perlu saya jelaskan,” ucapnya.
16 WNI YANG DITANGKAP OTORITAS TURKI
* 11 Anak-anak, 4 perempuan dewasa, 1 pria dewasa
16 WNI PISAH DENGAN ROMBONGAN SMILING TOUR
* 4 anak-anak, 3 bayi, 4 perempuan dewasa, 5 lelaki dewasa,

16 WNI Gagal Gabung ISIS?


Atturk

Attaturk Airport, Turki

Kementerian Luar Negeri Turki mengumumkan telah menahan 16 warga negara Indonesia (WNI) yang hendak menyeberang ke Suriah secara ilegal, Rabu (11/3). Diduga mereka hendak bergabung dengan ISIS mengingat jalur yang akan dilalui dikenal sebagai jalur jihadis.

Menurut Juru bicara Kementerian Luar Negeri Turki, Tanju Bilgic, ke-16 WNI tersebut terdiri dari tiga keluarga. Mereka terdiri dari 5 lelaki dewasa, 4 perempuan dewasa, 4 anak-anak, dan 3 bayi. “Kami mendapat informasi bahwa Kedutaan Besar Indonesia di Ankara telah berhubungan dengan mereka,” ujar Bilgic.

Ia mengakui bahwa Turki dianggap sebagai salah satu pintu bagi para pejuang asing yang bergabung dengan barisan ISIS. Pemerintah Inggris dan Perancis bahkan sempat mengecam Turki yang membiarkan lebih dari 700 warga Perancis dan 500 warga Inggris bergabung ke organisasi radikal.

Kini pemerintah Turki sudah menutup dua akses menuju Suriah. Yakni akses penyeberangan di Oncupinar dan Cilvegozu Provinsi Hatay. Di dua lokasi ini Turki menutup akses kendaraan dan perorangan menuju Suriah.

“Turki memiliki beberapa masalah keamanan dan wajar untuk langkah-langkah yang akan diambil berdasarkan penilaian ancaman dilakukan. Inilah yang juga diharapkan masyarakat internasional,” kata seorang pejabat di instansi pemerintah, yang menolak untuk diidentifikasi.

Sementara itu, President and CEO Smiling Tour Anthony Akili merinci bagaimana ke-16 WNI pergi ke Turki sebagai wisatawan. “Tidak ada kesan aneh terhadap mereka. Biasa saja. Sepanjang perjalanan, mereka malah tanya-tanya kalau beli karpet di Turki di mana karena katanya mereka mau bisnis jual beli karpet,” kata Anthony Akili kepada wartawan.

Menurutnya, 16 WNI ini seperti wisawan lainnya memesan paket perjalanan wisata ke Turki pada pertengahan Januari 2015. Perjalanan berlangsung pada 24 Februari-4 Maret 2015. “Mereka pesan tempat untuk 16 orang melalui e-mail. Biaya perjalanan dibayar melalui transfer,” kata Anthony.

Selanjutnya, 16 orang ini langsung bertemu dengan rombongan lain dan tour leader Smiling Tour di Bandara Soekarno-Hatta pada hari keberangkatan.

“Menurut tour leader kami, tidak ada hal yang mencurigakan sepanjang perjalanan di pesawat. Obrolannya juga wajar. Selain bertanya-tanya soal karpet, mereka juga tanya-tanya soal obat herbal karena berniat membuka bisnis soal itu di Indonesia,” ujar Anthony.

Selepas pemeriksaan di Imigrasi Bandara Ataturk, rombongan 16 WNI ini memisahkan diri. Alasannya, mereka ingin bertemu dengan keluarga mereka di Turki selama dua hari. Mereka berjanji akan kembali bergabung dengan rombongan pada 26 Februari.

“Nyatanya pada 26 Februari, mereka tidak bisa dikontak lagi. Tour leader kami lantas menghubungi KJRI (Konsulat Jenderal Republik Indonesia) di Istanbul untuk membuat laporan,” tutur Anthony.

