Begini Perbandingan Tarif Baru dan Lama Commuterline: Umumnya Jadi Lebih Murah


commterlinee

Dua Commuterlina berpapasan di Stasiun Cawang. Kini angkutan massal tersebut kian sibuk..

Mulai hari ini, 1 April 2015. pengaturan tarif kereta rel listrik (KRL) Commuter Line Jabodetabek berubah. Sistem penetapan tarif yang semula berdasarkan jumlah stasiun yang dilewati, kini ditetapkan berdasarkan jarak kilometer (km) yang dilalui kereta.

Perhitungannya 1-25 Km pertama. Kalau dihitungkan 25×200 jadi Rp 5000. Tetapi untuk commuter line ada subsidi Rp 3000 karena merupakan public service obligation (PSO). Sehingga tarifnya untuk 1-25 Km pertama yang dilalui penumpang pembayaran sebesar Rp 2000.

Nah, penentuan tarif berikutnya dihitung 1-10 Km berikutnya yakni Rp 2000, namun ada subsidi dari Kemenhub sebesar Rp 1000, sehingga untuk 1-10 Km berikutnya hanya dikenakan Rp 1000.

Sementara itu tarif lama untuk 1-5 stasiun pertama diberikan PSO sebesar Rp 3.000 per penumpang dan untuk 3 (tiga) stasiun berikut dan kelipatannya diberikan PSO sebesar Rp 500 per penumpang.

Sehingga tarifnya  1-5 stasiun Rp 2.000, 1-8 stasiun 2.500, 1-11 stasiun 3.000 da seterusnya (lihat tabel). Memang untuk jarak dekat, tarif baru itu mengalami penurunan.

Misal dari Stasiun Depok Baru ke Stasiun Cawang yang saat ini tarifnya Rp 2.500, dengan tarif baru nanti tarifnya Rp 2.000 karena hanya berjarak tak sampai 25 km.

Sementara itu untuk penumpang dari Stasiun Bogor ke Stasiun Tebet (15 stasiun) yang biasanya dikenakan tarif Rp 3.500 kini menjadi Rp 4.000 karena berjarak 45 km (yakni 25 km pertama Rp 2.000 plus 20 km berikutnya Rp 2.000).

PERBANDINGAN TARIF COMMUTERLINE LAMA DAN BARU

TARIF LAMA PER STASIUN

1       1 – 5 stasiun        2.000

2       1 – 8 stasiun        2.500

3       1 – 11 stasiun      3.000

4       1 – 14 stasiun      3.500

5       1 – 17 stasiun      4.000

6       1 – 20 stasiun      4.500

7       1 – 23 stasiun      5.000

8       1 – 26 stasiun      5.500

9       1 – 29 stasiun      6.000

10     1 – 32 stasiun      6.500

11     1 – 35 stasiun      7.000

TARIF SEKARANG PER KM (CONTOH)

Bogor – Depok Lama 23 km (5 Stasiun) – Rp 2000

Bogor – Tebet 45 km (15 stasiun) – Rp 4.000

Bogor – Kota 53 km (22 stasiun)  – Rp 5.000

Depok Baru – Cawang 19 km (9 stasiun) – Rp 2.000

Depok Baru – Gambir 26 km (14 stasiun) – Rp 2.000

Depok Baru – Kota 31 km (18 stasiun) – Rp 3.000

Tak Ada Lagi Jadwal Kereta Balik dari Stasiun Manggarai (Koreksi dan Update)


manggarai

Penumpukan penumpang di Stasiun Manggarai jadi pemandangan setiap malam. (dok pribadi)

Jadwal KRL Commuterline per 1 April 2015 memang semakin banyak. Karena makin banyak, Jadwal kereta balik yang biasanya berangkat dari Manggarai sudah tak ada lagi.

Pada artikel sebelumnya saya buat di ruang ini ada sejumlah jadwal kereta balik dari Manggarai. Ternyata saya salah baca (mohon maaf). Jadwal yang saya baca melalui daftar di jalur Red Line Kota-Bogor ternyata merupakan jadwal di jalur Yellow Line (Jatinegara/Tanah Abang – Depok/Bogor).

Sebelumnya kereta balik, yakni kereta api berangkat dari Stasiun Manggarai ke arah Depok Lama atau hingga Stasiun Bogor menjadi salah satu jadwal paling ditunggu. Kereta balik tersebut biasanya ada sekitar pukuk 17.00 hingga 18.00 atau 20,00 hingga 21.00.

