Ini Daftar Perjalanan Panjang Lee Kuan Yew


leeMantan Perdana Manteri (PM) Singapura, Lee Kuan Yew, meninggal dunia dalam usia 91 tahun Senin (23/3). PM Singapura Lee Hsien Loong, yang tak lain anak Lee Kuan Yew, mengumumkan masa berkabung nasional selama tujuh hari.

Sebagai sebuah tanda penghormatan, bendera Singapura di semua gedung pemerintah akan dikibarkan setengah tiang mulai hari Senin (23/3) ini dan berakhir hari Minggu (29/3) mendatang. Jenazah Lee akan disemayamkan di Gedung Parlemen pada Rabu hingga Sabtu guna memberi kesempatan kepada publik menyampaikan penghormatan terakhir mereka.

Perjalanan panjang Lee Kuan Yew yang berhasil mewujudkan Singapura modern adalah prestasi tak terbantahkan. PM Lee juga sukses menjaga stabilitas Singapura dengan regenerasi kepemimpinan yang damai. Perjalanan itu membuat siapapun di dunia mengangguminya.

Ucapan bela sungkawa mengalir dari para kepala Negara seluruh dunia. Presiden Jokowi yang kini tengah melakukan lawatan ke Jepang dan China memastikan akan hadir pada upacara pemakaman sang bapak modern Singapura. Lee disebutnya sebagai teman Indonesia.

INILAH PERJALANAN PANJANG LEE KUAN YEW
1923: Lahir di Singapura, 16 September

1950: Menikah dengan Kwa Geok Choo selanjutnya dikaruniai dua putra dan satu putri; yakni 1. Lee Hsien Loong, 2. Lee Wei Ling (putri). Dan 3. Lee Hsien Yang

1954: Lee bersama sekelompok rekan kelas menengah yang berpendidikan di Inggris membentuk Partai Aksi Rakyat (PAP)

1959: Terpilih sebagai Perdana Menteri (PM) pertama Singapura. Menggantikan mantan kepala Menteri Singapura, David Saul Marshall. Lee kembali terpilih menjadi PM untuk ketujuh kalinya berturut-turut dalam kondisi Singapura yang bercondong kepada demokrasi terbatas (1963, 1968, 1972, 1976, 1980, 1984 dan 1988),

1963: Inggris yang saat itu menjajah Malaysia dan Singapura setuju menyerahkan Singapura, Sabah, dan Serawak untuk bergabung menjadi Persekutuan Tanah Melayu. Lee dengan PAP-nya cenderung tak setuju karena federasi itu cenderung mengistimewakan orang Melayu.

1965 (a): Desakan agar Lee ditangkap oleh Malaysia pun menguat. Sempat beredar kabar, PM Lee telah ditikam atau ditembak orang, Namun tak terbukti.

1965 (b): Lee mengumumkan kemerdekaan Singapura 7 Agustus. Kemerdekaan Singapura yang dimaksud adalah sebuah deklarasi kemerdekaan dan pemisahan didi dari “Federasi Malaysia”.

1966: Republik Indonesia dengan resmi telah mengakui Republik Singapura dan pengakuan itu didasarkan atas persamaan deradjat dan saling hormat menghormati integritas dan kedaulatan nasional masing2.

1970: Lee Kuan Yew berkunjung ke Moskwa, saat itu dikhawatirkan ia menjalin hubungan politik dengan Negara dedengkot partai komunis tersebut.

1975: Presiden Soeharto dan PM Singapura Lee Kuan Yew bertemu tiga jam di Bali. Salah satunya membicarakan selat malaka yang saat itu jadi perdebatan.

1980: Mulai merisaukan mengenai calon penggantinya. Masyarakat Singapura sendiri bingung siapa yang bisa meneruskan kebesaran namanya.

1985: 2 Januari dilantik sebagai PM ketujuh kalinya sejak 1959. Namun tahun ini pula mulai muncul nama Goh Chok Tong dan Ong Teng Cheong sebagai calon pengganti Lee.

1990: Mengundurkan diri secara sukarela. Lee mengatakan ia mengundurkan diri demi menjaga stabilitas Singapura.

1991 : PM Singapura Goh Chok Tong menginginkan Lee Kuan Yew tetap menjabat menteri senior seumur hidup.

1994: Lee Kuan Yew terkejut mengetahui bahwa sang anak BG Lee (Lee Hsien Loong) mengidap penyakit kelenjar getah bening atau kanker. Padahal BG Lee, yang saat itu menjadi Deputi Perdana Menteri, dipersiapkan menjadi calon penggantinya. Selain BG Lee, Ong Teng Cheong yang juga deputi Perdana Menteri Goh Chok Tong juga mengidap kanker. Saat diumumkan secara resmi, rakyat pun geger. Harga saham di bursa efek setempat anjlok. Beruntung BG Lee akhirnya sembuh.