Seperti ditulis Kompas.com, Anthony menjelaskan bahwa rombongan 16 WNI tersebut harus merogoh kocek sekitar Rp 300 juta untuk membeli paket perjalanan wisata Smailing Tour. Dengan uang sebesar itu, mereka tidak menikmati wisata bersama Smailing Tour karena memisahkan diri selepas pemeriksaan imigrasi di Bandara Internasional Ataturk, Istanbul, Turki.

“Ongkos perjalanannya sebesar Rp 300 juta. Terlalu mahal kalau hanya untuk biaya tiket pesawat. Ini kan paket wisata, tapi mereka tidak menikmati perjalanan wisatanya,” kata  Anthony didampingi Vice President Marketing and Communication Smailing Tour Putu Ayu Aristyadewi dan Group COO Smailing Tour Davy Batubara.

Menurut Anthony, harga paket wisata ke Turki selama 10 hari sebesar 1.500 dollar AS (atau Rp 19,7 juta) untuk satu orang dewasa. Harga untuk anak-anak lebih rendah dari itu. Dengan kurs dollar Rp 13.000, total yang harus dikeluarkan untuk 16 orang sekitar Rp 300 juta. Rombongan berangkat dengan Turkish Airlines.

Menurut situs web Turkish Airlines, harga tiket kelas ekonomi untuk dewasa sekali jalan adalah 1.034 dollar AS. Jika dipukul rata, rombongan ini hanya perlu ongkos 16.000 dollar AS atau sekitar Rp 200 juta untuk sekali jalan.

Rombongan ini kemudian memisahkan diri dari rombongan selepas pemeriksaan di imigrasi Bandara Ataturk. “Waktu mereka hendak memisahkan diri, tour leader kami bilang, ‘Apa tidak sayang karena sudah mengeluarkan uang tapi tidak menikmati perjalanan wisatanya?’ Mereka bersikeras ingin bertemu keluarga selama dua hari,” kata Anthony.

KRONOLOGI 16 WNI GAGAL GABUNG ISIS
24 FEBRUARI: Terbang ke Turki sebagai wisatawan via Smiling Tour. Usai pemeriksaan di Imigrasi Bandara Ataturk, Turki, mereka memisahkan diri.
26 FEBRUARI: Pimpinan rombongan tour tak bisa lagi mengotak 16 WNI yang pisahkan diri tersebut.
04 MARET: Hingga kepulangan rombongan ke Tanah Air pada 4 Maret pukul 00.40, ke-16 WNI ini tidak menampakkan diri.
11 MARET: Kementerian Luar Negeri Turki menyatakan menahan 16 WNI dalam perjalanan ke Suriah. Adapun rute yang digunakan mereka adalah rute warga asing gabung ISIS.

Kasus “Payment Gateway”, Denny Terus Lakukan Perlawanan


dennyKepala Bagian Penerangan Umum (Kabagpenum) Divhumas Polri Kombes Rikwanto menyayangkan mantan Wamenkumham Denny Indrayana yang menolak diperiksa oleh penyidik Bareskrim lantaran pengacaranya tidak diperkenankan mendampingi.

“Dia kan diperiksa sebagai saksi dan sebagai terlapor. Itu harusnya sebagai ajang klarifikasinya dia,” kata Rikwanto, di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (12/3).

Menurut dia, berdasarkan standar prosedur operasi di Polri, pemeriksaan saksi dilakukan sendiri tanpa didampingi pengacara. Kendati demikian, pihaknya mengatakan penolakan Denny untuk diperiksa merupakan hak Denny. “Kalau dia tidak mau diperiksa, itu hak dia,” imbuhnya seperti dikutip Antara.

Pemeriksaan mantan wamenkumham Denny Indrayana sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi program pelayanan “payment gateway” Kementerian Hukum dan HAM, tidak berlanjut karena penyidik Bareskrim tidak memperbolehkan Denny didampingi pengacara.

“Hanya dua pertanyaan yang dijawab karena kami (kuasa hukum) nggak bisa masuk, jadi tidak berlanjut,” kata kuasa hukum Denny, Heru Widodo.