JADWAL KERETA SORE DARI TANAH ABANG
132 (1844) Tanah Abang 15:28 Manggarai 15.41 – Bogor 16.41
137 (1864) Tanah Abang 15:48 Manggarai 16.01 – Bogor 17.07
141 (1848) Tanah Abang 16:09 Manggarai 16.23 – Bogor 17.29
147 (1850) Tanah Abang 16:39 Manggarai 16.50 – Bogor 17.56
151 (1852) Tanah Abang 16:56 Manggarai 17.09 – Bogor 18.15
156 (1854) Tanah Abang 17:22 Manggarai 17.35 – Bogor 18.41
161 (1856) Tanah Abang 17.49 Manggarai 18.03 – Depok Lama 18.40
166 (1858) Tanah Abang 18.16 Manggarai 18.29 – Bogor 19.35
172 (1860) Tanah Abang 18.39 Manggarai 18.52 – Bogor 19.58
174 (1862) Tanah ABang 18.52 Manggarai 19.06 – Bogor 21.12
180 (1864) Tanah Abang 19:24 Manggarai 19.37 – Bogor 20.42
185 (1866) Tanah Abang 19.41 Manggarai 19.55 – Bogor 21.02

Jadwal Lengkap di Sini ya Jakartabytrain

JADWAL COMMUTERLINE YANG DITEMPEL DI STASIUN TANAH ABANG (UPDATE)

krl11

krl12

COMMUTERLINE MALAM DARI STASIUN TANAH ABANG/KOTA
197 Tanah Abang  20.44  – Depok Lama 21.35 – Bogor 22.03
198 Stasiun Kota 20.44  – Depok Lama 21.45 – Bogir 22.13
199 Tanah Abang 20.59   – Depok Lama 21.50 – Bogor 21.18
200 Stasion Kota 10.54  – Depok Lama 21,55 – Bogor 21.23
201 Stasiun Kota 21.20  – Depok Lama 22.20
202 Tanah Abang 21.34   – Depok Lama 22.26 – Bogor 22.54
203 Tanah Abang 21.44   – Depok Lama 22.34
204 Tanah Abang 20.50  – Manggarai 21.01
205 Stasiun Kota 21.40 – Depok Lama 22.40
206 Tanah Abang 21.56 – Depok Lama 22.47 – Bogor 23.15
207 Stasiun Kota 21.55 – Depok Lama 22.55
208 Tanah Abang 22.17   –  Depok Lama 23.15 – Bogor 23.36
209 Stasiun Kota 22.15 – Depok Lama 23.20
211 Stasiun Kota 22.32- Depok Lama 23.24 –  Bogor 23.52
212 Tanah Abang 22.42  –  Depok Lama 23.32
213 Stasiun Kota 22.45 – Depok Lama 23.46
214 Tanah Abang 23.09 –  Depok Lama 23.59  – Bogor 00.27
215 Stasiun Kota 23.22  – Depok Lama 00.23 – Bogor 00.51

Daftar Baru Perjalanan Commuter Line: Tak Lagi Sampai Dini Hari


Menunggu Commuterline di Stasiun Jati Negara

Menunggu Commuterline di Stasiun Jati Negara

Per 1 Juni 2014 memang ada jadwal penambahan jadwal Commuterline atau istilah PT KA Grafik Perjalanan Kereta (Gapeka). Namun angkutan massal itu tak lagi sampai beroperasi hingga dini hari. Para pekerja yang biasa ngalong pun terpaksa harus kembali naik omprengan.

Jika sebelumnya kereta paling malam menuju Bogor akan berangkat dari Stasiun Jakarta Kota pada pukul 00.25 WIB. Kini kereta paling malam beroperasi hingga pukul 23.30. Sedang pada pada pagi hari, kereta tetap beroperasi mulai pukul 04.00 WIB,

Perubahan jadwal Commuterline ini terkait dengan selesainya rel ganda di lintas utara Pulau Jawa. Dengan selesainya rel ganda, waktu tempuh kereta api jarak jauh (KAJJ) dari Jakarta maupun menuju Jakarta melalui jalur utara dapat dipersingkat.

Mulai 1 Juni 2014, perjalanan Commuteline setiap hari menjadi 645 perjalanan/hari dari sebelumnya 589 perjalanan/hari yang akan dilayani dengan dengan 56 rangkaian kereta atau 56 loop.

Eva Chairunissa, Manajer Humas PT KCJ, menyatakan bahwa perjalanan KRL terbesar masih pada lintas Bogor/Depok. Pada lintas tersebut, terdapat 33 rangkaian kereta yang melayani 294 perjalanan kereta. Lintas Serpong dan Tangerang masing-masing melayani delapan rangkaian kereta untuk melayani 104 perjalanan dan tiga rangkaian kereta untuk melayani 62 perjalanan setiap harinya.

Selain itu, penambahan perjalanan KRL juga terjadi di rangkaian feeder untuk rute Manggarai-Sudirman-Karet-Tanah Abang-Duri-Kampung Bandan-Jakarta Kota dengan 68 perjalanan/hari yang dilayani dengan tiga rangkaian KRL.