2004: Partai Aksi Rakyat (PAP) yang berkuasa di Singapura, menyetujui penunjukan Lee Hsien Loong (BG Lee), putra Lee Kuan Yew lainnya, sebagai perdana menteri baru. Lee pun mundur sebagai Menteri Senior digantikan Goh Chok Tong. Lee sendiri menjadi penasehat perdana menteri.

2010: Istri Lee, Kwa Geok Choo meninggal dalam usia 89 tahun. Kwa meninggal di kediaman mereka ketika Lee sendiri tengah dirawat di rumah sakit akibat infeksi di dada setelah kunjungan kerja rutin tahunannya ke Eropa. Lee dikabarkan begitu terpukul dengan kematian sang istri.

2011: Pensiun dari karier politiknya pada 2011. Ia mundur dari kabinet setelah Partai Aksi Rakyat memperoleh hasil terburuk dalam pemilu sejak Singapura merdeka.

2013: Perayaan Ulang tahun Lee ke-90.

26 Februari 2015: Kantor Perdana Menteri Singapura mengeluarkan pernyataan bahwa pendiri negara kota itu, Lee Kuan Yew, masih dalam perawatan intensif di rumah sakit pemerintah. Pernyataan itu untuk menepis rumor Lee meninggal dunia.

19 Maret 2015: Lee Kuan Yew dalam kondisi kritis dan kesehatannya terus memburuk. Ia menjalani perawatan akibat penyakit pnemonia berat yang dideritanya.

21 Maret 2015: Rakyat memanjatkan doa untuk kesembuhan Lee. Mereka membawa kartu dan bunga. Sebagian warga lainnya menuliskan doa dan harapan di poster-poster yang disediakan sebuah galeri seni di Singapura.

23 Maret 2015: Lee meninggal dunia di Singapore General Hospital. Puluhan kepala Negara menyampaikan rasa bela sungkawa, termasuk Presiden Indonesia, Joko Widodo.

Keterangan: Dari berbagai sumber

Astaga Pelaku dan Korban Perampokan di Singapura Sama-Sama WNI


arun

Dua wanita Singapura ikut membantu korban dan melumpuhkan pelaku yang ternyata sama-sama WNI (foto strait times)

Warga negara Indonesia (WNI) bernama Arun (38 tahun) bikin geger Singapura karena merampok juga seorang WNI, Jumat (14/11) waktu setempat. Namun upayanya gagal karena ia memperoleh perlawanan dari pria bernama Kang Tie Tie.
Peristiwa itu berlangsung sekitar pukul 13.00 di Pintu Keluar Stasiun MRT Raffles Place, Singapura. Kang Tie Tie kemungkinan sudah diikuti Arun sebelum lokasi kejadian. Sang pelaku diduga sudah mencium pria incaran membawa uang banyak dalam tas punggung.
Menurut Straittimes.com, belakangan diketahui Kang Tie Tie membawa uang tunai dalam pecahan dolar Singapura dan Brunei dengan jumlah 800.000 dolar Singapura plus sejumlah cek.
Untuk melumpuhkan korban, Arun menarik tas Kang Tie Tie dan menusuknya dengan pisau sepanjang 12.5 cm yang sudah disiapkan. Ia menusuk pinggul dan pinggang bagian kanan korban hingga berlumuran darah. Namun Arun gagal membawa kabur tas berisi uang karena sang pemilik berusaha mempertahankannya. Yang terjadi Arun kemudian dilumpuhkan sejumlah warga di sekitar lokasi kejadian. Baik Arun maupun korbannya kemudian dilarikan ke Singapore General Hospital.
Awalnya petugas setempat mengira Arun adalah warga negara Tiongkok. Tapi setelah melakukan identifikasi di rumah sakit, Arun ternyata warga negara Indonesia. Juru bicara Kedubes RI untuk Singapura, Simon Soekarno seperti dikutip Batam Pos menyebut bahwa pelaku dan korbannya sama-sama WNI asal Batam.
Polisi Singapura menduga, Arun telah menjadi pengunjung The Arcade, sebuah kantor dan bangunan ritel dekat lokasi perampokan. Lantai dua bangunan tersebut didominasi tempat penukaran uang atau Money. Changer.
Mohamed Nazir Abdul Rahiman, seorang auditor, mengaku hendak menjalankan shalat Jumat ketika melihat kerumunan warga menyaksikan seorang pria berdarah dan pria lainnya dilumpuhkan sejumlah warga. Diantara kerumunan tersebut ia mendengar seorang wanita berteriak “. Jangan biarkan dia (Arun) pergi, pegangi dia”
Ketika ada wanita lainnya berteriak untuk menelepon polisi, Nazir segera menghubungi nomor 999 untuk mengirim polisi dan mobil ambulans. Polisi dan paramedis tiba sekitar lima menit kemudian. “Jika seorang wanita saja berani memegang orang itu (perampok), lalu mengapa saya harus takut?” ucapnya.
Nazir mengaku kecewa karena ada banyak orang berdiri untuk merekam kejadian itu bukannya membantu. Jika terbukti bersalah melakukan perampokan bersenjata, Arun akan menghadapi dua hukuman yakni penjara 10 tahun dan setidaknya 12 cambukan.