Penyidik hanya mengajukan Denny dengan dua pertanyaan terkait pemeriksaan yang berlangsung sekitar empat jam itu. Pertanyaan-pertanyaan itu seputar identitas saksi dan profil program payment gateway. Dalam pemeriksaan tersebut, Heru sebagai kuasa hukum berniat ingin mendampingi kliennya.

Tapi penyidik berkeberatan dengan alasan dalam SOP, pemeriksaan harus dilakukan oleh terperiksa sendiri. “Kami sampaikan keberatan. Dalam pemeriksaan saksi maupun tersangka, penyidik harus membolehkan (didampingi kuasa hukum). Kecuali dengan persetujuan terperiksa,” katanya.

Menurut Heru, kliennya akan bersedia diperiksa dalam panggilan berikutnya jika pengacara diperkenankan mendampingi. Panggilan kali ini merupakan panggilan keduanya untuk diperiksa sebagai saksi, setelah sebelumnya Denny tidak hadir pada panggilan pertama, Jumat (6/2).

Program Terobosan
Denny Indrayana enggan menjawab pertanyaan wartawan soal dugaan tindak pidana korupsi pada program ‘payment gateway’ atau pembayaran pembuatan paspor secara elektronik. Terkait kasus itu, Denny meminta agar menunggu perkembangan selanjutnya. Ia berjanji akan memberikan penjelasan secara utuh.

Dalam kasus ini, polisi menduga ada kelebihan uang bayar yang tidak masuk ke kas negara, melainkan ke bank yang ditunjuk Denny. “Tentang kasusnya nantilah. Supaya pemahamannya tak sepotong-potong, akan saya jelaskan secara utuh nanti,” ujar Denny, seusai menjalani pemeriksaan sebagai saksi di Bareskrim Polri.

Denny tetap menolak ketika ditanya lebih jauh terkait program yang bergulir saat ia menjabat sebagai Wamenkumham tahun 2014. Dia hanya bersedia menjawab perihal pemeriksaannya oleh penyidik Bareskrim. Ia mengatakan, program ‘payment gateway’ di eranya merupakan terobosan yang positif bagi pembayaran pembuatan paspor yang selama ini rentan akan praktik pungutan liar, calo, dan cenderung lama karena program tersebut dirancang secara elektronik.

“Saya berharap, mudah-mudahan pelayanan ini terus dirasakan publik. Saya sendiri juga sudah mendapatkan feedback kok. Itu saja bagi saya cukup menggembirakan,” lanjut dia.

Denny diperiksa sebagai saksi atas kasus dugaan tindak pidana korupsi dalam program ‘payment gateway’ atau sistem pembayaran pembuatan paspor secara elektronik. Namun, Denny hanya menjawab pertanyaan penyidik seputar identitas.

Ada pun soal materi perkara, Denny menolak menjawabnya. Denny telah menjelaskan Peraturan Kapolri Nomor 8 Tahun 2009 Pasal 27 ayat (1) dan (2) yang menyebut bahwa penyidik memperbolehkan tersangka dan saksi sekalipun didampingi kuasa hukum kecuali atas persetujuan terperiksa.

Amir Pojokkan Denny?

Mantan Menteri Hukum dan HAM Amir Syamsuddin bicara soal kasus payment gateway . Menurutnya, konsep awalnya diprakarsai oleh Wakil Menteri Hukum dan HAM, Denny Indrayana.

Menurut Amir, sistem payment gateway ini berkaitan dengan desakan Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) yang meminta kementerian untuk meningkatkan pelayanan publik. “Kalau kami tidak meningkatkan itu, kami nanti diberi rapor merah. Itu alasan utama adanya payment gateway,” kata Amir saat berbincang dengan CNN Indonesia.

Amir mengaku tak tahu siapa yang menggagas ide awal paymey gateway, atau sejak kapan itu diberlakukan. Seingat dia, konsep payment gateway itu diberikan kepadanya oleh Wamenkumham Denny Indrayana.