PT KCJ berharap dengan adanya jadwal perjalana KRL yang baru diharapkan dapat memenuhi kebutuhan para pengguna jasa KRL di Jabodetabek dengan tetap memberikan prioritas untuk keselamatan dan keamanan perjalanan KRL.

DAFTAR PERJALANAN COMMUTERLINE
* Lintas Bogor/Depok sebanyak 33 loop dengan jumlah perjalanan 294.
* Lintas Bekasi sebanyak 9 loop dengan jumlah perjalanan 117.
* Lintas Serpong sebanyak 8 loop dengan jumlah perjalanan 104.
* Lintas Tangerang sebanyak 3 loop dengan jumlah perjalanan 62.
* Lintas feeder sebanyak 3 loop dengan jumlah perjalanan 68.

JADWAL LENGKAP DOWNLOAD DI SINI YA

 

Perjalanan Sepi Nenek Onah


Onah terdiam di sudut Stasiun Tanah Abang. Pandangannya kosong. Ia batal berpergian menggunakan kereta ke arah Bogor karena KRL ekonomi *  jurusan itu sudah habis.

“Tinggal commuterline nek. KRL ekonomi terakhir baru saja berangkat,” kata petugas loket stasiun.

Petugas itu kemudian menyarankan nenek Onah menggunakan commuterline. Ia menyebut kereta itu lebih nyaman karena ada AC-nya. Tarifnya juga sekarang tidak mahal– karena tarif progresif.

“Nenek nggak biasa naik kereta AC. Nenek lagi nggak enak badan.” Onah menyampaikan alasannya.

“Tapi kereta ekonominya sudah habis. Tinggal kereta AC.”

“Ada lagi kapan? Nenek mau nunggu…”

“Sudah habis nek. Besok pagi baru ada lagi.”

Karena antre, petugas loket menyuruh Onah minggir untuk memberi kesempatan penumpang di belakangnya yang sudah gregetan. Sang nenek pun terdesak karena petugas loket tak mau melayaninya lagi. Nenek Onah lalu pergi ke sudut stasiun.

Lalu lalang calon penumpang commuterline melintas di depannya.  Mereka tak ada yang peduli. Merela mungkin menganggap, nenek Onah yang penampilannya kumuh seharusnya tak berada di keramaian lobi stasiun malam-malam.

***

Onah sudah lama tak naik KRL karena sakit. Sehari-hari, ia adalah pemulung di kawasan Stasiun Tanah Abang. Sesekali ia merima jasa membuatkan minuman kopi dan teh  untuk para pekerja seks di kawasan Bongkaran yang lokasinya dekat stasiun.

Untuk mengisi kebosanan, karena sudah lama menjanda, biasanya Onah naik KRL ke arah Bogor, lalu kembali ke rumahnya di Tanah Abang menjelang malam.

Suatu hari ia berkenalan dengan seorang pengemis tua bernama Jampar. Entah mengapa Onah jadi akrab dengan pria renta itu. Di matanya, kakek tua tersebut lucu karena sering ngebodor. Sudah lama Onah tak tertawa terpingkal-pingkal. Kenalan barunya itulah yang berhasil membuatnya kembali bisa tertawa lebar.

Karena sering bertemu, Onah jadi rela membantu Jampar mengemis. Berdua mengemis ternyata memperoleh uang cukup banyak. Mungkin orang kasihan melihat pasangan tua masih mengemis. Padahal mereka seharusnya berada di rumah, menimang cucu, menikmati masa tua.

Mengenal Jampar, juga membuat Onah merasa lebih beruntung. Betapa tidak, ia masih punya anak dan cucu yang tinggal bersama meski kondisi ekonomi tak lebih baik. Sedang Jampar hidup sebatang kara.

Jampar mengaku masa mudanya kebanyakan dihabiskan untuk bersenang-senang. Ia berkali-kali menikah dan pernah punya anak. Namun ia tak pernah tahu dimanakah para anak kandungnya sekarang. Mantan istri-istrinya sudah tak ada yang peduli dengan kondisinya.

Di masa tua, dimana fisik tak lagi bisa diandalkan untuk bersenang-senang, Jampar pun hanya bisa mengemis demi mempertahankan hidupnya. Ia mengaku menyesal tak memikirkan masa tua. Ia kini sudah insyaf meski sudah terlambat. Bersama Jampar, Onah jadi membawa mukena kemana-mana. Jampar sering mengajaknya shalat berjamaah.

“Biar tua begini, aki masih sanggup gituan loh. Onah mau dites?” kata Jampar tertawa seraya tangannya menunjuk sekor kucing yang sedang menggigit tengkuk pasangan yang hendak dibuahinya.

Onah ikut tertawa. Ia tahu Jampar cuma bercanda. Dan bercandalah yang hanya bisa mereka lakukan di masa tua.

