Memburu Pembunuh Anggota Kodim Nunukan Hingga Malaysia


Datuk-Noor-Rashid-Ibrahim

Datuk Seri Noor Rashid Ibrahim (malaysiareview.com)

Deputi Perbatasan Malaysia-Thailand, Inspektur Jenderal Polisi Datuk Seri Noor Rashid Ibrahim, membenarkan ada empat warga negara Indonesia (WNI) masuk ke Malaysia secara ilegal via Pulau Sebatik di Tawau, Sabah. Keempat WNI tersebut hingga kini masih ditahan.

Noor Rashid juga membenarkan bahwa Polisi Diraja Malaysia telah menangkap 17 warga negara Indonesia (WNI), terdiri  10 polisi dan 4 anggota TNI dan 3 warga sipil. Ke-17 WNI itu ditangkap saat memasuki Kantor Polisi Wallace Bay di Pulau Sebatik, Malaysia.

Namun beda dengan yang pertama ke-17 WNI tersebut kini sudah dibebaskan. “Kami tidak tahu apa motif mereka, tapi kami percaya mereka tidak memiliki niat jahat ketika mereka memasuki negara kami secara ilegal,” pungkas Noor Rashid, seperti dikutip Malaysiandigest.com.

Diduga polisi dan anggota TNI yang masuk dalam 17 WNI tersebut tengah memburu satu dari empat WNI yang ditangkap pemerintah Malaysia. Perburuan dilakukan karena yang bersangkutan telah membunuh anggota Kodim 011 Nunukan.

Sementara itu, Plt Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kementerian Luar Negeri  Lalu Muhammad Iqbal membantah bahwa 17 WNI tersebut ditangkap Polisi Diraja Malaysia.  “Kemarin kita sudah selesai, cek konsulat KJRI di Tawau, dipulangkan bukan dibebaskan karena tidak ada penahanan, (mereka) enggak sengaja memasuki wilayah Malaysia,” kata  Iqbal, Senin (16/3).

Iqbal menjelaskan, mereka tengah mengejar tersangka pembunuhan yang lari ke arah perbatasan Indonesia-Malaysia. Namun karena patok perbatasan tidak jelas, anggota kepolisian dan TNI yang sedang mengejar tak sadar telah memasuki wilayah Malaysia.

Kepala Dinas Penerangan TNI AD Kolonel Inf Wuryanto membenarkan bahwa 17 WNI tersebut sedang mencari pembunuh  anggota Kodim 011 Nunukan itu diketahui bernama Syarif. Saat hendak ditangkap Syarif melarikan diri ke perbatasan Nunukan.

Aparat gabungan TNI/Polri lantas berkoordinasi dengan Kepolisian Diraja Malaysia untuk menangkap pelaku. Adapun, kata dia, saat itu pelaku berlari ke perkebunan sawit yang berbatasan langsung dengan Malaysia.

Noor Rashid Ibrahim menegaskan bahwa empat WNI yang masih ditahan belum akan langsung diserahkan ke Indonesia. Mereka akan diproses dulu atas kesalahan memasuki wilayah Malaysia secara ilegal.

DUA VERSI TERKAIT 17 WNI DI MALAYSIA

VERSI MALAYSIA
* 17 WNI ditangkap saat memasuki Kantor Polisi Wallace Bay di Pulau Sebatik
* Polisi dan TNI yang ditangkap membawa senjata api namun tak gunakan seragam

VERSI INDONESIA
* 17 WNI tersebut termasuk aparat gabungan yang sedang memburuh pelaku pembunuhan anggota Kodim Nunukan
* Polisi dan anggota TNI tak sengaja masuk perbatasan Malaysia yang dianggap tidak jelas

Ini Alasan Ajeng Yulia Masih Bisa Bebas dari Hukuman Mati


ajengyulia

Utusan malaysia

Pemerintah Indonesia tidak diam terkait vonis mati yang menimpa wanita muda Indonesia Ajeng Yulia (21 tahun) di Malaysia. Pemerintah Indonesia sedang melakukan upaya banding dan yakin Ajeng bisa lolos dari jerat hukuman gantung tersebut.

Optimisme itu disampaikan Wakil Dubes RI di Malaysia, Hermono seperti dilaporkan liputan TVone dari Malaysia. Adapun optimis didasarkan pada posisi Ajeng masih muda, bukan anggota sindikat narkoba, dan lebih sebagai korban penipuan.

Seperti diketahui, Ajeng yang tinggal di Tebet, Jakarta mengaku kenal seorang pria Nigeria bernama Stanly. Ia pun mengaku sabu seberat 3,004 kg yang dibawanya merupakan milik pria yang dikenalnya melalui media social tersebut.

Hakim Pengadilan Mahkamah Tinggi di Kuantan, Pahang, Malaysia, Datuk Ab Karim Ab Rahman menyatakan bahwa Ajeng gagal membuktikan pembelaannya. Ajeng dianggap mengarang cerita. “Tertuduh (terdakwa) memberikan nama ‘Stanly’, namun tidak mengemukakan nomor telepon atau alamat lelaki itu. Terdapat beribu-ribu lelaki yang mempunyai nama itu,” kata hakim seperti dikutip Bernama.

Menurut Hermono, tim pengacaranya kini sedang mengajukan banding ke Mahkamah Rayuan (Pengadilan Tinggi) jika gagal akan terus melakukan banding ke Mahkamah Persekutuan (Mahkamah Agung), jika gagal juga akan memohon pengampunan atau semacam Grasi kepada Raja Malaysia.

Seperti diketahui, Ajeng adalah satu dari 229 WNI yang terancam hukuman mati, 131 orang di antaranya terjerat kasus narkotika di luar negeri. 77 orang terancam hukuman mati karena terlibat dalam kasus penghilangan nyawa. Kemlu RI telah menyelesaikan kasus hukum WNI di luar negeri sebanyak 9.290 kasus dari 1 Januari hingga 30 September 2014.

Menteri Dalam Negeri Datuk Seri Ahmad Zahid Hamidi menegaskan negaranya terus mengobarkan perang melawan kejahatan narkoba. Zat berbahaya itu menyebabkan generasi muda, dengan catatan polisi korban paling muda baru berusia tujuh tahun.

Jumlah pecandu narkoba di Malaysia mencapai 1,4 juta orang. Polis Diraja Malaysia mencatat 21.227 kasus terkait narkoba masuk ke meja penyidik sepanjang tahun lalu. Kasus tersebut meningkat dibanding 2013, dengan 20.887 kasus pemilikan maupun peredaran narkotika.