Pada Juni 2014, sebut Amir, Denny menemui dirinya dengan memaparkan payment gateway beserta video pengakuan dari orang-orang dengan track record baik soal kelebihan dan kemudahan payment gateway untuk mengurus paspor.
Saat ditunjukkan konsep payment gateway, Amir mengaku memberikan beberapa catatan, antara lain tidak boleh ada monopoli di dalamnya. Ada alternatif lain dalam pengurusan paspor, termasuk masih memberikan tempat soal pengurusan secara manual. “Termasuk juga pengurusan dengan cara lainnya,” paparnya.

Amir menambahkan, meski dia tidak tahu persis kapan payment gateway itu diterapkan, dia mengaku mendengar kabar bahwa sistem itu sudah mulai diuji cobakan sejak April 2014.

Agar payment gateway itu bisa resmi digunakan, Amir menyebut diperlukan peraturan menteri (permen). Pada 7 Juli 2014, Denny menyodorkan draf Permenkumham soal payment gateway. “Denny bilang, harmonisasi dengan aturan-aturan lain sudah dilakukan,” lanjutnya. Harmonisasi itu, sebut Amir, melibatkan Ombudsman, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Dirjen Anggaran Departemen Keuangan.

Sayangnya, pada 11 Juli 2014, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengirimkan surat ke Kemenkumham bahwa program ini belum mendapatkan izin karena masuk sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak.

Atas dasar surat itu, maka Amir mengaku menghentikan program itu secara resmi pada saat menerima surat dari Kemenkeu. “Tapi secara praktik di lapangan, baru berhenti pada Oktober,” tuturnya.

BPK Audit Kasus Denny

Sementara itu Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) akan segera mengumumkan hasil audit pemeriksaan keuangan terkait layanan pembuatan paspor melalui payment gateway di Kementerian Hukum dan HAM.

Permintaan audit dari pihak kepolisian atas sistem jaringan pembayaran online itu saat ini masih dalam pengkajian.  “Kami sudah melakukan pemeriksaan khususnya yang terkait,” ujar Harry di gedung BPK.

Menurut Anggota V BPK Moermahadi Soerja Djanegara, hasil audit menyeluruh di Kemenkumham itu sudah dilakukan. Pengumuman resmi hanya tinggal menunggu waktu.

“Pemeriksaan payment gateway itu sudah dilakukan pada 2014. Nanti tunggu saja laporan resmi kami bulan Maret,” ujar Moermahadi.

Sebelumnya,Wakil Kepala Polri Badrodin Haiti mengatakan bahwa  kasus payment gateway yang melibatkan Denny bukan berasal dari laporan masyarakat, melainkan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). “Sehingga tidak bisa dihentikan,” kata Badrodin seperti dikutip tempo.co.

Pada implementasi payment gateway Juli-Oktober 2014, terdapat nilai selisih dari pengurusan paspor yang tak disetorkan ke negara. Ada selisih akumulasi nilai pembuatan paspor yang merupakan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sebesar Rp 32 miliar. Kelebihan pungutan tersebut justru masuk ke dua vendor dan tak langsung disetorkan ke bank penampung.

SISTEM PAYMENT GATEWAY
Juni 2014: Denny temui Amir Syamsuddin bersama sejumlah orang, perkenalkan payment gateway.
7 Juli 2014: Denny sodorkan Permenkumham payment gateway. Soft lauching sistem itu dilakukan.
11 Juli 2014: Amir menyebut kemenkeu kirimkan surat program itu belum dapat izin
10 Februari 2015: Bareskrim menerima laporan Andi Syamsul Bahri soal kasus payment gateway
26 Februari 2015: Bareskrim tangani dua kasus korupsi besar, satunya diduga payment gateway
5 Maret 2015: Bareskrim panggil Denny, tapi yang bersangkutan malah ke istana
12 Maret 2015: Denny penuhi panggilan Bareskrim tapi ogah diperiksa

Kronologi Pengambilalihan Kota Tikrit dari Penguasaan ISIS


tikrit

Seorang ibu memeluk tentara Irak yang berhasil ambil alih sebuah wilayah sekitar Kota Tikrit, Irak.