***

Beberapa hari kemudian, Onah akhirnya naik KRL ekonomi ke arah Bogor untuk menemui Jampar. Kakek itu biasanya mangkal di Stasiun Depok Baru.

Onah sempat bingung karena karcis yang biasanya ia pegang kini berganti  dengan kartu elektronik. Seumur-umur ia baru memegang kartu seperti itu. Sempat terlintas dibayangannya, apakah kartu tersebut bisa digunakan untuk mengambil uang seperti yang digunakan orang-orang dengan ATM- nya?

Tentu saja Onah tak tahu cara menggunakannya. Ia berdiri sebentar menyaksikan orang-orang menggunakan kartu elektroniknya. Namun saat gilirannya tiba, tetap saja Onah tak tahu cara menggunakan kartu single trip itu sehingga harus dibantu petugas keamanan setempat.

Setelah sukses menggunakan kartu elektronik, Onah baru tersadarkan dengan suasana baru Stasiun Tanah Abang yang lebih bersih dari biasanya. Tak ada lagi toko-toko yang biasa menjual makanan dan minuman, juga tak ada lagi gembel yang biasanya seliweran atau ikut duduk di deretan bangku penumpang.

Kereta ekonomi yang ia tumpangi juga lebih padat dari biasanya. Jumlah pengemis dan pengamen lebih banyak. Satu gerbong bisa sampai tiga orang pengemis. Pengamen pun harus tahu diri karena tak mungkin mereka beraksi dengan profesi serupa dalam satu gerbong.

“Loh, nenek nggak tahu ya. KRL ekonomi kan mau dihapus,” kata seorang penumpang yang duduk di sebelahnya.

KRL ekonomi sudah dianggap tak layak digunakan. Semua kereta api sekarang adalah kereta api yang ada AC-nya. Sebelum dihapus, jumlah kereta api ekonomi dikurangi jumlahnya.

“Jadinya ya begini, pengamen dan pengemis jadi numpuk,” imbuh penumpang tersebut.

Sampai di Stasiun Depok Baru, Onah kembali terkejut karena stasiun itu juga sudah bersih. Tak ada kios pedagang kaki lima yang biasa ramai memenuhi peron stasiun. Tak ada gelandangan, pengemis, juga preman yang kerjanya memalak sesama orang miskin. Onah jadi kehilangan tempat bertanya.

Di sudut stasiun itu, nenek Onah hanya bisa termangu. Duduk seorang diri. Biasanya di tempat itu ia bersama Jampar. Ngobrol kecil dan tertawa bersama.

“Jadi pengen muda lagi,” kata Jampar suatu hari.

“Emang kenapa?”

“Biar bisa macarin Onah.”

“Katanya sudah insyaf.”

“Hahaha …Iya. Mungkin kalau bertemu Onah sejak muda, insyafnya juga lebih muda.”

Onah diam. Ia juga sempat membayangkan berjumpa Jampar saat sama-sama masih muda. Oh, alangkah indahnya berumah tangga dengan lelaki itu. Pasti hidupnya penuh canda-tawa.

“Nenek Onah ya?”

Suara teguran itu mengejutkan Onah. Teguran itu berasal dari seorang pria yang berhenti di hadapannya setelah menyusuri rel.

“Nenek pasti cari kakek Jampar ya? Ia sudah meninggal dunia nek, seminggu lalu,” kata pria itu seraya kembali menyusuri rel. Petugas stasiun tampak hanya memandanginya tanpa mau menegur apa lagi melarang. Pria itu diduga tinggal di sekitar stasiun.

Raut muka Onah langsung murung tatkala mendengar kata Jampar sudah meninggal. Ia sudah mengira sejak awal. Ia yakin kakek tersebut kehilangan tempat mengemis sehingga penyakitnya kambuh dan tak ada yang menolong hingga akhir hayatnya. Bulir air mata perlahan jatuh membasahi pipi Onah.

***

Meski sudah tahu KRL ekonomi sudah habis, Onah tetap nekat pergi ke Bogor menggunakan commuterline. Baru pertama kali ia menggunakan kereta AC tersebut. Petugas satpam kembali membantu menggunakan kartu commuterline yang selamanya tetap asing buat Onah.

Di dalam Commuterline, Onah mengabaikan hawa dingin yang menyergapnya. Ia menyusuri setiap stasiun menggunakan commuterline demi mengenang perjalanan malam bersama Jampar.

Namun meski berulang kali ia paksakan, bayangan perjalanan mengesankan saat mengemis bersama Jampar tak bisa ia munculkan di kepalanya. Suasana kereta yang sungguh berbeda adalah penyebabnya. Mengemis dilarang di Commuterline. Onah merasa berada di dunia asing yang jauh berbeda.

Perjalanan nenek Onah dari Stasiun Tanah Abang ke Depok Baru pun menjadi perjalanan paling sepi dalam hidupnya.

*) Terinspirasi dengan rencana akan dihapusnya KRL ekonomi.

Pria Mesum Salah Sasaran


Sepekan ini saya melihat seorang pria dengan kecenderungan membuat tak nyaman wanita-wanita di sekitarnya. Terutama dengan gerak- gerik dan cara memandang lawan jenisnya.

Pria tersebut masih relatif muda, mungkin usianya sekitar 30-an. Ia selalu berpenampilan rapih dengan kemeja panjang yang selalu dimasukan ke celana. Kumis dan jengot juga tampaknya selalu dipangkas setiap hari.  Saya perkirakan pria berambut cepak itu adalah pekerja kantoran.

Namun tak seperti lazimnya pria pekerja kantoran yang cenderung membawa tas,  pria tersebut tak membawa apa-apa. Kecuali, pastinya, ia membawa dompet dan handphone (blackberry) yang selalu digunakannya sepanjang perjalanan menggunakan commuterline atau angkot.

Pertama kali bertemu, saya berada satu gerbong dengannya. Ia duduk berduaan dengan seorang wanita cantik. Semula saya mengira keduanya berteman karena sama-sama naik dari stasiun yang sama, Stasiun Dukuh Atas.

Namun begitu saya perhatikan, keduanya asyik dengan gadgetnya masing- masing tanpa melakukan perbincangan. Dan si pria muda tadi, bolak-balik memandangi wanita di sampingnya seraya berusaha membaca isi percakapan pada gadget si wanita tersebut.

Saya kemudian mengabaikan pemandangan itu. Bahwa ada pria kerap membuat tak nyaman wanita di angkutan publik, kerap saya temui, terutama di commuterline. Bahkan ada yang lebih sadis dari itu, misal penumpang pria yang sengaja menempelkan tubuh ke wanita sasarannya.

Beruntung Commterline sekarang menyediakan gerbong khusus wanita. Demikian pula dengan bus Transjakarta sehingga pria-pria mesum terbatasi ruang geraknya. Namun hal itu memang tak mengurangi keberadaan penumpang pria mesum.

Kembali ke pria mesum yang saya temui tadi.Ternyata ia sudah ditinggalkan wanita cantik disampingnya. Saya mencari kemana gerangan wanita itu? Rupanya ia sudah duduk di gerbong sebelah. Wanita menggunakan rok agak pendek itu tetap asyik dengan gadgetnya, namun kali itu tampak lebih nyaman. Mungkin tak risih lagi karena penumpang di sampingnya tengah menikmati perjalanan dengan tertidur. Sedang pria mesum kembali asyik dengan gadgetnya dengan mata berkeliaran seolah mencari sasaran baru.

Esok harinya, saya bertemu lagi dengan pria muda itu. Kali ini naik angkot dengan jurusan yang sama. Dan perilakunya tak jauh beda ketika saya jumpa di commuterline. Pria tersebut berusaha mencari posisi disamping atau depan wanita cantik yang diincarnya.

Anehnya, ia tak berusaha ingin mengenal wanita yang diinginkannya.  Ia juga tak peduli dengan penumpang lain. Ia hanya ingin “menikmati” wanita yang sudah diburunya. Ada beberapa wanita memang “cuek” meski kerap dipandanginya. Namun ada juga langsung membuang muka. Bahkan sempat seorang wanita yang minta geser posisi karena jengah dengan cara bersikap pria muda tadi.

Pada Selasa (25/6) malam, saya melihat pria muda memilih duduk disamping sopir. Mungkin ia ingin duduk berdempetan dengan seorang wanita berambut panjang yang sudah duluan duduk di sana. Padahal tempat duduk di belakang masih ada yang kosong, hanya memang sebagian besar berisi penumpang pria.

Setelah penumpang penuh, sopir angkot segera melajukan kendaraannya. Nah tatkala seorang penumpang pertama turun, pria muda yang duduk di depan tadi tiba-tiba ikut turun. Ia kemudian beralih duduk di pintu angkot yang ditempati penumpang yang baru turun tadi.

Usut punya usut, saya menduga, ia turun bukan karena mencari posisi tempat duduk yang nyaman. Melainkan karena wanita disamping pengemudi adalah kekasih si sopir itu sendiri.Itu tampak dari perbincangan keduanya yang tampak mesra.

Pria muda itu pun sepertinya salah sasaran. Wajahnya tampak masygul begitu si sopir dan kekasihnya tertawa cekikikan seolah tengah memperbincangkan dirinya. Hahaha….saya hanya bisa tersenyum dalam hati

Ironi Kenaikan Tarif Commuter Line


KRL anjlok, pasca kenaikan tarif commuter line (tribunnews)

Musibah beruntun menyertai kenaikan tarif KRL Commuter Line (CL) sejak Senin (1/10) hingga Jumat (11/10) hari ini. Kicauan penumpang CL via @KRLmania menduga musibah itu terkait kebijakan kenaikan tarif CL yang tak diridhoi penumpang, bahkan Sang Maha Pencipta.