Setelah bertempur hampir dua pekan, pemerintah Turki mengklaim berhasil menguasai sebagian besar wilayah Kota Tikrit. Pasukan ISIS yang mengambil alih kota itu diduga sudah meninggalkan kota karena tertekan.

Sejak 1 Maret lalu, pemerintah Irak dibantu serangan udara AS, telah mengerahkan 30.000 pasukan untuk merebut Tikrit yang dikuasai ISIS sejak Juni lalu.

Tikrit dikenal sebagai kampung halaman mantan presiden Irak Saddam Hussein. Kota yang berlokasi sekitar 140 km dari ibukota Irak, Baghdad itu, merupakan pintu gerbang pemerintah untuk merebut kembali Kota Mosul, kota kedua terbesar di Irak yang dikuasai ISIS pada periode yang sama.

Seperti disiarkan televisi Irak, pasukan pemerintah telah tiba di pinggiran Tikrit. Mereka disambut rakyat Irak di wilayah itu. Para pejabat di Irak memprediksi bahwa mereka akan segera meraih kemenangan cepat terhadap ISIS.

Namun para pejabat Irak pernah membuat klaim serupa di masa lalu tentang keberhasilan operasi terhadap ISIS. Nyatanya klaim tersebut tak terbukti. ISIS tetap menguasai Tikrit dan sekitarnya.

The Salahuddin Operations Center, yang mengawasi operasi serangan ke Kota Tikrit, pasukan pemerintah telah mengepung Tikrit. Mereka menguasai Kota al Dour dan al Alam sebelum menuju kota itu. Pemerintah pemerintah juga sudan mengambil alih sebuah pangkalan militer dan rumah sakit di sebelah barat kota Tikrit.

Dalam operasi serangan merembut Kota Tikrit, Amerika Serikat disebut- sebut tak banyak mengerahkan kekuatan udaranya. Ada dugaan AS tak suka dengan kehadiran milisi syiah dan Iran yang membantu pasukan Irak.

Namun juru bicara Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi, Rafid Jaboori, mengatakan bahwa AS tetap akan memiliki “peran penting” dalam operasi untuk mengambil alih Mosul. Amerika Serikat dan Iran dianggap punya peran penting yang sama karena ingin mengalahkan ISIS.

KRONOLOGI PENGAMBILALIHAN KOTA TIKRIT
1 MARET: 30.000 kekuatan pasukan Irak mulai menyerang Tikrit, Antara Baghdad dan Mosul. Tikrit adalah kampung halaman mantan presiden Irak Saddam Hussein.
3 MARET: Terjadi pertempuran hebat dekat kota al-Dour, sebelah selatan Tikrit. Pergerakan pasukan Irak sempat terhenti karena banyaknya bom pinggir jalan yang dipasang di sepanjang rute menuju Tikrit.
7 MARET: Pasukan Peshmerga dan milisi Syiah mendekati Kota Hawija yang juga dikuasai ISIS, 117 km dari Tikrit.
9 MARET: Memasuki minggu kedua. Pasukan Irak dengan bantuan Iran hampir merebut kota Al Dour dan Albu Ajil, dekat Tikrit. Beberapa penembak jitu ISIS sempat menyulitkan upaya mengusir seluruh ekstrimis itu.
11 MARET: ISIS ledakan jembatan satu-satunya melalui Sungai Tigris guna menghambat laju pengepungan tentara Irak. Namun pada saat bersamaan pemerintah Irak mengklaim telah menguasai hampir sebagian besar wilayah Tikrit.

Pujian untuk Presenter Rima Karaki yang Berani Membentak Ulama Garis Keras


rima

Presenter Rima Habib Karaki saat mencoba menjelaskan posisi dalam wawancara dengan seorang ulama garis keras Hani Al-Seba’i y.

Bertepatan dengan hari perempuan sedunia 8 Maret, Presenter TV Lebanon Al-Jadeed TV Rima Karaki menjadi bahan perbincangan di media sosial. Ia pun dianggap ratu sosial media di hari para perempuan tersebut.

“Rima Karaki is the Queen of the day by Social Media #WomensDay #NationalWomensDay @KarakiRima #RimaKaraki” kicau @JoelleJH salah seorang pegiat televisi di Lebanon.

Mengapa Rima Habib Karaki menjadi perbincangan? Tak lain karena keberaniannya membentak seorang ulama garis keras Hani Al-Seba’i yang dianggap telah merendahkan dirinya sebagai perempuan.  Al-Seba’i melarikan diri ke London setelah dijatuhi hukuman 15 tahun penjara karena menjadi bagian kelompok Jihad Islam di Mesir.

Dalam wawancara itu Rima bertanya soal fenomena umat Kristen yang bergabung dengan ISIS. Namun Al-Seba’i malah berbicara keluar dari topik dan menjelaskan sejarah bergabungnya umat Kristen dengan Islam. Ia menyebut Brigade Merah di Italia, Tentara Merah di Jerman atau yang dikenal sebagai kelompok Baader Meinhof.

rimakaraki

Rima dalam profil di laman facebooknya

Mengetahui jawabannya terlalu melenceng, Rima Karaki memotong dan menanyakan terkait kondisi pada masa kini. Anehnya, mendapat pertanyaan seperti itu, Al-Seba’i malah tampak emosi. “Dengar. Jangan pernah memotong kalimat saya. Saya akan menjawab sesuka hati saya,” kata Al-Seba’i.

Rima pun kemudian menjelaskan aturan wawancara yang dibatasi waktu.
Lagi-lagi Al-Seba’i semakin marah. Presenter cantik itu pun akhirnya tak bisa menahan diri.

“Di dalam studio, saya yang mengatur jalannya acara. Sekarang terserah Anda. Jika waktu masih ada, Anda harus menjawab semua pertanyaan,” tambah Rima.

Al-Seba’i rupanya keras kepala. Ia tetap bersikukuh ogah menjawab pertanyaan sesuai yang diajukan. Al-Seba’i bahkan menyuruh Rima untuk menutup mulut.  “Bagaimana ulama terhormat seperti Anda bisa membentak seorang presenter televisi untuk menutup mulut?” ujar Rima dengan suara meninggi sambil memberi tanda kepada kru untuk mengakhiri wawancara.

Al-Seba’i pun terus ngomong, namun siaran sudah ditutup.

Sejak itu, video hasil wawancara Rima Karaki dengan ulama ekstrem itu beredar di media massa.

Untuk memberikan beberapa konteks, Al Jazeera TV kemudian memunculkan beberapa hasil wawancara dengan Al-Siba’i khususnya tentang kemarian pemimpin Al Qaeda, Osama Bin Laden.

“Sheikh Osama dicintai oleh jutaan umat Islam Sheikh Osama adalah sebuah himne dalam hati, dari (kelompok) yang tertindas, dari Jakarta ke Kush, Pegunungan Hindu. Tanyakan orang-orang yang tertindas dan miskin, dan mereka akan memberitahu Anda bahwa mereka berduka untuk Sheikh Osama bin Laden,”

PROFIL RIMA HABIB KARAKI
* Tanggal Lahir: Every new morning (tak mau menyebutnya)
* Profesi: Penulis, Media Trainer, TV Program Editor & Presenter.
* Status: Menikah dengan dua anak
* Cita-cita semasa kecil menjadi hakim
* Menjadi presenter adalah profesi yang tak disengaja
* Mengakui sebagai pribadi yang ambisius.
* Ketakutan terbesar adalah menjadi terbiasa takut pada teror.

Wah Gabung ISIS Bisa Punya Penghasilan Wah!


isiskon

ISIS unjuk kekuatan dan kemewahan dengan konvoi mobil baru

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme menduga 16 warga negara Indonesia yang hilang di Turki kini telah memasuki wilayah Suriah. Bahkan bisa jadi telah bergabung dengan ISIS.