Memang, terlalu mengada-ada membawa nama Allah hanya dalam urusan kenaikan tarif KRL.  Namun musibah beruntun justru sejak kenaikan tarif CL seperti sebuah peringatan kepada pihak pengelola yakni PT KAI Commuterline  Jabodetabek  (PT KCJ) bahwa ada yang salah dalam layanan mereka terhadap konsumennya.
Soal kebijakan kenaikan tarif CL yang tak dibarengi dengan peningkatan pelayanan, misalnya, bukankah itu kebijakan yang tak mendidik? Kebijakan yang menempatkan KCJ berada jauh lebih tinggi dari konsumen yang dilayaninya.

Angka kenaikan tarif CL sebesar rata-rata Rp 2.000 atau sekitar 33 persen dari tarif awal bukanlah jumlah yang kecil. Kenaikan itu mestinya dibarengi dengan peningkatan kenyamanan penumpangnya.
Faktanya CL selalu penuh sesak, AC tak berfungsi, gangguan sinyal masih terjadi, kereta mogok terulang lagi, belum lagi ketidakjujuran  petugas loket di sejumlah stasiun yang memberikan uang kembalian kepada penumpang tidak sesuai dengan jumlah seharusnya. Korban biasanya penumpang yang terburu-buru atau penumpang yang jarang menggunakan fasilitas KRL.

Adapun musibah beruntun sejak kenaikat tarif CL dimulai dengan kejadian luar biasa berupa kereta anjlok saat memasuki Stasin Cilebut, Bogor, pada 4 Oktober lalu. Kejadian serupa terjadi dua tahun lalu, Kamis 6 Mei, 2010.
Humas PT KAI Daerah Operasi I Jabodetabek Mateta Rijalulhaq menyebut bahwa penyebab kereta anjlok di Cilebut adalah karena rel gompal, yakni rel retak di sekitar sambungan.

Ia membantah bahwa musibah itu karena PT KAI tak melakukan perawatan. Alasannya, karena beberapa KRL di depannya melintas lancar-lancar saja. Beruntung tak ada korban jiwa, meski gangguan perjalanan akibat kereta anjlok terasa hingga dua hari lebih.

Yang pasti, setelah musibah kereta anjlok di Cilebut, gangguan sinyal dan kereta mogok terjadi beruntun (lihat tabel). Lalu kereta anjlok juga terjadi di Stasiun Sudimara sehingga menganggu perjalanan penumpang KRL Jalur Jakarta-Serpong.
“Kayaknya dari kemarin banyak ganguan ya. Mungkin banyak yg gak rido tarif naik tuh @CommuterLine. Harusnya syukuran dulu sama penumpang sebelum tarif naik.” Demikian kicau Monika Kristyana, penumpang CL via @KRLmania.

Kenaikan tarif CL sendiri telah menimbulkan masalah baru bagi penumpang kereta ekonomi dan penumpang jarak pendek. Mereka terpaksa beralih kereta dan membuat KRL ekonomi makin tidak nyaman.
Karena penuh sesak penumpang jarak pendek/ekonomi memaksakan diri naik ke CL dan giliran penumpang CL yang tak nyaman. Bahkan pada saat-saat tertentu, para penumpang KRL ekonomi memenuhi CL dengan memaksa membuka jendela dan pintu seperti KRL ekonomi. Dimana kenyamanan naik CL dengan tarif yang sudah dinaikkan?
CL berAC Panas
Dari berbagai keluhan pengguna CL, keluhan AC tak berfungsi adalah keluhan paling banyak. Keluhan itu kian bikin sesak karena tak berkurang meski tarif sudah dinaikkan.
Sejumlah pelanggan CL umumnya sudah tahu jenis kereta yang AC-nya mati. Untuk kereta Tanah-Abang-Bogor yang kerap saya naiki, kereta ber AC panas itu biasanya adalah kereta bergaris warna hijau. Namun, penumpang sering tak punya pilihan karena kereta berikutnya masih jauh, bahkan belum jelas posisinya.

Akibatnya bisa dibayangkan, naik CL tanpa AC jauh lebih menyiksa dibanding kereta api ekonomi. Apalagi dengan kondisi penumpang penuh sesak dan kereta terpaksa berhenti di tengah jalan yang jauh dari stasiun karena ada masalah.

Dalam kondisi seperti itu sejumlah penumpang membuka jendela secara paksa. Namun itu saja tak cukup karena tak semua jendela CL bisa dibuka dengan mudah. Sirkulasi udara tak lancar, kereta berubah jadi panas dan pengab.  Dengan demikian bisa dipahami jika muncul berita penumpang CL pingsan dalam kondisi itu.
Maka langkah prioritas yang harus dilakukan PT KCJ adalah memperbaiki AC rusak pada setiap CL. Langkah ini harus dilakukan ada atau tidak kenaikan tarif.  Jika AC-nya tidak bisa diperbaiki ya kereta jangan dioperasikan. Jika AC tak bisa memperbaiki dengan alasan kereta impor ya impor pula ahlinya.

Jika masalah CL berAC panas saja tak bisa dicarikan solusinya, maka jangan salahkan  konsumen yang meragukan bahwa PT KCJ sedang berusaha meningkatkan pelayanan lainnya. Sebaliknya badai keluhan akan terus datang bergelombang.

Dan itu akan menjadi kenyataan ironis dibandingkan target PT KCJ yang ingin mencapai zore complaint seperti dilansir pada situsnya hari ini.

Lalu apa enaknya mengelola perusahaan yang selalu dimaki penumpangnya?
“Perbaikan layanan KRL memang tidak bisa secepat membalikan telapak tangan. Tapi 12 hari berturut-turut gangguan KRL sudah jadi bukti janji- janji operator CL hanya manis di bibir” Demikian Admin @KRLmania dalam salah satu tweetnya.

DAFTAR MUSIBAH BERUNTUN COMMUTER LINE
12 OKTOBER: CL Mogok sebelum Stasiun Manggarai
11 OKTOBER: KRD  anjlok di Sudimara, jalur Jkt-Serpong terganggu.
10 OKTOBER: KRL ekonomi terakhir Jakarta-Bogor mogok
10 OKTOBER: KRL mogok di Depok Lama, penumpang dipindah
9 OKTOBER: Gangguan sinyal  Stasiun Pasar Minggu-Manggarai
9 OKTOBER: Stasiun Cilebut-Bojonggede Longsor, kecepatan dikurangi
9 OKTOBER: Gangguan sinyal Bogor-Cilebut
4 OKTOBER: CL Anjlok perjalanan terganggu 2 hari.

Dasar Copet, Recehan Pun Diembat


hati-hati copet di KRL ekonomi (vivanews)

Suatu hari Dedi harus pergi ke rumah kakaknya di Bojonggede, Bogor karena anak dan istrinya minta dijemput. Bahwa ia sedang berada di sebuah Mal, Jalan Margonda, Depok, bersama sejumlah kawan lamanya menjadi alasan tak terbantahkan.

“Mumpung dekat stasiun!” Begitu alasan sang istri via SMS.

Maka usai melakukan pertemuan, Dedi berjalan menuju stasiun yang terletak di belakang mal. Karena jarak dekat, hanya empat stasiun, Dedi memilih naik KRL kelas ekonomi Rp 1.500. Naik Commuter Line atau KRL AC seharga Rp 6.000 dianggap terlalu mahal.

Ternyata KRL ekonomi yang datang padat penumpang. Karena sudah membeli tiket, Dedi tetap naik. Ia tak mungkin menunggu KRL berikutnya karena posisi kereta tersebut belum diumumkan petugas stasiun.

Di dalam kereta, Dedi berusaha mencari tempat yang longgar. Ternyata tidak mudah. Apalagi di setiap stasiun, jumlah penumpang yang naik lebih besar dibanding penumpang turun. Selain karena hari libur, faktor tanggal muda ikut menentukan orang berpegian naik kereta.

Dengan reflek yang sudah terlatih. Dedi terus memegangi dompet dan HP yang ia satukan pada kantung celana sebelah kiri. Satu tangan lainnya memegang tali gantungan kereta agar tak terdesak penumpang lain atau tersentak saat KRL jalan.

Naik KRL adalah keseharian Dedi untuk menuju tempat kerjanya. Namun ia selalu mengenakan celana jeans ketat sehingga dompet dan HP lebih aman dalam kantung celana.

Karena tak punya rencana naik KRL, hari itu Dedi mengenakan celana gunung yang berkantung banyak. Posisi kantung yang lebar membuatnya tak nyaman menaruh dompet dan HP dalam kondisi penumpang kereta api berdesakan. Tahu sendirilah dalam kondisi seperti itu pencopet kereta berkeliaran.

Dengan susah payah akhirnya Dedi sampai juga di Stasiun Bojonggede. Ia lega karena dompet dan HP-nya masih ada dalam gengaman. Angin semilir terasa nyaman saat menerpa badannya yang berkeringat.

Sebelum keluar dari stasiun, Dedi tertarik membasahi kerongkongannya dengan membeli air kelapa dingin. Harganya sekitar Rp 2.500. Namun begitu hendak membayar ia kaget karena uang receh sekitar 28.000 terdiri dari pecahan Rp 10.000, Rp 5.000, Rp 2.000 dan Rp 1.000 di saku celana sebelah kanan sudah lenyap.