“Kami belum bisa pastikan, tapi kemungkinan besar gabung ISIS,” kata Deputi Penindakan dan Pembinaan Kemampuan BNPT Inspektur Jenderal Arief Dharmawan, Minggu (8/3).

Menurut Arief, faktor jihad atau ikut berperang bukan semata motif seseorang bergabung dengan ISIS. Sebab, menurut kajian yang dilakukan BNPT, faktor materi juga menjadi motif kuat seseorang bergabung dengan ISIS.

Arief mengatakan ISIS telah menguasai sejumlah kilang minyak yang berada di Suriah dan Irak. Walhasil, ISIS bisa menggunakan minyak sebagai modal aksi mereka. Bukan cuma tentara perang, ISIS bisa menggaji orang-orang yang bersedia bekerja untuk mereka. “Bisa bekerja di dapur umum atau pekerjaan lain yang mendukung upaya perang mereka,” ungkap Arief seperti dikutip Tempo.

Untuk pekerjaan tersebut, kata Arief, ISIS bisa memberikan gaji US$ 2.000-3.000 per pekan atau setara Rp 25 juta-39 juta dalam kurs saat ini. Jika dihitung-hitung, hampir tiap bulan mereka bisa mengantongi duit US$ 8.000-12.000 atau setara Rp 100 juta-Rp 150 juta. “Iming-iming uang ini juga menarik orang-orang Australia, Belanda, dan negara Eropa lain bergabung dengan ISIS,” kata Arief.

Motif ekonomi ini, menurut Arief, semakin cocok dikaitkan dengan hilangnya 16 WNI di Turki. Sebab, dari rombongan tersebut terdapat dua bayi dan lima anak-anak. Bisa jadi mereka ingin pindah menjadi warga negara ISIS. “Bagi mereka, bila mati satu keluarga bisa masuk surga. Jika bertahan hidup pun bisa mendapat kehidupan yang lebih baik,” kata dia.

Sebelumnya, 16 warga negara Indonesia dikabarkan hilang di Istanbul, Turki. Mereka sengaja memisahkan diri dari rombongan asal Indonesia yang awalnya berjumlah 25 orang. Ada dua bayi dan lima anak-anak yang terdaftar dalam rombongan hilang itu. Selain bayi dan anak kecil, rombongan hilang itu terdiri dari satu remaja dan delapan orang dewasa.

Hilangnya keenam belas orang itu berawal dari pemisahan diri dari rombongan tur yang jumlah keseluruhannya 25 orang. Rombongan yang menggunakan travel bernama Smailing Tour ini berangkat dari Indonesia pada 24 Februari 2015 dari Jakarta. Mereka berjanji kembali bergabung pada 26 Februari 2015, di Kota Pamukkale, Turki. Namun, hingga tanggal yang dijanjikan, keenam belas orang itu tak kunjung datang.

Menurut Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri, Lalu Muhammad Iqbal, sejak awal ke16 WNI tersebut  tidak ingin kembali ke Indonesia. Buktinya saat pimpinan tur sempat mencoba menghubungi beberapa WNI yang tergabung dalam kelompok yang memisahkan diri, mereka menjawab “kalau teman-teman bisa pulang dengan lancar pada tanggal 4 (Maret), i’m fine. We are fine. Enggak usah pikirkan kita,” ucap Iqbal, mengutip isi SMS pimpinan tour.
16 WNI YANG DIDUGA GABUNG ISIS
ASAL SOLO: 1. Utsman Mustofa Mahdamy; 2. Sakinah Syawie M. Tafsir; 3. Utsman Hafid; 4. Fauzi Umar Salim; 5. Hafid Umar Babher; 6. Atikah Hafid.
ASAL SURABAYA: 7. Tsabitah Utsman Mahdamy; 8. Salim Muhamad Attamimi; 9. Soraiyah Cholid; 10. Hamzah Hafid; 11. Jusman Ary; 12. Ulin Isnuri; 13. Humaira Hafshah; 14. Urayna Afra; 15. Aura Kordova; 16. Dayyan Akhtar