Ia yakin uang itu disikat pencopet karena ia membiarkannya terbuka. Uang itu diperkirakan disikat pencopet saat terjadi dorongan hebat atas dirinya kala di atas KRL.

“Pencopet keterlaluan, masa uang receh juga disikat,” serunya.

Kakak ipar, istri, dan anaknya tertawa mendengar cerita itu.

“Berati pencopetnya juga butuh uang receh buat beli es ya pah…” Anaknya menimpali sambil tertawa lagi.

Bagi Dedi, Bukan uangnya yang disayangkan, tapi pengalamannya yang tak terlupakan. Pengalaman nestapa itu entah beberapa kali kemudian ia ceritakan.

***

Cerita tentang kejahatan di atas KRL memang sangat dikuasai Dedi. Ia bukan hanya kerap menyaksikan kejahatan itu, tapi juga hafal sekitar wajah-wajah penjahatnya. Dedi bisa dengan lancar setiap kali harus menceritakannya.

Mereka beraksi bukan hanya saat penumpang padat, bahkan saat kereta sepi penumpang, Modusnya tentu saja berbeda-beda, tetapi intinya sama: yakni menjadikan penumpang lengah sebagai sasarannya.

Jarang sekali pencopet kereta beraksi sendirian. Biasanya antara tiga sampai lima orang bahkan gerombolan kala penumpang sepi.

Para penjahat itu umumnya beraksi di KRL ekonomi karena mereka bisa naik dan turun dari kereta dengan mudah. Saat penumpang padat, ada diantara kawanan penjahat yang bertugas memecah konsentrasi dengan membuat keonaran. Misal, dengan terburu-buru turun dalam posisi di tengah gerbong.

Aksi ini biasanya dimanfaatkan kawannya untuk mengambil dompet atau HP dari penumpang yang lengah.

Sedang saat penumpang sepi, biasanya mereka mengincar penumpang dekat pintu dan jendela kereta yang terbuka. Adapun ekskusi mereka lakukan sekitar 10 detik setelah kereta bergerak dari stasiun. Lalu penjahat-penjahat itu turun dengan cara meloncat.

Agaknya mereka terlatih memanfaatkan kecepatan kereta untuk mengurungkan niat korban mengejarnya. Lagi pula para korban pencopetan dan pejambretan umumnya penumpang perempuan yang takut loncat.

Maka begitu melihat penumpang berteriak karena kalung emas, HP atau dompet diambil pencopet, bisa dipastikan penumpang lainnya hanya bengong dan geleng kepala. Mereka seolah lebih menyalahkan penumpang yang kurang berhati-hati daripada pencopet.

“Kita-kita yang tahu juga serba salah. Sebab, pernah ada kawan kita yang mengingatkan calon korban, eh malah dikeroyok kawanan penjahat itu,” ucap Dedi.

Pernah juga ada penjahat KRL ditangkap polisi, tak lama kemudian ia berkeliaran lagi. “Ya sudahlah yang penting tidak menganggu kita.”

Dedi hanya berusaha mengingatkan kepada siapa saja yang akan pergi menggunakan KRL untuk berhati-hati. Jangan menggunakan perhiasan, jangan berdiri atau duduk dekat pintu, jangan taruh dompet di saku belakang, dan gunakan HP seperlunya.

***

Satu hari adik kandung Dedi datang untung meminjam kamera sehari saja. Karena istrinya sedang tugas keluar kota, Dedi meminjamkan kamera sang istri. Dedi tak meminta izin istrinya toh kamera itu sudah kembali saat istrinya pulang.

Di luar dugaan, kamera itu bukan hanya tak kembali tepat pada waktunya, tapi juga hilang. Kamera itu diambil pencopet saat adik kandung bersama istri dan anaknya pulang dari Kebun Raya Bogor menggunakan KRL.

Istri Dedi marah besar. Ia marah karena dalam kamera itu banyak data berupa foto dan video yang belum ditransfer baik ke flashdisk maupun laptopnya. Lebih dari itu ia marah karena sang suami tak meminta izinnya. “Kalau bilang kan data-datanya bisa ditransfer.” Begitu ucapnya.

Dedi hanya bisa pasrah. Apapun alasannya, di mata sang istri, ia sudah salah. Dedi hanya bisa menyalahkan adiknya yang tak bilang-bilang jika mau pergi menggunakan KRL. “Kalau bilang kan mas bisa kasih tahu cara menghindari pencopetan,” kilahnya.

Giliran sang adik yang pasrah dan mengaku salah. Meski mungkin ia juga ingin mengatakan bahwa hal itu musibah dan kakaknya toh juga pernah kecopetan di KRL.